BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
ATAS PEMBAGIAN HARTA PAILIT DITINJAU BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 963 K/PDT.SUS/2010
B. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 963 K/Pdt.Sus/2010
1. Dasar permohonan kasasi KPP Pratama Bandung Bojonagara
Alasan-alasan yang diajukan oleh pemohon kasasi/ pemohon dalam memori kasasinya tersebut pada pokoknya adalah:
a. Pengajuan Kasasi diajukan oleh pemohon kasasi/pelawan karena majelis hakim telah salah menerapkan hukum yang berlaku atau setidak-tidaknya telah lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan serta telah melampaui batas wewenang dalam memutus perkara a quo, sehingga hal ini merupakan kewenangan Mahkamah Agung untuk membatalkan putusan a quo. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, yang mengatur bahwa : "Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan eradilan karena:
1) tidak berwenang atau melampaui batas wewenang; 2) salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
3) lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.”
b. Majelis hakim telah salah dalam penyebutan identitas para pihak yaitu KPP Pratama Bandung Bojonegara Cibinong, seharusnya KPP Pratama Bandung Bojonagara, untuk itu dimohonkan agar Mahkamah Agung membetulkan kesalahan tersebut, karena apabila tidak dilakukan pembetulan, putusan tersebut tidak mengikat pemohon kasasi/pelawan.
c. Majelis Hakim telah lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan dalam pertimbangannya sehingga menyetujui daftar pembagian harta pailit PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit), dengan penjelasan sebagai berikut:
1) Pertimbangan Majelis Hakim dalam Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 16./PAILIT/2007/ PN.Niaga.JKT.PST Jo. NO.01/PKPU/2007/PN.Niaga.JKT.PST pada halaman 16 alinea 2, menyatakan bahwa: "Menimbang, bahwa sesuai dengan Pasal 21 Jo. Pasal 1134 KUHPerdata Jo. Pasal 55 Jo. Pasal 56, Pasal 57 sampai dengan Pasal 59 UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PenundaanKewajiban Pembayaran Utang maka terhadap barang-barang tersebut adalah kreditur istimewa, pemegang hak gadai (fiducia) PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, maka karena semua harta pailit yang ada merupakan
agunan kepada kreditur separatis PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, karenanya tidak ada lagi hasil penjualan harta pailit untuk pembayaran kepada kreditur istimewa yang lain namun karena kebijakan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk dan hakim pengawas dapat dibagikan kepada kreditur istimewa lainnya" .
2) Majelis Hakim dalam pertimbangannya tersebut bertentangan dengan fakta-fakta yang terdapat dalam Putusan Perkara Kepailitan Nomor 01/PKPU/2007/PN.NIAGA.JKT.PST Jo. Nomor: 16/PAILIT/ 2007/PN.Niaga.JKT.PST tanggal 27 September 2010, antara Drs. Bakhtiar, M.Si. CPA selaku kurator PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang menyatakan masih terdapatnya agunan PT.Metrocorp Indonusa (dalam pailit) di PT. Bank Mandiri (Persero), Tbk.. Oleh karena itu, Bank Mandiri selaku kreditur separatis seharusnya mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan, hanya dalam jangka waktu 2 (dua) bulan setelah dimulai keadaan insolvensi. Apabila jangka waktu 2 (dua) bulan tersebut telah lewat, maka asset yang menjadi hak tanggungan harus diserahkan ke kurator sebagai harta pailit.
3) Terhadap agunan yang tersebut dalam Putusan Perkara Kepailitan Nomor : 01/PKPU/2007/PN.NIAGA.JKT.PST Jo. Nomor : 16/PAILIT/2007/PN.Niaga.JKT.PST tanggal 27 September 2010, tidak pernah diberitahukan oleh pihak kurator, hakim pengawas
dan Majelis Hakim Pengadilan Niaga kepada pemohon kasasi/pelawan baik dalam pengumuman daftar pembagian harta pailit yang diumumkan di dua surat kabar harian media Indonesia dan warta kota pada tanggal 18 Agustus 2010, di kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat maupun dalam persidangan di Pengadilan Niaga.
