BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pertambahan Bobot Ikan Mas Koki
Pengukuran bobot tubuh ikan mas koki strain Mutiara yang digunakan dilakukan pada semua ikan uji selama 84 hari setelah diberikan pakan perlakuan.
Bobot awal ikan mas koki pada 14 hari pertama merupakan fase adaptasi dengan rata-rata 1,53 ± 0,18 g yang dianggap belum terdapat pertambahan bobot (0 cm).
Fase ini merupakan fase ikan mas koki beradaptasi dengan jenis pakan dan lingkungan tempat pemeliharaan, kemudian pada 14 hari berikutnya terjadi pertambahan bobot ikan yang cepat.
Gambar 6. Rata-rata pertambahan bobot (g) ikan mas koki
-2
Ke-0 mg/kg 500 mg/kg 1000 mg/kg 1500 mg/kg
18
Pertambahan bobot rata-rata ikan mas koki terus meningkat setiap waktunya (Gambar 6). Penambahan dosis EBM yang berbeda memberikan pengaruh (sig<0.05) (Lampiran 5) terhadap pertambahan bobot ikan mas koki selama 84 hari pengamatan. Hasil uji Duncan yang diperoleh menunjukkan pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 0, 500, dan 1000 (mg/kg) pakan memberikan pengaruh yang berbeda, namun pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1000 dan 1500 mg/kg pakan memiliki pengaruh yang sama terhadap pertambahan bobot ikan mas koki (Lampiran 5).
Rata-rata pertambahan bobot ikan menunjukkan hasil tertinggi setelah 84 hari pengukuran pada perlakuan penambahan 1000 mg/kg pakan sebesar 16,61 g dan pada perlakuan penambahan 1500 mg/kg pakan (15,84 g), sedangkan rata-rata pertambahan bobot ikan terendah pada perlakuan 0 mg/kg pakan (3,88 g). Hal ini kemungkinan terjadi karena pada perlakuan ini terjadi pemanfaatan pakan yang optimal sehingga bobot tubuh ikan mas koki meningkat. Pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan akan akan dimanfaatkan dengan baik untuk pertumbuhan, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Islamiyah et al. 2018). Protein dan kelebihan sumber energi yang digunakan untuk metabolisme dan aktifitas akan disimpan dalam tubuh yang kemudian diekspresikan dalam bentuk pertambahan bobot dan panjang (Islamiyah et al. 2018).
Berdasarkan hasil statistik rata-rata pertambahan bobot ikan mas koki pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg (15,84 g), hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan esktrak buah mengkudu 1000 mg/kg (16,61 g). Hal tersebut kemungkinan dikarenakan kadar air pada buah mengkudu sangat sedikit, yang menyebabkan tekstur pelet menjadi lebih keras sehingga sulit dicerna oleh ikan mas koki. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingkat kekerasan bahan pangan semakin rendah, sedangkan kadar air yang rendah menyebabkan tekstur bahan menjadi keras (Buckle et al, 1989). Oleh karena itu, dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1000 mg/kg pada pakan merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan.
19
4.3. Sintasan Ikan Mas Koki
Pengukuran sintasan ikan mas koki strain Mutiara dilakukan pada semua ikan uji yang digunakan selama 84 hari diberikan pakan perlakuan. Pengukuran ini dilakukan dengan menghitung jumlah ikan yang hidup setiap dilakukan pengamatan. Rata-rata persentase sintasan masing-masing perlakuan berbeda (Gambar 7).
Gambar 7. Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki
Penambahan dosis EBM yang berbeda memberikan pengaruh (sig<0.05) (Lampiran 6) terhadap persentase sintasan ikan mas koki selama 84 hari pengamatan. Hasil uji Duncan yang diperoleh menunjukkan perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 0, 500, 1000, dan 1500 (mg/kg pakan) memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap persentase sintasan ikan mas koki (Lampiran 6). Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki menunjukkan hasil tertinggi setelah 84 hari pengamatan terdapat pada perlakuan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1000 mg/kg pakan (98,44%), sedangkan terendah pada perlakuan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 0 mg/kg pakan (62,5%). Hal
Ke-0 mg/kg 500 mg/kg 1000 mg/kg 1500mg/kg
20
tersebut kemungkinan dikarenakan penambahan ekstrak buah mengkudu dalam pakan sebagai senyawa antioksidan alami. Antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah mengkudu berfungsi sebagai ketahanan tubuh. Kandungan senyawa aktif terutama asam askorbat, flavonoid, dan kandungan asam amino dalam mengkudu mampu berperan dalam menstimulasi leukosit sebagai pertahanan non spesifik sehingga dapat berfungsi sebagai immunostimulan (Herlina, 2017). Selain itu, senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah mengkudu mampu menghentikan proses kerusakan sel (Sayuti & Yenrina, 2015), sehingga ikan mas koki mampu bertumbuh dan mempertahankan kehidupannya.
Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg (93,75 %), hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan esktrak buah mengkudu 1000 mg/kg (98,44 %). Hal ini kemungkinan terjadi karena tekstur pelet yang lebih keras akibat kadar air dalam buah mengkudu rendah, sehingga pakan sulit dicerna oleh ikan mas koki dan menyebabkan ikan mas koki tidak mampu mempertahankan kehidupannya. Sesuai dengan pernyataan Effendie (1997), bahwa pakan berfungsi untuk mempertahankan hidup ikan dan kelebihannya baru dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan tersebut.
4.4. Analisis Proksimat
Uji proksimat merupakan parameter penunjang untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah mengkudu (EBM) yang ditambahkan ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas koki strain Mutiara. Pakan perlakuan yang akan digunakan di uji untuk mengetahui kandungan nutrisi didalamnya (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil analisis proksimat pakan uji di Laboratorium Balai Riset dan
Keterangan: Hasil uji = penambahan ekstra buah mengkudu 0, 500, 1000, dan 1500 (mg/kg) pada pakan; SNI = Standar Nasional Indonesia
21
Berdasarkan hasil analisis proksimat yang diperoleh kadar air pada pakan yang ditambahkan EBM berkisar 4,6-5,6%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 7,9%. Menurut Astari, Setyawati, & Yanti (2016), daya tahan pakan menentukan tingkat kekeringan pakan, sehingga jika pakan buatan mengandung banyak air dan menyebabkan tingginya kelembaban dapat membuat pakan ditumbuhi jamur.
Kadar lemak pada perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 6,1-6,9%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 8,8%.
Hal ini menunjukkan bahwa kadar lemak pada pakan perlakuan masih dalam batas optimum untuk pembesaran ikan. Dalam hal ini kadar lemak pada pakan perlakuan tidak mempengaruhi pertumbuhan ikan mas koki.
Kadar protein pada pakan perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 34,0-35,3%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 35,7%. Protein dan kelebihan sumber energi yang digunakan untuk metabolisme dan aktifitas akan disimpan dalam tubuh yang kemudian diekspresikan dalam bentuk pertambahan bobot dan panjang (Islamiyah et al. 2018). Namun dalam hal ini kandungan protein yang terdapat dalam pakan tidak mempengaruhi pertumbuhan. Hal ini dikarenakan pada Tabel 4 kadar protein dalam perlakuan C2 lebih kecil dibanding perlakuan K dan C3, sedangkan pada hasil pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan C2 lebih tinggi dibanding perlakuan yang lain.
Kadar serat kasar pada pakan yang ditambahkan EBM berkisar 6,1-7,6%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 10,1%.
Menurut Handajani (2011), kadar serat kasar yang baik untuk pertumbuhan ikan maksimal 10%, hal ini dikarenakan pengunaan serat kasar yang tinggi dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan daya ikat pakan sehingga tekstur pakan mudah hancur dan kandungan nutrisi akan mudah larut dalam air. Oleh karena itu, pakan perlakuan C2 dapat meningkatkan nafsu makan ikan serta menjaga kualitas dan kuantitas nutrisi pakan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ikan.
Kadar abu pada pakan perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 12,4-13,7%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 15,5%.
Kandungan abu yang terdapat dalam pakan perlakuan lebih kecil dibanding pakan
22
perlakuan yang lain. Berdasarkan persyaratan mutu pakan ikan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan SNI 01-4266.-2006, kandungan proksimat yang terdapat dalam pakan telah memenuhi standar yang dianjurkan.
4.5. Uji Kualitas Air
Uji kualitas air merupakan parameter penunjang untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah mengkudu (EBM) yang ditambahkan ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas koki strain Mutiara. Kualitas air sangat mempengaruhi dalam pemeliharaan ikan (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil uji kualitas air di Laboratorium Balai Riset dan Budidaya Ikan Hias, Depok
Keterangan: SNI = Standar Nasional Indonesia
Berdasarkan hasil uji kualitas air yang telah dilakukan, air yang digunakan selama pemeliharaan ikan mas koki telah memenuhi kadar yang dianjurkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan SNI 01-7872-2013, standar produksi ikan mas koki. Suhu berada pada kisaran 22-28 oC. Kadar DO selama pemeliharaan berkisar antara 5,71-6,29 ppm. Kadar pH yang diperoleh selama pemeliharaan berkisar antara 6,88-7,67, Pada saat penelitian kisaran amonia dan nitrit yang diperoleh antara 0,2-0,3 ppm. Kadar suhu, DO, pH, amonia, dan nitrit selama pemeliharaan harus memenuhi standar mutu yang dianjurkan dalam SNI sehingga dapat menunjang kehidupan ikan mas koki.
23 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1. Kesimpulan
Penambahan 1000 mg/kg ekstrak buah mengkudu pada pakan merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan ikan mas koki.
Kandungan proksimat yang terdapat dalam pakan meliputi kadar air, abu, lemak, protein, dan serat kasar sesuai dengan persyaratan mutu pakan ikan. Kualitas air yang meliputi kadar DO, suhu, pH, amonia, dan nitrit menunjukkan dalam batas normal untuk pemeliharaan ikan mas koki.
1.2. Saran
Percobaan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg pada pakan menunjukkan pertumbuhan dan sintasan ikan mas koki menurun, hal ini mungkin disebabkan karena kandungan buah mengkudu memiliki kadar air yang sedikit membuat pelet menjadi lebih keras sehingga sulit dicerna oleh ikan mas koki. Perlu dilalukan percobaan untuk mengetahui dosis optimum dalam penambahan ekstrak buah mengkudu antara 1000 sampai 1500 mg/kg pada pakan.
24 DAFTAR PUSTAKA
Adawiah, Sukandar, D., & Muawanah, A. (2004). New FTIR method for the determination of FFA in oils. JAOCS, Journal of the American Oil Chemists’
Society, 81(5), 441–446. https://doi.org/10.1007/s11746-004-0920-9
Al-Noor, S. S. (2010). Population status of gold fish Carassius auratus in Restored East Hammar Marsh, Southern Iraq. Journal of King Abdulaziz University, Marine Science, 21(1), 65–83. https://doi.org/10.4197/Mar.21-1.3
Andriyan, M. F., Rahmaningsih, S., & Firmani, U. (2018). Pengaruh salinitas terhadap tingkat kelangsungan hidup dan profil darah ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi kombinasi pakan dan buah mengkudu (Morinda citrifolia L.). Jurnal Perikanan Pantura (JPP), 1(1), 1–9.
Anwar, K., & Triyasmono, L. (2016). Kandungan total fenolik, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah mengkudu (Morinda citrifolia L.).
Jurnal Pharmascience, 3(1), 83–92.
Astari, I. M., Setyawati, T. R., & Yanti, A. H. (2016). Tingkat kecerahan sisik ikan komet yang diberi pakan diperkaya rumput laut Sargassum sp. dan labu kuning Cucurbita moschata. Jurnal Akuakultur Indonesia, 15(1), 80–88.
https://doi.org/10.19027/jai.15.80.88
Ayanbule, F., Li, G., Peng, L., Nowicki, J., & Anderson, G. (2011). Anti-jugular vein thrombotic effect of Morinda citrifolia L. [noni] in male SD rats.
Functional Foods in Health and Disease, 1(9), 297–309.
Babbar, N., Sandhu, H. S. O. S. K., Kumar, V., & Bhargav. (2014). Influence of different solvents in extraction of phenolic compounds from vegetable residues and their evaluation as natural sources of antioxidants. J Food Sci Technol, 51(10), 2568–2575. https://doi.org/10.1007/s13197-012-0754-4 Brough, D. (2015). Pearlscale Goldfish. http://animal-world.com/. Diakses pada 18
Januari 2020 pukul 09.08 WIB
Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H. dan Wootton, M. (1989). Ilmu Pangan.
Penerbit UI Press. Jakarta
Cholifah, D., Febriani, M., Ekawati, A. W., & Risjani, Y. (2012). Pengaruh penggunaan tepung silase daun mengkudu (Morinda citrifolia) dalam formula pakan terhadap pertumbuhan ikan sidat (Anguilla bicolor). Jurnal Kelautan, 5(2).
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). (2018). Laporan Kinerja DJPB 2018. https://kkp.go.id/. Diakses pada 16 Januari 2020 pukul 21.45 WIB Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). (2019). Laporan Kinerja DJPB
Triwulan III 2019. https://kkp.go.id/. Diakses pada 16 Januari 2020 pukul 21.55 WIB
Djauhariya, E. (2003). Mengkudu (Morinda citrifolia L.) tanaman obat potensial.
Pengembangan Teknologi, 15(2), 1-16.
25
Djauhariya, E., & Rahardjo, M. (2006). Karakterisasi morfologi dan mutu buah mengkudu. Buletin Plasma Nutfah, 12(1), 1–8.
Effendie, M. I. (1997). Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama.
Yogyakarta.
Erlangga, Ezraneti, R., & Mawardi. (2017). Pengaruh respon pakan pada ikan mas koki (Carasias auratus) dengan ransangan warna lampu. Berkala Perikanan Terubuk, 45(2), 12–18.
Handajani, H. (2011). Optimalisasi substitusi tepung azolla terfermentasi pada pakan ikan untuk meningkatkan produktivitas ikan nila gift. Jurnal Teknik Industri, 12(02), 177–181.
Hasri, Maryono, & Sari, T. (2018). The analysis total phenolic extract noni fruit (Morinda citrifolia L.) as inhibiting activity of bacteria. Analytical and Environmental Chemistry, 3(01), 22–29.
Islamiyah, D., Rachmawati, D., & Susilowat, T. (2018). Pengaruh penambahan madu pada pakan buatan dengan dosis yang berbeda terhadap performa laju pertumbuhan relatif, efisiensi pemanfaatan pakan dan kelulushidupan ikan bandeng (Chanos chanos). PENA Akuatika, 17(2), 19–33.
Iswardiyantok, 2014. Prevalensi dan intensitas ikan maskoki (Carassius auratus) yang terserang Lernaea cyprinacea di sentra budidaya ikan maskoki Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya.
Kafa, M. H. W., Hidayat, N., & Cholissodin, I. (2019). Diagnosis penyakit ikan mas koki menggunakan metode Naïve Bayes Classifier. Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi Dan Ilmu Komputer, 3(1), 472–480.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). (2018). Ajak Masyarakat Cintai Ikan Mas Koki. https://kkp.go.id/. Diakses pada 18 November 2019 pukul 22.30 WIB
Lisser, D. F. J., Lister, Z. M., Pham-Ho, P. Q. H., Scott, G. R., & Wilkie, M. P.
(2017). Relationship between oxidative stress and brain swelling in goldfish (Carassius auratus) exposed to high environmental ammonia. American Journal of Physiology - Regulatory Integrative and Comparative Physiology, 312(1), R114–R124. https://doi.org/10.1152/ajpregu.00208.2016
Mattjik, A.A & Sumertajaya, M. (2006). Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab Jilid II. IPB Press. Bogor.
Ningsi, S. W., Kurnia, A., & Nur, I. (2018). The effect of addition of mangosteen (Garcinia mangostana L .) peel flour to the brightness level of clown fish.
Media Akuatika, 3(1), 564–571.
Rezaeizadeh, A., Zuki, A. B. Z., Abdollahi, M., Goh, Y. M., Noordin, M. M., Hamid, M., & Azmi, T. I. (2011). Determination of antioxidant activity in methanolic and chloroformic extracts of Momordica charantia. African Journal of Biotechnology, 10(24), 4932–4940.
26
https://doi.org/10.5897/AJB10.1972
Roziq, M. F., Soetriono, & Suwandari, A. (2016). Faktor yang mempengaruhi pendapatan dan strategi pengembangan budidaya ikan mas koki di desa wajak lor kecamatan boyolangu kabupaten tulungagung. Journal of Social and Agricultural Economics, 9(2), 3–4.
Rustanti, N., Murwani, R., & Anwar, S. (2011). Efek ekstrak etanol Morinda citrifolia L (Mengkudu) terhadap kadar gula darah, jumlah neutrofil, dan fibronektin glomerulus tikus diabetes mellitus. Media Medika Indonesiana, 45(5), 194–199. https://doi.org/10.1021/jo301196m
Saanin, H. (1984). Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta. Bogor Sayuti, K. & Yenrina, R. (2015). Antioksidan Alami dan Sintetik. Universitas
Andalas Press. Padang.
Sinha, A. K., AbdElgawad, H., Giblen, T., Zinta, G., De Rop, M., Asard, H., … De Boeck, G. (2014). Anti-oxidative defences are modulated differentially in three freshwater teleosts in response to ammonia-induced oxidative stress.
PLoS ONE, 9(4). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0095319
Smartt, J. (2001). Goldfish Varieties and Genetics: Handbook for Breeders.
Blackwell Science Ltd. London.
Solihah, R., Buwono, I. D., & Herawati, T. (2015). Pengaruh penambahan tepung labu kuning dan tepung kepala udang terhadap peningkatan kualitas warna ikan mas koki (Carassius auratus). Jurnal Perikanan Kelautan, 6(2), 107–
115.
Solomon. (1999). The Noni Phenomenon. Direct Source Publishing, Utah.
Suhendri, H., Harris, H., & Utpalasari, R. L. (2018). Kombinasi pakan komersil dengan cacing darah (Chironomus sp.) terhadap pertumbuhan, dan kelangsungan hidup. Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan Dan Budidaya Perairan, 13(1), 37–44.
Street, R. (2002). “Carassius auratus” [terhubung berkala]. Animal Diversity web.
https://animaldiversity.org/accounts/Carassius_auratus/. Diakses pada 27 Nov 2018.
Sujito. (2017). Pengaruh pemberian ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap tingkat kanibalisme benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus).
[Tesis]. Universitas Muhammadiyah Gresik. Tidak di Publikasi.
Syahrizal, Ghofur, M., & Aljumrada, A. (2017). Dampak pemberian tepung eceng gondok (Eichhornia Crassipes) dalam pakan buatan bagi perubahan warna dan kelangsungan hidup ikan mas koki (Carassius Auratus). Jurnal Akuakultur Sungai Dan Danau, 2(2), 72–82.
Sylvawan, Hasan, H., & Sunarto. (2014). Efektifitas ekstrak buah mengkudu (Morinda cirtifolia) untuk mengurangi tingkat kanibalisme benih ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) dengan metode bioenkapsulasi. Jurnal Ruaya, 2, 44–
27
52.
Wahyuningsih, H. & Barus, T.A. (2006). Buku Ajar Ikhtiologi. Universitas Sumatera Utara Press. Medan.
Yang, W., Sun, H., Xiang, F., Yang, Z., & Chen, Y. (2011). Response of juvenile crucian carp (Carassius auratus) to long-term ammonia exposure: feeding, growth, and antioxidant defenses. Journal of Freshwater Ecology, 26(4), 563–
570. https://doi.org/10.1080/02705060.2011.570944
Yang, W., Xiang, F., Liang, L., & Yang, Z. (2010). Toxicity of ammonia and its effects on oxidative stress mechanisms of juvenile crucian carp (Carassius auratus). Journal of Freshwater Ecology, 25(2), 297–302.
https://doi.org/10.1080/02705060.2010.9665080
28 LAMPIRAN - LAMPIRAN
Lampiran 1. Tata letak rak akuarium (a), dan aerator (b)
(a) (b)
29
Lampiran 2. Desain Akuarium Peneltian
Keterangan:
K1 = pakan dengan dosis 0 mg/kg pakan pelet EBM
K2 – K4 = pakan dengan dosis 0 mg/kg pakan pelet EBM ulangan C11 = pakan dengan dosis 500 mg/kg pakan pelet EBM
C12 – C14 = pakan dengan dosis 500 mg/kg pakan pelet EBM ulangan C21 = pakan dengan dosis 1000 mg/kg pakan pelet EBM
C22 – C24 = pakan dengan dosis 1000 mg/kg pakan pelet EBM ulangan C31 = pakan dengan dosis 1500 mg/kg pakan pelet EBM
C32 – C34 = pakan dengan dosis 1500 mg/kg pakan pelet EBM ulangan
K3 C23 C21 C34 C14 C31 C22 C24
C12 C13 C33 C32 K4 K2 C11 K1
30
Lampiran 3. Prosedur pembuatan pakan ikan meliputi penimbangan (a), homogenisasi (b), penggilingan (c), peletakkan (d), pengeringan (e), penyimpanan (f)
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
31
Lampiran 4. Analisis penambahan dosis ekstrak buah mengkudu yang berbeda menggunakan ANOVA terhadap panjang ikan mas koki
Keterangan = K : penambahan EBM 0 mg/kg pakan; C1 : penambahan EBM 500 mg/kg pakan; C2 : penambahan EBM 1000 mg/kg pakan; C3 : penambahan EBM 1500 mg/kg pakan.
32
Lampiran 5. Analisis penambahan dosis ekstrak buah mengkudu yang berbeda menggunakan ANOVA terhadap bobot ikan mas koki
Keterangan = K : penambahan EBM 0 mg/kg pakan; C1 : penambahan EBM 500 mg/kg pakan; C2 : penambahan EBM 1000 mg/kg pakan; C3 : penambahan EBM 1500 mg/kg pakan.
33
Lampiran 6. Analisis penambahan dosis ekstrak buah mengkudu yang berbeda menggunakan ANOVA terhadap sintasan ikan mas koki
Keterangan = K : penambahan EBM 0 mg/kg pakan; C1 : penambahan EBM 500 mg/kg pakan; C2 : penambahan EBM 1000 mg/kg pakan; C3 : penambahan EBM 1500 mg/kg pakan.