• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. Persiapan Penelitian

Persiapan penelitian yang dilakukan sebelum proses pengambilan data antara lain meliputi perkenalan dan pengajuan ijin penelitian, identifikasi masalah, penyusunan alat ukur, mempersiapkan modul, hingga persiapan pelatihan dan memastikan kesediaan dari partisipan. Adapun persiapan tersebut akan dijelaskan lebih lanjut melalui rincian sebagai berikut.

a. Perkenalan dan Pengajuan Ijin Penelitian

Penelitian ini diawali dengan memulai perkenalan dengan pihak manajemen perusahaan melalui sebuah wawancara via telepon untuk menjelaskan tentang tujuan dan alur penelitian yang akan dilangsungkan. Setelah perkenalan dilakukan dan memperoleh ijin penelitian, peneliti kemudian menyerahkan surat permohonan izin penelitian kepada pihak manajemen perusahaan.

b. Identifikasi Masalah

Pada tahap ini peneliti melakukan asesmen awal guna mencari informasi mengenai permasalahan yang terjadi di lingkungan kerja karyawan bagian penjualan. Asesmen dilakukan melalui wawancara kepada atasan dan pimpinan divisi di perusahaan ini. Selain itu, peneliti juga melakukan komunikasi tindak lanjut dengan salah satu atasan untuk mengetahui informasi mengenai kualitas kerjasama tim yang terbentuk setelah pelatihan diberikan.

c. Persiapan Alat Ukur

Alat ukur utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner kualitas kerjasama tim. Kuesioner ini merupakan kuesioner

adaptasi dari penelitian Cahyadi (2012) yang didasarkan atas teori Hoegl dan Geumenden (2001). Kuesioner kualitas kerjasama tim yang disajikan berisikan aspek-aspek yang dianggap menggambarkan kerjasama tim yang berkualitas yang terdiri dari unsur komunikasi, koordinasi, keseimbangan kontribusi anggota, dukungan, usaha, dan kohesivitas. Kuesioner ini telah diuji validitas dan reabilitasnya. Koefisien reliabilitas yang terdapat pada kuesioner ini sebesar 0,936 dengan tingkat korelasi item memiliki skor total pada rentang nilai -0,90 hingga 0,768. Berdasarkan pada kajian Kaplan dan Sacuzzo (1997), koefisien reliabilitas yang berkisar antara 0,70 dan 0,80 dinyatakan cukup baik untuk digunakan pada sebuah penelitian, sehingga peneliti menggunakan kuisioner ini untuk mengukur kualitas kerjasama tim.

Selain kuesioner tersebut, peneliti juga mempersiapkan kuesioner untuk mengukur pemahaman kerjasama tim yang berkualitas saat pelaksanaan pelatihan. Pernyataan-pernyataan di dalam kuesioner disusun oleh peneliti dengan mengacu pada pembahasan kualitas kerjasama tim dari Hoegl dan Geumenden (2001). Kuesioner ini difungsikan sebagai bentuk evaluasi pembelajaran dari proses pelatihan yang diberikan, dengan menampilkan 10 item pernyataan dan pilihan jawaban benar atau salah.

d. Modul

Modul pelatihan dalam penelitian ini merupakan modul yang dirancang dan disusun sendiri oleh peneliti. Isi materi dalam modul pelatihan disesuaikan dengan temuan permasalahan kualitas kerjasama

