• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

E. Pertanyaan Penelitian

Dari uraian di atas, maka muncul pertanyaan: Bagaimanakah kecerdasan emosi anak-anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian?

Kecerdasan Emosi Anak? EfekParentingibu terhadap anak:

Pendampingan pada anak relative kurang

Rentan terhadap relasi kurang hangat

Ibu sebagai Orangtua Tunggal:

Ibu yang bekerja

Waktu yang terbatas dengan anak Anak

€ €III ‚ƒ„… † ƒ‡ƒˆ ƒ‰ Š „Š ˆ . J‹Œ Ž‡‹Œ ‹ ‘Œ ’“”•– “— “˜“™š ”š ›˜ y›˜œ–š— ››š›– ›™›žŸ ” –š – “Ÿ ¡š — ”š ¢  ›™š”›”𢠣 ¤ ”  –š – “Ÿ¡š— ”𢠛– ›™›ž ¥ “”•– “ y› ˜œ ¦“¡ ”  §  ›˜  ˜”  ¥“™  š Ÿ ›˜ Ÿ“¨ ›¡› Ÿš Ÿ ”“¥›”š Ÿ ¢›” › ›”›u ›¡ ›”“¡š Ÿ ”š —•—  ™ ›Ÿš ” “¡ ”“˜”u ›”›u ¦š– ›˜œ ”“¡ ”“˜”u Ÿ“¨ ›¡› ¢› ”  ›™ – ›˜ ¨“¡¥ ›” £ ©“˜“™š”š›˜ –“Ÿ¡š— ”𢠔𖠛 ¥ “˜¨›¡š › ”›u ¥“˜§ “™›Ÿ ›˜ ž ¦ ˜œ ›˜ª ”š – ›¥ “˜œ §šžš—• ” “ŸšŸ› ” ›u ¥ “¥ ¦ ›”— ¡“–šŸš, ”›—šž›˜«›¥“¥ ›— ›¡›˜Ÿš ” ›Ÿš ›”›  — “¡š Ÿ ”š ¬ › ­® ¯¬›¡, °±°². P“˜“™š ”š ›˜ – “Ÿ¡š — ”š ¢ ¥ “¥š™šš ¨š ¡š-¨š ¡š ³ ›² ¦“¡ž ¦ ˜œ›˜ –“˜ œ›˜  “ ›– ››˜ «› ˜ œ ”“¡§ ›–š Ÿ ››” š” ´ ¦² ¥ “˜œ ¡ ›š  ›˜ Ÿ ›”   µ ›¡š›¦“™Ÿ ›§›. ¶ š› ›– › ¦ “¦“¡›—› µ ›¡š›¦“™ «› ˜œ› ›˜ –š  ¡ ›š›˜ª–š § “™›Ÿ  ›˜ Ÿ ›”  — “¡Ÿ ›” ´ ¨² µ›¡š›¦ “™ «›˜ œ –š ” “™š”š ”š– › –š ¥ ›˜š—  ™ ›Ÿš ›”›  ”š– › ›– › —“¡™ ›  ›˜ ­·¸ ¹º·»¹ ¼·²”“¡ž›– ›—µ›¡š›¦“™­½•  ˜” ¡, °° ¾². ¿  §  ›˜ – ›¡š — “˜“™š ”š ›˜ – “Ÿ ¡š— ”𢠛– ›™›ž ¥“˜œœ›¥ ¦›¡›˜ ›¡›”“¡š Ÿ ”š – ›¡š š˜–šµš –  ª Ÿš ”  ›Ÿš ›” ›  “™•¥ —•  ”“¡” “˜” £ ¤ “Ÿ  ›š – “˜œ ›˜ Ÿš ¢›” ˜ «› «› ˜œ – “Ÿ¡š— ”š¢, ¥ ›› – ›”› «›˜œ –š ¥—  ™ ›˜ ¦“¡ — › ›”›-›”›, œ›¥¦ ›¡ – ›˜ ¦ ›˜ ›˜œ›­’• ™“• ˜œ, °°~ ².¤ “™ ›š˜š ”  , — “˜“™š”š›˜– “Ÿ ¡š— ”𢧠 œ›–š ”  §  ›˜ ˜” ³ ± £ ’ “˜œ ¥ —  ™›˜š ˜¢•¡¥›Ÿ š ›” ›™Ÿ “¨›¡›¡š˜ ¨š «›˜œ¥ “™ šŸ ›˜œ“§ ›™ ›«›˜œ ›– ›.  £ ’ “˜œš – “ ˜”š ¢š›Ÿš›˜¥›Ÿ›™ ›ž ›” › ¥ “¥ “¡š Ÿ ›• ˜–šŸš – ›˜—¡›”“-— ›¡ ”“ «›˜ œ¦“¡ ™ › £

ÀÁ Á ÃÄÅ ÆÇÈÉÊÄ ËÆÈÌÍÎÌÏÈÌÈÉ Èu Ä ÐÈÑ ÇÈÒÎ ÓÔ Õ ÖÈ Ë, ×ØÙ Ø Ú. ÃÄÌ ÇËÇÉ PÛÄËÖÈÌÍÈËÎ ÓÙ ÜÜÝÚ ÊÄÌÄÑÎ ÉÎ ÈÌ ÞÇÈÑ ÎÉÈÉÎ ß ÈÍ ÈÑ Èà ÊÄÌ ÄÑ ÎÉ Î ÈÌ áÈÌÏ ÅÄÌÏà ÈÒÎ Ñ ÞÈÌ Í ÈÌ ÅÄÌ ÏÛÑ Èà Í ÈÉ È áÈÌÏ ÒÎ ßÈÉÌáÈ ÍÄ ÒÞËÎÊÉÎ ß, ÒÄ ÊÄ ËÉ Î É ËÈÌ ÒÞËÎ ÊÒÎ ÖÈÖÈÌâÈËÈ, â ÈÉ ÈÉÈÌ ÑÈÊÈÌÏÈÌ ã ÏÈÅ ÆÈË, ßÛÉÛ ËÄ ÞÈÅ ÈÌ ÐÎÍÄÛ Í ÈÌ Ñ ÈÎ Ì-ÑÈÎÌ PÈÉ ÉÛÌ ÅÄÌ ÏÈÉ ÈÞÈÌ ÆÈà ÖÈ ÍÈÑÈÅ ÊÄÌÄÑÎ É ÈÌ ÞÇÈÑÎ É ÈÉ Îß ÊÄËÑ Ç ÅÄÌÄ ÞÈÌ ÞÈÌ ÊÈÍÈ ÊÄÌÉ ÎÌ ÏÌáÈ ÞÄÍ Ä ÞÈÉ ÈÌ ÍÄÌÏÈÌ Û ËÈÌ Ï-Û ËÈÌÏ Í ÈÌ ÒÎ É ÇÈÒÎ ÊÄÌÄÑ ÎÉ Î ÈÌ ã ÈÏÈË ÊÄÌ ÄÑÎ ÉÎ ÅÄÅ ÊÄ ËÛÑ Ä à ÊÄ ÅÈàÈÅÈÌ äÄÑÈÒ É ÄÌÉ ÈÌ Ï ËÄ ÈÑÎÉÈÒ Í ÈÌ ÞÛÌÍÎ ÒÎÞÄ àÎ Í ÇÊÈÌÌ áÈÉÈÓÍ ÈÑÈÅ PÛÄ ËÖÈÌÍ ÈËÎ, Ù ÜÜ ÝÚ. åæç èé êëìæ Í ÈÑÈÅ ÊÄÌ ÄÑ ÎÉ Î ÈÌ ÞÇÈÑ ÎÉ ÈÉ Îß ÈÍÈÑÈà ÅÈÌ ÇÒÎÈ, ÆÈÎ Þ ÊÄÌÄÑ ÎÉ Î ÒÄÌÍÎËÎÅ ÈÇÊÇÌÍÄÌÏÈÌÆ ÈÌÉ ÇÈÌÛ ËÈÌÏÑÈÎÌÂOÑ ÄàÞ ÈËÄÌ ÈÎ É ÇãÞÄ àÈÍÎ ËÈÌÊÄÌÄ ÑÎ ÉÎ Í ÈÑ ÈÅ ÊÄÌ ÄÑÎ ÉÎÈÌ ÞÇÈÑ ÎÉÈÉ Îß ÅÇÉ Ñ ÈÞ ÍÎ ÊÄ ËÑ ÇÞ ÈÌ Í ÈÑ ÈÅ ÅÄÌÏÇ ËÈÎÞÈÌ Í ÈÉ È Ì ÈÌÉÎ Ì áÈ. íÈËÄÌÈ ÍÄÌÏÈÌ É Ä ËäÇÌ ÑÈÌ ÏÒ ÇÌÏ ÞÄ Ñ È ÊÈÌ ÏÈÌ ÅÈÞÈ ÊÄÌ ÄÑÎ ÉÎ ÍÈÊÈÉ ÅÄÑ Î àÈÉÒ Äâ ÈË ÈÑÈÌÏÒÇÌÏß ÄÌÛ ÅÄÌ ÈÍÎÍ ÈÄ ËÈàÑ ÈÊ ÈÌÏÈÌÒ Ä ÊÄ ËÉ Î î ïðñò óò óðôõöñõñ÷ øù øòô÷ ôúöñõñ÷øù ø ôõð óô÷ø ùôùøûüóð óöýóú ø ù. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi hasil pelapor dari hasil penelitiannya (Moleong, 2005).

Dalam penelitian kualitatif, peneliti berusaha menggali informasi dari lapangan tanpa berusaha mempengaruhi informan. Moleong (2002) mengatakan bahwa data yang dihasilkan dalam penelitian kualitatif adalah data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang serta perilaku yang dapat diamati.

þþ

ÿ , penelitian kualitatif memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan penelitian lain, diantaranya adalah (dalam Catatan Ringan tentang Penelitian Kualitatif, 2008):

1) Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif merupakan suatu entitas yang utuh, sehingga penelitian kualitatif menekankan pada kajian terhadap pelbagai hal yang terjadi di lapangan.

2) Pendekatan yang dilakukan oleh penelitian jenis ini adalah pendekatan yang bersifat , yaitu pendekatan yang dilakukan secara guna mendefinisikan sebuah situasi.

3) Jika dilihat dari segi hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian, jenis penelitian ini mensyaratkan kedekatan dan komunikasi yang antara peneliti dan subjek.

4) Analisis data dalam penelitian ini bersifat induktif, dimana data yang diperoleh harus lengkap dan dapat direlasikan dengan teori-teori yang membicarakan objek dalam suatu disiplin ilmu tertentu.

Dengan melihat kelebihan studi deskriptif kualitatif, maka metode ini sesuai untuk menggali informasi mengenai gambaran kecerdasan emosi anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian.

okus F nliti

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecerdasan emosi anak dengan ibu sebagai orangtua tunggal akibat perceraian. Kecerdasan

! "#$%& %' "%' (&%!%' &%$#%' $ "! ) %*!, emosi dan sosial yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan. Kecerdasan emosi ini terdiri dari 5 aspek, yaitu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosi dalam penelitian ini terbentuk dari ibu sebagai orangtua tunggal yang mengasuh anak.

Anak yang dinilai cerdas secara emosi memiliki kemampuan dalam aspek-aspek kecerdasan emosi yang akan dijelaskan sebagai berikut (Goleman, 2001):

1. Mengenali Emosi Diri; anak sadar akan perasaan diri sehingga memikirkan tindakan dan perasaaan sebelum melakukan sesuatu.

2. Mengelola Emosi; anak mampu mengendalikan perasaan-perasaan yang dirasakan. Sebagai contoh, anak mampu mengendalikan perasan marah, ketidaksabaran dan menahan diri untuk tidak bersikap agresif, serta mampu mengendalikan+,,-dan perasaan negatif yang dirasakan.

3. Memotivasi Diri; anak berusaha dan mempunyai daya tahan untuk mencapai tujuan hidup.

4. Mengenali Emosi Orang Lain; anak peka terhadap perasaan orang lain sehingga mampu berempati dengan orang lain.

5. Membina Hubungan dengan Orang Lain; anak mahir dalam berkomunikasi sehingga mudah menjalin persahabatan dengan orang lain.

./

012u3 456 7585 9: ;: <8

=>?@ ABA?C ADEF CG BH >D> I J KJA DLBGMN> C@AIAOH> D> IJKJ ADJDJA @A IAPAD ACQ A DAC A DRy M> ?A @A H A@A OA BA H>?K> DRAPAD @A D ACPJ ? A DA CQAD ACL yAJ Ku A DA C Q A DAC A DRy M >? G BJ A /Q ST KAPG D @> DRA D J MG B>M A RAJ F?A DRKGA KG DRRA I A CJMAK H>?U> ?AJ A DV

W.X5 ;YZ 575 8[ <\3 :9<8W<;<

]A IAO H> D> IJKJ A D J DJ, data mengenai kecerdasan emosi pada anak diperoleh dengan menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu:

1. Wawancara terhadap subjek (anak). Wawancara terhadap anak akan menjadi data utama dalam penelitian ini;

2. Observasi skala ^ _`a bc yang dilakukan oleh ibu subjek. Observasi yang dilakukan oleh ibu ini berfungsi sebagai data untuk mengkonfirmasi wawancara terhadap subjek; dan

3. Wawancara terhadap ibu subjek, yang berfungsi sebagai data pelengkap yang berisi latar belakang subjek.

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan, dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan keterangan yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Banister (dalam Poerwandari, 2005) mengungkapkan bahwa wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna

de

f ghijkl mn yop q r mso tou m mpr mvmr g hj wkj poo p rj pqop l xsmk opqy r mlj y mlm, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain.

Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang sangat fleksibel, sebab mudah menyesuaikan dengan keadaan untuk diarahkan pada relevansi informasi. Selain itu, melalui wawancara, peneliti dapat memperoleh informasi secara langsung, tepat dan mendalam, serta membaca isyarat non verbal dari subjek penelitian (Wawancara, 2012).

Wawancara yang akan dilakukan merupakan wawancara terbuka semi terstruktur, yaitu wawancara yang terjadi ketika subjek mengetahui atau menyadari bahwa mereka sedang dalam proses wawancara dan peneliti memiliki panduan wawancara tetapi masih bisa dikembangkan lagi saat pelaksanaan wawancara sesuai dengan kebutuhan perkembangan proses wawancara. Wawancara semi terstruktur berarti peneliti tetap membuat panduan pertanyaan, tetapi tidak harus mengikuti ketentuan secara ketat dan memungkinkan mencakup ruang lingkup yang besar atau memungkinkan untuk dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan di luar pertanyaan formal guna mendukung pengumpulan informasi (Basuki, 2006). Agar data yang diperoleh sesuai dengan apa yang disampaikan oleh subjek, maka pembicaraan selama wawancara sedapat mungkin direkam dengan z{|} ~} €~ }~. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah pedoman wawancara yang akan disampaikan kepada subjek. Dalam hal ini, peneliti menggunakan

‚ƒ „…†‡ ˆ‰Š†‹ wŒwŒŠ Œ‹ Œ ‡ † Ž Œ Œ ˆ  ŒŠ‘ Œ‡ŒŠ ‘ Œ Œ’ ’†Š†Š “…„ ŒŠ ”‰„…‡ yŒŠ  Œ„ ŒŠ •†Š† ˆ“ ˆ“ŒŠŒ„ ŒŠ–y —˜™ šl ›œ žšŸ   ¡˜¢£˜¤˜¢¥˜¦˜§š¦¨˜Ÿ˜©ª¢˜«¡š¢ ¬š¢˜­®š¥š¦Ÿ˜¯˜¢° ¡ ¯­ ±‡ •†„²† †‹‘Œ‡ŒŠ³ ’‰‡ˆ ´†‹ “ŒŠŒ ŒŠy µ†Š†Š Œ ˆ† ’‰‡ˆ‘ ˆ‹ ˆ ¶– ±• Œ±Š‘ Œ• †‹Š Œ·’†‹ Œ‡Œ‡ †Š ŒŠ ? Apa yang membuat Anda senang?

2. Apa Anda pernah merasa sedih? Apa yang membuat anak sedih?

3. Apa Anda pernah merasa marah? Apa yang membuat Anda marah?

4. Apa Anda pernah merasa cemas? Apa yang membuat Anda cemas?

5. Apa Anda pernah merasa iri? Apa yang membuat Anda iri?

6. Apa Anda pernah merasa bersalah? Apa yang membuat Anda bersalah?

7. Apa Anda pernah merasa takut? Apa yang membuat Anda takut?

8. Apa Anda pernah merasa kecewa? Apa yang membuat Anda kecewa?

Mengelola emosi 1. Apa yang Anda lakukan saat merasa sedih? Bagaimana cara Anda menghibur diri? 2. Apa yang Anda lakukan saat merasa marah?

Bagaimana cara Anda menenangkan diri? 3. Apa yang Anda lakukan saat merasa cemas?

¸¹

¸º » ¼½ y½¾ ¿ »¾ À ½Á ½Âý¾Ä ½½ÅÆÇÈ½Ä ½É ÈÉ? 5. Apa yang Anda lakukan saat merasa bersalah? 6. Apa yang Anda lakukan saat merasa takut?

Bagaimana cara Anda menenangkan diri? 7. Apa yang Anda lakukan saat merasa kecewa?

Bagaimana cara Anda menenangkan diri?

Memotivasi diri sendiri 1. Bagaimana sikap/perilaku Anda ketika menghadapi tugas?

2. Bagaimana sikap/perilaku Anda ketika menghadapi kesulitan?

3. Bagaimana sikap/perilaku Anda ketika menghadapi kegagalan?

Mengenali emosi orang lain atau empati

1. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika ada teman yang terlihat murung/sedih?

2. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika ada teman yang terlihat marah? Dari mana Anda mengetahui hal tersebut?

3. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika ada teman yang terlihat senang? Dari mana Anda mengetahui hal tersebut?

4. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika ada teman yang terlihat cemas? Dari mana Anda mengetahui hal tersebut?

5. Apa yang biasanya Anda lakukan ketika ada teman yang terlihat takut? Dari mana Anda mengetahui hal tersebut?

Membina hubungan atau kecakapan sosial

1. Apa yang Anda lakukan dalam menghadapi orang lain/teman (khususnya orang yang baru dikenal)? 2. Siapa teman dekat Anda?

ÊË

ÌÍ Î ÏÐ yÐ Ñ Ò Î ÑÓ Ð Ô ÕÖÐ× ÓÐØ × ÙÚÛ ÐÑ ×Ùu? Kenapa memilih berteman dengannya?

4. Apa saja yang Anda lakukan ketika bersama teman?

5. Apakah Anda pernah marah/bertengkar dengan teman? Bagaimana ceritanya? Apa yang Anda lakukan setelah itu? Apakah ada upaya untuk berdamai dengan teman? Seperti apa upayanya? / Bagaimana situasi tersebut diselasaikan?

6. Apa saja yang Anda lakukan saat bermain dengan teman?

7. Apa saja yang Anda lakukan saat bekerjasama dengan teman?

8. Apakah ada teman yang nakal? Seperti apa nakalnya? Bagaimana sikap Anda dalam menanggapi teman yang demikian?

9. Bagaimana cara Anda menanggapi perlakuan dari teman, misalnya ketika:

- Teman berkata kasar - Memukul - Menendang - Marah-marah - Mengejek - Merebut/mengambil barang - Melanggar janji

Selain menggunakan wawancara, penelitian ini juga menggunakan observasi. Yang akan diamati adalah perilaku yang menunjukkan kecerdasan emosi anak ketika di rumah.

ÜÝ

Þ ßàà áâ ãäßåßæ Þ á çèßâä ßèéw , 2005), menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada penelitian. Selain itu memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari dan juga memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.

Observasi yang digunakan bersifat deskriptif, yaitu mencatat data konkrit berkaitan dengan fenomena yang diamati agar memungkinkan pembaca untuk dapat memvisualisasikanêëì ìíîï yang diamati. Dengan uraian deskriptif, pengamat meminimalkan biasnya, sehingga dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih akurat saat menginterprestasi seluruh data yang ada (Poerwandari, 2005). Alat pengumpulan data yang digunakan adalah pedoman observasi yang akan dijadikan pedoman dalam pengamatan terhadap subjek.

ðñò ólôõö

÷óø ù úñûüòýóþÿñý ññRating

Aspek Kecerdasan Emosi Indikator Perilaku

Mengenali emosi diri a. Anak menceritakan masalah-masalah yang dialaminya pada orangtua/orang lain (guru) b. Anak memberitahukan

perasaan-perasaannya pada orangtua/orang lain (guru)

u u , atau - Cemas, atau - Iri, atau - Bersalah, atau - Takut, atau - Kecewa

Mengelola emosi a. Anak menghibur diri sendiri di saat sedih b. Anak menenangkan diri sendiri di saat

cemas

c. Anak menenangkan diri sendiri di saat marah

Memotivasi diri sendiri a. Anak mencoba lagi setelah gagal melakukan sesuatu

b. Anak bersemangat melakukan sesuatu Mengenali emosi orang

lain atau empati

a. Anak menghibur teman yang sedang sedih b. Anak membantu teman yang mengalami

kesulitan

c. Anak menceritakan masalah apa yang menimpa temannya pada orangtua/guru Membina hubungan atau

kecakapan sosial

a. Anak mau menyapa temannya terlebih dahulu

b. Anak memperkenalkan diri pada teman yang baru ditemui

c. Anak mau berbagi dengan temannya d. Anak menggunakan kata tolong ketika

!" #$! %"

&' ("!)* &" ##+"!)!")!,! maaf ketika melakukan kesalahan

f. Anak menggunakan kata terima kasih setelah mendapatkan pertolongan atau hadiah

Dalam penelitian ini, pengamatan akan dilakukan di rumah subjek selama satu minggu oleh ibu subjek. Data mengenai kecerdasan emosi yang berupa hasil observasi dalam penelitian ini akan dicatat dengan menggunakan - ./ 0123- 456- 7 012.Ratings recordingadalah metode pencatatan hasil observasi yang menilai perilaku berdasarkan skala atau checklist. Biasanya dilakukan pada akhir periode pengamatan. Skala tersebut didesain untuk menunjukkan tingkat perilaku yang diamati (misalnya seperti kerjasama dan agresi). Skala peringkat berguna untuk menilai perilaku yang sulit untuk diukur secara langsung dan mudah untuk distandarisasi serta dapat digunakan untuk berbagai tujuan dalam berbagai pengaturan (Sattler, 2002). Peringkat (rating) yang digunakan dalam penelitian ini meliputi selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah.

Untuk memperoleh data tambahan mengenai subjek, maka selain melakukan wawancara langsung dengan subjek, peneliti juga akan melakukan wawancara dengan ibu subjek. Data tambahan yang dimaksud adalah mengenai latar belakang subjek. Wawancara yang akan dilakukan dengan ibu

89

: ;<=>? = ;@A B>C;DA? AE wAwAEFA CA G> C<;?A :> B H G> C: G C;? G ;CI J> CH? ;G A KALA M D> KN BAEOAwAEF ACA yA E @G>LA MKH : ;:;E P

QRS Tl UVU

WTX Y ZR[\R]R[ ^R_R

`T^T_ XRa R[bZYacd[ReXT[f R[g ShaT S Rf Rci_R[f jhRQh[ff Rkh[jh e \R]R[ ^R_RXT[f R[Significant Others(g S h)

lA GA C

<>LA?AE @AE A?

mI n>: >MACHAE AE A? : >= A? D ;L AE@ :>?NLA M MH E @@A BALA B MA CH :> <>L;BGH K;C

oI p? GH qHGA: r?>: H <;?AEAEA?:>L AH E?> @HA GAE<>LA=A CK H: >?NL A M sI t > C?> B <AE@AE> BN:HAEA?KA CH?>FHL

9I nA CA? G>CH : GH?r : HuAGv:HuAGA EA?

8I w BN: H yAE @DALH E @B>ENE =NLxAE @y :> CHE @KHD> CLH M AG?AENL >M AEA?y: A AGHEH

zI t > CG> BAEAEAEA?

{I lA BAB>E@A:;MKAEB>B <>: A C?AEAEA?: >NCAE @KHCH

|I n>:;LHGAE yA E @ KH CA :A?AE :>L A B A B >E @A: ;M KAE B> B <>: A C?AEAEA?

}I ~A B<A CAE?> K>?A GAEH<;K>E @AEAEA?xKAL A BM AL?>: >MA CHAE KAE<>L A =A CAEA?y

mI €A CAH<;KALA BB>E @A CAM?AED> CH LA? ;AE A?

mmI t NLA A:;M A E @y KH G> CAD?AE KAL AB B>E @A: ;M KA E B> B <>: A C?AEAEA?

b.d[Rkc a ca RjR

pEALH : H: KA GA B>C;DA?AE :A Gu L AE@?A M yAE @ : AE @A G ? CHGH : KAL A B : ; AGu D>E>L H GHAE x‚ ;CA <CA G Ay , 2002). Lebih lanjut dikatakan bahwa analisis data

ƒƒ

„…„†„‡ ˆ„ ‰„ Š‹Œ‹†Ž  …„ †„  ‹Œ‘ †„‡ …„Ž „ y„ Œ Ž ‹‰’“ Š“ † ” ‹‡  Œ „  ‹Œ…„ Єޒ„Œ ”“„Žu ’ ‹” Š“ †„Œ Š‹Œ‹†Ž „Œ• –‘ ‹‰w„Œ… „ ‰ —˜™™ƒš, mengemukakan bahwa data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narasi, deskripsi, cerita, dokumen tertulis dan tidak tertulis ataupun bentuk-bentuk non angka lainnya. Pada prinsipnya analisis data kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Teknik analisis yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (dalam Basrowi, 2008), mencakup tiga kegiatan yang bersamaan, antara lain:

›œ žŸ   ¡ ¢ £¤¥¦¥

Reduksi data merupakan pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian dan pentransformasian data kasar dari lapangan. Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan, dari awal sampai akhir penelitian. Pada awal penelitian misalnya; melalui kerangka konseptual, permasalahan, pendekatan pengumpulan data yang diperoleh. Selama pengumpulan data, misalnya membuat ringkasan, kode, mencari tema-tema, menulis memo, dan lain-lain. Reduksi merupakan bagian dari analisis, bukan terpisah. Fungsinya untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga interpretasi bisa ditarik. Dalam proses reduksi ini peneliti benar-benar mencari data yang benar-benar valid. Ketika peneliti menyangsikan kebenaran data yang diperoleh akan dicek ulang dengan informan lain yang dirasa peneliti lebih mengetahui.

§¨

©ª «¬n­®¯° ®±² ®³®

´µ¶· ¶¸ ¹ º»¼½ ¾¼ · ¶¿ À¿ ÁÂý ¶¹À ĺà ¹¼ ¹¼¿ y¶¿Å ½ º½ Æ ºÃÀ » º½¼¿ Å»À ¿ ¶¿ ¼¿ ļ» ½º¿ ¶ÃÀ» » º¹À½¾¼ ·¶¿ µ ¶¿ ¾º¿Å¶½ÆÀ·¶¿ ÄÀ ¿ µ¶» ¶¿Ç Ⱥ¿ ļ» ¾º¿¶ ÉÀ ¶¿y ¶¿ Ä ¶Ã ¶ · ¶À¿Æ ºÃ¼ ¾¶ ĺ» ¹¿¶Ã ¶ÄÀ Á, matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Tujuannya adalah untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu, sajiannya harus tertata secara apik. Penyajian data juga merupakan bagian dari analisis, bahkan mencakup pula reduksi data. Dalam proses ini peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi kategori atau kelompok satu, kelompok dua, kelompok tiga, dan seterusnya. Masing-masing kelompok tersebut menunjukkan tipologi yang ada sesuai dengan rumusan masalahnya. Masing-masing tipologi terdiri atas sub-sub tipologi yang bisa jadi merupakan urutan-urutan, atau prioritas kejadian. Dalam tahap ini peneliti juga melakukan penyajian data secara sistematik, agar lebih mudah untuk dipahami interaksi atau fragmental terlepas satu dengan lainnya. Dalam proses ini, data diklasifikasikan berdasarkan tema-tema inti.

ʪ ˬ ± ®Ì° Íά ϰÐÑÒ Ó ®±®³®ÒԬ̰ Õ °Í®Ï°

Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus selalu diuji kebenaran dan kesesuaiannya sehingga validitasnya terjamin. Dalam tahap ini, peneliti membuat rumusan proposisi yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai temuan penelitian, kemudian dilanjutkan

Ö×

ØÙÚÛÜÚ Ý ÙÚ ÛÞÜß à á ÙâÜ ãÜ äÙã åæÜÚÛçåæ ÜÚ Û è Ùãé Ü ØÜê ØÜè Ü yÜÚ Û Ü ØÜ, pengelompokkan data yang telah terbentuk, dan proposisi yang telah dirumuskan. Langkah selanjutnya yaitu melaporkan hasil penelitian lengkap, dengan temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada (Basrowi, 2008). Berdasarkan uraian di atas, dalam melakukan analisa terhadap data yang telah diperoleh melalui wawancara (dalam Poerwandari, 2005), maka peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a) Memindahkan hasil wawancara dari ëìíî ïî ðñ ï òîï ke kertas kosong. Semua hasil wawancara dalam kata-kata atau kalimat apapun disalin kembali ke dalam buku. Dalam metode kualitatif sering disebut dengan transkrip verbatim.

b) Transkrip verbatim yang telah dilakukan pada tahap pertama dibuat lebih terperinci lagi sehingga masalah yang akan diteliti menjadi tampak jelas. Koding dilakukan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Berikut adalah pedoman pemberian koding:

óôõ öl ÷øùúöû ü ýô þúöýõ ö ÿô þüûþ

Informasi/Data Kode ö-ô ö

ööÿû ô ô þýü

a. Mengenali Emosi Diri b. Mengelola Emosi

a b

!" " #$%$m&osim ' ( ) * ) + , - . / ) 0 1 2" 3 w 4 5 ' ( * + . 0 4 67 8$89 :$;<;$=  ++) Mampu  --) Tidak mampu ++

--c) Setelah diberi koding, dilakukan kategorisasi secara konseptual agar lebih terperinci sehingga jelas dan memberi makna yang dalam untuk permasalahan yang diteliti. Untuk menilai tingkat kecerdasan emosi yang diperoleh dari skala > ?@A BC ini, peneliti melihat posisi skor total skala >?@A BC yang dibandingkan dengan mean teoritik sebesar 48 (skor total maksimal = 96).

d) Tahap berikutnya adalah melakukan interpretasi terhadap hasil kategorisasi dengan hasil wawancara. Tujuannya untuk memudahkan dalam memahami pembahasan kasus penelitian ini baru kemudian peneliti dapat menarik kesimpulan akhir.

DE

FG HI JKLM ING HK JGNIHOK OP IGIQ NIJ I IQ JILI RIOG S wIwIQTIL I JK LR INIU OP VMK HNKQW IQ RIOGSX VOKLY IOG yIQ WNG S IHP H IQ X SK RGVP JK LRINIUOP VMK HZ[ IHI NIJI yIQW IHIQ NG WPQ IH IQ INIS IR NIJ I yIQ W VK LIOIS NILG wIwIQ TI LI JK LR I NIU OP VMK H\ ] IS JK LOK VP J NGOK VIVHIQZ UKLJIQI IQy ^UK L J IQI IQy yIQW NG IMP HIQ UINI OP VMK HOP NIRNG [G QG[ISHIQVGIOQyINKQ WIQTI LI [KQW IMP HIQUKLJ IQIIQy yIQ W VK LOG _IJ JKLVP HI, dan kongkrit berdasarkan pengalaman subjek, sehingga subjek menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan keadaan dirinya saat itu (data faktual).

F

` abmbrikcddefbcdg hg deidefbdjcdgdekd ld

Dalam penelitian kualitatif, pemeriksaan kesahihan dan keabsahan data penelitian menggunakan kredibilitas. Istilah kredibilitas ini digunakan untuk menggantikan konsep validitas. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud dalam mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan mnoo p qr, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Deskripsi mendalam yang menjelaskan kompleksitas aspek-aspek yang terkait dan interaksi dari berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif (Poerwandari, 2005). Stangi dan Sarantakos menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, kredibilitas dicapai tidak melalui manipulasi variabel, melainkan melalui orientasinya dan upayanya mendalami dunia empiris dengan menggunakan metode yang paling cocok untuk pengambilan dan analisis data (dalam Poerwandari, 2005).

st

u vw xyz{| z} wv| z yvz } ~vxv{ y z|z}€v{ €vz }y zyv‚| w| { vƒ ~vz €y ~|‚|w | { vƒ xy zyw | {| vz €„ vw|{v{| … v~vw v† ywv€„ €vz {|vz}„wvƒ | ‡ ˆ|vz}„w vƒ | y z}v‰u xv~v „x vvyyz}v‚|w ƒ „ ‚y Šƒ„‚y  ~v{v yvz } ‚ y ‚y ~v, dengan cara berbeda untuk memperoleh kejelasan mengenai suatu hal tertentu. Data dari berbagai sumber berbeda dapat digunakan untuk mengelaborasi dan memperkaya penelitian, dan dengan memperoleh data dari sumber berbeda, dengan teknik pengumpulan yang berbeda, kita akan menguatkan derajat manfaat studi pada ‹ Œ Ž-‹Œ Ž  yang berbeda pula (Marshall & Rossman dalam Poerwadari, 2005).

Sugiyono (2005), menyebutkan bahwa triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dalam penelitian ini, jenis triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik yang dijelaskan sebagai berikut :

‘’ “ri”• –—l”˜ ™šum› œ

Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data dari ketiga sumber tersebut, tidak bisa dirata-ratakan seperti penelitian kuantitatif, tetapi dideskripsikan, dikategorisasikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana yang spesifik dari tiga sumber data tersebut.

ž’ “™ ”• –—Ÿ ”˜™“œ  • ™ 

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. misalnya data diperoleh

¡¢

£¤¥¦§¥ w§w§¥ ¨§©§, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi a tau kuesioner. Bila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut, menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut pandangnya berbeda-beda.

ª« ¬­®¯° ±² ³¯ ´ ®µ¯¶ ·²

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Untuk itu dalan rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.

Dalam penelitian ini, jenis triangulasi yang akan digunakan oleh peneliti adalah triangulasi teknik dimana setelah melakukan wawancara dengan subjek akan dilanjutkan dengan observasi keseharian anak yang menjadi subjek dalam penelitian ini mengenai perilaku yang menunjukkan

Dokumen terkait