• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

2. Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi

Peranan sektor pertanian selama ini dalam perekonomian nasional secara tradisional kerap hanya dilihat melalui sejauh mana kontribusinya dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan

22 pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ”3 F contribution in the economy”, yaitu food (pangan), feed (pakan), dan fuel (bahan bakar). (Daryanto, 2009)

Peranan pertanian kaitannya dengan ”food” adalah sektor pertanian menjadi leading sector dalam pembangunan ketahanan pangan. Artinya peranan sektor pertanian sangat menentukan terwujudnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas melalui ketersediaan dan kecukupan pangan baik nabati maupun hewani. Kaitannya dengan “feed”, sektor pertanian memiliki peranan sebagai pemasok terbesar bahan baku utama pakan ternak. Jagung merupakan komoditas pertanian terbesar yang digunakan untuk pakan ternak unggas. Pakan ternak unggas menggunakan bahan baku yang berasal dari jagung sebesar ± 60 persen. Selama beberapa tahun terakhir ini, jagung digunakan sebagai penghasil sumber energi terbarukan (renewable) untuk keperluan bahan bakar (fuel). (Daryanto, 2012)

Bagi banyak negara di dunia yang pendapatan per kapitanya kurang dari US $ 2500.00 (dua ribu limaratus dollar AS) pertanian masih menjadi sektor yang sangat penting bagi perekonomian nasionalnya. Bagi negara-negara tersebut pertanian menjadi tulang punggung bagi tegaknya suatu ekonomi negara. Pertanian tidak saja menyediakan kebutuhan pangan penduduknya tetapi juga sebagai sumber pendapatan ekspor (devisa) dan sebagai pendorong dan penarik bagi tumbuhnya industri

23 nasionalnya. (Saragih, 2004)

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan sepanjang kehidupan manusia. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts”, Pertanian adalah ibu dari segala budaya.

“Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya- budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor pertanian diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak”. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM.

Dikatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”. Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Walaupun kedua pernyataan tersebut telah berusia lebih dari dua milenium, pernyataan ini masih relevan dengan kondisi yang dihadapi Indonesia dewasa ini. Bahkan di banyak negara, pernyataan ini masih dipegang, termasuk di negara-negara yang industrinya sudah maju.

Bahkan banyak yang meyakini prinsip bahwa tidak ada negara maju yang tidak diawali oleh pertanian yang kuat. (Daryanto, 2012)

Perpaduan antara komersialisasi usaha tani dan modernisasi teknologi membuat perolehan dan harga sarana produksi maupun pproduk pertanian semakin tergantung pada kondisi pasar dunia. Apabila kita sepakati bahwa komersialisasi dan penggunaan teknologi mutakhir adalah dua ciri utama modernisasi pertanian dan modernisasi pertanian

24 merupakan arah pembangunan pertanian yang kita tempuh maka tidak dapat dielakkan lagi, semakin kita memacu pembangunan pertanian maka semakin besar pula ketergantungan sektor agribisnis pada pasar dunia.

Jelas bahwa ketergantungan sektor agribisnis pada pasar dunia adalah salah satu proses normal yang mesti dipandang sebagai kesempatan untuk lebih memacu pembangunan pertanian. (Simatupang, 2004)

Pengeluaran terbesar penduduk dunia adalah untuk barang-barang pangan (makanan dan minuman), sandang (pakaian), papan (bahan bangunan dari kayu, kertas), energi serta produk farmasi dan kosmetika.

Kelima kelompok produk tersebut merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat dunia. Sebagian besar dari kelompok produk tersebut dihasilkan dari agribisnis. Bahkan melihat kecenderungan perubahan di masa depan, agribisnis merupakan satu-satunya harapan untuk menyediakan kelima kelompok produk tersebut. (Saragih, 2001)

Konsep agribisnis pertama kali diperkenalkan oleh John H. Davis pada tahun 1955 dalam suatu makalah yang disampaikan pada Boston Conference on Distribution di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian konsep agribisnis dimasyarakatkan kembali oleh orang yang sama dalam buku yang berjudul A Conception of Agribusiness di Harvard University.

Tahun 1957 ini dianggap sebagai tahun kelahiran agribisnis. Seiring perkembangan pengetahuan, konsep agribisnis berkembang sehingga saat ini memliki ruang lingkup yang sangat luas. Agribusiness is the sum total of all operation in the manufacture and distribution of farm, production

25 operation on the farm, and the storage processing and distribution of farm commodities and items made from them (Davis and Golberg, 1957).

Agroindustri berasal dari dua kata agricultural dan industri yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. Definisi agroindustri dapat dijabarkan sebagai kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang, dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut, dengan demikian agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri yang memproduksi peralatan dan mesin pertanian, industri input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida dan lain-lain) dan industri jasa sektor pertanian. (Udayana, 2011)

Sektor agroindustri Indonesia sudah memiliki keunggulan komparatif yaitu sumber daya alam yang melimpah dan tenaga kerja yang banyak dan murah. Perlu dilakukan research and development (R & D) agar keunggulan komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif sehingga menguntungkan bagi devisa negara. Sasaran yang harus dicapai adalah menghasilkan final product yang bernilai tambah tinggi. (Nihayah, 2012)

Apabila dilihat dari sistem agribisnis, agroindustri merupakan bagian (subsistem) agribisnis yang memproses dan mentranformasikan bahan-bahan hasil pertanian (bahan makanan, kayu dan serat) menjadi

26 barang-barang setengah jadi yang langsung dapat dikonsumsi dan barang atau bahan hasil produksi industri yang digunakan dalam proses produksi seperti traktor, pupuk, pestisida, mesin pertanian dan lain-lain. Dari batasan diatas, agroindustri merupakan sub sektor yang luas yang meliputi industri hulu sektor pertanian sampai dengan industri hilir. (Udayana, 2011)

Industri hulu adalah industri yang memproduksi alat-alat dan mesin pertanian serta industri sarana produksi yang digunakan dalam proses budidaya pertanian. Sedangkan industri hilir merupakan industri yang mengolah hasil pertanian menjadi bahan baku atau barang yang siap dikonsumsi atau merupakan industri pasca panen dan pengolahan hasil pertanian. (Saragih, 2004)

Kegiatan agribisnis vertikal mulai dari hulu hingga hilir merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam menentukan keberhasilan pemasaran suatu komoditas. Misalnya jika usaha tani ubi kayu (agribisnis hulu) mengganggu kelestarian alam maka ekspor gaplek (agribisnis hilir) akan menderita sanksi ekonomi dari masyarakat internasional. Oleh karena itu agar usahanya dapat berhasil maka tidak ada pilihan lain, eksportir gaplek haruslah melakukuan koordinasi dengan seluruh pelaku agribisnis yang ada pada alur vertikalnya hingga ke hulu (usaha tani ubi kayu). Dengan perkataan lain, globalisasi nilai-nilai sosial yang diikuti oleh humanisasi pasar mengharuskan pengusaha agribisnis kita untuk menganut strategi koordinasi vertikal hulu-hilir. (Simatupang,

27 2004)

Untuk meningkatkan daya saing produk-produk pertanian diperlukan pengembangan industri hilir maupun hulunya. Pendalaman sruktur industri ke hulu dilakukan dengan mempercepat pengembangan industri pembibitan/perbenihan seluruh komoditas agribisnis potensial Indonesia, pengembangan industri agro otomotif yang menghasilkan mesin dan peralatan yang diperlukan baik pada subsistem on farm agribisnis, maupun pada subsistem agribisnis hilir (industri pengolahan), serta pengembangan industri agrokimia, seperti industri pupuk, industri pestisida dan industri obat-obatan/vaksin hewan. Pendalaman struktur industri agribisnis ke hilir dilakukan dengan mengembangkan industri-industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product), produk semi akhir (semi finished product) dan terutama produk akhir (final product).

Pengembangan industri perbenihan/pembibitan ini sangat mendesak sebagai sumber pertumbuhan produktivitas usahatani. Saat ini, industri perbenihan atau pembibitan merupakan salah satu mata rantai sistem agribisnis yang lemah. Dalam pada itu, dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia merupakan modal dasar yang dapat didayagunakan untuk membangun suatu industri pembenihan atau pembibitan di Indonesia. (Saragih, 2004)

Agroindustri dapat menghemat biaya dengan mengurangi kehilangan produksi pasca panen dan menjadikan mata rantai pemasaran

28 bahan makanan juga dapat memberikan keuntungan nutrisi dan kesehatan dari makanan yang dipasok kalau pengolahan tersebut dirancang dengan baik. Kegiatan agroindustri mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang sangat besar (backward dan forward linkages). Simatupang (1997) secara ekstrim menggambarkan keterkaitan berspektrum luas bahwa agroindustri sebetulnya tidak hanya dengan produk sebagai bahan baku tapi juga dengan konsumsi, investasi dan fiskal. (Udayana, 2011)

Besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang bagi kegiatan agroindustri, sehingga apabila dihitung berdasarkan impact multiplier secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diprediksi akan sangat besar. Hal inilah yang menjadi pendekatan dalam memposisikan agroindustri berpeluang besar menjadi sistem unggulan (Simatupang, 1997).

Besarnya linkage dari berkembangnya sektor agribisnis ini terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya dapat diindikasikan dari multiplier effect yang ditimbulkan dari pengembangan agroindustri meliputi semua industri dari hulu sampai pada industri hilir. Produk agroindustri pada umumnya bersifat cukup elastis, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdampak semakin luasnya pasar, khususnya pasar domestik. (Saragih, 2004)

Efek multiplier yang ditimbulkan dari pengembangan agroindustri meliputi semua industri dari hulu sampai pada industri hilir. Hal ini disebabkan karena karakteristik dari agroindustri yang memiliki kelebihan

29 dibandingkan dengan industri lainnya, antara lain: (a) memiliki keterkaitan yang kuat baik dengan industri hulunya maupun ke industri hilir, (b) menggunakan sumberdaya alam yang ada dan dapat diperbaharui, (c) mampu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif baik di pasar internasional maupun di pasar domestik, (d) dapat menampung tenaga kerja dalam jumlah besar, (e) produk agroindustri pada umumnya bersifat cukup elastis sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat yang berdampak semakin luasnya pasar khususnya pasar domestik. (Udayana, 2011)

Isu krisis pangan dunia pada saat ini memberi peluang bagi pengembangan agribisnis Indonesia. Kita memiliki ruang gerak dalam pengembangan agribisnis terutama bahan pangan dan serat (tekstil, barang-barang karet, kertas, bahan bangunan dan kayu) yang menguntungkan Indonesia ke depan. Kesadaran masyarakat dunia semakin meningkat akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup sehingga mendorong masyarakat dunia mengkonsumsi barang-barang yang bersifat bio-degradable. Hal ini akan menggeser penggunaan produk petro-fiber baik dalam industri tekstil maupun dalam industri barang-barang dari karet akan digantikan oleh bio-fiber (serat tanaman) seperti rayon. (Nainggolan

& Aritonang, 2012)

Di bidang energi juga sedang terjadi perubahan yang fundamental, dimana sumber energi utama dunia adalah sumberdaya mineral (petroleum). Namun cadangan minyak dunia makin tipis, sementara

30 alternatif energi seperti energi nuklir terbukti beresiko tinggi (kasus Rusia, Jepang). Kelangkaan energi dunia ini memberi kesempatan untuk mengembangkan bio-energi seperti palmoil-diesel (dari minyak sawit), ethanol (dari tebu). Hal ini memberi prospek baru bagi Indonesia sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Kelangkaan petro-energi tersebut juga akan berdampak pada industri-industri yang berbasis pada petro kimia, seperti pupuk, pestisida, detergent. Industri petro-pesticida akan bergeser kepada bio-pesticide, industri petro-detergent akan beralih pada bio-detergent dan industri petro-fertilizer akan beralih kepada bio-fertilizer (Saragih, B. 2001).

Industri etanol (biofuel) di Amerika Serikat (AS) meningkat tajam, dari 166 pabrik pada tahun 2006, sekarang meningkat tajam menjadi 429 pabrik biofuel. Naiknya harga minyak dunia mendorong riset dan pembangunan pabrik biofuel menjadi feasible. Pasar jagung dunia telah mengindikasikan bahwa alokasi jagung bagi kebutuhan pakan ternak akan berkurang karena tersedotnya jagung untuk keperluan bahan baku etanol (biofuel). Konsumsi jagung yang meningkat untuk pengembangan biofuel sebagai salah satu alternatif bahan bakar di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS) akan mengurangi pasokan jagung untuk pakan ternak. AS telah mengalokasikan 55 juta ton jagung untuk industri etanol (biofuel) dalam negeri pada tahun 2006 dan diperkirakan tahun 2008 meningkat menjadi 82 juta ton. Perkembangan industri biofuel akan diikuti oleh China yang memasok 20 persen jagung dunia. Kecenderungan

31 permintaan jagung yang meningkat baik untuk pemenuhan industri pakan ternak maupun pengembangan energi alternatif bahan bakar (biofuel) akan diikuti oleh naiknya harga jagung di pasar dunia. Peluang pasar ini tentunya dapat ditangkap untuk pengembangan jagung baik di daerah sentra produksi lama maupun daerah pengembangan baru. (Daryanto, 2012)

Untuk bidang farmasi dan kosmetika juga sedang terjadi proses perubahan yang menguntungkan negara-negara agribisnis seperti Indonesa. Kebutuhan hidup akan kebugaran (fitness), hidup sehat dan cantik, akan meningkatkan permintaan akan produk-produk farmasi, toiletries (sabun kecantikan; shampo, detergent). Indonesia yang memiliki kekayaan keragaman biofarmasi terbesar seperti tanaman, obat-obatan, tanaman minyak atsiri dan penghasil minyak olein (minyak sawit, minyak kelapa) cenderung akan menjadi satu global player pada industri bio-farmasi dan kosmetika. (Nainggolan & Aritonang, 2012)

Dokumen terkait