• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jawaban: seperti tadi yang aku bilang, ada teksnya ya

118 Narasumber : Valentina Sri Wijiyati

Sebagai : Pengamat Media dan Disabilitas Waktu : 2 September 2018

R: Gimana tanggapan ibu terhadap media saat ini di Indonesia ?

V: Media yang Rana maksud berarti mencakup media cetak, elektronik, daring, atau ada spesifik tertentu ?

R: Sejauh ini sih Rana masih fokus sama media televisi penyiaran media visual gitu, tapi kalo misalnya bisa mencakup lebih luas gapapa juga sih Bu. Tapi Rana masih fokusa sama media penyiaran televisi.

V: Kalo ngomongin media secara umum sesungguhnya media di Indonesia punya tonggak kemajuan yang cukup bermakna setelah reformasi 98. Kita punya Undang-Undang Pers dan itu yang bisa menjadi landasan pembentukan Dewan Pers yang kita kenal sekarang. Ini sebenarnya menjadi modal besar pembenahan pers yang ada di Indonesia. Pers mencakup media yang ada di cetak, kemudian di media elektronik termasuk di dalamnya televisi dan radio, sekarang kita punya media baru yaitu media daring media online itu.

Kemudian kalo kita kesana sesungguhnya ada landasan hukum yang cukup bagus hanya ternyata belakangan kita lihat kepemilikan media di Indonesia masih merupakan struktur yang tersentral hanya terpusat ke beberapa pemilik modal saja sehingga tampaknya muatan media jadi tidak beragam warga, pemirsa, kemudian juga pendengar tidak mendapatkan asupan informasi yang menjadi mereka yang beragam karena tadi karena kepemilikan medianya terpusat ke beberapa orang saja. Spesifik kalo ngomongin media penyiaran, termasuk ada televeisi dan radio kita punya Undang-Undang yang bagus juga pasca reformasi ada Undang-Undang penyiaran, tahun-tahun sedang diupayakan untuk revisi mengikuti perkemabangan teknologi terutama teknlogi digital yang tidak simak juga prosesnya cukup alot karena yang terakhir ini usaha dari pemilik modal untuk mendorong yang namanya multimux jadi media saat ini sudah melangkah ke digitalisasi kemudian kita menjadi punya hak untuk menjadi penyedia…….(kurang jelas: 03:38) masyarakat sipil yang memilah atas rombaknya terutama dalam ranah penyiaran mendorong yang namanya mekanisme singlemux jadi negara yang menjadi penyedia…….. sehingga tidak kemudian ……. digital bisa menjadi hak swasta tapi hak suara yang nanti bisa digunakan didengar publik. nah kalo bicara kesana media di Indonesia sepenuhnya belum mengemban misi penyedia informasi publik atau khalayak apalagi kelompok rentan. Sampai saat ini kebanyakan apalagi kalo ngomong penyiaran di televisi ya, muatan-muatan yang masih mementingkan kepemilikan modal belum kemudian menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh khalayak. Sebagian besar justru berdampak negatif, tujuannya mungkin menghibur tetapi muatannya bukan muatan mendidik apalagi menghargai mereka-mereka yang beragam entah beragam fisik difabel no difabel, beragaman suku, lalu juga keberagaman

119

orientasi seksual banyak yang masih distigma di diskriminasi dengan program-program televisi kita kurang lebih garis besarnya sepeti itu.

R: Jadi kalo menurut Ibu sendiri itu di Indonesia masih terjadi diskriminasi dong khalayak audiencenya ?

V: Masih.

R: Sebenernya Rana udah baca yang di buku Ibu tulis keberpihakan media terhadap difabel disitu kan kelompok rentan yang ibu maksud kan ada perempuan, ada anak-anak, ada kelompok difabel gitukan, tapi kalo menurut Ibu sendiri kelompok rentan lebih banyak didiskriminasi oleh media itu apa sih Bu ?

V: Aku tidak punya data seperti itu kalo kita simak saja hampir tidak ada kelompok rentan dihormarti mendapatkan respect dalam program televisi kita.

Bicara tentang anak, adakah sungguh-sungguh program televisi kita yang ramah kepada anak ?

R: sedikit sih

V: Sesungguhnya sangat langka bahkan kalo kita punya kategorisasi siaran yang untuk semua umur, bimbingan orang tua, itu tidak diterapkan dengan penyedia program di televisi. Hampir semua program di televisi kita RBO (Remaja dengan Bimbingan Orangtua) mengandalkan orang tua di rumah bisa mendidik anak-anak melihat televisi padahal ini siapa yang bisa mendapingi anak-anak melihat televisi, tidak ada. Bahkan kalo mengandalkan asisten rumah tangga tidak punya kemampuan memadai untuk mendampingi dan mendidik anak dalam melihat televisi itu baru ngomong anak. Perempuan, dalam banyak program juga perempuan dianggap perspektif bias gender misalnya ngomngin iklan yang banyak produk hampir iklan itu perempuan dianggap sebagai kelas kedua bukan sebagai misalnya kalo ngomongin iklan sabun cuci, yang jadi pemerannya perempuan digambarkan perempuan punya tanggung jawab mencuci di rumah bukan disampaikan bahwa itu tanggung jawab semua orang. Kalo ngomongin suku-suku adat misalnya, kalo Rana pernah dengar program primitive runaway di transtv nah itu salah satu bukti bahwa penyedia program televisi tidak punya perspektif yang semakin menjunjung masyarakat adat dengan kekayaan budayanya justru itu menjadikan objek aja program televisi. Rana juga pasti pernah nonton film minta tolong atau bedah rumah, itu semua eksploitasi orang itu harus melihat situasi bukan kemudian program menunjukan kebudayaan mereka. Lalu kalo ngomong identitas gender semua program televisi yang muncul kemudian ada kata-kata banci, mereka-mereka yang punya identitas gender yang berbeda, orientasi seksual juga berbeda, justru diolo-olo, dianggap sebagai manusia yang tidak layak dihormati bahkan kalo Rana simak ada pelarangan laki-laki yang tampil seperti perempuan tapi tidak pernah ada larangan perempuan bergaya laki-laki, ini kan terlihat adanya perbedaan di cara pandang di para pemangku penyiaran Indonesia. Belum lagi bicara difabel dalam banyak program. Masuk dalam acara comedy mereka jadi bahan olok-olok mungkin

120

Rana kenal pak bolot tokoh yang digambarkan punya difabilitas terkait pendengaran, dia dijadikan eksploitasi belum lagi dengan difabelitas yang lain entah yang lain jadi kalo bicara kelompok rentan, media kita terutam media televisi belum menjunjung kemanusiaan yang beragam itu tapi masih mengeskploitasi stigma olokan kepada mereka-meraka itu.

R: Kalo Rana liat kan itu dari segi konten ya Bu, dari segi pengemasan dari segi peyebutan, tapi kalo dari segi akses di penyiaran televisi, menurut Ibu televisi-televisi di Indonesia itu merupakan perkembangan tidak memberikan akses kepada teman-teman difabel ?

V: Sudah ada perubahan baik, tapi belum cukup. Jadi kalo saya tidak salah ingat sebelum tahun 2014 sebelum pemilihan presiden 2014 juru Bahasa isyarat untuk teman-teman tuli itu hanya tersedia di program berita TVRI yang kalau saya tidak salah ingat dunia dalam berita. Tetapi di program lain seperti hiburan, kebudayaan, olahraga, yang edukatif itu tidak ada. Jadi ada asumsi implisit bahwa teman-teman tuli tidak punya hak untuk mengikuti, berpartisipasi dalam program lain selain program dunia dalam berita, ketika itu sebelum 2014. Nah bersamaan dengan debat calon presiden di pilpres 2014, waktu itu kebetulan saya masih berada di kelas bahasa isyarat teman-teman Gerkatin DIY Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia itu, di debat capres yang pertama salah satu guru saya menulis di status Facebooknya adakah yang bisa menjelaskan apa yang sedang dibicarakan oleh para calon presiden itu? Saya mau membaca gerak mulutnya saja susah kata dia, lalu dia menuliskan semua karakter yang ada di keypad itu di statusnya itu, menggambarkan betapa pusingnya dia, akhirnya yang bisa saya lakukan ketika itu mengirim email, mengirim surel ke Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia untuk meminta disediakannya Juru Bahasa Isyarat, kalau rana bisa browsing nanti masih ada arsipnya nanti, kalau ga detik.com dan tempo mungkin nanti ya di tempo.co.id, arsip tentang berita itu. Sesudah sejak itu, di debat capres yang kedua mulai ada Juru Bahasa Isyarat, dan tidak hanya di TVRI tapi diseluruh televisi yang menyiarkan debat capres itu, syukurnya sejak itu sampai ke debat capres yang terakhir selalu ada Juru Bahasa Isyarat, meskipun boxnya kotaknya di layar televisi masih sangat kecil, jadi kalau teman-teman tuli enggak menyimak betul isyaratnya, mereka harus mendekat ke layar televisi, yang mungkin dalam jarak pandang yang sesungguhnya tidak direkomendasikan karena terlalu dekat, tapi yang kemudian mengembirakan adalah ternyata tidak berhenti di debat capres 2014 itu tapi seinget saya di semua program debat kandidat, di pilkada serentak juga, KPU selalu menyediakan bahasa isyarat bahkan dalam situasi off air juga yang tidak disedikan oleh televisi, ini suatu perubahan yang baik apalagi kemudian diikuti dengan nanti tolong dicek waktunya, kalau ga keliru baru di tahun 2018 ini beberapa stasiun televisi di Indonesia, sekurangnya menyediakan 1 program berita yang disertai dengan juru bahasa isyarat, nanti silahkan di cek, kalau perlu ke catatan akhir tahunnya KNRP, kalau tidak keliru di situ ada

121

catatannya stastiun televisi yang mana dan program beritanya apa, tetapi sekali lagi ketersediaan bahasa isyarat ini masih terbatas di program berita, padahal kalau kita merujuk ke CRPD konveksi hak-hak penyandang disabilitas yang sudah diratifikasi juga oleh Indonesia, kewajiban negara-negara pihak termasuk Indonesia yang sudah tanda tangan itu adalah memastikan aksesibilitas, termasuk aksesibilitas penyiaran dan kalau bicara aksesibilitas penyiaran berarti mengansumsikan seluruh program siaran toh?

Tapi sekarang yang kita punya masih terbatas di program berita, itupun satu stasiun satu program saja.

R: sebenernya harusnya penerapan asksesibilitas tersebut wajib atau tidak ya bu?

V: Sebetulnya dengan Indonesia sudah meratifikasi CRPD itu dan sanggup untuk memastikan aksesibilitas penyiaran sudah menjadi mandatori untuk semua pihak mengupayakan memperjuangkan aksesibilitas penyiaran termasuk didalamnya untuk tuli, karena itu sudah menjadi undang undang di sistem hukum Indonesia. Dan kalau kemudian KPI baru menghimbau sangat-sangat tidak cukup karena yang dibutuhkan ialah negara mewajibkan, jadi tidak cukup menghimbau. Mereka harus bisa mengingatkan bahwa ini loh Indonesia sudah meratifikasi , sudah menandatangan siaran TV, jadi menjadi kewajiban seluruh penyedia program siaran di televisi untuk memastikan program siarannya akses untuk tuli.

R: Kalau menurut ibu sendiri, apa suara-suara di kelompok difabel ini sudah satu suara atau belum?

V: hari hari ini relative teman teman tuli lebih solid, artinya misalnya kalau ngomong tentang bahasa isyarat di Indonesia kan kita masih ada 2, ada Sibi ada Bisindo, kalau rana nanti sempat perhatikan hari ke hari program siaran di televisi republik Indonesia, mereka masih menggunakan secara bergantian sibi dan bisindo, tetapi sesungguhnya teman teman tuli relative lebih solid memperjuangkan Bisindo yang dikembangkan secara alami dari bahasa isyarat yang mereka gunakan sehari-hari, bukan seperti SIBI yang menggunakan tata bahasa orang dengar dalam hal itu relative teman teman tuli sudah lebih solid, hanya memang kalau bicara tentang kemerataan advokasi kemerataan perjuangan relative masih berpusat di Jawa, teman-teman tuli di luar jawa relative belum banyak terjangkau oleh kampanye pemenuhan hak-hak teman tuli terutama di penyiaran. Kalau Rana tau platform change.org ya?

nah teman-teman tuli pernah punya petisi yang meminta presiden Jokowi mengadopsi bisindo sebagai sarana komunikasi teman-teman tuli, kalau dicari masih bisa ketemu petisinya disitu.

R: Lalu kalau menurut ibu, bagaimana tentang media di Indonesia apakah media masih membatasi perhatian aksesibilitas kepada teman-teman difabel secara luas?

V: Kalau bicara tentang aksesibilitas kalau bicara informasi di penyiaran yang punya keberagaman akses teman-teman tuli ya, teman-teman difabel netra relative mereka bisa mengandalkan audionya, jadi bahkan kalau bicara radio

122

pun teman-teman netra masih bisa mengakses, tapi kalau teman-teman tuli radio sama sekali, kecuali radionya punya website, dan websitenya bisa diakses oleh teman-teman tuli karena ada teksnya gitu, tapi kalau radionya mengandalkan program siaran audio dan aktif jadi tertutup aksesnya untuk teman-teman tuli, kalau untuk teman-teman difabel netra masih bisa menggunakan akses audio untuk menikmati mengakses televisi dan radio, tapi kalau bicara aksesibilitas media kan sesungguhnya tidak hanya membicarakan kontennya saja, tapi juga bicara tentang partisipasi teman teman difabel dalam kerja-kerja bermedia sampai ke bisakah mereka memberikan umpan balik, memberikan kritik memberikan saran kepada program siaran itu, nah kalau bicara kesana partissipasi teman teman difabel masih rendah nanti rana bisa cek bahkan ke media media televisi atau radio berapa banyak staff mereka pekerja mereka yang difabel, apa programnya, apa tuna daksa yang menggunakan kursi roda atau membutuhkan tongkat untuk bisa berjalan atau yang orang mini atau orang tuli atau yang difabel netra silahkan di cek karena kalau bicara ketenaga kerjaan ada kuota 1% jadi seluruh tenaga kerja di suatu perusahaan swasta yang itu adalah teman teman difabel, apapun difabelitasnya. Itu baru bicara soal partisipasinya diketenagakerjaannya, belum diproses produksinya, adakah pernah ada media-media itu melakukan semacam uji public, konsultasi public tentang perancangan programnya misalnya, setau saya belum pernah ada, mereka punya rancangan program, kemudian mau dikonsultasikan kepada kelompok retan apalagi kelompok difabel ini, sesuaikah isinya untuk mereka atau ada syarat yang lain kah gitu sepertinya kok jarang sekali, yang relative sudah lebih baik adalah pilihan kata yang digunakan, kalau dulu orang masih menggunakan penyandang cacat, kemudian berubah menjadi penyandang disabilitas, lalu hari hari ini kalau rana perhatikan hampir semua media sudah menggunakan kata difabel dan itu kemajuan, itu perubahan yang baik luar biasa, karena bahkan undang-undang kita pun masih pake penyandang disabilitas toh? Belum menggunakan kata difabel, padahal cara pikirnya sudah kelihatan sangat berbeda, penyandang disabilitas itu mengandalkan adanya ketidakmampuan disability, sedangkan difabel itu berasal dari differently able, jadi, semuanya mampu hanya berbeda-beda caranya, itu sudah dua cara berpikir yang berbeda, saya apresiasi karena media saat ini sudah menggunakan diksi difabel, bukan lagi penyandang disabilitas atau bahkan penyandang cacat.

R: Kalau menurut ibu sendiri, apakah perlu seperti media televisi, kemudian diberikan secara online, dari radio kemudian diganti menjadi online, sehingga mudah, dari beragam konten dimasukkan kedalam satu platform? Menurut ibu bagaimana? Apakah itu suatu bentuk untuk meningkatkan memberikan informasi kepada teman-teman difabel?

V; ya, multimedia adalah salah satu cara untuk memberikan akses informasi, jadi kalau tadi saya bilang misalnya radio selama ini medianya hanya radio saja, akan lebih aksesibel terutama untuk teman-teman tuli, kalau konten muatan

123

siaran dia itu juga dimuat di dalam platform web msalnya, yang kalau ngomong temen-temen tuli mereka bisa membaca teksnya, kalau ngomong temen-temen difabel netra, dengan tulisan di web pun mereka bisa memakai program atau aplikasi, atau software untuk membaca teksnya misalnya. Itu jauh lebih aksesibel daripada radio siaran dengan hanya audio saja misalnya, lalu kalau televisi ketika ada aspek audionya bisa dilengkapi dengan akses visual dengan teks misalnya atau dengan closed caption, atau dengan apapun yang kemudian bisa menyajikan aspek audio visual itu ke teksnya, jadi teman-teman tuli yang akses informasinya melalui visual bisa mendapatkan informasi yang setara juga dengan orang-orang yang dengar, dengan teman-teman yang lain. Jadi, multimedia artinya tidak hanya mengandalkan satu jenis saja itu menjadi salah satu jenis usaha untuk meningkatkan aksesibilitas informasi dan kalau bicara hari ini dengan digitalisasi saya kira tidak ada kendala berarti kemudian ketika para pihak mau menyediakan multimedia, tidak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa karena digitalisasi sudah sangat memberikan ruang yang luas untuk upaya-upaya menyediakan informasi dalam multimedia itu tadi.

R: lalu konvergensi juga sudah bisa harusnya ya bu?

V: Betul, ya.

R: jadi kalau menurut ibbu sendiri di Indonesia sudah ada belum sih media yang bergerak dengan segala platform itu?

V: hmm belum optimal, jadi kalau misalnya ngomong radio kan ada RRI ya, RRI punya kanal web juga, punya bahkan aplikasi RRI play, tapi apakah kemudian muatan yang di web itu setara dengan muatan yang di siaran on air yang di radio, saya juga belum pernah meng-cek untuk memastikan, lalu kalau ngomongin televisi ya itu tadi, cakupan, hari hari ini misalnya seperti metro tv dan net tv sudah mengoptimalkan kanal webnya, net tv saya lupa platformnya apa, tapi metro tv juga sudah mengikuti aplikasi yang mirip-mirip untuk menjangkau warga net untuk menikmati siaran mereka, tapi apakah itu kemudian juga sudah memastikan akses berita informasi yang menjadi hak teman-teman tuli saya juga belum memastikan karena sebelum sampai ke ranah digital mereka, siaran yang biasa saja yang konvensional mereka belum cukup akses uuntuk teman-teman tuli, ya itu sekali ketersedian Juru Bahasa Isyarat atau bahkan teks atau closed caption itu baru di program berita belum di keseluruhan program siaran yang mereka pnya. Jadi kalau ngomong partisipasi tuli di olah raga, hari hari ini lagi rame asean games ya, lalu di program hiburan, di standup comedy misalnya, emplisit teman-teman tuli ga punya akses ke sana padahal kita sudah tanda tangan itu tadi, CRPD itu.

R: mungkin ga sih kesenjangan ini terjadi karena perspektif dari kepemilikan atau pengatur hal ini belum berfokus ke sana?

V: kalau pemilik media pelaku media di swasta, mungkin, ya okelah mungkin mereka belum baca regulasi, tapi kalau aparat negara yang dalam hal ini dunia penyiaran yang diwakili oleh KPI dan Kominfo kok tidak tau tidak paham

124

belum paham tentang kewajiban untuk menyediakan aksesibilitas itu jadi sayang sekali, karena kita jelas-jelas Indonesia sudah tanda tangan, sudah meratifikasi CRPD, artinya Indonesia dengan sadar mengatakan sanggup untuk menyediakan dan memastikan aksesibilitas penyiaran itu tadi, jadi kalau KPI kok belum tau, ya mereka harus dievaluasi, sampai tadi rana mendengar mereka baru menghimbau, tidak bisa mereka itu representasi negara yang tugasnya mewajibkan memastikan semua pihak menyediakan hak tuli atas informasi dalam aksesibilitas informasi itu tadi, jadi tidak hanya bisa dengan menghimbau, itu seharusnya sudah menjadi suatu hal yang mandatory bagi semua pihak.

R: Bagaimana dengan penerapan aksesibilitas pada program berita saja?

V: Itu balik lagi ke CRPD itu tadi, di Indonesia bukan mengatakan kami sanggup menyediakan sebagian, aksesibilitas di program berita saja, tidak begitu bunyinya, nanti silahkan liat di pasal-pasal yang ada di CRPD itu semua aspek, tidak hanya soal berita, tapi ya semua termasuk program budaya, program olahraga, Tuli sama-sama punya hak untuk mendapatkan informasi yang sebagaimana diterima oleh orang dengar. Gak ada diskriminasi seharusnya tapi kalau KPI pun masih bilang seperti itu artinya, KPI sendiri belum menjadi pihak yang perjuangkan ditegakkannya CRPD dalam penyiaran. karena kalau ngomong standar tertingginya, seharusnya aksesibilitas itu menjadi bagian syarat untuk mendapatkan izin penyiaran, yang kemudian ketika akan ada perpanjangan izin penyiaran, dievaluasi lagi betul atau tidak kalian sudah menyediakan aksesibilitas kalau belum tidak diperpanjang, kalau sudah memenuhi syarat menyediakan aksesibilitas baru kemudian bisa diperpanjang, seharusnya syarat tertingginya seperti itu kaalu KPI sungguh-sungguh berdiri untuk membela kepentingan publik, di dalamnya kepentingan tuli itu tadi. KPI akhirnya melanggar Undang-Undang dong kalau mereka membiarkan saja aksesibilitas itu hanya di program berita tertentu, karena tidak semua program berita itu ada di televisi juga? itu mereka sudah melanggar undang-undang, karena ratifikasi CRPD itu di kita menjadi Undang-Undang.

R: Apakah mungkin dalam penerapan dalam berita ini ada pengaruhnya dengan SDM dan budget dari pihak media?

V: Bisa jadi, karena tetep yang mereka pikirkan pendapatan iklan, nah kalau ngomong akses informasi untuk teman-teman tuli, fiturnya kan bukan hanya JBI, mereka bisa menyediakan subtitle, mereka bisa menyediakan closed caption atau menuliskan pokok-pokok pikiran yang sedang dibicarakan umpanya, jadi tidak bisa menjadi satu satunya dalih ketika tidak, atau Juru Bahasa Isyarat SDMnya terbatas, kemudian mengatakan maaf kami tidak menyediakan akses untuk tuli, tidak bisa juga karena pilihannya masih ada yang lain, masih bisa dengan closed caption yang artinya menuliskan seluruh suara yang ada pada program itu, atau subtitle artinya menuliskan omongan orang saja, idealnya saja, atau yang seperti disediakan oleh contohnya metro

125

tv mereka menuliskan pokok-pokok pikiran dari yang sedang dibicarakan, misalnya dalam debat atau dalam unjuk bicara itu pun sudah mengupayakan, sudah menjadi wujud usaha mereka untuk memberikan aksesibilitas informasi

tv mereka menuliskan pokok-pokok pikiran dari yang sedang dibicarakan, misalnya dalam debat atau dalam unjuk bicara itu pun sudah mengupayakan, sudah menjadi wujud usaha mereka untuk memberikan aksesibilitas informasi

Dokumen terkait