Bab 4 Metodologi Penelitian
4. Pertimbangan Etik
Dalam penelitian ini dilakukan pertimbangan etik, yaitu memberi penjelasan kepada calon responden penelitian tentang tujuan penelitian dan
prosedur pelaksanaan penelitian. Apabila calon responden bersedia, maka dipersilahkan untuk menandatangani informed consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri selama proses pengumpulan data berlangsung. Penelitian ini tidak menimbulkan resiko bagi individu yang menjadi responden, baik resiko fisik maupun psikis. Kerahasiaan cacatan mengenai data responden dijaga dengan cara tidak menuliskan nama tetapi hanya mencantumkan inisial nama responden atau memberi kode pada masing-masing lembar kuesioner. Dan peneliti memusnahkan instrumen penelitian setelah proses penelitian selesai. Data-data yang diperoleh dari responden juga hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.
5. Instrumen Penelitian 5.1. Kuesioner Penelitian
Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner yang disusun oleh peneliti dengan berpedoman pada kerangka konsep dan tinjauan pustaka. Kuesioner terdiri dari tiga bagian, yaitu kuesioner data demografi, kuesioner data faktor-faktor sosial budaya dan kuesioner data pemanfaatan posyandu lansia.
Kuesioner data demografi responden meliputi usia, pendidikan, status, agama, suku bangsa, pekerjaan, dan penghasilan perbulan.
Kuesioner data faktor-faktor sosial budaya responden meliputi pendidikan/pengetahuan (1-4), dukungan keluarga (5-8), spiritualitas (9-12), sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi (13-16), sistem organisasi sosial (17-20).
Kuesioner pemanfaatan posyandu lansia oleh responden terdiri dari 11 pertanyaan yang merupakan closed ended dichotomy question yaitu dalam bentuk pertanyaan jawaban ”Ya” dan ”Tidak” (Burn & Grove, 1993). Dimana dari antara pertanyaan-pertanyaan tersebut terdapat 10 pertanyaan positif (pertanyaan nomor 1, 3, 4, 5 ,6, 7, 8, 9, 10, 11) dengan penilaian untuk jawaban ”Ya = 1” dan ”Tidak = 0” dan satu pertanyaan negatif (pertanyaan nomor 2) dengan penilaian untuk jawaban ”Ya = 0” dan ”Tidak = 1”. Maka untuk pemanfaatan posyandu lansia diperoleh nilai tertinggi 11 dan nilai terendah 0. Berdasarkan rumus statistika menurut Sudjana (1992):
rentang banyak kelas
Dimana P merupakan panjang kelas, dengan rentang (selisih nilai tertinggi dan nilai terendah) sebesar 11 dan banyak kelas 3 kategori (pemanfaatan buruk, sedang dan baik) maka didapatkan panjang kelas sebesar 3. Menggunakan P = 3 dan nilai terendah 0 sebagai batas bawah kelas interval pertama, data pemanfaatan posyandu lansia oleh lanjut usia
dikategorikan sebagai berikut:
0-3 = pemanfaatan buruk 4-7 = pemanfaatan sedang 8-11 = pemanfaatan baik
5.2. Reliabilitas Instrumen
Untuk mengetahui kepercayaan (reliabilitas) instrumen dilakukan uji reliabilitas instrumen sehingga dapat digunakan untuk penelitian berikutnya dalam
ruang lingkup yang sama. Karena alat ukur yang baik adalah alat ukur yang memberikan hasil yang sama bila digunakan beberapa kali pada kelompok subjek (Ritonga, 1997). Dalam penelitian ini digunakan uji reliabilitas konsistensi internal karena memiliki kelebihan yaitu, pemberian instrumen hanya satu kali dengan satu bentuk instrumen kepada satu subyek studi (Dempsey & Dempsey, 2002: Azwar, 2003).
Hasil uji reliabilitas dengan menggunakan formula Cronbach Alpha dalam Program SPSS versi 12,0 untuk kuesioner faktor-faktor sosial budaya adalah 0,793 (lihat pada lampiran). Untuk uji reliabilitas kuesioner pemanfaatan posyandu lansia digunakan formula KR 20 secara manual dengan hasil 0,87. Menurut Polit & Hungler (1995) suatu instrumen yang baru reliabel bila koefisiennya 0,70 atau lebih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kuesioner faktor-faktor sosial budaya dan kuesioner pemanfaatan posyandu lansia yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel. Selain itu instrumen telah divaliditas oleh ahli Komunitas PSIK FK USU.
6. Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan panduan kuesioner dengan dibantu oleh petugas kesehatan yang ada pada puskesmas. Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menerima surat izin pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran USU, kemudian permohonan izin yang telah diperoleh dikirimkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan. Lalu bersama surat rujukan dari Dinas Kesehatan Kota Medan surat izin tersebut dikirimkan ke
tempat penelitian yaitu Puskesmas Darussalam Medan. Setelah mendapat izin, peneliti melakukan pengumpulan data penelitian. Pada saat pengumpulan data peneliti menjelaskan waktu, tujuan, manfaat, dan prosedur pelaksanaan penelitian kepada calon responden dan yang bersedia berpartisipasi diminta untuk menandatangani informed consent. Responden yang bersedia, diwawancarai dan diberi kesempatan bertanya apabila ada pertanyaan yang tidak dipahami. Selesai wawancara, peneliti memeriksa kelengkapan data dan jika data yang kurang, dapat langsung dilengkapi. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisis.
7. Analisa Data
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, peneliti melakukan pengolahan data atau analisis data. Analisa data dilakukan melalui beberapa tahap yang dimulai dengan editing untuk memeriksa kelengkapan identitas dan data responden serta memastikan bahwa semua jawaban telah diisi, dilanjutkan dengan memberi kode untuk memudahkan peneliti dalam melakukan tabulasi data. Kemudian dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik komputerisasi yaitu program SPSS versi 12,0.
Pengolahan data demografi meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status, agama, suku, pekerjaan, dan penghasilan keluarga perbulan, dilakukan untuk mendiskripsikan frekuensi dan presentase.
Pengolahan data faktor-faktor sosial budaya yang meliputi pendidikan/pengetahuan, dukungan keluarga, spiritualitas, sistem mata pencaharian, dan sistem organisasi sosial. Untuk pendidikan/pengetahuan
(kuesioner nomor 1-4) diperoleh nilai tertinggi 11 dan nilai terendah 4. Untuk dukungan keluarga (kuesioner nomor 5-8) diperoleh nilai tertinggi 10 dan nilai terendah 4. Untuk spiritualitas (kuesioner nomor 9-12) diperoleh nilai tertinggi 8 dan nilai terendah 4. Untuk sistem mata pencaharian (kuesioner nomor 13-16) diperoleh nilai tertinggi 9 dan nilai terendah 4. Untuk sistem organisasi sosial (kuesioner nomor 17-20) diperoleh nilai tertinggi 8 dan nilai terendah 4.
Untuk pengolahan data terhadap pemanfaatan posyandu lansia oleh responden terdiri dari 11 pertanyaan, untuk setiap pertanyaan positif yang menjawab ’Ya’ mendapat nilai 1 dan yang menjawab ’Tidak’ mendapat nilai 0 (nol) dan untuk pertanyaan negatif yang menjawab ’Ya’ mendapat nilai 0 (nol) dan yang menjawab ’Tidak’ mendapat nilai 1. Maka untuk pemanfaatan posyandu lansia diperoleh nilai tertinggi 11 dan nilai terendah 0.
Metode statistik yang digunakan untuk menggambarkan dan menentukan pengaruh faktor-faktor sosial budaya terhadap pemanfaatan posyandu lansia adalah metode analisis korelasi regresi linier ganda. Metode ini digunakan karena jumlah variabel bebas lebih dari dua variabel.
Dalam analisis korelasi regresi linier ganda digunakan metode backward untuk melakukan pemilihan variabel independen dalam analisis multivariate regresi linier ganda dimana semua variabel dimasukkan ke dalam model, tetapi kemudian satu persatu variabel independen akan dikeluarkan dari model berdasarkan kriteria kemaknaan statistik tertentu. Variabel yang pertama kali dikeluarkan adalah variabel yang mempunyai korelasi parsial terkecil dengan variabel dependen. Kriteria pengeluaran atau P-out (POUT) adalah 0,10 artinya variabel yang mempunyai nilai p lebih besar atau sama dengan 0,10 dikeluarkan
dari model, dikatakan signifikan bila nilai P-value < 0,05 (Hastono, 2001). Koefisien korelasi (R) untuk menyatakan derajat hubungan, nilai R menunjukkan besarnya pengaruh dari beberapa faktor (variabel independen) secara bersama- sama terhadap variabel dependen dengan pembagian (Burn & Grove, 1993):
0.1-0.3 : Korelasi rendah, hubungan positif dengan interpretasi lemah. 0.3-0.5 : Korelasi sedang, hubungan positif dengan interpretasi memadai. > 0.5 : Korelasi tinggi, hubungan positif dengan interpretasi kuat.