• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.5. Interaksi Antara Pendamping Program Keluarga Harapan Dengan

4.5.1. Strategi Yang Dibangun Dalam Melakukan Pendekatan

Sebagai pekerja sosial, pendamping PKH memang ditugaskan untuk berhadapan langsung dengan masyarakat dalam rasio yang cukup besar. Satu pendamping PKH harus menangani peserta PKH dengan rasio 200 – 500 orang. Tentunya dibutuhkan suatu kedekatan emosional antara pendamping dengan masyarakat khususnya peserta PKH yang menjadi dampingannya. Cerdas dalam berkomunikasi dengan masyarakat serta mampu menentukan strategi yang tepat dalam melakukan pendekatan sangat membantu kelangsungan tugas yang dijalani.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pendamping PKH terutama untuk pendamping yang tidak memiliki basic sebagai pekerja sosial. tantangan lainnya adalah bagaimana para pendamping dapat memahami pola pikir masyarakat tradisional yang tinggal jauh di pelosok – pelosok daerah. Tak jarang pendamping saat melakukan pendampingan ada yang membawa tokoh masyarakat diluar peserta PKH untuk ikut dalam melakukan tugasnya sebagai penghubung antara pendamping dengan peserta PKH juga sebagai penerjemah bahasa apabila pendamping mendapatkan dampingan peserta PKH yang kurang memahami bahasa Indonesia.

Dalam melakukan pendekatan kepada peserta PKH, para pendamping memiliki beberapa strategi atau cara, yaitu:

1. Pertemuan Kelompok Secara Rutin.

Dalam setiap pertemuan inilah para pendamping berusaha untuk menjadi bagian dari masyarakat untuk lebih mendekatkan diri mereka. Setiap akan dilaksanakan pertemuan kelompok, pendamping PKH akan

menghubungi setiap ketua kelompok beberapa jam sebelum berlangsungnya pertemuan kelompok. Seperti Ibu Asmawati yang mendampingi di Kecamatan Pantai Cermin misalnya. Awal mulanya menjadi pendamping PKH, Bu Asmawati ragu apakah dia bisa mendekatkan diri dengan masyarakat atau tidak. Seperti pengakuan Ibu Asmawati pada wawancara tanggal 18 mei 2016 berikut:

“…Pertemuan rutin setiap bulan itulah membangun hubungan emosional dengan anggota kelompok. Akhirnya saya kenal dengan semua anggota kelompok. Kalau dulu saya gak bisa bayangkan apakah saya bisa, ah gak saya kenal nama mereka. Tapi Alhamdulillah sekarang 234 anggota kelompok saya bisa kenal semua namanya dan bisa tau semua orang nya gitu…”

Berbeda dengan Bu Asmawati, Ibu Nurjannah yang mendampingi di Kecamatan Tanjung beringin, sebagai pendamping baru beliau memiliki strategi tersendiri dalam mendekatkan diri dengan peserta PKH dampingannya, hingga saat ini beliau sudah cukup dekat dengan mereka. Seperti pengakuan Ibu Nurjannah pada wawancara tanggal 19 mei 2016 berikut:

Foto 17. Pertemuan Rutin Pendamping dengan KSM di Kecamatan Perbaungan.

“…Awalnya ya kakak minta dampingan dulu dengan pendamping sebelumnya yang ada di Kecamatan Tanjung Beringin. Lalu minta nomor handphone ke mereka nomor handphone ketua, perkenalan dengan ketua, baru melakukan pertemuan kelompok. Setelah melakukan pertemuan kelompok, baru ya responnya ya Alhamdulillah baik..”

Diluar pertemuan rutin tersebut, pendamping juga kerap melakukan kunjungan – kunjungan ke rumah KSM seperti misalnya ada KSM yang mendapat musibah atau ada acara syukuran atau hanya sekedar silaturahmi.

Seperti saat pencairan dana baru – baru ini, ada salah satu keluarga KSM yang meninggal dunia di Kecamatan Perbaungan, tidak hanya pendamping yang mendampingi di Kecamatan Perbaungan saja yang hadir ke rumah KSM yang sedang tertimpa musibah, namun seluruh pendamping yang telah menyelesaikan tugas dalam pencairan dana pada saat itu juga staf operator PKH juga ikut hadir ke rumah duka. Pendamping juga bersikap sebaliknya, selalu membuka pintu rumah mereka apabila KSM ingin bersilaturahmi.

2. Bersikap Terbuka, Ramah Dan Mau Menyatu dengan Masyarakat

Memiliki sikap terbuka dan ramah dan menyatu dengan masyarakat sangat penting dimiliki oleh pendamping. Karena jika pendamping bersikap tertutup maka akan sulit pula bagi KSM dalam mengungkapkan permasalahan yang

Foto 18. Pertemuan Kelompok di Kecamatan Tanjung Beringin

dihadapi oleh KSM. Karena tugas pendamping adalah membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh KSM dampingannya hingga masalah baik itu masalah keuangan, mendidik anak, masalah kesehatan hingga masalah yang paling pribadi sekalipun.

Seperti Ibu Asmawati yang hampir tiga tahun bekerja sebagai pendamping PKH, Bu Asmawati kini sudah sangat dekat dengan peserta PKH yang ia damping karena beliau memiliki keterbukaan dengan KSM dampingannya. Beliau bahkan menganggap mereka bukan sebagai KSM yang harus dia bantu tetapi sudah sebagai keluarga. Berdasarkan wawancara dengan Bu Asmawati, terkadang dia juga menceritakan masalah – masalah nya dengan mereka karena hubungan emosional mereka sudah sangat dekat.

“…Apalagi dengan ibu – ibu ini kalau udah pertemuan kelompok udah tau saya ini satu – satu sudah namanya. Itu adalah proses bagaimana membangun hubungan emosional itu. Dan itu tidak mudah sebenarnya. Bagaimana misalnya kelompok itu bisa curhat sama kita itu soal bangun hubungan emosional. Dia ada masalah di rumah tangga nya, ada masalah dengan keluarga nya, dia berani ngomong sama kita itu karena dia sudah percaya sama kita, kalau dia gak percaya sama kita bagaimana dia mau curhat sama kita. Apalagi masalah – masalah yang sangat sensitif, gitu ya. Jadi sampai misalnya sekarang pun mereka kalau misalnya nanti ah mau main kerumah ibu lah, mereka berkunjung kerumah, saya silahkan. Jadi tidak hanya sebagai kelompok saja, kalau saya melihat kadang – kadang udah bagian dari satu keluarga dengan mereka…”

Begitu pula dengan Ibu Nurjannah. Meskipun tidak mempunyai basic sebagai pekerja sosial dan masih baru menjadi pendamping PKH, namun Bu Nurjannah sudah bisa mendekatkan diri dengan KSM peserta PKH. Hal ini sesuai dengan

Beringin Ibu Nuraifa. Dari hasil wawancara dengan Ibu Nuraifa, terlihat bahwa Ibu Nuraifa serta ibu – ibu lainnya sangat dekat dengan pendamping mereka. Bahkan hingga persoalan pribadi mereka bahas di setiap pertemuan kelompok.

“…Ibu ini baik. Senyum nya manis, ramah, komunikasinya juga baik. Kalau bisa ini ajalah jangan di ganti lagi. Pendamping nya satu ini aja. Dan kalau bisa ibu ini nyari pendamping, karena dia belum ada pendamping nya…”(Hasil wawancara 19 Mei 2016).

Keramahan juga tampak pada salah satu pendamping PKH di Kecamatan Sei Rampah. Pak Budiman selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kantin KSM PKH yang modalnya bersumber dari dana kas

kelompok KSM dampingannya. Beliau ikut memantau serta meninjau apakah kegiatan ini bisa menambah penghasilan KSM tersebut atau tidak. Selain itu kunjungan nya juga bertujuan agar KSM juga merasa di perhatikan dan hubungan emosional itu juga terjalin erat antara pendamping dan KSM peserta PKH.

3. Membuat Berbagai Kegiatan

Begitu juga dengan kegiatan di setiap pertemuan kelompok. Selain kegiatan pencairan dana yang menjadi agenda wajib seluruh Pendamping Program Keluarga Harapan dan tujuan dari Program Bantuan PKH ini, para pendamping

Foto 19. Kunjungan Pendamping PKH ke salah satu usaha kantin milik KSM

memiliki agenda yang berbeda – beda pula. Seperti Bu Asmawati yang mendampingi di Kecamatan Pantai Cermin, beliau membuat kegiatan simpan pinjam kepada seluruh peserta PKH dampingan

nya. Ada pula yang membuat uang kas, namun kedua kegiatan ini mempunyai fungsi yang sama yaitu dari KSM untuk KSM. Nominal yang disimpan juga tergantung hasil kesepakatan dari KSM. Biasanya mereka mematok Rp. 10.000 setiap bulannya. Uang yang di simpan bisa digunakan untuk dipinjamkan kembali oleh KSM apabila ia membutuhkan modal membuat suatu usaha kecil – kecilan atau terdesak kebutuhan namun harus di ganti atau dikembalikan lagi namun tidak dipatokan kapan ia harus mengembalikannya dan tidak berbunga dari uang yang di pinjam. Uang yang disimpan oleh para peserta juga nantinya akan digunakan untuk membuat kegiatan kelompok.

Setiap pendamping menentukan jadwal kegiatan

yang akan di lakukan. Misalnya seperti pengajian Foto 20. Kegiatan Pencairan dana bantuan

Foto 21. Kegiatan yang dilakukan Pendamping bersama KSM

yang diadakan satu bulan sekali di Kecamatan Sei Rampah, membuat masakan atau makanan dengan mencoba resep – resep baru, hingga kegiatan produksi kreatif. Biasanya pendamping akan bertanya terlebih dahulu kegiatan apa yang ingin dilakukan oleh para peserta untuk pertemuan kelompok berikutnya. Peserta yang memutuskan kegiatan apa yang ingin dilakukan. Kemudian akan di fasilitasi nantinya oleh pendamping. Kegiatan – kegiatan tersebut dilakukan apabila pendamping tidak memiliki tugas dari pusat seperti pemutakhiran data atau pencairan dana.

Dokumen terkait