1.5. Kerangka Teori
1.5.2. Perspektif Konstruktivisme
Konstruktivisme muncul dan berkembang sebagai kritik terhadap Rasionalisme, Positivisme, Post-strukturalism dan Post-modernism. Kritik kaum Kontruktivis ini terutama ditujukan pada Realisme dan Neorealisme yang beranggapan bahwa karakter atau realitas politik internasional adalah sesuatu yang given, tidak berubah, selalu bersifat atau dicirikan oleh anarkis, konflik dan perebutan pengaruh dan kekuasaan. Padahal, dalam kenyataannya politik
82
Scott Burchill and Andrew Linklater (et al), Op Cit, hal 24
83
Lihat misalnya Kenneth Waltz, Theory of International Politics, New York, Addison Wasley, 1979, hal. 30-35
84
Pengakuan terhadap teori-teori yang paling berpengaruh ini dapat dilihat, misalnya, Kurki and Colin Wight, dalam Tim Dunne, Milja Kukri and Steve Smith, Op Cit, hal. 26, dan juga Scott Burchill dalam Scott Burchill and Andrew Linklater, Op Cit, hal 8
internasional tidaklah demikian. Sikap dan perilaku suatu negara bisa berubah sedemikian rupa sebagaimana diperlihatkan oleh negara bekas Uni Soviet menjelang berakhirnya Perang Dingin dan Indonesia pasca reformasi 1997/1998. Oleh karena itu, dari sudut pandang kaum Konstruktivis, teori-teori mainstream di atas tidak lagi dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan perilaku aktor-aktor internasional (khususnya negara-negara) seperti tersebut di atas, terutama perubahan dari perilaku yang sebelumnya bersifat konfliktual ke perilaku yang cenderung bersifat kooperatif, damai dan bersahabat.
Walaupun kaum Konstruktivis mengkiritik dan menolak beberapa aspek dari teori-teori mainstream seperti disebutkan di atas, tetapi pendekatan ini menerima beberapa aspek dari teori-teori mainstream tersebut, baik secara ontologis, epistemologis maupun secara metodologis Misalnya, Konstruktivis menerima epistemologi positivis, termasuk hypothesis testing, hukum kausalitas dan eksplanasi.85 Sehingga tidak heran jika banyak titik sentuh atau kesamaan antara Konstruktivisme dan teori-teori Positivisme, khususnya dengan Neorealisme dan Neoliberalisme. Kedua pendekatan ini, misalnya, sama-sama mengakui bahwa negara adalah aktor tunggal dalam hubungan internasional.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Konstruktivisme merupakan teori middle ground antara pendekatan Rasionalism dan Post-strukturalism. Posisi teori Konstruktivisme ini di antara teori-teori yang lain dapat digambarkan sbb:
Sumber: Oliver Daddow, International Relations Theory, Los Angeless, Sage, 2009, hal.60
85
K.M. Fierke, “Constructivism”, dalam Tim Dunne, Milja Kurki and Steve Smith, Op Cit, hal 72-73 Realisme Neo-realisme Liberalisme Neo-liberalisme English School Marxisme Teori Kritis Feminisme Posmodernisme Poskolonialisme Green Theory Anarkisme III II I Konstruktivisme
Walaupun demikian, ada beberapa perbedaan mendasar antara Konstruktivisme dengan teori-teori mainstream atau rasionalis (utamanya Neorealis dan Neoliberal) dan teori-teori yang termasuk kelompok Reflectivism seperti Critical theory dan Postmodernism theory. Perbedaan penting tersebut, di antaranya, yaitu Konstruktivisme memberi perhatian khusus pada demensi sosial dari hubungan internasional, suatu aspek yang diabaikan oleh teori-teori mainstream lainnya, khususnya oleh (Neo)realism dan (Neo)liberalism. Jika pendekatan Positivisme atau Rasionalisme lebih menekankan aspek distribusi material power seperti kekuatan militer dan ekonomi dalam memahami perilaku suatu negara, maka Konstruktivis lebih menekankan analisisnya pada peran ide-ide, pemikiran dan kepercayaan para agensi atau aktor (dalam dan luar negeri), serta bagaimana ide-ide dan pemikiran tentang kebijakan luar negeri tersebut terbentuk menjadi pemahaman bersama para agensi atau aktor tersebut sehingga membentuk indentitas baru yang akhirnya mempengaruhi kebijakan luar negeri mereka.86
Menurut pandangan kaum Konstruktivis, politik internasional dibentuk dan dikendalikan oleh ide-ide, standar, konsepsi-konsepsi, nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang dimiliki secara bersama-sama oleh para aktornya.87 Dengan kata lain, realitas politik internasional pada dasarnya hasil konstruksi secara sosial oleh agen-agen melalui proses belajar dan pemahaman bersama (intersubjective) dan saling mempengaruhi. Ini artinya, sistem internasional bukanlah sesuatu bersifat material atau fisik semata, tetapi merupakan realitas sosial, hasil konstruksi dari para aktornya.88
Menurut Fierke, yang dimaksud dengan mengkontsruksikan sesuatu adalah “…an act which brings into being a subject or object that otherwise would not exist”.89
Misalnya, keberadaan objek material seperti senjata tidak begitu saja
86
Lihat Jackson, R.H, “ Social Constructivism” dalam R.H Jackson & G. Sorensen (Eds.), Introduction to International Relations, Theories and Approaches, (3rd. ed), Oxford, Oxford University Press, 2007, hal. 161-162.
