• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERSYRATAN PENGENAAN PAJAK PENGHASILAN

C. Peredaran bruto

3. Persyaratan pengenaan PPh pada usaha menengah

Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia, memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,00 tidak termsuk tanah dan bangunan tempat usaha,

memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp.50.000.0000.000,00.90

90Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro,

BAB III

PENERAPAN PAJAK BAGI PELAKU UMKM BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NO 23 TAHUN 2018 TENTANG PAJAK

PENGHASILAN DARI USAHA YANG DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU

A. UMKM sebagai Wajib Pajak

PPh final dikenakan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang menjalankan kegiatan usaha dan atau jasa, kecuali pekerjaan bebas, dengan batasan minimal omzet adalah 4,8 miliar. Artinya, tidak ada batas bawah omzet yang dikecualikan dari pengenaan PPh final ini.91 Tentunya, ini sejalan dengan prinsip pengenaan pajak menurut UU PPh, dimana sepanjang Wajib Pajak telah memenuhi syarat subjektif dan syarat objektif, maka wajib membayar pajak.

Syarat subjektif adalah berkedudukan sebagai warga negara dan syarat objektif adalah telah memiliki penghasilan atau memiliki penghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi wajib pajak orang pribadi.92

Juga, aturan ini tidak menyebutkan atau menggunakan terminologi pengenaan pajak UMKM sama sekali. Hal ini mengindikasikan tidak ada pengelompokan tersendiri untuk sektor UMKM yang berbeda dengan kelompok lainnya, dalam hal kewajiban perpajakan. Ditengarai, istilah Pajak UMKM lebih ditekankan untuk kebutuhan praktis dalam pemberitaan media. Definisi UMKM menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM didasarkan pada

92Chandra Budi, Urus Pajak itu Sangat Mudah,(Jakarta: Percetakan PT Gramedia,

jumlah penjualan (omzet) dan kekayaan yang diperoleh perseorangan atau badan usaha. Di lain pihak, Direktorat Jenderal Pajak mengusulkan pemberian insentif perpajakan berupa kemudahan penghitungan pajak bagi perseorangan atau badan usaha dengan kriteria omzet tertentu. Karena batasan penghasilan atau omzet digunakan dalam dua peraturan tersebut mendekati sama, maka seakan-akan insentif tersebut secara khusus menyasar kepada pelaku UMKM.93

Secara eksplisit, diatur juga kriteria Wajib Pajak yang dikecualikan dari aturan ini. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi adalah yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan.94

1. Pengertian dan Jenis Wajib Pajak

Wajib Pajak adalah orang pribadiatau badan meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesusai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (pasal 1 angka 2 UU KUP)95

Undang-undang Perpajakan telah menegaskan bahwa sesuai dengan self assesment system, setiap wajib pajak berkewajiban mendaftarkan diri ke kantor

pajak untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), melakukan penyetoran pajak sendiri dan juga melaporkan wajib pajak sendiri atas utang

93Ibid, hlm xii.

94Ibid, hlm xii.

pajaknya ke kantor pajak. Apabila telah memenuhi syarat tertentu, selain NPWP, Wajib Pajak (WP) mempunyai kewajiban melaporkan diri untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak sehingga mendapatkan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP), meskipun tidak semua Wajib Pajak yang ber-NPWP harus mempunyai NPPKP, karena NPPKP lebih menitikberatkan pada identitas atau bukti kepesertaan dalam hak dan kewajiban perpajakan.

NPWP adalah suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal atau identitas wajib pajak. Selain itu NPWP juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan administrasi perpajakan. Dalam hal yang berhubungan dengan dokumen perpajakan, wajib pajakdiwajibkan mencantumkan NPWP yang dimilikinya. Wajib pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWPnya akan dikenakan sanksi perpajakan. Tempat pendaftaran wajib pajak untuk memperoleh NPWP dan tempat pendaftaran wajib pajak untuk memperoleh NPWP dan tempat pelaporan kegiatan usaha pengusaha untuk memperoleh NPWP adalah di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan dan /atau tempat kegiatan usaha wajib pajak berada didalam dua atau lebih wilayah kerja KPP96.

Jenis Wajib Pajak

Pihak yang menjadi subjek PPh orang pribadi adalah:

1. Orang pribadi;

2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak;

96Muhammad Awal Satrio Nugroho & Bambang Teguh,Hakdan Kewajiban dalam

Subjek pajak terdiri dari subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.

1. Subjek pajak dalam negeri

a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;

b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.97

2. Subjek pajak luar negeri

a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia;

b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

97Haula Rosdiana,M, Perpajakan Teori dan Aplikasi, (Jakarta:PT RajaGrafindo,2005),

Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:

1. Tempat kedudukan manajemen;

2. Cabang perusahaan;

3. Kantor perwakilan;

4. Gedung kantor;

5. Pabrik;

6. Bengkel;

7. Pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran yang dipergunakan untuk eksplorasi pertambangan ;

8. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;

9. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;

10.Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau oleh orang lain, sepanjang dilakukan lebih dari enam puluh dari dalam jangka waktu dua belas bulan;

11. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;

12. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi atau asuransi atau menanggung resiko di Indonesia.98

2. Konfirmasi status Wajib Pajak (KSWP) terhadap pelaku UMKM

Berdasarkan Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil, dan Menengah Republik Indonesia Nomor 07/PER/M.KUKM/VI/2017 Tentang Pelaksanaan Konfirmasi Status Wajib Pajak Bagi Pelayanan Publik Di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah bahwa Konfirmasi Status Wajib Pajak atau yang disingkat (KSWP) adalah kegiatan yang dilakukan instansi pemerintah sebelum memberikan layanan publik tertentu dengan melakukan konfirmasi kepada wajib pajak untuk memperoleh keterangan status wajib pajak.

Jenis layanan pengesahan dan izin yang diberikan dalam rangka pelaksanaan KSWP meliputi:

a. Pengesahan perubahan anggaran dasar koperasi;

b. Izin pembukaan kantor cabang koperasi;

c. Izin pembukaan kantor cabang pembantu koperasi;

d. Izin pembukaan kantor kas koperasi; dan f. Izin usaha simpan pinjam koperasi.

Layanan sebagaimana yang dimaksud termasuk pengajuan perizinan baru maupun perubahannya.

1. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil, dan Menengah melaksanakan KSWP untuk memperoleh keterangan status wajib pajak sebelum memberikan pelayanan publik.

2. Pelaksanaan KSWP sebgaimana yang dimaksud pada point 1 dilakukan dengan melaksanakan pengecekan keabsahan wajib pajak melalui Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

3. Keterangan status wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam point 1 memuat status valid atau tidak valid dari wajib pajak.

4. Dalam hal status wajib pajak valid, proses pemberian layanan publik dapat dilanjutkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Dalam hal status wajib pajak tidak valid, wajib pajak wajib melakukan permohonan konfirmasi status kekantor pajak terdaftar untuk mendapatkan keterangan status valid.

Proses pelaksanaan KSWP sebagaimana yang dimaksud pada point 3 dilakukan oleh pejabat atau pegawai negeri di lingkungan kementerian koperasi dan usaha kecil dan menengah yang ditunjuk, dan dilaksanakan melalui sistem informasi yang terhubung dengan sistem informasi pada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.99

3. Kedudukan UMKM sebagai wajib pajak dan akibat hukumnya

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 adalah peraturan mengenai penghasilan atau pendapatan dari usaha yang diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu dalam satu tahun masa pajak. PP ini berlaku mulai 1 juli 2018. Adapun tarif pajak penghasilan yang baru bagi UMKM sebesar 0,5% dari omzet. Peraturan ini menggantikan peraturan sebelumnya yaitu PP No. 46 Tahun

99Peraturan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil, dan Menengah Republik Indonesia Nomor 07/PER/M.KUKM/VI/2017 Tentang Pelaksanaan Konfirmasi Status Wajib Pajak Bagi

2013 dengan tarif PPh final UMKM sebesar 1% yang dihitung berdasarkan pendapatan bruto (omzet) nya yang diperuntukkan bagi UMKM yang beromzet kurang dari 4,8 miliar dalam setahun.

Batasan waktu kebijakan insentif pajak yang ditetapkan ini berbeda untuk berbagai subjek pajak. Pertama bagi subjek pajak orang pribadi, insentif tersebut berjangka waktu selama 7 tahun. Kedua bagi subjek pajak badan usaha berbentuk perseroan terbatas, insentif berjangka waktu selama 3 tahun. Terakhir, bagi subjek pajak badan usaha berbentuk CV, Firma, dan koperasi selama 4 tahun. Adapun jangka waktu dihitung sejak tahun pajak regulasi berlaku bagi Wajib Pajak (WP) lama, dan sejak tahun pajak terdaftar bagi WP baru. Kebijakan insentif PPh bagi pelaku UMKM merupakan salah satu fasilitas fiskal yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku UMKM untuk mendorong potensi/aktivitas sektor UMKM namun juga akan mengurangi potensi penerimaan pajak pada jangka pendek. Pengenaan tarif pajak final lama bagi pelaku UMKM sebsar 1% dinilai memberatkan pelaku UMKM dan sering dikeluhkan oleh pelaku UMKM dengan potongan pajak sebesar 0,5%. Dari sisi pelaku usaha, penurunan tarif baru diharapkan menstimulasi munculnya pelaku UMKM baru untuk berkembang dan memberikan ruang finansial (kesempatan berusaha) dengan berkurangnya beban biaya UMKM untuk dapat digunakan dalam ekspansi usaha.100

Akibat hukum yang dapat diterima oleh pelaku UMKM adalah diberikannya sanksi. Sanksi diberikan apabila Wajib Pajak lupa tanggal pembayaran dan pelaporan pajak, menunda pembayaran pajak dan,

100Sari Rafika, Kebijakan Insentif pajak bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Vol 10

menyembunyikan data. Sanksi adalah suatu tindakan yang bersifat memaksa dan dapat dipaksakan sebagai reaksi terhadap tindakan, atau terhadap tidak dilakukannya tindakan yang ditetapkan oleh tatanan. Tindakan paksa yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan bukan atas keinginan individu yang menjadi sasaran dan bila terjadi perlawanan, akan digunakan pemaksaan fisik.

Dapat disimpulkan bahwa sanksi bersifat tegas yang digunakan sebagai pemaksa agar seseorang taat akan aturan. Menurut Soemitro bentuk sanksi dibagi menjadi dua, yaitu sanksi pidana yaitu sanksi pajak yang diberikan berupa hukuman pidana seperti denda pidana, pidana kurungan, dan pidana penjar. Wajib Pajak dapat dikenakan sanksi pidana apabila diketahui dengan sengaja tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi sinya tidak benar, dan sanksi administratif adalah sanksi berupa pembayaran kerugian terhadap negara seperti denda, bunga, dan kenaikan.101

Undang-undang dan Peraturan secara garis besar berisikan hak dan kewajiban, tindakan yang diperkenankan dan tidak diperkenankan oleh masyarakat. Agar undang-undang dan peraturan tersebut dipatuhi, maka harus ada sanksi bagi pelanggarnya, demikian halnya untuk undang-undang pajak dan peraturan pelaksanaannya tidak memuat jenis penghargaan dari WP yang taat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan baik berupa prioritas untuk mendapatkan pelayanan publik ataupun piagam penghargaan. Walaupun WP tidak mendapatkan penghargaan atas kepatuhannya dalam melaksanakan kewajiban

101Dayu aismawanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan WajibPpajak

perpajakan, WP akan dikenakan banyak hukuman apabila lupa atau sengaja tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya.102

B. Pajak Penghasilan atas Penghasilan Usaha berdasarkan PP No. 23 Tahun2018

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beromzet maksimal Rp4,8 miliar setahun bisa bernapas lega atas penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final dari 1% menjadi 0,5%. Dengan kebijakan ini, diharapkan makin banyak UMKM masuk dalam basis wajib pajak dan berkontribusi pada perekonomian nasional. Tarif baru pajak UMKM ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Dari Usaha yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu. PP tersebut menggantikan PP sebelumnya Nomor 46 Tahun 2013. Sementara aturan turunannya dalam bentuk peraturan Menteri Keuangan (PMK) mengenai pajak UMKM, dijanjikan akan segera terbit. Sejak juli 2018. Pemerintah memangkas tarif PPh final dari 1% menjadi 0,5% dengan tujuan membantu bisnis UMKM terus berkembang, menjaga aliran keuangan (cash flow) sehingga dapat digunakan untuk tambahan modal usaha. Dengan begitu, membayar pajak tidak lagi dianggap sebagai beban dan momok.103

Namanya diskon, tidak semua UMKM bisa menkmatinya. Tarif pajak setengah persen hanya berlaku untuk:

102Dayu aismawanto,Ibid, hlm 24.

