AKIBAT HUKUM TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN
AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI PUTUSAN NOMOR 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)
TESIS
Oleh
ANA ROMASI SIGIRO 197011052
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
AKIBAT HUKUM TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN
AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI PUTUSAN NOMOR 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Progam Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
ANA ROMASI SIGIRO 197011052
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
ii Telah Diuji Pada
Tanggal: 23 Desember 2021
TIM PENGUJI TESIS
KETUA : Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum ANGGOTA : 1. Dr. Suprayitno, S.H., M.Kn
2. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum 3. Dr. Tony S.H., M.Kn
4. Dr. Rudy Haposan Siahaan S.H., M.Kn
iii
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya, Ana Romasi Sigiro dengan ini menyatakan bahwa tesis saya: “AKIBAT HUKUM TERHADAP TERJADI NYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI PUTUSAN NOMOR 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)”.
Adalah karya orisinal saya dan setiap serta seluruh sumber acuan telah ditulis sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku di Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka.
Medan, 23 Desember 2021 Yang menyatakan
Ana Romasi Sigiro
iv
PERSETUJUAN PUBLIKASI
TESIS UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Saya, yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Ana Romasi Sigiro
NIM : 197011052
Program Studi : Magister Kenotariatan
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dengan ini menyetujui memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non exclusive, royalty free right) untuk mempublikasikan tesis saya yang berjudul: “AKIBAT HUKUM TERHADAP TERJADI NYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI PUTUSAN NOMOR 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)”.
Dengan Hak Bebas Royalti Non Ekslusif ini, Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/memformatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat dan mempublikasikan tesis saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian persetujuan publikasi ini saya buat dengan sebenarnya.
Medan, 23 Desember 2021 Yang menyatakan
Ana Romasi Sigiro
v
AKIBAT HUKUM TERHADAP PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI
PUTUSAN NOMOR 1/PDT.G/2020/PN.SNT) ABSTRAK
Sebagai seorang pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik, Notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat yang memang menggunakan jasa Notaris. Kewenangan Notaris menurut Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris adalah membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan, untuk dinyatakan didalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan akta tersebut tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang.
Memahami syarat-syarat otentisitas dan sebab-sebab kebatalan suatu akta notaris, sangat penting untuk menghindari secara preventif adanya cacat yuridis akta notaris yang dapat mengakibatkan hilangnya otentisitas dan batalnya akta notaris, serta memudahkan setiap notaris dalam membuat akta-akta notaris sesuai dengan Undang-undang Jabatan Notaris. Adapun permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut dalam penelitian ini adalah bagaimana akibat hukum akta yang dibuat dihadapan notaris terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta, bagaimana tangung jawab hukum notaris terhadap terjadinya perbedaan minut akta dengan salinan akta dan bagaimana kerugian yang timbul terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian hukum normatif dengan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan (library research), dan sumber data adalah data primer yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Kerangka teori yang dibangun adalah Teori Kewenangan, dan Teori Tangung Jawab Hukum. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif. Dengan menggunakan data sekunder dan bahan hukum primer, sekunder dan tersier dan menggunakan analisa kualitatif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa adanya akibat hukum terhadap perbedaan minuta akta dan salinan akta yang dikeluarkan oleh notaris. Selanjutnya, pertangung jawab hukum yang ditinjau dari pertangung jawaban Hukum Perdata dan pertangung jawaban secara Administrasi yang ditinjau dari Undang-undang Jabatan Notaris. Serta kerugian yang timbul terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta baik ditinaju dari kerugian yang dialami bagi para pihak maupun kerugian yang dialami bagi notaris yang bersangkutan didalam pembuatan akta.
Kata kunci: Notaris, Minuta Akta, Salinan Akta.
vi
vii BIODATA
1. Nama Lengkap : Ana Romasi Sigiro
2. Tempat Tanggal Lahir : Tomok, 06 November 1996 3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Status Perkawinan : Belum Menikah
5. Agama : Kristen Protestan
6. Alamat : Jalan Prof. Moh. Yusuf Nomor 21B, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Medan Baru
7. Nomor HP : 0821-8274-9758 8. Nama Orang Tua
a. Nama Ayah : Sahat Sigiro b. Pekerjaan : Petani
c. Alamat : Jln. Sosor Galung Tomok Parsaoran Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir
d. Nama Ibu : Emsi Sihotang 9. Riwayat Pendidikan
a. SD Negeri Nomor IV/III, Pelayang Raya, tamat tahun 2007 b. SMP Negeri 2, Kota Sungai Penuh, tamat tahun 2010 c. SMA Negeri 1, Kota Sungai Penuh, tamat tahun 2013 d. Universitas Jambi, Fakultas Hukum, Jurusan
Ilmu Hukum, masuk tahun 2013
e. Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum, Magister Kenotariatan, masuk tahun 2019
viii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya tesis dengan judul “Akibat Hukum Terhadap Terjadi Nya Perbedaan Minuta Akta Dengan Salinan Akta Yang Dikeluarkan Oleh Notaris (Studi Putusan Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)” telah berhasil diselesaikan tepat pada waktunya.
Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi guna memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian tesis ini tidak akan rampung tanpa bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setulus- tulusnya kepada:
1. Orang tua tercinta, ayahanda SAHAT SIGIRO dan ibunda EMSI SIHOTANG yang melahirkan saya kedunia.
2. Orang tua tercinta, ROSMIDA SIDABUTAR, yang tak pernah lelah mendo’akan serta memberikan dukungan moril dan materil yang tidak akan pernah bisa terbalas dengan apapun. Semoga dengan terselesaikannya tesis ini turut membanggakan dan memberi sedikit kebahagiaan kepada kedua orang tua dan menjadikan penulis sebagai anak yang berbakti kepada agama, nusa dan bangsa serta memiliki kepribadian yang baik dan selalu bersyukur.
3. Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si.
4. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H.,M.Hum.
ix
5. Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr. Hasim Purba, SH., M.Hum.
6. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum yang dalam hal ini merupakan pembimbing utama yang selalu memberikan arahan, bimbingan dan waktu untuk berdiskusi dengan sabarnya sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan sangat baik.
7. Bapak Dr. Suprayitno, S.H., M.Kn selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan, bimbingan dan waktu untuk berdiskusi sampai akhirnya penulisan ini menjadi lebih baik dan bermutu.
8. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum selaku dosen pembimbing III yang telah memberikan arahan, bimbingan dan waktu untuk berdiskusi sampai akhirnya penulisan ini menjadi lebih baik dan bermutu.
9. Bapak Dr. Tony S.H. M.Kn dan Bapak Dr. Rudy Haposan Siahaan S.H.
M.Kn., selaku dosen penguji yang telah memberikan arahan, pendapat dan juga kritikan saran yang membangun sehingga penulisan ini menjadi lebih baik dan bermutu.
10. Para Guru Besar, Bapak/Ibu Dosen, serta Staf administrasi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan, arahan dan bantuan selama penulis menempuh perkuliahan dan dalam penelitian tesis ini.
x
11. Rekan seperjuangan Qorry Ulfah Lasia yang turut membantu dalam perjalanan tesis mulai dari menangis hingga tertawa, tidak pernah lelah memberikan bantuan dengan ikhlasnya, hingga tesis ini selesai tepat pada waktunya.
12. Rekan senasib dan seperjuangan stambuk 2019 serta rekan satu almamater Magister Kenotariatan yang saling bahu membahu dalam memberikan dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhir kata Penulis berharap tesis ini dapat memberikan manfaat dan sumbangsih bagi pembaca serta perkembangan keilmuan. Terdapat kekurangan di dalam tesis ini, baik secara substansi maupun penulisan. Atas setiap saran dan kritikan yang sifatnya membangun penulis ucapkan terima kasih.
Medan, 23 Desember 2021 Penulis
Ana Romasi Sigiro
xi
DAFTAR PUSTAKA
Halaman
PENGESAHAN... i
TANGGAL UJIAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
PERSETUJUAN PUBLIKASI TESIS ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitia ... 10
E. Keaslian Penelitian ... 11
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 13
1. Kerangka Teori ... 13
2. Konsepsi ... 19
G. Metode Penelitian ... 20
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 20
2. Sumber Data ... 21
3. Teknik Pengumpulan Data ... 23
4. Alat Pengumpulan Data ... 23
5. Analisis Data ... 23
BAB II AKIBAT HUKUM AKTA YANG DIBUAT DIHADAPAN NOTARIS TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA ... 25
A. Notaris Sebagai Pejabat Umum ... 25
B. Akibat Hukum Akta Yang Dibuat Dihadapan Notaris Terhadap Terjadinya Perbedaan Minuta Akta dengan Salinan Akta ... 32
xii
C. Kedudukan Hukum Dan Sanksi Atas Akta Yang Dibuat Dihadapan Notaris Terhadap Terjadinya Perbedaan Minuta
Akta dengan Salinan Akta ... 44
BAB III TANGUNG JAWAB HUKUM NOTARIS TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA ... 59
A. Pertangung Jawaban Yang Dilakukan Oleh Notaris Ditinjau dari Hukum Perdata ... 59
B. Pertangung Jawaban Yang Dilakukan Oleh Notaris Ditinjau Secara Administrasi ... 69
BAB IV KERUGIAN YANG TIMBUL TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA ... 78
A. Kerugian Yang Timbul Terhadap Perbedaan Minuta Dengan Salinan Akta ... 78
1. Kerugian Bagi Para Pihak ... 78
2. Kerugian Bagi Notaris ... 83
B. Analisis Hukum Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Tanggal 04 Februari 2020 Nomor 1/PDT.G/2020/PN.SNT Terhadap Perbedaan Minuta Akta Dengan Salinan Akta ... 87
C. Kewenangan Badan Peradilan Dalam Mempertimbangkan Pembatalan Akta Notaris ... 95
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 101
A. Kesimpulan ... 101
B. Saran ... 103
DAFTAR PUSTAKA ... xiii
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Hukum merupakan sebuah kaidah yang fungsinya untuk melindungi kepentingan manusia1. Semakin banyak jumlah manusia semakin banyak pula permintaan dan manfaat nya, sehingga tuntutan masyarakat akan adanya kepastian hukum dalam setiap pelaksanaan kepentingan juga semakin meningkat.
Negara Republik Indonesia sebagai Negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum, yang berintikan kebenaran dan keadilan. Untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum.
Sehingga dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat autentik mengenai keadaan, peristiwa, atau perbuatan hukum yang diselenggarakan melalui jabatan tertentu.
Notaris adalah pejabat umum, yang diangkat dan diberhentikan oleh suatu kekuasaan umum, dalam hal ini adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Pejabat umum yang dimaksudkan adalah Pejabat yang mempunyai tugas dan yang berhubungan dengan kepentingan publik. Setiap masyarakat membutuhkan seseorang yang keteranganya dapat diandalkan dan dipercayai, yang tanda tangan nya serta segelnya memberi jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak dan penasihat yang tidak ada cacatnya dalam membuat suatu perjanjian yang dapat melindunginya di hari-hari yang akan datang.2
1 Puji Wulandari Kuncorowati, “Menurunnya Tingkat Kesadaran Hukum Masyarakat di Indonesia”, Jurnal Civics Media Kajian Kewarganegaraan, Volume 6, Nomor 1, Juni 2009, hlm.4.
2 Tan Thong Kie, Studi Notariat & Serba-Serbi Praktek Notaris, Ct. 2, Jakarta, 2011, hlm. 449.
2
Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang ini.3 Menurut pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata akta autentik ialah suatu akta yang yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuat.4
Sebagai seorang pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik, Notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat yang memang menggunakan jasa Notaris. Kewenangan Notaris menurut Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris adalah membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan, untuk dinyatakan didalam akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan akta tersebut tidak ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang- undang.5
Kewenangan notaris sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris dengan profesinya sebagai pembuat
3 Undang - undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Pasal 1 angka (1).
4 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1868.
5 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Pasal 15 ayat (1).
akta otentik disertai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang begitu pesat dan dinamis telah meningkatkan intensitas dan kompleksitas, hubungan hukum yang tentunya memerlukan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Memahami syarat-syarat otentisitas dan sebab-sebab kebatalan suatu akta notaris, sangat penting untuk menghindari secara preventif adanya cacat yuridis akta notaris yang dapat mengakibatkan hilangnya otentisitas dan batalnya akta notaris, serta memudahkan setiap notaris dalam membuat akta-akta notaris sesuai dengan Undang-undang Jabatan Notaris dan aturan-aturan hukum lainnya yang berlaku.6
Notaris dibebankan tanggung jawab yang besar atas setiap tindakan yang dilakukan berkaitan dengan pekerjaannya, dalam hal ini mengenai pembuatan akta otentik. Tanggung jawabnya tidak hanya terbatas saat pembuatan akta, melainkan sepanjang akta yang dibuat oleh seorang Notaris digunakan para pihak maka sepanjang itu pula Notaris harus selalu sedia bertanggung jawab atas keotentikan akta yang dibuatnya. Bukan hanya itu, Notaris juga bertanggung jawab atas kebenaran isi akta yang dibuatnya agar tidak mengakibatkan kerugian bagi salah satu pihak yang datang menghadap kepadanya. Oleh sebab itu, seorang Notaris dituntut untuk bersikap hati-hati dan teliti dalam membuat akta otentik bagi para pihak yang datang menghadap, agar akta yang dibuat Notaris tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak yang mengakibatkan pihak yang merasa dirugikan mengajukan pembatalan baik sebagian atau seluruhnya isi akta.
6 Peter E. Latumeten, Cacat Yuridis Akta Notaris Dalam Peristiwa Hukum Konkrit dan Implikasi Hukumnya, Tuma Press, Jakarta, 2011, hal. 31.
Akta Notaris adalah akta autentik yang dibuat oleh atau dihadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang-undang. Akta yang dibuat notaris tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna yang kekuatan hukumnya berbeda dengan akta dibawah tangan. Akta dibawah tangan adalah akta yang dibuat sendiri oleh pihak-pihak yang berkepentingan tanpa bantuan pejabat umum. Sedangkan akta autentik merupakan produk Notaris yang sangat dibutuhkan masyarakat demi terciptanya suatu kepastian hukum7. Pendapat yang umum mengenai keabsahan akta autentik mempunyai dua bentuk yaitu:8
1. Akta pejabat (Ambtelijke Acte atau Verbal Acte)
Akta Pejabat merupakan akta yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu dengan mana pejabat menerangkan apa yang dilihat serta apa yang dilakukannya, jadi inisiatif tidak berasal dari orang yang namanya diterangkan didalam akta, ciri khas yang nampak pada akta pejabat, yaitu tidak adanya komparisi dan Notaris bertanggung jawab penuh atas pembuatan akta ini.
2. Akta pihak atau penghadap (Partij Acte)
Akta yang dibuat dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu dan akta itu dibuat atas permintaan pihak-pihak yang berkepentingan. Ciri khas dari akta ini adanya komparisi atas keterangan yang mneyebutkan kewenangan para pihak dalam keterangan yang menyebutkan kewenangan para pihak dalam melakukan perbuatan hukum yang dimuat dalam akta, contoh: akta pihak atau penghadap, jual beli, sewa menyewa, pendirian perseroan terbatas, koperasi atau yayasan, pengakuan hutang, dan lain sebagainya.
Pembuatan akta Notaris baik akta pejabat maupun akta pihak, yang menjadi dasar utama atau inti dalam pembuatan akta Notaris, yaitu harus ada keinginan atau kehendak wilsvorming dan permintaan dari para pihak, jika keinginan dan permintaan para pihak tidak ada, maka Notaris tidak akan membuat akta yang
7 Andi.A.A.Prajitno, Apa dan Siapa Notaris di Indonesia, Citra Aditya Bakti, Surabaya, 2010, hlm. 51.
8 Sjaifurrachman, Aspek Pertanggung jawaban Notaris dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011, hlm. 109.
dimaksud. Untuk memenuhi keinginan dan permintaan para pihak, Notaris dapat memberikan saran dengan tetap berpijak pada aturan hukum. Ketika saran notaris diikuti oleh para pihak dan dituangkan dalam akta Notaris, meskipun demikian hal tersebut tetap merupakan keinginan dan permintaan para pihak, bukan saran atau pendapat Notaris atau isi akta merupakan perbuatan para pihak bukan perbuatan atau tindakan Notaris9. Oleh karena itu, Notaris dituntut mampu untuk merangkai kata menjadi rangkaian kalimat yang bernilai hukum yang sesuai dengan keinginan dan permintaan para pihak.
Dalam Pasal 16 ayat 1 huruf a Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris menjelaskan bahwa dalam menjalankan jabatannya, Notaris wajib bertindak amanah, jujur, saksama, mandiri tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum.10 Dalam prakteknya Notaris sendiri tidak dapat lepas dari kesalahan yang mungkin saja terjadi, sehingga dalam menjalankan jabatan nya Notaris selaku pejabat pembuat akta mungkin saja melakukan kesalahan. Seperti kesalahan yang disebutkan disini adalah kesalahan yang dapat mengakibatkan perbedaan antara isi minuta akta dengan salinan akta yang telah dikeluarkan oleh Notaris.
Notaris tidak berwenang untuk membetulkan kesalahan dalam minuta yang mengandung kesalahan isi akta atau yang mengandung arti subtansi, misalnya di dalam minuta akta ada kelupaan mencantumkan suatu Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Notaris membuat berita acara membetulkan
9 Habib Adjie, Sanksi Perdata & Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2013, hlm. 57.
10 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Pasal 16 ayat (1).
kesalahan dengan menambahkannya dalam Surat keputusan tersebut.11 Bukan hanya kewenangan saja yang harus diperhatikan oleh Notaris dalam melaksanakan tugas dan jabatannya, namun ada salah satu kewajiban Notaris yang tertera dalam Pasal 16 ayat 1 huruf c Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris bahwa Notaris wajib mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta atau Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta.
Salinan Akta merupakan turunan dari minuta akta, lebih lengkapnya mengenai pengertian salinan akta diatur dalam Pasal 1 angka 9 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yaitu, Salinan akta adalah salinan kata demi kata dari seluruh akta dan pada bagian bawah salinan akta tercantum frasa “diberikan sebagai salinan yang sama bunyinya.12 Pengertian “Minuta akta atau minit adalah akta yang asli yang ditandatangani oleh penghadap, saksi-saksi dan notaris dan disimpan dalam arsip notaris.13 Sehingga apabila salinan notaris tidak sama persis dengan minuta akta maka dapat menimbulkan kerugian bagi notaris itu sendiri maupun bagi pihak yang bersengketa.
Penelitian ini di fokuskan pada Putusan Pengadilan Negeri Sengeti kelas II Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt. Kasus ini bermula karena adanya laporan dari Tuan JN (selanjutnya disebut sebagai Penggugat) disampaikan oleh Advokat dan Konsultan Hukum Nelson Freddy dan Rekan melalui Surat Kuasa Khusus tertanggal 20 Januari 2020, Adapun alasan pengaduan ini didasarkan pada dilakukannya Akta Perjanjian Bangun Bagi Ruko (Rumah Toko) Nomor 28
11 Sjaifurrachman, Op.cit., hlm. 151.
12 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris. Pasal 1.
13 R Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hlm. 176.
tertanggal 14 November 2012 yang dibuat oleh YP selaku Notaris (selanjutnya disebut sebagai Tergugat), yang berkedudukan di Kabupaten Muaro Jambi.
Terhadap pelaksanaan dari kesepakatan yang tertuang dalam Akta Perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 di Notaris dan PPAT YP, tertanggal 14 November 2012 tersebut, telah muncul permasalahan antara Penggugat dengan Para Tergugat, dan terhadap permasalahan itu telah diajukan Gugatan Wanprestasi, dengan nomor perkara Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt. yang adapun merupakan objek kerugian yang timbul terhadap gugatan wanprestasi tersebut ialah:
a. Menurut pengugat, para tergugat tidak menyerahkan Rumah Toko (ruko) yang menjadi bagian milik pengugat sebagaimana yang telah disepakati dalam Akta Perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 di Notaris YP tertanggal 14 November 2012.
b. Menurut pengugat, para tergugat tidak membuat dan menandatangani akta jual beli dihadapan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) atas bagian Penggugat sebagaimana yang telah disepakati dalam Akta Perjanjian bagi bangun Nomor 28 di Notaris YP tertanggal 14 November 2012.
c. Dan Menurut pengugat, jumlah ruko bagian depan disepakati akan dibangun sebanyak 3 (tiga) ruko, namun tertulis didalam Akta Perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 di Notaris YP tertanggal 14 November 2012 yaitu sebanyak 4 (empat) ruko.
