• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

Dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian, peneliti berusaha mengindentifikasi bentuk dukungan sosial dari suami yang dirasakan Ibu setelah melahirkan anak pertama berdasarkan hasil wawancara yang kemudian dianalisa menggunakan teknik analisis isi kulitatif dengan pendekatan deduktif (Directed Content Analysis). Hasil yang diperoleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Partisipan 1 (FJ, 22 tahun)

Dukungan-dukungan yang FJ rasakan dari suaminya setelah ia melahirkan anak pertama tergolong pada kategori/jenis dukungan emotional support, informational support, tangible support, serta

belonging support. Pada kategori/jenis dukungan emotional support, bentuk dukungan yang dirasakan FJ berkaitan dengan penguatan diri FJ dan perhatian sang suami. Perilaku yang mencerminkan penguatan diri FJ ini diantaranya adalah sang suami yang mau mendengarkan cerita-cerita FJ kemudian memberikan penguatan melalui ungkapan-ungkapan penenang dan meyakinkan pada diri FJ. Selain itu sang suami juga menunjukkan perhatiannya dengan menanyakan kendala-kendala yang dialami FJ.

Pada kategori/jenis dukungan informational support, bentuk dukungan yang dirasakan FJ berkaitan dengan pemberian arahan dari sang suami. Sang suami memberikan arahan kepada FJ terkait pembagian tugas untuk merawat anak. Pada kategori/jenis dukungan tangible support, bentuk dukungan yang dirasakan FJ berkaitan dengan bantuan jasa dari sang suami. Sang suami membantu FJ dalam hal merawat anak, merawat diri FJ, memenuhi kebutuhan FJ, dan mengerjakan tugas rumah. Pada kategori/jenis dukungan belonging support, bentuk dukungan yang dirasakan FJ berkaitan dengan kesediaan sang suami untuk beraktivitas bersama FJ. Perilaku tersebut ditunjukkan oleh sang suami melalui kesediaannya untuk cuti dari kerja selama 3 bulan guna menemani FJ merawat anak mereka.

Berikut merupakan pernyataan FJ mengenai bentuk-bentuk dukungan yang ia rasakan dari sang suami:

Tabel 7. Bentuk-bentuk dukungan dari suami yang dirasakan FJ aneh sama aku. Kok bisa jadi marah-marah, kok jadii ee panikan gitu kan. Trus kata suamiku, ah gamungkin, yaudah tenang aja gausah dipikirin. Kata suamiku si kaya gitu” (42-49)

“Terus eee kadang kalo aku lagi stres banget, lagi ASI, biasanya aku kan di ASI yah, kalo ASI ku lagi sedikit, biasanya dia tenangin aku. Maksudnya ‘yaudah tenang aja, gausah takut gapapa. Nanti juga lama-lama ada kok. Pasti nanti juga ada kalo kamu nyusuin’ gitu”

(104-108)

“suamiku bilang ‘gapapa, dia pasti cukup, kalo dia gak nangis berarti kan dia kenyang. Kalo dia

Informational support

Pemberian arahan

“Oh yaudah, brati itu tugasnya aku, kita tukeran kalo siangnya kamu kalo malemnya aku” (67-68)

Tangible support

Bantuan jasa

“Jadi aku nyiasatinnya misalkan dari pagi nih, pagi sampe malem gitu, setiap aku nyusuin aku siapin ASI lebih, buat nanti dia shift malem. Hahaha gitu”. (68-71)

“Eeee dia bantuin ini aku ini si, hehehe kerjaan rumah”

(82)

“Aku siapin badan aku, maksudnya kek aku pake baju, aku sisiran atau apa, suamiku yang kek bantuin aku bukain bajunya, bukain bedongnya, nah nanti aku tinggal bawa anakku ke depan dianterin sama suamiku ke depan” (87-91)

“Udah aku udah aku berjemur itu kan, sekitar kalo aku 10-15 menit yah, nanti dia ke dalem, dia yang ngerapiin kamar, sprei, atau siapin buat mandi” (91-93)

“Misalnya mau makan pun, untungnya suamiku bisa masak kan. Jadi dia masak aku yang makan” (101-102)

“Nyuci, nyapu, ngepel” (115)

“Karena kan aku pake korset, terus kan aku kan gendut kan, itu buat bangunnya gitu kalo keteken itu harus ditarikin. Itukan tiduran, aku udah ke samping, suamiku harus bantu aku, narik aku supaya jaitannya tuh gak sakit” (117-121)

“Kaya ngurusin orang sakit. Cucian baju, semuanya itu si….” (121-123)

“Terus dia eee, aku kan belum bisa bangun. Dia pasangin popok kan, eh popoknya salah. Terus pas dia udah pakein, aku liat salah aku marah-marah”

(136-138)

“Trus waktu itu pernah aku kan ASI ku mampet ceritanya, dia gamau keluar gitu, trus dia mau bantu. Apa payudaranya mau bantu, suamiku mau

massage-in. Kaya sambil mau ngompresin air panas, dia mau massage-in karena aku gabisa, karena kalo dipegang sakit kan, dia mau massage-in” (161-166)

“Tapi waktu udah sharing, aku punya masalah ini, kendalaku disini. Ohyaudah suamiku take it, dia yang dia yang ambil yang mana yang jadi kendalanya aku, waktu aku bisa istirahat itu lama lama baik, pulih sendiri si di aku makin membaik jadinya” (203-207)

“Ya bisa take care gituloh eeee dengan mood aku yang naik turun marah marah, trus mau jagain, mau stand by, mau urusin. Urusin si itu yang menurutku ih gila bisa si dia, hebat bisa ngurusin.

Soalnya kalo gak diurusin, ya aku pake korsetku itu susah harus dibantuin. Yang kaya ku bilang aku bangun, trus waktu aku masih satu bulan pertama, 40 hari itu aku mandi harus pake air rebusan rempah rempah gitu. Dia yang ngurusin rempah-rempahnya direbusin, ditaroh di bak buat air angetnya” (226-235)

“Kerjaan rumah cuman kek nyuci piring. Aku sempet, tapi cuma sedikit, aku sempet, tapi mostly bener bener suamiku” (244-246)

Belonging support

Beraktivitas bersama

“Suamiku kan juga punya usaha, jadinya bisa fulltime jagain aku, dia udah prepare dari sebelumnya. Pokoknya dia, aku bilang kan eee aku cuti 3 bulan. Ohyaudah aku juga prepare, aku cuti 3 bulan, dia mau fulltime” (157-160)

2. Partisipan 2 (AD, 22 tahun)

Dukungan-dukungan yang AD rasakan dari suaminya setelah ia melahirkan anak pertama tergolong pada kategori/jenis dukungan emotional support, informational support, serta tangible support. Pada kategori/jenis dukungan emotional support, bentuk dukungan yang dirasakan AD berkaitan dengan penguatan diri AD dan empati sang suami.

Sang suami memberikan penguatan kepada AD saat mendengarkan ceritanya kemudian menguatkan melalui ungkapan-ungkapan penyemangat. Selain itu sang suami juga menunjukkan empatinya ketika ia memahami usaha AD dalam memenuhi kebutuhan anak mereka.

Pada kategori/jenis dukungan informational support, bentuk dukungan yang dirasakan AD berkaitan dengan pemberian arahan dari sang suami. Sang suami memberikan arahan kepada AD terkait hal-hal yang sebaiknya dilakukan AD mengenai perubahan yang terjadi pada dirinya setelah melahirkan. Pada kategori/jenis dukungan tangible support, bentuk dukungan yang dirasakan AD berkaitan dengan bantuan jasa dari sang suami. Sang suami membantu AD dalam hal merawat anak dan memenuhi kebutuhan AD.

Berikut merupakan pernyataan AD mengenai bentuk-bentuk dukungan yang ia rasakan dari sang suami:

Tabel 8. Bentuk-bentuk dukungan dari suami yang dirasakan AD eee apaya selalu nyemangatin soal aku ngerawat anak”

(60-61)

“Nyemangatinnya ya misalnya kaya aku bilang apa ‘eh kok adek ini ya daritadi rewel ya kenapa’ kaya gitu kan

‘ya yaudah gapapa anak bayi juga gitu kan’. Paling ya gitu ‘jangan di marahin adeknya’ ‘ya gak lah’ jadi kaya cuman cerita-cerita gitu ngobrol gitu. Lebih kesitu si nyemangatinnya” (68-72)

“Dukungan yang paling gede, hmmm ya yang ya kalo, yang paling gede ya ketika dia nyemangatin aku buat gimana ya, kan aku orangnya sukanya apa apa dibawa perasaan gituloh kaya misalnya aku denger omongan orang atau apa gitu kan pasti aku akan kepikiran gituloh kepikiran banget. Ntar dia ya itu nyemangatin

‘omongan orang itu gausah di denger’ dia ya ngasih tau ngasih tau juga. Ngingetin aku buat selalu jadi diri sendiri gausah gausah terlalu mikirin omongan orang.

Itusi yang paling kebawa sampe sekarang” (133-141) Empati sang

suami

“Terus dia lama lama jadi kek ngerti ‘ohiya istriku udah berusaha’ jadi kek dia ngerti trus makin kesini udah gak bahas bahas itu lagi” (107-109)

Informational

‘yaudah makannya sante aja jadi orang gausah terlalu spaneng’ gitu gitu doang.…..” (35-41)

“Ya yaitu taadi direspon cuman gimana ya gak terlalu yang gimana banget, nanggepinnya cuman ya simple gitu loh. Kek ‘yaudah kalo capek istirahat kalo ngantuk ya tidur’ paling gitu doang jawabannya gituloh gak yang gimana ya dia tu bener bener apa adanya ya gak

apa adanya, maksudnya kalo misalnya aku bilangnya eee ‘eh capek banget daritadi gendong’ ‘yaudah gausah di gendong’ gitu doang” (122-128)

“Ya biasa dia mah paling bilang ‘omongan orang gausah didenger, cuekin aja’ suami bilang gitu ‘gausah dibawa ke hati’” (178-179)

Tangible support

Bantuan jasa

“Kalo sama suami dia juga ikut bantuin njagain si” (10)

“Misalnya dia aku minta tolong gini, dia nglakuin tapi cuman gak bener gituloh ntar aku kasih tau ‘eh harusnya yang bener tu gini’. Misalnya hal sepele kaya gantiin popok.……” (24-27)

“Udah pulang kerja terus sampe rumah masih ikut bantu ngerawat kan juga udah merupakan dukungan juga” (64-66)

“Eee waktu masih bayi tuh dia eee lumayan bisa ya.

Maksudnya gendong bisa, gantiin popok bisa” (77-78)

“Ngasih susu, minumin susu juga bisa. Bikinin susu juga bisa” (79-80)

“Ya waktu itu ngambilin air anget buat aku mandi, ambilnya kan di bawah. Terus ambilin makan juga tiap hari, sehari tiga kali ambilin makan. Ya gitu bantu bantu trus misalnya apa eeee aku mau ngajak, ngajak anakku berjemur keluar ntar dia bantuin bawain alatnya keluar” (89-94)

3. Partisipan 3 (FP, 29 tahun)

Dukungan-dukungan yang FP rasakan dari suaminya setelah ia melahirkan anak pertama tergolong pada kategori/jenis dukungan emotional support, informational support, tangible support, serta belonging support. Pada kategori/jenis dukungan emotional support, bentuk dukungan yang dirasakan FP berkaitan dengan penguatan diri FP

dan empati sang suami. Perilaku yang mencerminkan penguatan diri FP ini diantaranya adalah sang suami yang mau mendengarkan cerita-cerita FP kemudian memberikan penguatan melalui ungkapan-ungkapan meyakinkan dan penyemangat pada diri FP serta memberikan pelukan.

Selain itu sang suami juga menunjukkan empatinya terhadap kondisi FP setelah melahirkan.

Pada kategori/jenis dukungan informational support, bentuk dukungan yang dirasakan FP berkaitan dengan pemberian arahan dari sang suami. Sang suami memberikan arahan kepada FP mengenai hal-hal yang sebaiknya dilakukan FP berkaitan dengan aktivitas yang sedang dilakukannya. Pada kategori/jenis dukungan tangible support, bentuk dukungan yang dirasakan FP berkaitan dengan bantuan jasa dari sang suami. Sang suami membantu FP dalam hal merawat anak dan mengerjakan tugas rumah. Pada kategori/jenis dukungan belonging support, bentuk dukungan yang dirasakan FP berkaitan dengan kesediaan sang suami untuk beraktivitas bersama FP. Perilaku tersebut ditunjukkan oleh sang suami melalui kesediaannya untuk menemani aktivitas-aktivitas yang dilakukan FP.

Berikut merupakan pernyataan FP mengenai bentuk-bentuk dukungan yang ia rasakan dari sang suami:

Tabel 9. Bentuk-bentuk dukungan dari suami yang dirasakan FP

“Kalo suami ya pasti mendukung. Ya mendukung ya membantu dan pasti selalu ngeyakinin ‘udah gausah dipikir, kamu tuh bisa, kamu tuh kuat’ gitu” (24-27)

Emotional support

Penguatan diri FP

“Contohnya ya nyemangatin. Gak pernah marah si.

Maksudnya kek kalo aku nangis juga dia gapernah yang

‘ngapain si nangis’ engga, cuman ‘udah gapapa, kamu tu nangis kenapa, kamu takut apa’ paling gitu ‘gausah gitu gapapa kan ada aku, nanti kita bareng-bareng gantian’ kaya gitu paling” (45-49)

“Kalo responnya ya paling dipeluk, trus ya disemangatin

‘udah jangan nangis, gapapa, kan nanti bisa dididik bareng-bareng. Bagi tugas. Jangan takut’ paling gitu

‘kasian itu bayinya’ paling gitu ‘nanti kalo kamu nangis bayinya juga jadi rewel’ gitu” (98-101)

Empati sang seperti ini’ kek gitu” (112-116)

Informational

“Ya pokoknya setiap aku minta tolong kalo memang dia ada waktu dan gak lagi kerja pasti dia bantuin. Momong juga dia mau, nggantiin popok” (55-57)

“Maksudnya kita butuh bantuan apa ya pasti dia membantu. Dalam hal apapun lahya kaya misalkan pekerjaan rumah pun dia mau” (66-70)

“Meskipun ya mungkin orang nganggep itu kan pekerjaannya perempuan yah, misal kaya nyapu, kaya terus gantiin popok, momong bayi, gendong segala macem itu kan mungkin kan bagi orang-orang harusnya kita kan. Cuman dia mau giutloh gapernah nolak, bahkan nawarin” (88-92)

“Kalo minta tolong yaaaa paling kaya misal bikinin susu

kalo pas malem malem. Soalnya kan karena ASInya harus dibekuin dulu kan, dan nanti kalo pas bayinya mau minum harus dipanasin dulu. Paling bantu itu. Terus ganti popok juga, ya bantu momong juga, paling itu”

(104-108)

“Ya adaa, kalo suami pasti kan kaya bantuin bikin minum atau apa aku yang bikin minum trus suami yang nemuin tamu sama gendong bayi kaya gitu. Gantian lah saling ini lah saling membantu” (146-148)

Belonging support

Beraktivitas bersama

“Kalo menurut saya si, dia selalu ada buat saya aja itu udah masuk dukungan terbesar yah. Gitu. Jadi dia kek apayah maksudnya, ya dia selalu ada dan selalu nemenin lah selalu siap itu” (123-125)

4. Partisipan 4 (SS, 22 tahun)

Dukungan-dukungan yang SS rasakan dari suaminya setelah ia melahirkan anak pertama tergolong pada kategori/jenis dukungan emotional support serta tangible support. Pada kategori/jenis dukungan emotional support, bentuk dukungan yang dirasakan SS berkaitan empati, kepedulian, dan perhatian sang suami. Sang suami menunjukkan empatinya ketika mengetahui kondisi SS setelah melahirkan. Selain itu perilaku sang suami yang bersikap peduli kepada SS tercermin saat sang suami membiarkan SS mengembalikan suasana hati, dan mengikuti keinginan SS. Sang suami juga menunjukkan perhatiannya kepada SS dengan cara menanyakan pendapat-pendapat SS, menghibur SS, dan menanyakan kendala-kendala SS.