103Jurnal,Murifal, Aspek Pajak Penghasilan Final pada sektor Usaha Mikro Kecil dan

1. UMKM yang memiliki peredaran bruto (omzet) tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak. Antara lain usaha dagang, industri jasa seperti toko/kios/los kelontong, pakaian, ekletronik, bengkel, penjahit, warung, atau rumah makan, salon, dan usaha lainnya.

2. Berlaku untuk UMKM konvensional atau offline maupun yang berjualan ditoko online (marketplace dan media sosial).

Pengguna tarif istimewa ini pun ada batas waktunya, sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2018, antara lain:

1. Bagi Wajib Pajak orang pribadi dalam 7 tahun.

2. Wajib Pajak Badan berbentuk koperasi, Persekutuan Komanditer, atau Firma selama 4 tahun.

3. Wajib Pajak Badan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) selama 3 tahun.

Saat batas waktu tersebut tutup, UMKM yang dijalankan Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan Wajib Pajak PT tidak bisa lagi menikmati tarif rendah ini. Mereka harus menyelenggarakan pembukuan atau menyusun laporan keuangan dengan rapi, serta membayar pajak penghasilan berdasarkan tarif umum sesuai dengan undang-undang PPh.

Tidak ada alasan lagi tidak bisa membuat pembukuan, karena periode waktu yang diberikan sudah cukup bagi UMKM untuk belajar menyusun laporan keuangan. Apalagi di era digital sekarang ini, membuat pembukuan sudah lebih mudah. Tinggal berselancar di dunia maya, keluarlah cara maupun aplikasi

pembukuan sederhana yang bisa ditiru. Bisa juga belajar dari bimbingan Account Representative Ditjen Pajak.104

1. Tarif Pajak Penghasilan sebesar 0,5%

Tarif PPh Final UMKM resmi turun dari 1% menjadi 0,5%. Perubahan tarif PPh Final UMKM tersebut tercantum dalam PP Nomor 23 Tahun 2018.

Peraturan Pemerintah tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang dterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu tersebut merupakan pengganti dari PP No 46 Tahun 2018.

Tarif PPh final 0,5% bersifat opsional. Pemerintah telah memutuskan untuk meringankan tarif PPh final menjadi 0,5 % . Namun ketentuan ini bersifat opsional karena wajib pajak dapat memilih untuk mengikuti tarif dengan skema final 0,5 % atau menggunakan skema normal yang mengacu pada pasal 17 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Sifat opsional ini memberi keuntungan bagi wajib pajak karena:

1. Bagi Wajib Pajak (WP) pribadi dan badan yang belum dapat menyelenggarakan pembukuan dengan tertib, penerapan PPh final 0,5% memberikan kemudahan bagi mereka untuk melaksanakan kewajiban perpajakan. Sebab, perhitungan pajak menjadi sederhana yakni 0,5% dari peredaran bruto (omzet). Namun penerapan PPh final memiliki konsekuensi yakni WP tetap harus membayar pajak meski sedan dalam keadaan rugi.

2. Sementara WP badan yang telah melakukan pembukuan dengan baik dapat memilih untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif normal yang diatur pasal 17 UU No.36 tentang Pajak Penghasilan. Konsekuensinya, perhitungan tarif PPh akan mengacu pada lapisan penghasilan kena pajak. Selain itu, WP juga bisa terbebas dari PPh bila mengalami kerugian fiskal.105

Pengenaan tarif PPh Final 0,5% punya batas waktu, tidak seperti PP No.46 Tahun 2013, kebijakan terbaru tentang PPh final 0,5% punya grace period alias batasan waktu. Batasan waktu yang diberikan pemerintah bagi WP yang ingin memanfaatkan tarif PPh final 0,5% adalah:

a. 7 tahun pajak untuk WP orang pribadi.

b 4 tahun pajak untuk WP badan berbentuk koperasi, CV,atau firma.

c. 3 tahun pajak bagi WP berbentuk PT. Setelah batas waktu tersebut berakhir, WP akan kembali menggunakan skema normal seperti diatur dalam pasal 17 UU No. 36. Hal ini ditujukan untuk mendorong wajib pajak menyelenggarakan pembukuan dan pengembangan usaha.