Sehingga adapun permasalahan gugatan wanprestasi tersebut, dimana Akta Perjanjian Bangun Bagi Ruko (Rumah Toko) Nomor 28 yang dibuat oleh YP selaku Notaris, dinyatakan dibatalkan sebahagian isi dari Akta Perjanjian Bangun
Bagi Ruko (Rumah Toko) oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sengeti, dengan Putusan Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt, yang dijadikan objek dari alasan pertimbangan yang dinyatakan oleh majelis hakim pengadilan tinggi sengeti dalam putusannya, bahwa antara minuta akta dan salinan akta perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 yang dibuat oleh YP selaku Notaris, terdapat perbedaan kalimat atau uraian yang menjadi objek utama dalam perjanjian yang telah disepakti oleh kedua belah pihak yang didalam nya membuat perjanjian sehingga mengakibatkan terjadinya kerugian bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam perjanjian tersebut. Awalnya penggugat tidak mengetahui sama sekali perbedaan antara minuta akta dan salinan akta tersebut, penggugat baru mengetahui setelah adanya perdebatan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam pembuatan bangunan rumah toko tersebut, karena penggugat sangat mempercayai tergugat YP selaku notaris akan bertindak secara benar dan profesional. Bahwa terhadap gugatan wanprestasi didalam putusan Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sengeti turut membatalkan sebahagian isi dari perjanjian akta Perjanjian Bangun Bagi Ruko (Rumah Toko) Nomor 28 yang dibuat oleh YP selaku Notaris dan terhadap tindakan Tergugat IX YP yang melakukan kesalahan dalam menyalin salinan Akta Perjanjian Bangun Bagi Nomor 28 di Notaris YP tertanggal 14 November 2012 sehingga menimbulkan perbedaan kalimat atau uraian antara minuta akta dan salinan akta adalah Perbuatan Melawan Hukum.
Kasus tersebut telah diputuskan dan berkekuatan Hukum Tetap atau Inkracht.
Dengan begitu penulisan ini berfokus mengangkat mengenai perbedaan antara minuta akta dengan salinan akta, sehingga dimana pelaksanaan prinsip
kehati-hatian bagi Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya dituntut melakukan perbuatan akta dengan baik dan benar, artinya akta yang dibuat memenuhi kehendak hukum dan permintaan pihak-pihak yang berkepentingan karena jabatannya sehingga menghasilkan akta yang bermutu dengan menjelaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan akan kebenaran isi dan prosedur akta, sehingga berdampak positif, artinya siapapun akan mengakui akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian sempurna.14
Oleh karena itu, berkaitan dengan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tesis dengan judul “AKIBAT HUKUM TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN SALINAN AKTA YANG DIKELUARKAN OLEH NOTARIS (STUDI PUTUSAN NOMOR 1/PDT.G/2020/PN.SNT)”.
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana akibat hukum akta yang dibuat dihadapan notaris terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta ?
2. Bagaimana tangung jawab hukum notaris terhadap terjadinya perbedaan minut akta dengan salinan akta ?
3. Bagaimana kerugian yang timbul terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta ?
14 Denny Saputra, “Prinsip Kehati-hatian bagi Notaris/PPAT dalam Menjalankan
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis akibat hukum akta yang dibuat dihadapan notaris terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis tangung jawab hukum notaris terhadap terjadinya perbedaan minut akta dengan salinan akta.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis apa kerugian yang timbul terhadap terjadinya perbedaan minuta akta dengan salinan akta.
D. Manfaat Penilitian
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun praktis, sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
Menerapkan ilmu teoritis yang didapat dibangku perkuliahan Program Magister Kenotariatan dan menghubungkannya dalam kenyataan yang ada dalam masyarakat. Menambah pengetahuan dan literatur dibidang kenotariatan yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan tugas sebagai pejabat umum.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengetahuan tentang akibat hukum terhadap terjadinya perbedaan
Tupoksinya dalam Upaya Pencegahan Kriminalisasi berdasarkan Kode Etik”, Volume 4, Nomor
minuta akta dan salinan akta yang dikeluarkan oleh notaris, serta untuk perkembangan kemajuan pengetahunan dan sebagai sarana untuk menuangkan sebuah bentuk pemikiran tentang suatu tema dalam bentuk karya ilmiah berupa thesis.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara dan maka penelitian dengan judul : “Akibat Hukum Terhadap Terjadinya Perbedaan Minuta Akta Dengan Salinan Akta Yang Di Keluarkan Oleh Notaris (Studi Putusan Nomor 1/Pdt.G/2020/PN.Snt)” tidak ditemukan judul dan batasan masalah yang sama, sehingga penelitian tesis ini adalah asli, jauh dari unsur plagiat yang bertentangan dengan asas-asas keilmuan, kejujuran, rasionalitas, objektivitas dan terbuka, sehingga keasliannya dapat dipertanggung jawabkan secara akademik. Adapun judul yang mempunyai persamaan dengan penelitian ini antara lain :
1. Ditulis oleh Abelberd S. Simamora (157011197), yang berjudul Analisis Yurudis Terhadap Perubahan Isi Akta Notaris Tanpa Persetujuan Para Pihak (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor. 1003K/PID/2015), dengan permasalahan yaitu:
a. Bagaimanakah Proses Pelaksanaan Perubahan Isi Akta Notaris Yang Telah Tanda Tangan Menurut Hukum?
b. Bagaimanakah Akibat Hukum Terhadap Perubahan Akta Otentik Yang Tidak Memenuhi Syarat?
3, September 2017.
c. Bagaimanakah Pertanggungjawaban Notaris Atas Akta Otentik Yang Dirubah Tanpa Persetujuan Para Pihak Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor. 1003K/PID/2015?
2. Ditulis oleh Deborah (167011078), yang berjudul “Kajian Hukum Mengenai Renvoi Yang Baru Dilakukan Setelah Dikeluarkan Salinan Akta” dengan permasalahan yaitu:
a. Bagimana Pengaturan Keseluruhan atas Renvoi Dalam Akta Notaris Menurut Undang-undang Jabatan Notaris?
b. Bagaimana Upaya Yang Dilakukan Oleh Notaris Apabila Terjadi Kesalahan Pengetikan Pasca Salinan Akta Telah Dikeluarkan?
c. Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Notaris atas Renvoi Yang Dilakukan Pasca Salinan Akta Telah Dikeluarkan?
3. Ditulis oleh Rahmat Hasan Ashari Hasibuan (147011188), yang berjudul
“Kelalaian Notaris Mengeluarkan Salinan Ketika Minuta Akta Belum Di Tanda Tangani (Studi Putusan Pengadilan Negeri Kisaran Nomor: 657/PID.
B/2015/PN.KIS) ” dengan permasalahan yaitu:
a. Mengapa Notaris dapat mengeluarkan salinan akta sebelum ditandatangani minuta aktanya ?
b. Bagaimana kedudukan salinan akta yang minuta aktanya belum ditandatangani ?
c. Bagaimana tanggung jawab Notaris atas keluarnya salinan akta ketika minuta akta belum ditandatangani dalam kasus ini ?