87
Eby Hara, Abubakar, Pengantar Analisis Politik Luar Negeri: Dari Realisme sampai Konstruktivisnme, Bandung, Nuansa, 2011, hal 119.
88
Lihat Jackson, Ibid, 162
89
ada secara alamiah, tetapi ia merupakan hasil ciptaan manusia melalui proses pemaknaan (dikonstruksikan). Sekali benda tersebut dikonstruksikan, maka ia memiliki arti atau makna yang khusus dan digunakan dalam konteksnya. Jadi keberadaan dan makna benda merupakan hasil konstruksi sosial karena ia melibatkan nilai-nilai, standar dan asumsi-asumsi sosial, bukan semata-mata hasil ciptaan alam atau individual. Hal yang sama juga berlaku bagi keberadaan dan karakter negara, organisasi internasional dan sistem internasional, semua itu adalah produk dari konstruksi para agen atau aktornya.90 Dengan demikian, sistem internasional tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai, standar dan merupakan fungsi dari ide-ide, hasil pemikiran dan keyakinan serta pemahaman bersama para aktornya. Hal ini dikarenakan standar, nilai-nilai dan aturan-aturan yang berlaku dalam hubungan internasional merupakan faktor penting yang mempengaruhi pilihan kebijakan atau keputusan dan tindakan suatu aktor atau agen seperti negara. Perspektif ini, dengan demikian, menekankan arti penting dari aspek standar dan nilai-nilai seperti HAM, nilai-nilai demokrasi dan hukum internasional, agen dan struktur sosial serta identitas.
Dalam menganalisis perilaku suatu negara, kaum Konstruktivis memberikan perhatian yang khusus pada identitas. Hal ini karena di mata kaum Konstruktivis identitas adalah faktor paling krusial dalam menentukan kepentingan nasional suatu negara. Identitas merupakan faktor paling mendasar yang menentukan politik luar negeri suatu negara, yang pada akhirnya juga menentukan perilaku negara tersebut di dunia. Identitas tersebut terbentuk melalui pemahaman bersama atau intersubjective understanding diantara para agen atau aktor terhadap ide-ide, pemikiran, kepercayaan yang mereka miliki.
