• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

4. Perspektif Pendidikan Islam Tentang Teori Multiple

Selaras dengan pemikiran Gardner, pendidikan menurut Islam juga didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan membawa berbagai potensi atau kemampuan dasar yang dikenal dengan fitrah. Dengan potensi yang dimiliki manusia akan mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungan dan bantuan orang lain sehingga menjadi manusia muslim yang

mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.93 Dalam proses

pembelajaran seorang pendidik haruslah memahami perbedaan potensi, kemampuan dan keahlian setiap peserta didiknya. Setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang berbeda-beda hal tersebut ditegaskan dalam al-Quran surat al-Tiin ayat 4:

92Fery Muhammad Firdaus, Model Multiplate Intelligences untuk Meningkatkan Kreativitas Berpendapat Siswa dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar ((online), http://ejournal.upi.edu/index.php/eduhumaniora/article/view/2822 di akses 8 Januari 2017).

93 Ainurrafiq dalam Eman Reflan, Pendekatan Multi Kecerdasan Menurut Gardner dan

Artinya: “sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”94

Menurut Abdul Mujib dalam Karim Santoso, jika melihat ayat tersebut

maka diperoleh pengertian bahwa manusia dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan berbagai potensi yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Inilah yang dimaksudkan konsep fitrah dalam Islam. Fitrah memiliki beberapa makna yang di antaranya adalah

potensi dasar manusia.95

Potensi yang dimiliki manusia menurut Islam salah satunya tercermin dalam sifat-sifat kesempurnaan Illahi yang kita kenal dengan Asm‟ul Husna sebagaimana dalam firman-Nya yang berbunyi:

Artinya: “Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadanya dengan menyebut asm-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.96

94

QS. al-Tiin (95): 4.

95 Karim Santoso Masri, Aplikasi Teori Multiple Intelligences pada System Manajemen

Pembelajaran di Sekolah Dasar Islam Terpadu Mandiri Jakarta, (Jakarta: Young Progressive

Muslim, 2016), hlm. 58

96

63

Ayat ini mengandung makna bahwa jika manusia telah mempergunakan hati untuk memperhatikan, untuk berpikir dengan semua pancaindra dan seluruh kemampuan manusia, akhirnya perhatian manusia akan sampai pada Dzat Yang Maha Kuasa. Bertambah banyak yang manusia perhatikan, bertambah banyak

pula bertemu dengan nama-namaNya sebagai simbol potensi manusia.97

Menurut Achmadi dalam Eman Relvan menambahkan mengenai kandungan ayat di atas bahwa pada dasarnya manusia mempunyai berbagai potensi, sehingga memungkinkan manusia hidup dengan berbagai kemampuan dan kewenangan sesuai dengan Asma‟ul Husna dalam batas-batas kemakhlukannya. Misalnya dengan percikan Asma‟ul Husna Al-Khaliq (Maha Mencipta) berarti manusia memiliki daya kreatifitas untuk mencipta sesuatu yang baru dan berguna, ataun dengan percikan Asma‟ul Husna Ar-Rabbu (Maha Mendidik Memelihara) manusia mampu mendidik dirinya sendiri maupun orang lain begitu seterusnya sesuai dengan sifat-sifat kesempurnaan yang terdapat

pada nama-nama Allah.98

Jadi, seluruh potensi psikologis yang sudah oleh Allah SWT anugrahkan kepada manusia adalah fitrah atau keadaan semula manusia. Ketika manusia lahir, dari rahim ibunya, potensi itu masih tersembunyi, tetapi bersamaan dengan pertumbuhan fisiknya kelengkapan psikologisnya semakin terlihat dan aktual. Kelengkapan psikologis ini memberikan andil pada sisi kecerdasan manusia.

Dalam hubungannya dengan teori multiple intelligences sejarah tentang kecerdasan telah ada sejak penciptaan manusia. Menusia-manusia terdahulu

97 Hamka, Tafsir Al-Azhar,(Jakarta: Pani Masyarakat, 1965), hlm. 200

98 Eman Reflan, Pendekatan Multi Kecerdasan Menurut Gardner dan Implikasinya Bagi

telah menunjukkan bukti kecerdasan jamak. Sebagai contoh, Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok manusia yang mampu mengubah perilaku

jahiliyah masyarakatnya dengan kecerdasan intrapersonal. Rasulullah

Muhammad Saw mengubah perilaku banyak orang dalam waktu yang singkat. Memupuk kerjasama dan kebersamaan, sebuah kemampuan manajerial dan organisasi yang mengagumkan. Dengan kecerdasan interpersonal, Rasulullah Muhammad SAW menghargai kemajemukan dan pemahaman persamaan hak asasi manusia. Bagaimana Rasulullah Muhammad SAW mengatasi masalah yang dihadapi dengan tidak menyinggung perasaan kebanyakan orang dalam penentuan pembangunan rumahnya dan masjid pertama di Madinah. Kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang luar biasa. Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang pemimpin yang selalu tampil di depan dalam perjuangan menyampaikan kebenaran, meskipun mendapat tantangan yang berat. Seorang pemimpin sejati adalah ketika berada pada puncak kemenangan akan selalu menghargai orang-orang yang dikalahkannya, tidak dengan balas dendam bahkan memberi perlindungan. Nabi Muhammad SAW menggunakan kecerdasan interpersonal ketika menaklukkan kota

Mekkah.99

Dalam perspektif pendidikan Islam terdapat berbagai istilah dalam pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sangat relevan dengan pendekatan multiple intelligences yang harus dikembangkan pada setiap siswa. Adapun istilah-istilah tersebut dapat di pahami pada tabel 1.2 berikut ini.

99 Karim Santoso Masri, Aplikasi Teori Multiple Intelligences pada System Manajemen

65

Table 1.2 Pendidikan dan Pembelajaran dalam Perspektif Islam (sumber: Muhaimin, Pemikiran Dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam)

No Istilah Pembelajaran

Bentuk pelaksanaan

1. Taklim Upaya membantu peserta didik agar mampu

menangkap makna dibalik yang tersurat,

mengembangkan pengetahuan serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, baik secara teoritis

maupun praktis, atau melakukan transfer

ilmu/pengetahuan, internalisasi, serta amaliah (implementasi) secara terpadu.

2. Tarbiyah Upaya membantu peserta didik agar mampu

mengatur memelihara, mengembangkan,

memperbaiki, dan meningkatkan dirinya dengan segala potensinya dan satuan sosial (dalam kehidupan masyarakat) secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi.

3. Irsyad Upaya meningkatkan kualitas akhlak dan

kepribadian peserta didik atau upaya pemberian keteladanan.

4. Tadris Upaya mencerdaskan peserta didik, memberantas

kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya sehingga menjadi tenaga yang produktif.

5. Ta‟dib Upaya menyiapkan peserta didik untuk

bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.

6. Tazkiyah Upaya menyucikan jiwa peserta didik sehingga ia

kembali kepada fitrahnya.

7. Tilawah Upaya pewarisan nilai-nilai Illahi dan nilai-nilai

insani kepada peserta didik.

Sumber.100

Sebagaimana disebutkan pada tabel di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan dan pembelajaran dalam perspektif Islam sangat menganjurkan untuk selalu memperhatikan potensi, kecerdasan, bakat, minat dari setiap peserta

100 Muhaimin,Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 179-180

didik. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan setiap potensi siswa untuk menjadi anak yang kreatif, bertanggung jawab dan berkualitas di masa depan.

5. Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences