• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persoalan Tentang Persaingan Antara Bank Muamalat Dengan Bank Syariah Lainnya yang Ada di Kota Binjai

DESKRIPSI PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Persoalan Tentang Persaingan Antara Bank Muamalat Dengan Bank Syariah Lainnya yang Ada di Kota Binjai

Menurut wawancara peneliti dengan bapak manajer bank muamalat cabang pembantu kota Binjai yaitu Bapak Irhamdi dan Bapak Joni, tingkat persaingan antara bank muamalat dengan bank syariah lainnya yang ada di kota Binjai yaitu : BNI Syarah dan Bank Syariah Mandiri adalah “kami seperti mitra kerja”, dimana mereka tidak pernah merasa menjadi kompetitor satu sama lain.

Bank muamalat kota Binjai hanya menjalankan kinerjanya dengan seoptimal mungkin agar sesuai prinsip-prinsip syariah dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada nasabahnya. Karena pada dasarnya jenis produk yang dan jasa yang ditawarkan sama hanya berbeda ditingkat pelayanannya saja. Tapi berdasarkan data tingkat kepuasan nasabah yang sudah sering menggunakan layanan ketiga bank syariah tersebut mereka berasumsi bahwa pelayanan bank muamalat lebih baik dibandingkan bank syariah lain. Hal ini terbukti bahwa dari seluruh bank syariah yang ada di Indonesia, bank muamalat mendapat predikat terbaik dan paling diminati oleh nasabahnya di tahun 2012. “Namun untuk daerah Binjai sendiri belum pernah ada penelitian yang menyatakan bahwa bank muamalat lebih unggul dibanding bank syariah lainnya”, pak Irhamdi menambahkan.

Ditambahkan oleh informan, bahwa justru kompetitor yang sangat berat untuk dihadapi di kota Binjai sampai saat ini adalah dari kalangan bank konvensional. Karena pandangan masyarakat umum terhadap kelebihan bank syariah dibanding dengan bank konvensional masih sangat awam dan belum

faham benar tentang perbedaan riba dan bagi hasil. Oleh karena itu pihak marketing bank muamalat harus semakin gencar dalam menjalankan sosialisasi produknya ke tengah-tengah masyarakat yang cukup majemuk di kota Binjai. Saat ini tantangan terbesar mereka adalah pada saat mensosialisasikan tentang perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional. Terutama dalam hal masalah konsep riba yang diharamkan oleh semua agama, baik muslim maupun non muslim. Ternyata kaum muslim sendiri masih banyak yang belum faham tentang konsep riba tersebut. Apalagi tentang jenis-jenis produk yang ditawarkan hampir semua menggunakan istilah bahasa arab, masyarakat umum juga masih banyak yang bingung dan menganggap ribet tentang akad-akad dalam bank syariah. Jadi tugas berat pihak marketing bank muamalat adalah memperkenalkan kedua hal tersebut, yaitu tentang konsep riba yang haram dan tentang keuntungan yang didapatkan dengan menjadi nasabah bank muamalat dibandingkan dengan bank konvensional.

Menurut Dr. Amir Machmud dalam bukunya : Bank Syariah (Teori, Kebijakan dan Studi Empiris di Indonesia, 2010), perbedaan pokok antara sistem bank konvensional dengan bank syariah dapat dilihat dari empat aspek, yaitu : 1. Falsafah : Pada bank syariah tidak berdasarkan atas bunga, spekulasi dan

ketidakjelasan. Sedangkan pada bank konvensional berdasarkan atas bunga.

2. Operasional : Pada bank syariah, dana masyarakat berupa titipan dan investasi baru akan mendapatkan hasil jika diusahakan terlebih dahulu, sedangkan pada bank konvensional dana masyarakat berupa simpanan yang harus dibayar bunganya pada saat jatuh tempo. Pada sisi penyaluran, bank syariah menyalurkan dananya pada sektor usaha yang halal dan

menguntungkan. Sedangkan pada bank konvensional, aspek halal tidak menjadi pertimbangan utama.

3. Sosial : Pada bank syariah, aspek sosial dinyatakan secara eksplisit dan tegas yang tertuang dalam visi dan misi perusahaan, sedangkan pada bank konvensional tidak tersirat secara tegas.

4. Organisasi : Bank syariah harus memiliki Dewan Pengurus Syariah (DPS), sementara bank konvensional tidak.

Selain itu menurut beliau, perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah dapat dilihat dari empat aspek lainnya, yaitu :

1. Akad dan Aspek Legalitas

Akad yang dilakukan dalam bank syariah memiliki konsekuensi dunia dan akhirat, karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum islam. Nasabah sering kali berani melanggar kesepakatan/ perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tetapi tidak demikian jika perjanjian terebut memiliki pertanggungjawaban hinggan hari pembalasan nanti. Setiap akad dalam perbankan syariah baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad.

2. Lembaga Penyelesaian Sengketa

Penyelesaian perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabah pada perbankan syariah berbeda dengan bank konvesional. Kedua belah pihak pada bank syariah tidak menyelesaikannya di peradilan negeri, tapi menyelesaikannya sesuai tata cara dan hukum materi syariah. Lembaga yang mengatur hukum materi atau berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dikenal

dengan nama Badan Arbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI) yang didirikan secara bersama oleh Kejaksaaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.

3. Struktur Organisasi

Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan antara bank syariah dan bank konvensional adalah keharusan adanya DPS yang berfungsi mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai dengan syariah. DPS biasanya diletakkan pada posisi setingkat dewan komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas setiap opini yang diberikan oleh DPS. Oleh karena itu, biasanya penetapan anggota DPS dilakukan oleh rapat umum pemegang saham setelah para anggota DPS itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN).

4. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai

Bisnis dan usaha yang dilaksanakan bank syariah tidak terlepas dari kriteria syariah. Hal tersebut menyebabkan bank syariah tidak akan mungkin membiayai usaha yang mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Terdapat sejumlah batasan dalam hal pembiayaan. Tidak semua proyek atau objek pembiayaan dapat didanai melalui bank syariah, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.

5. Lingkungan dan Budaya Kerja

Bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sesuai dengan syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan terpercaya harus

melandasi setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Selain itu karyawan bank syariah harus profesional dan mampu melakukan tugas secara team work. Dimana informasi merata di seluruh fungsional organisasi. Dalam hal ini reward dan punishment dilakukan prinsip keadilan yang sesuai dengan prinsip syariah.

Sampai saat ini jumlah nasabah bank muamalat kota Binjai sejak awal berdirinya (dari tahun 2002-2012) sudah mencapai ribuan nasabah (baik yang aktif dan non aktif). Karakteristik nasabah berasal dari berbagai kalangan, baik pengusaha, Pegawai Negri Sipil, karyawan swasta, kalangan guru dan ulama serta pelajar dan lain-lain. Mayoritas nasabah adalah masyarakat muslim, sedangkan nasabah non muslim hanya berkisar sepuluh persen dari total nasabah. Namun ketika peneliti (saya) meminta data jumlah nasabah yang berupa laporan tertulis, mereka tidak bisa memberikan, karena mereka katakan semua laporannya hanya ada di kantor bank muamalat pusat yang ada di Balai Kota Medan).

Oleh karena itu menurut penulis bank muamalat kota Binjai sudah seharusnya harus lebih gencar lagi dalam mengedukasi masyarakat kota Binjai tentang pentingnya kewajiban menjauhi riba dan mengeluarkan produk-produk dan jasa yang tepat sasaran sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat kota Binjai sehingga mereka benar-benar tertarik untuk .menjadi nasabah bank muamalat.

2. Masalah Pada Saat Mengedukasi Masyarakat Kota Binjai Tentang