4) Tidak diberitahukannya agunan PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) tersebut kepada pemohon kasasi/pelawan maka termohon kasasi/terlawan telah merugikan pemohon kasasi/pelawan serta melanggar ketentuan Pasal 100 ayat (1), Pasal 102 dan Pasal 103 UUK dan PKPU.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, jelaslah bahwa majelis hakim telah lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan dalam pertimbangannya yaitu tidak membuat pencatatan daftar harta pailit yang menyatakan sifat, jumlah piutang dan utang harta pailit, nama dan tempat tinggal kreditur beserta jumlah piutang masing-masing kreditur, sehingga majelis hakim menyetujui daftar pembagian harta pailit PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) sebagaimana dinyatakan dalam Putusan Nomor: 16/PAILlT/2007/PN.Niaga.JKT.PST tanggal 12 Oktober 2010. Oleh karena itu, sangatlah pantas pemohon kasasi/pelawan memohon agar Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 16./PAILIT/2007/PN.Niaga.JKT.PST Jo. NO.01/PKPU/2007/
PN.Niaga.JKT.PST yang diucapkan pada sidang yang terbuka untuk umum pada tanggal 12 Oktober 2010 dalam perkara Niaga tentang
Renvoi Prosedure terhadap daftar pembagian hasil
penjualan/pemberesan Harta PT Metrocorp Indonusa (dalam pailit) dibatalkan.
d. Majelis Hakim dalam Perkara Nomor:
16/PAILIT/2007/PN.Niaga.Jkt.Pst., telah salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku atau setidak-tidaknya lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan, karena menempatkan kedudukkan piutang pajak berada di bawah kreditur lainnya.
1) Besarnya utang pajak PT Metrocorp Indonusa (dalam pailit) NPWP 013716816-428.001 yang terdaftar di KPP Pratama Bandung Bojonagara adalah sebesar Rp.5.728.874.463,00 (lima milyar tujuh ratus dua puluh delapan juta delapan ratus tujuh puluh empat ribu empat ratus enam puluh tiga Rupiah) yang telah diakui oleh pihak debitur dan tim kurator PT. Metrocorp Indonusa.
2) Negara mempunyai hak mendahulu melebihi segala hak mendahulu lainnya, diatur dalam ketentuan sebagai berikut : Pasal 1137 KUH Perdata, yang mengatur bahwa "Hak dari kas negara, kantor lelang, dan lain-lain badan umum yang dibentuk oleh pemerintah, untuk didahulukan, tertibnya melaksanakan hak itu, dan jangka waktu berlangsungnya hak tersebut diatur dalam
berbagai undang-undang khusus yang mengenai hal-hal itu.Undang-Undang khusus yang mengenai hal-hal itu adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 (UU KUP) dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (UU PPSP), yaitu sebagai berikut: Pasal 21 ayat (3) UU KUP menyatakan bahwa: "Hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya kecuali terhadap:
a) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak;
b) Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud;
c) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan pelelangan dari suatu warisan.
Pasal 19 ayat (6) UU PPSP menegaskan hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali terhadap: 1) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh suatu
penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak maupun barang tidak bergerak;
2) Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud;
3) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan.
Dari pasal-pasal tersebut di atas jelas bahwa, kedudukan hak mendahulu tagihan pajak hanya dapat dikecualikan terhadap biaya-biaya:
1) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman untuk melelang suatu barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak (pasal 1139 angka 1 KUH Perdata) ;
2) Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud (Pasal 1139 angka 4 KUH Perdata);
3) Biaya perkara yang semata-mata disebabkan pelelangan dari suatu warisan (Pasal 1149 angka 1 KUH Perdata), sehingga sangat jelas bahwa Negara mempunyai kedudukan yang harus didahulukan melebihi segala hak mendahulu lainnya baik terhadap barang-barang milik penanggung pajak, maupun terhadap kreditur separatis, bahkan terhadap upah buruh yang diatur dalam Pasal 1149 angka 4 KUH Perdata serta fee kurator yang diatur dalam UUK dan PKPU.
e. Negara juga mempunyai hak mendahulu di atas PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, upah buruh dan fee kurator, diatur pula dalam ketentuan sebagai berikut:
1) Pasal 1134 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Republik Indonesia (KUHPerdata) "Hak istimewa adalah suatu hak yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kreditur yang menyebabkan ia berkedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutang itu. Gadai dan hipotek lebih tinggi dari pada hak istimewa, kecuali dalam hal undang-undang dengan tegas menentukan kebalikannya." Bahwa ketentuan Pasal 21 ayat (1) dan ayat (3) UU KUP dan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP menentukan bahwa kedudukan Negara lebih tinggi dari kreditur separatis (Gadai dan Hipotek).
2) UUK dan PKPU, yaitu : Pasal 60 ayat (2) "Atas tuntutan kurator atau kreditur yang diistimewakan yang kedudukannya lebih tinggi daripada kreditur pemegang hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka kreditur pemegang hak tersebut wajib menyerahkan bagian dari hasil penjualan tersebut untuk jumlah yang sama dengan jumlah tagihan yang diistimewakan." Pasal 60 ayat (2), yang dimaksud dengan "Kreditur yang diistimewakan adalah kreditur pemegang hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1139 dan Pasal 1149 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.” Hal ini dipertegas kembali dengan Penjelasan Umum Butir 4 UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah yang menyatakan bahwa "Hak Tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk pelunasan
utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lain. Dalam arti, bahwa jika debitur cidera janji, kreditur pemegang Hak Tanggungan berhak menjual melalui pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahulu daripada kreditur-kreditur yang lain. Kedudukan diutamakan tersebut sudah barang tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku." Oleh karena itu, berdasarkan ketentuan Pasal 60 ayat (2) UUK dan PKPU dan penjelasannya ; Pasal 21 ayat (1) dan ayat (3) UU KUP dan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP, serta Penjelasan Umum Butir 4 UU No.4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah diatur bahwa Negara memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari kreditur lain termasuk kreditur separatis (Gadai dan Hipotek), upah buruh, dan fee kurator.
f. Mahkamah Agung Republik Indonesia telah beberapa kali memutus perkara yang sama dengan perkara a quo, yaitu mengenai kedudukan Negara (piutang pajak) yang lebih tinggi dari upah buruh dan kreditur pemegang hak tanggungan dalam pembagian harta pailit. Beberapa keputusan tersebut, antara lain:
1) Putusan Mahkamah Agung Nomor 017 K/N/2005 tanggal 15 Agustus 2005 yang memutus utang pajak adalah utang berdasarkan hukum publik dan harus dibayar lebih dahulu daripada utang-utang lainnya, tidak mungkin diselesaikan dalam proses PKPU.
2) Putusan Mahkamah Agung Nomor 070 PK/PDT.SUS/2009 Perkara Peninjauan Kembali Perdata Khusus antara KPP Pratama Jakarta Tanah Abang Dua melawan Kurator PT Artika Optima Inti (dalam pailit) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk:, pada halaman 28 s.d. halaman 29, yang menyatakan: “terhadap pelunasan utang pajak harus didahulukan setelah itu baru pelunasan terhadap gaji karyawan dan piutang Bank Mandiri; "Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomar 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU KUP dan Undang-Undang Nomor: 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan UU PPSP, dalam Pasal 21 UU KUP ayat (1) : "Negara mempunyai hak mendahulu untuk tagihan pajak atas barang-barang milik penanggung pajak"; Pemohon peninjauan kembali adalah instansi pemerintah, yang merupakan representasi negara yang tidak dapat didudukkan sebagai kreditur berdasarkan Pasal 1 angka 2, 3, 6, dan 11 UUK dan PKPU; Utang pajak PT Artika Optima Inti (dalam pailit)
sebesar Rp.25.264.802.240,00 (dua puluh lima milyar dua ratus enam puluh empat juta delapan ratus dua ribu dua ratus empat puluh Rupiah) harus dilunasi lebih dahulu, setelah itu baru kreditur-kreditur yang lain. Dengan mengacu pada putusan-putusan tersebut, sangat jelas bahwa kedudukan piutang pemohon kasasi/pelawan di atas kedudukan Bank Mandiri sebagai kreditur pemegang hak tanggungan.
g. Putusan Majelis Hakim bertentangan dengan asas-asas dan tujuan pembentukan UUK dan PKPU.
2. Pertimbangan hakim atas permohonan kasasi KPP Pratama Bandung Bojonagara
Terhadap alasan-alasan yang diajukan KPP Pratama Bandung Bojonagara dalam permohonan kasasinya, Mahkamah Agung memberikan pertimbangan-pertimbangan judexjuris sebagai berikut:
Pertimbangan pertama judex juris adalah keberatan-keberatan dari pemohon kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena judex facti tidak salah dalam menerapkan hukum, bahwa putusan judex facti yang menolak permohonan keberatan pemohon (KPP Pratama Bandung Bojonagara) atas daftar pembagian kepada para kreditur PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) tertanggal 12 Agustus 2010 sudah tepat dan benar, karena kantor pajak telah lalai/terlambat menggunakan haknya untuk mengajukan keberatan atas daftar pembagian kepada para kreditur PT. Metrocorp Indonusa (dalam pailit) kepada kurator.77
77
Pertimbangan kedua menyebutkan bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata bahwa putusan judex facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau UU, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh pemohon kasasi, KPP Pratama Bandung Bojonagara tersebut harus ditolak.
Pertimbangan ketiga, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari pemohon kasasi ditolak, maka pemohon kasasi dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi yang diajukan oleh pihak KPP Pratama Bandung Bojonagara atas daftar penetapan boedel harta pailit PT. Metrocorp Indonusa
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, Mahkamah Agung mengadili perkara tersebut dengan amar sebagai berikut:
1. Menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi: KPP Pratama Bandung Bojonagara tersebut.
2. Menghukum pemohon kasasi/pemohon untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp.5.000.000,00 (lima juta Rupiah).
C. Kedudukan Kantor Pelayanan Pajak Sebagai Kreditur Istimewa Dalam