• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan ASEAN Coordinating Committee on Services (CCS) ke-64

BAB I KINERJA

E. Peningkatan Kerja Sama di Bidang Perdagangan Jasa

6. Pertemuan ASEAN Coordinating Committee on Services (CCS) ke-64

Pertemuan ASEAN Coordinating Committee on Services (CCS) ke-64 telah diselenggarakan di Pattaya, Thailand pada tanggal 23-24 Februari 2011 dan dihadiri oleh perwakilan dari seluruh negara anggota ASEAN serta Sekretariat ASEAN.

Komitmen AFAS 7 Pada kesempatan ini, ASEAN Member States (AMS) membahas penggunaan “Unbound due to Lack of Technical Feasibility” (Unbound*) di Mode 1 pada AFAS 7. Terdapat perbedaan pemahaman di antara AMS mengenai penggunaan “Unbound due to Lack of Technical Feasibility” (Unbound*) di Mode 1.

Pertemuan sepakat untuk melanjutkan pembahasan mengenai hal ini pada pertemuan CCS mendatang. Namun AMS diminta untuk tidak menggunakan “Unbound due to technical feasibility” (Unbound*) pada AFAS 8 dan paket AFAS berikutnya.

Pertemuan mengusulkan agar dapat menggunakan technical assistance dalam isu mengenai penggunaan “Unbound due to Lack of Technical Feasibility” (Unbound*) di Mode 1 ini, dan sebaiknya dimasukkan ke dalam project tentang “Improving Scheduling of Commitments of AFAS”. Komitmen AFAS 8 Sebagaimana keputusan pada pertemuan SEOM 1/42 di

Jakarta, AMS diminta untuk dapat mencapai pemenuhan threshold AFAS 8 pada pertemuan AEM ke 43 pada bulan Agustus 2011. Pada pertemuan ini Indonesia menyampaikan akan menyelesaikan AFAS 8 sebelum Agustus 2011.

Pertemuan CCS juga membahas tentang horizontal limitations, di mana jika pada subsektor tertentu ‘horizontal limitations’ tidak berlaku, maka AMS dapat menggunakan dua cara yaitu:

a. Dengan mencantumkan “horizontal limitations do not apply” di kolom additional commitment pada Schedule of Commitment AMS dari subsektor terkait; dan

b. Mencantumkan daftar subsektor di mana “horizontal limitations” tidak berlaku di subsektor tersebut, pada horizontal commitment AMS.

Sehubungan dengan penggunaan joint venture pada Schedule of Commitment AFAS 8, Indonesia menyampaikan bahwa sebagaimana Article XVI 2(e) GATS, joint venture merupakan salah satu bentuk dari limitasi. Namun CCS merujuk kembali kepada hasil pertemuan CCS ke-60, di mana telah disepakati bahwa joint venture, yang berdasarkan Article XVI 2(e) GATS merupakan MA limitations, tidak diperhitungkan sebagai limitations dalam pemenuhan threshold komitmen AFAS 8.

Terkait dengan hasil keputusan CCS ke-60 tersebut, AMS meminta Sekretariat ASEAN untuk melakukan assesment mengenai 3 (tiga) hal, yaitu: (i) Apakah keputusan tersebut berlaku hanya untuk sektor PIS atau berlaku untuk semua sektor; (ii) Apakah hanya berlaku jika foreign equity dapat dipenuhi; dan (iii) Atau memperbolehkan semua jenis limitasi di bawah Article XVI (2)(e) GATS pada scheduling AMS. Pertemuan meminta agar hasil assessment dapat disampaikan ke CCS pada tanggal 31 Maret 2011.

Fleksibilitas CCS membahas kembali mengenai 6 (enam) opsi alokasi penggunaan fleksibilitas 15%, di mana alokasi penggunaan fleksibilitas tidak terkonsentrasi pada 1 mode saja atau balance across modes of supply. Namun AMS belum menemukan konsensus mengenai definisi dari “balance”.

Pada pertemuan ini, terdapat 2 (dua) opsi yang menjadi pembahasan oleh AMS yaitu opsi 4 dan opsi 5. Mayoritas AMS memilih menggunakan opsi 4 (50% of overall flexibility atau 18 subsektor) yang bisa diberikan fleksibilitas. Namun beberapa AMS ada yang memilih menggunakan opsi 5 (60% of overall flexibility atau 22 subsektor). Indonesia memilih untuk menggunakan opsi 5. CCS menyepakati keputusan mengenai alokasi penggunaan fleksibilitas ini akan diputuskan di tingkat SEOM/AEM.

