• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM

B. Pertimbangan Hukum Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006, disebutkan bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu. Peradilan Agama merupakan pengadilan yang memeriksa, mengadili dan menyelesaikan perkara-perkara antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang perkawinan, kewarisan, hibah, wakaf dan sedekah berdasarkan hukum Islam.113

Hakim adalah jabatan yang sangat terhormat. Oleh karena itu seorang hakim harus mempunyai integritas yang tinggi, juga harus mempunyai pengetahuan yang luas khususnya dalam bidang ilmu hukum,114 dan seorang hakim harus mampu menegakkan keadilan dalam memutus setiap perkara yang di tanganinya dengan pertimbangan yang cukup, jelas dan mantap sehingga didalamnya terkandung alasan- alasan penilaian yang rasional, aktual dan mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kepatutan.

Mengenai Putusan Mahkamah Syar’iyah Aceh Nomor: 15/Pdt.G/2011/MS- Aceh, Majelis Hakim memutuskan khuluk, yang menjadi dasar hukumnya adalah Al- Qur’an surat Al-Baqarah ayat 229 yang artinya:

Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri) kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan menjalankan hukum- hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan hukum-

113Abdul Manan,Op. Cit, hal 256. 114Ibid, hal 181.

hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang aniaya”.

Dasar hukum lainnya adalah hadis yang dikemukakan oleh Al-Shan’ani bahwa isteri Tsabit bin Qais yang bernama Jamilah datang menghadap Rasulullah SAW bahwa ia ingin bercerai dengan Tsabit bin Qais, padahal Tsabit bin Qais tidak punya kesalahan sama sekali kepada isterinya. Lalu Rasulullah memerintahkan isteri Tsabit agar mengembalikan maskawinnya berupa kebun.

Hukum asal khuluk ada yang berpendapat dilarang (haram), ada yang mengatakan makruh dan ada yang mengatakan haram kecuali karena darurat. Ulama Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal melakukan khuluk itu makruh, hanya dia menjadi sunat hukumnya bila isteri ternyata tidak baik dalam bergaul terhadap suaminya. Status perceraian karena khuluk yaitu bahwa bila suami telah melakukan khuluk terhadap isterinya, maka dengan khuluk itu bekas isteri menguasai dirinya secara penuh, suami tidak berhak merujuknya kembali sebab isteri telah menyerahkan sejumlah harta kepada suami guna pelepasan dirinya itu. Oleh karena itu, status perceraian karena khuluk adalah sebagai talak ba’in bagi isteri, sehingga meski kemudian suami bersedia mengembalikan ‘iwadl yang telah diterimanya namun suami tetap tidak berhak merujuk bekas isterinya.

Masalah khuluk dalam KHI diatur dalam pasal 148 ayat 1 KHI yang berbunyi “Seorang istri yang mengajukan gugatan perceraian dengan jalan khuluk, menyampaikan permohonannya kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat

tinggalnya disertai alasan atau alasan-alasannya.” Selanjutnya dalam pasal 124 KHI berbunyi “ Khuluk harus berdasarkan atas alasan perceraian sesuai ketentuan pasal 116“. Dari kedua pasal tersebut, nampak terlihat bahwa KHI berupaya untuk mengakomodir perceraian melalui jalan khuluk karena syariat telah menetapkan kebolehannya.

Khuluk hanya dibolehkan kalau ada alasan yang tepat seperti suami meninggalkan isterinya selama dua tahun berturut-turut tanpa izin isterinya dan tanpa alasan yang sah, atau suami seorang yang murtad dan tidak memenuhi kewajiban terhadap isterinya, sedangkan si isteri khawatir akan melanggar hukum Allah, dalam kondisi seperti ini si isteri tidak wajib menggauli suaminya dengan baik.115

Hikmah yang terkandung dalam khuluk adalah untuk menolak bahaya, yaitu apabila perpecahan antara suami isteri telah memuncak dan dikhawatirkan keduanya tidak dapat menjaga syarat-syarat dalam kehidupan suami isteri, maka khuluk dengan cara-cara yang ditetapkan oleh Allah SWT merupakan penolak terjadinya permusuhan dan untuk menegakkan hukum-hukum Allah SWT.

Kasus ini berawal dari cerai gugat yang ajukan oleh isteri untuk menggugat cerai suaminya ke pengadilan, pada pengadilan tingkat pertama, gugatan isteri dikabulkan oleh majelis hakim, dan menolak tuntutan suami yang meminta pengembalian mahar. Selanjutnya karena merasa tidak adil maka suami mengajukan

115Bahder Johan Nasution, Sri Warjiyati, Hukum Perdata Islam: Kompetensi Peradilan

Agama tentang Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah, Wakaf dan Shodaqah, (Bandung: Mandar Maju, 1997), hal 33.

banding. Pada pengadilan tingkat banding ini tuntutan suami dikabulkan Majelis Hakim, dan memberi putusan cerai khuluk kepada si isteri. Dalam hal khuluk, seharusnya ada kesepakatan antara suami dan isteri untuk melakukan khuluk, dimana isteri bersedia memberi tebusan dan disetujui oleh suaminya. Namun dalam kasus ini yang menjadi pertimbangan hakim adalah bahwa kesalahan berasal dari isteri dimana suami yang masih ingin mempertahankan kerukunan rumah tangga tetapi isteri sudah tidak mau melayani suaminya lagi serta istri sendiri yang bersungguh-sungguh ingin bercerai dari suaminya.

Putusan majelis hakim dalam kasus ini bukan khuluk murni, karena kasus ini adalah cerai gugat yang diajukan oleh isteri. Pada dasarnya khuluk merupakan perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan atauiwadl dan atas persetujuan suaminya. Dasar hukum khuluk adalah surat Al-Baqarah ayat 229 yang artinya “jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah maka tidak ada dosa keduanya tentang pembayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya”.

Sementara dalam kasus ini isteri keberatan/tidak mau memberikan tebusan ataupun mengembalikan mahar yang telah diterimanya dan juga tidak adanya persetujuan/kesepakatan untuk melakukan perceraian. Ulama Syafi’i, Hanafi dan kebanyakan ahli ilmu berpendapat bahwa khuluk itu sah dilakukan meski isteri tidak

dalam keadaannusyuz, dan khuluk itu sah dengan saling kerelaan antara suami isteri kendati keduanya dalam keadaan biasa dan baik-baik saja.116

Terjadinya khuluk itu merupakan putusan dan perbuatan dari suami isteri itu sendiri. Namun demikian atas putusan hakim tersebut tetap bisa dijalankan sebagaimana mestinya, mengingat perceraian melalui jalan khuluk merupakan hal yang telah diatur dalam syari’at Islam, sehingga putusan tersebut berlaku secara sah. Bila syari’at Islam meletakkan hak talak di tangan suami, maka khuluk diletakkan ditangan isteri. Syari’at Islam meletakkan hak suami dan isteri secara berimbang baik dalam perkawinan maupun ketika terjadi perceraian.

Pasal 148 ayat 4 KHI lebih tegas dinyatakan “Terhadap penetapan ini tidak dapat dilakukan upaya banding dan kasasi.” Ketentuan ini akan membedakan khuluk dari cerai talak dan cerai gugat. Karena khuluk tidak sampai menunggu 14 hari dari penetapan yang telah di jatuhkan. Penetapan itu langsung mempunyai kekuatan hukum tetap pada hari itu juga.

116

Dokumen terkait