• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertangung Jawaban Yang Dilakukan Oleh Notaris Ditinjau dari Hukum Perdata Hukum Perdata

TANGUNG JAWAB HUKUM NOTARIS TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA

A. Pertangung Jawaban Yang Dilakukan Oleh Notaris Ditinjau dari Hukum Perdata Hukum Perdata

Tanggung jawab yang dimiliki oleh Notaris menganut prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (based on fault of liability), dalam pembuatan akta otentik, Notaris harus bertanggung jawab apabila atas akta yang dibuatnya terdapat kesalahan atau pelanggaran yang disengaja oleh Notaris. Sebaliknya apabila unsur kesalahan atau pelanggaran itu terjadi dari para pihak penghadap, maka sepanjang Notaris melaksanakan kewenangannya sesuai peraturan. Notaris bersangkutan tidak dapat diminta pertanggungjawabannya, karena Notaris hanya mencatat apa yang disampaikan oleh para pihak untuk dituangkan ke dalam akta.

Keterangan palsu yang disampaikan oleh para pihak adalah menjadi tanggung jawab para pihak.78

Pertanggung jawaban Notaris secara perdata terhadap akta-akta yang dibuatnya, dapat dikatakan bahwa akta yang dibuat oleh Notaris berkaitan dengan masalah keperdataan yaitu mengenai perikatan yang dibuat oleh dua pihak atau lebih meskipun memungkinkan dibuat secara sepihak (sifatnya hanya menguatkan). Sifat dan asas yang dianut oleh hukum perikatan khususnya perikatan yang lahir karena perjanjian, bahwa undang-undang hanya mungkin dan boleh diubah atau diganti atau dinyatakan tidak berlaku, hanya oleh mereka yang

membuatnya, maksudnya kesepakatan kedua belah pihak yang dituangkan dalam suatu akta otentik mengikat kedua belah pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang.

Asnahwati.H.Herwidi mengatakan bahwa, pada dasarnya Notaris tidak bertanggung jawab terhadap isi akta yang dibuat di hadapannya karena mengenai isi dari akta tersebut merupakan kehendak dan kesepakatan yang diinginkan oleh para pihak. Notaris hanya menuangkan kesepakatan tersebut kedalam bentuk akta otentik sehingga dalam hal ini Notaris hanya bertanggung jawab terhadap bentuk formal akta otentik sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang.79

Peran Notaris disini hanya mencatat atau menuangkan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh para pihak atau penghadap ke dalam akta. Notaris hanya mengkonstatir apa yang terjadi, apa yang dilihat, dan dialaminya dari para pihak atau penghadap tersebut berikut menyesuaikan syarat-syarat formil pembuatan akta otentik kemudian menuangkannya ke dalam akta. Notaris tidak diwajibkan untuk menyelidiki kebenaran isi materiil dari akta otentik tersebut.

Dalam hal ini Notaris diwajibkan untuk bersikap netral dan tidak memihak serta memberikan semacam nasihat hukum bagi klien yang meminta petunjuk hukum pada Notaris yang bersangkutan.

Notaris selain sebagai profesi, tetapi secara hukum ditetapkan sebagai pejabat umum yang mempunyai kewenangan dalam membuat akta otentik. Dalam prkatek pembuatan akta, dalam hal ini Notaris tidak luput dari terjadinya

78 Andi Mamminanga, Pelaksanaan Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah dalam Pelaksanaan Tugas Jabatan Notaris berdasarkan UUJN, Tesis, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 2008, hlm. 32.

kesalahan atau kelalain, sehingga akta yang dibuat menyimpang dari syarat formil, syarat materil bahkan tata cara pembuatannya. Akibat dari adanya kesalahan atau kelalainnya tersebut tentunya menimbulkan konsekuensi berupa sanksi, tidak saja dapat dikenakan sanksi administratif tapi juga tidak menutup kemungkinan dituntut ganti kerugian oleh para pihak yang merasa dirugikan.

Notaris sebagai pejabat pembuat akta otentik, jika terjadi kesalahan baik disengaja maupun karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain atau akibat dibuatnya akta tersebut menderita kerugian, yang berarti Notaris telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Jika suatu kesalahan yang dilakukan oleh Notaris dapat dibuktikan, maka Notaris dapat dikenakan sanksi berupa ancaman sebagaimana yang telah ditentukan oleh undang-undang. Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 84 undang-undang jabatan notaris yang menetapkan bahwa dapat menjadi alasan bagi pihak yang menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada Notaris.80

Berkaitan dengan itu, notaris dapat juga diminta pertanggung jawabannya atas kebenaran materiil suatu akta bila nasihat hukum yang diberikannya ternyata dikemudian hari merupakan suatu yang keliru. Serta apabila dalam pembuatan akta tersebut ternyata notaris tidak memberikan jalan mengenai suatu hukum tertentu yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya sehingga salah satu pihak merasa tertipu atas ketidaktahuannya. Untuk itulah disarankan bagi notaris untuk memberikan informasi hukum yang penting yang selayaknya diketahui klien sepanjang yang berkaitan dengan masalah hukum. Lebih lanjut dijelaskan juga

79 Kunni Afifah, Tanggung Jawab dan Perlindungan Hukum bagi Notaris secara Perdata Terhadap Akta yang Dibuatnya, Nomor 1 Volume 2 Januari 2017, hlm 154.

bahwa ada hal lain yang juga harus diperhatikan oleh notaris. Dengan adanya ketidakhati-hatian dan kesungguhan yang dilakukan notaris, notaris tersebut telah membawa dirinya pada suatu perbuatan yang oleh Undang-undang harus dipertanggungjawabkan. Jika suatu kesalahan yang dilakukan oleh Notaris dapat dibuktikan, maka notaris dapat dikenakan sanksi berupa ancaman sebagaimana yang telah ditentukan oleh Undang-undang.

Ganti rugi atas dasar perbuatan melanggar hukum di dalam hukum perdata diatur dalam Pasal 1365KUHPerdata, Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.81 Apabila memperhatikan ketentuan Pasal 1365KUHPerdata diatas, maka didalamnya terkandung unsur-unsur sebagai berikut:

1. Perbuatan yang melanggar hukum;

2. Harus ada kesalahan;

3. Harus ada kerugian yang ditimbulkan;

4.Adanya hubungan kausal antara perbuatan dan kerugian.

Pasal 41 tentang jabatan notaris menentukan adanya sanksi perdata, jika Notaris melakukan perbuatan melawan hukum atau pelanggaran terhadap Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 40 Undang-undang tentang jabatan notaris maka akta Notaris hanya akan mempunyai pembuktian sebagai akta di bawah tangan. Akibat dari akta Notaris yang seperti itu, maka dapat menjadi alasan bagi pihak yang

80 Undang-Undang Tentang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014, Pasal 84.

81 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pasal 1365

menderita kerugian untuk menuntut penggantian biaya, ganti rugi dan bunga kepada Notaris.

Perihal kesalahan dalam perbuatan melanggar hukum, dalam hukum perdata tidak membedakan antara kesalahan yang ditimbulkan karena kesengajaan pelaku, melainkan juga karena kesalahan atau kurang hati-hatinya pelaku. Ketentuan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Riduan Syahrani sebagai berikut tidak kurang hati-hati.82 Notaris yang membuat akta ternyata tidak sesuai dengan wewenangnya dapat terjadi karena kesengajaan maupun karena kelalaiannya, yang berarti telah salah sehingga unsur harus ada kesalahan telah terpenuhi.

Sri Peni Nughrohowati. mengatakan bahwa, Notaris dapat dimintakan pertanggung jawabannya apabila terdapat unsur kesalahan yang dilakukannya dan perlu diadakannya pembuktian terhadap unsur-unsur kesalahan yang dibuat oleh Notaris tersebut, yaitu meliputi:

1. Hari, tanggal, bulan, dan tahun menghadap;

2. Waktu (pukul) menghadap; dan

3. Tanda tangan yang tercantum dalam minuta akta.83

Akta Notaris yang batal demi hukum tidak dapat dimintakan untuk memberikan penggantian biaya, ganti rugi dan bunga. Penggantian biaya, ganti rugi dan bunga dapat digugat kepada Notaris dengan mendasarkan pada hubungan hukum Notaris dengan para pihak yang menghdap Notaris.Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dari akta yang dibuat oleh Notaris, maka yang bersangkutan dapat secara langsung mengajukan tuntutan secara perdata terhadap Notaris tersebut sehingga Notaris tersebut dapat bertanggung jawab secara perdata atas akta yang dibuatnya.