Kesemua tesis di atas, menggunakan pendekatan yang berbeda dari yang akan ditulis dalam penelitian ini.
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, kemudian teori ini harus diuji dengan menghadapkan fakta-fakta yang menunjukan ketidak benaran, guna menunjukan bangunan berfikir yang tersusun sistematis, logis (rasional), empiris (kenyataan), juga simbolis.15 Adapun kerangka yang akan dijadikan landasan untuk menjawab rumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah sebegai berikut:
a. Teori Kewenangan
Menurut kamus praktis Bahasa Indonesia yang disusun olah A.A.
Waskito, kata kewenangan memiliki arti hak dan kekuasaan yang dipunyai untuk melakukan sesuatu. Istilah kewenangan tidak dapat disamakan dengan istilah urusan karena kewenangan dapat diartikan sebagai hak dan kewajiban untuk menjalankan satu atau beberapa fungsi manajemen (pengaturan, perencanaan, pengorganisasian, pengurusan dan pengawasan) atas suatu objek tertentu yang ditangani oleh pemerintah.16
Wewenang dibagi menjadi dua yaitu wewenang personal dan wewenag ofisial, wewenang personal yaitu wewenang yang untuk memimpin,
15 Otje Salman dan Anton F Susanto, Teori Hukum Mengingat, Mengumpul dan Membuka Kembali, Refika Aditama Press, Jakarta, 2004, hlm. 21.
16 Agussalim Andi Gadjong, Pemerintah Daerah Kajian Politik Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2007, hlm. 95.
sedangkan wewenag ofisial merupakan wewenang resmi yang diterima dari wewenang yang berada di atasnya.17 Seiring dengan pilar utama Negara18 yaitu Asas Legalitas, berdasarkan prinsip ini tersirat bahwa wewenang pemerintahan berasal dari Peraturan Perundang-undangan, artinya sumber wewenang bagi pemerintah adalah Peraturan Peundang-Undangan.19 Kekuasaan atau kewenangan senantiasa ada dalam segala lapangan kehidupan, baik masyarakat yang sederhana apalagi pada masyarakat yang sudah maju.20 Ada tiga jenis kewenangan yaitu:
1. Kewenangan Atribusi
Soerjono Soekanto menyatakan perbedaan antara kekuasaan dan wewenang merupakan setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dapat dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat.21 Kewenangan atau wewenang merupakan suatu istilah yang bisa digunakan dalam lapangan hukum publik, yang disini bisa disebut kewenangan yang diberikan kepada pejabat tata usaha yang berdasarkan kepada perundang-undangan, kekuasaan formal berasal dari kekuasaan yang diberikan undang- undang atau legislatif dari
17 HR. Ridwan, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm 73.
18 Jimly Asshidiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2007, hlm. 297.
19 Yuliandri, Asas-Asas Pembentukan Perarutan Perundang-Undangan yang Baik Gagasan Pembentukan Undang-Undang Berkelanjutan, Cetakan 2, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2010, hlm, 249.
20 Yuslim, Kewenangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Pemerintah Kabupaten/Kota Menurut Undang-Undang Dasar 1945, Ringkasan Disertasi, Universitas Andalas, Padang, 2014, hlm. 8.
kekuasaan eksekutif atau administratif, karena merupakan kekuasaan dari segolongan orang tertentu atau kekuasaan terhadap suatu bidang pemerintahan, sedangkan wewenang hanya mengenai suatu bagian tertentu saja dari kewenangan, wewenang adalah hak untuk memberi perintah, dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi. Berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1868 merupakan Suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan undang-undang, dibuat dihadapan pegawai umum dimana akta tersebut dibuat.22
2. Kewenangan Delegasi
Pada delegasi terjadi pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata usaha Negara yang telah memperoleh wewenang pemerintah secara atributif kepada badan atau jabatan tata usaha Negara lainnya, jadi suatu delegasi selalu didahului oleh adanya suatu atribusi wewenang.23
3. Kewenangan Mandat
Pada mandat ini tidak dibicarakan penyerahan - penyerahan wewenang, tidak pula pelimpahan wewenang, dalam hal mandat tidak terjadi perubahan wewenang apapun (setidaknya dalam arti yuridis formal), yang ada hanyalah hubungan internal.
21 Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta,2003, hlm 92.
22 Pasal 1868, Kitab Undang-undang Hukum Perdata
23 Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Beberapa Pengertian Dasar Hukum Tata Usaha Negara, Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hlm. 91.
Dari ketiga sumber kewenangan diatas dalam pembahasan tesis ini menggunakan kewenangan atribusi. Karena dari perspektif sumber kewenangan, Notaris memiliki wewenang atribusi yang diberikan oleh pembentuk undang-undang (badan legislator), yang dalam ini melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Jadi, Notaris memiliki legalitas untuk melakukan perbuatan hukum membuat akta otentik.
b. Teori Tanggung Jawab Hukum
Menurut Hans Kelsen dalam teorinya tentang tanggung jawab hukum menyatakan bahwa: “seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum, subjek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan.24 Lebih lanjut Hans Kelsen menyatakan bahwa:25 “Kegagalan untuk melakukan kehati-hatian yang diharuskan oleh hukum disebut kekhilafan (negligence) dan kekhilafan biasanya dipandang sebagai satu jenis lain dari kesalahan (culpa), walaupun tidak sekeras kesalahan yang terpenuhi karena mengantisipasi dan menghendaki, dengan atau tanpa maksud jahat, akibat yang membahayakan.”
Hans Kelsen selanjutnya membagi mengenai tanggung jawab terdiri
24 Hans Kelsen (a), General Theory Of Law and State, Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empirik, BEE Media Indonesia, Jakarta, 2007, hlm, 81.
25 Ibid., hlm, 81.
dari:26
1. Pertanggung jawaban individu yaitu seorang individu bertanggung jawab terhadap pelanggaran yang dilakukannya sendiri;
2. Pertanggung jawaban kolektif berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain;
3. Pertanggung jawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan menimbulkan kerugian;
4. Pertanggung jawaban mutlak yang berarti bahwa seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena tidak sengaja dan tidak diperkirakan.
Tanggung jawab dalam kamus hukum dapat diistilahkan sebagai liability dan responsibility, istilah kesalahan yang dilakukan oleh subjek hukum, sedangkan istilah responsibility menunjuk pada pertanggung jawaban politik.27 Teori tanggung jawab lebih menekankan pada makna tanggung jawab yang lahir dari ketentuan Peraturan Perundang- undangan sehingga teori tanggung jawab dimaknai dalam arti liability,28 sebagai suatu konsep yang terkait dengan kewajiban hukum seseorang yang bertanggung jawab secara hukum atas perbuatan tertentu bahwa dia
26 Hans Kelsen (b), Teori Hukum Murni Nuansa & Nusa Media, Bandung, 2006, hlm. 140.
27 HR. Ridwan, Op.,Cit, hlm. 337.
28 Busyra Azheri, Corporate Social Responsibility dari Voluntary menjadi Mandotary, Raja Grafindo Perss, Jakarta, 2011, hlm.54.
dapat dikenakan suatu sanksi dalam kasus perbuatannya bertentangan dengan hukum.
