• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan terwujudnya nilai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex aequo et bono) dan mengandung kepastian hukum, disamping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang bersangkutan sehingga pertimbangan hakim ini harus disikapi dengan teliti, dan cermat. Apabila pertimbangan hakim tidak teliti dan cermat maka putusan hakim yang berasal dari pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi/Mahkamah Agung.73

Pertimbangan hakim memuat pokok-pokok persoalan antara penggugat dan tergugat, adanya analisis secara yuridis terhadap putusan segala aspek menyangkut semua fakta yang terbukti dalam persidangan dan semua bagian dari petitum penggugat harus dipertimbangkan secara satu demi satu sehingga hakim dapat menarik kesimpulan tentang terbukti atau tidaknya dan dapat dikabulkan atau tidaknya tuntutan tersebut dalam amar putusan. 74

Pada kasus yang dibahas dalam skripsi ini, yang diambil dari perkara Nomor: 61/Pdt.G/2015//PN Pms dan yang menjadi pertimbangan hakim yang dikemukakan pada saat persidangan adalah sebagai berikut:

Bahwa pada pokoknya Penggugat keberatan atas rencana lelang eksekusi Hak Tanggungan yang akan dilaksanakan oleh Tergugat I melalui Tergugat II

73 Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama , cet V, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004, hlm.140

74 ibid, hlm. 141

dan meminta penangguhan penjualan secara lelang atas objek sengketa. Objek sengketa yang dipermasalahkan oleh Pengugat yaitu tanah dan bangunan dengan SHM No. 1014/Pematang Marihat Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara atas nama DS dengan nilai limit dari objek agunan tersebut Rp.436.000.000,00 (empat ratus tiga puluh enam juta rupiah).

Duduk dari perkara ini yaitu ketika Penggugat telah menerima fasilitas kredit yang diberikan PT. BANK MANDIRI kepada JN Rp. 1.100.000.000,- (Satu Miliar Seratus Juta Rupiah) dengan jangka waktu sampai dengan 29 Oktober 2016. Namun di tengah perjalanan Penggugat tidak mampu untuk membayar bunga kredit selama jangka waktu yang cukup panjang. Berbagai macam cara dilakukan Tergugat I untuk dapat tetap melakukan pengihan baik dengan cara melalui telepon hingga mengirimkan surat Pemberitahuan I sampai Surat Pemberitahuan III, namun Penggugat tidak pernah menanggapi penyelesaian kredit dan Penggugat selalu ingkar janji.

Bahwa dalil Penggugat mengemukakan telah mengajukan Surat kepada Tergugat I tentang keinginan menjual sendiri tanah dan bangunan yang menjadi objek sengketa akan tetapi tidak diindahkan oleh Tergugat I sesuai dengan bukti Surat Penggugat bertanda P-2 dan P-3

Terhadap bukti surat Penggugat P2-P3 dihubungkan dengan bukti surat Tergugat I yang bertanda TI-1d Penggugat mengajukan permohonan untuk menjual sendiri objek hak tanggungan dan hal tersebut telah dikabulkan oleh Tergugat I sesuai dengan Pasal 20 Ayat (2) UUHT jo Addendium III perjanjian kredit Modal Kerja tanggal 30 Oktober 2013 yang telah disepakati oleh kedua

belah pihak yang mana memberikan kesempatan kepada Penggugat untuk menjual sendiri objek tanggungan namun Penggugat tidak melaksanakan sebagaimana mestinya.

Bahwa dalam dalil Penggugat menyebutkan Penggugat menerima Surat No.S-621/WKN.2/KNL.02/2015, tertanggal 25 September 2015 tentang penetapan pelaksanaan lelang oleh Tergugat II dan juga telah diumumkan melalui Surat kabar Harian Sinar Indonesia Baru dalam hal ini Penggugat tidak pernah menerima pemberitahuan Lelang secara tertulis dari Tergugat I.

Dalil Penggugat diatas Majelis mempertimbangkan sesuai bukti Penggugat bertanda P-6 adalah balasan Surat Kantor Lelang Kota Pematang Siantar tertanggal 25 September 2015 atas surat yang diajukan Penggugat ke Kantor lelang tertanggal 21 September 2015, sehingga dalil Penggugat yang menyatakan tidak pernah menerima surat dari Tergugat I dan juga Tergugat II tentang pemberitahuan lelang adalah tidak beralasan oleh karena Surat Penggugat yang telah dikimkan ke Kantor Lelang tertanggal 21 September 2015 adalah Surat untuk pembatalan Lelang, sehingga dari bukti ini menunjukkan Penggugat telah menerima Surat Pemberitahuan Lelang atas objek agunan Sertifikat Hak Milik Nomor 1014 atas nama Dertina Sinaga (Istri Penggugat) dan hal ini didukung pula bukti Surat Tergugat II bertanda TII-8a, TII-8b, TII-8c dan TII8d yang merupakan surat pemberitahuan tanggal Lelang dan pengosongan objek lelang yang ditujukan kepada Penggugat.

Pihak Penggugat merasa keberatan dengan limit barang sebesar Rp.436.000.000,00 (empat ratus tiga puluh enam juta rupiah) menurut

Penggugat nilai limit tersebut yang ditentukan Tergugat I telah melanggar hukum karena nilai limit lebih kecil dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah dan bangunan dan menurut Penggugat harga pasar yang sesuai dan pantas berkisar Rp. 650.000.000,- (enam ratus lima puluh juta rupiah) s/d Rp.

700.000.000,- ( tujuh ratus juta rupiah) sehingga menimbulkan kerugian bagi Penggugat. Namun sangat disayangkan Pengggugat tidak dapat membuktikan bahwa harga jual pasaran dan bangunan sesuai dengan dalil gugatan Penggugat yang sudah mencapai harga Rp 650.000.000,- (enam ratus lima puluh juta rupiah) s/d Rp. 700.000.000,- ( tujuh ratus juta rupiah), sehingga dalih Penggugat adalah tidak berdasar.

Berdasarkan bukti Tergugat II bertanda TII-9a tentang penetapan harga limit lelang no.RTR.RCR.BCR.MDN/3794/2015 terbukti bahwa harga limit yang ditetapkan oleh Tergugat I selaku penjual/pemohon lelang adalah sebesar Rp.436.000.000,00 (empat ratus tiga puluh enam juta rupiah) dan penetapan harga limit menjadi kewenangan dan tanggung jawab Penjual berdasarkan Penilaian oleh Tim Penaksir sesuai dengan Pasal 63 ayat 1,2,dan 3 PMK nomor. 106/PMK.06/2013 dan Surat Keputusan Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) nomor. 35/PL/2002 yang menyebutkan bahwa atas penjual menentukan nilai limit barang yang akan dilelang secara tertulis untuk masing-masing atau paket yang akan dilelang.

Bahwa Tergugat II telah melakukan prosedur pelelangan objek hak tanggungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu Pasal 6 ayat (5) Peraturan Derektur Jendral Kekayaan Negara No.PER-06/KN/2013 tentang

petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang. Dengan demikian terbukti bahwa pelasanaan lelang oleh Tergugat II atas permintaan Tergugat I telah sesuai dengan prosedur dan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Oleh karena Penggugat tidak dapat membuktikan dalil gugatannya maka gugatan Penggugat haruslah dinyatakan ditolak untuk seluruhnya dan Penggugat dihukum untuk membayar biaya perkara ini;

Berdasarkan pertimbangan hukum Majelis Hakim di atas, maka Perkara Perdata Pengadilan Negeri Pematang Siantar dengan Nomor Register:

61/Pdt.G/2015/PN-Pms dalam amar putusannya memutuskan antara lain:

DALAM EKSEKPSI:

1. Menolak eksepsi Tergugat I dan Tergugat II;

DALAM POKOK PERKARA:

1. Menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya;

2. Mengukum Penggugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini sebesar Rp. 641.000,- (enam ratus empat puluh satu ribu rupiah).

C. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim dalam Putusan No.61/Pdt.G/2015 /PN-Pms.

Setiap perkara yang didaftarkan di Pengadilan akan melalui pemeriksaan perkara yang meliputi proses mengajukan gugatan penggugat, jawaban tergugat, replik penggugat, duplik tergugat, pembuktian dan kesimpulan yang diajukan oleh masing-masing pihak yang berperkara sampai pada sudah tidak ada lagi yang ingin dikemukakan, maka hakim akan menjatuhkan putusan terhadap perkara tersebut.

Majelis hakim dalam perkara ini menjatuhkan putusan yaitu menolak gugatan penggugat seluruhnya dan menghukum penggugat untuk membayar biaya yang timbul sebesar Rp. 641.000,- (enam ratus empat puluh satu ribu rupiah). Untuk memberikan putusan tersebut majelis hakim berpedoman terhadap pembuktian yang di paparkan oleh kedua belah pihak, karena hukum acara bertujuan untuk menegakkan dan mempertahankan hukum materil.

Untuk dapat memberikan putusan pengadilan yang benar-benar menciptakan kepastian hukum dan mencerminkan keadilan, hakim sebagai aparatur Negara dan sebagai wakil Tuhan yang melaksanakan peradilan harus benar-benar mengetahui duduk perkara yang sebenarnya dan peraturan hukum yang akan diterapkan baik peraturan hukum tertulis dan yang tidak tertulis.75

Analisis hukum tentang putusan Pengadilan Negeri Pematangsiantar No.61/Pdt.G/2015/PN-Pms dalam kasus ini dapat dilihat bahwa yang menjadi persoalan dalam perkara ini Penggugat keberatan atas rencana lelang eksekusi hak tanggungan yang dilaksanakan pada tanggal 25 September 2015 oleh Tergugat I melalui Tergugat II sebab pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh Tergugat I adalah tidak sah serta melanggar prosedur dalam proses pelelangan dan meminta untuk dilakukan penangguhan penjualan objek sengketa.

Dalam putusan Pengadilan Negeri Pematangsiantar No.61/Pdt.G/2015/

PN-Pms pada tanggal 6 April 2016 Pengadilan Negeri Pematangsiantar dalam pokok perkara menyatakan gugatan Penggugat ditolak untuk seluruhnya dengan pertimbangan bahwa yang menjadi dasar gugatan Penggugat adalah

75 Moh. Taufik Mikarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hlm.

124.

pelaksanaan lelang eksekusi tersebut tidak sesuai dengan dengan prosedur yang berlaku dan penetapan harga limit lelang yang ditetapkan oleh Tergugat I adalah sewenang-wenang.

Bahwa secara prosedur Penggugat telah mendapat Surat Pemberitahuan I sampai Surat Pemberitahuan III dari Tergugat I, Tergugat telah melaksanakan kewajibannya dengan menurunkan baki debet terhadap hutang pokok Penggugat dari semula sebesar Rp. 1.500.000.000,00 (Satu miliar lima ratus juta rupiah) menjadi Rp1.110.000.000,00 (satu miliar seratus juta rupiah) serta memberi kesempatan kepada Penggugat untuk menjual sendiri agunan Sertifikat Hak Milik Nomor.470/Pardamean sesuai dengan Addendum III Perjanjian Kredit Modal Kerja No. CRO.PMS/0139/KM/2011 tanggal 8 Desember 2011, tertanggal 30 Oktober 2013 Jo Pasal 20 ayat (2) UUHT.

Selanjutnya mengenai harga limit yang ditentukan oleh Tergugat I selaku penjual objek lelang dengan menunjuk KJPP Sukardi, Israr & Rekan telah berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan No.106/PMK.06/2013 Pasal 36 ayat (6) yang menyatakan bahwa: Dalam hal lelang eksekusi berdasarkan Pasal 6 UUHT dengan limit paling sedikit Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah), nilai limit harus ditetapkan oleh penjual berdasarkan hasil penialain dari penilai.

Atas permohonan lelang dari Tergugat I melalui surat No. 001/PLE-HT1894510614 tanggal 20 Juni 2014 hal Surat Permohonan Lelang Ulang Email, Tergugat II Pematang siantar telah mengeluarkan Surat Nomor:S-7044//KN.02lKNL.02l2O15 tanggal 16 Oktober 2015 hal Penetapan jadwal

lelang dan juga telah diberitahukan kepada Penggugat mengenai penetapan bahwa lelang akan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 28 Oktober 2O15 jam 11.00 WIB melalui Aplikasi Lelang Email pada domain www.lelangdjkn.k emenkeu.go.id. Pelaksanaan lelang a quo telah didahului oleh Pengumuman Lelang Ulang melalui Surat kabar Harian Sinar Indonesia Baru tanggal 21 Oktober, sehingga setiap orang dapat mengetahui akan adanya lelang guna memenuhi asas publisitas.

Adapun juga Tergugat I telah melengkapi dokumen persyaratan lelang yang bersifat khusus dan bersifat umum yang mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) Nomor.PER-06/KN/2013 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang.

Pertimbangan hakim dalam memutus perkara pada putusan ini sudah benar, dikarenakan pada dasarnya dalam Pasal 6 UUHT telah memberikan hak parate eksekusi kepada kreditur pemegang hak tanggungan untuk mendapatkan pelunasan atas piutangnya dalam hal debitur cidera janji/ wanprestasi.

Wanprestasi dianggap sebagai suatu bentuk kegagalan untuk melaksan-akan janji yang telah disepakati disebabkan debitur tidak melaksanmelaksan-akan kewajiban tanpa alasan yang dapat diterima oleh hukum. Adapun bentuk wanprestasi yang dilakukan oleh debitur ada 4 macam, yaitu

a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya

b. Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana dijanjikan.

c. Melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat .

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.76 Untuk menyatakan debitur wanprestasi maka kreditur harus menyurati debitur sebanyak maksimum 3 (tiga) kali untuk mengingatkan kelalaian debitur agar memenuhi prestasinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1238 KUHPerdata. Apabila terjadi wanprestasi kreditur dapat menuntut penggantian biaya, rugi dan bunga seperti tercantum dalam Pasal 1236 KUHPerdata yang menyatakan “Si berutang adalah wajib memberikan ganti biaya, rugi dan bunga kepada si berpiutang, apabila ia membawa dirinya dalam keadaan tida mampu untuk menyerahkan kebendaannya atau tidak merawat sepatutnya gunan menyelamatkannya”.77

Ketika debitur telah dinyatakan wanprestasi maka kreditur sebagai pemegang hak tanggungan pertama dapat meminta langsung bantuan KPKNL untuk menjual di depan umum secara lelang atas objek jaminan yang telah dibebani hak tanggungan dan menerima pembayaran didahulukan sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 6 UUHT Nomor 4 Tahun 1996.78Sebab sifat khusus hak tangungan ialah memberikan kedudukan yang diutamakan atau mendahulu kepada pemeganganya (droit de preference) keistimewaan ini dipertegas dalam Pasal 1 butir 1 dan Pasal 20 ayat (1) UUHT .79

Selanjutnya, analisis pertimbangan hukum hakim mengenai harga limit lelang yang ditetapkan oleh Tergugat I selaku penjual/pemohon Lelang sebesar Rp. 436.000.000.- (empat ratus tiga puluh enam juta rupiah) adalah

76 Herowati Poesoko,op.cit.,hlm.122

77 ibid

78 Burhan Sidabariba, op.cit., hlm. 111-112

79 Kashadi.2000 Hak Tanggungan dan Jaminan fidusia,Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

tepat dan berdasar. Dikarenakan penetapan harga limit menjadi kewenangan dan tanggung jawab Penjual/Pemilik yang telah didasarkan pada Penilaian oleh Tim Penaksir sesuai dengan Pasal 63 ayat (1) sampai ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 106/PMK.06/2013

Penetapan nilai atau harga limit haruslah berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh penilai yang bersifat independen. Penilai dapat berupa orang pribadi atau perusahaan terjamin kenetralannya dan professional dalam melaksanakan tugas penilaian, hal ini guna menghindari adanya conflict of interest (konflik kepentingan) terhadap objek yang dinilainya dan penaksiran oleh penaksir yang berasal dari internal pemohon lelang ataupun pemilik barang.80

Jelas tidak ada dasar hukum yang kuat bagi Penggugat untuk keberatan terhadap rencana lelang dimaksud, oleh karena pelaksanaan lelang sesuai Risalah Lelang Nomor. 24412015 tanggal 28 Oktober 2015 atas perkara a quo adalah sah secara hukum (walaupun tidak ada penawaran) karena telah diproses berdasarkan prosedur dan ketentuan yang berlaku. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas nyata-nyata pelaksanaan eksekusi lelang objek perkara yang dimohonkan Tergugat I melalui Tegugat II sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik UUHT maupun Peraturan Lelang dan sudah memperhatikan asas-asas kepatutan serta tida merugikan Penggugat

80 Rianto, R.D, 2017, Kajian Yuridis Pembatalan Lelang Eksekusi Karena Nilai Limit Rendah, Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum.

89 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab-bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Penyelesaian kredit bagi kreditur yang wanprestasi dalam Hak tanggungan dapat dilakukan dengan jalan eksekusi berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan manakala debitur cidera janji eksekusi hak tanggungan dapat dilakukan dengan cara melakukan penjualan melalui pelelangan umum menurut tata cara yang dibutuhkan dalam peraturan perundang-undangan guna pelunasan piutang pemegang hak tanggungan dengan hak mendahului dari pada kreditur lainnya sebagaimana didasarkan pada Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan.

2. Untuk dilakukannya eksekusi hak tanggungan melalui parate eksekusi, pemohon/pemilik hak tanggungan harus mengajukan permohonan lelang kepada KPKNL berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan No. 213/PMK.06/2020 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang secara tertulis disertai dokumen persyaratan lelang hak tanggungan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara

(DJPLN) Nomor.2/KN/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang.

3. Pedoman majelis hakim dalam menjatuhkan putusan melalui proses pemeriksaan dan pertimbangan-pertimbangan hukum proses pembuktian yang menunjukkan bahwa Penggugat secara sah telah melakukan wanprestasi dan Tergugat I berhak melakukan pelelangan yang dilaksanakan oleh Tergugat II terhadap agunan yang dijaminkan kepada Tergugat I, dimana proses pelelangan mulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan tidak melakukan kesalahan atau melanggar suatu aturan yang berlaku.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis mencoba memberikan saran, antara lain:

1. Untuk mencegah terjadi kredit macet disarankan kepada bank harus lebih memperhatikan prinsip kehati-hatian dan pengawasan yang terarah terhadap pembiayaan yang disalurkan dengan menganalisa terhadap kemampuan nasabah untuk mengembalikan pembiayaan yang telah diterimanya, adapun jika sudah terlanjur terjadi langkah yang dapat diambil kreditur ketika debitur wanprestasi adalah dengan mengeksekusi langsung atau parate eksekusi tanpa pertolongan hakim atau fiat eksekusi guna pelunasan hutang debitur.

2. Pelaksanaan lelang dalam parate eksekusi dilakukan semaksimal mungkin untuk menghindari kesalahan dimulai dari tahap persiapan lelang, pelaksanaan lelang, pembayaran, sampai pada pada penyerahan barang kepada pemilik/pembeli lelang yang baru, sehingga diharapkan pelaksaan

lelang yang sudah sesuai dengan prosedur dapat memberi manfaat kepada masyarakat yang telah mengikuti kegiatan lelang, baik itu pembeli maupun penjual.

3. Seharusnya debitur kredit macet memahami dan melaksanakan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dengan baik, memahami dan mengetahui apa yang sudah menjadi hak nya dan memberikan apa yang menjadi kewajibannya. Jika hal itu dilakukan maka dapat meminimalisasi terjadinya gugatan dalam pelaksanaan lelang eksekusi hak tanggungan.

92 Daftar Pustaka

Buku

Arto, Mukti, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, cet V, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2004

Dunne,Van, Wanprestasi dan Keadaan Memaksa, Ganti Kerugian, Dewan Kerjasama Ilmu Belanda dengan Proyek Hukum Perdata, Yogyakarta, 1987

Harsono, Boedi, Segi-Segi Yuridis Undang-Undang Hak Tanggungan, Seminar Nasional Undang-Undang Hak Tanggungan, Tanggal 10 April 1996, Fakutas Hukum Universitas Trisakti

Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2005 HS, Salim, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, PT Raja Grafindo

Persada: Jakarta, 2004

J.Satrio, Parate Eksekusi Sebagai Sarana Mengatasi Kredit Macet. PT. Citra Adiitya. 1993

___________, Hukum Jaminan, Hukum Kebendaan, Hak Tanggungan, Bandung:

PT. Citra Aditya Bakti, 2003

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012

Kashadi, Hak Tanggungan dan Jaminan fidusia, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2000

Mariam, Darus Badzrulzaman, Perjanjian Kredit Bank. Alumni; Bandung. 1983

Marihot, Pahala Siahaan, Hukum Pajak Formal. Yokyakarta: Graha Ilmu, 2010 M. Bahsan, Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan di Indonesia, PT

Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2007

Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja, Perikatan Pada Umumnya, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002

Moh. Taufik Mikarao, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, Jakarta: Rineka Cipta, 2009

M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata.

Jakarta: PT.Gramedia Pustaka, 1989

__________, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata Edisi Kedua, Jakarta: Sinar Grafika, 2005

Panggabean,Henry, Penyelalahgunaan Keadilan Sebagai Alasan Untuk Pem-batalan Perjanjian, Yogyakarta:Liberty, 1992

P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, Jakarta: Kencana, 2014

Poesoko, Herowati, Dinamika Hukum Parate Excutie Objek Hak Tanggungan (Inkonsistensi, Konflik Norma dan Kesehatan Penalaran dalam UUHT).

,Yogyakarta: Laksbang PRESSindo. 2008

Purnama, T. Sianturi, Perlindungan Hukum Terhadap Pembeli Barang Jaminan Tidak Bergerak Melalui Lelang, CV. Mandar Maju: Bandung, 2008 Rianto, R.D, