BAB II DONGENG ORONG AGU KODE DALAM KONTEKS SEJARAH
2.2 Latar Belakang Historis dan Demografis
2.2.3 Ekonomi MasyarakatManggarai Barat
2.2.3.1 Pertanian
Berdasarkan PDRB Manggarai Barat 2005 dengan harga konstan 2000 menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar PDRB, yakni 64,96%, disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restaurant sebesar 11,68%. Sektor lain yang cukup signifikan adalah sektor bangunan & konstruksi 8,29% dan Jasa-jasa sebesar 7,82%. Struktur perekonomian yang relatif dominan disangga oleh sumber-sumber dari hasil pertanian atau tepatnya sektor primer, mengingat hasil yang didapat dari penjualan dalam bentuk mentah, menunjukkan struktur perekonomian daerah yang belum kuat
Pertanian tanaman pangan merupakan sub-sektor pertanian yangt elah memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Manggarai Barat. Dalam tahun 2005, sektor pertanian menyumbang Rp. 210,579 milyar atau sekitar 64,96% dari total PDRB, di dalamnya sub-sektor pertanian pangan menyumbang Rp. 148 milyar.
Potensi lahan pengembangan pertanian sampai dengan tahun 2004 baru dimanfaatkan sekitar 30%, sisanya seluas 130.120 ha belum dimanfaatkan. Luasan budidaya pertanian adalah areal sawah 10.588 ha, tanaman palawija 18.001 ha dan luas tanaman perkebunan 29.164 ha. Produksi tanaman tahun 2004 adalah padi sawah 59.429 ton, padi ladang 3.666 ton, jagung 11.809 ton, kacang tanah 425 ton, kacang hijau 375 ton, ubi kayu 26.290 ton, ubi jalar 47.413 ton dan kedelai 216 ton. Jika dilihat perkembangan dari tahun 2003-2004, untuk produksi padi, padi ladang, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang kedelai mengalami peningkatan produksi. Komoditi pertanian lainnya cenderung mengalami penurunan, sedangkan produksi sayur-sayuran terpusat di Kecamatan Komodo, Sano Nggoang dan Lembor dengan total luas areal tanam 119,7 ha dengan produksinya 186,3 ton (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).
2.2.3.2 Perkebunan
Di sub-sektor perkebunan, Kabupaten Manggarai Barat menjadi penghasil sejumlah komoditas. Tanaman perkebunan yang dikembangkan umumnya berupa tanaman perkebunan rakyat. Jenis komoditi yang dihasilkan baru sekitar 9 jenis. Tanaman perkebunan yang dominan dibudidayakan oleh masyarakat, yaitu jambu mete, kopi dan kelapa. Realisasi pemanfaatan luas areal perkebunan terus mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Melihat potensi sumber daya lahan yang ada, wilayah Manggarai Barat potensial untuk budidaya tanaman perkebunan. Usaha tani berbasis tanaman tahunan perkebunan yang
dianjurkan adalah budidaya jambu mete, kopi, kelapa, kakao, cengkeh, kemiri, dan vanili.
Sumbangan sub-sektor perkebunan masih relatif kecil, yakni pada tahun 2005 berdasar harga konstan 2000 menyumbang 4,37% dari total PDRB
Manggarai Barat.
Tanaman jambu mete merupakan salah satu potensi perkebunan yang dikembangkan di Kabupaten Manggarai Barat. Pada tahun 2005, jambu mete memiliki luasan produksi yang paling besar diantara tanaman perkebunan lainnya, yakni 9.401 ha, dengan produksi 663 ton. Jambu mete banyak dihasilkan di Kecamatan Lembor, Sano Nggoang dan Komodo.
Komoditi perkebunan lainnya yang banyak diusahakan oleh petani adalah tanaman kopi. Pada tahun 2005, produksi kopi mencapai 1.679 ton, pada luasan produksi 5.340 ha. Penghasil kopi tertinggi di Kabupaten Manggarai Barat berada di Kecamatan Kuwus dan Sano Nggoang. Iklim mikro di kedua kecamatan yang relatif cukup sejuk di malam hari, memang tepat untuk budidaya tanaman kopi.
Tanaman Kelapa. Pada tahun 2005 produksi kelapa di Kabupaten Manggarai Barat mencapai 719 ton dengan luas areal 4.350 ha. Produksi kelapa tertinggi berada di Kecamatan Macang Pacar. Tanaman kakao diusahakan secara merata di semua kecamatan di Manggarai Barat, namun jumlah produksi masih relatif kecil, yakni sekitar 88 ton. Tanaman kakao punya prospek untuk dikembangkan sebagai tanaman penyulam kopi atau tanaman penyulam pada
lahan kritis. Iklim mikro kawasan pegunungan seperti bagian dari Kecamatan Sano Nggoang, Kuwus dan Lembor cocok untuk budidaya kakao.
Tanaman perkebunan lainnya, seperti kapuk, kemiri, cengkeh dan vanili berdasar kesesuaian lahan dan iklim mikro yang ada merupakan tanaman-tanaman perkebunan yang cocok untuk dikembangkan di Manggarai Barat. Namun demikian, pengembangan tanaman perkebunan juga harus dikendalikan ketika ada indikasi mulai merambah kawasan konservasi atau lindung (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).
2.2.3.3 Kehutanan
Luas kawasan hutan di Kabupaten Manggarai Barat tahun 2006 adalah 130.152, 83 ha, atau 44 % dari total wilayah. Kawasan hutan yang terluas berada di Taman Nasional yaitu 24% dari total luas hutan. Berdasarkan data tahun 2006, jumlah rumah tangga yang mengusahakan tanaman kehutanan adalah 24.316 keluarga. Jumlah terbesar ada di Kecamatan Lembor (6.604 keluarga). Tanaman kehutanan yang paling banyak diusahakan masyarakat adalah pohon jati (97.140 pohon). Lokasi penanaman tanaman kehutanan terbesar ada di Kecamatan Macang Pacar.
Sumbangan sub-sektor kehutanan dalam PDRB Manggarai Barat tahun 2006, masih sangat kecil bahkan yang paling kecil di antara sektor Pertanian. Pada saat ini permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan potensi kehutanan adalah masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan konservasi, produksi dan hutan lindung, serta masih minimnya perluasan kawasan
hutan untuk kepentingan konservasi dan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Beberapa kawasan di Manggarai Barat telah mengembangkan atau memperkuat kearifan lokal terkait hukum adat yang melindungi kelestarian hutan, dimana aspek-aspek pelestarian hutan termasuk sangsi-sangsi bagi pelanggarnya semakin dimasyarakatkan. Masyarakat Tado dan masyarakat sekitar Danau Sano Nggoang adalah bagian dari masyarakat adat yang mencoba melestarikan hutan.
Upaya-upaya civil agro-forestry juga perlu terus dikembangkan, khususnya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan hutan, dengan pengembangan budidaya terpadu hutan dan peternakan, hutan dengan hortikultura, dan sejenisnya (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).
2.2.3.4 Perikanan
Kabupaten Manggarai Barat memiliki luas wilayah (darat dan laut) sebesar 9.450,00 Km2. Dari total luas wilayah tersebut, 64% adalah wilayah laut (perairan) atau seluas 6.052,50 Km2. Sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya, merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian Kabupaten Manggarai Barat.
Hamparan ekosistem terumbu karang sangat kaya dengan keanekaragaman biota lautnya juga banyak dijumpai di perairan laut Kabupaten Manggarai Barat. Potensi terumbu karang ini potensial untuk pengembangan
wisata bahari. Beberapa yang telah dikembangkan sebagai objek wisata bahari antara lain Kawasan Taman Nasional Komodo, yang telah dijadikan kawasan konservasi laut. Potensi kehidupan laut di taman nasional ini tercatat sebanyak 259 jenis karang dan 1.000 jenis ikan seperti Barakuda, Marlin, Ekor kuning, Kakap Merah, Baronang, dan lain-lain.
Perairan di Manggarai Barat, khususnya di Selat Molo dikenal memiliki arus laut yang kuat, yang disebabkan oleh perubahan arus harian antara kawasan lautan lepas (Lautan Hindia) dan laut pedalaman seperti di kawasan Kepulauan Komodo-Rinca dan Laut Flores. Arus laut harian yang kuat di Selat Molo ini ke depan dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik tenaga arus laut, walaupun saat ini tenaga listrik tersebut masih dalam tahap pengembangan atau penelitian.
Perairan Kabupaten Manggarai Barat memiliki potensi perikanan yang amat besar, diantaranya potensi ikan kerapu, kakap, bawal, lencang, dan ekor kuning. Potensi pengembangan perikanan budidaya laut yang cukup prospektif adalah mutiara, rumput laut, teripang, kerapu, baronang, udang dan bandeng. Usaha budidaya ini dapat dikembangkan di perairan Komodo dan sekitarnya (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).
2.2.3.5 Peternakan
Potensi peternakan di Kabupaten Manggarai Barat dilakukan melalui pengembangan terpadu antara ternak dengan kawasan perkebunan maupun dengan kawasan padang rumput. Berdasarkan data kawasan yang cukup luas untuk melakukan usaha ternak adalah di Kecamatan Komodo 63.314 Ha,
Kecamatan Sano Nggoang 21.745 Ha dan Kecamatan Lembor 19.619 Ha. Untuk pemeliharaan ternak babi, kambing dan ayam tersebar merata di semua wilayah Kabupaten Manggarai Barat.
Sumbangan sub-sektor peternakan dalam PDRB Manggarai Barat tahun terakhir, yakni tahun 2005 adalah 8,47% dari total PDRB, prosentase ini cukup besar dari pada sumbangan sub-sektor perkebunan atau perikanan-kelautan.
Berdasarkan data tahun 2005, jumlah populasi ternak di Kabupaten Manggarai Barat adalah ternak besar 24.413, ternak kecil 32.155 dan ternak unggas 75.960 ekor. Pada saat ini, permasalahan yang dihadapi untuk meningkatkan produksi hasil ternak antara lain adalah lambatnya usaha penyediaan bibit ternak yang berkualitas, penyediaan sarana peternakan, keterbatasan kualitas pakan ternak, kesepakatan masyarakat untuk menetapkan lahan peternakan dalam arti status fungsi secara hukum lahan untuk menjamin pemeliharaan ternak, berjangkitnya berbagai jenis penyakit ternak baik pada sapi, kerbau, babi, kambing dan ternak unggas. Berdasarkan data pemotongan hewan ternak selama 2 tahun, dari 2003-2004 menunjukkan konsumsi daging di Kabupaten Manggarai Barat mengalami peningkatan yang signifikan, khususnya konsumsi untuk daging sapi dan babi (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).
2.2.3.6 Pertambangan
Potensi pertambangan di Kabupaten Manggarai Barat tergolong kecil. Beberapa mineral yang mempunyai nilai ekonomi tinggi seperti emas, marmer,
tobeki, timbal, seng, gamping dan mangan telah diidentifikasi terdapat di beberapa wilayah yang ada di 7 kecamatan pada kabupaten ini. Namun demikian, riset yang mendalam mengenai kandungan bahan tambang dan kelayakan usaha eksplorasinya belum dilakukan
Sumbangan sub-sektor pertambangan pada PDRB Manggarai Barat berasal dari kegiatan penggalian, yakni penggalian bahan tambang Golongan C, dimana pada data selama tahun 2003-2004 berdasar PDRB harga konstan 2000 menunjukkan angka yang relatif tetap, yakni Rp. 7,3 milyar atau sekitar 2,25% dari total PDRB.
Bahan galian golongan C, yakni:
Bahan galian pasir dan batu (Andesit): berasal dari endapan sungai, banyak dilakukan di sungai Wae Mese. Daerah ini merupakan pensuplai pasir terbesar untuk pembangunan di kota Labuan Bajo. Penggalian batu belah banyak dilakukan di sekitar Marombok. Daerah lain yang dinilai banyak mengandung bongkah andesitik untuk batu belah adalah daerah landai sebelah selatan kota Labuan Bajo.
Lempung: lempung merupakan material berbutir halus, baik sebagai endapan aluvial di sebelah timur kota Labuan Bajo, tepatnya di timur dan selatan Marombok. Lempung banyak digunakan untuk bahan pembuatan batu bata.
Tanah Urug: dengan ukuran butir lanau sampai pasir halus banyak ditambang di daerah sekitar DAS Wae Mese, morfologinya berupa perbukitan,
secara geologi tersusun oleh batuan pasir tufa. Bagian atas dari lapisan pasir tufa mengalami pelapukan lanjut hingga rendah sampai ketebalan 10 m, merupakan material yang digali untuk tanah urug (http://manggaraibaratkab.go.id/ diunduh pada tanggal 16 April 2014).