Menurut kaum Konstruktivis, dunia tidak bersifat statis yang ditandai oleh egoisme sosial untuk mencapai kepentingan material semata sebagaimana digambarkan oleh kaum Rasionalis. Walaupun kepentingan material itu diakui penting, tetapi bagi kaum Konstruktivis kepentingan (interest) tersebut harus dilihat sebagai fungsi dari identitas aktor atau agen. Identitas dan kepentingan
90
saling berkaitan erat dan oleh karenanya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya dalam usaha memahami fenomena politik internasional. Sebagai contoh, identitas sebagai negara demokrasi liberal tidak dapat dipisahkan dari kepentingan untuk mematuhi standar hak asasi manusia.91 Muncul dan berkembangnya kebijakan hak azasi manusia di banyak negara, menurut Judith Goldstein dan Robert O. Keohane, bukan hanya merefleksikan kekuatan ide atas kepentingan (material). Fenomena tersebut juga menunjukan bahwa kekuatan ide mampu mempengaruhi pemahaman baru tentang kepentingan national. Pengadopsion standar hak azasi manusia internasional merupakan pergeseran fundamental dalam memahami dan mendefinisikan kembali kepentingan nasional suatu negara.92
Jika ini dikaitkan dengan Indonesia, maka identitas sebagai negara demokrasi telah menciptakan kepentingan baru bagi Indonesia di dunia internasional, salah satunya adalah kepentingan untuk menghormati HAM. Dalam konteks ini, kaum Konstruktivis berargumen bahwa identitas dan kepentingan tidak bersifat given pada suatu aktor atau negara, tetapi mereka merupakan hasil konstruksi dari negara tersebut berdasarkan proses belajar dari pengalaman masa lampau, apa yang sedang dialami sekarang dan harapan yang ingin dicapai di masa depan. Dalam bahasa Alexander Wendt, identitas dan kepentingan merupakan hasil proses sosial, berupa intersubjective processes.93
Lebih lanjut, kaum Konstruktivis menolak ontologi individualis kelompok Rasionalis dan sebaliknya menganut ontologi sosial. Menurut pandangan ini, sebagai fakta sosial yang fundamental, individu atau negara tidak dapat dipisahkan dari konteks standar dan nilai-nilai yang membentuk mereka, termasuk hambatan dan peluang yang diciptakannya. Ini artinya, seperti halnya Rasionalis, dimata Konstruktivis hubungan antara individu dan struktur adalah penting. Akan tetapi, berbeda dengan Rasionalis yang melihat bahwa struktur sebagai fungsi dari kompetisi dan distribusi kapabilitas material (hard power), dan struktur berfungsi
91
K.M Fierke, Ibid, hal 171
92
Judith Goldstein and Robert O.Keohane (eds.), Ideas & Foreign Policy: Beliefs, Institutions, and Political Change, Ithaca, Cornell University Press, 1993. Hal. 140.
93
Alexander Wendt, Social Theory of International Politics, New York, Cambridge University Press, 1999, hal. 224-237
sebagai penghambat perilaku negara, dan bahwa tindakan suatu negara selalu bersifat rasional (memaksimalkan pencapaian kepentingan nasionalnya), Konstruktivis lebih fokus pada standar dan share understanding of legitimate behaviour, walaupun diakui bahwa faktor material tetap memainkan peran penting.94 Seperti dikatakan oleh Frank Schimmelfennig:
…identities, interests and preferences of actors are products of intersubjective social structures, such as culture, institutions, and social interaction. It is not merely the cost-benefit analysis that determines an actor‟s behavior, but rather their values and norms, and standards of legitimacy-in other words, a logic of appropriatness.95
Menurut pandangan ini, “what is rational is a function of legitimacy, defined by shared values and norms within institutions or other social structures rather than purely individual interests”.96
Ini artinya, standar dan nilai-nilai tidak boleh hanya dilihat sebagai penghambat perilaku aktor atau agen tetapi juga harus dilihat sebagai identitas dari aktor tersebut. Struktur sosial sesungguhnya menyediakan ruang yang cukup bagi aktor, individu atau negara, untuk mempengaruhi lingkungannya dan sebaliknya. Dengan demikian, berbeda dengan kaum Neorealis dan Neoliberal yang mengatakan bahwa struktur merupakan faktor yang paling menentukan perilaku aktor atau agen, aktor atau agen itu sendiri hampir tidak punya pilihan lain, kaum Konstruktivis berpendapat bahwa aktor atau agen-agen dimungkinkan memiliki pilihan-pilihan sendiri sebagai keputusan subjektif yang dihasilkan dari suatu proses interaksi intersubjektif. Seperti dinyatakan oleh Alexander Wendt;
It is not that actors are totally free to choose their circumstances, but rather that they make choices in the process of interacting with others and, as a result, bring historically, culturally, and politically distinct „realities‟ into being.97
Lebih lanjut, berbeda dengan Positivisme dan Materialisme yang melihat dunia sebagaimana adanya, Konstruktivisme melihat dunia sebagai suatu proyek
94
K.M. Fierke, Ibid, hal 70
95
Frank Schimmelfennig, dalam Ibid, 179
96
Dikutip dari Fierke, Op Cit, hal 70
97
Alexander Wendt, “Anarchy is What States Make of It: The Social Construction of Power Politics”, International Organization, 46, hal 391-425, dikutip dari Fierke, Op Cit, hal 68.
yang sedang dibangun atau sedang dalam proses menjadi sesuatu, bukan sesuatu yang telah jadi atau selesai.98 Dalam bahasa Wendt, situasi dan karakter politik internasional diciptakan melalui suatu proses, dan bukan ditakdirkan seperti apa adanya pada suatu masa. Struktur atau realitas politik internasional adalah produk dari proses interaksi dan saling memahami antar aktornya. Interaksi tersebut dapat berupa pemberian sinyal-sinyal, gesture, gelagat diplomasi satu sama lainnya, apakah berupa gelagat permusuhan atau persahabatan yang kemudian diintepretasikan dan direspon dengan kebijakan yang tepat.99
Struktur ideasional dan aktor-aktor tersebut saling membentuk dan mempengaruhi satu sama lainnya. Struktur membentuk identitas dan kepentingan aktor tetapi struktur juga diproduksi, reproduksi dan diubah oleh para aktor melalui proses intersubjective share of knowledge and ideas, secara terus menerus. Ini artinya aktor dapat merubah struktur internasional melalui tindakan sosialnya (interaksi dengan aktor-aktor lainnya), seperti dari struktur bersifat konfliktual ke struktur yang bersifat lebih bersahabat.100 Fenomena inilah yang terjadi terhadap Indonesia pasca reformasi.
Jika kaum Neorealis dan Neoliberalis yang melihat struktur internasional berpengaruh langsung terhadap politik luar negeri suatu negara, kaum Konstruktivis melihat struktur internasional (oleh kaum Konstruktivis disebut ideasional structure) hanya memiliki pengaruh yang membentuk (constitutive) dan mengatur (regulative) bukan pengaruh langsung yang bersifat kausalitas terhadap negara-negara tersebut. Struktur internasional tersebut membantu proses pembentukan kembali identitas negara-negara (mendefinisikan siapa diri mereka) dan kemudian menciptakan kepentingan mereka (tujuan dan peran yang mereka yakini harus dilakukan).101 Oleh karena sistem internasional itu bersifat relatif dan hasil bentukan bersama maka ia juga bisa diubah oleh para agennya sesuai dengan ide-ide dan pemikiran serta standar dan nilai-nilai baru yang mereka yakini
98
Lihat Adler, E. “Contructivism and International Relations” in Carlsnaes, B. A. Simmons and T. Risse-Kappen (Eds.), Handbook of International Relations, London, SAGE, 2002, hal: 109.
99
Wendt, “Anarchy is what States Make of it: The Social Construction of Power Politics”, International Organization, 46 (2), 391-425
100
Lihat Copeland, dalam Eby Hara, Ibid, hal.118-120
101
kebenarannya. Oleh karena itu, dalam menganalisis perilaku suatu negara (politik luar negeri suatu negara) maka fokus pengamatan harus pada struktur ide para agen, bukan struktur materialnya.
Dalam konteks ini, maka karakter dasar politik internasional yang anarkis seperti difahami oleh Neorealis dan Neoliberalis tidak selalu harus diartikan konfliktual, tetapi dapat juga bersifat atau berubah ke kooperatif. Apakah karakter anarki tersebut cenderung bersifat konfliktual atau kooperatif amat tergantung pada bagaimana negara-negara mengkonstruksikan sifat politik internasional tersebut pada waktu itu.102 Dalam pandangan Cynthia Weber: “Anarchy is neither necessarily conflictual nor cooperative. There is no “nature” to international anarchy”. 103 Dijelaskan oleh Alexander Wendt:
Anarchy is what states make of it‟. If states behave conflictually toward one another, then it appears that the nature of international anarchy is conflictual. If states behave cooperatively toward one another, then it appears that the nature of international anarchy is cooperative.104
Dengan demikian, menurut pandangan Konstruktivis, negara-negara itu sendirilah yang menentukan “the nature of international anarchy”. Dan yang lebih penting lagi, demikian lanjut Cynthia Weber, “what states do depends upon what states‟ identities and interests are, and identities and interests change”.105
Jika identitas dan kepentingan negara menghasilkan sesuatu yang bersifat kompetitif maka perilaku negara tersebut akan kompetitif, jika identitas dan kepentingan negara menghasilkan sesuatu yang bersifat kooperatif maka perilaku negara tersebut akan kooperatif.106
Berikut bagan yang menggambarkan cara berpikir kaum Konstruktivis di tengah dua perpsektif mainstream, Neorealis dan Neoliberal.
102
Lihat Fierke, Ibid hal 68.
103
Cynthia Weber, International Relations Theory: A Critical Introduction, (3th ed.), Oxford, Routledge, 2001, hal.62.
104
Dikutip dari Cynthia Weber, Ibid. hal 62.
105
Cynthia Weber, Ibid, hal 62.
106
Wendtian Constructivism
No logic to anarchy Anarchy is an effect of practice “Anarchy is what states make of it”
(Neo) Realism: Neoliberalism:
Logic of anarchy Logic of anarchy
is structural and is a process that
leads to conflict can cooperation
Sumber: Cynthia Weber, International Relations Theory: A Critical Introduction, New York, Routledge, 2001.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis kontsruktivisme Wendt bersifat sistemik, yaitu fokus pada interaksi antar negara dalam sistem internasional dan mengabaikan faktor domestik. Struktur yang dimaksud oleh Wendt bukanlah struktur material seperti kemampuan ekonomi dan militer tetapi struktur ide yang membentuk hubungan antar negara. Penjelasan terhadap lahirnya struktur ide tersebut dan bagaimana suatu negara menciptakan identitas serta kepentingannya melalui struktur tersebut adalah inti dari analisis konstruktivisme ini. 107 Identitas adalah pemahaman terhadap siapa diri sendiri dan kemudian kepentingan apa yang melekat padanya untuk selanjutnya menjadi penuntun untuk menentukan peran apa yang harus atau dapat dimainkan dalam kerangka mencapai tujuan atau kepentingan nasional tersebut.108
Sebagai contoh, realitas terhadap keberadaan senjata nuklir suatu negara bukan pada daya hancurnya tetapi lebih pada realitas sosial atau makna yang diberikan oleh negara-negara lain terhadap keberadaan sejata nuklir tersebut. Misal, ketakutan terhadap bahaya senjata nuklir Korea Utara amat ditentukan oleh bagaimana suatu (atau beberapa) negara memberi makna (ide atau konstruksi) terhadap Korea Utara tersebut. Bagi Cina, Korea Utara adalah sahabat dan oleh karenanya keberadaan senjata nuklir negara tersebut bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Sebaliknya, bagi Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan,
107
Wendt, seperti dimuat dalam Eby Hara, Ibid, 123-124.
108
Korea Utara adalah negara musuh dan oleh karenanya senjata nuklir yang dimiliki oleh negara tersebut sangat berbahaya bagi mereka.
Dengan demikian, pandangan Konstruktivisme tidak seperti pandangan Neoliberalis yang terlalu optimis pada peluang kerjasama antar negara atau pandangan kaum Neorealis yang sangat pesimis terhadap kemungkinan kerjasama tersebut. Karakter hubungan internasional yang anarkis dan konfliktual, dalam pandangan Konstruktivis, dapat berubah ke karakter yang lebih bersifat kooperatif dan sebaliknya tergantung bagaimana aktor atau agen mengkonstruksikan the “nature” of international anarchy yang dimaksud. Seperti dijelaskan oleh Wendt: Is it a structure that puts constrains on the states behavior so that competition and conflict are guaranteed and much cooperation is ruled out or is it a place in which processes of learning take place among states in their everyday interactions so that more cooperative institutions and behaviors results.109
Menurut Nina Tannenwald, ada empat jenis sistem ide yang dapat mempengaruhi perilaku para aktor dalam hubungan internasional. Pertama, sistem idelogi atau kepercayaan yang dimiliki bersama yang bersifat sistemik dan mencerminkan kehendak, tujuan atau aspirasi dari suatu kelompok masyarakat atau negara. Misalnya Liberalisme dan Marxisme, atau dalam kontek Indonesia ideologi Pancasila. Kedua, berupa kepercayaan-kepercayaan normatif, yaitu kepercayaan atau nilai-nilai yang dapat membedakan atau mengklasifikasikan tentang baik dan buruk serta adil dan tidak adil suatu tindakan. Misalnya, norma-norma atau nilai-nilai hak asasi manusia. Ketiga, kepercayaan atau pemahaman tentang hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara tujuan dan sarana atau cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Sistem ide ini akan menuntun para aktor untuk menjalankan strategi tertentu dalam mencapai tujuan mereka. Misalnya apakah akan memilih jalan penggunaan kekuatan militer atau dengan cara diplomasi damai. Keempat, ide-ide yang terkait dengan preskripsi kebijakan untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu masalah. Misalnya berupa