tim yang terjadi pada karyawan bagian penjualan disebuah perusahaan distribusi, yakni komunikasi dan dukungan antar karyawan penjualan. Ditinjau dari hasil temuan tersebut, kedua permasalahan yang disebutkan diatas merupakan aspek yang terdapat pada kualitas kerjasama tim dari teori Hoegl dan Geumenden (2001). Setelah melakukan penyesuaian antara permasalahan dengan sasaran pelatihan, peneliti kemudian merancang dan menyusun modul secara sistematis. Peneliti memilih materi yang mudah untuk dipahami dan diaplikasikan kembali oleh para karyawan sehari-hari dengan menambahkan permainan dan lembar kerja berkelompok, serta melakukan simulasi (role play) terkait komunikasi interpersonal antar rekan kerja. Peneliti juga melakukan penyesuaian pada energizer yang diberikan kepada partisipan dengan penugasan membuat yel-yel kelompok pelatihan agar energi peserta dapat terbangun sesuai harapan. Penggunaan waktu pelaksanaan setiap sesi disesuaikan dengan sasaran dan jumlah waktu yang diberikan oleh pihak perusahaan. Pelatihan ini menggunakan berbagai metode antara lain, ceramah, diskusi, lembar kerja, permainan, dan simulasi (role play). Setelah penyusunan modul selesai dilakukan, peneliti mengajukan modul kepada dua orang dosen berlatar belakang psikolog untuk membantu melakukan proses professional judgement. Selanjutnya, peneliti melakukan validasi modul kepada salah seorang atasan agar pihak perusahaan memiliki pemahaman yang sama tentang konsep pelatihan yang menjadi isi modul dan akan diberikan kepada karyawan.

e. Persiapan Pelatihan

Persiapan pelatihan dimulai dengan melakukan koordinasi dengan trainer yang ditunjuk sebagai pengajar. Koordinasi tersebut membahas tujuan dan sasaran pelatihan, serta isi modul yang akan disampaikan pada kegiatan pelatihan. Koordinasi dilakukan secara rutin agar pelatih memiliki pemahaman yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga mampu menyampaikan isi modul sesuai harapan peneliti. Trainer dalam penelitian ini telah memenuhi sebagian kualifikasi yang ditetapkan, seperti memiliki pengalaman mengisi pelatihan khususnya bidang psikologi, dan memahami tentang konsep kerjasama tim yang berkualitas. Trainer merupakan praktisi psikologi yang pernah memberikan materi pelatihan terkait komunikasi interpersonal dan membangun tim, sehingga hal ini mendukung untuk lebih mudah melakukan transfer ilmu kepada peserta perlatihan. Meskipun trainer telah menguasai materi pelatihan yang akan diberikan, trainer tetap berupaya melakukan penyesuaian kembali karena poin-poin penting yang perlu ditekankan sebagai pokok permasalahan dalam pelatihan ini dibuat berdasarkan kondisi aktual peserta. Selama pelatihan berlangsung, trainer didampingi oleh dua orang observer yang merupakan mahasiswi Magister Psikologi Profesi bidang Psikologi Industri dan Organisasi yang berkompeten untuk menjadi observer dalam pelatihan. Selain itu, persiapan juga ditempuh dengan menentukan lokasi pelaksanaan pelatihan yang dianggap mampu memenuhi kenyamanan seluruh pengisi kegiatan, yakni di ruang pelatihan rumah kolaborasi Kota Bogor. Lokasi

ini dipilih atas pertimbangan ruangan telah memiliki fasilitas pendukung untuk mengadakan kegiatan pelatihan, seperti kapasitas ruang yang luas dan mampu menampung sesuai jumlah peserta, memadai untuk melakukan aktivitas permainan dalam sesi pelatihan, serta tersedia peralatan yang menunjang proses pelatihan antara lain proyektor, pengeras suara, papan tulis, dan meja kursi untuk peserta.

f. Memberi Informed Consent

Partisipan pelatihan merupakan karyawan penjualan pada divisi kerja yang menurut penilaian dan pengamatan atasan memiliki kerjasama tim yang kurang maksimal. Partisipan yang dijadikan sebagai kelompok eksperimen dalam penelitian ini berjumlah 10 orang karyawan yang berasal dari bagian penjualan produk kebutuhan ruumah tangga. Tujuan dari memberikan informed consent adalah untuk mengetahui kesediaan partisipan dalam mengikuti seluruh proses penelitian yang akan dilakukan. Selain itu, peneliti juga menyampaikan bahwa kerahasiaan dari partisipan penelitian pasti akan terjaga karena hal itu telah diatur dalam kode etik psikologi dan peneliti pun menjalankannya.

B. Pelaksanaan Penelitian

Dokumen terkait