• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSPEKTIFAL-MADHA<HIB AL-ARBA’AHTERHADAP JUAL BELI

BIJI GANITRI DI DESA SOSO KECAMATAN GANDUSARI KEBUPATEN BLITAR

A. Analisis Jual Beli Biji Genitri di Desa Soso Kecamatan Gandusari

Kabupaten Blitar

Jual beli merupakan salah satu aspek muamalah yang sangat sering dilakukan oleh masyarakat. Semakin berkembang ilmu pengetahuan dan peradaban masyarakat, semakin beragam pula perkembangan jual beli yang dipraktikkan. Namun, agama Islam tetaplah menjadi rahmat bagi seluruh alam yang sesuai dengan perkembangan zaman. Perbedaan pandangan mazhab fikih semakin memberi warna pada ajaran agama Islam. Bukan untuk membeda- bedakan atau memperdebatkan, mazhab fikih hadir sebagai opsi bagi umat Islam dalam beragama termasuk juga pada ketentuan jual beli.

Tak terkecuali jual biji ganitri yang dilakukan oleh masyarakat Desa Soso Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar hukum Islam juga mengatur terkait jual beli sebagaimana yang terjadi di daerah tersebut. Pada dasarnya, bila dilihat dari zat dan kondisi biji ganitri yang diperjualbelikan, hal ini sah-sah saja dan boleh dilakukan. Karena biji tumbuhan ini bukan termasuk dalam barang-barang yang haram untuk diperjual belikan sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah,

☞ ✌

Artinya: Allah dan RasulNya telah mengharamkan khamar, bangkai, babi dan patung-patung. Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan lemak dari bangkai (sapi dan kambing) karena bisa dimanfaatkan untuk memoles sarung pedang atau meminyaki kulit-kulit dan sebagai bahan minyak untuk penerangan bagi manusia?. Beliau bersabda: "Tidak, dia tetap haram". Kemudian saat itu juga Rasulullah shallallahu ’alaihi

wasallam bersabda:“Semoga Allah melaknat Yahudi, karena ketika Allah

mengharamkan lemak hewan (sapi dan kambing) mereka mencairkannya

lalu memperjual belikannya dan memakan uang jual belinya".1

Sebelum membahas tentang bagaimana perspektif al madha>hib al arba’ah

tentang jual beli ganitri yang ada di Desa Soso ini, penyusun akan mengulas

secara singkat tentang hal-hal yang berkaitan dengan jual beli ganitri di Desa

Soso. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

a. Ija>b qabu>l yang dilakukan dengan perkataaan menjual dan membeli

secara langsung dalam satu majelis.

b. Pedagang ganitri menjual biji ganitri yang mereka milik kepada

pengepul. Pedagang terdiri dari anak kecil, dewasa dan paruh baya.

Pada proses ini pedagang atau penjual sama sekali tidak mengetahui

secara pasti untuk apa biji ganitri itu akan dimanfaatkan.

c. Terdapat kerja sama antara pengepul dan juragan. Pengepul

mendapatkan uang dari juragan untuk memborong biji ganitri yang

dijual pedagang ganitri di Desa Soso. Pengepul mengetahui bahwa biji

ganitri ini akan dijadikan sebagai sesembahan dewa dan sesaji untuk

dilarungkan ke laut.

d. Barang yang diperjual belikan adalah biji ganitri yang tidak

mengandung najis. Pada dasarnya biji ganitri mempunyai banyak

1

Aplikasi Lidwa Pusaka i-Sofware, dalam Kitab Shohih Bukhari No. 2082. diakses pada 5 Agustus 2016.

✍ ✎

manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi biji ganitri di Desa Soso ini akhirnya dibeli oleh orang Hindu yang mempunyai kebiasaan menjadikan biji ini sebagai persembahan kepada dewa dan sesaji saat melakukan larung laut.

Lalu, bila seseorang menjadikan transaksi jual beli sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan yang tidak dibolehkan oleh agama, apakah transaksi semacam ini dianggap sah karena telah memenuhi rukun-rukunnya? Atau, tidak dianggap sah karena mengandung sesuatu yang tidak dibenarkan menurut agama Islam?

Berikut adalah jawaban dari perspektif al-madha>hib al-arba’ahterkait jual

beli biji ganitri yang dilaksanakan di Desa Soso Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

B.Analisis Perspektif al-Madha>hib al-Arba’ahterhadap Jual Beli Biji Genitri di

Desa Soso Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

1. Akad (Ija>b Qabu>l)

Pelaksanaan akad atau ija>b qabu>l pada saat jual beli ganitri di Desa

Soso Kecamatan Gandusari adalah pada saat panen. Biasanya masa panen dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Bila musim panen tiba, masyarakat Desa Soso ramai memperbincangkan tentang harga-harga dan hasil jual genitri. Juragan-juragan yang berasal dari India dan Nepal silih berganti datang untuk memborong ganitri.

Pada proses jual beli biji ganitri yang ada di Desa Soso, terdapat dua proses kesepakatan. Kesepakatan yang pertama ialah antara juragan dengan

✏6

pengepul, dan yang kedua adalah pengepul dengan pembeli. Pada kesepakatan pertama, juragan memberikan uang kepada pengepul untuk memborong biji ganitri yang ada di Soso. Juragan akan mengambil biji

ganitri pada saat sudah terkumpul. Kesepakatan kedua, pengepum

memborong biji-biji ganitri yang ada di desa soso dari para penjual dengan harga yang disepakati kedua belah pihak (pengepul dan penjual). Setelelah sesuai dengan pesanan juraga, maka pengepul dan juragan akan melanjutkan akad mereka.

Terkait hal tersebut, terdapat hadis Rasulullah,

Artinya: aku mendengar orang-orang dari qabilahku yang bercerita dari ’Urwah bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka beliau mendoa’akan dia keberkahan dalam jual belinya itu.

(H.R. Bukhari)2

Hadis tersebut sesuai dengan praktik jual beli ganitri yang ada di Desa Soso. Dalam hadist tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah memberikan uang satu dinar kepada Urwah al-Bariqi untuk membeli seekor kambing. Lalu urwah melakukan jual beli kembali dengan memanfaatkan uang satu dinar yang telah diberikan oleh Rasulullah. Hal ini senada dengan juragan yang memberikan uang kepada pengepul untuk membeli biji ganitri.

2

✑✑

Hadis di atas juga merupakan dasar dari mazhab Maliki berpendapat

bahwa jual beli fudhu>li adalah boleh. Jual beli ini semisal, seorang menjual

harta orang lain dengan syarat kalau si pemiliknya setuju maka jual beli diteruskan, atau seperti orang yang membeli sesuatu barang untuk orang lain tanpa meminta persetujuan, dengan syarat bahwa kalau ia setuju maka jual

beli dianggap sah.3Namun Imam Syafi’i melarang jual beli ini karena

menurut beliau menjual sesuatu yang tidak ada di tangannya.4

Kembali pada jual beli yang ada di Desa Soso, transaksi kedua dilakukan oleh sesame masyarakat desa tersebut yang sama-sama beragama Islam. Namun, transaksi yang pertama adalah kesepakatan transaksi jual beli yang dilakukan oleh masyarakat Desa Soso yang beraga Islam dengan orang India dan Nepal yang beraganma Hindu.

Memandang hal tersebut, Imam Syafi’i berpendapat bahwa jual beli boleh dilakukan dengan orang non-muslim. Syarat pembeli harus muslim hanya harus ditepati pada saat melakukan jual beli mus}h}a>f. Hal ini untuk

mengantisipasi adanya pelecehan terhadap agama Allah karena mereka bebas melakukan segala sesuatu atas apa yang sudah mereka beli.5

Firman Allah: ð  ✒   ✓✔✕✖ð ✗✘ ✙ ✚   ✛✜ ✢✜✣ 3

Ibnu Rusyd,Bida>yat al- Mujtahid wa Niha>yat al-Muqtas}id,Abdul Rasyad Shidiq, Jilid II (Jakarta: Akbar Media, 2015), 317.

4

Ibid., 318. 5

✤8

Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak memberikan jalan bagi orang- orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (Q.S. an-

Nisa : 141)6

Tentang hal ini, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hambali sama sekali tidak menyebutkan syarat beragama Islam untuk orang yang

melakukan transaksi atau akad jual beli. Sedangkan kata-kata ija>b qabul

boleh menggunakan fi’il ma>d}imaupun fi’il mud}orik, keduanya sah menurut

mazhab Hanafiyah.7

Terkait dengan akad yang dilakukan saat jual beli ganitri, penjual dan pembeli bertatap muka langsung dalam satu majelis. Pada saat itulah mereka mengadakan kesepakatan harga dan proses tawar menawar. Apabila kedua belah pihak sudah merasa sesuai dengan kesepakatan, jual beli baru dilaksanakan. Dalam praktiknya, tidak ada paksaan antara satu sama lain.

Hal ini sudah sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh al-madha>hib al-

arba’ahyaitu adanya saling rela satu sama lain. Sesuai dengan firman Allah,

  ✥   ✦✧    ★✥✩✪ 

Artinya: Kecuali dengan perniagaan yang berlaku suka sama suka

antara kamu. (Q.S. an-Nisa: 29)8

Hadis Rasulullah juga menyatakan,

9

6

Ibid., 29. 7

Asmaji Muchtar, Dialog Lintas Mazhab Fiqh Ibadah dan Muamalah,(Jakarta: Amzah, 2015),

400. 8

Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin S,Fiqih Madzhab Syafi’i… ,27

9

✫ ✬

Artinya: Rasulullah saw bersabda, “Dua orang berjual beli belumlah

boleh berpisah, sebelum mereka berkerelaan.” (H.R. Abu Dawud)10 2. Orang yang Berakad

Pandangan mazhab Hanafi dalam menilai suatu transaksi, terkenal dengan penilaian padad{ahir pelaksanaan transaksi tersebut. Jadi mazhab ini

akan menilai bagaimana transaksi tersebut dilaksanakan, apakah sudah sesuai dengan rukun dan syarat yang ditetapkan atau masih ada hal-hal yang kurang sesuai yang dapat menyebabkan akad tersebut menjadi batal.

Terkait dengan pelaksanaan jual beli ganitri yang mengikutsertakan banyak kalangan termasuk anak-anak. Mazhab Hanafiyah juga mengatur tentang hal ini.

Menurut perspektif mazhab Hanafiyah jual beli yang dilakukan oleh anak kecil adalah sah untuk barang-barang dengan umlah sedikit walaupun anak tersebut belum tamyiz dan tidak mendapatkan izin walinya. Hal ini

berdasarkan riwayat yang menerangkan bahwa Abu Darda’ membeli burung gereja dari anak kecil lalu melepaskannya.11Untuk pembelian barang yang dilakukan oleh anak-anak dalam jumlah banyak harus mendapatkan izin dari walinya. Jika dibolehkan, maka jual belinya berlaku.12Hal ini dikarenakan tidak adanya kemungkinan untuk menguji kecuali dengan memberikan hak bertindak untuk menjual dan membeli. Sebagaimana pengamalan dari ayat,

 ✭  ✮✯ ✰ ✱  ✲   ✭  ✳ ✴ ✱             10

Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin S,Fiqih Madzhab Syafi’i… ,27

11

Ibid., 404. 12

80

Artinya: Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka Telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-

hartanya. (Q.S. an-Nisa : 6)13

Sedangkan transaksi jual beli yang dilakukan oleh orang dewasa ataupun paruhbaya adalah sah tanpa pengecualian karena sudah memenuhi syarat orang yang melakukan akad menurut mazhab Hanafiyah. Jual beli biji ganitri yang dilakukan orang dewasa dan paruhbaya sudah menunjukkan bahwa transaksi itu dilakukan oleh orang yang berakal, orang-orang tersebut sudah bisa membedakan antara yang baik dan buruk, juda dilakukan dua

orang atau lebih.14

Memandang hal ini mazhab Syafi’iyah menyatakan bahwa jual beli

yang dilakukan oleh anak kecil adalah tidak sah.15Apabila transaksi jual beli sudah terlaksanakan, maka penjual berkewajiban untuk mengembalikan uang yang digunakan untuk membeli.16

Sedangkan jual beli yang dilakukan oleh orang dewasa (sudah baligh) dan orang tersebut mengetahui tentang jual beli yang dilakukannya adalah sah hukumnya17apabila hal tersebut dilakukan dengan tanpa paksaan.18

3. Objek Akad

Ma’qud alaih ialah barang yang diperjualbelikan ataupun uang

pembayaran.19Pada pembahasan ini yang dimaksud dengan ma’qud alaih

13 Ibid. 14

Asmuji Muchtar,Dialog Lintas Mazhab… ,404. 15

Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin,Fiqih Mazhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 28. 16

Asmuji Muchtar,Dialog Lintas Mazhab… ,404. 17

Ibid,. 18

Syaikh Zainuddin bin Abdil Aziz al Malaibari, Fath al Mu’i>n bi Sharh} Qurrat al-‘A in, (Surabaya: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, t.th), 68.

81

barang yang menjadi objek jual beli barang, sedang barang yang dijual adalh

biji genitri. Mazhab syafi’i menganggap sah jual beli biji ganitri di Desa Soso

ini. Senada dengan Imam Hanafi, Imam Syafi’i berpendapat bahwa rukun dan syarat jual beli adalah yang utama. Apabila kesemua rukun dan syarat sudah terpenuhi, maka sah lah jual beli yang dilakukan. Sedangkan niat adalah urusan dengan Allah yang Maha Kuasa.20

Biji ganitri yang dibeli oleh orang Hindu ini tetap sah hukumnya selama pembeli tidak mengatakan secara terang-terangan bahwa biji ganitri yang dibelinya akan dijadikan sesaji dan persembahan kepada dewa mereka.21

Artinya: Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya mengharamkan juam beli

khamr,bangkai, anjing dan patung-patung (berhala).

Menurut Mazhab Syafi’i pengharaman khamr, bangkai, dan anjing

adalah dikarenakan najisnya. Sedangkan pengharaman patung-patung (berhala) bukan karena najisnya, melainkan semata-mata tidak ada manfaatnya menurut agama Islam. Bila ia telah dipecah-pecah menjadi batu biasa, berhala tersebut boleh diperjualbelikan sebab dapat dipergunakan untuk bahan bangunan.22

Dari hadis dan keterangan tersebut dapat ditarik benang merah, bahwa apabila biji ganitri ini sudah dalam bentuk sesaji atau sesembahan maka memperjualbelikannya dihukumi batal menurut Imam Syafi’i. Sedangkan

19

Abi> Abdul Mu’t}i> Muhammad bin Umar bin ‘Ali> Nawawi>,Niha>yat al-Zain,(Surabaya: Hidayah, t.th), 225.

20

A ’la>m al Muwa>qqi’i>n,juz 1, 106 21

Sayyid Sabiq,Fiqih Sunnah, (Bandung: Al-Ma’arif, 1998), 136. 22

82

apabila biji tersebut masih berupa butiran, maka biji tersebut boleh diperjual belikan, karena masih ada banyak manfaat lainnya sebagaimana dijelaskan pada Bab III yang diperbolehkan oleh agama Islam.

Barang yang diperjualbelikan merupakan biji ganitri yang mempunyai kemungkinan untuk dijadikan sebagai persembahan pada dewa dan sesaji saat melakukan ritul. Mazhab Malikiyah berpendapat memperjual belikan hal biji ganitri kepada orang yang mempunyai keyakinan melakukan persembahan tersebut adalah tidak diperbolehkan.

Hal ini dapat dilihat dari pandangan Imam Maliki saat berpendapat tentang menjual anggur kepada orang yang kemungkinan membuat minuman keras darinya. Sebagaimana menjual senjata kepada orang kafir yang

memerangi umat islam adalah haram23. Hal ini dilakukan sebagai tindakan

antisiasi.

Imam malik berpendapat, hal-hal yang digunakan sebagai sarana yang mewujudkan sesuatu yang haram itu hukumnya haram meskipun hanya dengan niat. Hal ini berdasarkan pada al Maidah ayat 2,

        

Artinya: Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (Q.S. al Maidah : 2)

Pendapat Imam Maliki ini dikarenakan dalam landasan penentuan

hukum, beliau menggunakan pendekatan sad al dhari’ah.24 Sehingga

23

Sayyid Sabiq,Fiqih Sunnah, 136.

24 Ibid.

83

beliau lebih mengedepankan antisipasi dan menutup jalan terjadinya kemaksiatan.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasar pada uraian yang telah dipaparkan dalam bab-bab sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Jual beli genitri yang ada di Desa Soso merupakan jual beli biji genitri yang menurut kepercayaan orang Hindu, biji ini merupakan titisan Dewa Siwa. Biji Genitri ini biasanya dimanfaatkan oleh orang Hindu sebagai sesembahan dalam ritual, sesaji dalam kegiatan larung laut, serta dipercaya memberikan berkah kesehatan, kekayaan, dan pengampunan dosa.

2. Jual beli biji genitri yang biji tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sesembahan ataupun sesaji ritual bersesuaian dengan ketetapan hukum yang ada pada kasus menjual anggur kepada pembuat arak. Adapun pandangan al-madha>hib al-arba’ah terkait dengan hal tersebut adalah, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa menjual anggur kepada pembuat minuman keras secara dhahir dihukumi sah saja, akan tetapi makruh. Sedangkan Imam Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa menjual anggur kepada pembuat khamr adalah tidak sah, hal ini dilakukan karena tindakan antisipasi. Karena, hal yang digunakan sebagai sarana yang mewujudkan sesuatu yang haram itu hukumnya haram meskipun hanya dengan niat. Begitu juga dengan menjual biji genitri yang bisa dijadikan sebagai sesembahan.

8✵

B. Saran

Berdasar pada penelitian yang sudah dilakukan dan pemaparan yang telah disampaikan, berikut beberapa saran yang disampaikan penyusun hingga kiranya bisa dijadikan pertimbangan:

1. Bagi pemerentah daerah Desa Soso, hendaknya lebih memberikan perhatian terkait jual beli ganitri yang sedang marak dilakukan oleh masyarakat desanya. Bagi masyarakat yang ikut andil dan berperan dalam jual beli biji ganitri ini, seyogyanya lebih berhati-hati dengan transaksi yang dilakukan. Sehingga transaksi jual beli bisa sesuai dengan aturan agama Islam.

2. Untuk lebih melengkapi dan memperdalam pembahasan tentang jual beli biji genitri ini, penting adanya penelitian lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Baiquni. “Meraup Untung dengan Jenitri”, Kuliah Lingkungan Bisnis,

2012

Abdullah, Sulaiman. Dinamika Qiyas dalm Pembaharuan Hukum Islam: Kajian

Konsep Qiyas Imam Syafi’i,Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996. Aplikasi Lidwa Pustaka i-Software Kitab Shohih Bukhori

Asqalani (al), Ahmad bin Ali bin Hajar. Kitab Rahdzib al Tahdzib,Juz 8, Bairut

Dar al Fikr. 1995.

Bakri, Nazar.Fiqh dan Ushul Fiqh.Jakarta: Radar Jaya Offset, 1996.

Bisri, Cik Hasan. Model Penelitian Fiqih Jilid 1: Paradigma Penelitian Fiqh dan

Fiqh Penelitian.Jakarta: Prenada Kencana, 2003.

Bultaji, Muhammad.Manhaj al Tasyri’ al-Islami,Vol. II. tt : t.th.

Chalil, Moenawar.Biografi 4 Imam Mazhab.Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

Darma Wacana, “Rudraksha Air Mata Dewa Shiva”, dalam

http:/www.puragunungsalak.com/2014/11/rudraksha-air-mata-dewa- shiva.html, diakses pada 25 Januari 2017.

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan T erjemahan. Jakarta: Maghfirah Pustaka,

2010.

Desmiaty, Yesi. “Telaah Fitokimia Pendahuluan Zat Warna Kulit Buah Genitri”,

FFUI,Juni 2013.

Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, Petunjuk

Teknis Penulisan Skripsi.Surabaya. 2014.

Farisi (al), Salman. “Pendapat Imam Syafi’I dan Imam Malik Tentang Jual Beli Sperma (Studi Komparasi)” Skripsi-Institut Agama Islam Negeri Surabaya, 2009.

Geo Info. “Jenitri di Indonesia”, dalam http://staff.blog.ui.ac.id, diakses pada 15

April 2016

Ghazaly, Abdul Rahman et.al. Fiqh Muamalat. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group, 2010.

Haq, Abdul Rahman, et.al. Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group, 2010.

Haroen, Nasrun.Fiqh Muamalah,Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000.

Hasan, Muhammad Ali. Perbandingan Mazhab. Jakarta: Raja Grafindo Persada,

Ibnu Rusyd,Bida>yah al Mujtahid wa Niha>yah al Muqtas}id, Abdul Rasyad Shidiq,

Jilid II Jakarta: Akbar Media, 2015.

Istiqlaliyah, Siti. “Jual Beli Patung Menurut Mazhab Syafi’i dalam Pandangan

Ulama’ Kontemporer”, Skripsi—UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2004.

Jaziri (al), Abd al-Rahman bin Muhammad ‘Awadh. Kita<b al-Fiqh ‘ala< al-

Madha<hib al-A rba’ah.Bairut: Dar Ibn Hazm, 2012.

Jenitri, Pohon Mata Dewa Penyerap Polutan, “http://www.opensubscribe.com, diakses 2 Mei 2016.

Khallaf, Abdul Wahab. Kaidah-kaidah Hukum Islam, Ilmu Ushul Fiqih, Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada, 2002), 141.

Malba>ri (al), Zainudin bin ‘Abdi al-‘Aziz. Fath al-Mu’i>n bi Syarh Qurat al-‘A in.

Surabaya: Da>r Ihyak al Kutub al Arabiyah, t.th.

Mas’ud, Ibnu dan Zainal Arifin.Fiqh Madzab Syafi’i 2. Bandung: Pustaka Setia,

2007.

Masruhan.Motodologi Penelitian Hukum.Surabaya: Hilal Pustaka, 2013.

Moleong, Lexi J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya, 2005.

Muchtar, Asmaji. Dialog Lintas Mazhab Fiqh Ibadah dan Muamalah. Jakarta:

Amzah, 2015.

Muhammad. Etika Bisnis Islam. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan

Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 2004.

Muhyidin, Syaikh Khalil.Syarkh Musnad A bi Hani>fah,Bairut: al Dar al Kutub al

‘Ilmiyah, 1985.

Nawawi>, Abi> Abdul Mu’t}i> Muhammad bin Umar bin ‘Ali>. Niha>yat al-Zain,

Surabaya: Hidayah, t.th.

Nazir, Moh.Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983.

Noviansyah, Muhammad Reza. “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Jual Beli Produk Satanisme di Venom Metal Distro Jl. Gajah Magersari Sidoarjo”, (Skripsi-Institut Agama Islam Negeri Surabaya, 2008.

Putra, Updhana. “Rudraksha atau Ganitri”, dalam

http://upadhana.blogspot.co.id/2014/08/rudraksha-atau-ganitiri.html, diakses pada 4 agustus 2016.

Rifa’I, Moh.Ushul Fiqih. Bandung: PT. Alma’arif. 1973.

Romli SA.Muqaranah Mazahib fil Ushul.Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Rusyd, Ibnu. Bida>yah al-Mujtahid wa Niha>yah al-Muqtas{id, Abdul Rasyad

Shidiq, Jilid II. Jakarta: Akbar Media, 2015.

Sayis (al), Muhammad Ali. Tarikh al-Fiqh al-Islami. Kairo: Maktabah wa

Matba’ah Ali Sabih wa auladuh, t.th.

Sharbini (al), Muhammad al-Kha>tib. Mughni al-Muhtaj Ila> Ma’rifati Ma’ani al-

Fa>dh al-Manha>j,Juz 2. Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1994.

Shiddiqy (al), Hasbi. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. Jakarta: Bulan

Bintang, 1972.

Shodikin, Ahmad. “Studi Komparisi Pendapat al-Aimmah al-Arba’ah tentang

Jual Beli Pada Saat Shalat Jum’at.” Skripsi—UIN Sunan Kalijaga,

Yogyakarta, 2004.

Subandi, Bambang et al., Studi Hukum Islam. Surabaya: IAIN Sunan Ampel

Press, 2012.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2012), 225.

Suhendi, Hendi.Fiqh Muamalah,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Syarifuddin, Amir.Ushul Fiqh,Jakarta: Kencana PrenadaGroup, 2009.

Syatibi (al), Abu Ishaq.al Muwa>faqa>t.Bairut: Dar al Fikr al ‘arabi, 1975.

Usman, Husain dan Purnomo Setiady Akbar. Metodologi Penelitian Sosial.

Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Usman, Iskandar. Istihsan dan Pembaharuan Hukum Islam. Jakarta: Raja

Grafindo Persada, 1994.

Wayan Sudiarsi, “Genitri Rudraksha: Pengenalan Japa dan Mantra”. Dalam http://upadhana.blogspot.co.id/2014/08/rudraksha-atau-ganitri.html,

diakses pada 25 Januari 2017

Yanggo, Huzaemah Tahido. Pengantar Perbandingan Mazhab. Ciputat: Logos

Wacana Ilmu, 2003.

Dokumen terkait