Rencana pembelajaran praktikum
Dalam pembelajaran praktikum diperlukan prosedur yang disusun secara logis dan sesuai untuk melatih ketrampilan, agar tujuan benar-benar dapat tercapai.
Metodologi praktikum
Metode praktikum mencakup semua kegiatan yang harus dipelajari dalam praktikum, seperti: menganalisis problema, mengumpulkan informasi, menyusun hipotesis, merencanakan percobaan, dan menarik kesimpulan. Pada akhir studi mahasiswa harus memiliki semua ketrampilan itu. Ini berarti bahwa ketrampilan-ketrampilan itu selama proses pembelajaran harus mendapat perhatian secara bertahap dan teratur. Mahasiswa harus melakukan tugas-tugas praktikum secara berangsur meningkat dalam kesukaran dan kerumitan. Dengan tugas-tugas tersebut mahasiswa melatih diri. Dalam berlatih mahasiswa akan memerlukan petunjuk-petunjuk yang heuristik (Dikti, 1982)
Penyusunan tugas problema
Suatu tugas praktikum harus mencakup suatu problema pada tingkat kemampuan mahasiswa, yang memungkinkan melatih semua ketrampilan yang penting dalam praktikum tersebut. Kemampuan mahasiswa berbeda maka suatu tugas tidak dapat sesuai untuk semua mahasiswa. Karena itu, para asisten harus menyesuaikannya, misalnya suatu tugas dapat dibuat lebih mudah atau lebih sukar.
Organisasi praktikum
Praktikum harus berhubungan dengan teori yang sudah dipelajari, yang bertujuan untuk mendalaminya. Untuk mengikuti sesuatu praktikum sebaiknya ada persyaratan seperti sudah lulus kuliah-kuliah yang berhubungan dengan praktikum tersebut. Karena itu dimungkinkan tidak perlu mengadakan ujian masuk praktikum. Tugas praktikum harus sedemikian sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa perioda praktikum. Per perioda praktikum (4 jam), diharapkan mahasiswa bekerja sendiri sekitar 1,5 jam untuk persiapan, perhitungan atau laporan. Karena itu bagian persiapan, bagian diskusi kesalahan dan ketelitian dan bagian pembuatan laporan harus dilakukan selama praktikum. Hal ini penting terutama pada tingkat studi yang rendah.
Bimbingan pada praktikum
Pelaksanaan praktikum memerlukan sesuatu organisasi yang baik dan cara bimbingan yang tepat, sehingga mahasiswa dapat belajar dari kesalahannya. Terutama bimbingan harus diarahkan agar mahasiswa sibuk secara sadar. Bimbingan hanya akan berjalan baik, bila kelompok mahasiswa tidak terlalu besar. Untuk kebanyakan praktikum bimbingan ini tidak dapat diserahkan kepada asisten-mahasiswa. Dari segi efisiensi proses pendidikan, seorang dosen akan lebih baik membimbing praktikum dan menulis teorinya dalam diktat daripada memberi kuliah dan menyerahkan praktikum pada asisten-mahasiswa.
Bila dipakai asisten-mahasiswa haruslah mereka dilatih sebaik-baiknya. Baik dosen maupun asisten haruslah mengadakan persiapan yang cukup untuk mengemban tugas sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing ia harus pernah melakukan sendiri tugas-tugas praktikum sebelumnya dan memikirkan cara-cara pemecahan alternatif. Di samping itu ia harus pula mengusahakan dan menyediakan informasi mengenai teori dan alat dalam bentuk tulisan, sehingga ia dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya pada tugas yang sebenarnya yaitu membimbing dan mengarahkan proses belajar para mahasiswa.
Petunjuk untuk pembimbing dapat diringkas sebagai berikut:
1. Persiapkan dengan baik; kerjakan tugas/percobaan dan pikirkan alternarif pemecahannya.
2. Persiapkan bahan tertulis yang dapat mengarahkan mahasiswa yang mengalami kesulitan dengan suatu tugas. Bahan tertulis tersebut diberikan bila perlu.
3. Aturlah agar mahasiswa mempersiapkan diri; berikan bahan orientasi yang terarah dan soal-soal yang dapat diselesaikan sebelumnya.
4. Bimbinglah mahasiswa secara perorangan; jangan memberikan kuliah lisan kepada kelompok mahasiswa.
5. Bimbinglah kelompok mahasiswa yang sama selama beberapa minggu berturut-turut, supaya dapat memperhatikan dan dapat menghilangkan kelemahan-kelemahan mahasiswa langkah demi langkah.
6. Ingat bahwa waktu sangat terbatas: kalau ada 10 mahasiswa, berarti hanya tersedia 6 menit per orang per jam.
7. Gunakanlah waktu itu supaya ada kontak singkat berulang kali; tidak satu kali 6 menit tetapi 3 kali 2 menit.
8. Ingatlah bahwa mahasiswa takut memperlihatkan kelemahan; karenanya sebutkan juga titik yang positif.
9. Perhatikan cara kerja mahasiswa, pertama apakah sesuai dengan metode, baru kemudian apakah benar sesuai bidang ilmu. Lebih khusus pada cara kerja harus diperhatikan:
10. Analisis tugas: sering mahasiswa terlalu cepat menyusun rencana pengukuran tanpa menelusuri terlebih dahulu kriteria apa yang harus dipenuhi.
11. Rencana tugas: belajar merencanakan kegiatan harus sedemikian sehingga dalam waktu yang telah ditetapkan dapat diperoleh hasil-hasil yang berarti. Hal ini harus diajarkan dari permulaan.
12. Percobaan : kegiatan melakukan suatu pengukuran cepat/ kualitatif yang mungkin untuk memperoleh gambaran merupakan suatu cara penting.
13. Penelitian literatur harus dimasukkan dalam percobaan dari awal secara tahap demi tahap. Bimbingan bagaimana mencari data dari literatur, dan bagaimana caranya menggunakan buku-buku petunjuk, majalah dan brosur, harus diberikan.
14. Pengukuran. Pengukuran dengan ketelitian yang dikehendaki lebih penting daripada pengukuran seteliti mungkin. Misalnya kalau pengukuran dikehendaki dengan ketelitian dua bilangan di belakang koma (10,25) tidak perlu kita megukur sampai empat bilangan di belakang koma (10,2514), atau memilih alat dengan ketelitian yang baik.
15. Kebenaran dan ketelitian data dan kesimpulan harus selalu dilaporkan secara eksplisit.
16. Penulisan buku catatan kegiatan harian, berisi pemikiran, percobaan, dan sebagainya merupakan suatu keharusan. Buku catatan kegiatan harian ini harus memenuhi kriteria sedemikian sehingga penulis atau pembaca dapat membaca kembali, apa yang ia melakukan dan mengapa ia lakukan percobaan dengan cara itu.
Kegiatan praktikum dapat dinyatakan dalam skema pada Gambar 4
Gambar 4 . Skema kegiatan praktikum Penilaian praktikum
Di dalam praktikum, penilaian dapat digunakan untuk memenuhi berbagai fungsi. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan bentuk penilaian yang sangat informal oleh asisten. Bentuk penilaian yang lain ialah penilaian sikap awal. Telah dikemukakan bahwa tugas-tugas biasanya harus mempunyai hubungan dengan teori yang telah dibahas sebelumnya. Untuk mendorong agar mahasiswa mempelajari kembali bahan pelajaran, mempersiapkan diri dengan baik dan untuk memeriksa apakah mahasiswa cukup mengetahui bahannya untuk dapat turut ambil bagian secara bermakna dalam praktikum, dapat diadakan suatu ujian awal. Ujian ini harus segera dinilai dan bila tidak memenuhi persyaratan, mahasiswa harus segera diberi tugas. Tugas yang seharusnya dilakukan dapat berupa
Persiapan Ujian Ya PRAKTIKUM Ujian Ya Lulus
Tidak Tidak Ujian teori + ketrampilan dasar Penilaian secara kontinu untuk memperbaiki proses belajar Ujian teori + ketrampilan dasar Formatif Sumatif Waktu
mempelajari kembali sebagian dari teori atau tidak diperkenankan mengikuti praktikum. Dengan ujian ini dapat diatur supaya mahasiswa-mahasiswa yang kurang rajin tidak meminta waktu terlalu banyak dari dosen/asisten. Ada juga bentuk penilaian yang didasarkan atas penilaian sikap akhir. Pada penilaian ini perlu ditelusuri apakah tujuan telah tercapai. Penilaian itu harus dilakukan pada akhir praktikum dan ada dua konsekuensinya. Pertama untuk mahasiswa: suatu penilaian negatif berarti bahwa ia harus melakukan kegiatan belajar tambahan, kadang-kadang juga ia harus mengulangi praktikumnya. Konsekuensi kedua ialah terhadap pendidikan, bila banyak mahasiswa tidak memenuhi syarat berarti, bahwa pendidikan tidak menuntun mahasiswa tersebut ke arah tingkatan yang dikehendaki. Mungkin prosedur pendidikan harus diperbaiki. Mungkin pula seleksi sebelumnya tidak benar sehingga mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu turut ambil bagian. Untuk penilaian yang sumatif ini, kita tidak mengindahkan sikap mahasiswa selama praktikum. Bila dia dapat membuktikan tercapainya tujuan-tujuan praktikum, misalnya terhadap suatu tugas akhir yang representatif, dia akan lulus. Untuk menghindarkan suatu tugas yang tidak cukup representatif, kita dapat menggunakan berbagi tugas, unruk menguji ketrampilan yang berbeda atau dapat juga yang sebagian sama. Dengan ini dapat pula dihindari pengaruh-pengaruh yang tidak dikehendaki, seperti kondisi badan mahasiswa pada hari itu. Di samping itu dapat pula diminta beberapa penilai untuk memberi penilaian. Ini berarti bahwa kita menilai berdasarkan satu tugas yang ditempatkan pada akhir suatu praktikum dan mahasiswa-mahasiswa dinilai oleh dosen atau asisten yang tidak membimbingnya selama praktikum.
Penyusunan laporan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, kebanyakan dari mahasiswa lambat dalam kegiatan studinya pada tahun-tahun terakhir, di mana harus ditulis skripsi, laporan-laporan praktikum, dan penelitian. Keterlambatan ini disebabkan oleh keragu-raguan mahasiswa dalam menulis laporannya. Keragu-raguan ini disebabkan oleh tidak jelasnya
syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu laporan, dan tidak pernah dipelajarinya cara membuat laporan. Oleh karena itu mahasiswa perlu dilatih tentang pembuatan laporan. Untuk mempelajari pembuatan laporan berikan dua petunjuk
Pertama-tama tatacara pembuatan laporan harus dipelajari setahap-demi setahap. Ini berarti bahwa dalam tahun pertama mahasiswa sudah harus mulai diminta membuat suatu laporan ringkas, atau pelajaran mahasiswa pada tahap pertama harus diarahkan kepada:
1. Penyusunan dan pembagian suatu laporan;
2. Kemudian mengisi berbagai paragraf, setelah itu menghubung-hubungkan paragraf-paragraf tersebut, dan akhirnya;
3. Mengisi prakata, pendahuluan, abstrak, daftar isi, dan susunan. Jadi pertama-tama harus terlebih dahulu direncanakan bagaimana susunan dan pembagian yang akan dibuat, sebelum menyelesaikan selengkapnya.
Selama proses pempelajaran mahasiswa harus mendapat umpan balik Ini mencakup pada semua tahap tersebut di atas, harus ada pengamatan dan bimbingan dosen. Jadi mahasiswa tidak diberikan komentar pada isi laporan saja, tapi juga pada susunannya.
Penilaian laporan
Penilaian suatu laporan biasanya harus dilakukan dua kali, pertama oleh pembimbing yang bertugas meneliti apakah laporan sudah lengkap dan sesuai dengan yang seharusnya dilaksanakan. Laporan juga harus dinilai segi-segi pembuatan laporannya, yaitu konsistensi, isi, pembagian, bentuk , dan penggunaan bahasa. Karena penilaian melibatkan beberapa orang, harus dapat diargumentasikan pada mahasiswa, harus diberikan petunjuk untuk perbaikan. Juga karena penilaian harus menunjukkan ada tidaknya kemajuan dalam prestasi bealjar, maka diperlukan suatu formulir penilaian.