• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTANYAAN-PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN

Dalam dokumen Pedoman Peningkatan Penerapan Mtbs (Halaman 50-56)

1. Mengapa pelayanan di poli MTBS memerlukan waktu yang lama ? Jawaban :

Karena anak akan diperiksa dengan menggunakan prosedur pemeriksaan yang lengkap dan terstandar agar dapat mendeteksi tanda dan gejala yang mengarah kepada penyakit-penyakit berbahaya pada anak seper pneumonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi serta pemantauan tumbuh kembangnya, sehingga pengobatannya pun akan lebih sesuai dengan ketentuan. Tentu saja proses tersebut memakan waktu yang sedikit lebih lama, namun orangtua akan merasa lebih nyaman dan puas karena anaknya diperiksa secara menyeluruh.

2. Mengapa saat berobat batuk, petugas hanya menganjurkan pemberian jeruk nipis dan kecap/madu ?

Jawaban :

Batuk pada anak itu merupakan gejala dari suatu penyakit, sehingga untuk penatalaksanaanya dilakukan secara bertahap dengan pemberian pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman sampai dengan penggunaan obat-obatan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan. Salah satu pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman adalah pemberian kecap manis atau madu yang dicampur dengan air jeruk nipis (madu dak dianjurkan untuk anak umur kurang dari 1 tahun).

3. Mengapa Larutan Gula Garam (LGG) dak lagi diberikan? Jawaban :

Larutan Gula Garam (LGG) dak lagi dianjurkan karena dikhawarkan akan terjadi kesalahan dalam pembuatannya, maka dianjurkan agar anak memperoleh tambahan cairan lain seper oralit, cairan makanan (kuah sayur dan air tajin) atau air matang sebanyak anak mau. Jika anak masih menyusu, maka berikan ASI lebih sering dan lebih lama seap kali pemberian.

4. Mengapa obat yang diberikan di poli MTBS kadang sama? Jawaban :

Seap obat yang diberikan di poli MTBS, telah melalui permbangan berdasarkan keluhan dan klasikasi penyakit yang terjadi pada balita. Beberapa obat mempunyai indikasi dan manfaat tertentu untuk berbagai kondisi misalkan parasetamol selain untuk penurun panas bisa juga diberikan untuk keluhan nyeri. Orang tua dapat

meminta penjelasan lebih lanjut dari petugas terkait dengan indikasi dan efek samping obat yang diberikan kepada balita yang sakit.

5. Apakah petugas MTBS (perawat atau bidan) boleh memberikan terapi MTBS? Jawaban :

Seap petugas poli MTBS telah diberikan pelahan yang terstandarisasi berdasarkan pedoman yang ada secara komprehensif sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI no.25 tahun 2014 tentang upaya kesehatan anak pasal 25 ayat 2 menyatakan bahwa MTBS sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dilaksanakan oleh perawat/bidan terlah. Oleh karena itu, perawat/bidan memiliki kewenangan untuk melaksanakan ndakan sesuai dengan standar pelayanan MTBS. Masyarakat dak perlu ragu dengan pelayanan di poli MTBS karena seap ndakan dan pengobatan di poli MTBS terjaga kualitasnya dengan supervisi secara berkala oleh dokter terlah.

6. Peran dokter dalam MTBS? Jawaban :

Dokter mempunyai peran yakni : 1) memfasilitasi pelaksanaan pelayanan MTBS di puskesmas dan jaringannya agar dapat berjalan dengan baik., 2) Supervisor pelaksanaan pelayanan MTBS di puskesmas dan jaringannya., 3) Menerima rujukan kasus hasil dari pelayanan MTBS yang dilakukan oleh petugas MTBS di puskesmas dan  jaringannya.

7. Apakah masih diperlukan pencatatan lain selain formulir pada saat pelayanan MTBS?

Jawaban :

Formulir pemeriksaan pelayanan MTBS merupakan suatu panduan bagi tenaga kesehatan yang melaksanakan pelayanan MTBS agar dapat melakukan langkah-langkah dalam melayani balita sakit yang berkunjung ke puskesmas dan jejaringnya sesuai standar MTBS. Oleh karena itu formulir ini masih diperlukan dan dapat bermanfaat juga sebagai rekam medis pasien.

8. Mengapa urutan pemeriksaan harus sistemas? Jawaban :

Proses pemeriksaan MTBS mengiku pola yang ditentukan dengan tujuan agar pemeriksaan bisa dilakukan secara efekf dan esien. Jangan sampai ada pengkajian tanda dan gejala yang terlewat, sehingga klasikasi penyakit berat pada anak dak terdeteksi lebih awal yang berdampak terhadap kesehatan anak. Selain itu, pada anak balita sering ditemukan lebih dari satu kasus dalam satu penyakit pada periode yang sama.

9. Apakah bisa langsung fokus ke penyakit yang dikeluhkan oleh pasien? Jawaban :

Bisa jika ditemukan tanda bahaya umum, maka pemeriksaan selanjutnya dilakukan secara cepat sambil diberikan ndakan pra rujukan. Sedangkan jika dak ditemukan tanda bahaya umum, maka tatalaksana dilakukan tetap secara bertahap dan sistemas dak bisa fokus langsung ke keluhan pasien untuk menilai pasien secara komprehensif.

10. Bagaimana jika pasien dak melakukan kunjungan ulang? Jawaban :

Kunjungan ulang sesuai jadwal merupakan bagian dari proses MTBS. Seap balita yang dijadwalkan kunjungan ulang seharusnya mengiku anjuran kunjungan ulang tersebut. Karena pada saat kunjungan ulang itu petugas akan menilai ulang kondisi pasien dan obat yang telah diberikan dan mengambil ndakan selanjutnya jika diperlukan. Apabila pasien dak melakukan kunjungan ulang, maka pasien harus dilakukan kunjungan rumah oleh petugas perkesmas.

DAFTAR SINGKATAN APBD : Anggaran Pendapatan dan Belan ja Daerah ARV : Antiretrovirals

ASI : Air Susu Ibu

BCG : Bacille Calmette-Guerin BKB : Bina Keluarga Balita

BOK : Bantuan Operasional Kesehatan BTA : Basil Tahan Asam

DBD : Demam Berdarah Dengue

DHP : Dihydroartemisinin dan Piperakuin DPT : Difteri Pertusis Tetanus

HB : Hepatitis B

HiB : Haemophil us in fluenza ty  pe B HIV : Human Immunod efici ency Vi rus ICATT : IMCI Com puteri zed T raining T ool 

ICD-10 : Internat ional  C lassif ication o f Diseases-10 IMCI : Integrated Management of  Child hood Illness IPV : Inactivated Poliomyelitis Vaccine

IU : International Uni t  IV : Intra Vena

KN : Jaminan Kesehatan Nasional GB : Kelenjar Getah Bening

IE : Konseling, Inf ormasi dan Edukasi B : Laporan Bulanan

iLA : Lingkar Lengan Atas

MDGs : Millenium Development Goals

MTBS : Manajemen Terpadu Balita Sakit

NGT : Nasogastric Tube

OAT : Obat Anti Tuberkolosis

OJT : On the Job Training

PAUD : Pendidikan Anak Usia Dini

RDT : Rapid Diagnostic Test 

RHZ : R : Rifampicin H: Isoniazid Z: Pyrazinamide

SD : Standar Deviasi

SDM : Sumber Daya Manusia

SMZ : Sulfamethoxazole

SP2TP : Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas

TB : Tubercolosis

TMP : Trimethorphan

UKM : Upaya Kesehatan Masyarakat

Dalam dokumen Pedoman Peningkatan Penerapan Mtbs (Halaman 50-56)

Dokumen terkait