Pada kategori/jenis dukungan tangible support, bentuk dukungan yang dirasakan SS berkaitan dengan bantuan jasa dari sang suami. Sang suami memberikan bantuannya dalam hal merawat anak, merawat SS, memenuhi kebutuhan SS, dan mengerjakan tugas rumah. Berikut merupakan pernyataan SS mengenai bentuk-bentuk dukungan yang ia rasakan dari sang suami:

Tabel 10. Bentuk-bentuk dukungan dari suami yang dirasakan SS

Emotional support

Empati sang suami

“Engga si. Cuma paling dia yang ngerti aja si. Karena kan aku berubah kan mood-nya, otomatis dia ngerti gitu….” (37-40)

“…. Jadi ketika aku udah lagi kambuh gitu dia udah siap

‘oh iya’ dia tau dia harus ngapain. Gitu. Jadi engga malah memperkeruh gitu” (99-104)

Kepedulian sang suami

“…. Trus aku dibiarin sendiri di kamar. Entah aku biar istirahat atau misal aku nonton film gitu, maksudnya biar seengganya mood ku jadi bagus gituloh. Mood ku jadi bagus, jadi hmm good mood lagi gitukan. Ya paling misal aku kepengin apa dibeliin gitu” (75-80)

“Terus eeee kalo dia mau tidur biasanya gak aku bolehin.

Aku pengennya dia nungguin aku sampe, sampe aku bener bener tidur dan anak bener bener tenang tidurnya gituloh gak bangun bangun.….” (174-179)

“Bahkan waktu itu sempet ada debat kecil. Cuman suamiku ahamdulillah ngalah kan. Dia ngerti lah keadaan aku pasti kan gak enak juga, lagi gaenak maksudnya. Dari pada nanti ngefek ke ASI trus akhirnya ke anak kan malah eeee repot juga kan. Jadi akhirnya ya apa, dia ngalah.

Gitu” (232-236)

“Yaaa berusaha ngikutin apa yang aku mau. Jadi aku bilang malem kan. Trus lusanya, lusanya kita balik ke

rumahku. Bener bener balik ke rumahku lagi heheheh sampe sekarang” (239-241)

“…... Karena ketika aku bener-bener pindah ke sini, jadi eee aku gapernah itu lagi gapernah baby blues lagi.

Maksudnya ada si keadaan dimana aku jadi bad mood.

Cuman gak yang lebih se sering di tempat mertua gitu loh.

Karena ya jadi seneng aja kan deket sama orang tua jelas gitu kan. Menurutku itu si yang paling gede banget dampaknya. Karena tandanya dia mau ngalah kan mau ngalah demi aku, maksudnya demi recovery, recovery nya aku lebih cepet gitu kan”

(295-304)

Perhatian sang suami

“Eeee ya dia biasa aja si, gak yang kaget atau dia ikutan marah engga si. Cuma ya itu paling eee aku pengennya di tinggal sendiri gituloh. Paling ya dia nenangin si, nenangin si apa kaya ‘dahlah kamu pengennya gimana?’

ya kaya waktu itu, aku inget banget si dia nanya ‘kamu pengennya gimana?’ karena kan waktu itu aku tinggal di tempat mertua kan, jadi baru lahiran trus langsung tinggal di tempat mertua kaya kaget gituloh. Gak sama orang tua sendiri kan pasti beda rasanya. Terus jadi dia nanya ‘kamu maunya gimana? Kalo kamu mau balik ke rumah gapapa. Maksudnya yang penting kamu nyari nyamannya kamu dulu, karena kamu baru lahiran nih’

gituu. Karena kan khawatir efeknya ke anak gitu” (120-131)

“Karena kalo, kalo kan ada kan yang di yang lagi istrinya bad mood dicuekin, kalo aku engga, dibecandain, malah akhirnya kita jadi lupa loh kalo kita lagi kesel gitu” (257-259)

“ya itu cuma paling dia nanyain ‘kamu kenapa’. Aku tuh ditanyain perhatian kamu kenapa tu udah seneng banget loh. Sepele banget kan. ‘kamu kenapa? Kamu minta apa?’

waktu itu” (286-288)

Tangible support

Bantuan jasa

“….aku abis lahiran gak bisa terlalu banyak gerak karena banyak jahitan dimana mana itu kan, jadi eee ya kadang anakku kalo nangis sama adeknya suami atau sama suami atau sama mertuaku. Gitu” (47-51)

“Ya untuk urusan nyuci baju, nyuci baju anak, nyuci baju aku, nyuci baju dia sendiri itu. Ya paling gitu gitu aja si”

(57-58)

“Terus aku kan belum bisa terlalu banyak turun dari kasur kan, karena memang eee lagi ngerasa jahitan sakit, jadi paling makan di bawain gitu. Pengen apa dibeliin.

Yaudah si paling gitu-gitu aja” (58-61)

“Terus sama misalkan anak nangis nih ya dia yang handle dulu gitu. Dia yang apah, nyusuin pake botol.

Pake ASIP ku gitu” (61-63)

“Eeee kalo dia si biasanya ngebiarin aku si. Maksudnya yaaa anak di bawa dia, anak di bawa dia di gendong gitu kan.…..” (75-80)

“Hmmm paling awal awal apa namanya, ya ngurus ngurus itu si paling apa namanya, kalo misalkan aku lagi keliatan istirahat gitu dia bantu kalo dedek nya poop atau pipis dia yang ganti popok” (83-85)

“…. Ya waktu itu hmmmm ngapain ya, aku cuman minta eee apah dipijitin aja si” (163-168)

“Aku dari awal lahiran sampe jahitan kering banget tu 10 harian lah, kayanya 10 hari atau 7 hari tuh aku ke kamar mandi di tuntun sama dia. Di tuntun, trus masih eee kalo mandi si udah bisa sendiri yah, cuman emang eee apa namanya kalo buat jongkok tu aku gabisa v**. Aku gabisa jongkok karena takut yah. Belum bisa jongkok itu, aku bisa jongkok setelah 40 hari. Jadi buat ke kamar mandi, buat buang air besar sama mandi tu aku masih di bantu sama suami” (185-192)

“Eee paling itu kan dia nyusu 2 jam sekali yah, itu kan kalo masih baru 2 jam masih enak gitu kan. Kalo disimpen di kulkas ya harus diangetin dulu biar suami yang ngangetin” (203-205)

D. Integrasi Hasil Penelitian ke-Empat Partisipan

Melihat pada hasil-hasil penelitian yang telah ditemukan, peneliti akan memaparkan gambaran mengenai bentuk-bentuk dukungan sosial suami yang dirasakan ke-empat partisipan setelah mereka melahirkan anak pertamanya. Berdasarkan bentuk-bentuk dukungan tersebut, beberapa partisipan merasakan dukungan-dukungan yang serupa satu sama lain.

Dukungan-dukungan tersebut akan peneliti paparkan dalam empat kategori/jenis dukungan yaitu emotional support, informational support, tangible support, serta belonging support.

a. Emotional support

Ke-empat partisipan merasakan emotional support meskipun dalam bentuk yang berbeda. Beberapa dari mereka (P1, P2, dan P3) mendapat penguatan diri dari suami mereka melalui ungkapan-ungkapan penenangan, meyakinkan, penyemangat, atau bahkan pelukan. Tidak hanya itu, sang suami juga kerap menunjukkan empatinya kepada para partisipan. Empati ini dapat dirasakan partisipan (P2, P3, dan P4) saat sang suami mengetahui perubahan kondisi mereka setelah melahirkan, dan saat mengetahui bagaimana usaha mereka dalam memenuhi kebutuhan anak mereka. Sang suami juga kerap memberikan perhatian-perhatiannya

kepada partisipan (P1 dan P4). Perhatian ini ditunjukkan oleh sang suami dengan menanyakan pendapat ataupun kendala yang dirasakan partisipan, atau dengan menghibur mereka agar tidak terlalu terfokus pada perubahan suasana hati yang mereka alami. Selain itu sang suami juga menjadi lebih peduli dan cenderung mengesampingkan keinginannya untuk kebaikan partisipan (P4). Kepedulian ini tercermin pada perilaku sang suami yang memberikan waktu kepada partisipan untuk mengembalikan suasana hati atau dengan mengalah mengikuti keinginan partisipan.

b. Informational support

Informational support dari suami ini cenderung merujuk pada

Informational support dari suami ini cenderung merujuk pada

Dokumen terkait