BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Pertumbuhan dan Sintasan Ikan
Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran, bobot atau panjang dalam waktu tertentu. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu faktor luar (makanan, suhu perairan, pH, dan salinitas air, dan faktor dari dalam (keturunan, jenis kelamin, umur, parasit dan penyakit) (Effendie, 1997). Menurut Syahrizal et al. (2017), pengaruh makanan yang diberikan untuk ikan mas koki mampu dimanfaatkan dengan baik jika makanan yang digunakan cukup dan kandungan nutrisi semakin lengkap dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan. Cholifah, Febriani, Ekawati, dan Risjani (2012), menggunakan 15% tepung silase daun mengkudu untuk mensubstitusi protein tepung ikan untuk meningkatkan laju pertumbuhan spesifik 0,72 %BB/hari pada ikan sidat (Anguilla bicoor).
Menurut Effendie (1997), sintasan merupakan peluang hidup pada suatu individu dalam rentang waktu tertentu. Sintasan ikan pada masa larva dan benih ditentukan oleh ketersediaan makanan, sehingga ikan dapat mengalami kematian dalam waktu singkat jika tidak mendapatkan makanan (Ningsi, Kurnia, & Nur, 2018). Nilai sintasan ikan rata-rata yang baik berkisar 73,5%-86,0% (Andriyan, Rahmaningsih, & Firmani, 2018). Penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Syahrizal et al. (2017) menunjukkan sintasan ikan mas koki yang ditambahkan ekstrak eceng gondok pada pakan rata-rata >90%. Hal ini dikarenakan ikan mas koki memanfaatkan pakan buatan selain untuk mempertahankan hidup juga untuk pertumbuhan (Syahrizal et al. 2017).
10 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - November 2019 di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH), di Jl. Perikanan No.13 Pancoran Mas, Depok.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah 256 ekor benih ikan mas koki (C. auratus) strain Mutiara dari BRBIH, air tandon, pakan ikan, dan ekstrak buah mengkudu koleksi BRBIH.
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah baskom, saringan ikan, 16 akuarium berukuran 40 x 40 x 35 cm, timbangan presisi, gelas ukur, DO meter, pH indikator, plastik 2 kg, label, solatip, saringan bertingkat, oven, blender, nampan, alat penggilingan, aerator, selang 4 mm, dan kertas millimeter blok atau penggaris.
3.3. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental, dengan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan Pengamatan Berulang (Repeated Measurement) (Mattjik & Sumertajaya, 2006). Penelitian ini terdiri dari empat perlakuan dengan masing-masing empat kali pengulangan. Sampel yang digunakan yaitu K = Penambahan ekstrak buah mengkudu 0 mg/kg pakan (kontrol), C1 = Penambahan ekstrak buah mengkudu 500 mg/kg pakan, C2 = Penambahan ekstrak mengkudu 1000 mg/kg pakan, dan C3 = Penambahan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg pakan.
Ikan uji yang digunakan berjumlah 16 ekor per akuarium. Akuarium pada penelitian ini disimpan didalam ruangan dan diletakkan pada rak (Lampiran 1). Rak atas dan rak bawah masing-masing menyimpan delapan akuarium. Ruangan yang digunakan terdapat lampu yang biasanya dinyalakan hanya pada malam hari dan pada siang harinya hanya menggunakan cahaya matahari yang masuk melalui jendela dalam ruangan. Kode tiap perlakuan diberikan di pojok kiri atas akuarium
11
dengan dilapisi solatip, dimulai dari sebelah kanan atas rak akuarium, dilanjutkan berurutan ke sebelah kiri sampai pada akuarium yang terdapat di bawah kanan rak (Lampiran 2).
3.4. Cara Kerja
3.4.1. Pembuatan Pakan Perlakuan
Pakan di formulasikan dahulu untuk memperoleh kandungan nutrisi pakan yang sesuai perlakuan. Adapun bahan dasar pakan yang digunakan yaitu tepung ikan 380 g, tepung kedelai 260 g, tepung terigu 90 g, tepung tapioka 90 g, tepung polar 90 g, minyak ikan 15 g, minyak sayur 15 g, premik vitamin mineral 60 g.
Bahan dasar pakan yang akan digunakan dalam penelitian ditimbang terlebih dahulu. Kesemua bahan dicampur sampai merata. Bahan yang sudah dicampur, ditimbang masing-masing 1 kg dipisahkan ke dalam empat baskom yang berbeda. Masing-masing baskom kemudian diberikan kode untuk tiap perlakuan.
Kemudian bahan dasar pakan kontrol yang telah dipisahkan ditambahkan dengan ekstrak buah mengkudu sesuai dosis dalam bentuk powder. Ekstrak buah mengkudu yang digunakan pada penelitian ini merupakan ekstrak dengan kode MC3-18 milik BRBIH.
Semua pakan yang sudah tercampur merata masing-masing ditambahkan air sebanyak ± 600 ml sehingga menjadi adonan yang kemudian digiling dengan mesin. Hasil adonan yang telah digiling diletakkan pada loyang oven dan diberi label kode. Kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven bersuhu 45 oC selama 24 jam, dan diblender hingga menjadi hancur dan berbentuk seperti ganula.
Ganula ini yang disebut pelet. Pelet yang hancur tersebut diayak menggunakan saringan bertingkat. Pelet yang digunakan untuk penelitian berukuran 425-600 µm, kemudian disimpan dalam plastik yang telah diberikan label kode, diikat rapat, dan disimpan di dalam freezer agar tahan lama dan mencegah pertumbuhan jamur.
Tahapan pembuatan pakan buatan dapat dilihat pada Lampiran 3.
3.4.2. Analisis Proksimat
Uji proksimat ini dilakukan pada semua pakan perlakuan, sebelum diberikan ke ikan. Prosedur uji proksimat yang diuji meliputi analisis kadar air,
12
kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan kadar serat kasar. Prosedur analisis proksimat kadar protein menggunakan prosedur AOAC (Association of Official Analytical Cheist) tahun 1980, kadar abu AOAC tahun 2005 sedangkan kadar air, kadar lemak dan kadar serat kasar menggunakan prosedur SNI 01-2891-1992.
Prosedur analisis proksimat dilakukan di Laboratorium BRBIH.
3.4.3. Persiapan Wadah dan Ikan Mas Koki Uji
Sebanyak 16 wadah akuarium yang akan digunakan dalam penelitian ini terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran dengan cara diisi air ± 48 L kemudian ditambahkan larutan methylene blue (MB) ± 16 tetes untuk disinfeksi selama 3 x 24 jam. Setelah itu akuarium di bilas dengan air mengalir sampai bersih, dikeringkan selama 3 x 24 jam. Kemudian diisi air dengan ketinggian ± 22 cm dan volume 35,2 L. Masing-masing akuarium diberikan alat aerator untuk menunjang kehidupan ikan (Lampiran 1). Air yang digunakan berasal dari air tandon. Wadah akuarium diberi label kode pada dinding sebelah kiri atas akuarium dengan dilapisi solatip agar tidak basah. Ikan yang digunakan pada penelitian ini adalah 256 ekor benih ikan mas koki dengan masing-masing 16 ekor per akuarium (C. auratus) strain Mutiara yang diperoleh dari BRBIH dengan panjang total tubuh awal 2,7 ± 0,22 cm, bobot tubuh awal 1,20 ± 0,02 g dan berumur 1,5 bulan.
3.4.4. Pemeliharaan Ikan Mas Koki
Ikan mas koki yang telah ditebar ke dalam akuarium dipuasakan selama 24 jam agar menyesuaikan dengan lingkungan akuarium yang baru. Kemudian diadaptasikan terlebih dahulu selama 14 hari dengan diberi pakan kontrol secara restricted food atau pemberian pakan yang dibatasi dengan menyesuaikan kebutuhan ikan berdasarkan bobotnya. Setelah masa adaptasi selesai dilakukan pengukuran kembali sebagai data awal panjang total, bobot dan sintasan ikan mas koki pada pagi hari pukul 07.30 WIB dan sore hari pukul 15.30 WIB. Panjang total ikan mas koki setelah masa adaptasi 2,8 ± 0,13 cm dan bobot 1,55 ± 0,37 g. Setelah itu ikan dipuasakan selama 24 jam kembali. Pada pagi hari berikutnya ikan mulai diberikan pakan tiap perlakuan pukul 07.30-07.45 WIB. Kemudian setiap 14 hari dilakukan pengukuran pertumbuhan dan sintasan ikan setelah diberikan perlakuan.
13
Pemeliharaan ikan mas koki dilakukan selama 98 hari dengan pemberian pakan 5% dari ke-16 bobot tubuh ikan untuk dua kali makan yaitu pagi dan sore hari. Untuk menjaga sintasan ikan mas koki semua akuarium dibersihkan setiap hari untuk menghilangkan kotoran dan sisa pakan dengan menggunakan selang (penyiponan). Penyiponan dilakukan 2 jam setelah ikan diberi pakan. Pergantian air dilakukan setiap minggu untuk mengurangi tingkat stress pada ikan.
3.4.5. Pengukuran Parameter Penelitian
Parameter penelitian ini terdiri atas pertumbuhan panjang total, bobot dan sintasan ikan mas koki. Pengukuran dilakukan setiap 14 hari sekali sampai pada hari ke-84, dengan 6 kali pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan setiap pagi hari pukul 07.30 WIB, sebelumnya ikan tidak diberi makan dan baru di berikan kembali pada sore hari.
3.4.5.1. Panjang Total Ikan Mas Koki
Pengukuran panjang total tubuh ikan mas koki diukur dengan menggunakan penggaris/milimeter blok dari ujung mulut ikan sampai ujung ekor tepanjang ikan.
Pengukuran ini dilakukan setiap 14 hari sekali pada pukul 07.30 WIB. Rerata panjang total ikan saat akhir penelitian dikurangi dengan rerata panjang total ikan saat awal penelitian.
3.4.5.2. Bobot Ikan Mas Koki
Pengukuran bobot ikan mas koki dilakukan dengan menggunakan timbangan presisi. Pengukuran ini dilakukan setiap 14 hari sekali pada pukul 07.30 WIB. Rerata bobot ikan saat akhir penelitian dikurangi dengan rerata bobot ikan saat awal penelitian.
3.4.5.3. Sintasan Ikan Mas Koki
Pengamatan ini dilakukan dengan melihat jumlah ikan yang masih hidup pada setiap perlakuan. Data dicatat setiap 14 hari sekali. Rerata jumlah ikan yang
14
hidup saat akhir penelitian dibagi dengan rerata jumlah ikan yang hidup saat awal penelitian dikalikan 100%.
3.4.6. Uji Kualitas Air
Sampel air yang di uji diperoleh dari air yang ada di akuarium. Tiap masing-masing perlakuan diambil satu akuarium untuk sampel kualitas air. Analisis kualitas air dilakukan pada pagi hari pukul 07.30 WIB. Untuk uji kualitas air dilakukan pada awal ikan dimasukkan ke dalam akuarium dan akhir penelitian, parameter yang diukur yaitu pH, suhu, dan DO (Disolved oxygen) dengan memasukkan alat indikator ke dalam air akuarium dan dicatat suhunya, sedangkan amonia (NH3) dan Nitrit (NO2) di uji di Laboratorium BRBIH.
3.4.7. Analisis Data
Data pertumbuhan panjang total, bobot dan sintasan yang diperoleh diolah menggunakan Microsoft Excel 2013. Selanjutnya data diuji dengan Anaysis of Variance (ANOVA) dengan Repeated Measurement pada tingkat kepercayaan 95%
dengan progam SPSS 24.0. Apabila hasil uji antar perlakuan berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan pada α=0,05.
15 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pertambahan Panjang Total Ikan Mas Koki
Pengukuran panjang total tubuh ikan mas koki dilakukan pada semua ikan uji strain Mutiara yang digunakan selama 84 hari setelah diberikan pakan perlakuan. Panjang total awal ikan mas koki pada 14 hari pertama merupakan fase adaptasi dengan rata-rata 2,8 ± 0,13 cm yang dianggap belum terdapat pertambahan (0 cm). Fase ini merupakan fase ikan mas koki beradaptasi dengan jenis pakan dan lingkungan tempat pemeliharaan, kemudian pada 14 hari berikutnya terjadi pertambahan panjang total ikan yang cepat.
Gambar 4. Rata-rata pertambahan panjang total (cm) ikan mas koki
Rata-rata pertambahan panjang total ikan mas koki terus meningkat setiap waktunya (Gambar 4). Penambahan dosis EBM yang berbeda memberikan pengaruh (sig<0.05) (Lampiran 4) terhadap pertambahan panjang total ikan mas koki selama 84 hari pengamatan. Hasil uji Duncan yang diperoleh menunjukkan
-2
Ke-0 mg/kg 500 mg/kg 1000 mg/kg 1500 mg/kg
16
perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 0, 500, dan 1000 (mg/kg pakan) memberikan pengaruh yang berbeda, namun pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1000 dan 1500 mg/kg pakan memiliki pengaruh yang sama terhadap pertambahan panjang total ikan mas koki (Lampiran 4).
Gambar 5. Panjang ikan mas koki pada pengamatan hari ke-84; K = penambahan EBM 0 mg/kg pakan; C1 = penambahan EBM 500 mg/kg pakan; C2 = penambahan EBM 1000 mg/kg pakan; C3 = penambahan EBM 1500 mg/kg pakan
Rata-rata pertambahan panjang total ikan menunjukkan hasil tertinggi setelah 84 hari pengukuran pada perlakuan penambahan 1000 mg/kg pakan sebesar 8,45 cm dan pada perlakuan penambahan 1500 mg/kg pakan sebesar 8,05 cm, sedangkan rata-rata pertambahan panjang total ikan terendah pada perlakuan 0 mg/kg pakan sebesar 0,8 cm (Gambar 5). Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh senyawa flavonoid yang terdapat pada buah mengkudu sebagai antioksidan yang dapat menghambat aktivitas senyawa oksidan dan menjaga kualitas pelet. Sesuai pernyataan Sayuti dan Yenrina (2015), antioksidan yang terdapat dalam makanan mampu menghambat oksidasi dari lemak dan minyak dan meningkatkan stabilitas lemak yang terdapat dalam makanan serta mencegah hilangnya sensori dan nutrisi.
Hal tersebut mampu meningkatkan nafsu makan ikan, yang menyebabkan nutrisi yang terdapat dalam pakan terserap optimal sehingga meningkatkan panjang tubuh
17
ikan mas koki. Pakan yang diberikan dapat termanfaatkan secara efisien dan kandungan protein yang terdapat dalam pakan mampu mencukupi kebutuhan ikan untuk tumbuh dengan optimal (Islamiyah, Rachmawati, & Susilowat, 2018). Selain itu asam askorbat dalam ekstrak buah mengkudu dapat menghambat stress oksidatif pada ikan mas koki, sehingga membantu mempertahankan kondisi tubuh, membantu proses penyembuhan luka, dan mengurangi tingkat stress (Sayuti dan Yenrina 2015).
4.2. Pertambahan Bobot Ikan Mas Koki
Pengukuran bobot tubuh ikan mas koki strain Mutiara yang digunakan dilakukan pada semua ikan uji selama 84 hari setelah diberikan pakan perlakuan.
Bobot awal ikan mas koki pada 14 hari pertama merupakan fase adaptasi dengan rata-rata 1,53 ± 0,18 g yang dianggap belum terdapat pertambahan bobot (0 cm).
Fase ini merupakan fase ikan mas koki beradaptasi dengan jenis pakan dan lingkungan tempat pemeliharaan, kemudian pada 14 hari berikutnya terjadi pertambahan bobot ikan yang cepat.
Gambar 6. Rata-rata pertambahan bobot (g) ikan mas koki
-2
Ke-0 mg/kg 500 mg/kg 1000 mg/kg 1500 mg/kg
18
Pertambahan bobot rata-rata ikan mas koki terus meningkat setiap waktunya (Gambar 6). Penambahan dosis EBM yang berbeda memberikan pengaruh (sig<0.05) (Lampiran 5) terhadap pertambahan bobot ikan mas koki selama 84 hari pengamatan. Hasil uji Duncan yang diperoleh menunjukkan pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 0, 500, dan 1000 (mg/kg) pakan memberikan pengaruh yang berbeda, namun pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1000 dan 1500 mg/kg pakan memiliki pengaruh yang sama terhadap pertambahan bobot ikan mas koki (Lampiran 5).
Rata-rata pertambahan bobot ikan menunjukkan hasil tertinggi setelah 84 hari pengukuran pada perlakuan penambahan 1000 mg/kg pakan sebesar 16,61 g dan pada perlakuan penambahan 1500 mg/kg pakan (15,84 g), sedangkan rata-rata pertambahan bobot ikan terendah pada perlakuan 0 mg/kg pakan (3,88 g). Hal ini kemungkinan terjadi karena pada perlakuan ini terjadi pemanfaatan pakan yang optimal sehingga bobot tubuh ikan mas koki meningkat. Pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan akan akan dimanfaatkan dengan baik untuk pertumbuhan, seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Islamiyah et al. 2018). Protein dan kelebihan sumber energi yang digunakan untuk metabolisme dan aktifitas akan disimpan dalam tubuh yang kemudian diekspresikan dalam bentuk pertambahan bobot dan panjang (Islamiyah et al. 2018).
Berdasarkan hasil statistik rata-rata pertambahan bobot ikan mas koki pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg (15,84 g), hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan esktrak buah mengkudu 1000 mg/kg (16,61 g). Hal tersebut kemungkinan dikarenakan kadar air pada buah mengkudu sangat sedikit, yang menyebabkan tekstur pelet menjadi lebih keras sehingga sulit dicerna oleh ikan mas koki. Kadar air yang tinggi menyebabkan tingkat kekerasan bahan pangan semakin rendah, sedangkan kadar air yang rendah menyebabkan tekstur bahan menjadi keras (Buckle et al, 1989). Oleh karena itu, dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1000 mg/kg pada pakan merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan.
19
4.3. Sintasan Ikan Mas Koki
Pengukuran sintasan ikan mas koki strain Mutiara dilakukan pada semua ikan uji yang digunakan selama 84 hari diberikan pakan perlakuan. Pengukuran ini dilakukan dengan menghitung jumlah ikan yang hidup setiap dilakukan pengamatan. Rata-rata persentase sintasan masing-masing perlakuan berbeda (Gambar 7).
Gambar 7. Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki
Penambahan dosis EBM yang berbeda memberikan pengaruh (sig<0.05) (Lampiran 6) terhadap persentase sintasan ikan mas koki selama 84 hari pengamatan. Hasil uji Duncan yang diperoleh menunjukkan perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 0, 500, 1000, dan 1500 (mg/kg pakan) memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap persentase sintasan ikan mas koki (Lampiran 6). Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki menunjukkan hasil tertinggi setelah 84 hari pengamatan terdapat pada perlakuan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1000 mg/kg pakan (98,44%), sedangkan terendah pada perlakuan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 0 mg/kg pakan (62,5%). Hal
Ke-0 mg/kg 500 mg/kg 1000 mg/kg 1500mg/kg
20
tersebut kemungkinan dikarenakan penambahan ekstrak buah mengkudu dalam pakan sebagai senyawa antioksidan alami. Antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah mengkudu berfungsi sebagai ketahanan tubuh. Kandungan senyawa aktif terutama asam askorbat, flavonoid, dan kandungan asam amino dalam mengkudu mampu berperan dalam menstimulasi leukosit sebagai pertahanan non spesifik sehingga dapat berfungsi sebagai immunostimulan (Herlina, 2017). Selain itu, senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak buah mengkudu mampu menghentikan proses kerusakan sel (Sayuti & Yenrina, 2015), sehingga ikan mas koki mampu bertumbuh dan mempertahankan kehidupannya.
Rata-rata persentase sintasan ikan mas koki pada perlakuan penambahan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg (93,75 %), hasil ini lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan esktrak buah mengkudu 1000 mg/kg (98,44 %). Hal ini kemungkinan terjadi karena tekstur pelet yang lebih keras akibat kadar air dalam buah mengkudu rendah, sehingga pakan sulit dicerna oleh ikan mas koki dan menyebabkan ikan mas koki tidak mampu mempertahankan kehidupannya. Sesuai dengan pernyataan Effendie (1997), bahwa pakan berfungsi untuk mempertahankan hidup ikan dan kelebihannya baru dimanfaatkan untuk pertumbuhan ikan tersebut.
4.4. Analisis Proksimat
Uji proksimat merupakan parameter penunjang untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah mengkudu (EBM) yang ditambahkan ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas koki strain Mutiara. Pakan perlakuan yang akan digunakan di uji untuk mengetahui kandungan nutrisi didalamnya (Tabel 1).
Tabel 1. Hasil analisis proksimat pakan uji di Laboratorium Balai Riset dan
Keterangan: Hasil uji = penambahan ekstra buah mengkudu 0, 500, 1000, dan 1500 (mg/kg) pada pakan; SNI = Standar Nasional Indonesia
21
Berdasarkan hasil analisis proksimat yang diperoleh kadar air pada pakan yang ditambahkan EBM berkisar 4,6-5,6%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 7,9%. Menurut Astari, Setyawati, & Yanti (2016), daya tahan pakan menentukan tingkat kekeringan pakan, sehingga jika pakan buatan mengandung banyak air dan menyebabkan tingginya kelembaban dapat membuat pakan ditumbuhi jamur.
Kadar lemak pada perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 6,1-6,9%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 8,8%.
Hal ini menunjukkan bahwa kadar lemak pada pakan perlakuan masih dalam batas optimum untuk pembesaran ikan. Dalam hal ini kadar lemak pada pakan perlakuan tidak mempengaruhi pertumbuhan ikan mas koki.
Kadar protein pada pakan perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 34,0-35,3%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 35,7%. Protein dan kelebihan sumber energi yang digunakan untuk metabolisme dan aktifitas akan disimpan dalam tubuh yang kemudian diekspresikan dalam bentuk pertambahan bobot dan panjang (Islamiyah et al. 2018). Namun dalam hal ini kandungan protein yang terdapat dalam pakan tidak mempengaruhi pertumbuhan. Hal ini dikarenakan pada Tabel 4 kadar protein dalam perlakuan C2 lebih kecil dibanding perlakuan K dan C3, sedangkan pada hasil pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan C2 lebih tinggi dibanding perlakuan yang lain.
Kadar serat kasar pada pakan yang ditambahkan EBM berkisar 6,1-7,6%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 10,1%.
Menurut Handajani (2011), kadar serat kasar yang baik untuk pertumbuhan ikan maksimal 10%, hal ini dikarenakan pengunaan serat kasar yang tinggi dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan daya ikat pakan sehingga tekstur pakan mudah hancur dan kandungan nutrisi akan mudah larut dalam air. Oleh karena itu, pakan perlakuan C2 dapat meningkatkan nafsu makan ikan serta menjaga kualitas dan kuantitas nutrisi pakan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ikan.
Kadar abu pada pakan perlakuan dengan menambahkan EBM berkisar 12,4-13,7%, sedangkan pada pakan perlakuan tanpa menambahkan EBM sebesar 15,5%.
Kandungan abu yang terdapat dalam pakan perlakuan lebih kecil dibanding pakan
22
perlakuan yang lain. Berdasarkan persyaratan mutu pakan ikan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan SNI 01-4266.-2006, kandungan proksimat yang terdapat dalam pakan telah memenuhi standar yang dianjurkan.
4.5. Uji Kualitas Air
Uji kualitas air merupakan parameter penunjang untuk mengetahui pengaruh ekstrak buah mengkudu (EBM) yang ditambahkan ke dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan benih ikan mas koki strain Mutiara. Kualitas air sangat mempengaruhi dalam pemeliharaan ikan (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil uji kualitas air di Laboratorium Balai Riset dan Budidaya Ikan Hias, Depok
Keterangan: SNI = Standar Nasional Indonesia
Berdasarkan hasil uji kualitas air yang telah dilakukan, air yang digunakan selama pemeliharaan ikan mas koki telah memenuhi kadar yang dianjurkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan SNI 01-7872-2013, standar produksi ikan mas koki. Suhu berada pada kisaran 22-28 oC. Kadar DO selama pemeliharaan berkisar antara 5,71-6,29 ppm. Kadar pH yang diperoleh selama pemeliharaan berkisar antara 6,88-7,67, Pada saat penelitian kisaran amonia dan nitrit yang diperoleh antara 0,2-0,3 ppm. Kadar suhu, DO, pH, amonia, dan nitrit selama pemeliharaan harus memenuhi standar mutu yang dianjurkan dalam SNI sehingga dapat menunjang kehidupan ikan mas koki.
23 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1. Kesimpulan
Penambahan 1000 mg/kg ekstrak buah mengkudu pada pakan merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan ikan mas koki.
Kandungan proksimat yang terdapat dalam pakan meliputi kadar air, abu, lemak, protein, dan serat kasar sesuai dengan persyaratan mutu pakan ikan. Kualitas air yang meliputi kadar DO, suhu, pH, amonia, dan nitrit menunjukkan dalam batas normal untuk pemeliharaan ikan mas koki.
1.2. Saran
Percobaan dengan menambahkan ekstrak buah mengkudu 1500 mg/kg pada pakan menunjukkan pertumbuhan dan sintasan ikan mas koki menurun, hal ini mungkin disebabkan karena kandungan buah mengkudu memiliki kadar air yang sedikit membuat pelet menjadi lebih keras sehingga sulit dicerna oleh ikan mas koki. Perlu dilalukan percobaan untuk mengetahui dosis optimum dalam penambahan ekstrak buah mengkudu antara 1000 sampai 1500 mg/kg pada pakan.
24 DAFTAR PUSTAKA
Adawiah, Sukandar, D., & Muawanah, A. (2004). New FTIR method for the determination of FFA in oils. JAOCS, Journal of the American Oil Chemists’
Society, 81(5), 441–446. https://doi.org/10.1007/s11746-004-0920-9
Al-Noor, S. S. (2010). Population status of gold fish Carassius auratus in Restored
Al-Noor, S. S. (2010). Population status of gold fish Carassius auratus in Restored