• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSYARATAN TEKNIS DAN PERSYARATAN KEMETROLOGIAN

Dalam dokumen TERA DAN TERA ULANG TANGKI TUTSIDA UNIT (Halaman 29-50)

3.1Persyaratan Teknis 3.1.1 Bahan

1) TUTSIDA harus dibuat dari logam dan/atau bahan lain yang baik dan kuat sehingga tidak berubah bentuk untuk menjamin kebenaran pengukuran volume cairan;

2) Dinding TUTSIDA yang dibuat dari lembaran pelat logam disambung dengan las sehingga TUTSIDA tersusun dari satu atau beberapa cincin; dan

3) Ketebalan pelat dinding pada semua cincin TUTSIDA harus sama.

3.1.2 Konstruksi

1) TUTSIDA terdiri dari 2 (dua) bagian utama, yaitu: 1) bagian silinder; dan

2) bagian tutup silinder;

2) TUTSIDA dapat mempunyai bagian sambungan antara silinder dan tutup.

3) TUTSIDA harus dibuat dengan bentuk, ukuran, konstruksi dan pemasangan sedemikian rupa, sehingga:

1) tidak ada udara terkurung saat pengisian atau cairan tertinggal saat pengeluaran; dan

2) memudahkan saat pelaksanaan pengujian dengan metode geometri.

4) Sambungan antara masing-masing pelat dapat dilakukan dengan dilas tumpu, las lurus atau dilas lapis.

5) Pembuatan TUTSIDA dari bahan selain logam dilakukan dengan memakai suatu teknologi yang sesuai.

6) Kedua ujung silinder ditutup dengan pelat yang sama dengan bentuk yang dapat berupa :

1) bidang datar;

2) cembung setengah bola atau elips; atau 3) tembereng bola.

7) Bagian silinder badan TUTSIDA dengan bagian tutup silinder dapat disambungkan secara langsung atau disambungkan dengan ditambah sambungan lurus.

8) Dasar TUTSIDA harus terletak di atas pondasi yang kokoh, sehingga dalam pemakaian tidak terjadi perubahan volume.

9) TUTSIDA dapat dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan untuk mengurangi kehilangan akibat penguapan yang pemasangan dan penggunaannya tidak boleh menyebabkan kesalahan pengukuran. 10) Bentuk, bahan, ketahanan, konstruksi dan perakitan harus sedemikian

rupa, sehingga TUTSIDA tahan terhadap pengaruh lingkungan, cairan yang dikandungnya dan pada penggunaan normal tidak mengalami deformasi yang mungkin mempengaruhi volumeTUTSIDA.

11) TUTSIDA harus mempunyai: 1) pipa masukan;

2) pipa keluaran;

3) lubang masuk (manhole); 4) meja ukur; dan

5) lubang ukur. 12) Pipa pengarah

1) Ujung bawah pipa pengarah harus sedemikian rupa, sehingga tidak mengganggu pengukuran tinggi cairan ukur; dan

2) Bagian dinding pipa pengarahTUTSIDA harus berlubang. 13) Meja ukur

1) Meja ukur harus dibangun pada posisi yang tetap dan stabil; 2) Kedudukan meja ukur harus serendah mungkin, harus lebih

rendah dari pipa keluaran dan terletak tepat di bawah lubang ukur; dan

3) Meja ukur dipasang di bawah pipa pengarah. 14) Lubang ukur harus:

1) berkedudukan di dekat ujung tangga; dan

2) dilengkapi dengan tanda sebagai posisi pengukuran tinggi cairan. 15) Titik referensi atas harus ditetapkan pada posisi yang tetap dan stabil. 16) TUTSIDA dapat dilengkapi tangga sebagai jalan masuk untuk

17) TUTSIDA dapat mempunyai perlengkapan alat ukur ketinggian cairan.

18) Alat ukur ketinggian cairan sebagaimana dimaksud pada huruf q harus bertanda tera sah yang berlaku

19) TUTSIDA dapat dilengkapi dengan gelas duga dan pelat skala. 20) TUTSIDA yang dipakai untuk cairan ukur yang dipanaskan dan

TUTSIDA yang dipakai untuk gas cair dindingnya dapat dilapisi dengan bahan isolator.

3.2 Persyaratan Kemetrologian

1. Satuan yang dipergunakan harus dalam satuan ukuran yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Ketidakpastian hasil pengukuran maksimum dalam pengujian adalah ± 0,3%.

3.3 Pemeriksaan

3.3.1 Tera

1) Pemeriksaan konstruksi dan peralatan TUTSIDA dilakukan dengan membandingkannya dengan gambar konstruksi;

2) Pemeriksaan uji kebocoran dilaksanakan dengan memperhatikan sambungan pada dinding, keran, lubang masuk dan lain-lain, dalam keadaan TUTSIDA berisi cairan uji; dan

3) Pemeriksaan kemiringan dilakukan dengan mencatat hasil pengujian kemiringan.

3.1.2 Tera ulang

Pemeriksaan konstruksi dan penampilan luar dan dalam TUTSIDA untuk memastikan tidak ada modifikasi.

3.4 Pengujian Tera Dan Tera Ulang

Proses pengujian tera dan tera ulang dilakukan dengan proses-proses sebagai berikut:

3.4.1 Pengujian TUTSIDA dalam rangka tera dapat dilaksanakan di tempat terpasang tetap didasarkan pada kriteria TUTSIDA tidak mudah dipindahkan dan/atau mempunyai kekhususan dari segi konstruksi, ukuran dan bobot.

3.4.1 Pengujian TUTSIDA dalam rangka tera ulang dilaksanakan di tempat TUTSIDA terpasang tetap, sesuai dengan maksud penggunaannya.

3.4.2 Selama diuji untuk tera atau tera ulang kondisi TUTSIDA harus dalam keadaan tidak dioperasikan.

3.5 Prosedur Pengujian Dan Data

3.5.1 Prosedur Pengujian Metode Volumetri

Pelaksanaan pengujian

1. Pengujian dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

1)Penakaran masuk yaitu cairan uji dialirkan melalui meter arus standar atau diukur dengan bejana ukur standar, kemudian dialirkan ke dalam TUTSIDA; dan

2)Penakaran keluar yaitu cairan uji pertama dimasukkan ke dalam TUTSIDA sampai penuh, kemudian cairan uji dialirkan melalui bejana ukur standar. 2. Khusus pengujian dengan metode volumetri menggunakan meter arus standar

harus dilakukan dengan penakaran masuk untuk menjaga kestabilan kecepatan alir.

3. Setiap penakaran masuk melalui meter arus standar harus dengan kecepatan alir konstan sesuai dengan kecepatan alir Meter Faktor (MF) yang dimiliki oleh meter arus standar.

4. Setelah volume cairan yang dimasukan dan/atau dikeluarkan telah sesuai dengan yang diinginkan, dilakukan pengukuran tinggi cairan dalam TUTSIDA.

5. Apabila TUTSIDA dilengkapi dengan gelas duga (gelas penglihat), tinggi cairan sebelum dan sesudah dikeluarkan atau dimasukkan diberi tanda pada pelat skalanya.

6. Setiap kali memasukan atau mengeluarkan cairan harus dilakukan pengukuran suhu cairan pada standar.

7. Pengukuran suhu cairan dalam TUTSIDA dilakukan saat cairan telah mencapai volume nominal.

3.5.2 Prosedur Pengujian Metode Geometri

Metode geometri dilakukan dengan menggunakan pengukuran dimensi.

1. Metode pengukuran secara geometri berlaku untuk tangki yang memiliki kemiringan sampai dengan 10% dari kedudukan mendatar.

2. Prosedur pengujian

Sesuai dengan kondisi TUTSIDA berada/terpasang, maka pengukuran dimensi TUTSIDA dapat dilakukan baik dari bagian luar maupun bagian dalam.

Gambar 2.3. Lokasi dilakukannya pengukuran keliling (1. Bagian sambungan las; 2. Lebar cincin; 3. Lokasi pengukuran keliling) 1) Pengukuran dari bagian luar:

1) Pengukuran pada tera dilakukan pada kondisi kosong;

2) Pengukuran pada tera ulang dilakukan pada saat TUTSIDA dalam keadaan kosong dan/atau berisi cairan;

3) Apabila TUTSIDA dalam keadaan berisi cairan maka catat tinggi, suhu dan massa jenis;

4) Pengukuran keliling TUTSIDA:

1) Ukur keliling TUTSIDA dengan melingkarkan pita ukur dalam posisi luruspada posisi 20%, 50% dan 80% dari panjang masing-masing cincin seperti ditunjukkan dalam Gambar 1; 2) Pita ukur diberi tarikan sesuai dengan spesifikasinya (misal: 5

kg), kemudian baca penunjukan pita ukur;

3) Pita ukur diulur dan amati apakah masih dalam keadaan lurus; 4) Lakukan pengukuran sebagaimana huruf b) dan c) sebanyak 3

(tiga) kali pada satu posisi dalam 1 (satu) cincin;

5) Catat hasil pengukuran ke dalam satuan millimeter (mm) dan perbedaan antara 2 (dua) pengukuran berurutan tersebut harus berada dalam rentang ± 0,03% atau 3 mm (dipilih yang terbesar);

6) Ulangi pengukuran jika hasil pengukuran belum memenuhi syarat sebagaimana disebutkan pada huruf e).

7) Rata-rata dari 3 (tiga) pengukuran keliling sebagaimana pada huruf f) dinyatakan sebagai hasil pengukuran keliling pada titik tersebut;

8) Lakukan sebagaimana huruf b) sampai dengan g )pada titik yang lain dalam satu cincin;

9) Rata-rata dari pengukuran keliling pada posisi 20%, 50% dan 80% dari panjang cincin merupakan keliling dari cincin tersebut;

10) Lakukan sebagaimana huruf b) sampai dengan i) pada cincin yang lain; dan

11) Rata-rata dari pengukuran keliling tiap cincin merupakan keliling silinder.

5) Pengukuran keliling sambungan lurus:

a) Lakukan pengukuran keliling pada posisi bagian tengah sambungan lurus sebanyak 3 (tiga) kali; dan

b) Rata-rata dari 3 (tiga) kali pengukuran sebagaimana huruf a) merupakan keliling sambungan lurus.

6) Pengukuran tebal pelat:

a) Lakukan pengukuran tebal pelat dan tebal cat dinding TUTSIDA pada setiap cincin atau dapat diambil dari gambar konstruksi tangki; dan

b) Catat data tebal pelat dan tebal cat ke dalam satuan mm. 7) Pengukuran panjang cincin:

a) Bagi cincin 1(satu) menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian atas, 50% dan bagian bawah;

b) Beri tanda pada masing-masing bagian sebagaimana huruf a); c) Lakukan pengukuran panjang bagian atas cincin 1 (satu)

sebanyak 3 (tiga) kali;

d) Catat hasil pengukuran ke dalam satuan millimeter (mm) dan perbedaan antara 2 (dua) pengukuran berurutan tersebut harus berada dalam rentang ± 0,03% atau 3 mm (dipilih yang terbesar);

e) Ulangi pengukuran jika hasil pengukuran belum memenuhi syarat sebagaimana disebutkan pada huruf d);

f) Rata-rata dari ketiga pengukuran sebagaimana huruf c) dinyatakan sebagai panjang bagian atas cincin 1 (satu);

g) Lakukan pengukuran pada bagian 50% dan bagian bawah sebagaimana huruf c) sampai dengan f);

h) Rata-rata panjang pada bagian atas, 50% dan bagian bawah dari cincin 1 (satu) dinyatakan sebagai panjang cincin tersebut; i) Lakukan sebagaimana huruf a) sampai dengan h) untuk

j) Panjang semua cincin dinyatakan sebagai panjang total cincin TUTSIDA.

8) Pengukuran panjang sambungan lurus:

a) Bagi sambungan lurus menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian atas, 50% dan bagian bawah;

b) Beri tanda pada masing-masing bagian sebagaimana huruf a); c) Lakukan pengukuran panjang sambungan lurus pada bagian

atas sebanyak 3 (tiga) kali;

d) Hitung rata-rata dari ketiga pengukuran sebagaimana huruf c) dinyatakan sebagai panjang sambungan lurus bagian atas; e) Lakukan pengukuran pada bagian 50% dan bagian bawah

sebagaimana huruf c) dan d);

f) Rata-rata panjang pada bagian atas, 50% dan bagian bawah dinyatakan sebagai panjang sambungan lurus; dan

g) Lakukan pengukuran sebagaimana huruf a) sampai dengan huruf f) pada bagian sambungan lurus yang lain.

9) Pengukuran bagian tutup TUTSIDA :

a) Lakukan pengukuran panjang bagian tutup dengan menggunakan pengukur kedalaman apabila pengukuran dapat dilakukan atau diambil dari gambar konstruksi TUTSIDA; b) Lakukan pengukuran pada huruf a) sebanyak 3 (tiga) kali; c) Hasil rata-rata pengukuran sebagaimana huruf b) dinyatakan

sebagai panjang bagian tutup;

d) Lakukan pengukuran jari-jari bagian tutup di delapan titik apabila memungkinkan atau nilainya diambil dari gambar konstruksi TUTSIDA;

e) Hasil rata-rata pengukuran sebagaimana huruf d) dinyatakan sebagai jari-jari bagian tutup.

2) Pengukuran dari bagian dalam:

1) Pengukuran diameter dalam TUTSIDA:

a) Lakukan pengukuran diameter dalam pada 4 (empat) kedudukan yang terbagi secara merata pada sekeliling TUTSIDA;

b) Pengukuran dilakukan sebanyak 2 (dua) kali dan dinyatakan memenuhi syarat apabila perbedaan hasil pengukuran yang berurutan berada dalam 0,05% dari diameter atau ±1 mm (dipilih nilai terbesar);

c) Ulangi pengukuran jika hasil pengukuran belum memenuhi syarat sebagaimana disebutkan pada huruf b); dan

d) Rata-rata dari 4 (empat) hasil pengukuran tersebut dinyatakan sebagai hasil pengukuran diameter dalam.

2) Pengukuran panjang cincin:

a) Bagi cincin 1(satu) menjadi 3 (tiga) bagian pada posisi antara bagian bawah sampai dengan titik 50%;

b) Beri tanda pada masing-masing bagian sebagaimana huruf a); c) Lakukan pengukuran panjang bagian bawah cincin 1 (satu)

sebanyak 3 (tiga) kali;

d) Catat hasil pengukuran ke dalam satuan milimeter (mm) dan perbedaan antara 2 (dua) pengukuran berurutan tersebut harus berada dalam rentang ± 0,03% atau 3 mm (dipilih yang terbesar);

e) Ulangi pengukuran jika hasil pengukuran belum memenuhi syarat sebagaimana disebutkan pada huruf d);

f) Rata-rata dari ketiga pengukuran sebagaimana huruf c) dinyatakan sebagai panjang bagian atas cincin 1 (satu);

g) Lakukan pengukuran pada bagian lain sebagaimana huruf c) sampai dengan f);

h) Rata-rata panjang pada ketiga bagian dari cincin 1 (satu) dinyatakan sebagai panjang cincin tersebut;

i) Lakukan sebagaimana huruf a) sampai dengan h) untuk cincin-cincin yang lain; dan

j) Panjang total cincin dinyatakan sebagai panjang cincin TUTSIDA.

a) Bagi sambungan lurus menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian atas, 50% dan bagian bawah;

b) Beri tanda pada masing-masing bagian sebagaimana huruf a); c) Lakukan pengukuran panjang sambungan lurus pada bagian

atas sebanyak 3 (tiga) kali;

d) Hitung rata-rata dari ketiga pengukuran sebagaimana huruf c) dinyatakan sebagai panjang sambungan lurus bagian atas; e) Lakukan pengukuran pada bagian 50% dan bagian bawah

sebagaimana huruf c) dan d);

f) Rata-rata panjang pada bagian atas, 50% dan bagian bawah dinyatakan sebagai panjang sambungan lurus; dan

g) Lakukan pengukuran sebagaimana huruf a) sampai dengan huruf f) pada bagian sambungan lurus yang lain.

4) Pengukuran bagian tutup TUTSIDA:

a) Lakukan pengukuran panjang dari bagian tutup dengan menggunakan pengukur kedalaman apabila pengukuran dapat dilakukan atau diambil dari gambar konstruksi TUTSIDA; b) Lakukan pengukuran pada huruf a) sebanyak 3 (tiga) kali; c) Hasil rata-rata pengukuran sebagaimana huruf b) dinyatakan

sebagai panjang bagian tutup;

d) Lakukan pengukuran jari-jari bagian tutup di delapan titik apabila memungkinkan atau nilainya diambil dari gambar konstruksi TUTSIDA;

e) Hasil rata-rata pengukuran sebagaimana huruf d) dinyatakan sebagai jari-jari bagian tutup.

5) Pengukuran panjang TUTSIDA:

Lakukan pengukuran antar pusat bagian tutup sebagai panjang total TUTSIDA sebanyak 2 (dua) kali dan toleransi perbedaan antara 2 (dua) hasil pengukuran yang berurutan harus berada dalam ±0,03 % dari panjang TUTSIDA atau 3 mm (diambil nilai terbesar).

3) Pengukuran lain-lain

Lakukan pengukuran untuk mendapatkan data selain yang ada pada huruf a dan b. Data-datanya adalah sebagai berikut:

Lakukan pengukuran kemiringan pada tangki yang sudah dipasang tetap.

2) Tinggi lubang ukur,

Lakukan pengukuran tinggi lubang ukur dengan mengukur jarak tinggi antara meja ukur dan lubang ukur.

3) Pengukuran tinggi meja ukur:

Lakukan pengukuran tinggi meja ukur dan catat hasilnya dalam satuan milimeter (mm).

4) Pengukuran dimensi deadwood:

Lakukan pengukuran dimensi deadwood dan letak ketinggiannya, catat hasilnya dalam satuan milimeter (mm).

3. Perhitungan Tabel Volume Tangki:

a. Cantumkan suhu dan tekanan operasional dalam sertifikat tabel volume tangki;

b. Hitung benda-benda koreksi dan kedudukannya dalam tangki dalam pembuatan tabel volume tangki;

c. Harus memperhitungkan koreksi akibat pemuaian dari alat ukur dan dinding tangki pada semua data hasil pengukuran atau dapat diabaikan apabila dianggap tidak ada perbedaan yang signifikan pada saat pengujian; dan

d. Perhitungan

a. b. c. d. Gambar 2.5 Bagian tutup TUTSIDA

Gambar 2.6. Posisi pengukuran panjang cincin TUTSIDA

Gambar 2.7 Penjelasan keseluruhan TUTSIDA. ps = panjang seluruh cincin TUTSIDA, p = panjang TUTSIDA, r1 = jari-jari tutup TUTSIDA

Keterangan :

x1 = nilai keliling rata-rata pada posisi 20% dari sambungan/las

x2 = nilai keliling rata-rata pada posisi 50% dari sambungan/las x3 = nilai keliling rata-rata pada posisi 80% dari sambungan/las K1 = nilai keliling rata- rata pada cincin ke-1

K2 = nilai keliling rata- rata pada cincin ke-2 Kn = nilai keliling rata- rata pada cincin ke-n

y1 = nilai panjang rata-rata cincin pada bagian atas

y2 = nilai panjang rata-rata cincin pada posisi 50% dari cincin y3 = nilai panjang rata-rata cincin pada bagian bawah dari

cincin

p1 = nilai panjang rata-rata cincin ke-1 p2 = nilai panjang rata-rata cincin ke-2 pn = nilai panjang rata-rata cincin ke-n Y = panjang seluruh cincin

K = keliling TUTSIDA

zsl1, zsl2 = keliling masing-masing sambungan lurus

zsl = keliling sambungan lurus D = diameter dalam silinder Ds = diameter sambungan lurus

t1 = tebal pelat dinding silinder TUTSIDA

t2 = tebal pelat sambungan dan tembereng TUTSIDA t3 = tebal pelat sambungan lurus

psl1,psl2 = panjang masing-masing sambungan lurus s1,s2 = panjang masing-masing lengkung sambungan h1,h2 = panjang tembereng

r1 = BF = jari-jari tembereng

r2 = BE = jari-jari ruas lengkung sambungan P = panjang tangki

ps = panjang silinder Vs = volume silinder

Vr = volume lengkung sambungan Vt = volume tutup

VT = volume total bagian tutup 1) Keliling TUTSIDA (K):

a) Pengukuran keliling pada cincin ke-1: Rata-rata keliling yaitu:

= + 3 +

b) Pengukuran keliling pada cincin ke-n Rata-rata keliling yaitu:

= + 3 +

c) Keliling TUTSIDA:

= ⋯…… ,

Dengan n adalah jumlah cincin pada TUTSIDA 2) Perhitungan panjang seluruh cincin TUTSIDA (y)

a) Pengukuran panjang cincin pada cincin ke-1: Rata-rata panjang yaitu:

= + 3 +

b) Pengukuran panjang cincin pada cincin ke-n: Rata-rata panjang yaitu:

= + 3 +

c) Panjang total cincin TUTSIDA:

= + + ⋯ . +

3) Perhitungan diameter dalam TUTSIDA (D)

= − 2

4) Perhitungan diameter dalam sambungan lurus (Ds)

a) Rata-rata keliling dari 3 (tiga) kali pengukuran keliling sambungan lurus (zsl1):

= + 3 +

b) Keliling sambungan lurus (zsl):

= +2

c) Diameter sambungan lurus (Ds):

= − 2

5) Perhitungan panjang silinder tangki (ps) ps = y+psl1+psl2

6) Panjang tangki (p)

= + ℎ + + ℎ +

7) Volume silinder:

=14 +14 ( + )

8) Volume lengkung sambungan

= − = 12 = − = − = = = − = −

sin

= ( ) + ( ) − 1

3

+ −

+

9) Volume tutup (untuk satu tutup)

a) Bentuk tembereng bola (seperti ditunjukkan pada Gambar 3a)

= 16 (3 + )

b) Bentuk cembung setengah bola (seperti ditunjukkan pada Gambar 3b dan 3c)

= 12

c) Bentuk cembung setengah elips (seperti ditunjukkan pada Gambar 3b dan 3c)

= 6

d) Bentuk tembereng bola (seperti ditunjukkan pada Gambar 3d)

= 481 (3 + 4 )

10)Volume total bagian tutup

= +

Volume silinder TUTSIDA dan volume bagian tutup silinder akan menjadi dasar perhitungan dalam pembuatan Tabel Volume TUTSIDA. Konstanta Ks yang digunakan pada perhitungan volume bagian tutup (VT) untuk bentuk tutup sesuai dengan nomor 9) huruf a), b), dan c) menggunakan nilai dari Tabel 3, sedangkan untuk bentuk tutup sesuai dengan nomor 9) huruf d) menggunakan nilai dari Tabel 4.

11)Pengaruh Kemiringan

Untuk lubang ukur yang posisinya berada tepat di pusat tangki, koreksi untuk kemiringan dapat diabaikan. Namun umumnya posisi lubang ukur tidak berada tepat di pusat tangki, dengan demikian perlu dilakukan koreksi akibat kemiringan.

4. Pembuatan Tabel Volume TUTSIDA

a. Data TUTSIDA

Data TUTSIDA yang dibutuhkan adalah seperti berikut : 1) Diameter silinder TUTSIDA;

2) Volume silinder; dan 3) Volume total tutup silinder.

b. Perhitungan Tabel Volume TUTSIDA

Tabel volume tangki dibuat untuk tiap kenaikan tinggi 1 cm seperti ditunjukkan dalam Tabel 1, dan konstanta K yang dipergunakan adalah dari Tabel 2 untuk volume silinder dan Tabel 3 dan Tabel 4 untuk volume tutup silinder.

Harga konstanta K setiap bagian dirumuskan sebagai berikut: 1) Bagian silinder:

= 1 cos(1 − 2 ) − 2(1 − 2 ) (1 − )

2) Bagian tutup silinder berupa tembereng bola maupun tembereng ellips:

= 3 − 2

c. Tabel volume tangki dibuat untuk tiap kenaikan tinggi cairan 1 cm dan konstanta K. Tabel terdiri dari 8 (delapan) kolom sebagaimana tercantum pada Tabel 1.

Tabel 3.1. Tabel Volume TUTSIDA Tinggi

cairan P= Ks KsxVs

(L) KT KTxVT

(L) volume Selisih Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Keterangan:

1) Kolom 1 berisi ketinggian cairan yang dimulai dari 0 cm sampai diameter TUTSIDA dengan kenaikan tinggi sebesar 1 cm;

2) Kolom 2 berisi nilai p = M/D, M adalah ketinggian cairan sebagaimana pada kolom 1 dan D adalah diameter dalam TUTSIDA. Sebagai contoh, untuk ketinggian cairan M = 1 cm dengan harga D = 303 cm maka p = 1/303 = 0.00330033, sehingga untuk ketinggian cairan lainnya diisi kelipatan dari angka tersebut. Dalam kolom cukup dituliskan sampai 5 angka dibelakang koma. Ketinggian ½ (setengah) diameter perlu dicantumkan karena merupakan ½ dari volume tangki; 3) Kolom 3 berisi nilai koefisien Ks sebagaimana tercantum pada Tabel 2.

Nilai Koefisien Ks, apabila nilai p pada kolom 2 telah ditentukan, maka nilai Ks dapat dilihat di dalam tabel tersebut. Perlu diperhatikan pada tabel harga p hanya tercantum 3 angka di belakang koma, untuk nilai p dengan angka dibelakang koma lebih dari 3 angka, nilai Ks dapat ditentukan dengan perhitungan interpolasi. Rumus interpolasi yang digunakan adalah:

= + ( − )

4) Kolom 4 berisi hasil perkalian antara kolom 3 dengan volume silinder TUTSIDA (Vs);

5) Kolom 5 berisi harga koefisien KT sebagaimana tercantum pada Tabel 3 atau Tabel 4 untuk setiap harga p sebagaimana kolom 2;

6) Kolom 6 berisi hasil perkalian antara kolom 5 dengan volume 2 buah tutup silinder TUTSIDA (VT);

7) Kolom 7 merupakan penjumlahan dari kolom 4 dan kolom 6 yang merupakan volume TUTSIDA yang merupakan total volume per ketinggian; dan

Kolom 8 berisi selisih/fraksi volume dalam setiap jenjang ketinggian dari kolom 7. Nilai ini untuk menentukan volume pada ketinggian cairan di bawah 1 cm pada hitungan milimeter.

PEMILIK : COCO BALOI

KAPASITAS : 45000

No. BEJANA SOUNDING No. BEJANA SOUNDING

1 500,580 102 25 JULI 2016 21 10505,530 702 22 2 1000,980 152 22 11005,530 723 3 1501,280 195 43 23 11505,530 749 4 2001,680 230 35 24 12005,530 776 5 2501,530 265 35 25 12505,530 785 6 3001,530 301 36 26 13006,030 815 7 3501,530 332 31 27 13506,030 836 8 4001,530 366 34 28 14006,030 856 9 4501,530 396 30 29 14506,030 885 10 5001,530 415 19 30 15006,030 902 11 5501,530 450 35 31 15506,030 928 12 6001,530 480 30 32 16006,030 943 13 6501,530 503 23 33 16506,030 965 14 7005,530 529 26 34 17006,030 985 15 7505,530 558 29 35 17506,030 1009 16 8005,530 575 17 36 18006,030 1028

17 8505,530 607 32 37 18506,030 1049 18 9005,530 632 25 38 19006,030 1069 19 9505,530 658 26 39 19506,030 1088 20 10005,530 680 22 40 20006,030 1109

No. BEJANA SOUNDING No. BEJANA SOUNDING

41 20506,030 1130 66 33006,030 1657 42 21006,030 1150 67 33506,030 1679 43 21506,030 1173 68 34006,030 1700 44 22006,030 1193 69 34506,030 1725 45 22506,030 1213 70 35006,030 1744 46 23006,030 1234 71 35506,030 1767 47 23506,030 1254 72 36006,030 1790 48 24006,030 1275 73 36506,030 1814 49 24506,030 1296 74 37006,030 1840 50 25006,030 1316 75 37506,030 1863 51 25506,030 1341 76 38006,030 1887

52 26006,030 1360 77 38506,030 1911 53 26506,030 1379 78 39006,030 1939 54 27006,030 1401 79 39506,030 1961 55 27506,030 1423 80 40006,030 1989 56 28006,030 1440 81 40506,030 2017 57 28506,030 1462 82 41006,030 2043 58 29006,030 1487 83 41506,030 2069 59 29506,030 1503 84 42006,030 2098 60 30006,030 1525 85 42506,030 2125 61 30506,030 1548 86 43006,030 2156 62 31006,030 1569 87 43506,030 2189 63 31506,030 1590 88 44006,030 2225 64 32006,030 1612 89 44506,030 2255 65 32506,030 1635 90 45006,030 2295

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1Pembubuhan Cap Tanda Tera

1. Tanda Daerah, Tanda Pegawai Berhak dan Tanda Sah dibubuhkan pada lemping volume nominal TUTSIDA.

2. Tanda Jaminan dipasang pada bagian-bagian tertentu dari TUTSIDA yang sudah disahkan pada waktu ditera atau ditera ulang untuk mencegah penukaran dan/atau perubahan.

3. Bentuk dan ukuran tanda tera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.2Tempat Pembubuhan Cap Tanda Tera

1. Tera

1) Tanda Daerah ukuran 8 mm, Tanda Pegawai Berhak (H) dan Tanda Sah Logam (SL) ukuran 6 mm dibubuhkan pada lemping volume nominal secara berurutan dari kiri ke kanan; dan

2) Tanda Jaminan Plombir (JP) ukuran 8 mm dipasang pada pengikat lemping volume nominal dengan dinding TUTSIDA sehingga lemping volume nominal tidak dapat dipindahkan tanpa merusak Tanda Jaminan.

2. Tera ulang

Untuk tera ulang, Tanda Sah Logam (SL) ukuran 6 mm tahun yang berlaku dibubuhkan pada lemping volume nominal di sebelah kanan Tanda Sah yang terdahulu.

BAB V

Dalam dokumen TERA DAN TERA ULANG TANGKI TUTSIDA UNIT (Halaman 29-50)

Dokumen terkait