• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanggungjawaban Pihak-pihak Yang Terkait Dalam

BAB III : URAIAN TEORITIS TENTANG SERTIFIKAT

A. Pertanggungjawaban Pihak-pihak Yang Terkait Dalam

Penggunaan Sertifikat Deposito Sebagai Surat Berharga? Kedua, bagaimana bentuk-bentuk wanprestasi dalam perjanjian yang mempergunakan sertifikat deposito sebagai jaminan? Ketiga, bagaimana kedudukan sertifikat deposito dapat dikatakan sebagai salah satu surat berharga?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum yang berlaku. Undang-undang yang dimaksud adalah UU No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan, kemudian KUHD dan beberapa penelitian, buku, majalah serta makalah yang membahas tentang permasalahan yang sejenis.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah: Pertama, Tanggung jawab bank meliputi menjaga keamanan sertifikat deposito pada saat pembayaran apabila ditangguhkan untuk sementara, serta menilai dan memastikan bahwa pemegang terakhir adalah pemegang yang tidak beritikad buruk atau pemegang yang berhak karena telah membuktikannya di luar adanya laporan dari pihak kepolisian. Dengan kata lain tanggung jawab secara perdata bank hanyalah sebatas pembayaran sertifikat deposito kepada pemegang yang sebenarnya, dan bank tidak bertanggung jawab apabila terjadi kehilangan sertifikat deposito. Kedua, Berdasarkan Pasal 1243 jo. Pasal 1763 KUHPer, faktor cidera janji atau wanprestasi oleh debitur antara lain lalai memenuhi perjanjian, tidak menyerahkan atau membayar kewajibannya dalam jangka waktu yang ditentukan, tidak berbuat sesuai yang dijanjikan dalam tenggang waktu yang ditentukan, tidak mengembalikan pinjaman sesuai dengan jumlah pinjaman dalam waktu yang ditentukan. Ketiga, kedudukan sertifikat deposito dikatakan sebagai surat berharga yang lahir karena kebutuhan dalam bidang perbankan dan surat berharga yang diatur di luar KUHD yakni tunduk pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan ditujukan bagi Lembaga Keuangan Bukan Bank yang menerbitkan sertifikat deposito bersama dengan Bank Indonesia ditujukan bagi bank yang menerbitkan sertifikat deposito.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas Kasih Karunia-Nya, penulis mampu untuk menjalani perkuliahan sampai pada tahap penyelesaian skripsi pada Departemen Hukum Keperdataan Program Kekhususan Hukum Perdata Dagang di Fakultas Hukum Universitas ini, karena tanpa pertolongan-Nya penulis tidak dapat menyelesaikan skripsi ini, tetapi oleh karena hikmat yang diberikan-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan semuanya dengan baik.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk melengkapi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara. Adapun judul dari skripsi ini adalah “ASPEK HUKUM TENTANG SERTIFIKAT DEPOSITO SEBAGAI

SURAT BERHARGA”. Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari

dengan sepenuhnya bahwa hasil yang diperoleh masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis akan sangat berterima kasih jika ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini ke depan dan terlebih-lebih kepada penulis sendiri.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum., selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Syarifuddin, SH, MH, DFM., selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Bapak M. Husni, SH, MS., selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

5. Bapak Dr. Hasim Purba, SH, M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Universitas Sumatera Utara Medan.

6. Bapak Prof. Dr. H. Tan Kamello, SH, MS., sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

7. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang juga telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

8. Bapak Dr. M. Hamdan, SH, MH., selaku Dosen Wali penulis selama mengikuti masa perkuliahan.

9. Bapak dan Ibu Dosen Staf Pengajar yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan beserta seluruh Staf Pegawai yang turut mendukung segala urusan perkuliahan dan administrasi penulis selama perkuliahan.

10.Orang tua penulis : Ayahanda tersayang A. Rajagukguk love u daddy, dan Ibunda yang hebar luar biasa R. Br Nainggolan, love u so much mom,

yang telah memberikan segenap kasih sayang dan perhatian, doa, bimbingan yang tulus, kerja keras serta perjuangan untuk mencukupi segala kebutuhan penulis, hingga penulis mendapatkan gelar Sarjana Hukum, hanya ucapan terima kasih dan doa yang dapat penulis sampaikan.

11.Buat adekku yang tersayang Rifka Sodang Margaretha Rajagukguk, atas motivasi dan dukungan selama ini dan semua yang telah diberikan kepada

penulis.

12.Keluarga Besar Rajagukguk dan Nainggolan, yang tak bisa dituliskan satu persatu, atas bantuan, doa dan dukungan kepada penulis.

13.Buat mereka yang spesial dan sangat berarti dalam hidup penulis, atas Cinta dan Kasih Sayang yang diberikan setulus hati, membantu perkuliahan penulis dan memberikan semangat serta doa bagi penulis dari awal perkuliahan sampai penyelesaian skripsi ini.

14.Keluarga Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

15.Keluarga Besar Civitas Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Medan khususnya Komisariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

16.Sahabat-sahabat terbaik penulis dari Semester I sampai sekarang, Oloan Siregar, Ivan Marpaung, Putra F. Siregar, Nimrot Sihombing.

17.Teman-teman satu kost : terkasih Bang Ade F.D. Sinaga, Tondy E. Sianturi dan Chandra Y. Simatupang (CeNeR).

18.Rekan-rekan dalam Hutur-hutur Group, atas kebersamaan, semua celoteh, tukar pikiran, canda dan tawa. One song One Dorguk, Ho do na manggoyang,

Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya, meskipun penulis menyadari kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.

Medan, Agustus 2011 Penulis,

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i KATA PENGANTAR ... ii DAFTAR ISI ... vi BAB I : PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah ... 13

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 14

D. Tinjauan Kepustakaan ... 15

E. Keaslian Penulisan ... 20

F. Metode Penelitian ... 21

G. Sistematika Penulisan ... 21

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG SURAT BERHARGA ... 23

A. Pengertian Surat Berharga... 23

B. Dasar Hukum dan Ketentuan Tentang Surat Berharga... ... 33

C. Klausula Surat Berharga ... 38

D. Legitimasi Surat Berharga... 39

E. Upaya Tangkisan Surat Berharga ... 41

BAB III : URAIAN TEORITIS TENTANG SERTIFIKAT DEPOSITO... 45

A. Pengertian Sertifikat Deposito ... 45

B. Dasar Hukum dan Ketentuan Tentang Sertifikat Deposito ... 49

BAB IV : ASPEK HUKUM TENTANG SERTIFIKAT DEPOSITO

SEBAGAI SURAT BERHARGA... 53

A. Pertanggungjawaban Pihak-pihak Yang Terkait Dalam Penggunaan Sertifikat Deposito ... 53

B. Bentuk-bentuk Wanprestasi Dalam Perjanjian Dengan Jaminan Sertifikat Deposito ... 61

C. Kedudukan Sertifikat Deposito Dikatakan Sebagai Surat Berharga . 77

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 80

A. Kesimpulan... 80

B. Saran ... 81

ABSTRAK

Seperti diketahui di zaman modern ini masyarakat pada umumnya masyarakat tidak selalu membawa uang dengan jumlah yang besar, karena selain demi keamanan akan tetapi juga untuk kepraktisan dalam melakukan kegiatan transaksi dimanapun dan kapanpun. Untuk menyediakan kebutuhan masyarakat akan kemudahan dan kenyamanan bertransaksi, maka lembaga keuangan baik perbankan maupun yang bukan perbankan menyediakan berbagai macam surat berharga yang salah satu diantaranya adalah sertifikat deposito sebagai alternatif pembayaran dalam suatu transaksi yang dilakukan oleh masyarakat. Namun masih banyak orang yang belum memahami dengan benar penggunaan dari sertifikat deposito ini, untuk itu perlu dikaji aspek hukum dari serifikat deposito sehingga dapat menghindari penyalahgunaan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Adapun yang menjadi permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini yaitu:

pertama, bagaimana Pertanggungjawaban Pihak-pihak yang Terkait dalam

Penggunaan Sertifikat Deposito Sebagai Surat Berharga? Kedua, bagaimana bentuk-bentuk wanprestasi dalam perjanjian yang mempergunakan sertifikat deposito sebagai jaminan? Ketiga, bagaimana kedudukan sertifikat deposito dapat dikatakan sebagai salah satu surat berharga?

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan ketentuan hukum yang berlaku. Undang-undang yang dimaksud adalah UU No.10 Tahun 1998 tentang Perbankan, kemudian KUHD dan beberapa penelitian, buku, majalah serta makalah yang membahas tentang permasalahan yang sejenis.

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah: Pertama, Tanggung jawab bank meliputi menjaga keamanan sertifikat deposito pada saat pembayaran apabila ditangguhkan untuk sementara, serta menilai dan memastikan bahwa pemegang terakhir adalah pemegang yang tidak beritikad buruk atau pemegang yang berhak karena telah membuktikannya di luar adanya laporan dari pihak kepolisian. Dengan kata lain tanggung jawab secara perdata bank hanyalah sebatas pembayaran sertifikat deposito kepada pemegang yang sebenarnya, dan bank tidak bertanggung jawab apabila terjadi kehilangan sertifikat deposito. Kedua, Berdasarkan Pasal 1243 jo. Pasal 1763 KUHPer, faktor cidera janji atau wanprestasi oleh debitur antara lain lalai memenuhi perjanjian, tidak menyerahkan atau membayar kewajibannya dalam jangka waktu yang ditentukan, tidak berbuat sesuai yang dijanjikan dalam tenggang waktu yang ditentukan, tidak mengembalikan pinjaman sesuai dengan jumlah pinjaman dalam waktu yang ditentukan. Ketiga, kedudukan sertifikat deposito dikatakan sebagai surat berharga yang lahir karena kebutuhan dalam bidang perbankan dan surat berharga yang diatur di luar KUHD yakni tunduk pada ketentuan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan ditujukan bagi Lembaga Keuangan Bukan Bank yang menerbitkan sertifikat deposito bersama dengan Bank Indonesia ditujukan bagi bank yang menerbitkan sertifikat deposito.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberadaan bank dalam bidang perekonomian sudah menjadi kebutuhan yang sulit dihindari, karena bank sudah menyentuh kebutuhan setiap orang dan seluruh lapisan masyarakat. Bagi masyarakat umum, bank adalah tempat atau sarana berinvestasi yang paling mudah dan sudah dikenal sejak lama. Bank memiliki produk baik berupa sarana investasi maupun sebagai perantara transaksi. Dengan menyimpan dana masyarakat dan menyalurkan kembali dalam bentuk kredit, bank telah menjembatani pihak-pihak yang kelebihan dan membutuhkan dana. Maka dengan apa yang dilakukan tersebut, bank disebut sebagai lembaga yang menjalankan fungsi intermediasi yaitu sebagai perantara transaksi antara para pihak.

Sebagai lembaga perantara, pihak-pihak yang kelebihan dana baik perseorangan, badan usaha, yayasan, maupun lembaga pemerintah dapat menyimpan kelebihan dananya di bank dalam bentuk rekening giro, tabungan, bahkan dengan instrumen surat berharga yang dikeluarkan oleh bank seperti deposito berjangka, sertifikat deposito yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran. Dalam dunia perusahaan dan perdagangan, orang menginginkan segala sesuatunya bersifat praktis dan aman, khususnya dalam lalu lintas pembayaran. Artinya orang tidak mutlak lagi menggunakan alat pembayaran berupa uang, melainkan cukup dengan menerbitkan surat berharga sebagai alat pembayaran maupun alat pembayaran kredit.

Sertifikat deposito (certificate of deposits), merupakan salah satu produk yang dikeluarkan oleh bank sebagai alat atau instrumen surat berharga yang digunakan untuk melakukan pembayaran dalam suatu transaksi.1

Seperti yang telah dikemukakan di atas, lahirnya surat berharga tidak lain dimaksudkan untuk meningkatkan dan memudahkan serta mengamankan transaksi-transaksi dalam dunia perdagangan. Pembayaran dan penyerahan barang, pada dasarnya dapat berlangsung dengan sederhana dan cepat, bila transaksinya sendiri berlangsung dengan sederhana. Pembayaran dan penyerahan barang yang paling sederhana adalah dengan menggunakan uang tunai pada saat barang yang dibeli diserahkan oleh penjual kepada pembeli.

Cara pembayaran dengan sertifikat deposito dilandasi oleh adanya suatu perjanjian antara para pihak yang membuat perjanjian tersebut dan mengenai cara pembayaran disepakati dengan menggunakan instrumen surat berharga yaitu sertifikat deposito.

Seperti diketahui di zaman modern ini masyarakat pada umumnya masyarakat tidak selalu membawa uang dalam jumlah yang besar, karena selain untuk keamanan juga faktor kepraktisan dalam melakukan kegiatan transaksi dimanapun dan kapanpun. Untuk menyediakan kebutuhan masyarakat akan kemudahan dan kenyamanan bertransaksi, Lembaga Keuangan Bank menyediakan produk sertifikat deposito sebagai alternatif pembayaran dalam suatu transaksi yang dilakukan oleh masyarakat.

1

Oleh karena transaksi dagang tidak selamanya seperti yang kita ketahui, bahkan pada umumnya dilakukan tidak sesederhana apa yang telah dikemukakan, maka transaksi-transaksi dagang tersebut tidak lagi dilakukan dengan pembayaran tunai dengan menggunakan uang kartal pada saat penyerahan barangnya, namun pembayaran itu dilakukan dengan menyerahkan surat-surat berharga kepada pihak yang seharusnya menerima uang tunai seandainya transaksi dilakukan dengan sederhana. Bahkan lebih rumit lagi jika para pihak yang terlibat dalam transaksi berada pada tempat yang berjauhan, bahkan pada negara yang berbeda, karena pembayaran bukan hanya tidak dapat dilakukan secara langsung dari tangan ke tangan dengan menggunakan uang kartal, tapi juga harus dilakukan dengan perantaraan bank.2

Sebaliknya penyerahan barang yang dilakukan dalam transaksi dagang tidak lagi dilakukan dengan penyerahan barangnya secara langsung, tapi juga dengan penyerahan dokumen-dokumen yang dapat dipergunakan untuk menerima barang yang dimaksud. Dengan demikian, akan semakin tampak peranan surat berharga dalam transaksi dagang. Pembayaran sejumlah uang dengan perantaraan bank ini tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar, karena kemungkinan terjadi pembayaran atas harga barang sudah dilakukan, sedangkan barangnya tidak dapat diserahkan atau paling tidak, barangnya diserahkan tetapi tidak sebagaimana mestinya. Sebaliknya, dapat juga terjadi bahwa penyerahan barang telah dilakukan akan tetapi pembayaran belum diterima.

2

Joni Emirzon, Hukum Surat Berharga dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta : Prehaillindo, 2001), hal 2.

Dewasa ini kegiatan bisnis, baik dalam skala nasional maupun internasional berkembang begitu pesat dan telah mengarah kepada perdagangan global, hal ini perlu ditandai dengan terbentuknya area-area perdagangan regional seperti Pasar Bebas ASEAN yang dikenal dengan ASEAN Free Trade Area (AFTA), Pasar Bebas dikawasan benua Amerika seperti North America Free

Trade Area (NAFTA), Pasar Bebas Asia Pasifik (APEC), Pasar Tunggal Eropa.

Dari berbagai bentuk pasar tersebut, yang akhirnya akan tercipta pasar tunggal internasional atau pasar bersama antara negara-negara di dunia memaksa setiap negara mau tidak mau ikut atau masuk ke dalam sistem tersebut, demikian juga para pelaku bisnis negara-negara yang bersangkutan mau tidak mau harus ikut menyesuaikan diri dalam sistem perdagangan tersebut tanpa terkecuali.

Seperti diketahui masih terdapat perbedaan kemampuan di bidang ekonomi atau teknologi negara-negara di dunia, misalnya masih banyak negara miskin atau terbelakang (under development), negara sedang berkembang (developing country), dan negara maju (modern country).3

Namun demikian, kalau dicermati pada dasarnya bukan hal mampu atau kurang mampu yang dipermasalahkan, tetapi yang penting bagaimana partisipasi dan kesediaan negara-negara di dunia untuk bekerjasama dengan baik, yang bersifat saling membantu dan member untung satu sama lain. Terbentuknya kondisi ini, pada dasarnya setiap negara di dunia telah menyadari akan saling

Ketiga kondisi ini telah menunjukkan seberapa kemampuan atau persiapan yang dimiliki masing-masing negara.

3

ketergantungan satu sama lain makin meningkat dan berkembang, karena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang dan bertambah. Kebutuhan masyarakat tidak hanya sandang pangan, tetapi kebutuhan teknologi dan sistem pelayanan serta cara bertransaksi nyang makin aman dan mudah.

Dalam kegiatan transaksi bisnis yang berkembang sedemikian rupa, baik secara nasional maupun internasional, pelaku bisnis menggunakan berbagai macam alat bayar. Pada awalnya sistem pembayaran tradisional dilakukan dengan sistem barter, yaitu transaksi dengan cara pertukaran barang antara para pihak (penjual dan pembeli), misalnya penjual memiliki barang berupa beras dan pembeli mempunyai barang berupa kopi, karena mereka saling membutuhkan barang tersebut, maka mereka mengadakan pertukaran barang.

Kondisi saat itu masih memungkinkan untuk kegiatan barter, karena belum dikenal alat bayar lainnya berupa uang, namun kemudian kondisi ini mulai berkembang lebih maju dan diciptakan alat pembayaran yang baru yakni dikenal adanya mata uang disetiap negara yang merdeka di dunia. Untuk pelaku bisnis antar warga negara yang sama dapat menggunakan alat bayar berupa mata uang negara yang bersangkutan, sedangkan pelaku bisnis yang berbeda negara dan sistem hukum, maka mereka harus memilih mata uang apa.4

Namun dalam praktek bisnis internasional, mata uang yang digunakan secara internasional dewasa ini adalah Dollar Amerika. Selain alat bayar berupa uang (money) yang dipergunakan, para pelaku bisnis juga menggunakan bentuk lain yaitu surat berharga yang dikenal dengan istilah Commercial Paper atau

4

Negotiable Instrument. Penggunaan surat berharga dalam kegiatan bisnis makin

lama makin berkembang dan hampir semua pelaku bisnis menggunakan alat bayar tersebut, termasuk kegiatan bisnis sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat umum.

Ada beberapa alasan mengapa surat berharga lebih senang dipergunakan oleh masyarakat umum dan khususnya para pelaku bisnis, pertama dari aspek keamanan yakni menggunakan surat berharga lebih aman bila dibandingkan dengan menggunakan uang, karena :5

1. Tidak semua orang dapat menerbitkan surat berharga, untuk menerbitkan surat berharga haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu yang diatur dalam perundang-undangan tentang surat berharga.

2. Tidak semua orang dapat menggunakan surat berharga, karena ada prosedur tertentu yang harus dilalui oleh pemegang atau pemilik surat berharga.

3. Kertas atau bahan surat berharga tidak semua badan hukum bebas begitu saja untuk dapat mencetak atau membuat bentuk surat berharga, ada prosedur tertentu yang harus dipenuhi.

Kedua, menggunakan surat berharga lebih praktis dibandingkan menggunakan uang, satu lembar surat berharga dapat bernilai Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih, sehingga pelaku bisnis tidak pelu membawa uang tunai cukup selembar surat berharga untuk berbelanja dengan jumlah yang banyak, sifat praktis sudah merupakan kebutuhan masyarakat modern saat ini dengan didukung oleh teknologi canggih.

5

Dahlan M.Sutalaksana, Pengembangan dan Prospek Commersial Paper sebagai alternative

Ketiga, untuk saat ini bagi kalangan tertentu (kalangan bisnis), berbisnis atau berbelanja menggunakan surat berharga merupakan suatu prestise tersendiri, kadang-kadang boleh dikatakan lebih bonafit, sehingga tingkat kepercayaan diri atau kepercayaan orang lain terhadap surat berharga memiliki nilai lebih.

Keempat, saat ini berbagai fasilitas pendukung yang diadakan oleh bank atau lembaga keuangan bukan bank dalam penggunaan surat berharga sangat banyak dan hampir di setiap lokasi pusat perbelanjaan ada, sehingga mempermudah pemilik surat berharga.

Kelima, saat ini boleh juga disebut menggunakan surat berharga sedang menjadi mode atau trend, sehingga banyak masyarakat tertentu keranjingan atau ikut-ikutan menggunakan surat berharga dalam setiap kegiatan bisnis atau kegiatan lainnya.

Keenam, sebagian surat berharga tidak saja berfungsi sebagai alat bayar tetapi ini surat berharga sudah menjadi komoditi dalam kegiatan bisnis atau objek perjanjian. Para pihak yang memiliki surat berharga dapat menjual surat berharga tersebut dengan sistem diskonto, dengan harapan akan mendapatkan keuntungan, misalnya jual-beli surat saham atau obligasi, surat berharga komersial (commercial paper/CP),6

6

Didier Lemaistre, The Development and Prospect of Commercial Paper in Indonesia, journal, Jakarta 3 Nopember 1998.

dan lainnya. Pada dasarnya masih banyak faktor-faktor lain yang melatarbelakangi mengapa masyarakat lebih senang menggunakan surat berharga.

Kalau kita perhatikan penggunaan surat berharga dalam kegiatan bisnis makin berkembang dan makin banyak disenangi oleh masyarakat walaupun belum ada data statistik yang dapat menunjukkan bagaimana perkembangan penggunaan surat berharga di Indonesia atau dunia internasional, namun dalam praktek bisnis dapat kita amati dan ketahui sendiri, hal ini merupakan fenomena perkembangan bisnis yang sehari-hari kita temui.

Karena penggunaan surat berharga didukung dengan perkembangan bentuk dan sistem pasar tempat berbelanja, kalau dahulu pasar-pasar swalayan masih berbentuk tradisional, para pedagang dan konsumen belum mengenal surat berharga. Akan tetapi kini, sistem perdagangan telah menunjang dan menyiapkan fasilitas untuk berbelanja dengan menggunakan surat berharga, seperti swalayan modern yang dikenal dengan istilah super market, mall, dan sebagainya.

Dalam dunia usaha dikenal berbagai macam surat berharga. Yaitu surat yang mempunyai harga, dapat dinilai dengan uang, atau dapat ditukar dengan barang yang tercantum dalam surat berharga tersebut. Namun surat berharga yang dimaksud dalam hal ini adalah pengertian yang sangat luas, yang masih perlu perbedaannya dalam surat berharga dan surat yang mempunyai harga, dan di antara kedua surat berharga tersebut yang dibicarakan dalam Hukum Dagang adalah surat berharga.

Demikian juga dari segi bentuk surat berharga, makin lama makin berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pada awalnya kita hanya mengenal surat berharga berupa cek, wesel, promissory note,7

7

ADC, Gardner Workbook, Commercial Paper, 1991.

bentuk-bentuk lain seperti bilyet giro, kartu kredit, obligasi, deposito berjangka, sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bahkan ATM (Authomatic

Teller Machine) atau Anjungan Tunai Mandiri, dalam perkembangan terakhir

tidak saja digunakan sebagai alat mengambil uang pada mesin uang, tetapi sudah dapat digunakan untuk berbelanja pada tempat-tempat tertentu.

Seiring dengan perkembangan bentuk-bentuk surat berharga maka fungsi surat berharga pun juga semakin berkembang, fungsi surat berharga tidak hanya

Dokumen terkait