109
kebijakan luar negeri atau program tertentu yang dipercaya akan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh suatu negara.110
Sejalan dengan pandangan kaum Konstruktivis, standar internasional yang dipromosikan oleh organisasi internasional seperti PBB dengan cara mendorong negara-negara di dunia untuk mengadopsi standar tersebut dapat mempengaruhi kebijakan nasional suatu (beberapa) negara. Pengaruh promosi standar internasional (misal HAM) terhadap kebijakan luar negeri suatu negara (perilaku suatu negara di dunia internasional) tidak dapat dijelaskan dengan teori-teori mainstream (Neo)realism dan (Neo)liberalism yang terlalu menekankan pada aspek memaksimalkan kekuasaan demi mencapai kepentingan nasional semata, tetapi memerlukan penjelasan dari perspektif Konstruktivisme yang melihat peran sentral dari standar, norma dan nilai-nilai dalam masyarakat internasional. Kenyataan bahwa setiap negara tidak hidup sendiri tetapi bersama-sama dengan negara lain bermakna bahwa apa identitas negara tersebut dan apa yang diinginkannya dibentuk oleh standar dan aturan-aturan, pemahaman bersama serta hubungan sosial yang dimiliki oleh negara tersebut dengan negara-negara lainnya. Dengan demikian, realitas sosial ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam menentukan perilaku suatu negara. Bahkan realitas sosial ini memberikan makna dan tujuan bagi realitas material.111
1.6. Hipotesis
(1) Konstruksi Indonesia terhadap standar HAM internasional era Reformasi berbeda secara signifikan dibandingkan dengan konstruksi Indonesia periode Orde Lama dan Orde Baru. Di era Orde Lama dan Orde Baru konstruksi Indonesia terhadap berbagai standar HAM internasional tersebut bersifat sangat negatif, sedangkan di era Reformasi konstruksi Indonesia berubah menjadi lebih positif. Perubahan konstruksi tersebut berkaitan erat dengan perubahan identitas
110
Nina. T. “Stigmatizing the Bomb: Origins of the Nuclear Taboo”, International Security, 29 (4), 5-49, seperti dimuat dalam, Eby. H, Ibid, 120-121.
111
Finnemore, M., National Interests in International Society, Ithaca, N.Y, London, Cornell University Press, 1996, hal. 128, dikutip dari Eby Hara, Ibid, 129.
Indonesia pasca reformasi: cara Indonesia memandang dirinya sendiri dan memaknai kecenderungan menguatnya isu HAM dalam percaturan politik internasional.
(2) Berkembangnya konstruksi baru terhadap standar HAM internasional tersebut telah mempengaruhi kebijakan dan praktik politik luar negeri Indonesia era Reformasi terhadap berbagai standar HAM internasional; sebelumnya bersikap pasif, enggan dan bahkan menolak, menjadi lebih akomodatif, kooperatif dan aktif dalam mengadopsi dan mengimplementasikan berbagai standar HAM internasional tersebut. (3) Pergeseran kebijakan Indonesia dari apa yang disebut “a realpolitik
approach to more of a human security approach” tersebut pada akhirnya berdampak positif pula pada penguatan sumber hard power dan soft power elements, khususnya kekuatan ekonomi dan militer serta penegakkan HAM dan demokrasi dalam negeri. Melalui kebijaksanaan luar negeri “baru” ini, Indonesia bukan saja mampu keluar dari krisis dan kemudian meningkatkan pembangunan ekonominya, akan tetapi juga mampu meningkatkan perannya dalam percaturan politik internasional serta pengembangan demokrasi dan HAM dalam negeri.