WP yang dikenai PPh Final berpenghasilan Rp4,8 miliar, ambang batas penghasilan wajib pajak yang dikenai PPh final tidak berubah yakni senilai Rp 4,8 miliar.Batasan nilai tersebut secara eksplisit menargetkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai target pajak. Pemerintah memang ingin merangkul sebanyak mungkin UMKM untuk masuk dalam sistem perpajakan.

Yang memanfaatkanPPh final 0,5% adalah wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai PPh final 0,5% seperti wajib pajak orang pribadi,

105 N Safrina, Kajian dampak Penerapan PPh Final 0,5% terhadap UMKM dalam

wajib pajak badan berbentuk koperasi,cv,firma yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto Rp4,8 miliar.106

Keuntungan PPh final UMKM, aturan penurunan tarif pajak menjadi 0,5% sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM. Beberapa keuntunganitu, diantaranya:

1. UMKM dapat membayar pajak dengan mudah dan sederhana. Karena PPh final, maka perhitungan pajak buat UMKM offline maupun online tinggal menjumlahkan peredaran bruto dalam sebulan, kemudian dikalikan tarif.

2. Bisa mengurangi beban pajak para pelaku UMKM. Dengan tarif murah, sisa omzet bersih setelah dipotong pajak bisa dipakai pengusaha untuk mengembangkan usaha.

3. Tarif Pajak yang rendah dapat merangsang orang terjun sebagai wirausaha. Jadi tidak perlu khwatir dibebankan pajak tinggi.

4. Dengan tarif istimewa itu diharapkan mendorong kepatuhan UMKM dalam membayar pajak serta meningkatkan basis wajib pajak.

5. UMKM bisa naik kelas. Karena setelah mereka dapat menyusun laporan keuangan secara rapi, patuh membayar pajak, dapat menjadi jalan bagi mereka untuk memperoleh akses permodalan lewat bank.107

Dampak penurunan PPh final UMKMdari 1% menjadi 0,5% yaitu:

1. Investasi Pemerintah jangka menengah-panjangdan menambah basis perpajakan

2. Mendorong UMKM untuk naik kelas ke industri yang lebih besar.

106 N Safrina, Ibid, hlm 37.

3. Meningkatkan kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto(PDB) 4. Grace Period menutup celah penghindaran pajak-skenario pelaku UMKM

abadi dengan memecah usaha.

5. Mendorong UMKM untuk lebih berorientasi ekspor.

6. Meningkatka penyerapan tenaga kerja di sektor UMKM.

7. Memberikan insentif tambahan bagi UMKM dan kepastian berusaha.

8. Mendorong lahirnya UMKM baru dan pengembangan UMKM.108

2. Penghasilan tidak kena pajak berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2018

Tidak termasuk penghasilan dari usaha yang dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana yang dimaksud Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2018 sebagai berikut:

a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas;

b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri yang pajaknya terutang atau telah dibayar di luar negeri;

c. Penghasilan yang telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan

d. Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

Jasa suhubngan dengan pekerjaan bebas sebagaimana yang dimaksud yang diatas meliputi:

a. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan beabs, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, PPAT, penilai, dan aktuaris;

b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, dan penari;

c. Olahragawan;

d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;

e. Pengarang, peneliti, penerjemah;

f. Agen iklan;

g. Pengawas atau pengelola proyek;

h. Perantara;

i. Petugas penjaja barang dagangan;

j. Agen asuransi;

k. Distributor perusahaan pemasaran berjenjang atau penjualan langsung dan kegiatan sejenis lainnya.109

3. Wajib Pajak berdasarkan PP No. 23 tahun 2018

Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu yang dikenai Pajak Penghasilan final sebagaimana dimaksud atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dalam jangka waktu tertentu merupakan:

a. Wajib Pajak orang pribadi; dan

109Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang memiliki

b. Wajib Pajak badan berbentuk koperasi, persekutuan komanditer, firma, atau perseroan terbatas,yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam 1 tahun pajak.

Tidak termasuk Wajib Pajak sebagaimana dimaksud atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dalam jangka waktu tertentu dalam hal:

A. Wajib Pajak memilih untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif Pasal

A. Wajib Pajak memilih untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif Pasal

Dokumen terkait