• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. METODOLOGI PENELITIAN

4. Pertimbangan Etik

Pengambilan data dilakukan dengan sebenarnya, menjaga keselamatan responden, melindungi responden dari ketidaknyamanan dan bahaya serta tidak menyebabkan kerugian bagi responden. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan izin penelitian dari Fakultas Keperawatan USU dan direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan. Sebelum melakukan pengumpulan data, peneliti memberikan penjelasan, menjelaskan tujuan. Peneliti mengakui hak-hak responden dalam menyatakan kesediaan atau ketidaksediaan untuk dijadikan subjek penelitian. Jika responden bersedia diteliti maka terlebih dahulu harus menandatangani lembar persetujuan (Informed Concent). Jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya. Penelitian ini, juga memperhatikan etik yaitu sebagai berikut:

a. Informed Concent

Lembar persetujuan diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian, bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.

b. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode.

c. Confidentiality

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil peneliti.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner demografi dan lembar observasi. Kuesioner demografi terdiri dari pertanyaan yang menanyakan tentang: usia, agama, suku, status pernikahan, tingkat pendidikan terakhir, pekerjaan terakhir, jenis obat yang digunakan dan lama hari rawat.

Lembar observasi digunakan untuk mengukur kemampuan pasien meningkatkan harga diri baik kemampuan kognitif maupun kemampuan psikomotor. Penilaian kemampuan kognitif dilakukan dengan cara wawancara dan kemampuan psikomotor dengan metode observasi dengan menggunakan lembar kuesioner. Wawancara oleh peneliti dilakukan untuk penilaian kemampuan kognitif dengan mengajukan 6 pertanyaan terkait kemampuan meningkatkan harga diri. Setiap 1 pernyataan yang dijawab “Ya” akan diberi skor 1 dan jawaban “Tidak” akan diberi skor 0. Sehingga nilai tertinggi adalah 6 dan nilai terendah adalah 0. Kemudian dianalisa dengan skala Likert. Untuk rentang score 4 - 6 dikategorikan ”baik” dan rentang 0 -3 untuk kategori “kurang baik”.

Penilaian kemampuan psikomotor dilakukan melalui observasi oleh peneliti dan/ atauasisten peneliti dan divalidasi oleh peneliti. Penilaian hasil observasi dengan pilihan jawaban: SL (selalu) diberi nilai 4, SR (sering) = 3, KD (kadang- kadang) = 2,dan TP (tidak pernah) diberi nilai 1 selanjutnya dianalisa dengan skala Likert (mandiri, bantuan, bergantung). Lembar observasi dan kuesioner akan diisi oleh peneliti dan atau asisten peneliti, dikarenakan kondisi pasien masih diliputi oleh simptom-simptom psikologis negatif, sehingga tidak memungkinkan untuk klien menjawab secara tepat.

6. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang digunakan benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmojdo, 2005). Uji validasi instrumen penelitian telah dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya salah satu dosen keperawatan Jiwa di Fakultas Keperawatan USU yang ahli dalam bidangnya. Dalam penelitian ini digunakan uji reliabilitas internal karena pemberian kuesioner hanya satu kali dengan satu bentuk instrumen pada subjek studi (Dempsey & Dempsey, 2002).

7. Uji Reliabilitas

Kuesioner terlebih dahulu diuji tingkat reliabilitasnya sebelum digunakan dalam penelitian. Uji reliabilitas dilakukan terhadap 10 pasien harga diri rendah diluar responden yang sebenarnya di rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan ruang Cempaka. Hasil uji reliabilitas untuk kuesioner kemampuan kognitif diolah dengan menggunakan rumus KR-21 karena jumlah soal genap sebanyak 6 pertanyaan. Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai = 0.878 sedangkan untuk uji reliabilitas kuesioner psikomotor dilakukan dengan teknik komputerisasi. Menurut Dempsey & Dempsey (2002) dijelaskan bahwa uji reliabilitas internal untuk jenis kuesioner yang skornya merupakan rentangan antara beberapa nilai adalah dengan menggunakan Cronbach Alpa.Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh hasil 0.82, maka kuesioner dinyatakan reliabel.

Menurut Polit & Hungler (1997) suatu instrumen dikatakan reliabel bila koefisiennya 0,70 atau lebih. Jadi dapat disimpulkan bahwa kuesioner dukungan

keluarga dengan kepatuhan pasien minum obat yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel.

8. Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data terdiri dari: 1. Persiapan

a. Mendapat izin penelitian dari institusi pendidikan (Fakultas Keperawatan USU).

b. Mengirimkan permohonan izin yang diperoleh dari institusi pendidikan ke tempat penelitian (Rumah Sakit Jiwa Daerah Provsu Medan).

c. Setelah mendapat izin dari RSJD Provsu Medan, peneliti melaksanakan pengumpulan data penelitian.

d. Menentukan calon pasien dengan bantuan status pasien dan laporan bulanan yang sesuai dengan kriteria yang sebelumnya telah dibuat oleh peneliti.

e. Menjelaskan kepada perawat ruangan sebagai wakil responden (pasien harga diri rendah) mengenai maksud, tujuan, dan proses penelitian strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah yang akan diberikan.

f. Perawat ruangan yang bersedia, diminta untuk menandatangani lembar persetujuan (informed consent).

g. Melakukan kegiatan pelatihan asisten peneliti dilakukan untuk menyamakan persepsi tentang penerapan strategi pelaksanaan komunikasi.

2. Pelaksanaan

Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan pre-test, kemudian melakukan intervensi penerapan strategi pelaksanaan komunikasi terhadap kelompok intervensi. Kemudian dilakukan post-test untuk menilai perubahan kemampuan kognitif dan psikomotor pasien dalam meningkatkan harga diri.

a. Pretest

Sehari sebelum dilakukan pre-test, peneliti melakukan pertemuan dengan tiga pasien kelompok kontrol yang dirawat di ruang Kamboja dan tiga pasien kelompok intervensi yang dirawat di ruang Mawar untuk melakukan kontrak pertemuan esok harinya agar mengikuti pre-test sekaligus meliput data demografi terkait dengan data pasien. Data demografi hasil wawancara dengan pasien akan divalidasi oleh peneliti dengan mengecek kembali data demografi pasien yang tertera di buku catatan status pasien untuk menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan pasien dalam menyampaikan informasi terkait dengan gangguan jiwa yang dialaminya. Keesokan harinya maka pre-test dilakukan untuk melakukan penilaian kognitif dan psikomotor pasien dalam meningkatkan harga diri pasien.

Pre-test selesai dilakukan selama 4 hari dengan sistem bertingkat artinya, pada hari pertama pre-test dilakukan untuk 3 orang kelompok kontrol dan 3 orang kelompok intervensi. Hal ini memudahkan peneliti untuk membandingkan kelompok kontrol dan kelompok intervensi agar perbandingan waktu antar pasien sama. Pre-test dilakukan secara perorangan pada setiap pasien dan berlangsung sekitar 30 menit untuk setiap orang. Pada hari yang sama setelah pre-test selesai dilakukan maka peneliti melakukan kontrak pertemuan untuk kelompok intervensi agar bersedia diberikan intervensi strategi pelaksanaan komunikasi sementara kelompok kontrol tidak karena tidak diberikan intervensi hanya saja pada tahap pelaksanaan tetap diobservasi oleh peneliti.

Setelah pre-test selesai dilakukan, maka peneliti mengumpulkan data. Pada hari yang sama, peneliti juga melakukan kontrak seperti awal pada pasien yang ke 4 sampai ke 6 untuk masing-masing kelompok kontrol dan intervensi uuntuk melakukan pre-test sekaligus melakukan kontrak dengan pasien kelompok intervensi untuk menerapkan strategi pelaksanaan komunikasi esok harinya sebagai hari pertama dimulainya intervensi.

b. Pelaksanaan strategi pelaksanaan komunikasi

Pelaksanaan dilakukan setelah peneliti dan/ atau asisten peneliti menyamakan persepsi tentang pemberian asuhan keperawatan jiwa dengan strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien harga diri rendah melalui pelatihan asisten peneliti untuk mengobservasi

apakah sudah atau belum dilakukan. Peneliti mengobservasi kegiatan yang dilakukan pasien hanya dalam jangka waktu satu minggu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan peneliti dengan pertimbangan ketersedian waktu yang ada.

Pada tahap pelaksanaan, kelompok intervensi diberikan strategi pelaksanaan komunikasi. Setiap sesi menghabiskan waktu sekitar 30-40 menit per orang. Pada prosesnya, ada 4 orang pasien yang membutuhkan pengulangan 2 sampai 3 kali dengan hari yang berbeda pada sesi pertama dan 3 orang pada sesi kedua sehingga memakan waktu yang lebih banyak dibanding pasien lainnya. Akibatnya perhitungan observasi dimulai keesokan harinya setelah pasien benar-benar mampu melakukan setiap sesi dengan baik. Sedangkan pada kelompok kontrol, peneliti tidak memberikan intervensi strategi pelaksanaan komunikasi hanya saja peneliti tetap mengobservsi kelompok kontrol.

Pada pertemuan pertama, peneliti mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien, membantu pasien menilai kemampuan pasien yang masih dapat dilakukan, membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan kemampuan pertama pasien , melatih pasien sesuai dengan kemampuan yang dipilih, memberi pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien dan menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

Pada pertemuan kedua, peneliti mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, melatih kemampuan kedua, menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian.

c. Posttest

Setelah peneliti melakukan intervensi strategi pelaksanaan komunikasi pada pasien selama seminggu , peneliti melakukan penilaian terhadap kemampuan dalam meningkatkan harga diri baik secara kognitif maupun psikomotor. Hasil yang diperoleh telah dianalisis untuk mengetahui pengaruh strategi pelaksanaan komunikasi dalam meningkatkan harga diri setelah dilakukan strategi pelaksanaan komunikasi.

9. Analisa Data.

Setelah semua data terkumpul maka peneliti mengecek kembali kelengkapan kuesioner dan memastikan bahwa semua kuesioner pre-post test intervensi dan data demografi telah diisi agar tidak terjadi kesalahan dalam pengolahan data. Kemudian analisa data dilakukan dengan melalui beberapa tahap, dimulai dari editing untuk memeriksa kelengkapan data, coding dengan memberi kode untuk memudahkan tabulasi, selanjutnya entry dengan memasukkan data secara komputerisasi, cleaning data yaitu kegiatan pembersihan seluruh data agar terbebas dari kesalahan sebelum dilakukan analisis data, lalu data diolah dengan menggunakan program SPSS.

Data yang diperoleh dari setiap responden berupa data demografi yang diperoleh dari status pasien dan hasil pengukuran kemampuan kognitif dan

psikomotor pasien dalam meningkatkan harga diri sebelum dan sesudah diterapkan strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah. Hasil penelitian tersebut dibandingkan dengan menguji hipotesa penelitian sehingga diketahui pengaruh penerapan strategi pelaksanaan komunikasi terhadap kemampuan pasien harga diri rendah dalam meningkatkan harga diri.

9.1. Analisa univariat

Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan data-data demografi yang meliputi inisial nama, usia, agama, suku, pendidikan terakhir, pekerjaan terakhir, dan status perkawinan, diagnosa keperawatan, lama rawat dan jenis obat yang dikonsumsi dalam bentuk tabel frekuensi dan persentase.

9.2 Analisa bivariat

Statistik inferensial digunakan untuk menganalisis peningkatan kemampuan pasien dalam meningkatkan harga diri yaitu kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotor antara pre-post test dan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan pada kelompok kontrol yang tidak diterapkan strategi pelaksanaan komunikasi. Selanjutnya statistik inferensial juga digunakan untuk membandingkan perbedaan peningkatan kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotor pada kelompok intervensi yang diterapkan strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah dengan kelompok kontrol yang tidak diterapkan strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah.

Adapun uji inferensial yang akan dipakai adalah uji statistic parametric yaitu uji paired t-test yang digunakan untuk membandingkan peningkatan kemampuan meningkatkan harga diri pre dan post penerapan strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah pada kelompok intervensi dan untuk membandingkan ada atau

tidaknya perbedaan kemampuan meningkatkan harga diri rendah pada kelompok kontrol. Uji paired t-test digunakan apabila data yang diperoleh berdistribusi normal. Pada uji paired t-test tersebut diperoleh nilai p, yaitu nilai yang menyatakan besarnya peluang hasil penelitian (probabilitas). Kesimpulan hasilnya diinterpretasikan dengan membandingkan nilai p dan nilai alpha (α=0.05). Bila nilai p ≤ α, maka keputusannya adalah Ha diterima.

Uji unpaired t-test digunakan untuk membandingkan ada atau tidaknya perbedaan peningkatan kemampuan meningkatkan harga diri baik kemampuan kognitif dan kemampuan psikomotor pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi setelah diterapkan strategi pelaksanaan komunikasi harga diri rendah.

Dokumen terkait