Dalam sebuah delik akan didapati unsur-unsur delik, baik unsur subyektif maupun unsur obyektif. Unsur subyektif sendiri adalah unsur yang berasal dari dalam diri pelaku seperti kesalahan maupun kealpaan. Sedangkan unsur obyektif adalah unsur dari luar diri si pelaku contohnya perbuatan manusia, akibat dari perbuatan tersebut, keadaan-keadaan, dan sifat dapat dihukum dan sifat melawan hukum.
Dalam dakwaan penuntut umum yang berbentuk subsidairitas maka Majelis Hakim mempertimbangkan dakwaan primair terlebih dahulu, apabila dakwaan primair telah terbukti maka dakwaan subsidair dan dakwaan lebih subsidair tidak perlu dibuktikan kembali. Dalam dakwaan primair Jaksa Penuntut Umum mendakwa dengan Pasal 132 ayat (1) Jo. Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika:
“Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum melakukan percobaan atau pemufakatan jahat manawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah).”
64 a. Pemenuhan Unsur “Setiap Orang”
Menurut Wirjoyo Prodjodikoro38 bahwa berdasarkan KUHP, yang bisa menjadi subjek dari suatu tindak pidana ialah manusia. Rumusan tindak pidana dalam KUHP mensyaratkan adanya daya berpikir bagi subjek tindak pidana itu. Nampak juga pada wujud hukuman atau sanksi pidana dalam pasal-pasal KUHP, yaitu hukuman penjara, kurungan dan denda sebagai syarat bagi subjek tindak pidana tersebut.
Namun dalam pembuktian unsur “barang siapa/setiap orang” tidak selalu dapat merujuk kepada perseorangan. Apabila ditinjau dari KUHP Indonesia, yang dianggap subjek hukum pidana hanyalah orang perseorangan yang alami atau manusia. Dalam memastikan siapa yang harus dipandang sebagai seorang pelaku tindak pidana Hakim dapat membacanya dari rumusan suatu delik.
Bahwa dalam Pasal 132 ayat (1) Jo. Pasal 114 ayat (1) tersebut yang dimaksud unsur setiap orang adalah orang yang merupakan subyek hukum yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, artinya bisa terjadi pada siapapun sebagai subyek hukum.
Berdasarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, dalam perkara ini yang menjadi subyek hukum sebagaimana dimaksud dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah terdakwa Bagas Dwitya Pradipta Bin Yitno Atmajie, lahir di Salatiga pada tanggal 22 Desember 1994 (umur saat melakukan tindak pidana adalah 22 tahun), jenis kelamin
38 Wirjono Prodjodikoro, Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, 1980, Eresco, Bandung, Hal. 55.
65 laki, berkebangsaan Indonesia, alamat tinggal di Jalan Argorumekso Gg II Nomor 41 Kp. Ringinawe RT. 14/01 Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, agama Islam, pekerjaan swasta.
Identitas tersebut telah dicocokkan dengan terdakwa di dalam persidangan, dan baik saksi-saksi maupun terdakwa sendiri membenarkan identitas tersebut. Kemudian terdakwa yang hadir dalam persidangan dengan terdakwa yang identitasya ada di dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah orang yang sama yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sehingga, dalam perkara ini tidak terdapat kesalahan orang (error in persona) yang diajukan dalam persidangan.
Selama pemeriksaan di persidangan dan menurut pengamatan Majelis Hakim, terdakwa dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, mampu merespon dan mengikuti jalannya persidangan dengan baik, artinya terdakwa memenuhi kriteria unsur sebagai sujek hukum sehingga mampu mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukannya. Dari hasil pembuktian tersebut maka unsur “setiap orang” telah terpenuhi secara hukum.
66 b. Unsur “tanpa hak atau melawan hukum melakukan percobaan pemufakatan jahat menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I”
Moch. Anwar menjelaskan definisi sifat melawan hukum terwujud dalam kehendak, keinginan atau tujuan dari pelaku untuk melakukan suatu tindak pidana. Melawan hukum di sini diartikan sebagai perbuatan pidana yang dikehendaki, tanpa hak atau tanpa kewenangan, dari dalam diri pelaku39.
Pada putusan perkara Nomor 163/Pid.Sus/2017/PN.Slt, diperoleh fakta bahwa perbuatan terdakwa adalah perbuatan yang bersifat melawan hukum yang formil, karena perbuatan terdakwa, tanpa hak menjadi perantara dalam jual beli Narkotika Golongan I.
Bahwa dalam persidangan diperoleh fakta bahwa pada tanggal 9 Oktober 2017 saksi Imam Surono dihubungi oleh terdakwa yang pada intinya menawari Shabu. Kemudian pada saat itu juga saksi Imam Surono memesan kepada terdakwa. Imam Surono menyerahkan uang kepada terdakwa sejumlah Rp. 550.000,- (lima ratus lima puluh ribu rupiah) sebagai pembayaran Shabu. Penyerahan uang tersebut terjadi di rumah terdakwa. Kemudian terdakwa dan saksi Imam Surono menuju ke Bank BCA untuk mentransfer uang tersebut ke rekening Bank BCA yang nama pemilik dari rekening tersebut terdakwa lupa. Dalam hal ini telah
39 H.A.K. Moch. Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus: KUHP Buku II Jilid 1, 1994, Citra Aditya Bakti, Bandung, Hal. 19.
67 terjadi kesepakatan jual beli antara terdakwa dengan saksi Imam Surono, maka pemufakatan jahat untuk melakukan jual beli Narkotika telah dilaksanakan.
Bahwa terdakwa membeli Shabu tersebut dari seseorang yang bernama Andri (DPO). Pada tanggal 10 Oktober 2017 sekitar pukul 12.30 WIB terdakwa diberi alamat oleh Andri untuk mengambil Shabu yang sudah terdakwa pesan. Lokasi pengambilan Shabu tersebut ada di jalan masuk pabrik Kievit di depan kuburan di bawah tiang listrik. Kemudian, terdakwa berangkat dari rumah menggunakan kendaraan umum dan turun di jalan masuk pabrik Kievit dan selanjutnya terdakwa mengambil Shabu tersebut.
Bahwa yang dimaksud dengan paket Shabu tersebut tidak lain adalah barang bukti berupa 1 paket Narkotika jenis Shabu yang terbungkus plastik klip warna bening yang dimasukkan ke dalam plastik yang bertuliskan Magic Lezat dan dibungkus lagi menggunakan kertas bertuliskan Paramex dengan berat kotor 0,51 gram, namun dalam hal ini telah dikurangi untuk pemeriksaan laboratoris maka berat bersihnya menjadi lebih kurang 0,327 gram.
Bahwa peran terdakwa sebagai penjual bukanlah dikarenakan terdakwa mempunyai kewenangan atau telah mendapatkan ijin dari pihak yang berwenang. Niat terdakwa hanyalah untuk mendapatkan keuntungan dari jual beli tersebut.
68 Bahwa peran terdakwa bukanlah sebagai pemilik Shabu tersebut. Terdakwa bertindak sebagai perantara yang menawarkan Shabu. Terdakwa menerima uang pembayaran pembayaran dari saksi Imam Surono dan bertugas menyerahkan Shabu kepada saksi Imam Surono.
Bambang Poernomo40 menyampaikan bahwa apabila seseorang berbuat melawan hukum atau perbuatannya tersebut mencocoki rumusan undang-undang hukum pidana, belum bisa ia langsung dipidana, tetapi masih harus dilihat kepada kesalahannya.
Seseorang dapat dipidana bila memenuhi dua syarat dalam satu keadaan, yaitu perbuatan tersebut harus bersifat melawan hukum yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah tindak pidana, dan perbuatan tersebut bisa dipertanggungjawabkan sebagai bentuk kesalahan. Adanya perbuatan pidanadan adanya kesalahan yang terbukti dari alat bukti yang terungkap di persidangan ditambah dengan keyakinan hakim, itulah hal-hal yang harus menjadi penentu suatu putusan pidana.
Dari fakta persidangan yang telah terungkap tersebut maka unsur tanpa hak atau melawan hukum melakukan pemufakatan jahat menjadi perantara dalam jual beli Narkotika Golongan I sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 132 ayat (1) Jo. Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, telah terpenuhi. Perbuatan terdakwa tersebut bertentangan dengan ketentuan hukum yang
40 Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, 1985, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hal. 134.
69 berlaku. Dengan demikian sudah jelas bahwa perbuatan terdakwa tersebut bertentangan dengan hukum atau undang-undang yang berlaku.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, semua unsur yang ada dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, sudah terpenuhi. Maka berdasarkan hukum, terhadap perbuatan terdakwa harus dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak melakukan pemufakatan jahat menjadi perantara dalam jual beli Narkotika Golongan I. selain itu selama persidangan tidak didapatkan unsur-unsur pemaaf dan pembenar dari terdakwa sehingga dalam hal ini terdakwa harus dijatuhi pidana sebagai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
2. Pertimbangan Hakim Dilihat Dari Berbagai Teori