KONTRIBUSI SUB SEKTOR PERKEBUNAN TERHADAP PEREKONOMIAN DAERAH: STUDI KASUS DI PROVINSI JAWA
TIMUR
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E)
Oleh
Indah Pertiwi Tanjung NIM: 1113084000027
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1439 H/2017 M
i DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. DATA PRIBADI
1. Nama Lengkap : Indah Pertiwi Tanjung 2. Tempat, Tgl. Lahir : Jakarta, 23 Juli 1995
3. Alamat : Jl. Nambi RT 011 RW 003 Petukangan Utara Jakarta Selatan
4. Telepon : 082114741401
5. Email : [email protected] II. PENDIDIKAN FORMAL
1. 2001-2007 : SD Negeri Gunung 01 Jakarta 2. 2007-2010 : SMP Negeri 29 Jakarta 3. 2010-2013 : SMA Negeri 32 Jakarta
4. 2013-2017 : Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta III. PENGALAMAN EKSTRAKULIKULER
Palang Merah Remaja (SMP), 2008
English Club (SMA), 2010
IV. PENGALAMAN KERJA
Event Pameran Inacraft JCC Senayan brand fashion Tandamata
Event Launching Grabhitch Grab Indonesia
Event Fitbar Kalbe Farma Goes To Hospital
ii V. SEMINAR DAN WORKSHOP
Seminar penanggulangan HIV/AIDS “Let’s Avoid HIV/AIDS with Legal Relationship” diselenggarakan oleh BEM FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
Pelatihan Karya Tulis Ilmiah “Mewujudkan Regenerasi Mahasiswa Ekonomi yang Berprestasi dalam Bidang Akademik” diselenggarakan oleh HMJ IESP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
Kunjungan ke Museum Bank Indonesia, diselenggarakan dalam mata kuliah Sosiologi Ekonomi, 2014.iii ABSTRACT
The research was conducted to analyze the contribution of estate crops sub sector for the economy of East Java 2010-2015. Location quotient and shift share methods were used to analyze this research. The result showed that sugar cane and tobacco were the only superior commodity, not just for the area but also for production context. Tobacco was the best commodity yet nutmeg was the opposite. East Java’s estate crop was not superior sub sector and didn’t always had good proportional shift and so is the differential shift. However, East Java’s estate crop was the sub sector that was classified as a progressive sub sector so that means East Java’s estate sub sector had good contribution for the economy of East Java.
Keywords: Agriculture, Estate Crops, Area, Production, GDP, Location Quotient, Shift Share
iv ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian Jawa Timur periode 2010-2015. Penelitian ini menggunakan analisis location quotient dan shift share. Hasil menunjukkan bahwa hanya tebu dan tembakau yang menjadi komoditas unggulan baik pada konteks luas areal dan produksi. Tembakau merupakan komoditas paling unggul sedangkan pala merupakan komoditas paling tidak unggul. Perkebunan merupakan sub sektor non unggulan serta tidak selalu memiliki pertumbuhan proporsional dan daya saing yang cepat. Namun, perkebunan Jawa Timur merupakan sub sektor yang tergolong progresif yang berarti berkontribusi secara baik terhadap perekonomian Jawa Timur.
Kata Kunci : Pertanian, Perkebunan, Luas Areal, Produksi, PDRB, PDB, Location Quotient, Shift Share
v KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang senantiasa memberikan segala rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Kontribusi Sub Sektor Perkebunan Terhadap Perekonomian Daerah: Studi Kasus Di Provinsi Jawa Timur.
Salawat serta Salam tidak lupa penulis panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW semoga kita mendapat syafa’atnya di hari akhir.
Dengan selesainya skripsi ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Mamah dan Papah atas segala pengorbanan dan curahan kasih sayang yang begitu besar dan tulus serta doa-doa yang dipanjatkan kepada-Nya.
2. Bapak Djaka Badranaya, M.E selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Dr. Arief Mufraini Lc.,M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Bapak Arief Fitrijanto, M.Si dan Bu Najwa Khairina selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan serta jajaran dosen yang tanpa pamrih memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat.
4. Sahabat-sahabat kuliah baik suka maupun duka Ita, Deya, Retno, Yunita, Anjeng, Cytha, Kiki, Mella dan Devina atas segala canda tawa dan supportnya.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan dalam skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi banyak pihak.
Wasalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 22 September 2017
Indah Pertiwi Tanjung
vi DAFTAR ISI
COVER
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ABSTRACT ABSTRAK
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN
i iii iv v vi ix xii xiii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Indonesia Sebagai Negara Agraris 2. Pertanian di Negara Berkembang 3. Transformasi Sektor Pertanian 4. Profil Sektor Pertanian di Indonesia 5. Sub Sektor Pertanian
6. Sub Sektor Pertanian; Perkebunan 7. Profil Perkebunan di Jawa Timur B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
1 1 1 2 3 4 6 10 12 17 18
vii
D. Manfaat Penelitian 18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Transformasi Struktural a. Masa Peralihan b. Hollis B Chenery c. WW Rostow
2. Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi 3. Kebijakan Pertanian
4. Indikator Pertumbuhan Ekonomi 5. Perkebunan dan Peranannya B. Penelitian Terdahulu
C. Logical Frame Thinking D. Hipotesis
19 19 19 19 19 20 21 31 36 38 40 45 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian B. Ruang Lingkup Penelitian
C. Sampel dan Metode Penentuan Sampel D. Data dan Metode Penentuan Data E. Metode Analisis Data
1. Analisis Location Quotient 2. Analisis Shift Share
F. Operasional Variabel Penelitian
47 47 48 48 50 51 51 55 57
viii BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Profil Jawa Timur
B. Gambaran Perkebunan Jawa Timur; Konteks Luas Areal dan Tingkat Produksi
C. Kontribusi Perkebunan Terhadap Perekonomian Jawa Timur D. Kebijakan Pemerintah Daerah
59 59
62 71 75 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan B. Saran
82 82 83 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
84 89
ix DAFTAR TABEL
No Keterangan Halaman
1.1. Tenaga Kerja Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Utama 1990-2015
1
1.2 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha 1960-2015 (Dalam Milyar Rupiah)
4
1.3 Produk Domestik Regional Bruto Pertanian (ADHK) Menurut Provinsi 2010-2015 (Dalam Juta Rupiah)
5
1.4 Produk Domestik Bruto Pertanian (ADHK) Menurut Sub Sektor 2010-2015 (Dalam Milyar Rupiah)
10
1.5 Produk Domestik Regional Bruto Perkebunan (ADHK) Menurut Provinsi 2010-2015 (Dalam Juta Rupiah)
11
1.6 Luas Areal Perkebunan Jawa Timur 2010-2015 (Dalam Ha) 13 1.7 Produksi Perkebunan Jawa Timur 2010-2015 (Dalam Ton) 13 1.8 Provinsi Pemilik Areal Tebu 2010-2015 (Dalam Ha) 14 1.9 Provinsi Penghasil Tebu 2010-2015 (Dalam Ton) 15 1.10 Provinsi Pemilik Areal Tembakau 2010-2015 (Dalam Ha) 16 1.11 Provinsi Penghasil Tembakau 2010-2015 (Dalam Ton) 16
3.1 Variabel Penelitian 57
4.1. Luas Wilayah Jawa Timur Menurut Kabupaten/Kota 2015 59
4.2 Jumlah Penduduk Jawa Timur 2015 61
4.3 PDRB Jawa Timur Atas Dasar Harga Konstan Tahun Dasar 61
x 2010 Menurut Lapangan Usaha 2010-2015 (Milyar Rupiah)
4.4 Hasil Perhitungan Location Quotient Perkebunan Jawa Timur 2010-2015
62
4.5 Perkebunan Cengkeh, Jambu Mete, Kelapa dan Kopi
Menurut Luas Areal dan Produksi di Jawa Timur 2010-2015 (dalam ha dan ton)
64
4.6 Perkebunan Kapas Menurut Luas Areal 2010-2015 (dalam ha)
65
4.7 Perkebunan Kapas Jawa Timur Mneurut Luas Areal dan Produksi 2010-2015 (dalam ha dan ton)
66
4.8 Perkebunan Nilam Jawa Timur Menurut Luas Areal dan Produksi 2010-2015 (dalam ha dan ton)
67
4.9 Perkebunan Kakao, Karet, Lada, Pala dan Teh Menurut Luas Areal dan Produksi di Jawa Timur dan Indonesia 2010-2015 (dalam ha dan ton)
68
4.10 Perkebunan Tebu dan Tembakau Menurut Luas Areal dan Tingkat Produksi 2010-2015 (dalam ha dan ton)
70
4.11 Perkebunan Tembakau dan Pala Menurut Luas Areal, Tingkat Produksi dan Persentase Kontribusi Terhadap Perkebunan Indonesia (dalam ha dan ton)
71
4.12 Hasil Perhitungan Location Quotient Perkebunan dan Lapangan Usaha Lainnya di Jawa Timur 2010-2015
72
4.13 Hasil Perhitungan Shift Share Perkebunan Jawa Timur 2010- 74
xi 2015
4.14 Produksi dan Produktivitas Perkebunan Jawa Timur 2010- 2015
79
4.15 Nilai Tukar Petani Sub Sektor Perkebunan Jawa Timur 2010-2015
80
xii DAFTAR GAMBAR
No Keterangan Halaman
2.1 Logical Frame Thinking 45
xiii DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Halaman
1 Lampiran 1 Tabel Hasil Analisis Location Quotient 89 2 Lampiran 2 Tabel Hasil Analisis Shift Share 90
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Indonesia Sebagai Negara Agraris
Secara umum negara agraris adalah negara yang jumlah penduduknya sebagian besar bermata pencaharian pada sektor pertanian.
Indonesia adalah salah satu negara agraris karena dari tahun ke tahun sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian pada sektor pertanian.
Tabel 1.1. Tenaga Kerja Berusia 15 Tahun Ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Utama 1990-2015
Lapangan Pekerjaan 1990 2000 2010 2015
Pertanian 40285307 40676713 41494941 37748228
Pertambangan dan Penggalian 511452 451931 1254501 1320466
Industri 7459143 11641756 13824251 15255099
Listrik, Gas, dan Air Minum 134716 70629 234070 288697
Konstruksi 2042740 3497232 5592897 8208086
Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa
Akomodasi 10827988 18489005 22492176 25686342
Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 2300652 4553855 5619022 5106817 Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha
Persewaan, Jasa Perusahaan 477221 882600 1739486 3266538 Jasa Kemasyarakatan, Sosial Perorangan 8949638 9574009 15956423 17938926
Belum Jelas Batasannya 115681 0 0 0
Lainnya 0 0 0 0
Tak Terjawab 0 0 0 0
Total 73104538 89837730 108207767 114819199
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Perekonomian tidak terlepas dari supply dan demand. Pertanian merupakan sektor strategis yang dapat menopang perekonomian karena dari segi supply, pertanian mempunyai lahan yang dilansir dari data world
2 bank seluas 570000 km2 atau 31,464% dari jumlah daratan Indonesia yang seluas 1811570 km2. Dari segi demand berdasarkan data dari world bank Indonesia mempunyai 258 juta penduduk di mana semua penduduk membutuhkan produk-produk pertanian untuk kebutuhan hidup. Jadi pangsa pasar pertanian begitu luas.
2. Pertanian di Negara Berkembang
Menurut Todaro dan Smith (2006) pola atau sistem-sistem pertanian yang ada di dunia ini dapat dibagi menjadi dua pola yang berbeda yaitu pola pertanian di negara-negara maju yang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dengan kapasitas produksi dan rasio output per tenaga kerja juga tinggi sehinggga dengan jumlah petani yang sedikit dapat menyediakan bahan pangan bagi seluruh penduduk serta pola pertanian yang tidak atau kurang efisien yang umumnya terdapat di negara-negara berkembang.
Karena pola di negara berkembang yang kurang efisien pastinya tingkat produktivitasnya begitu rendah. Hasil yang diperoleh jangankan untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk daerah perkotaan untuk keperluan sehari-hari para petani saja hasil-hasil pertanian yang ada tidak memadai.
Dalam Todaro dan Smith (2006), lahan yang subur semakin terbatas terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Lahan juga terbatas di berbagai daerah di Amerika Latin dan Afrika. Pertumbuhan penduduk
3 yang cepat telah menyebabkan semakin bertambahnya jumlah orang yang mengandalkan hidupnya dari lahan yang sama sedangkan metode dan teknologi produksinya tidak mengalami perkembangan yang berarti.
Dengan teknologi pertanian dan penggunaan masukan (input) tradisional di luar tenaga kerja manusia (cangkul, garpu sederhana, bajak dengan hewan penarik, bibit tradisional dan lain-lain) yang sama, kita mengetahui dari prinsip perolehan hasil yang semakin menurun (diminishing return) bahwa jika semakin banyak orang yang mengerjakan sebidang lahan maka tingkat produktivitas marjinal dan rata-ratanya semakin menurun. Hasilnya standar hidup petani pedesaan di negara-negara dunia ketiga terus memburuk.
Indonesia pun sama seperti negara berkembang lainnya dalam penjelasan di atas di mana lahan yang digarap semakin terbatas. Menurut Daryanto (2012) Indonesia sebagai negara transforming countries sebagian besar petaninya menggarap kurang dari setengah hektar lahan serta menurut Saragih (2004) sebagian besar penduduk Indonesia berada di wilayah pedesaan dan sebagian besar dari mereka hidupnya tergantung pada sektor pertanian serta sebagian besar dari mereka masih berada dalam cengkraman kemiskinan. Tingkat produktivitas di Indonesia juga rendah terbukti dari banyaknya impor di negeri ini.
3. Transformasi Sektor Pertanian
Awalnya, pertanian merupakan sektor dengan penyumbang Produk Domestik Bruto terbesar. Seiring berjalannya waktu, kontribusi pertanian
4 terhadap Produk Domestik Bruto semakin kecil. Indonesia sedang dalam masa peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Hal ini dapat dilihat pada tabel Produk Domestik Bruto atas dasar harga konstan (ADHK).
Tabel 1.2 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan Menurut Lapangan Usaha 1960-2015 (Dalam Milyar Rupiah)
Lapangan Usaha 1960 1970 1980 1990 2000 2010 2015 Pertanian. Kehutanan dan Perikanan 210.4 270.7 3424.9 22356.9 216831.5 304777.1 1171578.7 Pertambangan dan Penggalian 14.4 32.2 1034.6 17531.7 167692.2 187152.5 767327.2 Industri Pengolahan 32.6 51.1 1704.6 22336.9 385597.9 597134.9 1934533.2 Listrik. Gas. dan Air Minum 1.1 3 77.9 725.7 8393.8 18050.2 94894.8
Konstruksi 7.9 15.2 639.3 6672.9 76573.4 150022.4 879163.9
Perdagangan. Hotel. dan Restoran 55.8 100.2 1851.9 18568.6 224452.2 400474.9 1207751.1 Pengangkutan dan Komunikasi 14.5 17.4 609.4 6 367.9 65012.1 217980.4 421741.4 Keuangan. Real Estate. Jasa Perusahaan 11.6 19.8 543.6 7 892.6 115463 221024.2 762683.7 Jasa-jasa 41.9 61.3 1283 12764.1 129753.8 217842.2 525385.5 Produk Domestik Bruto 390.2 571 11169 115217 1389770 2314459 8982511
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Berdasarkan teori transformasi struktural yaitu perubahan permintaan konsumen dari yang berfokus pada makanan dan keperluan dasar ke permintaan barang manufaktur dan jasa yang beragam maka pertanian mulai tergerus oleh industri. Transformasi ini dapat dilihat pada tabel di atas.
4. Profil Sektor Pertanian di Indonesia
Perkembangan pertanian dalam indikator ekonomi tidak hanya dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto yang melihat pertumbuhan
5 ekonomi negara saja, namun kita juga dapat melihat pertanian dari Produk Domestik Regional Bruto yang melihat pertumbuhan ekonomi wilayah seperti Provinsi atau Kabupaten/Kota. Semua provinsi di Indonesia berkontribusi dalam menyumbang Produk Domestik Regional Bruto untuk pertanian.
Tabel 1.3 Produk Domestik Regional Bruto Pertanian (ADHK) Menurut Provinsi 2010-2015 (Dalam Juta Rupiah)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 25579574.5 26515484.4 27685114.3 28980433.4 29690561.7 31155374.8 Sumatera Utara 85561144 90592547.1 95405416.9 99894566.3 104262829.8 109962980.4 Sumatera Barat 27277723.9 28535019.9 29284904.6 30372991 32151489.7 33551976.4 Riau 91152767 94307398.4 97910954.9 102216742.9 108498089.3 108969037.3 Jambi 23627242 24744879.4 26429045.1 28070963 31145428.6 32771193.3 Sumatera Selatan 38067014 40120773 42557299 44794971 46612030 48287680.6 Bengkulu 9343955.4 9734666.6 10272888.7 10687209.5 10950441.6 11197978.9 Lampung 52038767.5 54841031 56997473.2 59636487.8 61595153.7 63718622 Kep. Bangka Belitung 6097691.3 6642800.3 7072887.4 7557660.3 8254342.1 8747275.3 Kepulauan Riau 4506560.8 4683473.6 4794169.9 5000008.6 5378146.9 5689215.6 D K I Jakarta 1275625.4 1277277.9 1319309.5 1353560.2 1359954.5 1375424.1 Jawa Barat 89088260.2 88386512.4 88409460 92390134.9 92653584.2 92802799 Jawa Tengah 99572441.1 103389332.9 106536703.1 108832110.6 107793380.9 113826299 D I Yogyakarta 7252595.2 7134678.9 7500728.2 7670026.2 7508980.3 7667601.7 Jawa Timur 133504559 138870090.2 146002574.5 150463721.7 155783955.1 160907332.8 Banten 16737606.9 17242080.5 17793375.5 18990915.9 19456954.4 20726695.6 Bali 16092721.6 16258738.6 16969879.8 17343285 18151208.6 18644987.5 Nusa Tenggara Barat 16407442.3 16946742.7 17702366.1 18924911.8 19295328.7 18644987.5 Nusa Tenggara Timur 14669948.1 15069630.2 15613952.5 16144605 16504069.3 18644987.5 Kalimantan Barat 21485406 22292710.1 23201406.8 24401601 24967378.3 25572667.7 Kalimantan Tengah 13935356 14165405.2 14536577.4 15028377.5 16080172.5 16940493.2 Kalimantan Selatan 13701548.8 14052457.4 14490150.7 14967328 15636188.7 16018961.8 Kalimantan Timur 27403133.6 28969171.9 31121785 25535674.7 27267197 28506913.6
Kalimantan Utara - - - 7496932.4 8021340.2 8574016.3
Sulawesi Utara 12281006.7 12154187.8 12918080.9 13765299.1 14243121.1 14606345.9 Sulawesi Tengah 19523494.2 20711363.1 21923492.9 23163934.7 24728724.1 26297815.4
6
Sulawesi Selatan 39598909.4 42325570.3 44263477.4 46446728.3 51101681.2 54071396.5 Sulawesi Tenggara 13741144.5 14007464.2 14625406.6 15508217.4 16952307.8 16958461.9 Gorontalo 5977734.8 6321225.6 6763846.4 7232594.6 7698324 8024613.5 Sulawesi Barat 7486608.8 8115114.7 8709502.4 9207147.9 9753263.9 10313438.3 Maluku 4825716.6 4972596.7 5282613 5500920.1 5835441 5908217.5 Maluku Utara 3936693.2 4105563.7 4371355.3 4525958.5 4662502.2 4740319.4 Papua Barat 4889557.5 4583190.7 4785624.2 5090415.3 5343515.9 5482571.9 Papua 11681131.9 12133258.4 12883697.4 13661800.8 14432993.6 15303259.6
Sumber : Kementerian Pertanian
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Jawa Timur merupakan Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto pertanian terbesar di Indonesia dari tahun 2010-2015 dengan Jawa Tengah dan Riau sebagai Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto pertanian terbesar kedua dan ketiga. Hal ini dapat disebabkan karena lahan pertanian yang begitu luas dan diiringi dengan tingkat produksi yang tinggi.
Sedangkan DKI Jakarta merupakan Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto pertanian terkecil di Indonesia dari tahun 2010- 2015 dengan Maluku Utara dan Papua Barat sebagai Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto pertanian terkecil kedua dan ketiga. Hal ini dapat disebabkan karena minimnya bahkan ketiadaan lahan pertanian sehingga akan diiringi dengan tingkat produksi yang minim atau bahkan tidak adanya produksi.
5. Sub Sektor Pertanian
Menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 2015 Badan Pusat Statistik, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masuk ke dalam
7 kategori A. Kategori ini mencakup semua kegiatan ekonomi/lapangan usaha, yang meliputi tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, peternakan, pemanenan hasil hutan (kehutanan) dan penangkapan dan budidaya ikan/biota air (perikanan).
Kegiatan pertanian tidak mencakup kegiatan pengolahan dari komoditas pertanian, termasuk dalam kategori C yaitu industri pengolahan. Kegiatan konstruksi lahan seperti pembuatan petak-petak sawah, irigasi saluran pembuangan air, serta pembersihan dan perbaikan lahan untuk pertanian tidak termasuk dalam kategori pertanian tetapi tercakup pada kategori F yaitu konstruksi. Penjelasan dari kategori A tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tanaman pangan mencakup pertanian padi dan bukan padi. Pertanian padi mencakup pertanian padi, termasuk pertanian padi organik dan padi yang sudah dimodifikasi termasuk kegiatan pembibitan dan pembenihan tanaman padi. Pertanian serealia (bukan padi) mencakup pertanian serealia (gandum, jagung, sorgum, gandum untuk membuat bir/barley, gandum hitam/rye), oats, millet dan serealia lainnya), aneka kacang palawija (kacang kedelai, kacang tanah dan kacang hijau), aneka kacang hortikultura (buncis, buncis besar, kacang panjang, cow peas, miju-miju, lupin, kacang polong, pigeon peas dan tanaman aneka kacang lainnya), biji-bijian penghasil minyak (biji kapas, biji castor, biji rami, biji mustard, niger seeds, rapeseed/canola, biji wijen,
8 safflower seeds, biji bunga matahari dan tanaman penghasil minyak lainnya) dan tidak mencakup jagung (maize) untuk makanan ternak.
b. Pertanian sayuran, buah dan aneka umbi/hortikultura. Hortikultura mencakup hortikultura sayuran (asparagus, kol, kembang kol dan brokoli, selada dan chicory, bayam, tumbuhan yang bunganya dimakan sebagai sayur, dan sayuran daun dan batang lainnya), hortikultura buah (semangka, blewah, labu buah, melon dan sejenisnya), aneka umbi hortikultura (kentang, kentang manis, wortel, lobak cina, bawang putih, bawang bombay atau bawang merah, bawang perai dan sayuran alliaceous lainnya), aneka umbi palawija (ubi kayu, ubi jalar, talas, ganyong, irut, gembili dan tanaman aneka umbi palawija lainnya), buah yang dipakai sebagai sayuran (mentimun, terung, tomat, belimbing sayur dan labu sayur dan lainnya), jamur dan truffle, bibit sayuran kecuali bibit tanaman bit, bit gula dan sayuran lainnya.
c. Perkebunan. Mencakup usaha perkebunan mulai dari kegiatan pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan jika menjadi satu kesatuan kegiatan tanaman tembakau, pembibitan dan pembenihan tanaman (kelapa, jambu mete, kakao, cengkeh, tembakau, karet, kopi, lada, kelapa sawit, tebu, teh, kapas dll)
d. Peternakan. Mencakup budidaya dan pembibitan hewan ternak, unggas, serangga, binatang melata/reptil, cacing, hewan peliharaan
9 termasuk budidaya hewan untuk diambil hasilnya seperti bulu, telur, susu, madu dan lilin lebah dan kepompong ulat sutera.
e. Perburuan, penangkapan dan penangkaran tumbuhan/ satwa liar.
Mencakup kegiatan perburuan dan penangkapan hewan dengan perangkap baik binatang untuk dimakan maupun tidak dan pengambilan hasil hewan seperti kulit dan bulu binatang dari hasil perburuan dan penangkapan termasuk kegiatan penangkaran tumbuhan/satwa liar baik darat maupun laut.
f. Kehutanan dan pemanenan kayu dan hasil hutan selain kayu.
Mencakup pemanenan pohon untuk diambil kayunya serta pengambilan dan pemungutan hasil hutan selain kayu yang tumbuh liar. Di samping menghasilkan kayu, Kegiatan kehutanan menghasilkan produk melalui proses sederhana, seperti kayu bakar, Arang kayu, serbuk kayu, serpih kayu dan kayu bulat dalam bentuk yang belum diolah (misalnya pitprops/kayu untuk bahan atap, bubur kayu dan lain-lain). Kegiatan ini dapat dilakukan di hutan alam yang belum diusahakan atau di hutan yang sudah diusahakan termasuk juga pemanenan pohon bakau.
g. Perikanan. Mencakup penangkapan dan budidaya ikan, jenis crustacea (seperti udang, kepiting) mollusca, dan biota air lainnya di laut, air payau dan air tawar. Tidak termasuk pemancingan untuk rekreasi.
Dalam beberapa sub sektor yang ada dalam pertanian itu sendiri, masing-masing memiliki kontribusi dalam Produk Domestik Bruto
10 pertanian yang di mana tentunya akan berdampak pada Produk Domestik Bruto Indonesia.
Tabel 1.4 Produk Domestik Bruto Pertanian (ADHK) Menurut Sub Sektor 2010-2015 (Dalam Milyar Rupiah)
Sub Sektor Pertanian 2010 2011 2012 2013 2014 2015
a. Tanaman Pangan 253326.6 250787.4 263076.2 268268.2 268426.9 280018.8 b. Tanaman Hortikultura 110395.3 120079.3 117424.5 118207.7 124300.9 127110 c. Tanaman Perkebunan 268207.3 281465 301019.5 319532.6 338502.2 345164.9 d. Peternakan 108399.9 113603.3 119249.8 125302.3 132221.1 136936.4 e. Jasa Pertanian dan Perburuan 14105.3 14646.1 15534.4 16452.9 16938.4 17574.4 f. Kehutanan dan Penebangan Kayu 58125.9 58731 58872 59228.8 59573.5 60757.4 g. Perikanan 143559.4 154545.2 164264.3 176149.3 189089.7 204016.8 Pertanian, Kehutanan & Perikanan 956119.7 993857.3 1039440.7 1083141.8 1129053 1171579
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perkebunan memiliki Produk Domestik Bruto terbesar di antara sub sektor-sub sektor lainnya selama tahun 2010-2015 disusul dengan tanaman pangan sebagai penyumbang terbesar kedua sedangkan jasa pertanian dan perburuan menyumbang Produk Domestik Bruto terkecil selama tahun 2010-2015.
6. Sub Sektor Pertanian; Perkebunan
Sama halnya dengan pertanian, perkembangan perkebunan sebagai sub sektor terbesar tidak hanya dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto yang melihat pertumbuhan ekonomi negara saja, namun kita juga dapat melihat pertanian dari Produk Domestik Regional Bruto yang melihat pertumbuhan ekonomi wilayah seperti Provinsi atau Kabupaten/Kota.
11 Tabel 1.5 Produk Domestik Regional Bruto Perkebunan (ADHK)
Menurut Provinsi 2010-2015 (dalam Juta Rupiah)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 6800938.3 6985191.8 7226499.9 7639063.7 7942266.9 8407631.4 Sumatera Utara 43341054 46711168.3 50177611.2 53339088.3 56621225.5 59648230.2 Sumatera Barat 7578292.2 7851210.6 8240186.6 8564089 9064919.1 9389697.3 Riau 55991002.1 57955150.4 61361036 65270598.7 70707173.2 70355294.2 Jambi 14614737.3 15312622.1 16419119.1 17516647 19682044 20979911.4 Sumatera Selatan 15068122 16199902 17552342 18692934 19452304.4 19519378 Bengkulu 1400997.9 1500949.6 1610827.8 1739209.8 1832411.2 1901472.7 Lampung 12376795.1 12865867.4 13505553.4 13801344.2 14464769.8 15090554.6 Kep. Bangka Belitung 2513293 2786351.5 3010969.1 3270248 3696957.8 3995982.2 Kepulauan Riau 982399.3 1023826.6 1027548.9 1046053.2 1075155.6 1098980.1
D K I Jakarta 0 0 0 0 0 0
Jawa Barat 7928725.3 8217385.9 8560161.6 8844809.9 8541102.1 8468757.6 Jawa Tengah 8744397.9 9461889.3 10005483.6 10416387.3 10987201.2 11430893.5 D I Yogyakarta 189047.9 193833.5 198374.8 208138.8 209146.1 201222.5 Jawa Timur 20785147.7 22121036.4 23452398.6 23877691.7 25064594.4 25379047.4 Banten 1854228 1903121.2 1961567.3 2091631.5 2226141.1 2325377.3 Bali 1571733.6 1569715.3 1635780.8 1670988.9 1693338.4 1883655.6 Nusa Tenggara Barat 1222470.4 1269443.9 1296540.3 1314800.8 1325399.6 1883655.6 Nusa Tenggara Timur 1256496.5 1284728.5 1303304.1 1392531 1459275 1883655.6 Kalimantan Barat 10753398.6 11222638.3 11681905.1 12344680 12833560.8 13355525.6 Kalimantan Tengah 8420370.6 8628470.7 8800959.6 9185431.4 9995013.4 10550618.7 Kalimantan Selatan 4324479.7 4445012.8 4639070.9 4864232.4 5173899.9 5140608.1 Kalimantan Timur 8579081.6 9702730.4 11217451.2 11591496.1 12835098.2 13720644.3
Kalimantan Utara - - - 1000582.5 1132843.2 1265986.4
Sulawesi Utara 3754160.4 3358211.4 3636540.6 3887901.9 4032613.9 4444152.1 Sulawesi Tengah 8235566.7 8756898.1 9335395.6 9921150.6 10847318.1 11643844.6 Sulawesi Selatan 8811536.7 9354716.9 9264885.3 9486335.4 10205850.7 10830885.4 Sulawesi Tenggara 3843860.6 3708089.3 4061836.3 4304435.5 4668327.2 4707392.1 Gorontalo 518552 534248.7 567105.5 600225.3 629570.1 669987.2 Sulawesi Barat 3619496.9 4059360.7 4417369.7 4721287.5 5037358.1 5297977.9
Maluku 673074.9 704075.1 712681.3 740138 763603.1 791810.8
Maluku Utara 1791372.8 1876214.9 2041015 2123923.5 2225937.3 2331306.8 Papua Barat 490457.8 517126.2 463175.1 442863.4 456779.2 480872.8 Papua 735571.9 798202.2 873832.4 942026.9 1022156.5 1072024.1
Sumber : Kementerian Pertanian
12 Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa Riau merupakan Provinsi penghasil Produk Domestik Regional Bruto perkebunan terbesar di Indonesia, Sumatera Utara penghasil Produk Domestik Regional Bruto perkebunan terbesar kedua dan Jawa Timur penghasil Produk Domestik Regional Bruto perkebunan terbesar ketiga di Indonesia dari tahun 2010- 2015. Hal ini dapat disebabkan karena lahan pertanian yang begitu luas dan diiringi dengan tingkat produksi yang tinggi.
Sedangkan DKI Jakarta merupakan Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto perkebunan terkecil di Indonesia dari tahun 2010-2015 dengan Yogyakarta dan Papua Barat sebagai Provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto perkebunan terkecil kedua dan ketiga. Hal ini dapat disebabkan karena minimnya bahkan ketiadaan lahan pertanian sehingga akan diiringi dengan tingkat produksi yang minim atau bahkan tidak adanya produksi.
7. Profil Perkebunan di Jawa Timur
Dari tabel 1.2 dan dari tabel 1.4 dapat dilihat bahwa Jawa Timur berkontribusi paling besar dalam Produk Domestik Regional Bruto pertanian serta berkontribusi terbesar ketiga dalam Produk Domestik Regional Bruto perkebunan dari tahun 2010-2015. Dalam dua tabel tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Jawa Timur merupakan provinsi yang potensial dalam pertanian dan perkebunan. Jawa Timur memiliki beberapa tanaman dalam perkebunan yaitu.cengkeh, jambu mete, kakao, kapas, karet, kelapa, kopi, lada, nilam, pala, tebu, tembakau dan teh.
13 Tabel 1.6 Luas Areal Perkebunan Jawa Timur 2010-2015 (Dalam Ha)
Komoditas 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cengkeh 41964 43876 46902 47065 45085 45474
Jambu Mete 48284 51234 52903 52243 48626 48316
Kakao 60057 69191 63040 65432 51072 54211
Kapas 1705 1702 632 659 336 394
Karet 25699 25983 25993 26060 25126 25562
Kelapa 293750 297206 297631 295363 287334 286423
Kopi 95266 99122 100845 102657 102213 103809
Lada 1016 1021 1006 896 838 834
Tebu 200131 192587 196391 211454 219111 201937
The 2453 2455 2455 2455 4008 4001
Tembakau 109426 130824 153561 95818 119206 108524
Pala 34 34 34 34 32 32
Nilam 0 6742 6757 6460 4968 4978
Sumber : Kementerian Pertanian, diolah
Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa kelapa merupakan komoditas dengan areal terluas di Jawa Timur dari tahun 2010-2015. Tebu merupakan komooditas dengan areal terluas kedua di Jawa Timur.
Tabel 1.7 Produksi Perkebunan Jawa Timur 2010-2015 (Dalam Ton)
Komoditas 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Cengkeh 10213 6807 10164 10784 9804 9879
Jambu Mete 10492 12361 12599 12645 12849 13555
Kakao 24199 24788 28575 30364 24871 24803
Kapas 376 200 198 113 88 75
Karet 23577 26754 26816 24904 24957 25918
Kelapa 257890 268328 277120 269275 252672 259502
Kopi 56200 37396 54189 56986 58135 65961
Lada 0 400 10164 298 296 309
Tebu 1017003 1051872 1241799 1236824 1260632 1207333
The 4169 4135 3958 3771 6879 6902
Tembakau 53228 114816 135747 73998 108137 99743
Pala 7 19 18 7 7 8
Nilam 0 687 706 200 151 110
Sumber : Kementerian Pertanian, diolah
14 Kebalikan dari areal, dari konteks produksi tebu merupakan komoditas dengan produksi terbanyak di Jawa Timur dari tahun 2010- 2015. Kelapa merupakan komooditas dengan produksi terbanyak kedua di Jawa Timur.
Dari data-data di atas dapat disimpulkan bahwa tebu merupakan komoditas yang potensial. Namun tidak semua provinsi-provinsi di Indonesia mempunyai areal tebu. Beberapa provinsi yang memiliki areal tebu antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Ternyata Jawa Timur memiliki areal tebu terluas di Indonesia.
Tabel 1.8 Provinsi Pemilik Areal Tebu 2010-2015 (Dalam Ha)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DI Yogyakarta 3463 3576 3479 3577 3424 3354
Gorontalo 5620 8291 7487 6793 7301 7719
Jawa Barat 23343 21444 21646 21818 22017 20483 Jawa Tengah 61792 65519 62479 66515 68877 54338 Jawa Timur 200131 192587 196391 211454 219111 201937 Lampung 118088 117405 113871 116197 117453 120814
Maluku Utara 0 0 0 0 0 10
Nusa Tenggara Barat 0 0 0 0 0 4995
Nusa Tenggara Timur 0 0 72 0 0 0
Sulawesi Selatan 11376 13171 12478 11746 10588 10500
Sulawesi Tengah 0 0 0 0 0 10
Sumatera Selatan 21663 19749 22325 21592 20871 22251 Sumatera Utara 8651 100460 11028 9535 8467 7758
Sumber : Kementerian Pertanian, diolah
15 Sama halnya dengan luas areal, tidak semua provinsi-provinsi di Indonesia memproduksi tebu. Beberapa provinsi yang memproduksi tebu antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Sama halnya dengan luas areal, Jawa Timur merupakan provinsi dengan produksi tebu terbanyak di Indonesia.
Tabel 1.9 Provinsi Penghasil Tebu 2010-2015 (Dalam Ton)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
DI Yogyakarta 17327 16573 15848 15868 11873 12171 Gorontalo 27412 32521 31849 27926 38025 49059 Jawa Barat 110543 81923 102648 92063 78195 84899 Jawa Tengah 233430 249452 289775 270873 262056 231662 Jawa Timur 1017003 1051872 1241799 1236824 1260632 1207333 Lampung 759684 678090 754619 744911 768948 743883 Sulawesi Selatan 27241 19210 33715 31340 26633 34805 Sumatera Selatan 66451 91124 79924 93882 100384 104506 Sumatera Utara 31025 471220 41505 37340 32427 29680
Sumber : Kementerian Pertanian, diolah
Selain memiliki areal tebu terluas, Jawa Timur ternyata juga memiliki areal tembakau terluas di Indonesia. Namun sama seperti tebu, tidak semua provinsi mempunyai areal tembakau. Beberapa provinsi yang mempunyai areal tembakau diantaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
16 Tabel 1.10 Provinsi Pemilik Areal Tembakau 2010-2015 (Dalam Ha)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 1103 941 1501 2262 2370 3035
Sumatera Utara 3376 2906 2975 2959 2902 1017
Sumatera Barat 1405 1405 1410 1080 1404 1427
Jambi 281 317 517 550 569 654
Sumatera Selatan 125 124 50 53 355 332
Lampung 463 736 941 959 634 493
Jawa Barat 9002 9188 10329 9977 10149 9731
Jawa Tengah 49358 45932 53019 43014 46540 52470 Daerah Istimewa Yogyakarta 2150 2083 2180 1376 1749 2059 Jawa Timur 109426 130824 153561 95818 119206 108524
Bali 1128 1132 972 838 680 782
Nusa Tenggara Barat 34699 29434 37055 28356 24611 23760 Nusa Tenggara Timur 339 1149 2803 2987 2049 2160
Sulawesi Tengah 0 42 42 30 125 167
Sulawesi Selatan 3416 2557 2936 2551 2521 2484
Sumber: Kementerian Pertanian, diolah
Jawa Timur juga merupakan provinsi dengan produksi tembakau terbanyak di Indonesia. Tidak semua provinsi di Indonesia memproduksi tembakau. Beberapa provinsi yang memproduksi tembakau diantaranya Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
Tabel 1.11 Provinsi Penghasil Tembakau 2010-2015 (Dalam Ton)
Provinsi 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Aceh 902 951 814 1983 2340 1919
Sumatera Utara 3458 2320 2393 2426 2425 765
Sumatera Barat 1185 1299 1306 1002 1349 1337
Jambi 68 109 171 193 233 285
17
Sumatera Selatan 80 101 10 38 302 256
Lampung 386 620 1180 892 862 519
Jawa Barat 7658 8086 9195 8872 8146 8471
Jawa Tengah 26530 39411 43386 30972 32542 40564
Daerah Istimewa Yogyakarta 467 1428 1561 686 1097 1565 Jawa Timur 53228 114816 135747 73998 108137 99743
Bali 992 1671 1713 975 937 1024
Nusa Tenggara Barat 38894 40992 59988 38529 37067 34449
Nusa Tenggara Timur 71 182 1393 1535 1304 1324
Sulawesi Tengah 0 47 47 27 32 35
Sulawesi Selatan 1759 2491 1915 2321 1537 1535
Sumber: Kementerian Pertanian, diolah
Berdasarkan data-data di atas dapat dilihat bahwa Jawa Timur merupakan provinsi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto terbesar pada sektor pertanian serta penyumbang Produk Domestik Regional Bruto terbesar ketiga pada sub sektor perkebunan. Oleh karena itu penulis tertarik ingin meneliti perkebunan di Jawa Timur serta kontribusinya di Jawa Timur pada tahun 2010-2015.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini terdapat tiga rumusan masalah. Rumusan masalah yang dimaksud adalah:
1. Bagaimana gambaran perkebunan Jawa Timur dalam konteks luas areal dan tingkat produksi?
2. Bagaimana kontribusi perkebunan terhadap perekonomian Provinsi Jawa Timur?
3. Bagaimana kebijakan pemerintah daerah pada sub sektor perkebunan di Jawa Timur?
18 C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis peran perkebunan terhadap perekonomian di Jawa Timur dengan menggunakan variabel-variabel yang sudah ditentukan.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak yaitu:
1. Bagi para akademisi penelitian ini dapat menjadi bahan literature bagi personal ataupun institusi yang ingin melakukan penelitian tentang perkebunan di Jawa Timur
2. Bagi publik penelitian ini dapat menjadi informasi keadaan perkebunan di Jawa Timur
3. Bagi pemerintah daerah penelitian ini dapat menjadi acuan untuk mengembangkan daerahnya di masa mendatang
19 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Transformasi Struktural a. Masa Peralihan
Indonesia tergolong negara yang masih “muda” yang sedang dalam proses pertumbuhan atau dengan kata halus disebut “sedang membangun” atau “development country”. Dunia ekonomi kita masih dalam masa transisi (peralihan) dari masyarakat tradisional menuju masyarakat industri modern. Ciri-ciri masa peralihan juga terlihat dari cara berproduksi. Sudah ada sejumlah pabrik yang serba modern dengan mesin dan peralatan yang canggih serta teknik produksi mutakhir. Tetapi, sebagian besar kegiatan ekonomi rakyat masih berlangsung di desa dan atau di sektor informal (pertanian, pertukangan, perdagangan kaki lima) dengan cara kerja yang tradisional dan hampir belum ada pemisahan antara urusan keluarga dan urusan “usaha”. Ternyata sebagian besar tenaga kerja kita justru tertampung dalam sektor informal. (T. Gilarso, 2004)
b. Hollis B. Chenery
Model perubahan struktural yang terkenal ternyata kebanyakan didasarkan atas karya empiris pakar ekonomi Harvard bernama Hollis B. Chenery dan rekan-rekannya yang mengkaji pola pembangunan banyak negara berkembang selama periode pasca perang. Studi
20 empiris yang mereka lakukan yang bersifat lintas-bagian (cross- sectional di antara sejumlah negara pada waktu tertentu) maupun rangkaian-waktu (time series, selama waktu tertentu yang panjang) terhadap negara-negara yang berada pada tingkat pendapatan yang berbeda menghasilkan beberapa karateristik proses pembangunan.
Karateristik-karateristik ini mencakup pergeseran dari produksi pertanian ke produksi industri, berlanjutnya akumulasi modal fisik dan manusia, perubahan permintaan konsumen dari yang berfokus pada makanan dan keperluan dasar ke permintaan barang manufaktur dan jasa yang beragam, pertumbuhan kota dan industri perkotaan ketika orang-orang berpindah dari pertanian dan kota-kota kecil, serta menurunnya ukuran keluarga dan pertumbuhan penduduk karena anak- anak tidak lagi dilihat dari sisi nilai ekonomi dan para orang tua lebih menekankan kualitas (pendidikan) ketimbang kuantitas anak.
(Todaro&Smith, 2013) c. W.W. Rostow
W.W. Rostow mengemukakan suatu teori yang membagi pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahapan yaitu: (Arsyad, 1999) 1) Masyarakat Tradisional (The Traditional Society)
Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang perekonomiannya masih bertumpu pada pertanian dan memiliki fungsi produksi yang terbatas dan relatif primitif yang kehidupannya sangat dipengaruhi nilai-nilai yang turun-menurun dan cenderung kurang rasional.
21 2) Tahap Prasyarat Lepas Landas (The Precondition For Take Off)
Dalam kondisi ini, merupakan transisi untuk mencapai pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untuk berkembang.
Segala sesuatunya dipersiapkan untuk mencapai pertumbuhan dengan kekuatan sendiri termasuk ilmu pengetahuan yang akan menghasilkan penemuan baru.
3) Tahap Lepas Landas (The Take Off)
Berlakunya perubahan yang sangat besar dalam masyarakat misalnya tercipta kemajuan yang pesat dalam inovasi, revolusi politik dan sebagainya.
4) Tahap Menuju Kedewasaan (The Drive To Maturity)
Dalam kondisi ini masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi modern pada sebagian besar faktor produksi. Munculnya pemimpin baru yang bercorak lebih kepada perkembangan teknologi, kekayaan alam dan lain-lain.
5) Tahap Konsumsi Tinggi (The Age Of High Mass Consumption) Konsumsi masal yang tinggi dimana perhatian masyarakat lebih menekankan kepada permasalahan yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat.
2. Pertanian dalam Pertumbuhan Ekonomi
Peranan sektor pertanian selama ini dalam perekonomian nasional secara tradisional kerap hanya dilihat melalui sejauh mana kontribusinya dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan
22 pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ”3 F contribution in the economy”, yaitu food (pangan), feed (pakan), dan fuel (bahan bakar). (Daryanto, 2009)
Peranan pertanian kaitannya dengan ”food” adalah sektor pertanian menjadi leading sector dalam pembangunan ketahanan pangan. Artinya peranan sektor pertanian sangat menentukan terwujudnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas melalui ketersediaan dan kecukupan pangan baik nabati maupun hewani. Kaitannya dengan “feed”, sektor pertanian memiliki peranan sebagai pemasok terbesar bahan baku utama pakan ternak. Jagung merupakan komoditas pertanian terbesar yang digunakan untuk pakan ternak unggas. Pakan ternak unggas menggunakan bahan baku yang berasal dari jagung sebesar ± 60 persen. Selama beberapa tahun terakhir ini, jagung digunakan sebagai penghasil sumber energi terbarukan (renewable) untuk keperluan bahan bakar (fuel). (Daryanto, 2012)
Bagi banyak negara di dunia yang pendapatan per kapitanya kurang dari US $ 2500.00 (dua ribu limaratus dollar AS) pertanian masih menjadi sektor yang sangat penting bagi perekonomian nasionalnya. Bagi negara-negara tersebut pertanian menjadi tulang punggung bagi tegaknya suatu ekonomi negara. Pertanian tidak saja menyediakan kebutuhan pangan penduduknya tetapi juga sebagai sumber pendapatan ekspor (devisa) dan sebagai pendorong dan penarik bagi tumbuhnya industri
23 nasionalnya. (Saragih, 2004)
Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan sepanjang kehidupan manusia. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts”, Pertanian adalah ibu dari segala budaya.
“Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya- budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor pertanian diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak”. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM.
Dikatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”. Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.
Walaupun kedua pernyataan tersebut telah berusia lebih dari dua milenium, pernyataan ini masih relevan dengan kondisi yang dihadapi Indonesia dewasa ini. Bahkan di banyak negara, pernyataan ini masih dipegang, termasuk di negara-negara yang industrinya sudah maju.
Bahkan banyak yang meyakini prinsip bahwa tidak ada negara maju yang tidak diawali oleh pertanian yang kuat. (Daryanto, 2012)
Perpaduan antara komersialisasi usaha tani dan modernisasi teknologi membuat perolehan dan harga sarana produksi maupun pproduk pertanian semakin tergantung pada kondisi pasar dunia. Apabila kita sepakati bahwa komersialisasi dan penggunaan teknologi mutakhir adalah dua ciri utama modernisasi pertanian dan modernisasi pertanian
24 merupakan arah pembangunan pertanian yang kita tempuh maka tidak dapat dielakkan lagi, semakin kita memacu pembangunan pertanian maka semakin besar pula ketergantungan sektor agribisnis pada pasar dunia.
Jelas bahwa ketergantungan sektor agribisnis pada pasar dunia adalah salah satu proses normal yang mesti dipandang sebagai kesempatan untuk lebih memacu pembangunan pertanian. (Simatupang, 2004)
Pengeluaran terbesar penduduk dunia adalah untuk barang-barang pangan (makanan dan minuman), sandang (pakaian), papan (bahan bangunan dari kayu, kertas), energi serta produk farmasi dan kosmetika.
Kelima kelompok produk tersebut merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat dunia. Sebagian besar dari kelompok produk tersebut dihasilkan dari agribisnis. Bahkan melihat kecenderungan perubahan di masa depan, agribisnis merupakan satu-satunya harapan untuk menyediakan kelima kelompok produk tersebut. (Saragih, 2001)
Konsep agribisnis pertama kali diperkenalkan oleh John H. Davis pada tahun 1955 dalam suatu makalah yang disampaikan pada Boston Conference on Distribution di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian konsep agribisnis dimasyarakatkan kembali oleh orang yang sama dalam buku yang berjudul A Conception of Agribusiness di Harvard University.
Tahun 1957 ini dianggap sebagai tahun kelahiran agribisnis. Seiring perkembangan pengetahuan, konsep agribisnis berkembang sehingga saat ini memliki ruang lingkup yang sangat luas. Agribusiness is the sum total of all operation in the manufacture and distribution of farm, production
25 operation on the farm, and the storage processing and distribution of farm commodities and items made from them (Davis and Golberg, 1957).
Agroindustri berasal dari dua kata agricultural dan industri yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. Definisi agroindustri dapat dijabarkan sebagai kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang, dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut, dengan demikian agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri yang memproduksi peralatan dan mesin pertanian, industri input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida dan lain-lain) dan industri jasa sektor pertanian. (Udayana, 2011)
Sektor agroindustri Indonesia sudah memiliki keunggulan komparatif yaitu sumber daya alam yang melimpah dan tenaga kerja yang banyak dan murah. Perlu dilakukan research and development (R & D) agar keunggulan komparatif tersebut menjadi keunggulan kompetitif sehingga menguntungkan bagi devisa negara. Sasaran yang harus dicapai adalah menghasilkan final product yang bernilai tambah tinggi. (Nihayah, 2012)
Apabila dilihat dari sistem agribisnis, agroindustri merupakan bagian (subsistem) agribisnis yang memproses dan mentranformasikan bahan-bahan hasil pertanian (bahan makanan, kayu dan serat) menjadi