Penyelenggaraan suatu Negara dan pemerintahan, pertanggung jawaban itu melekat pada jabatan yang juga telah dilekati dengan kewenangan, dalam perspektif hukum publik, adanya kewenangan inilah yang memunculkan adanya pertanggung jawaban, sejala dengan prinsip umum tidak ada kewenangan tanpa pertanggung jawaban.29
Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:30
1. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja (intertional tort liability), tergugat harus dilakukan melakukan perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
2. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena kelalaian (negligence tort liability), didasarkan pada konsep kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur (interminglend).
3. Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan (strict liability), didasarkan pada perbuatannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Fungsi teori pada penulisan tesis ini adalah memberikan arah atau petunjuk serta menjelaskan gejala yang diamati, oleh karena itu penelitian diarahkan kepada hukum positif yang berlaku yaitu tentang:
tanggung jawab Notaris dalam hal terjadi perbedaan minuta akta dengan salinan yang dikeluarkan oleh notaris dengan dasar teori tanggung jawab menjadi pedoman guna menentukan bagaimana kedudukan dan tanggung jawab Notaris dalam pembuatan akta.
29 Ibid., hlm. 352.
2. Kerangka Konsepsi
Kerangka konseptual merupakan suatu kerangka yang didasarkan pada suatu peraturan Perundang-undangan tertentu dan berisikan definisi-definisi dari variabel judul yang akan dijadikan pedoman, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.31 pentingnya defenisi operasional ini bertujuan untuk menghindari perbedaan salah pengertian atau penafsiran yang salah darisuatu istilah yang dipakai agar tidak terjadi kekeliruan, oleh karena itu maka dijelaskan beberapa istilah dalam penelitian ini yaitu:
a. Akibat hukum adalah segala akibat yang terjadi dari segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum terhadap objek hukum atau akibat hukum lain yang disebabkan karena kejadian-kejadian tertentu.32
b. Notaris adalah Pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh Peraturan Perundang-undangan dan yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosee, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh
30 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, Citra Aditya Bakti, 2010, hlm.
336.
31 Amirudin dan Faisal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm. 2.
Undang-undang.
c. Minuta akta dimaksudkan akta asli yang disimpan dalam protokol notaris. Dalam minuta ini juga tercantum asli tanda tangan, paraf para penghadap atau cap jempol tangan kiri dan kanan para saksi dan notaris, renvooi,33 dan bukti bukti lain yang untuk mendukung akta yang di letakkan pada minut akta tersebut.
d. Salinan Akta adalah salinan kata demi kata dari seluruh akta dan pada bagian bawah salinan akta tercantum frasa “diberikan sebagai salinan yang sama bunyinya”.34 Salinan akta dapat dikeluarkan jika asa akta dalam minutanya yang sama bunyinya.35
e. Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.36 Subekti memberikan defenisi Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji pada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.37
G. Metode Penelitian
1. Sifat dan Jenis Penelitian
Sifat penelitian ini bersifat deskriptif analitis yaitu penelitian yang mendeskripsikan atau melukiskan fakta dan kondisi atau gejala yang terlihat, dan bertujuan untuk mendeskripsikan atau melukiskan fakta-
32 Pipin Syarifin, Pengantar Ilmu Hukum, Balai Pustaka, Jakarta, 2009, hlm. 385.
33 Dr. Habib Adjie, SH., M.Hum, Hukum Notaris Indonesia, cetakan 5, Bandung, 2018, hlm. 46.
34 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Pasal 1 angka 8.
35 Op.Cit, Hal 47.
36 Kitab Undang Undang Hukum Perdata, Pasal 1313.
fakta yang terkait dengan mencari makna istilah hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, sehingga peneliti dapat memperoleh makna baru dari istilah hukum dan menguji aktualitasnya dengan menganalisis penerapan aturan hukum.38
Untuk memperoleh suatu pembahasan sesuai dengan apa yang terdapat didalam tujuan penyusunan bahan analisis, maka dalam penulisan ini penulis akan menggunakan metode pendekatan secara yuridis normatif, ialah jenis penelitian yang lazim dilakukan dalam kegiatan pengembangan ilmu hukum yang biasa dikenal dengan istilah dogmatika hukum. Ilmu ini menunjukkan bagaimana cara kerjanya sebuah ilmu, artinya apa dan bagaimana metodenya akan ditentukan oleh apa yang dicari oleh ilmu itu melalui visi dan misi dari ilmu yang berkaitan dan menjadi pokok permasalahan dalam ilmu tersebut.39
2. Sumber Data
Sumber - sumber data dalam penelitian ini adalah bahan - bahan hukum yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder yang dilakukan dengan menghimpun bahan bahan berupa:
a. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri
37 Subekti, Hukum Perjanjian. Cet. XVI, Intermasa, Jakarta, 1996. hlm. 15-16.
38 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hlm. 106.
39 Sulistyowati Irianto dan Shidarta, Metode Penelitian Hukum Konstelasi dan Refleksi, Cetakan 4, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2017, hlm. 142.
dari Peraturan Perundang - undangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan Peraturan perundang - undangan dan putusan - putusan hakim yang terdiri dari:
1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
3) Putusan Pengadilan Negeri Sengeti Nomor: 1/Pdt.G/2020/Pn.Snt.
b. Bahan hukum sekunder yaitu semua publikasi tentang hukum yang meliputi buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atas putusan pengadilan. bahan hukum yang berkaitan dengan konsep hukum yang digunakan dalam tesis ini antara lain:
1) Literatur atau hasil penulisan yang berupa hasil penelitian yang terdiri dari buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah;
2) Hasil karya dari kalangan praktis hukum dan tulisan-tulisan para pakar;
3) Teori-teori hukum dan pendapat-pendapat sarjana melalui literatur yang dipakai;
Bahan-bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan bahan-bahan hukum yang mengikat khususnya dibidang kenotariatan.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan bahan hukum primer dan sekunder untuk memberikan informasi tentang bahan hukum sekunder.40
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian hukum ini, dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data penelitian kepustakaan atau yang disebut sebagai library research yaitu penelitian dilakukan dengan cara mengunjungi perpustakaan guna mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti:
4. Alat Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dengan cara editing dan coding. Editing merupakan prosses penelitian kembali terhadap catatan-catatan, berkas- berkas, informasi yang dikumpulkan oleh para pencari data yang diharapkan untuk dapat meningkatkan mutu kehandalan data yang hendak dianalisis.
Coding adalah tahapan setelah melakukan pengeditan akan diberikan tanda- tanda tertentu atau kode-kode tertentu untuk menentukan data yang relevan atau betul-betul dibutuhkan.
5. Analisis Data
Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti.
Penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut
40 Edi Ikhsan dan Mahmul Siregar, Metode Penelitian Dan Penulisan Hukum Sebagai
pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat atau kepercayaan orang yang diteliti kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka.41
Sebelum analisis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang telah dikumpulkan melalui bahan hukum primer, sekunder maupun tersier untuk mengetahui validitasnya. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan disistematikan sehingga menghasilkan klarifikasi yang selaras dengan permasalahan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang baik.42
Bahan Ajar, Fakultas Hukum Sumatera Utara, Medan, 2009, hlm. 24.
41 Sulistyo Basuki, Metode Penelitian, Wadatama Widya Sastra dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Jakarta, 2006, hlm. 78
42 Bambang Sugono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Prasada, Jakarta, 2002, hlm.
106.
25 BAB II
AKIBAT HUKUM AKTA YANG DIBUAT DIHADAPAN NOTARIS TERHADAP TERJADINYA PERBEDAAN MINUTA AKTA DENGAN
SALINAN AKTA A. Notaris Sebagai Pejabat Umum
Notaris dikatakan sebagai pejabat umum karena memiliki tugas menjalankan sebagian kekuasaan negara dibidang hukum privat yang lebih khususnya membuat akta yang bersifat autentik. Dalam membuat akta patij ataupun akta relas, notaris harus bertanggung jawab terhadap akta yang dibuatnya itu memiliki pembuktian yang sempurna atau dengan kata lain tidak perlu adanya pembuktian lain karena aktanya sudah bersifat autentik, hal tersebut sesuai dengan pasal 1868 KUHPerdata yang menyebutkan bahwa akta otentik ialah akta yang dibuat dalam bentuk Undang-undang dan dibuat dihadapan Notaris, dimana akta itu dibuat.43
Kata notaris berasal dari kata nota literaria yaitu tanda tulisan atau karakter yang dipergunakan untuk menuliskan atau menggambarkan ungkapan kalimat yang disampaikan nara sumber, tanda atau karakter yang dimaksud adalah tanda yang dipakai dalam penulisan cepat atau stenografie.44 Menurut Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor. M.01-HT.03.01 Tahun 2006, tentang syarat dan tata cara pengangkatan dan pemindahan, dan pemberhentian Notaris, dalam Pasal 1 ayat 1, yang dimaksud dengan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Jabatan Notaris.
43 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1868.
Notaris merupakan pejabat publik yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, guna memberi perlindungan dan jaminan hukum demi tercapainya kepastian hukum dalam masyarakat. Pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian fungsi publik negara, yang khususnya dibidang hukum perdata. Bahwa untuk membuat akta autentik, seseorang harus mempunyai kedudukan sebagai Pejabat Umum atau yang disebut dengan Notaris.
Notaris adalah pejabat umum maksudnya adalah seseorang yang diangkat dan diberi wewenang oleh negara untuk melayani publik dalam pembuatan akta.
Menunjukkan peran negara yang menentukan posisi atau eksistensi Notaris, tanpa campur tangan negara tidak akan pernah ada norma yuridis yang memberikan otoritas pada Notaris. Notaris harus mengetahui dan memahami Peraturan- peraturan baik untuk notaris yang bersangkutan maupun pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuat akta. Hal ini agar pada saat membuat akta, aktanya tersebut mempunyai kekuatan hukum yang pasti atau kekuatan pembuktian yang sempurna. Namun dalam praktiknya tentu tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan karena bisa saja dalam pembuatan akta tersebut notaris melakukan kesalahan sehingga ada kelalaian yang dilakukan.
Berdasarkan pengertian-pengertian mengenai Notaris tersebut ada hal penting yang tersirat, yaitu ketentuan dalam permulaan pasal tersebut, bahwa Notaris adalah pejabat umum dimana kewenangannya atau kewajibannya yang utama ialah membuat akta autentik, jadi Notaris merupakan pejabat umum sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 1868 KUHPerdata ialah Suatu akta
44 G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Erlangga, Jakarta, 1980, hlm 41.
otentik adalah suatu akta yang didalam bentuknya yang ditentukan oleh Undang- undang dan dibuat oleh Notaris selaku pelaku pejabat umum.”45
Dalam penjelasan Undang-undang Jabatan Notaris disebutkan, bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi setiap warga negara. Untuk menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum dibutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat autentik mengenai perbuatan, perjanjian, penetapan, dan peristiwa hukum yang dibuat di hadapan atau oleh Notaris, yang dimaksudkan autentik menurut kamus besar bahasa Indonesia ialah dapat dipercaya. Dengan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwasanya akta yang dibuat oleh Notaris adalah akta yang dapat dipercayai oleh para pihak yang berkepentingan dalam membuat suatu kepentingan atau perjanjian.
Notaris sebagai pejabat umum yang menjalankan profesi dalam memberikan jasa hukum kepada masyarakat, perlu mendapatkan perlindungan dan jaminan demi tercapainya kepastian hukum. Jaminan perlindungan dan jaminan kepastian hukum terhadap pelaksanaan tugas Notaris. Namun, beberapa ketentuan dalam Undang-undang tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembanga hukum dan kebutuhan masyarakat sehingga perlu dilakukan perubahan, yang juga dimaksudkan untuk lebih menegaskan dan memantapkan tugas, fungsi, dan kewenangan Notaris sebagai pejabat yang menjalankan pelayanan publik, sekaligus sinkronisasi dengan Undang-undang lain.
45 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1868.
Kedudukan notaris sangat strategis, karena notaris adalah pejabat umum yang diangkat oleh pemerintah atau negara, disamping mempunyai kewenangan dalam membuat atau menerbitkan akta autentik, sehingga logis sekali jika banyak yang berkeinginan menempuh profesi sebagai Notaris. Kewenangan strategis merupakan standar, bahwa siapapun yang menjadi notaris dituntut mempunyai kapasitas keilmuan dan etika.
Syarat untuk dapat diangkat menjadi Notaris sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris adalah:46
1. Warga negara Indonesia;
2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
3. Berumur paling sedikit 27 tahun;
4. Sehat jasmani dan rohani;
5. Berijazah sarjana hukum dan lulusan jenjang strata dua kenotariatan;
6. Telah menjalani magang atau nyata - nyata telah bekerja sebagai karyawan Notaris dalam waktu 12 bulan berturut - turut pada kantor Notaris atas prakarsa sendiri atau atas rekomendasi Organisasi Notaris setelah lulus strata dua kenotariatan; dan
7. Tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, atau tidak sedang memangku jabatan lain yang oleh Undang-undang dilarang untuk dirangkap dengan jabatan Notaris.
Dapat dipahami, bahwa pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian fungsi publik dari negara, khususnya di bidang hukum perdata. Pejabat
46 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris, Pasal 3.
umum adalah seseorang yang diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah dan diberi wewenang dan kewajiban untuk melayani publik dalam hal-hal tertentu karena ia ikut serta melaksanakan suatu kekuasaan yang bersumber pada kewibawaan dari pemerintah. Dalam jabatannya tersimpul suatu sifat atau ciri khas yang membedakannya dan jabatan-jabatan lainnya dalam masyarakat.
Sebagai pejabat umum, notaris diangkat oleh Menteri untuk melaksanakan sebagian fungsi publik dari negara dan bekerja untuk pelayanan kepentingan umum khususnya dalam bidang hukum perdata, walaupun notaris bukan merupakan pegawai negeri yang menerima gaji dari Negara. Pelayanan kepentingan umum tersebut adalah dalam arti bidang pelayanan pembuatan akta dan tugas-tugas lain yang dibebankan kepada notaris, yang melekat pada predikat sebagai pejabat umum dalam ruang lingkup tugas dan kewenangan notaris.
Akta notaris yang diterbitkan oleh notaris memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. Menurut Nusyirwan notaris adalah orang semi swasta, karena ia tidak bisa bertindak bebas sebagaimana seorang swasta. Ia harus menjunjung tinggi martabatnya, oleh karena itu ia diperkenankan menerima jasa dalam bentuk uang atau honorarium untuk setiap pelayanan yang diberikannya.47 Honorarium”
berasal dan kata latin honor yang artinya kehormatan, kemuliaan, tanda hormat atau penghargaan semula mengandung pengertian balas jasa para nasabah atau klien kepada dokter, akuntan, pengacara, dan notaris.48 Balas jasa inilah yang
47 Nusyirwan, Membedah Profesi Notaris, Bandung, Universitas Padjadjaran, 2000, hlm 3-4.
48 Delta Pamungkas, Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta, 2004, hlm 472.
seringkali menjadi ujian utama dari kewenangan notaris, karena balas jasa ini lebih identik dengan pembayaran yang disepakati dari awal antara notaris dengan kliennya.
Deskripsi itu menunjukkan bahwa kedudukan notaris itu strategis, campur tangan atau intervensi negara sebagai pemerintah dalam mengatur kewenangan dan penempatan notaris merupakan salah satu bukti, bahwa kehadiran notaris selain sangat dibutuhkan oleh masyarakat, juga harus mendapatkan pengaturan secara khusus dari negara. Bagaimanapun juga, kewenangan yang dilakukan oleh notaris ini menjadkan masyarakat sebagai obyek kerjanya secara yuridis, yang diniscayakan dapat mengundang kompetisi antar notaris, sehingga harus diatur kepastian aktifitasnya.
Akta yang dibuat notaris sering disebut akta notarial, yang dijadikan sebagai alat bukti tertulis dan dikatakan sempurna jika sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam artian, akta yang dibuatnya tersebut tidak melenceng dari aturan.
Adapun hal yang membuat akta notaris itu tidak sempurna jika ada kesalahan yang sengaja atau tidak pada komparisi, tidak diperbaiki atau sudah diperbaiki tetapi masih ada kesalahan. Maka bisa dikatakan pembuatan akta itu tidak sesuai dengan Undang-undang jabatan notaris.
Akta autenik yang dibuat oleh notaris inilah yang membuat notaris menjadi salah satu pelaksana profesi hukum yang banyak berpengaruh terhadap banyak hal yang berhubungan dengan dunia hukum dan layanan masyarakat.
Kewenangan notaris ini pula yang membuat masyarakat, khususnya para pemohon layanan jasa bergantung pada pelaksanaan profesinya atau penuntasan.
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang jabatan notaris mengandung pasal yang membahas mengenai sumpah atau janji jabatan notaris yang diucapkan oleh notaris pada saat pengangkatan notaris dilakukan. Dalam sumpah atau janji jabatan notaris diucapkan bahwa notaris menjalankan jabatannya dengan amanah, jujur, saksama, mandiri dan tidak berpihak. Notaris juga bersumpah atau berjanji akan menjaga sikap, tingkah laku, dan akan menjalankan kewajiban sesuai dengan kode etik profesi, kehormatan, martabat, dan bertanggung jawab. Notaris juga harus mematuhi dan setia kepada Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-undang Jabatan Notaris dan Undang- undang lainnya, serta menjalankan kewajiban sesuai dengan Kode Etik Profesi.
Kode Etik Profesi yang dimaksud ialah Kode Etik Notaris.
Kata “Etika” yang secara etimologi berasal dari kata Yunani “ethos”.
Pengertian harafiah “etika” dimaknai sebagai “adat kebiasaan”, “watak”, atau
“kelakuan manusia”, tentu saja sebagai suatu istilah yang cukup banyak dipakai sehari-hari, kata “etika” tersebut memiliki arti yang lebih luas dari hanya sekedar arti etimologis harafiah.49 Berdasarkan pengertian etika yang telah dirumuskan dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1998 maka dapat dirumuskan bahwa pengertian etika yaitu:50
1. Nilai-nilai dan norma-norma moral dipegang oleh seseorang atau kelompok orang dalam masyarakat untuk mengatur tingkah lakunya.
2. Etika juga berarti kumpulan asas atau nilai moral.
3. Etika juga bisa dipahami sebagai ilmu tentang yang baik dan yang buruk.
49 Refika Isa Beekum, Etika Bisnis Islam, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2004, hlm. 3
Secara sistematis, etika dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus.
Salah satu ketentuan yang harus ditaati oleh notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya adalah kode etik notaris. Kode etik notaris ini dibentuk untuk menegakkan etika profesi hukum. Agar kode etik profesi dapat berfungsi sebagaimana mestinya maka ada dua syarat yang pertama kode etik itu harus dibuat oleh profesi itu sendiri, Kedua, agar kode etik itu berhasil dengan baik maka pelaksanaannya harus diawasi terus menerus. Akta itu bisa dikatakan pembuktiannya tidak sempurna lagi dan tidak bersifat autentik dan pada akhirnya atau akta tersebut dikatakan akta dibawah tangan. Dilihat berdasarkan nilai kekuatan suatu akta notaril dapat dikatakan sempurna bila kesalahan yang terdapat dalam akta tersebut sudah diperbaiki dengan sesuai keinginan para pihak. Bisa sangat dipastikannya kekuatannya sempurna. Karena dikatakan sebagai alat bukti yang sangat kuat dan tidak perlunya pembuktian lagi.51
B. Akibat Hukum Akta Yang Dibuat Dihadapan Notaris Terhadap Terjadinya Perbedaan Minuta Akta dengan Salinan Akta
Notaris dikatakan sebagai pejabat umum karena memiliki tugas menjalankan sebagian kekuasaan negara dibidang hukum privat yang lebih khususnya membuat akta yang bersifat autentik. Notaris harus mengetahui dam memahami peraturan- peraturan baik untuk notarisnya dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuat akta yang berlaku di Indonesia. Hal ini agar pada saat membuat akta tersebut mempunyai kekuatan hukum yang pasti atau sempurna. Namun dalam
50 E. Y. Kanter, Etika Profesi Hukum; Sebuah Pendekatan Religius, Storia Grafika: Jakarta, 2001, hlm. 12