HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kinerja Rumah Sakir Mappaodang Makassar
5.2 Perspektif Balance Scorecard
Balance Scorecard sebagai alat ukur kinerja organisasi perusahaan meliputi empat perspektif. Untuk mengukur kinerja perusahaan melalui ke empat
perspektif tersebut di perlukan data keuangan, terutama neraca dan laporan laba rugi.
Data keuangan R.S Bhayangkara Makassar yang penulis teliti dan amati yaitu berupa Neraca Rumah Sakit dan Laporan Hasil Usaha R.S dapat di lihat pada lampira.
a. Perspektif keuangan
Perspektif keuangan dalam Balance Scorecard tetap menjadi perhatian, karena kinerja keuangan merupakan ikhtisar dari konsekuensi ekonomi yang terjadi yang di sebabkan oleh keputusan dan tindakan ekonomi. Pengukuran kinerja keuangan menunjukan apakah perencanaan dan implementasi memberikan perbaikan yang mendasar.
Berdasarkan pengamatan menunjukan bahwa R.S Bhayangkara Makassar saat ini berada pada tahap substain. Pada tahap ini usaha rumah sakit di anggap memiliki layanan jasa yang bertumbuh stabil sehingga strategi dan pengukuran dalam perspektif keuangan dapat di fokuskan pada peningkatan pendapatan atau penerimaan operasional, pengembalian modal usaha, dan tingkat pendapat/penerimaannya.
1. Tingkat Laba
Laba atau hasil usaha merupakan sisa pendapatan yang terjadi dari usaha setelah di kurangi dengan semua biaya operasional dan pendapatan yang di peroleh selama periode tertentu. Berikut ini di sajikan tabel yang memuat data R.S Bhayangkara Makassar.
Tabel 1 Laba
R.S Bhayangkara Makassar Tahun 2011-2012
Tahun Laba
2011 1.393.319.000
2012 1.160.239.000
Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat bahwa pada tahun 2011 laba usaha rumah sakit ini mencapai Rp. 1.160.239.000 ini merupakan bahwa pada tahun 2012 perusahaan mengalami penurunan. Tingkat penurunan laba tersebut di hitung sebagai berikut:
Laba tahun 2012 – laba tahun 2011
Laba tahun 2012 = x 100%
Laba tahun 2011 1.160.239.00 – 1.393.319.000
= x100%
1.393.319.000
= 16,73%
Dari perhitungan di atas di lihat dari tingkat penurunan laba untuk tahun 2012 mencapai 16,73% atau sebesar Rp. 233.080.000 hal ini berarti usaha rumah sakit belum dapat mencapai tingkat kenaikan laba dari hari tarif standar yang di tetapkan sebelumnya yaitu minimal sama dengan besar laba yang mencapai tahun sebelumnya.
2. Return on investement (ROI)
Return on investemnet (ROI) dalam analisis keuangan mempunyai arti yang sanagt penting karena ROI adalah suatu teknik analisis yang lazim di gunakan oleh perusahaan untuk mengukur afaktifitas dari keseluruhan operasi usaha rumah sakit. ROI merupakan suatu ukuran yang menunjukan timgkat pengembalian dari investasi yang di lakukan oleh pihak rumah sakit. Berikut ini di sajikan tabel yang memuat data ROI R.S Bhayangkara Makassar.
Tabel 2
Return in investement R.S Bhayangkara Makassar
Tahun 2011-2012
Tahun Laba (Rp) Total Aktiva (Rp) ROI
(1) (2) (3) = (1) : (2)
2011 1.393.319.000 13.905.533.000 10,09%
2012 1.160.239.000 13.905.511.000 8,34%
Dari tabel di atas, presentase ROI pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesarv 1,75%. Hal ini berarti usaha rumah sakit ini belum dapat mencapai standar yang telah di tetapkan sebelumnya yaitu minimal sama dengan Roi yang di capai dengan tahun sebelumnya.
3. Total biaya
Penurunan biaya merupakan salah satu tujuan yang ingin di capai oleh sebuah perusahaan. Jika biaya dapat di tekan tentu saja tanpa mengabaikan kualitas dari pada layanan jasa, maka laba perusahaan dapat di tingkatkan.
