1. Mengapa pelayanan di poli MTBS memerlukan waktu yang lama ? Jawaban :
Karena anak akan diperiksa dengan menggunakan prosedur pemeriksaan yang lengkap dan terstandar agar dapat mendeteksi tanda dan gejala yang mengarah kepada penyakit-penyakit berbahaya pada anak seper pneumonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi serta pemantauan tumbuh kembangnya, sehingga pengobatannya pun akan lebih sesuai dengan ketentuan. Tentu saja proses tersebut memakan waktu yang sedikit lebih lama, namun orangtua akan merasa lebih nyaman dan puas karena anaknya diperiksa secara menyeluruh.
2. Mengapa saat berobat batuk, petugas hanya menganjurkan pemberian jeruk nipis dan kecap/madu ?
Jawaban :
Batuk pada anak itu merupakan gejala dari suatu penyakit, sehingga untuk penatalaksanaanya dilakukan secara bertahap dengan pemberian pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman sampai dengan penggunaan obat-obatan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Salah satu pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman adalah pemberian kecap manis atau madu yang dicampur dengan air jeruk nipis (madu dak dianjurkan untuk anak umur kurang dari 1 tahun).
3. Mengapa Larutan Gula Garam (LGG) dak lagi diberikan? Jawaban :
Larutan Gula Garam (LGG) dak lagi dianjurkan karena dikhawarkan akan terjadi kesalahan dalam pembuatannya, maka dianjurkan agar anak memperoleh tambahan cairan lain seper oralit, cairan makanan (kuah sayur dan air tajin) atau air matang sebanyak anak mau. Jika anak masih menyusu, maka berikan ASI lebih sering dan lebih lama seap kali pemberian.
4. Mengapa obat yang diberikan di poli MTBS kadang sama? Jawaban :
Seap obat yang diberikan di poli MTBS, telah melalui permbangan berdasarkan keluhan dan klasikasi penyakit yang terjadi pada balita. Beberapa obat mempunyai indikasi dan manfaat tertentu untuk berbagai kondisi misalkan parasetamol selain untuk penurun panas bisa juga diberikan untuk keluhan nyeri. Orang tua dapat
meminta penjelasan lebih lanjut dari petugas terkait dengan indikasi dan efek samping obat yang diberikan kepada balita yang sakit.
5. Apakah petugas MTBS (perawat atau bidan) boleh memberikan terapi MTBS? Jawaban :
Seap petugas poli MTBS telah diberikan pelahan yang terstandarisasi berdasarkan pedoman yang ada secara komprehensif sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI no.25 tahun 2014 tentang upaya kesehatan anak pasal 25 ayat 2 menyatakan bahwa MTBS sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dilaksanakan oleh perawat/bidan terlah. Oleh karena itu, perawat/bidan memiliki kewenangan untuk melaksanakan ndakan sesuai dengan standar pelayanan MTBS. Masyarakat dak perlu ragu dengan pelayanan di poli MTBS karena seap ndakan dan pengobatan di poli MTBS terjaga kualitasnya dengan supervisi secara berkala oleh dokter terlah.
6. Peran dokter dalam MTBS? Jawaban :
Dokter mempunyai peran yakni : 1) memfasilitasi pelaksanaan pelayanan MTBS di puskesmas dan jaringannya agar dapat berjalan dengan baik., 2) Supervisor pelaksanaan pelayanan MTBS di puskesmas dan jaringannya., 3) Menerima rujukan kasus hasil dari pelayanan MTBS yang dilakukan oleh petugas MTBS di puskesmas dan jaringannya.
7. Apakah masih diperlukan pencatatan lain selain formulir pada saat pelayanan MTBS?
Jawaban :
Formulir pemeriksaan pelayanan MTBS merupakan suatu panduan bagi tenaga kesehatan yang melaksanakan pelayanan MTBS agar dapat melakukan langkah-langkah dalam melayani balita sakit yang berkunjung ke puskesmas dan jejaringnya sesuai standar MTBS. Oleh karena itu formulir ini masih diperlukan dan dapat bermanfaat juga sebagai rekam medis pasien.
8. Mengapa urutan pemeriksaan harus sistemas? Jawaban :
Proses pemeriksaan MTBS mengiku pola yang ditentukan dengan tujuan agar pemeriksaan bisa dilakukan secara efekf dan esien. Jangan sampai ada pengkajian tanda dan gejala yang terlewat, sehingga klasikasi penyakit berat pada anak dak terdeteksi lebih awal yang berdampak terhadap kesehatan anak. Selain itu, pada anak balita sering ditemukan lebih dari satu kasus dalam satu penyakit pada periode yang sama.
9. Apakah bisa langsung fokus ke penyakit yang dikeluhkan oleh pasien? Jawaban :
Bisa jika ditemukan tanda bahaya umum, maka pemeriksaan selanjutnya dilakukan secara cepat sambil diberikan ndakan pra rujukan. Sedangkan jika dak ditemukan tanda bahaya umum, maka tatalaksana dilakukan tetap secara bertahap dan sistemas dak bisa fokus langsung ke keluhan pasien untuk menilai pasien secara komprehensif.
10. Bagaimana jika pasien dak melakukan kunjungan ulang? Jawaban :
Kunjungan ulang sesuai jadwal merupakan bagian dari proses MTBS. Seap balita yang dijadwalkan kunjungan ulang seharusnya mengiku anjuran kunjungan ulang tersebut. Karena pada saat kunjungan ulang itu petugas akan menilai ulang kondisi pasien dan obat yang telah diberikan dan mengambil ndakan selanjutnya jika diperlukan. Apabila pasien dak melakukan kunjungan ulang, maka pasien harus dilakukan kunjungan rumah oleh petugas perkesmas.
DAFTAR SINGKATAN APBD : Anggaran Pendapatan dan Belan ja Daerah ARV : Antiretrovirals
ASI : Air Susu Ibu
BCG : Bacille Calmette-Guerin BKB : Bina Keluarga Balita
BOK : Bantuan Operasional Kesehatan BTA : Basil Tahan Asam
DBD : Demam Berdarah Dengue
DHP : Dihydroartemisinin dan Piperakuin DPT : Difteri Pertusis Tetanus
HB : Hepatitis B
HiB : Haemophil us in fluenza ty pe B HIV : Human Immunod efici ency Vi rus ICATT : IMCI Com puteri zed T raining T ool
ICD-10 : Internat ional C lassif ication o f Diseases-10 IMCI : Integrated Management of Child hood Illness IPV : Inactivated Poliomyelitis Vaccine
IU : International Uni t IV : Intra Vena
KN : Jaminan Kesehatan Nasional GB : Kelenjar Getah Bening
IE : Konseling, Inf ormasi dan Edukasi B : Laporan Bulanan
iLA : Lingkar Lengan Atas
MDGs : Millenium Development Goals
MTBS : Manajemen Terpadu Balita Sakit
NGT : Nasogastric Tube
OAT : Obat Anti Tuberkolosis
OJT : On the Job Training
PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini
RDT : Rapid Diagnostic Test
RHZ : R : Rifampicin H: Isoniazid Z: Pyrazinamide
SD : Standar Deviasi
SDM : Sumber Daya Manusia
SMZ : Sulfamethoxazole
SP2TP : Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
TB : Tubercolosis
TMP : Trimethorphan
UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat