PEDOMAN
PEDOMAN
PENINGKATAN
PENINGKATAN
PENERAP
PENERAP
AN
AN
MTBS
MTBS
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Tahun 2015
KAT
KATA
A PENG
PENGANTAR
ANTAR
Pada tahun 1990
Pada tahun 1990 kemakemaan balita an balita secara global 15,6 jsecara global 15,6 juta. Sebagian besar penyebab kemaanuta. Sebagian besar penyebab kemaan balita merupakan penyakit yang dapat dicegah, seper
balita merupakan penyakit yang dapat dicegah, seper pneumonia, diare,malaria, campakpneumonia, diare,malaria, campak atau kombinasi dari penyakit tersebut dan dilatarbelakangi oleh
atau kombinasi dari penyakit tersebut dan dilatarbelakangi oleh malnutrisi.malnutrisi.
Untuk mencegah penyebab utama kemaan balita, WHO dan UNICEF mengembangkan Untuk mencegah penyebab utama kemaan balita, WHO dan UNICEF mengembangkan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Manajeman Terpadu Balita Sakit merupakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Manajeman Terpadu Balita Sakit merupakan ket
keterpaduan tatalaksana balita erpaduan tatalaksana balita sakit yang sakit yang melipu upaya melipu upaya pengobatan,pelaypengobatan,pelayanan prevenfanan prevenf seper pemberian imunisasi, pemberian vitamin A, serta pelayanan promof antara lain seper pemberian imunisasi, pemberian vitamin A, serta pelayanan promof antara lain menilai dan memperbaiki
menilai dan memperbaiki cara pemberian ASI, konseling kepada ibu/pengasuh anak caracara pemberian ASI, konseling kepada ibu/pengasuh anak cara meraw
merawat dan mengoba anak at dan mengoba anak sakit di rumah, sakit di rumah, masalah pemberian makan dan sebagainya.masalah pemberian makan dan sebagainya. Dengan pendekatan MTBS pada tatalaksana balita sakit berkontribusi pada penurunan Dengan pendekatan MTBS pada tatalaksana balita sakit berkontribusi pada penurunan kemaan balita global dari 15,6 juta tahun 1990 menjadi 6,6 juta tahun 2012.
kemaan balita global dari 15,6 juta tahun 1990 menjadi 6,6 juta tahun 2012.
Indonesia telah mengadopsi MTBS sejak tahun 1997, setelah melalui proses adaptasi. Indonesia telah mengadopsi MTBS sejak tahun 1997, setelah melalui proses adaptasi. Di dalam UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 27 dikatakan bahwa tenaga Di dalam UU no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 27 dikatakan bahwa tenaga keseha
kesehatan berhak mendapatktan berhak mendapatkan imbalan dan perlindungan hukum dalam an imbalan dan perlindungan hukum dalam melaksanakmelaksanakanan tugas sesuai dengan profesinya. Manajemen Terpadu Balita Sakit termasuk pelayanan tugas sesuai dengan profesinya. Manajemen Terpadu Balita Sakit termasuk pelayanan standar yang masuk dalam Permenkes no. 25 tahun 2014 dan masuk dalam Standar standar yang masuk dalam Permenkes no. 25 tahun 2014 dan masuk dalam Standar Pelayanan Minimal Kabupaten/Kota. Dengan demikian seap balita sakit dan bayi muda Pelayanan Minimal Kabupaten/Kota. Dengan demikian seap balita sakit dan bayi muda mendapatkan pelayanan sesuai standar MTBS. Dengan menerapkan MTBS diharapkan mendapatkan pelayanan sesuai standar MTBS. Dengan menerapkan MTBS diharapkan terjadi peningkatan penemuan kasus, semakin banyak balita yang dapat dicegah dari terjadi peningkatan penemuan kasus, semakin banyak balita yang dapat dicegah dari kema
kemaan, terjadi penurunan morbiditas serta an, terjadi penurunan morbiditas serta intervensi yang dipilih sesuai dengan fokusintervensi yang dipilih sesuai dengan fokus permasalahan. Hingga saat ini telah dilakukan ga k
permasalahan. Hingga saat ini telah dilakukan ga kali revisi MTBS (2003, 2008 ali revisi MTBS (2003, 2008 dan 2014-dan 2014-2015) yang
2015) yang bertujuan mengakomodir kebutuhan prograbertujuan mengakomodir kebutuhan program, rekomendasi WHO, dan sesuaim, rekomendasi WHO, dan sesuai dengan kema
dengan kemajuan ilmu pengetahuan terkini. Pada MTBS revisi 2015 juan ilmu pengetahuan terkini. Pada MTBS revisi 2015 ini terjadi perubahanini terjadi perubahan pada beberapa tatalaksana, dimasukkannya komponen HIV, penambahan KIE tentang pada beberapa tatalaksana, dimasukkannya komponen HIV, penambahan KIE tentang mencegah cidera pada anak dan penekanan pada peran Kepala dan Dokter Puskesmas mencegah cidera pada anak dan penekanan pada peran Kepala dan Dokter Puskesmas dalam memfasilitasi peningkatan penerapan MTBS di
dalam memfasilitasi peningkatan penerapan MTBS di PuskesmaPuskesmas dan s dan jaringannya.jaringannya. Ucapan terima kasih pada UN
Ucapan terima kasih pada UNICEF yang telah memfasilitasi rangkaian proses revisi MTBS,ICEF yang telah memfasilitasi rangkaian proses revisi MTBS, ucapan terima kasih juga ditujukan pada semua pihak yang telah berkontribusi pada ucapan terima kasih juga ditujukan pada semua pihak yang telah berkontribusi pada proses revisi MTBS,
proses revisi MTBS, masukan yang bersifat membangun sangat kami masukan yang bersifat membangun sangat kami harapkan.harapkan.
Direktur Bina Kesehatan Anak Direktur Bina Kesehatan Anak
dr
DAFT
DAFTAR I
AR ISI
SI
KA
KATTA A PENGPENGANTANTAR AR ... ii DAFT
DAFTAR AR ISI ISI ... iiii BAB
BAB I I PENDAHULPENDAHULUAN UAN ... 11
A.
A. LALATTAR AR BELAKANG BELAKANG ... 11
B.
B. TUJTUJUAN UAN ... 33 C.
C. SASSASARAN ARAN PEDOPEDOMAN MAN ... 33 D.
D. DASDASAR AR HUKHUKUM UM ... 33 BAB
BAB II II PERPERSIASIAPPAN AN OPTOPTIMAIMALISLISASI ASI PENPENERAERAPPAN MAN MTBS TBS DI PDI PUSKUSKESESMAS MAS ... 55 A.
A. PERPERSIAPSIAPAN AN SDM SDM ... 55 1.
1. DiseminasDiseminasi i atau atau lnformasi lnformasi berkala berkala kepada kepada seluruh seluruh petugaspetugas kesehatan
kesehatan di di Puskesmas Puskesmas dan dan jaringannya jaringannya terkait terkait dengan dengan MTBSMTBS rev
revisi isi 2015 2015 ... 66 2.
2. RefRefreshreshing ing ... 66 3.
3. On On the the job job trtrainainining g (K(Kalaalakakaryarya)..)... 77 B.
B. PERSIAPAN PERSIAPAN OPTIMALISASI FOPTIMALISASI FAKTOR AKTOR PENDUKUNG PELAPENDUKUNG PELAYYANAN ANAN MTBS...MTBS... 99
1.
1. Logisk Logisk ... 99
2.
2. BiayBiaya a OperOperasioasional nal ... 1515 3.
3. RuanRuangan gan ... 1717 C.
C. PENYESUAIAN PENYESUAIAN ALUR ALUR PELAYPELAYANAN ANAN ... ... 1717 BAB
BAB III III PENERPENERAPAPAN AN MANAJMANAJEMEN EMEN TERPTERPADU ADU BALIBALITTA SA SAKIT AKIT ... 2121 1.
1. PenPenguaguatan tan SistSistem em PePelaylayanan anan KesKesehatehatan an Anak Anak ... 2121 2.
2. Peningkatan Peningkatan Pengetahuan Pengetahuan dan dan Keterampilan Keterampilan serta serta KepatuhanKepatuhan T
Terhaderhadap ap StaStandar ndar ... 2222 3.
3. Peningkatan Peningkatan Pengetahuan Pengetahuan dan dan Keterampilan Keterampilan Orangtua Orangtua dandan Pen
Pengasugasuh h ... 2222 B
BAAB B IIV V PPEENNCCAATTAATTAAN N DDAAN N PPEELLAAPPOORRAAN N MMTTBBSS 2244 A.
A. PENCAPENCATTAATTAN AN MTBS MTBS ... 2424 B.
B. PELAPELAPORAPORAN N HASIL HASIL PELAPELAYYANAN ANAN ... 2525 BAB
BAB V V PEMAPEMANTNTAUAUAN AN DAN DAN PEMBPEMBINAAINAAN PN PENERAENERAPPAN AN MTBS MTBS ... 3434 K
KAASSUUSS MMTTBBSS 3399
K
KAASSUUSS MMTTBBMM 4411
P
PEERRTTAANNYYAAAANN--PPEERRTTAANNYYAAAAN N YYAANNG G SSEERRIINNG G DDIIAAJJUUKKAANN 4433 D
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
A. Latar Latar BelakangBelakang
Pada tahun 2003 WHO menyatakan bahwa MTBS merupakan pendekatan terbaik dalam Pada tahun 2003 WHO menyatakan bahwa MTBS merupakan pendekatan terbaik dalam menurunkan angka kemaan balita. Hal ini terbuk terjadinya penurunan kemaan menurunkan angka kemaan balita. Hal ini terbuk terjadinya penurunan kemaan balita yang sangat bermakna dari negara-negara yang menerapkan MTBS. Pada tahun balita yang sangat bermakna dari negara-negara yang menerapkan MTBS. Pada tahun 1990 kemaan balita secara global 15,6 juta dan menurun menjadi 6,6 juta tahun 2012, 1990 kemaan balita secara global 15,6 juta dan menurun menjadi 6,6 juta tahun 2012, walaupun penurunan tersebut dak
walaupun penurunan tersebut dak semata-masemata-mata karena MTBS, namun ta karena MTBS, namun MTBS merupakanMTBS merupakan pendekata
pendekatan pelayanan balita n pelayanan balita sakit yang komprehensif dan terintegrsakit yang komprehensif dan terintegrasi terhadap penyebabasi terhadap penyebab utama kemaan yang banyak dijumpai yakni pneumonia, diare, campak, malaria, atau utama kemaan yang banyak dijumpai yakni pneumonia, diare, campak, malaria, atau kombinasi penya
kombinasi penyakit tersebut dan sering dilatar belakangi oleh kit tersebut dan sering dilatar belakangi oleh gizi kurang atau gizi buruk.gizi kurang atau gizi buruk. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 penyebab utama kemaan balita Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007 penyebab utama kemaan balita di Indonesia adalah masalah neonatus (asksia, BBLR dan sepsis) dan masalah infeksi di Indonesia adalah masalah neonatus (asksia, BBLR dan sepsis) dan masalah infeksi (pneumonia dan diare serta malaria di daerah endemis). Sebagian besar penyebab (pneumonia dan diare serta malaria di daerah endemis). Sebagian besar penyebab kemaan ini dapat dicegah di pelayanan kesehatan ngkat primer yang memberi kemaan ini dapat dicegah di pelayanan kesehatan ngkat primer yang memberi pelayanan sesuai dengan standar MTBS.
pelayanan sesuai dengan standar MTBS.
Penerapan MTBS menekankan pada ga komponen yakni 1) memperkuat sistem Penerapan MTBS menekankan pada ga komponen yakni 1) memperkuat sistem pelayanan keseha
pelayanan kesehatan agar penanganan balita tan agar penanganan balita sakit lebih sakit lebih efekefekff, 2) , 2) meningkatkmeningkatkan kualitasan kualitas pelayanan balita sakit serta 3) meningkatkan peran keluarga dan masyarakat dalam hal pelayanan balita sakit serta 3) meningkatkan peran keluarga dan masyarakat dalam hal perawa
perawatan balita sakit, deteksi dini serta tan balita sakit, deteksi dini serta pola pencarian pertolongan segerpola pencarian pertolongan segera ke tenagaa ke tenaga kesehatan. Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan salah satu standar pelayanan kesehatan. Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan salah satu standar pelayanan kesehatan balita sakit da
kesehatan balita sakit dan bayi muda di pelayanan kesehatan primen bayi muda di pelayanan kesehatan primerr. Penerapan pelayanan. Penerapan pelayanan kesehatan anak sesuai standar MTBS sejalan dengan Undang-undang no. 36 tahun 2009 kesehatan anak sesuai standar MTBS sejalan dengan Undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Permenkes no. 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak tentang Kesehatan dan Permenkes no. 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak serta Standar Pelayanan Mini
serta Standar Pelayanan Minimal Kabupaten/Kota.mal Kabupaten/Kota.
Indonesia mengadaptasi MTBS tahun 1997 disosialisasikan, dilahkan bagi hampir Indonesia mengadaptasi MTBS tahun 1997 disosialisasikan, dilahkan bagi hampir seluruh Puskesmas di Indonesia. Agar isi dari MTBS selalu ter update, maka dilakukan seluruh Puskesmas di Indonesia. Agar isi dari MTBS selalu ter update, maka dilakukan revisi berkala untuk mengakomodir perubahan kebijakan program, perkembangan ilmu revisi berkala untuk mengakomodir perubahan kebijakan program, perkembangan ilmu pengetahuan terkini serta mengadaptasi rekomendasi WHO. Pada revisi MTBS tahun pengetahuan terkini serta mengadaptasi rekomendasi WHO. Pada revisi MTBS tahun 2015, untuk pertama kalinya memasukan HIV pada MTBS dan KIE Pencegahan Cidera 2015, untuk pertama kalinya memasukan HIV pada MTBS dan KIE Pencegahan Cidera pada anak. Hal ini
pada anak. Hal ini agar semakin dini balita dengan HIV ditemukan dan diberi agar semakin dini balita dengan HIV ditemukan dan diberi pengobatan,pengobatan, serta seap orang tua/pengasuh yang
serta seap orang tua/pengasuh yang membawa balita ke tenaga kesehatan mendapatkmembawa balita ke tenaga kesehatan mendapatkanan KIE pencegahan cidera pada balita untuk semakin berha-ha menjaga balitanya agar KIE pencegahan cidera pada balita untuk semakin berha-ha menjaga balitanya agar terhindar dari cidera yang bi
Hasil beberapa survei penerapan MTBS menunjukan salah satu kendala utama penerapan MTBS adalah lemahnya manajemen penerapan MTBS di Puskesmas dan kurangnya supervisi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Harus dipahami bahwa penerapan MTBS seyogyanya diawali dari komitmen Kepala Puskesmas untuk memberikan pelayanan sesuai standar dan komitmen dokter Puskesmas sebagai movator perawat dan bidan disamping fungsinya sebagai supervisor dan menerima rujukan. Keberhasilan penerapan MTBS di Puskesmas dak terlepas dari kesinambungan upaya Kepala Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam mendukung kesinambungan ketersediaan SOM (jenis, jumlah, kompetensi & kepatuhan terhadap standar), sarana, prasarana, alat kesehatan, obat dan vaksin serta bersama profesi melaksanakan supervisi fasilitaf secara berkala untuk mengevaluasi kualitas pelayanan MTBS.
Pada MTBS revisi 2015 dak hanya melakukan penyempurnaan pada buku bagan MTBS dalam menentukan tatalaksana balita sakit dan tatalaksana bayi muda namun juga diiku dengan perubahan pada register rawat jalan balita sakit umur 2 buIan sampai 5 tahun dan register rawat jalan bayi muda umur kurang dari 2 bulan yang mengakomodir kebutuhan pencatatan pelaporan tatalaksana sesuai klasikasi MTBS.
Perubahan register rawat jalan ini diharapkan dapat 1) memonitor balita sakit dan bayi muda yang dilayani sesuai dengan langkah MTBS, 2) mengurangi beban tenaga Puskesmas dalam pencatatan yang berulang, 3) mengakomodir kebutuhan program akan laporan serta 4) tetap mengakomodir diagnosis penyakit lain diluar jenis penyakit yang terdapat di MTBS.
Pedoman ini sangat menekankan peran semua pihak dalam mengopmalkan penerapan MTBS, yang bertujuan mempercepat penurunan kemaan dan meningkatkan kualitas hidup anak. Penerapan MTBS akan melindungi perawat, bidan petugas lain terkait bilamana menjumpai permasalahan setelah memberikan pelayanan.
Paket MTBS yang terdiri dari buku bagan MTBS, formulir tatalaksana balita sakit umur 2 buIan - 5 tahun, formulir tatalaksana bayi muda umur kurang 2 bulan, register rawat jalan balita sakit, register rawat jalan bayi muda, dan pedoman peningkatan penerapan
MTBS telah diujicoba secara bertahap di 5 kabupaten. Ujicoba diawali masing-masing 4 Puskesmas di Kabupaten Aceh Jaya (Aceh) dan Kabupaten Brebes (Jateng), dari hasilnya dilakukan perbaikan lalu diujicobakan masing-masing 2 Puskesmas di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong (Papua Barat) dan 4 Puskesmas di Kabupaten Kupang (NTT), dari hasilnya dilakukan perbaikan. Perbaikan yang dilakukan menekankan pada agar baik fomulir, buku bagan dan pedoman peningkatan penerapan MTBS mudah dipahami.
Paket MTBS ini juga dilengkapi dengan DVD yang berisi antara lain; pelayanan balita sakit dengan pendekatan MTBS, peningkatan penerapan MTBS di Puskesmas serta materi KIE setempat atau Buku KIA yang menunjang penerapan MTBS.
B. Tujuan
Tujuan Umum:
Tersedianya acuan untuk mengopmalkan penyelenggaraan MTBS di Puskesmas dalam rangka menurunkan kemaan serta meningkatkan kualitas hidup bayi dan balita.
Tujuan Khusus:
1. Terwujudnya kesiapan Puskesmas dalam mengopmalkan penerapan MTBS 2. Terlaksananya penerapan MTBS oleh Puskesmas dan jaringannya
3. Terlaksananya sistem pencatatan dan pelaporan pelayanan MTBS
4. Terlaksananya monitoring evaluasi dan supervisifasilitaf berkala penerapan MTBS 5. Adanya kesinambungan komitmen dukungan pemerintah Kabupaten/Kota dalam
penyelenggaraan MTBS.
C. Sasaran Pedoman
Sasaran langsung: 1. Kepala Puskesmas
2. Dokter sebagai supervisor dan movator penerapan MTBS
3. Pemberi layanan kesehatan balita (bidan, perawat, pengelola gizi, penanggung jawab obat, petugas imunisasi)
4. Penanggungjawab dan Pengelola program terkait kesehatan anak di kabupaten/kota Sasaran dak langsung:
1. Penanggungjawab program terkait MTBS di Kementerian Kesehatan
2. Penanggung jawab program terkait kesehatan anak di Dinas Kesehatan Provinsi 3. Penanggung jawab program terkait kesehatan anak di Dinas Kesehatan Kabupaten/
Kota
4. Asosiasi Profesi: IBI,PPNI,Persagi,IDl, IDAI dingkat kabupaten/kota, provinsidan pusat
D. Dasar hukum
1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 45-46 2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 131,135
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, pasal 12, 36 4. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, pasal 11,62 5. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, pasal 40
6. Peraturan Pemerintah RI Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang Undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
7. Peraturan Pemerintah RI Nomor 46 Tahun 2014 tentang Sistem lnformasi Kesehatan 8. Peraturan Presiden RI Nomor 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 269/MENKES/PER/111/2008 tentang Rekam Medis, pasal 3-7
10. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang lzin dan Penyelenggaraan Prakk Bidan, pasal 9, 11
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 17 tahun 2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/Menkes/148/1/2010 Tentang lzin dan Penyelenggaraan Prakk Perawat, pasal 8-10
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas
BAB II
PERSIAPAN OPTIMALISASI PENERAPAN MTBS DI PUSKESMAS
Pada dasarnya persiapan opmalisasi penerapan MTBS harus dilakukan pada Puskesmas yang telah menerapkan MTBS dengan baik, pada Puskesmas yang sudah menerapkan namun belum sesuai harapan, atau Puskesmas baru dibangun yang belum menerapkan MTBS. Opmalisasi persiapan penerapan dilakukan secara berkala agar terjadi kesinambungan opmalisasi peningkatan penerapan MTBS, adapun bagi Puskesmas baru yang belum menerapkan MTBS perlu diketahui langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Terkait dengan kegiatan ini kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas wajib memfasilitasi, memovasi dan memaskan kesinambungan penerapan MTBS yang sesuai standar di Puskesmas dan jaringannya.
Kepala Puskesmas dan dokter bertugas :
1. Memfasilitasi kesiapan dari SDM, faktor pendukung penerapan MTBS, alur pelayanan sesuai dengan penerapan MTBS dan biaya operasionalnya. Memaskan bahwa perawat, bidan dan tenaga kesehatan lain terkait pelayanan kesehatan balita mampu dan patuh pada standar MTBS.
2. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan SDM terkait MTBS melalui refreshing berkala bagi yang telah melaksanakan dan bagi yang belum terlah atau terpapar MTBS melalui on the job training atau in house training.
3. Melakukan pembahasan pelayanan kesehatan dengan pendekatan MTBS pada saat lokakarya mini.
4. Meningkatkan upaya promof di dalam dan di luar gedung terkait dengan materi KIE yang mendukung penerapan MTBS.
5. Memaskan adanya peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dalam hal perawatan bayi muda, perawatan balita sakit di rumah, deteksi dini serta pola pencarian pertolongan segera kepada tenaga kesehatan.
Adapun langkah-langkah yang harus dilaksanakan Kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas adalah sebagai berikut:
A. PERSIAPAN SDM
Pada penerapan MTBS Kepala Puskesmas sebagai penanggung jawab, dokter sebagai supervisor, movator, dan penerima rujukan. Bidan, perawat, penanggung jawab program gizi, petugas imunisasi, dan petugas obat menjalankan fungsinya sesuai dengan kompetensi, tugas pokok dan fungsinya. Tidak kalah penngnya peran petugas pendaaran, dan petugas sanitarian Puskesmas bilamana dijumpai kasus terkait dengan hygiene sanitasi.
Kepala Puskesmas menghitung kebutuhan jumlah dan jenis ketenagaan yang menerapkan MTBS dan menginventaris SDM yang telah memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam melaksanakan MTBS. Tenaga kesehatan yang trampil dan patuh menerapkan MTBS difasilitasi sebagai pendamping pada saat on the job training atau in house training. Terkait dengan SDM ini Kepala Puskesmas melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Diseminasi atau lnformasi berkala kepada seluruh petugas kesehatan di Puskesmas dan jaringannya terkait dengan MTBS revisi 2015.
Pada kesempatan ini Kepala Puskesmas menyampaikan dan mengingatkan penngnya penerapan MTBS dikaitkan dengan regulasi dan tujuannya serta isu-isu terkini yang berhubungan dengan MTBS. Ditekankan pula bahwa keberhasilan penerapan MTBS perlu dukungan semua pihak yang terkait dengan pelayanan balita sakit dan bayi muda. Hakekat dari MTBS haruslah dipahami oleh semua SDM kesehatan yang ada di Puskesmas dan saling mendukung sesuai dengan tugas pokok fungsinya agar pelayanan MTBS dapat berjalan secara opmal.
Pada akhir pertemuan diseminasi informasi, Kepala Puskesmas mengingatkan kembali atau menyampaikan secara tegas pembagian tugas yang harus dilaksanakan oleh SDM kesehatan di Puskesmas dan jaringannya terkait dengan penerapan MTBS.
Apabila Puskesmas tersebut belum menerapkan MTBS, perlu dilakukan kegiatan diseminasi informasi MTBS bagi semua SDM kesehatan di Puskesmas dan jaringannya yang dindaklanju dengan peningkatan kapasitas melalui metode on the job training. Bagi petugas lain pendukung pelaksanaan MTBS dilakukan bimbingan hingga yang bersangkutan dapat melaksanakan tugasnya dengan benar. Untuk menjaga kualitas pelayanan MTBS kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas memfasilitasi secara berkala pelaksanaan dan kualitas pelayanan balita sakit dan bayi muda.
2. Refreshing
Kegiatan refreshing MTBS dilakukan secara berkala (minimal setahun sekali bagi perawat dan bidan). Tujuan refreshing menjaga kualitas SDM dalam memberi pelayanan MTBS. Hal ini penng agar Kepala Puskesmas dan dokter bisa memonitor kemampuan SDM kesehatan dalam memberikan pelayanan MTBS. Refreshing ini adalah salah satu strategi untuk menjaga kemampuan dan kepatuhan petugas dalam menerapkan MTBS.
Metode refreshing disini dilaksanakan dengan cara; 1) penyampain perubahan yang terjadi (bila ada),
2) penyampaian secara singkat langkah-langkah penerapan MTBS
3) Kepala Puskesmas/dokter Puskesmas menyampaikan studi kasus dan meminta beberapa SDM kesehatan melaksanakan simulasi penerapan MTBS. Setelah selesai simulasi diminta juga komentar serta masukan dari SDM kesehatan lainnya.
Diakhir sesi baik Kepala Puskesmas/dokter Puskesmas memberikan masukan terkait dengan pelaksanaan simulasi kasus dan langkah-langkah yang harus dilakukan bersama agar penerapan MTBS lebih baik lagi.
3. On the job training (Kalakarya)
On the job training atau in house training pada MTBS adalah salah satu metode meningkatan kapasitas perawat/bidan dalam menerapkan pelayanan balita sakit atau pelayanan bayi muda dengan pendekatan MTBS yang dilaksanakan dengan metode pendampingan. Metode on the job training ini lebih efekf karena peserta dipacu untuk lebih akf & memiliki kesempatan prakk lebih banyak.
Kegiatan on the job training bisa dilaksanakan di Puskesmas yang sama dengan pendamping atau peserta on the job training ke Puskesmas lain bilamana dianggap Puskesmas lain ini lebih memenuhi syarat dari segi jumlah dan jenis kasus, jumlah dan kompetesi petugas yang mampu melaksanakan pendampingan pada saat on the job training.
Beda on the job training dengan in house training adalah pada in house training pendamping datang dari luar Puskesmas, sedangkan on the job training peserta dan pendamping berasal dari Puskesmas yang sama atau peserta on the job training belajar ke Puskesmas lainnya.
Agar pelaksanaan on the job training maupun in house training MTBS lebih efekf maka:
1. satu orang pendamping mendampingi maksimal 2-3 orang peserta,
2. memiliki fasilitas yang memadai sebagai tempat untuk pembelajaraan baik pada saat membahas teori, simulasi kasus maupun prakk langsung,
3. memiliki jumlah pasien balita sakit dan kunjungan neonatal yang cukup untuk melah skill peserta,
4. menggunakan alat bantu untuk mempercepat atau memperjelas pada saat proses pembelajaran seper ICATT, video MTBS, foto serta media KIE yang ada di Puskesmas yang dapat digunakan termasuk penggunaan Buku KIA.
5. pendamping bersedia dihubungi oleh peserta terkait dengan peningkatan pelayanan balita dan bayi muda sakit dengan pendekatan MTBS
6. proses on the training dihenkan sampai pendamping, Kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas memaskan peserta mampu melaksanakan tatalaksana MTBS 7. pendamping selalu memovasi peserta on the job training baik pada saat
pendampingan maupun dalam menjalankan pekerjaannya.
8. dilakukan supervisi internal oleh kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas terkait dengan kepatuhan petugas terhadap standar MTBS.
Langkah langkah on the job training:
1. Seminggu sebelum on the job training dimulai peserta on the job training diminta untuk mempelajari lebih dahulu konten dari MTBS, buku bagan MTBS, formulir tatalaksana balita sakit umur 2 buIan - 5 tahun, formulir tatalaksana bayi muda umur kurang 2 bulan, register rawat jalan balita sakit, register rawat jalan bayi muda, dan pedoman peningkatan penerapan MTBS. Hal ini untuk memperlancar pada saat diskusi.
2. Pada saat on the job training/in house training, pendamping:
a. menjelaskan secara singkat dan memaskan pemahaman peserta apa itu MTBS dan kenapa balita sakit harus dilakukan MTBS serta manfaat MTBS baik bagi pasien, maupun tenaga kesehatan
b. menjelaskan secara rinci memaskan pemahaman dari peserta alur pelayanan MTBS dimulai dari bagian pendaaran, langkah-langkah pelayanan balita sakit atau pelayanan kesehatan bayi muda yang mengacu pada formulir tatalaksana balita sakit dan formulir tatalaksana bayi muda, menggunakan media KIE pada saat pelayanan, mengisi register rawat jalan balita sakit atau register rawat jalan bayi muda, melaksanakan konversi dari klasikasi ke ICD 10 dan bagaimana mengkaitkan penerapan MTBS dengan sistem pencatatan dan pelaporan yang ada dan program lain di Puskesmas.
c. Jika hal tersebut di atas peserta dianggap telah paham maka secara bertahap pendamping mengajarkan bagaimana menentukan klasikasi pada anak 2 bulan – 5 tahun, pengobatan serta konseling yang dilakukan. Dilanjutkan dengan penggunaan formulir tatalaksana balita sakit dan register rawat jalan balita sakit.
Jika peserta dianggap telah benar benar paham, maka pendamping memberi beberapa kasus balita sakit dan meminta peserta mensimulasikan pelaksanaan MTBS (contoh kasus terlampir).
Jika dari simulasi kasus peserta dianggap telah cukup trampil, maka pendamping meminta prakk langsung pada pasien. Diawali dengan pendamping melaksanakan MTBS pada balita sakit dan meminta peserta mengama bagaimana cara pendamping melaksakan pelayanan. Kemudian secara bergiliran meminta peserta memberi pelayanan balita sakit dengan pendekatan MTBS.
Pada saat ini pendamping dan peserta lah lain hanya mengama apa yang dilaksanakan oleh peserta yang sedang memberi pelayanan MTBS. Pendamping memberi bantuan jika memang benar benar dibutuhkan dan diskusi dilaksanakan setelah pelayanan MTBS selesai.
d. Hal sama dilakukan untuk tatalaksana bayi muda umur kurang 2 bulan. Mengingat untuk prakk langsung bayi muda umur kurang 2 bulan kasusnya dak banyak, maka dapat dilaksankan dengan melaksanakan kunjungan neonatal.
Setelah pendamping, Kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas menilai bahwa peserta on the job training mampu memberi pelayanan dengan pendekatan MTBS, maka on the job training dihenkan. Namun supervisi fasilitaf terus dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan MTBS dan kepatuhan petugas akan standar pelayanan.
B. PERSIAPAN OPTIMALISASI FAKTOR PENDUKUNG PELAYANAN MTBS
Kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas harus memaskan bahwa faktor pendukung pelayanan MTBS selalu tersedia, siap pakai dan aman digunakan, sehingga perlu dilakukan supervisi internal secara berkala. Supervisi internal initerintegrasi dengan memantau kualitas pelayanan MTBS yang diberikan oleh perawat, bidan,dan tenaga kesehatan lain terkait. Kesiapan logisk dan ruangan juga dibahas pada saat lokakarya mini.
1. Logisk
Logisk menjadi bagian penng yang dak terpisahkan untuk pelayanan MTBS. Harus direncanakan secara benar, dijaga kesinambungan keberadaannya dan dipaskan siap pakai. Kondisi ini hanya akan tercapai bilamana didukung dengan mekanime pencatatan dan pelaporan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Beberapa jenis logisk yang harus disiapkan, antara lain: obat dan vaksin, alat kesehatan, buku bagan MTBS, formulir tatalaksana balita sakit, formulir tatalaksana bayi muda, buku register rawat jalan balita sakit, buku register rawat jalan bayi muda, formulir rujukan, buku KIA dan beberapa media KIE lainnya yang mendukung penerapan MTBS baik cetak maupun audiovisual.
a. Obat
Secara umum, obat yang digunakan pada MTBS telah termasuk dalam Formularium Nasional (Fornas) yang digunakan di Puskesmas. Apabila penanganan balita sakit dengan MTBS ini pasien membutuhkan obat yang belum tercantum di Fornas maka Puskesmas dapat memberikan obat tersebut dengan ketentuan bahwa obat yang dibutuhkan sesuai dengan indikasi medis dan sesuai denganstandar pelayanan kedokteran.
Tabel. Obat yang dibutuhkan dalam penanganan balita sakit No Obat yangdigunakan Di MTBS Obat Formularlum Nasional untuk Fasilitas Kesehatan Tk 1 DOEN 2013 1 Amoksisilin • Tablet 250 mg • Sirup Forte 250 mg/5ml Amoksisilin • Tablet 500 mg • Sirup Forte 250 mg/5ml Amoksisilin • Tablet 500 mg • Sir kering 125 mg/5ml 2 Kotrimoksazol • Tablet dewasa (80 mg Trimetropim+ 400 mg Sulfametoksazol ) • Tablet anak (20 mg Trimetropim + 100 mg Sulfametoksazol) • Suspensi anak (40 mg Trimetropim + 200 mg Sulfametoksazol) Kotrimoksazol • Tablet dewasa (80 mg Trimetropim + 400 mg Sulfametoksazol) • Suspensi anak (40 mg Trimetropim + 200 mg Sulfametoksazol) Kotrimoksazol • Tablet dewasa (80 mg Trimetropim + 400 mg Sulfametok sazol) • Suspensi anak (40 mg Trimetropim + 200 mg Sulfametok-sazol) 3 Asam Nalidiksat Tablet 500 mg 4 Metronidazol Tablet 500 mg Metronidazol • Tablet 250 mg • Tablet 500 mg • Sirup 125 mg/5 ml Metronidazol • Tablet 250 mg • Tablet 500 mg • Sirup 125 mg/5 ml 5 Tetrasiklin Kapsul 250 mg Tetrasiklin • Kapsul 250 mg • Kapsul 500 mg Tetrasiklin • Kapsul 250 mg • Kapsul 500 mg 6 Dihydroartemisinin dan Piperakuin (DHP) Tablet dihydroartemisinin 40 mg dan piperakuin 320 mg 7
Primakuin
Tablet 15 mgPrimakuin
Tablet 15 mgPrimakuin
Tablet 15 mg8 Artesunate + Amodiakuin Tablet Artesunate 50 mg + 200 mg Amodiakuin Artesunate + Amo-diakuin Tablet Artesunate 50 mg + 200 mg Amo-diakuin Artesunate + Amo-diakuin Tablet Artesunate 50 mg + 200 mg Amo-diakuin 9 Kina
Tablet kina sulfat 300 mg
atau
Tablet kina bisulfat 300mg
10 Parasetamol • Tablet 500 mg • Tablet 100 mg • Sirup 120 mg/5ml Parasetamol • Tablet 500 mg • Sirup 120 mg/5ml • Tetes 60 mg/0,6 ml Parasetamol • Tablet 500 mg • Sirup 120 mg/5ml • Tetes 60 mg/0,6 ml 11 Vitamin A • Kapsul Lunak 100.000 IU • Kapsul Lunak 200.000 IU Vitamin A • Kapsul Lunak 100.000 IU • Kapsul Lunak 200.000 IU 12 Albendazol Tablet 400 mg Albendazol • Tablet 400 mg • Susp 200 mg/5ml Albendazol Tablet 400 mg 13 Pirantel Pamoat Tablet 125 mg Pirantel Pamoat • Tablet 125 mg • Tablet 250 mg • Tablet 500 mg • Suspensi 125 mg/5ml Pirantel Pamoat • Tablet 250 mg • Suspensi 125 mg/5ml 14 Tablet Besi/Folat • Besi elemental 60 mg + 0,25 mg asam folat • Sirup Besi seap 5 ml
mengandung 30 mg besi elemental Tablet Besi/Folat • Besi elemental 200 + 0,25 mg asam folat
• Sirup besi seap 5 ml mengand-ung 15 mg sirup elemental Ferro Sulfat • Tab salut 300 mg • Sirup 15 mg/5ml
15
H2O2
3%
H2O2
3%
H2O2
3%
16
Tetes Telinga Derivat
Quinolon
17 Salep mata kloramfenikol 1% Salep mata kloramfenikol 1% Salep mata kloramfenikol 1%18 Tetes mata kloramfenikol 1% Tetes mata kloramfenikol 1% Tetes mata kloramfenikol 1% 19 Ansepk oral Genan Violet 20 Ampisillin Serbuk injeksi 1000 mg/ vial im Ampisillin Serbuk injeksi 1000 mg/vial im Ampisillin
• Serbuk injeksi im/iv 250 mg/vial • Serbuk injeksi 1000 mg/vial im 21 Gentamisin 40 mg/ml im Gentamisin Injeksi 10 mg/ml Injeksi 40 mg/ml 22 Diazepam 5 mg/ml iv Diazepam 5 mg/ml iv Diazepam 5 mg/ml iv 23 Artemether 80 mg/ml im Artemether 80 mg/ml im 24 Salbutamol • Tablet 2 mg • Tablet 4 mg • Vial nebu 2,5 mg • Aerosol 100 mcg Salbutamol • Tablet 2 mg • Tablet 4 mg • Cairan inhalasi 0,1% Salbutamol • Tablet 2 mg • Tablet 4 mg • Cairan inhalasi 0,1% • Ih/aerosol 100mcg/ dosis • lar respirator untuk nebulizer 2,5 mg/2,5 ml NaCl 25 Epinefrin
Inj 0,1% sub kutan
Epinefrin
Inj 0,1% sub kutan
Epinefrin
Inj 0,1%
26 Oralit
Serbuk untuk 200 ml air
Oralit
Serbuk untuk 200 ml air
Oralit
Serbuk untuk 200 ml air
27 Zinc Tablet 20 mg Zinc Sirup 10 mg/ml Zinc Tablet dispersible 20 mg 28 Oksigen
Ih, gas dalam tabung
Oksigen
Ih, gas dalam tabung
Oksigen
Ih, gas dalam tabung
29 Cairan Parenteral • Ringer laktat • Ringer Asetat • NaCl 0,9% Cairan Parenteral Ringer laktat
b. Persiapan Alat dan bahan habis pakai
Peralatan yang dipergunakan dalam penerapan MTBS adalah:
Alat Kesehatan
NO ITEM NO ITEM
1 Timbangan bayi 9 Pita LILA
2 Timbangan anak 10 Gelas, sendok dan teko (tempat air
matang dan bersih) digunakan di Layanan Rehidrasi Oral Akf (LROA/ Pojok Oralit)
3 Pengukur Panjang Badan (Length Board)
11 Alat pengisap lendir
4 Pengukur Tinggi Badan 12 Tensimeter, manset anak, steteskop neonatal dan steteskop anak
5 Pengukur Suhu Tubuh 13 Sungkup ukuran 0, 1 dan 2
6 ARI Sound Timer atau arloji dengan jarum dek
14 Pipa lambung/Nasogastric Tube -NGT no. 3,5 dan no. 5
7 Senter 15 Pulse Oximeter dengan sensor bayi
dan anak
8 Spatula lidah 16 Mikroskop
Bahan Habis Pakai
NO ITEM NO ITEM
1 Kasa/Kapas 5 Nasal Prong/Kateter Nasal bayi
2 Kertas serap/Tissue 6 Kateter urine untuk bayi no 6, untuk balita no. 8 atau no. 10
3 Semprit dan Jarum sunk 1cc 7 RDT (Rapid Diagnosc Test) malaria jika pemeriksaan mikroskopis dak
tersedia 4 Infus set mikro dengan intra vena
kateter no. 24 atau wing needles no. 21G
8 RDT (Rapid Diagnosc Test) HIV
Penyiapan Obat dan Alat Kesehatan :
Perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan berdasarkan data kebutuhan (konsumsi) tahun sebelumnya, pola penyakit (epidemiologi) serta rencana pengembangan/intervensi program dengan mempermbangkan sisa stok. Permintaan kebutuhan obat dan alat kesehatan Puskesmas menggunakan formulir Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) yang ditujukan kepada instalasi farmasi kabupaten/kota.
c. Vaksin
Petugas imunisasi memperhitungkan kebutuhan vaksin baik jenis maupun jumlahnya berdasarkan jumlah sasaran bayi dan balita di wilayahnya ditambah dengan kebutuhan untuk memenuhi pelayanan imunisasi bagi bayi dan balita diluar wilayah berdasarkan pencatatan laporan sebelumnya. Dipaskan bahwa ketersediaan vaksin yang ada termasuk buer stok mencukupi kebutuhan akan pelayanan imunisasi di Puskesmas dan jaringannya. Hal ini penng agar bayi dan balita tetap mendapatkan pelayanan imunisasi begitu akses ke Puskesmas danjaringannya.
Kesiapan rantai dingin di Puskesmas menjadi bagian penng dak terpisahkan pada pelayanan imunisasi, Freezer (suhu -25°C sampai -15°C), lemari es (suhu +2°C sampai +8°C), cold/cool box, vaccine carrier, thermos, dan cold/cool pack.
d. Buku Bagan MTBS, Formulir Tatalaksana Bayi Muda, Formulir Tatalaksana Balita Sakit, Buku Register Rawat Jalan Balita Sakit, Register Rawat Jalan Bayi Muda, dan Formulir Rujukan serta Buku Foto MTBS dan Bagan Dinding MTBS
Ketersediaan Buku Bagan MTBS harus disesuaikan dengan proposi jumlah tenaga medis yang ada di Puskesmas dan jaringannya dengan demikian memberi kesempatan bagi semua untuk mempelajari. Ketersediaan bagan dinding dan buku foto cukup pada tempat dimana pelayanan MTBS diberikan. Bagan dinding dan buku foto ini juga bermanfaat pada saat melaksanakan on the job training/inhouse training untuk
mempermudah penjelasan kepada peserta.
Kebutuhan ketersediaan lembar formulir Tatalaksana Balita Sakit di Puskesmas dan jaringannya disesuaikan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya plus buerstok,
adapun kebutuhan formulir Tatalaksana Bayi Muda sesuai dengan sasaran bayi lahir x 3 (sesuai dengan kunjungan neonatal) ditambah dengan jumlah kasus bayi muda sakit tahun sebelumnya plus buerstock.
Kebutuhan ketersediaan Register Rawat Jalan Balita Sakit dan Register Rawat Jalan Bayi Muda berdasarkan jumlah Pustu dan desa yang dimiliki plus untuk Puskesmas. Untuk Puskesmas jumlahnya disesuaikan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya kebutuhannya berapa plus buerstock demikianjuga untuk jaringannya.
Kebutuhan ketersediaan Formulir Rujukan disesuaikan dengan jumlah kasus tahun sebelumnya plus buerstok namun dipaskan terdistribusi di Puskesmas dan jaringannya sesuai dengan kebutuhan.
e. Persiapan Media KIE
Penggunaan buku KIA pada MTBS selain sebagai tools pencatatan pelayanan kesehatan juga sebagai media KlE. Media KIE lainnya yang dapat digunakan adalah media KIE yang mengandung pesan-pesan yang dibutuhkan pada saat pelayanan MTBS (leaet, lembar balik, poster, alat peraga, video, dll). Tujuan penggunakan media KIE adalah untuk mempermudah pemahaman orang tua atau pengasuh balita dan bayi muda dalam perawatan sehari - hari di rumah.
Pemenuhan ketersediaan media KIEdipermbangkan jenis dan jumlahnya bagi kegiatan di dalam gedung dan di luar gedung Puskemas dan jaringannya, hal ini penng mengingat upaya promof dalam rangka peningkatan pengetahuan dan ketrampilan keluarga dan masyarakat terkait kesehatan bayi muda dan balita sakit menjadi bagian yang dak terpisahkan untuk keberhasilan MTBS.
2. Biaya Operasional
Biaya operasional sangat dibutuhkan pada penerapan MTBS baik untuk kegiatan dalam gedung maupun kegiatan di luar gedung. Upaya promosi kesehatan terkait dengan kesehatan bayi muda dan balita pada pelayanan UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) dan UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat) memegang peranan untuk keberhasilan penerapan MTBS bahkan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup bayi muda dan balita.
Upaya promosi kesehatan bayi muda dan balita di luar gedung dapat diintegrasikan dengan kegiatan program lainyang terkait dengan MTBS, termasuk pada saat kunjungan neonatal, kegiatan perkesmas, POSYANDU, Kelas lbu Balita, BKB, PAUD dan kegiatan lain yang memungkinkan.
Berikut pemanfaatan biaya operasional pada implementasi MTBS yang dak menutup kemungkinan untuk kebutuhan lainnya;
• Kelengkapan dan kecukupan penunjang penerapan MTBS; logisk (Obat, Alat dan Bahan Habis Pakai, Bagan MTBS, Formulir Tatalaksana Bayi Muda, Formulir Tatalaksana Balita Sakit, Register Rawat Jalan Bayi Muda, Register Rawat Jalan Balita Sakit dan media KIE)
• Pemeliharaan cold chain di Puskesmas dan jaringannya • Kegiatan supervisi fasilitaf di luar gedung
• Peningkatan kapasitas pelaksanan MTBS melalui metode: refreshing berkala, OJT ke Puskesmas lain atau in house training.
• Kunjungan pasien drop out
• Kunjungan di lapangan bilamana dijumpai kasus yang diduga terkait erat dengan lingkungan.
• Kesiapan sarana dan prasarana di Puskesmas
• Biaya operasional dan pemeliharaan alat terkait dengan penerapan MTBS kegiatan lain yang terkait dengan penerapan MTBS
Biaya operasional penerapan MTBS dapat menggunakan alokasi dana yang diperuntukan bagi Puskesmas sesuai yang ditetapkan. Alokasi dana yang dimaksud antara lain biaya operasional dari APBD II, Bantuan Operasional Kesehatan, dana Kapitasi yang memang diperuntukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan dana lain yang dak mengikat. Berikut keterangan tentang pemanfaatan dana:
1. Bantuan Operasional Kesehatan
Minimal 60% dari total alokasi dana BOK Puskesmas digunakan untuk Program Kesehatan Prioritas melalui berbagai kegiatan yang berdaya ungkit nggi untuk pencapaian tujuan MDGs bidang kesehatan. Adapun kegiatan prioritas terkait pelayanan MTBS antara lain:
a. Kunjungan neonatus
b. Pemantauan kesehatan neonatus termasuk neonatus risiko nggi
c. Kunjungan rumah (termasuk untuk melihat kepatuhan minum obat dan drop out)
d. Promosi ASI eksklusif dan Makanan Penggan ASI (MPASI) e. Kunjungan rumah/pendampingan balita gizi buruk
f. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan anak balita gizi buruk 2. Dana Kapitasi JKN
Pemanfaatkan dana kapitasi JKN disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, antara lain untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
1) Obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai; 2) Kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya.
Dukungan kegiatan operasional pelayanan kesehatan lainnya, melipu:
a. Upaya kesehatan perorangan berupa kegiatan promof, prevenf, kuraf, dan rehabilitaf lainnya. Untuk kegiatan ini dana yang ada antara lain dapat dibelanjakan seper biaya makan-minum, Jasa profesi Narasumber, foto copy bahan, service ringan alat kesehatan, perjalanan.
b. Kunjungan rumah dalam rangka upaya kesehatan perorangan. Dana yang ada antara lain dapat dibelanjakan seper perjalanan, uangharian.
c. Operasional untuk puskesmas keliling. Dana yang dapat dibelanjakan seper Bahan Bakar Minyak (BBM), pengganan Oli, suku cadang kendaraan pusling. d. Bahan cetak atau alat tuIis kantor.
e. Administrasi keuangan dan sistem informasi. Dana yang dapat dibelanjakan seper perjalanan, uang harian, foto copy bahan, belanja piran keras dan piran lunak dalam mendukung implementasi sistem informasi JKN, biaya operasional sistem informasi.
3. Dana operasional puskesmas dari APBD Idan II serta dana lain yang dak mengikat sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Ruangan
Pelayanan MTBS sebaiknya dilakukan di ruangan tersendiri mengingat membutuhkan waktu cukup lama, termasuk KIE yang disampaikan kepada orang tua/pengasuh bayi muda dan balita sakit. Namun jika belum mempunyai ruangan tersendiri dapat menggunakan ruangan yang dimanfaatkan bersama dengan pelayana kesehatan ibu atau ruang KIA. Pada ruangan MTBS tersedia tempat melaksanakan pengukuran panjang badan/ nggi badan, berat badan, satu set meja periksa serta kasur tempat pemeriksaan tak kalah penngnya wastafel atau tempat cuci tangan yang memenuhi standar PHBS dan layanan rehidrasi oral akf (pojok oralit).
Untuk pelayanan bayi muda yang berkunjung ke Puskesmas dapat menggunakan ruangan Kesehatan lbu dan Anak.
C. PENYESUAIAN ALUR PELAYANAN
Pada pelayanan dengan pendekatan MTBS, baik bayi muda maupun balita sakit akan diperiksa secara teli dan menyeluruh sehingga membutuhkan waktu lebih lama. Semua petugas yang terlibat dalam alur pelayanan MTBS berperan dalam mendukung pelayanan MTBS yang opmal.
Untuk memperlancar pelayanan MTBS dan mengurangi waktu tunggu perlu dilakukan penyesuaian alur pelayanan. Alur pelayanan harus terinformasikan dan mudah diakses oleh pengunjung baik secara lisan dari petugas maupun tertulis. Alur pelayanan melipu : 1) Pendaaran
2) Pemeriksaan 3) KIE
4) Pemberianndakan yang diperlukan 5) Pemberian obat, atau
Penyesuaian alur pelayanan MTBS dapat dilaksanakan mengiku bagan berikut:
Pasien Datang
Pendaaran
• Tanyakan identas pasien • Pasien diminta menunggu
di ruang MTBS/KIA
rekam medis diserahkan oleh petugas pendaaran ke ruang MTBS/KIA Ruang MTBS • Lakukan penilaian • Menentukan Klasikasi • Menentukan ndakan/ pengobatan • Melakukan KIE Ruang Obat • Pemberian Obat • Konseling pemakaian
dan dosis obat
Pulang Rujuk • Laboratorium • Ruang Imuni-sasi/KIA • Ruang Gizi • Layanan Rehidrasi Oral Akf
1. Bagian pendaaran
− Setelah menanyakan dan mencatat identas pasien, petugas menanyakan buku KIA pada ibu atau pengasuh, untuk disertakan bersama dengan rekam medis pasien ke petugas pemberi layanan. Selain mencatat tanggal kunjungan di buku KIA, petugas juga mengingatkan agar seap ibu hamil/bersalin/nifas dan balita berobat ke fasilitas kesehatan dak lupa membawa kartu dan buku KIA.
− Petugas pendaaran harus menyampaikan kepada orang tua/pengasuh bahwa pasien anak akan dilayani dengan pendekatan MTBS yang memeriksa anak secara lengkap sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasa, untuk itu dimohon kesabaran ibu/pengasuh pada saat menunggu atau pada saat anak mendapatkan pelayan kesehatan.
− Petugas mengarahkan untuk menunggu di ruang tunggu pelayanan MTBS.
2. Bagian Rekam Medis
Petugas rekam medik di Puskesmas agar membuat berkas tertata rapi sehingga memudahkan pada saat pencarian berkas dari pasien dan memasikan bahwa yang tercatat telah lengkap dan benar sehingga memenuhi kebutuhan pencatatan pelaporan termasuk untuk keperluan pelaporan Jaminan Kesehatan Nasional atau sistem asuransi kesehatan lainnya.
3. Petugas MTBS
Semua perawat/bidan yang bertugas memberi pelayanan bayi muda dan balita sakit melakukan pendekatan MTBS, hal ini dak menutup kemungkinan setelah dilakukan klasikasi diindaklanju dengan meminta pasien dibawa ke petugas gizi/sanitarian/ imunisasi untuk mendapatkan KIE atau pelayanan imunisasi sesuai anjuran. Perawat dan bidan juga memberi KIE bagaimana merawat anak di rumah, mencegah anak sakit dan cidera pada anak serta kapan harus kembali bilamana diperlukan.
Untuk daerah tertentu yang memiliki kebijakan bahwa semua pasien harus dilayani oleh dokter, maka setelah penilaian dan klasikasi MTBS oleh perawat atau bidan semua pasien bayi muda dan balita sakit diserahkan ke dokter untuk ndak lanjutnya. Semua pasien dengan klasikasi merah di rujuk, bisa pada dokter di Puskesmas/ fasilitas pelayanan kesehatan primer lainnya atau ke RS tergantung pada kasusnya.
4. Petugas Laboratorium
Pada kasus tertentu memerlukan pemeriksaan mikroskopik seperi pasien diduga malaria, RDT malaria, ataupun RDT HIV dapat dilakukan oleh petugas laboratorium. Apabila puskesmas mampu, untuk penentuan diagnosis anemia dan demam berdarah petugas dapat melakukan pemeriksaan laboratorium berdasarkan anjuran dokter,
5. Petugas Imunisasi
Pelayanan imunisasi diberikan sesuai hasil penilaian MTBS. Pemberian imunisasi dapat dilakukan oleh perawat/bidan pemberi layanan anak ataupun petugas imunisasi. Petugas imunisasi juga bertugas untuk memasikan ketersediaan vaksin, penyimpanan dan pencatatan penggunaan vaksin serta KIE terkait jadwal imunisasi.
6. Petugas Gizi
Dalam pelayanan MTBS, petugas gizi berperan dalam; 1) penentuan status gizi balita sebelum dilakukan pelayanan oleh perawat dan bidan, 2) menerima rujukan anak dengan masalah gizi atau masalah pemberian ASI atau pemberian makan. Untuk mempermudah pemahaman dari orang tua/pengasuh KIE diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, menggunakan Buku KIA dan food model serta bilamana perlu dengan prakik (cara menyusui yang benar).
Petugas gizi juga melakukan upaya promof di dalam dan di luar gedung. Namun KIE ini juga bisa dilaksanakan oleh perawat/bidan yang memberi pelayanan bilamana pada saat yang sama petugas gizi idak berada di tempat.
7. Petugas Layanan Rehidrasi Oral Akf
Petugas Layanan Rehidrasi Oral Akif berperan dalam:
− Memfasilitasi orang tua/pengasuh dalam mencampur dan memberikan oralit dengan benar, serta pemberian zink
− Memasikan orang tua/pengasuh mengeri berapa banyak oralit/cairan lain yang harus diberikan kepada anak.
− Memasikan pemberian oralit di klinik pada 3 jam pertama rencana terapi B
− Memberikan KIE tentang penyakit diare termasuk mencegah dan melindungi anak dari penyakit diare.
− Mengajarkan cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir.
8. Petugas obat
− Petugas obat mengklarikasi nama pasien dengan nama yang tercantum pada kertas resep.
− Menyiapkan obat baik jenis, takaran dan keemasan sesuai dengan resep yang diterima dan mengklarikasi apakah nama anak sesuai dengan obat yang diberikan, hal ini untuk menghindari salah pemberian obat.
− Memberi penjelasan kepada orang tua/pengasuh cara pemberian, dosis dan lama pemberian serta memasikan mereka memahami dengan meminta mengulang apa yang tadi disampaikan.
− Menghitung kebutuhan obat terkait pelayanan MTBS, melakukan analisis pemakaian obat MTBS dan melaporkannya jika ditemukan peningkatan penggunaannya.
BAB III
PENERAPAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT
Keberhasilan penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit terjadi bilamana keiga komponen yakni 1) penguatan sistem pelayanan kesehatan, 2) peningkatan kemampuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam pelayanan bayi muda dan balita sakit dengan pendekatan MTBS dan 3) peningkatan pengetahuan orang tua/pengasuh anak dalam perawatan bayi muda dan balita, deteksi dini dan pencarian pertolongan kesehatan dilaksanakan secara bersama-sama.
1. Penguatan Sistem Pelayanan Kesehatan Anak
Seluruh balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun dan bayi muda umur kurang 2 bulan harus dilayani dengan pendekatan MTBS. Hal ini sejalan dengan Permenkes Nomor 25 Tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak, dan Standar Pelayanan Minimal.
Kesinambungan pelayanan dengan pendekatan MTBS didukung oleh kebijakan dari Kepala Puskesmas yang berusaha semaksimal mungkin adanya ketersediaan, kemampuan dan kemauan SDM pelaksana yang patuh terhadap standar, ketersediaan faktor pendukung, ketersediaan biaya operasional, supervisi fasilitaf yang berjenjang, penguatan sistem rujukan serta adanya evaluasi berkala dampak penerapan MTBS. Dengan demikian Kepala Puskesmas dan dokter memasikan perawat dan bidan di Puskesmas dan jaringannya patuh terhadap standar baik dalam hal melakukan penilaian, klasikasi, ndakan atau pengobatan dan saat menyampaikan informasi serta melaksanakan komunikasi dan edukasi. Semua kegiatan Tatalaksana Balita Sakit maupun Tatalaksana Bayi Muda dicatat dalam buku Register Rawat Jalan Balita Sakit atau Register Rawat Jalan Bayi Muda, serta melaksanakan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Pada kasus tertentu yang membutuhkan koordinasi dengan program lain seperi kesehatan lingkungan, Perkesmas, atau menindaklanju kasus-kasus yang sangat memerlukan kunjungan ulang namun orang tua atau pengasuh dak melakukan, maka SDM kesehatan Puskesmas diharapkan melakukan pelayanan out reach dengan memanfaatkan dana operasional Puskesmas, BOK dan dana Kapitasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Agar terlaksana kesinambungan pelayanan balita sakit pemerintah Kabupaten/Kota juga memperkuat kualitas pelayanan anak di fasilitas rujukan, melakukan berbagai upaya untuk mempermudah akses pelayanan serta peningkatan pemberdayaan keluarga danmasyarakat terkait kesehatan anak.
2. Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan serta Kepatuhan Terhadap Standar.
MTBS dilaksanakan oleh perawat, bidan dan dokter (sebagai penerima rujukan dan supervisor) dan petugas lain terkait dengan kompetensi dan wewenangnya. Kepala Puskesmas dan dokter memasikan bahwa perawat dan bidan yang memberi pelayanan balita sakit, bayi muda dan kunjungan neonatal memiliki kemampuan dan patuh pada standar MTBS, demikian pula petugas lainnya seperi petugas gizi, obat, dan petugas imunisasi. Untuk itu perlu dipasikan bahwa semua petugas yang terlibat dalam pelayanan MTBS selalu terupdate pengetahuan dan kompetensinya.
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dapat melalui pelaihan Standarisasi MTBS, ICATT, refreshing, in house training maupun On The Job training (OJT). Kepala Puskesmas dan dokter serta tenaga terlah MTBS melakukan on the job training bagi perawat dan bidan lainnya.
Untuk memaskan kesinambungan pengetahuan dan ketrampilan serta kepatuhan SDM Kesehatan dalam penerapan MTBS, maka Kepala Puskesmas dan dokter harus ;
• Melaksanakan on the job training secara bertahap bagi petugas yang belum terlah
• refreshing MTBS
• melaksanakan supervisi fasilitaf,
• Kaderisasi fasilitator internal di Puskesmas melalui metode pendampingan
• Memonitor secara berkala implementasi penerapan MTBS di Puskesmas dan jaringannya
• membahas manajemen kasus balita sakit dan bayi muda serta hasil kunjungan neonatal secara berkala
• menindaklanju kendala di lapangan bilamana dijumpai SDM yang dak patuh terhadap standar.
3. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua dan pengasuh
Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan orang tua maupun pengasuh dalam perawatan balita sakit dan bayi muda dilaksanakan melalui penyampaian informasi dan melaksanakan komunikasi dan edukasi secara terus menerus dan bertahap, baik perorangan maupun kelompok. Upaya promosi kesehatan bagi balita dan bayi muda secara berkelmpok bisa dilakukan di dalam gedung Puskesmas maupun di luar gedung terintegrasi dengan kegiatan lainnya seperi Posyandu, POS PAUD dan BKB dengan menggunakan alat bantu media yang paling sesuai.
Kegiatan KIE ini juga harus dilaksanakan pada seap kunjungan balita sakit dan kunjungan bayi muda (termasuk kunjungan neonatal) yang pada kesempatan itu juga diberikan contoh langsung atau dengan menggunakan media seperi buku KIA, lembar balik, leaet, dan video. Dalam berkomunikasi hendaknya menggunakan bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami orang tua atau pengasuh. Yang paling penng disini adalah memberi kesempatan pada orang tua dan pengasuh untuk bertanya hal-hal yang perlu diketahui oleh mereka terkait dengan bayi muda dan balita sakit yang dilayani. Sediakan waktu untuk mengklarikasi pemahaman dari orang tua/ pengasuh agar dak terjadi salah pengeran dan mereka bisa menindaklanju setelah sesampainya di rumah.
Berikut hal-hal yang dilakukan atau disampaikan pelayanan MTBS, antara lain: 1. cara memberikan obat oral di rumah.
2. cara mengoba infeksi lokal di rumah. 3. cara memberikan cairan di rumah.
4. masalah pemberian ASI dan makanan anak. 5. kapan harus kembali untuk kunjungan ulang
6. manfaat kunjungan ulang dan alasan mengapa perlu kunjungan ulang 7. kapan atau kondisi bagaimana harus segera membawa anak ke puskesmas 8. KIE tentang pencegahan cidera pada anak.
BAB IV
PENCATAAN DAN PELAPORAN
MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT
Pencatatan dan pelaporan pada rangkaian kegiatan MTBS mengiku sistem pencatatan dan pelaporan yang sudah berjalan dan berpedoman pada Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Pencatatan dan pelaporan MTBS mendukung kebutuhan data kohort, buku KIA, LB1, LB3, LPLPO, laporan program terkait dengan pelayanan MTBS (termasuk vaksin dan alat kesehatan) dan kebutuhan laporan lainnya.
Kepala Puskesmas memaskan adanya kesinambungan pencatatan dan pelaporan yang akurat dan tepat waktu. Pengelola dan penanggung jawab program terkait kesehatan anak baik di ngkat Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota memanfaatkan data tersebut untuk dilakukan analisa dan dindaklanju sesuai dengan kondisi yang ada pada saat itu.
A. PENCATATAN MTBS
Pencatatan MTBS dimulai di bagian pendaaran. Semua balita sakit dan bayi muda sehat yang berkunjung ke Puskesmas diminta memperlihatkan buku KIA nya dan dicatat tanggal kunjungan, demikian juga pada Family Folder dicatat nomor rekam medis, hari, tanggal kunjungan yang memudahkan dan mempercepat pencarian disamping tercatat pada buku kunjungan pasien. Pelayanan neonatal (pada kunjungan 1,2 dan 3) dicatat pada buku KIA tanggal dan hasil pelayanan.
Langkah pelayanan MTBS sesuai dengan Formulir Tatalaksana Bayi Muda dan Fomulir Tatalaksana Balita Sakit yang harus dikerjakan dan diisi dengan lengkap dan diparaf karena ini merupakan buki pelayanan yang diberikan. Hasil pemeriksaan berupa klasikasi yang nannya dikonversi menjadi diagnosis berdasarkan ICD 10 dicatat pada Register Rawat Jalan Balita Sakit atau Register Rawat Jalan Bayi Muda yang sudah dimodikasi mengakomodir langkah penilaian klasikasi MTBS, pada register ini juga tersedia kolom untuk diagnosis penyakit diluar klasikasi MTBS.
Pemberi pelayanan sesuai standar harus mengisi semua kolom yang ada di Register Rawat Jalan. Dari Register Rawat Jalan akan diperoleh informasi mengenai status gizi, data imunisasi, data kesakitan yang dikonversi ke ICD 10, pengobatan/indakan dan KIE yang disampaikan serta jumlah kasus yang perlu dirujuk. Tidak menutup kemungkinan pencatatan klasikasi atau diagnosis dan pengobatan yang diberikan dicatat ulang pada rekam medis pasien.
Untuk pencatatan pelayanan MTBS ada beberapa pilihan yang dapat digunakan, sesuai kondisi puskesmas, yaitu:
1. Mengggunakan formulir tatalaksana balita sakit dan formulir tatalaksana bayi muda. Formulir Tata Laksana Bayi Muda juga digunakan oleh perawat dan bidan pada saat melakukan kunjungan neonatal (KN) dilanjutkan dengan pencatatan pada register rawat jalan bayi muda dan register rawat jalan balita sakit.
2. Daerah atau Puskesmas yang sudah memiliki fasilitas, dapat menggunakan sistem komputer untuk pencatatan rekam medik elektronik. Arnya formulir tatalaksana bayi muda dan formulir balita sakit serta register rawat jalan bayi muda dan register rawat jalan balita sakit secara komputerisasi.
3. Untuk daerah yang mengalami kesulitan dalam penggandaan formulir, pelayanan dapat dicatatkan pada rekam medik, untuk memudahkan perawat dan bidan dalam melakukan langkah-langkah MTBS, pada buku Bagan MTBS akan dilampirkan Fomulir Tatalaksana Balita Sakit dan Fomulir Tatalaksana Bayi Muda yang di laminang. Bidan/ perawat mengisi formulir yang dilaminang dengan menggunakan spidol yang dapat dihapus pada saat melayani bayi muda/balita sakit. Setelah mengisi register rawat jalan, mereka menghapus tulisan pada formulir tersebut untuk digunakan pada saat
melayani bayi muda/balita sakit dengan pendekatan MTBS.
Untuk memudahkan mendapatkan data sebelumnya pada pasien kunjungan ulang atau pasien lama, maka pada rekam medis atau family folder harus dicatat hari tanggal serta nomor urutnya di register rawat jalan.
Hasil pencatatan pada Register Rawat Jalan Balita Sakit, Register Rawat Jalan Bayi Muda dan Kunjungan Neonatal diindaklanju untuk dimasukan ke :
1. Buku KIA : Status Gizi, imunisasi yang diberikan, hasil kunjungan neonatal dan catatan kesehatan anak.
2. Kohort Bayi dan Kohort Anak Balita dan Pra Sekolah; imunisasi yang diberikan, Kunjungan Neonatal
3. LB1 4. LB3 5. LPLPO
Kepala Puskesmas dan dokter Puskesmas bersama dengan bidan koordinator secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi terkait dengan pencatatan di atas agar akurat dan tepat waktu. Mereka juga meminta penanggung jawab wilayah dan penanggung jawab program terkait MTBS menindaklanju bila dilihat dari hasil analisa data ditemukan
masalah agar terjadi kesinambungan pelayanan MTBS yang berkualitas.
B. PELAPORAN HASIL PELAYANAN
Hasil pelayanan MTBS dilaporkan secara berkala melalui mekanisme yang ada. Laporan hasil kunjungan balita sakit dan kunjungan bayi muda termasuk hasil kunjungan
neonatal dilakukan seiap bulan. Data tersebut kemudian diolah, data dikelompokkan dan dijumlahkan sesuai jenis penyakit menurut kode ICD 10. Data yang telah diolah tersebut kemudian dilaporkan melalui SP2TP seap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Instrumen pelaporan yang digunakan dalam SP2TP adalah :
1. Laporan Bulanan 1b / Instrument Review Data Kesakitan Bulanan (LB 1b)
2. Laporan Bulanan 2 (LB2) /Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) 3. Laporan Bulanan 3
Pada saat Lokakarya mini di Puskesmas dan saat pertemuan ga bulanan dengan lintas sektor dan m penggerak PKK serta kader perlu disampaikan hal penng hasil pelayanan MTBS dan hal-hal yang perlu diindaklanju. Hal yang sama juga dilakukan pada kegiatan di ngkat Kabupaten/Kota.
Pada kondisi tertentu laporan dapat sesegera mungkin bilamana ditemukan peningkatan kasus baik penyakit menular maupun dak menular. Pada penyakit yang menular ataupun yang berkaitan dengan lingkungan segera dilakukan survailans.
Bagan Alur Pelaporan MTBS
Dinas Kesehatan Provinsi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Puskesmas Kementerian Kesehatan RI
SP2TP
(LB-1b,LB2, LB3a)
Register Rawat Jalan & KohortKONVERSI KLASIFIKASI MTBS KE DALAM KODE DIAGNOSIS (ICD 10)
Tabel. BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN
NO DIAGNOSIS ICD 10
KODE DIAGNOSIS KETERANGAN
I TANDA BAHAYA UMUM
.Penyakit Sangat Berat R 56.0 Kejang Demam Penetapan diag-nosa disesuaikan dengan tanda/ gejala dan pemer-iksaan siknya A 35 Tetanus G 03.9 Meningis, dak spesik G 04 Ensefalis A 36.9 Diphteri
II BATUK ATAU SUKAR BER-NAPAS
1. Pneumonia Berat J 18.9 Pneumonia, dak spesik
2. Pneumonia J 18.9 Pneumonia, dak spesik
3. Batuk Bukan Pneumonia J 06.9 Infeksi Saluran Napas Atas Akut, dak
spesik III DIARE
1. Diare Dehidrasi Berat A 09 Gastroenteris dan Kolis, dak spesik 2. Diare Dehidrasi Ringan/
Sedang
A 09 Gastroenteris dan Kolis, dak spesik 3. Diare Tanpa Dehidrasi A 09 Gastroenteris dan
Kolis, dak spesik 4. Diare Persisten Berat A 09 Gastroenteris dan
Kolis, dak spesik 5. Diare Persisten A 09 Gastroenteris dan
Kolis, dak spesik
NO DIAGNOSIS ICD 10
KODE DIAGNOSIS KETERANGAN
IV DEMAM
1. Penyakit Berat Dengan Demam (risiko nggi/ rendah)
B 50 Malaria falciparum Jika hasil pemer-iksaan, posif malaria
B 51 Malaria vivax B 52 Malaria malariae B 53 Malaria ovale
B 54 Malaria dak spesik Jika hasil pemeriksaan negaf malaria atau dak dilakukan pemeriksaan Mikroskopis/RDT 2. Malaria B 50 Malaria falciparum
B 51 Malaria vivax B 52 Malaria malariae B 53 Malaria ovale 3. Demam Bukan Malaria R 50 Demam yang dak
diketahui penyebab-nya
Jika ditemukan penyebab lain dari demam, tentukan diagnosa ICD 10 yang sesuai 4. Campak Dengan
Komp-likasi Berat
B 05.1 Campak dengan Meningis
B 05.2 Campak dengan Pneumonia 5. Campak Dengan
Komp-likasi Mata atau Mulut
B 05.8 Campak dengan komplikasi mata atau mulut
6. Campak B 05.9 Campak Tanpa Kom-plikasi
Z 86 Riwayat penyakit infeksi dan parasit
Jika ada riwayat campak dalam 3 bulan terakhir. 7. Demam Berdarah
Den-gue (DBD)
A 91 Demam Berdarah Dengue
NO DIAGNOSIS ICD 10
KODE DIAGNOSIS KETERANGAN
8. Mungkin DBD A 90 Demam Dengue 9. Demam Mungkin Bukan
DBD
R 50 Demam yang dak diketahui penyebab-nya
Jika ditemukan penyebab lain dari demam, tentukan diagnosa ICD 10 yang sesuai A 01 Demam foid dan
parafoid V MASALAH TELINGA
1. Mastoidis H 70 Mastoidis 2. Infeksi Telinga Akut H 60 Os Eksterna
H 65.0 Os Media Akut Serosa
H 66.0 Os Media Akut Supurafa
3. Infeksi Telinga Kronis H 66.3 Os Media Supu-raf Kronik, dak spesik
4. Tidak Ada Infeksi Telinga -VI STATUS GIZI
1. Gizi Buruk Dengan Kom-plikasi
E 40 Kwashiorkor Khusus
E 42 Marasmus kondisi Stunng dengan kode E 45 2. Gizi Buruk Tanpa
Komp-likasi
E 43 Gizi buruk tanpa komplikasi
3. Gizi Kurang E 63.9 Gizi kurang, dak spesik
4.Normal
-VII ANEMIA
1. Anemia Berat D 64.9 Anemia dak spesik 2. Anemia D 64.9 Anemia dak spesik
D 50.9 Anemia desiensi besi dak spesik 3. Tidak Anemia
-NO DIAGNOSIS ICD 10 KETERANGAN KODE DIAGNOSIS
VIII STATUS HIV
1. Terkonrmasi HIV B 20 Penyakit HIV
2. Terpajan HIV Z 20.6 Kontak dan suspek terinfeksi HIV
3. Diduga Terinfeksi HIV Z 11.4 Ada gejala, diperlu-kan penapisan HIV 4. Kemungkinan Bukan
In-feksi HIV
-Tabel. BAYI MUDA UMUR KURANG DARI 2 BULAN
NO DIAGNOSIS ICD 10 KETERANGAN
KODE DIAGNOSIS
I KEMUNGKINAN PENYAKIT SANGAT BERAT ATAU INFEK-SI BAKTERI
Penetapan diag-nosa disesuaikan dengan tanda/ge- jala dan
pemerik-saan sik. 1. Penyakit Sangat Berat
atau Infeksi Sangat Berat
R 56.0 Kejang Demam
A 33 Tetanus Neonatorum G 03.9 Meningis, dak
spe-sik A 36.9 Diphteri
J 18.9 Pneumonia, dak spesik
2. Infeksi Bakteri Lokal A 48 Penyakit bakteri lain yang dak terklasi-kasi
3. Mungkin Bukan Infeksi -II
IKTERUS
1. Ikterus Berat
P 59.9
Ikterus bayi baru lahir dak spesik2.
Ikterus
P
59.9
Ikterus bayi baru lahir dak spesik-NO DIAGNOSIS ICD 10 KETERANGAN KODE DIAGNOSIS
III DIARE
1. Diare Dehidrasi Berat A 09 Gastroenteris dan Kolis, dak spesik 2. Diare Dehidrasi Ringan/
Sedang
A 09 Gastroenteris dan Kolis, dak spesik 3. Diare Tanpa Dehidrasi A 09 Gastroenteris dan
Kolis, dak spesik IV STATUS HIV
1. Infeksi HIV terkonrmasi B 20 Penyakit HIV
2. Terpajan HIV Z 20.6 Kontak dan suspek terinfeksi HIV
3. Kemungkinan Bukan In-feksi HIV
-V KEMUNGKINAN BERAT BADAN RENDAH DAN MAS-ALAH PEMBERIAN ASI
1. Berat Badan Rendah Menurut Umur dan/atau Masalah Pemberian ASI
-2. Berat Badan Tidak Rendah dan Tidak Ada Mas-alah Pemberian ASI
-VI MASALAH PEMBERIAN MI-NUM ATAU BERAT BADAN RENDAH PADA BAYI YANG TIDAK MENDAPAT ASI
1. Berat Badan Rendah atau Masalah Pemberi-an Minum
-2. Berat Badan Tidak Rendah dan Tidak Ada Masalah Pemberian
Mi-num
-PENYAKIT LAIN YANG SERING DITEMUI PADA BALITA DI LUAR KLASIFI-KASI MTBS*
NO DIAGNOSIS ICD 10 KETERANGAN
KODE DIAGNOSIS SISTEM INDERA
1 Konjungvis H10 CONJUNCTIVITIS
2 Konjungvis gonorrhea A54.3 GONOCOCCAL CON-JUNCTIVITIS
3 Blefaris H01 OTHER INFLAMMATION
OF EYELID
4 Hordeolum H00 HORDEOLUM AND
CHALAZION
5 Os eksterna H60 OTITIS EXTERNA
6 Os media akut H67 OTITIS MEDIA IN DISEA. CLASS.E.
7 Serumen prop H61 OTHER DISORDERS OF
EXTERN. EAR
8 Rhinis akut J30 VASOMOTOR & ALLER-GIC RHINITIS
9 Rhinis alergika J30 VASOMOTOR &
ALLER-GIC RHINITIS
10 Benda asing T17 FOREIGN BODY IN
RE-SPIRATORY T.
SISTEM RESPIRASI
11 Epistaksis R04 HAEMORRHAGE FROM
RESPIRATORY P
12 Inuenza J11 INFLUENZA,VIRUS NOT
IDENTIFIED
13 Pertusis A37 WHOOPING COUGH
14 Faringis J02 ACUTE PHARYNGITIS
15 Tonsilis J03 ACUTE TONSILLITIS
16 Asma bronkial J45 ASTHMA
17 Tuberkulosis paru tanpa komplikasi
A15 RESPIRATORY TUBER-COLOSIS, BACT
SALURAN PENCERNAAN
19 Ulkus mulut (aptosa,
her-pes)
K12 STOMATITIS & RELATED LESIONS
20 Paros B26 MUMPS
21 Infeksi pada umbilikus P38 OMPHALITIS OF NEW-BORN
22 Gastris K29 GASTRITIS & DUODENI-TIS
23 Reuks gastroesofagus K21 GASTRO-OESOPHAGEAL REFLUX DIS.
24 Demam foid A01 TYPHOID AND
PARATY-PHOID FEVERS
25 Keracunan makanan T47 POISON.BY PRIMAR. THE GASTROI.
26 Penyakit cacing tambang B76 HOOKWORM DISEASES
27 Askariasis B77 ASCARIASIS
28 Taeniasis B68 TAENIASIS
SISTEM ENDOKRIN,METABOLIK DAN NUTRISI
29 Malnutrisi energi-protein E44 PROTEIN-ENERGY MAL-NUTRITION
30 Obesitas E66 OBESITY
SISTEM INTEGUMEN
31 Varisela tanpa komplikasi B01 VARICELLA (CHICKEN-POX)
32 Silis kongenital A50 SYPHILIS CONGENITAL
33 Tinea kapis B35 DERMATOPHYTOSIS
34 Skabies B86 SCABIES
35 Napkin eczema L22 DIAPER (NAPKIN) DER-MATITIS
36 Miliaria L30 OTHER DERMATITIS
37 Urkaria akut L50 URTICARIA
SISTEM SARAF
38 Rabies A82.9 RABIES
39 Epilepsi G40.9 EPILEPSY