ASEAN Agreement on Movement of Natural Persons (MNP) and the Parameter to Liberalise Mode 4

Pada pertemuan ini, Thailand menyampaikan paper mengenai parameter unuk meliberalisasikan mode 4. Indonesia memberikan tanggapan bahwa apa yang disampaikan Thailand tersebut hanya merupakan fasilitasi saja bukan liberalisasi. CCS juga melakukan pembahasan mengenai revised Draft MNP Agreement yang disampaikan oleh Sekretariat ASEAN.

Mengenai kategori natural person, AMS menyampaikan bahwa yang dimasukkan ke dalam MNP Agreement adalah Business Visitors (BV) and Intra-Corporate Transferees (ICT), sedangkan bentuk lain dari natural person yaitu Contractual Service Suppliers (CSS) and Independent Professionals (IP) dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam perundingan.

AMS juga meminta agar mode 4 liberalisation parameters tidak dimasukkan ke dalam MNP Agreement.

CCS akan melakukan konsultasi dengan Coordinating Committee on Investment (CCI), agar investor dapat dimasukkan ke dalam kategori salah satu natural person dalam MNP Agreement.

Sehubungan dengan masukan AMS atas Draft MNP Agreement tersebut, CCS meminta Sekretariat ASEAN agar dapat menyampaikan kembali revisi Draft MNP Agreement pada tanggal 15 Maret 2011.

CCS mengharapkan agar AMS dapat mengikutsertakan expert MNP untuk membahas text per text Draft MNP Agreement pada pertemuan mendatang.

Enhancing Sectoral Integration

Pertemuan meminta AMS untuk melakukan konsultasi dengan sektoral di tingkat domestik, mengenai beberapa hal yaitu: menciptakan MRA yang baru, mengaktifkan kembali sektor akuntansi dan land surveiying dalam pertemuan CCS, mengaktifkan kembali kaukus jasa pendidikan, dan mengidentifikasi dampak dari pembahasan sektoral.

AMS mempertanyakan tujuan dari peningkatan liberalisasi sektoral, karena dengan tuntutan tingkat liberalisasi sektor saat ini maka akan sangat sulit bagi sektor untuk dapat lebih liberal dari ketentuan pemenuhan threshold.

Terms of Reference and Work Plan Up to 2015

Pada pertemuan ini AMS membahas mengenai Work Plan CCS sampai dengan tahun 2015. Adapun hasil pembahasan adalah sebagai berikut:

1) CCS agar dapat memfasilitasi peningkatan integrasi di tingkat sektoral;

2) CCS agar berkoordinasi dan bekerja sama dengan Coordinating Committee on Investment (CCI), untuk mempromosikan investasi di sektor jasa;

3) CCS agar melakukan dialog dengan stakeholders untuk mengidentifikasi implementasi dari komitmen AFAS; 4) CCS agar melakukan kegiatan untuk mempromosikan

services policies, misalnya mengenai komitmen AFAS, peraturan domestik di bidang jasa melalui forum-forum, atau portal jasa ASEAN;

5) Melakukan koordinasi dengan ASEAN Small and Medium Enterprises Agencies Working Group (SMEWG), terutama untuk mengembangkan usaha kecil menengah dan koperasi di bidang jasa;

6) Bekerja sama dengan ASEAN Heads of Statistical Offices Meeting (AHSOM), untuk mengembangkan statistik perdagangan jasa yang lebih reliable; dan

7) Membangun kebijakan perdagangan jasa ASEAN 2015. Mengenai statistik perdagangan jasa, CCS memandang bahwa penting untuk melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan ASEAN Heads of Statistical Offices Meeting (AHSOM) untuk meningkatkan kualitas statistik perdagangan jasa di ASEAN.

Pertemuan sepakat untuk membahas lebih dalam mengenai mekanisme untuk melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan ASEAN Heads of Statistical Offices Meeting (AHSOM) pada pertemuan CCS mendatang.

Study on Enhancing the Implementation of ASEAN Agreements

Salah satu rekomendasi hasil studi tersebut adalah menggunakan negative list approach dalam liberalisasi AFAS, namun CCS berpendapat bahwa mengenai hal ini diperlukan arahan dari badan di ASEAN yang lebih tinggi. Hasil Pertemuan

Business Services

Sectoral Working Group

(BSSWG)

Pertemuan BSSWG mencatat masih banyak AMS yang belum menyampaikan peraturan lisensi dan registrasi bagi profesional bidang jasa. Diharapkan agar peraturan dimaksud dapat disampaikan pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan juga sepakat untuk fokus kepada MRAs yang sudah ada dan belum merasa perlu untuk melakukan MRAs yang baru.

Pertemuan sepakat untuk mengajukan dua project yang akan mendapatkan pendanaan, yaitu: (i) Research and Publication of core competencies, domestic regulations and best practices in Business Services (Engineering, Architectural, Accountancy and Surveying Services) for 2011, dan (ii) Sustainable Initiatives and Programmes in ASEAN (for Engineering and Architectural services) in 2012. Hasil Pertemuan

Logistic and Transport Services Sectoral Working Group

(LTSSWG)

Pertemuan LTSSWG sepakat untuk menghapus agenda 6.2. mengenai MRA di sektor logistik dari agenda pertemuan

dengan pertimbangan bahwa AMS belum akan

membicarakan MRA di sektor tersebut. Indonesia telah menyampaikan list of impediments rules and regulation on logistic sectors, dan sepakat menggunakan format penyampaian impediments Indonesia sebagai referensi bagi AMS untuk menyampaikan impediments-nya.

Pertemuan mencatat bahwa Indonesia dan Filipina telah menyampaikan business registration procedures dalam rangka transparansi peraturan di sektor logistik. Business regulation procedures ini nantinya akan ditampilkan di dalam situs ASEAN Logistic and Transport Services. AMS lain diminta untuk dapat menyampaikan business regulation procedures mereka paling lambat tanggal 30 April 2011.

Terkait dengan situs ASEAN Logistic and Transport, pertemuan juga sepakat bahwa situs dimaksud akan berisikan hal-hal sebagai berikut: (i) pengenalan singkat LTSSWG; (ii) roadmap for the integration of logistic sector; (iii) daftar kontak untuk investasi bidang logistik; (iv) daftar kontak private sectors dalam bidang logistik pada tingkat nasional maupun regional; (v) definisi Express Delivery Service (EDS) oleh AMS; dan (vi) perwakilan negara AMS untuk LTSSWG.

Dalam diskusi mengenai matriks Qualification of Profession in the Logistic Service yang disampaikan oleh Indonesia kepada ASEAN Secretariat, terjadi perbedaan pandangan mengenai level natural person yang dimasukkan ke dalam matriks. Di akhir diskusi pertemuan setuju untuk membedakan antara managerial level dengan skilled labour dan mengubah template matriks dimaksud. AMS diminta untuk menyampaikan matriks dengan template baru paling lambat tanggal 30 April 2011.

Indonesia akan menyampaikan kembali definisi mengenai Express Delivery Service (EDS) karena berdasarkan informasi belum ada definisi resmi yang ditetapkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi dan definisi yang disampaikan oleh Indonesia dipandang belum menjawab definisi yang diminta oleh LTSSWG. Batas waktu penyampaian bagi Indonesia dan AMS yang belum memberikan definisi EDS disepakati 30 April 2011.

Pertemuan juga mendiskusikan komentar dari donor potensial terhadap concept paper Indonesia, Filipina, dan Thailand, untuk mengubah concept paper dimaksud menjadi concept paper research based project. Pertemuan setuju untuk tidak mengubah concept paper Indonesia menjadi research based project, namun untuk pelaksanaannya akan menunggu perkembangan dari revisi concept paper Filipina.

Hasil Pertemuan

Healtcare Services Sectoral Working Group

(HSSWG)

Pertemuan melakukan update status dari Undang-Undang dan peraturan terkait implementasi MRA sektor kesehatan dan AMS termasuk Indonesia menyatakan bahwa mereka sedang dalam proses penerjemahan Undang-Undang dan peraturan dimaksud. Pertemuan sepakat agar summary dari dokumen tersebut dapat disampaikan kepada ASEAN Secretariat sebelum pertemuan HSSWG ke-27 yang rencananya akan dilangsungkan back to back dengan CCS ke-65.

Indonesia diminta untuk menjadi Permanent Secretariat sektor jasa kesehatan dan mengoordinasikan penyusunan TOR Permanent Secretariat tersebut. TOR dari Indonesia akan disirkulasi kepada semua AMS dan akan didiskusikan lebih lanjut oleh AMS pada pertemuan HSSWG berikutnya. Indonesia juga telah memperbaharui focal point untuk sektor jasa kesehatan yang akan mengoordinasikan semua dokumen dan bahan terkait untuk di-upload dalam situs jasa kesehatan (melalui situs kementerian kesehatan) untuk selanjutnya terkoneksi dengan situs jasa kesehatan tingkat ASEAN.

Mutual Recognition Arrangements (MRAs)

MRA on Engineering Indonesia dalam pertemuan telah menyampaikan daftar Monitoring Committee dan Assessment Statement kepada ASEAN Secretariat. Selain itu juga disampaikan bahwa saat ini ASEAN Chartered Professional Engineers (ACPEs) dari Indonesia berjumlah 93 orang dari total 400 di seluruh kawasan ASEAN.

Pertemuan juga setuju untuk melakukan Research and Publication of Core Competencies, Domestic Regulations and Best Practices in Engineering for 2011. Pertemuan juga menyetujui rancangan final program kerja 2011.

AMS juga sepakat, dalam pertemuan ASEAN Chartered Professional Engineers Coordinating Committee (ACPECC) ke-13 yang akan diselenggarakan back to back dengan CCS 66 di Singapura pada bulan September 2011, ACPECC akan melakukan pertemuan round table singkat, sementara untuk networking session, karena belum ada negara yang bersedia menjadi tuan rumah maka akan ditunda sampai tahun depan.

MRA on Architectural Services

Indonesia dalam pertemuan telah menyampaikan daftar Monitoring Committee dan Assessment Statement kepada ASEC. Selain itu juga disampaikan bahwa saat ini ASEAN Architect terdaftar dari Indonesia berjumlah 31 orang. Pertemuan juga pada prinsipnya setuju untuk merevisi draf dari panduan dan aturan dalam penggunaan logo ASEAN Architect. Disampaikan pula bahwa AAC akan terus

melakukan up-date situs AAC

(www.aseanarchitectcouncil.org).

AAC akan mengajukan dua proyek untuk mendapatkan pendanaan, yaitu: (i) Research and Publication of Core Competencies, Domestic Regulations and Best Practices in Architecture (2011); dan (ii) Sustainability Initiatives and Programmes in AMS (2012).

Pertemuan juga setuju untuk mengadakan ASEAN Architect Congress yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Kuala Lumpur Architects Festival pada tanggal 30 Juni – 4 Juli 2011.

MRA on Accountancy Dalam pertemuan tersebut, hanya Indonesia yang mengirimkan perwakilan untuk melakukan pembahasan yang terkait dengan profesi akuntansi. Oleh karena itu, pada kesempatan tersebut delegasi Indonesia diminta oleh pemimpin rapat untuk dapat memberikan informasi terkait dengan penerapan Mutual Recognition Arrangement (MRA) di bidang jasa akuntansi.

Delegasi Indonesia memberikan penjelasan terkait dengan perkembangan penerapan MRA di bidang Akuntansi: 1) Negara anggota ASEAN telah menandatangani MRA

Framework untuk jasa Akuntansi pada tahun 2008, namun demikian MRA Framework tersebut belum dilaksanakan oleh negara-negara anggota ASEAN.

2) Terkait dengan implementasi MRA di bidang jasa akuntansi, Presiden ASEAN Federation of Accountant (AFA) memberikan masukan agar MRA Framework yang telah disetujui dapat diimplementasikan dalam bentuk MRA secara bilateral bukan unilateral.

3) Penerapan MRA Framework tersebut akan sangat bergantung kepada regulator jasa akuntansi pada masing-masing negara anggota ASEAN, oleh karena itu sebaiknya pada pertemuan Coordinating Committee on Services (CCS) berikutnya regulator jasa akuntansi pada tiap negara diundang untuk dapat menghadiri pertemuan CCS berikutnya.

Pertemuan sepakat dengan usulan Indonesia untuk dapat menggundang regulator jasa akuntansi agar dapat hadir pada pertemuan CCS dan mencatat kesepakatan ini. Pertemuan juga mencatat bahwa negara Laos belum menyampaikan peraturan mengenai perizinan dan pendaftaran yang berlaku di negara Laos. Untuk itu, Laos diminta untuk segera menyampaikannya kepada Sekretariat ASEAN.

MRA on Nursing Services

Pada pertemuan ini, Delri menginformasikan bahwa pada bulan Desember 2010 Indonesia telah menyelesaikan National Core Competencies termasuk pendidikan dan penelitian. National Core Competencies ini selanjutnya akan diintegrasikan ke dalam situs Kementerian Kesehatan Indonesia. Delri juga menyampaikan bahwa Indonesia dalam proses menerjemahkan peraturan terkait sektor jasa keperawatan dan direncanakan selesai pada bulan Juni 2011.

Pertemuan juga menegaskan kembali perlunya mengumpulkan data mengenai perawat lokal maupun asing tahun 2010 dengan menggunakan template matriks yang baru. Matriks ini akan disampaikan kepada ASEAN Secretariat (ASEC) paling lambat tanggal 31 Maret 2011. Terkait workshop di bidang jasa keperawatan AMS setuju bahwa kegiatan tersebut sebaiknya dilaksanakan pada tahun 2011 untuk memfasilitasi AMS yang akan mengembangkan national core competencies mereka. Thailand menginformasikan bahwa kepastian waktu pelaksanaan workshop akan disampaikan pada minggu pertama bulan Maret 2011.

Mengenai daftar dari institusi bidang keperawatan yang terakreditasi, Delri menyatakan bahwa Indonesia sedang dalam proses pengumpulan data, dan akan menyampaikan data dimaksud kepada ASEC pada bulan Maret 2011.

Dalam pertemuan juga ditegaskan kembali mengenai definisi perawat di dalam ASEAN MRA on Nursing tidak berlaku bagi technical cursing. Oleh karena itu, program yang akan disampaikan kepada AJCCN haruslah program sarjana dan diploma.

Pertemuan juga mendiskusikan tujuan dari MRA dan setuju untuk melakukan kegiatan selama tahun 2011 Tabel 1. Kegiatan Mutual Recognition Arrangement (MRA) untuk tahun 2011

Kegiatan Koordinator Waktu

1. Pre-workshop activities:

a. Identify the current work setting scenario of

their respective country

b. Health status (morbidity, mortality, population

disease burden)

c. Healthcare delivery system

Kamboja, Laos April 2011

2. ASEAN Nursing Workshop Thailand Mei 2011

3. Design an evaluation tool to monitor the progress

of the core competencies development in the ASEAN Member States who need assistance

Filipina Untuk disampaikan dalam ASEAN

Nursing Workshop

MRA on Medical Practioners

Setiap AMS diharapkan untuk melanjutkan proses kompilasi terkait: (i) prosedur profesi dokter untuk bekerja di setiap negara ASEAN; (ii) peraturan domestik terkait praktek kedokteran; dan (iii) database dokter asing dan dokter Indonesia (yang berkerja di luar negeri dan di dalam negeri).

Sebagai tahap awal dalam pengembangan core competencies profesi dokter, AMS sepakat untuk mengembangkan core competencies spesialis bedah, spesialis anak, spesialis kandungan/kebidanan, spesialis penyakit dalam, serta kedokteran keluarga/umum.

AMS juga diminta untuk memberikan masukan/perbaikan atas checklist alat monitoring evaluasi dalam implementasi

MRA yang dikembangkan oleh Filipina.

Masukan/perbaikan dari AMS akan dibahas pada pertemuan AJCCM berikutnya.

MRA on Dental Practioners

Untuk memudahkan dalam diseminasi informasi mengenai MRA di jasa kedokteran gigi, pertemuan sepakat untuk menyiapkan sebuah draf mengenai fungsi dari AJCCD dan perkembangan dari MRA yang akan disirkulasikan kepada seluruh AMS untuk mendapatkan masukan. Draf dimaksud akan difinalisasikan pada akhir bulan Mei 2011 untuk selanjutnya akan didesiminasikan oleh institusi yang berwenang terkait dengan jasa kedokteran gigi untuk mengurangi information gap.

Di dalam situs AJCCD, pertemuan sepakat untuk memberikan link untuk hal-hal sebagai berikut: (i) daftar kualifikasi dasar dan spesialis; (ii) domestic regulation; (iii) rasio populasi dengan dokter gigi; (iv) entry requirement; dan (v) kode etik dan panduan bagi dokter gigi di masing-masing AMS.

Terkait dengan rasio populasi dengan dokter gigi, Indonesia sampai saat ini belum akan menyampaikan rasio dimaksud kepada AJCCD.

AEC Scorecard 2010 Pertemuan mencatat bahwa telah dilakukan update AEC Scorecard Trade in Services oleh Sekretariat ASEAN.

Identification and Development of New MRAs

CCS menyepakati bahwa sebagaimana rekomendasi dari BSSWG, untuk MRA saat ini cukup difokuskan kepada implementasi MRA yang sudah ada.

Inventory of Barriers to Trade in Services

Pertemuan mencatat bahwa revised public version of the Inventory of Barriers to Trade in Services, telah di-upload di

http://www.asean.org/20073.htm. Pada kesempatan ini

Indonesia menyampaikan bahwa daftar Inventory of Barriers Indonesia telah disampaikan ke Sekretariat ASEAN pada tanggal 30 Desember 2010.

Technical Assistance Pertemuan mencatat beberapa kerja sama teknis terkait jasa di ASEAN sebagai berikut:

1) Services Diagnostic and Needs Assessment Study; 2) Improving of Scheduling Commitments of the AFAS; 3) Supporting the Implementation of the Roadmap for the

Integration of Logistics Services: Priorities and Action Plans;

4) Capacity Building Programme for Services Regulators in CLV Countries; and

5) Impact of Scheduling Commitments of the AFAS.

CCS memberikan apresiasi kepada Indonesia yang telah mengupayakan kemungkinan untuk mendapat technical assistance mengenai workshop on scheduling guidelines dari Sekretariat WTO. Pertemuan juga menyepakati bahwa workshop ini dapat dilakukan back-to-back dengan pertemuan CCS 65 mendatang di Indonesia, dan diharapkan semua CCS Sectoral Working Group dapat berpartisipasi pada workshop dimaksud.

Pertemuan sepakat bahwa study on 15 Years of AFAS, dapat terus dilakukan, namun CCS meminta agar Sekretariat ASEAN dapat mengantisipasi terjadinya duplikasi atas studi lain yang sedang dilakukan. Studi yang dikerjakan harus bermakna dan bermanfaat bagi ASEAN.

Kerja Sama Perdagangan Jasa dengan Mitra Wicara

Pada pertemuan ini Sekretariat ASEAN menyampaikan perkembangan kerja sama perdagangan jasa ASEAN dengan mitra wicara sebagai berikut:

(i) ASEAN-China : Protokol paket ke-2 direncanakan akan

ditandatangani pada 10th AEM-MOFCOM

Consultations bulan Agustus 2011;

(ii) ASEAN-India : Pertemuan terakhir pada tanggal 13 Desember 2010. Request India pada mode 1 dan mode 4, CRS, research and development dan jasa konstruksi; (iii) ASEAN-Jepang : AJCEP ke-5 direncanakan akan

dilaksanakan pada tanggal 16-19 Maret 2011, namun pihak Jepang mengajukan proposal agar dilaksanakan pada tanggal 11-13 Maret 2011;

(iv) ASEAN-Australia-Selandia Baru : Pertemuan the 3rd AANZ Joint Commitee Meeting akan dilaksanakan pada bulan Mei 2011;

(v) ASEAN-Republic of Korea (ROK) : Pertemuan ASEAN – Korea ke-4 (the 4th AKFTA) direncanakan akan dilaksanakan di Seoul pada tanggal 9-11 Maret 2011. Perkembangan

Liberalisasi Jasa di Sektor Transportasi Udara dan Jasa Keuangan

Pertemuan membahas perkembangan dari sektor-sektor Transportasi Udara dan Jasa Keuangan, antara lain:

1) Jasa Keuangan: Working Commitee on ASEAN Financial Services Liberalisation (WC-FSL) sedang dalam tahap untuk memfinalisasi draf protokol untuk implementasi Paket 5 yang direncanakan akan ditandatangani pada 15th ASEAN Finance Ministers Meeting pada tanggal 8 April 2011.

2) Transportasi Udara: Pada pertemuan ATM Meeting ke 17 tahun 2011, akan ditandatangani komitmen Paket 7 Liberalisasi Jasa Transportasi Udara. Paket 7 merupakan konsolidasi dari komitmen AMS pada Paket 1 sampai dengan Paket 6 dan tambahan atau peningkatan komitmen.

Perkembangan ASEAN

Connectivity

Pertemuan membahas status dari implementasi Master Plan ASEAN Connectivity (MPAC). Pertemuan mencatat bahwa Term of Reference (TOR) untuk ASEAN Connectivity Coordinating Committee (ACCC). ACCC diharapkan melakukan pertemuan pertama sebelum 18th ASEAN Summit.

Dokumen terkait