82 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 1998, hlm. 279.

83 Ibid.,155.

Tuntutan penggantian biaya, ganti rugi dan bunga terhadap Notaris, tidak didasarkan pada kedudukan alat bukti yang berubah karena melanggar ketentuan-ketentuan tertentu dalam UUJN, tetapi didasarkan kepada hubungan hukum yang terjadi antara Notaris dan para pihak yang menghadap Notaris tersebut.Sekalipun Notaris tersebut telah purna bakti, Notaris tersebut tetap harus bertanggung jawab secara perdata terhadap akta yang pernah dibuatnya.

Pentingnya peranan Notaris dalam membantu menciptakan kepastian hukum serta perlindungan hukum bagi masyarakat lebih bersifat preventif yaitu bersifat pencegahan terjadinya masalah hukum, dengan cara menerbitkan akta otentik yang dibuat dihadapannya terkait dengan status hukum, hak, dan kewajiban seseorang dalam hukum yang berfungsi sebagai alat bukti yang paling sempurna di pengadilan apabila terjadi sengketa atas hak dan kewajiban terkait.84 Akta yang dibuat dihadapan notaris dapat menjadi bukti otentik dalam memberikan perlindungan hukum kepada para pihak manapun yang berkepentingan terhadap akta tersebut mengenai kepastian peristiwa atau kepastian perbuatan hukum itu dilakukan.

Dengan demikian, notaris tersebut dibebani tanggung jawab, yaitu tanggung jawab secara Perdata, berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia. Berkaitan dengan hal tersebut, notaris tidak langsung seketika membuat Salinan akta berdasarkan Minuta yang telah ia tandatangani. Hal yang Notaris lakukan adalah merapikan dengan mencatat perubahan - perubahan yang ada di dalam minuta akta dalam selembar kertas,

84 Sjaifurrachman, Op.cit., hlm 7

yang dapat terdiri dari penambahan, pencoretan dan penggantian, hal mana perubahan tersebut dinamakan ”renvoi” yang biasanya ditulis disisi kiri akta Perubahan - perubahan tersebut yang kemudian dimasukkan (Inserting) dalam salinan akta yang akan dibuat, sehingga di dalam salinan akta sudah tidak ada lagi renvoi seperti pada minuta akta sebelumnya.

Perihal kerugian dalam perbuatan melanggar hukum secara perdata Notaris dapat dituntut untuk menggati kerugian-kerugian para pihak yang berupa kerugian materiil dan dapat pula berupa kerugian immaterial. Kerugian dalam bentuk materiil, yaitu kerugian yang jumlahnya dapat dihitung, sedangkan kerugian immaterial, jumlahnya tidak dapat dihitung, misalnya nama baiknya tercemar, mengakibatkan kematian. Dengan adanya akta yang dapat dibatalkan atau batal demi hukum, mengakibatkan timbulnya suatu kerugian, sehingga unsur harus ada kerugian telah terpenuhi.

Gugatan ganti kerugian atas dasar perbuatan melanggar hukum apabila pelaku melakukan perbuatan yang memenuhi keseluruhan unsur Pasal 1365 KUHPerdata, mengenai siapa yang diwajibkan untuk membuktikan adanya perbuatan melanggar hukum. Perlindungan hukum terhadap Notaris dalam menjalankan tugas dan wewenangnya demi terlaksananya fungsi pelayanan dan tercapainya kepastian hukum dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dalam proses pembuatan salinan akta, notaris melakukan penyesuaian, dengan mencocokkan salinan akta dengan minutanya. Sehingga kesesuaian terhadap bunyi dari salinan akta terhadap minuta aktanya dapat tercapai. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kekurang telitian atau kekhilafan yang dapat

menimbulkan masalah dikemudian hari serta salinan akta yang dibuat oleh Notaris dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan memberi kepastian hukum terhadap orang yang berkepentingan langsung pada akta, ahli waris, atau orang yang memperoleh hak terhadap akta tersebut.

Mempertimbangkan analisis di atas, maka apabila notaris membuat salinan akta tidak sesuai dengan minuta aktanya, maka notaris telah melakukan pelanggaran terhadap kewajiban dalam menjalankan jabatannya yang telah ditentukan baik di dalam Pasal 16 ayat (1) huruf (a) “bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum”.85

Notaris dalam menjalankan jabatannya, memiliki kewajiban untuk bertindak jujur dengan tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat, Saksama dapat diartikan bahwa seorang notaris harus cermat di dalam menguasai peraturan perundang-undangan agar akta yang dibuatnya tidak melanggar atau bertentangan dengan Peraturan Perundang - undangan yang berlaku, berarti notaris dari waktu ke waktu wajib mengikuti Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang berhubungan dengan profesi Notaris, Mandiri yaitu notaris dalam menjalankan profesinya tidak terikat dengan salah satu lembaga atau institusi, tidak berpihak di mana dalam membuat akta notaris, isinya tidak boleh menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam

85 Undang – undang Jabatan Notaris, Nomor 2 Tahun 2014, Pasal 16 ayat (1) huruf (a).

perbuatan hukum, penuh rasa tanggung jawab serta harus pula menerapkan prinsip kehati - hatian dalam setiap tindakan yang ia lakukan.

Secara Perdata, konstruksi yuridis yang digunakan untuk tanggung jawab Notaris terhadap kebenaran materiil suatu akta yang dibuat olehnya adalah konstruksi Perbuatan Melawan Hukum. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa ”Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut”.86

Dalam ilmu hukum dikenal tiga kategori dari perbuatan melawan hukum, yaitu sebagai berikut:87

a. Perbuatan melawan hukum karena kesengajaan;

b. Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan (tanpa unsur kesengajaan maupun kelalaian);

c. Perbuatan melawan hukum karena kelalaian.

Adapun unsur-unsur dari Perbuatan Melawan Hukum yang disimpulkan dari ketentuan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka suatu Perbuatan Melawan Hukum haruslah mengandung unsur-unsur sebagai berikut:88

a. Adanya suatu perbuatan;

b. Perbuatan tersebut melawan hukum;

c. Adanya kesalahan dari pihak pelaku;

d. Adanya kerugian bagi korban;

e. Adanya hubungan kausal antara perbuatan dengan kerugian.

Berkaitan dengan kesalahan (beroepsfout) dari Notaris, tentunya dapat ditelaah mengenai bentuk dari kesalahan atau kelalain tersebut, yakni perbuatan

86 Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

87 Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer), Cet.3, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2010, hlm 3.

melawan hukum (onrechtmatige daad). Perbuatan Notaris yang bertentangan dengan kewajiban hukum, juga dapat dikategorikan melanggar hak subjektif orang lain. Rachmat Setiawan yang mengutip pendapat Meyers, menyebutkan bahwa

“Hak subjektif menunjuk kepada suatu hak yang diberikan oleh hukum kepada seseorang secara khusus untuk melindungi kepentingannya”.89 Tidak hanya itu tetapi unsurna juga terkandung dalam pasal 1365 KUHPerdata yang dimana Tiap perbuatan yang melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain , mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian yang turut timbul.

Bahwa adapun yang dijadikan alasan Pertimbangan Hakim pada putusan Pengadilan Negeri Sengeti Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt adalah bahwa adapun perbedaan kalimat dan uraian yang tertuang didalam Akta Perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 di Notaris dan PPAT YP tertanggal 14 November 2012 yang dipegang oleh Penggugat dengan yang dipegang oleh Para Tergugat terhadap perbedaan tersebut telah diakui Tergugat IX selaku Notaris dan PPAT semata–mata kesalahan dan kekhilafan Tergugat YP.

Kewajiban hukum Notaris telihat dalam tujuan dibuatnya akta, yaitu untuk kepastian hukum dan kemanfaatan bagi masing-masing pihak, namun dalam hal pembuatan akta mengandung cacat hukum, karena adanya kesalahan atau kelalaian pembuatnya, maka akan mengakibatkan kesulitan bagi para pihak untuk melaksanakan hak nya sehingga masing-masing pihak mengalami kerugian.

88 Ibid., hlm 10.

B. Pertangung Jawaban Yang Dilakukan Oleh Notaris Ditinjau Secara