• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS TENTANG PUTUSNYA PERKAWINAN AKIBAT

B. Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Salatiga Dalam

Tanpa Memperhatikan Tidak Adanya Surat Ijin Cerai Dari Atasan/Komandan Satuan

Suatu gugatan perceraian akan diakui negara dan akan memiliki kekuatan legal formal apabila dilakukan di Pengadilan Agama dan diputuskan oleh seorang Hakim. Untuk mengajukan gugatan cerai atau khulu‟, seorang istri atau wakilnya dapat mendatangi Pengadilan Agama (PA) di wilayah tempat tinggalnya.Bagi yang tinggal di Luar Negeri, gugatan diajukan di PA wilayah tempat tinggal suami.Bila istri dan suami sama-sama tinggal di luar negeri maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat keduanya menikah dulu atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

Secara umum, dalam situasi tertentu Hakim di Pengadilan Agama dapat meluluskan gugat cerai tanpa persetujuan atau bahkan tanpa kehadiran suami apabila berdasarkan pertimbangan tertentu Hakim menganggap bahwa perceraian itu lebih baik bagi pihak penggugat yaitu istri. Misalnya, karena terjadinya konflik yang tidak bisa didamaikan atau suami tidak bertanggung jawab, terjadi KDRT yang membahayakan istri dan lain sebagainya. Dalam konteks ini maka hakim dapat menceraikan keduanya bukan dalam akad khuluk tapi talak biasa. Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah dinyatakan:

ُتجّصل جّش زسضبّ

ْنح

:

هكالحا ُٔلع اَقلطٔف اٍزاضٓ ُىأ هٍيرغّ تاقثلا ًع عنطى لصى لم

Artinya: Disebabkan perilaku suami yang membahayakan istri, misalnya ada berita dari sejumlah sumber terpercaya bahwa suami melakukan kekerasan pada istri, maka hakim dapat menceraikan keduanya.

Apabila suami tidak memiliki kesalahan signifikan pada istri, hanya istri kurang menyukai suami dan kuatir tidak dapat memenuhi hak-hak suami dan kewajibannya sebagai istri maka istri dapat mengajukan khuluk dan sunnah bagi suami untuk meluluskannya. Apabila suami tidak rela dan tidak

mau maka ada dua pendapat ulama.Pendapat pertama, hakim tidak boleh memaksa suami.Konsekuensinya, hakim tidak dapat menceraikan mereka.Ini pandangan mayoritas ulama, termasuk madzhab Syafi‟i.Pendapat kedua, hakim boleh memaksakan kehendak istri untuk bercerai walaupun suami tidak rela. Pandangan ini terutama berasal dari madzhab Hanbali. Al-Mardawi dalam Al-Inshaf: menyatakan:

اَطفى ٖدتفت ٌأ سأب لاف ُقح في للها دّدح هٔقت لا ٌأ ٙصتخّ لجسلل ٘ضغبم ٗأسلما تىاك اذإّ

وصجّ باخصلأا سثكأ ُٔلعّ بٍرلما ًم حٔخصلا ٙلع ِرٍ ٘لالحاّ كلذ ٘جّصلل حابٔف ،ُيم

ُٔلعّ ُٔلإ ٘باجلإا ُل بختطٓ ُىأ بٍرلما ًم حٔخصلاف جّصلا امأّ ،بابختضلااب ٕىاْللحا

باخصلأا

.

ُٔلإ ٘باجلإا بْجّ في للها ُحمز ًٓدلا ٕقت خٔصلا ولاك فلتخاّ

.

ضعب ُب وصلأّ

ءلاضفلا ٘ضداقلما واصلا واكح

Artinya: Apabila istri marah pada suami dan takut tidak dapat menjalankan

perintah Allah dalam memenuhi hak-hak suami maka istri boleh

melakukan gugat cerai. … Al-Halwani menyatakan gugat cerai dalam konteks ini sunnah. Adapun suami maka menurut pendapat yang sahih adalah sunnah mengabulkan permintaan istri. Syekh Taqiuddin dan sebagian hakim Suriah menyatakan bahwa suami wajib memenuhi permintaan istri.

Ibnu Uthaimin, ulama Hanbali kontemporer, menyatakan:

ٙقبت ٌأ ٍٕ تبأّ ،قلطٓ ٌأ ٙبأف ،لاْحلأا ًم لاح ٖأب ينجّصلا ينب عنلجا ًم ايكتم ام ايىأ ْل

بٍذ ،ًلاماك سَلما ُٔلع دست ٌأ طسصب رئئح عللخا بْجّ لىإ هلعلا لٍأ ضعب بٍرف ،ِديع

ولاضلإا خٔشّ ،٘لبايلحا ءانلع ضعب ارٍ لىإ

Artinya: Seandainya kita tidak memungkinkan mendamaikan kedua suami

istri, lalu suami menolak untuk menceraikan istri, sedang istri menolak hidup bersama suami, maka ulama berpendapat atas wajibnya khuluk dengan syarat istri harus mengembalikan mahar

secara penuh. Ini juga pendapat sebagian ulama madzhab Hanbali, termasuk Ibnu Taimiyah.

Dari pandangan di atas, maka Abdullah bin Baz, salah satu ulama madzhab Hanbali saat ini, berpendapat bahwa hakim boleh mengabulkan permintaan istri walau tanpa persetujuan dan kehadiran suami di pengadilan seperti dinyatakan dalam salah satu fatwanya berikut.

ًم اَدطف هكالحا ٙلع بجّ ٘نكلمحا لىإ ٗزْكرلما ٗأسلما عم زْضلحا ًع جّصلا عيتما اذإّ

ُب تءاج ٖرلا ٙيعنللّ ينقباطلا ينثٓدخلل ِشاَج ُٔلع تدزّ كلذ تبلط اذإ ، ُتنصع

اٍدعاْق ًم سقتضاّ ٘عٓسصلا

Artinya: Apabila suami menolak untuk hadir ke pengadilan bersama istri

yang mengajukan gugat cerai, maka wajib bagi hakim untuk

menceraikannya apabila istri meminta hal itu dengan

mengembalikan maharnya dengan dasar dua hadits di atas dan karena makna dan ketetapan yang terkandung dalam syariah dan tujuannya.

Hakim Pengadilan Agama Salatiga dalam menentukan dan mencakupkan kaidah hukum untuk menyelesaikan perkara perceraian didasarkan pada Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan atas Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No.7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam maka masalah perlindungan perceraian menjadi hukum positif di Indonesia. Pengadilan Agama diberikan kewenangan untuk memeriksa dan menyelesaikan setiap perkara perceraian beserta akibat hukumnya.

Akibat perceraian ditinjau dari segi hukum secara global dalam Undang-Undang Perkawinan telah memberi aturan tersebut yaitu Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Penerapan ketentuan tersebut pada substansinya dirangkaikan dengan akibat putusnya sebuah perkawinan karena perceraian.

Langkah dan pertimbangan hakim Pengadilan Agama Salatiga memang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perundang-undangan dalam penelitian secara formal akibat perceraian praktiknya sangat berbeda. Pertimbangan Pengadilan Agama sebenarnya secara teori dalam upaya untuk memberikan perlindungan terhadap anak dan pembayaran mut‟ah sunnah kepada istri. Sebagian besar, Pengadilan Agama bersikap simpatik terhadap anak akibat perceraian tetapi kewenangan dalam menentukan pertimbangan sangat terbatas. Oleh karena itu, Pengadilan Agama berwenang memutuskan masalah perlindungan anak akibat perceraian dan pembayaran mut‟ah sunnah dalam amar putusannya.

Implikasi yuridis yang timbul dari perceraian Mahkamah Agung berpendapat dalam pertimbangannya sesuai dengan ketentuan Pasal 73 ayat 1 UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah di ubah dengan UU No. 3 Tahun 2006 dan di ubah dengan UU No. 50 Tahun 2009 maka Pengadilan Agama Salatiga berwenang secara relatif untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut. Kemudian dalam peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2008 tertanggal 31 Juli 2008 tentang mediasi majelis hakim telah memerintahkan kepada penggugat dan tergugat menempuh mediasi namun

berdasarkan surat nomor:0333/Pdt.G/2010/PA.Sal tertanggal 27 April 2010 mediasi tersebut dinyatakan gagal.

Menurut pasal 7 ayat (1) KHI yang menyatakan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat oleh pegawai pencatat nikah maka harus dinyatakan terbukti bahwa antara penggugat dan tergugat telah terikat dalam perkawinan yang sah, sehingga penggugat mempunyai alasan untuk mengajukan gugatan. Berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku perkara perceraian yang diajukan pemohon kepada Pengadilan secara formal hanya melihat isi gugatan pemohon, sehingga amar putusan Pengadilan Agama mencakupkan hak anak dan istri akibat perceraian.

Menelaah dari beberapa hal tersebut, Pengadilan Agama hanya menggariskan langkah dan pertimbangan pada ketentuan Pasal 178 ayat (3) HIR atau Pasal 189 ayat (3) Rgb, yakni pengabulan gugatan tidak boleh melebihi petitum dalam gugatan. Oleh karena itu, kalau gugatan perceraian

hanya murni tentang putusnya perkawinan tanpa diikuti gugatan pengasuhan ataupun nafkah, seperti halnya dalam putusan

Nomor0333/Pdt.G/2010/PA.Sal yang memperlihatkan bahwa isi gugatan pemohon Nur Hayati binti Harjo Pranoto mencakupkan tentang hak anak maka hakim bisa mengabulkan dalam amar putusan mereka.

Adapun alasan hakim mengabulkan gugatan cerai gugat, sebagaimana dalam Putusan Nomor0333/Pdt.G/2010/PA. Sal, antara lain:

1. Dalam perkara gugat cerai istri terhadap suami anggota TNI, sesuai dengan Pasal 10 huruf (a) dan (b) KEMENHANKAM/Pangab No. Kep/01/1/1980 hakim telah memerintahkan kepada suami (tergugat) untuk

melampirkan surat keterangan di gugat cerai dari atasan yang berwenang namun tergugat menyatakan sudah mengurusnya tetapi belum terbit surat yang dimaksud dan menyatakan secara lisan bahwa tergugat sanggup menerima segala resiko berkaitan dengan kedinasan tergugat akibat dari perceraian. Mendasarkan hal tersebut maka hakim memutuskan melanjutkan persidangan dengan prosedur biasa.

2. Terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus tanpa melihat penyebab dan siapa yang salah, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 19 huruf (f) PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo Pasal 116 huruf (f) KHI.

3. Adanya perbuatan pidana KDRT dialami penggugat yang dilakukan oleh anak tergugat buah perkawinan sebelumnya.

4. Adanya campur tangan keluarga tergugat jika terjadi perselisihan, dimana tergugat menggunakan kata-kata kasar dan melakukan penganiayaan. 5. Antara penggugat dengan tergugat telah pisah rumah dan ranjang + 1

tahun lamanya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan gugatan dikabulkan berdasarkan Pasal 119 huruf (e) KHI. Disamping itu berdasarkan Pasal 159 KHI istri boleh meminta mut‟ah sunnah dari bekas suami meskipun perceraian terjadi atas kehendak penggugat.

Mendasarkan pasal 156 huruf (a) KHI anak buah pernikahan penggugat-tergugat di bawah asuhan dan pemeliharaan penggugat. Oleh karena itu, demi menciptakan rasa keadilan yang tidak berat sebelah, maka

hakim di Pengadilan Agama harus mampu mempertimbangkan dampak yang akan timbul dalam memutus perkara perceraian. Kemudian, apabila ditinjau dari fiqih tentang amar putusan Pengadilan Agama Salatiga yang mengabulkan gugat cerai istri kepada suami anggota TNI tanpa adanya surat ijin atasan/komandan satuan maka Majelis Hakim Pengadilan Agama Salatiga menerapkan kaidah fiqhiyah yaitu

ينب ةرشعلا ما ود هعم عاطتسي لا ابم ابه جوزلا را رضا ةج وزلا تعدا اذا

ضاقل ا اهقطي ذئنيح و قيرفتلا ىضاقلا نم بلطت نا اله ز ويج امله اثما

امهنيب حلاصلاا نع زخع و ر رضلا تبثول ةنئاب ةقلط

Artinya: “Apabila istri menggugat kemadlorotan suami karena tidak dapat

melangsungkan kehidupan berkeluarga di antara keduanya, istri boleh meminta kepada Hakim untuk dipisahkan/diceraikan seketika itu juga, maka hakim dapat menjatuhkan thalaqnya dengan thalaq bain apabila terbukti kemadlorotan tersebut dan tidak tercapainya

perdamaian di antara keduanya”.

Mendasarkan pada uraian diatas peneliti menambahkan pertimbangan hakim perceraian termasuk bidang perkawinan, maka untuk menghindari permasalahan-permasalan yang timbul akibat ketidak sepahaman antara pihak laki-laki dan perempuan juga telah diupayakan dengan berbagai cara untuk menyatukan dan mendamaikan kedua pihak tidak ada perkembangan yang baik maka dengan segala upaya dan prosedur dalam hukum beracara telah di tempuh maka hakim menyimpulkan perkawinan antara pihak penggugat dan tergugat harus diceraikan demi menghindari sesuatu hal yang akan menjadi preseden buruk dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam proses persidangan hakim telah mempertanyakan mengenai surat ijin cerai dari atasan/komandan menurut keterangan dari para pihak surat

ijin sudah diajukan dalam proses dan sanggup menanggung sanksi yang kelak akan dikeluarkan oleh institusi, maka hakim tetap meneruskan proses persidangan berdasarkan peraturan peradilan umum. Adapun yang dijadikan alasan menjatuhkan putusan bahwa hubungan antara penggugat-tergugat tidak dapat dipersatukan lagi (sering terjadi percekcokan) dan perlindungan keselamatan keluarga.

C. Akibat Hukum Yang Timbul dan Sikap Institusi TNI Terhadap Putusan

Dokumen terkait