Total biaya menunjukan keseluruhan biaya yang di gunakan perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan. Berikut ini di sajikan tabel yang memuat data biaya operasional dan biaya-biaya lainnya serta total biaya secara keseluruhan yang terjadi pada R.S Bhayangkara Makassar selama tahun 2011 hingga tahun 2012.
Tabel 3 Total Biaya
R.S Bhayangkara Makassar Tahun 2011-2012
Tahun Total
Biaya Operasional Biaya Lain-lain Total Biaya
(1) (2) (3) = (1) : (2)
2011 1.391.403.000 10.865.000 1.402.269.000
2012 1.203.029.000 - 1.203.029.000
Dari tabel di atas dapat di lihat total biaya pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar Rp 199.239.000 atau sebesar 14,20%. Hal ini berarti perusahaan sudah dapat melakukan efisiensi biaya sehingga perusahaan dapat mencapai standar yang telah di tentukan sebelumnya yaitu minimal sama atau kecil dari total biaya yang telah di tetapkan sebelumnya.
4. Gross Margin
Gross Margin menunjukan kemampuan perusahaan dalam meraih keuntungan kotor dalm setiap penjualan. Berikut ini di sajikan tabel yang terjadi pada R.S Bhayangkara Makassar selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2012.
Tabel 4 Gross Margin
R.S Bhayangkara Makasaar Tahun 2011-2012
Tahun Laba kotor Penjualan Gross Margin (%)
(1) (2) (3) = (1) : (2)
2011 3.096.510.000 19.470.644.000 15,90%
2012 2.334.689.000 21.592.440.000 10,81%
Pada tabel di atas menunjukan bahwa Gross Margin mengalami penurunan sebesar 5,81%. Hal ini berarti perusahaan belum dapat mencapai standar yang di tetapkan sebelumnya yaitu minimal satu sma lebih besar dari Gross Margin yang di capai sebelumnya.
b. Perspektif pelanggan
Secara teoritis indikator-indikator yang di tawarkan oleh Kaplan dan Norton dalam perspektif pelanggan cukup bervariasi. Namun secara umum di bagi dalam dua kelompok yakni kelompok inti yang di tujukan untuk mengukur hasil akhir yang di capai perusahaan, seperti pangsa paar, timgkat perolehan perangkat
baru, kemampuan mempertahankan pelanggan lama, tingkat kepuasaan pelanggan dan profitabilitas pelanggan. Sedangkan kelompok pemicu menyangkut atribut yang di sajikan agar perusahaan dapat memperoleh hasil yang optimal seperti atribut produk/jasa (fungsi, harga, mutu dan waktu).
Hubungan dengan pelanggan, dan citr/reputasi perusahaan beserta produknya di mata para pelanggan dan para konsumen.
1. Retensi Pelanggan
Retensi pelanggan satu tingkat yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan hubungnan dedengan pelanggan. Retensi pelanggan merupakan care out come measure yang di pilih perusahaan mengidentifikasikan apakah konsumen puas dengan produk dan jasa yang telah di terima, sebab bila konsumen puas maka di harapkan akan mempertahankan atau justru menjadi pelanggan tetap di perusahaan
Tabel 5
Perhitungan Retensi pelanggan R.S Bhayangkara Makassar
Tahun 2011-2012
Tahun Jumlah Pelanggan
Tetap Total Pelanggan Retensi Pelanggan
(1) (2) (3) = (1) : (2)(%)
2011 5 5 100%
2012 5 5 100%
Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat bahwa retensi pelanggan pada tahun 2012 tidak mengalami peningkatan atau tetap, ini di sebabkan total pelanggan jiga tidak mengalami perubahan. Hal ini berarti bahwa perusahaan sudah bisa mencapai standar yang di tetapkan sebelumnya yaitu minimal sama atau lebih beasr dari retensi pelanggan yang di capai tahun sebelumnya.
2. Number of Complain
Pada dasarnya number of complain di gunakan untuk mengukur tingkat keluhan dari pelanggan atas barang yang telah di kirim kepada pelanggan tersebut. Semakin rendah keluhan dari tingkat pelanggan menunjukan bahwa barang yang telah di kirim sesuai dengan kriteria atau kualitas yang di butuhkan oleh pelanggan.
Sejak dulu seng sermani memang selalu mengutamakan kualitas produk. Produk seng sermani lebih tebal dan lebih tahan lama di bandingkan seng-seng yang di jual di Makassar, maka tidaklah mengherankan jika sebagian besar konsumen lebih memilih menggunakan seng sermani. Selama tahun 2011-2012 perusahaan tidak pernah mendapatkan komplain dari pelanggan. Hal ini berarti bahwa perusahaan bisa mencapai standar yang telah di tetapkan sebelumnya yaitu sama atau minimal lebih beasr dari jumlah komplain yang di capai tahun sebelumnya.
c. Perspektif proses bisnis internal
Dalam perspektif ini, misi perusahaan adalah untuk menciptakan produk dengan kualitas terbaik dan dengan biaya yang seefektif mungkin dengan
mengurangi waktu dan tidak memberikan nilai tambah, kriteria yang di gunakan untuk mengukur perspektif ini adalah.
1. Manufacturing Cycle Efficiency (MCE)
MCE menghubungkan waktu nilai tambah ke throughput time jika MCE kurang dari 1, maka terdapat aktivitas yang tidak menambah nilai dalam proses produksi. Demgan pengawasan dan pengendalian, perusahaan dapat mengurangi aktivitas yang tidak memberi nilai tambah dan mempercepat pengantaran produk ke tangan konsumen dengan harga yang kompetitif.
Tabel 6
Throghput Time ( Hari ) R.S Bhayangkara Makassar
- pemeriksaan mutu 0,5 0,5
3. Moving time
- Dari gudang kemesin 1 0,5
4. Queve time
Dari tabel Throughput Time (Hari) di atas di hitung MCE sebagai berikut:
Tabel 7 Perhitungan MCE R.S Bhayangkara Makassar
Tahun 2011-2012
Tahun
Processing time Throughput time MCE
(1) (2) (3) – (1) : (2)
2011 3 10 0,3
2012 3 7,5 0,4
Sumber : Hasil Olahan Data
Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat MCE pada tahun 2011 sebesar 0,3 dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 0,1 menjadi 0,4.
Jal ini menunjukan perusahaan sudah bisa mengurangi waktu yang telah terbuang dalam proses produksi meskipun belum bisa di katakan efektif karena belum tercapai angka maksimal yaitu 1. Hal ini berarti perusahaan sudah dapat mencapai standar yang telah di tetapakn sebelumnya yaitu minimal sama atau lebih besar dari tahun sebelumnya
2. Part Million Defect6 Rate (PMDR)
PMDR di gunakan untuk memantau kualitas termasuk di dalamnya untuk mengetahui tingkat kerusakan produk bila di bandingkan dengan keseluruhan produksi. PMDR di butuhkan untuk mengurangi masalah yang terjadi di dalam perusahaan untuk menekan jumlah produk cacat. Berikut ini di sajikan tabel yang menunjukan kondisi PMDR yang terjadi pada R.S Bhayangkara Makassar selama tahun 2011 hingga tahun 2012.
Tabel 8
Sumber : R.S Bhayangkara Makassar
Dari tabel di atas dapat di lihat kondisi PMDR mengalami penurunan sebesar 0,06%. Hal ini berarti perusahaan sudah dapat mencapai standar yang telah di tetapkan sebelumnya yaitu minimal sama atau lebih kecil dari tahun sebelumnya. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran perspektif pertumbuhan dari pembelajaran menggambarkan kesiapan infransruktur perusahaan menjadi organisasi belajar sekaligus mendorong pertumbuhan dalam mencapai sasaran jangka panjang. Proses pertumbuhan dan pembelajaran ini bersumber dari faktor sumber daya ,manusia, sistem dan prosedur organisasi.
Dalam perspektif ini di lakukan pengukuran atas tiga, yaitu pengukuran terhadap kepuasan karyawan, tingkat pembelajaran karyawan dan produktifitas karyawan.
1. Employen Satispaction Index
Perusahaan yang ingin mencapai tingkat kepuassan pelanggan yang tinggi perlu memiliki pelanggan yang di layani oleh karyawan yang terpuaskan oleh perusahaan. Karyawan yang puas merupakan syarat bagi terciptanya kondisi yang dapat meningkatkan produktivitas, daya tamggap, mutu dan layanan terhadap konsumen.
Untuk mengukur tingkat kepuasaan karyawan di lakukan penyebaran kuisioner. Pertanyaan dslam kuisioner tersebut di susun dalam beberapa aspek sebagai berikut:
a. Aspek keuangan yang terdiri dari:
1. Gaji dan upah
2. Tunjangan kesehatan dan tunjangan hari raya 3. Biaya pengobatan
4. Jaminan hari tua
b. Aspek non keuangan yang terdiri dari:
1. Memberikan kesempatan terhadap karyawan yang mampu melakukan pekerjaan yang memuaskan untuk meneliti jenjang karir selanjutnya.
2. Memberikan perhatian dan penghargaan jika karyawan memberikan kemajuan bagi perusahaan
3. Menetapkan standar prestasi kerja yang berada dalam batas kemampuan karyawan untuk mencapainya.
4. Melibatkan karyawan dalam proses pengambilan keputusan.
Untuk mengukur kepuasaan karyawan di lakukan pengambilan sampel. Pemilihan sampel untuk mengetahui kepuasaan karyawan menggunakan metode Non-Probability sampling di mana penentuan besarnya sampel merupakan pertimbangan dari penulis atau masukan dari orang yang di anggap ahli.
Data dari kuisioner tersebut bersifat kualitatif dan kemudian di ubah menjadi data yang bersifat kuantitatif. Untuk mengubah sifat data tersebut di buat skor jawaban sebagai berikut:
1. Jika memilih sangat tidak setuju (STJ) 2. Jika memilih tidak setuju (TJ)
3. Jika memilih netral (N) 4. Jika memilih setuju (S)
5. Jika memilih sangat setuju (SS)
Jumlah kuisioner yang di bagikan sebanyak 40, yang kembali sebanyak 34, sedangkan total pertanyaan dalam kuisioner tersebut sebanyak 15 pertanyaan.
Dari data tersebut dapat di tentukan interval kepuasaan untuk kemudian di gunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan karyawan.
Interval = (Ikmaks – Ikmin) : 5 Ikmaks = PpxRxIKmaks
= 15x34x5
= 2.550
Ikmin = PpxRxEXmin
= 15x34x1
= 510 Interval
= (2.550 – 510) : 5
= 408
1. 510 – 916 = Di kategorikan sangat tidak puas 2. 918 – 1.326 = Di kategorikan tidak puas 3. 1.326 – 1.734 = Di kategorikan cukup 4. 1.734 – 2.142 = Di kategorikan puas
5. 2.142 – 2.550 = Di kategorikan sangat puas
Standar minimal yang di tetapkan adalah di dasarkan pada skala yang di gunakan untuk mengolah data.
2. Learning Index
Salah satu faktor pendorong dalam perspektif pertumbuhan dan pembelajaran adalah tingkat bpembelajaran tenaga kerja, kapabilitas sistem informasi, motivasi, pemberdayaan dan keselarasan. Pembagian kuisioner yang memuat faktor-faktor di atas di lakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha perusahaan dalam proses pembelajaran bagi karyawan dan bagaimana pendapat karyawan itu sendiri mengenai usaha yang di lakukan oleh perusahaan tersebut.
Untuk mengukur kepuassan karyawan di lakukan pengambilan sampel. Pemilihan sampel untuk mengetahui kepuasaan karyawan menggunakan metode Non-probability sampling dimana penentuan besarnya sampel merupakan pertimbangan dari penulis atau masukan dari orang yang di anggap ahli.
3. Produktifitas karyawan
Tujuan dari penggunaan pengukuran ini adalah untuk mengetahui berapa besar output yang dapat di hasilkan oleh setiap karyawan, dengan kata lain melalui indikator ini, dapat di ketahui perkembangan dan penurunan produktivitas karyawan yang di miliki oleh perusahaan. Berikut ini di sajikan tabel yang memuat data produktivitas karyawan R.S
Sumber : R.S Bhayangkara Makassar
Dari tabel di atas dapat di lihat produktivitas karyawan pada tahun 2011 adalah sebesar Rp 178.629.762 per karyawan. Pada tahun 2012 produktivitas karyawan di harapkan dapat miningkat atau minimal sama dengan yang di capai pada tahun sebelumnya. Pada tabel dapat di lihat untuk tahun 2012 produktivitas
karyawan adalah sebesar Rp 198.095.780 per karyawan atau meningkat sebesar Rp 19.466.018 per karyawan atau sebesar 10,90%. Peningkatan ini di picu oleh kenaikan jumlah pendapatan berupa laba yang di peroleh oleh perusahaan. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan telah mampu mencapai target kinerja yang di harapkan.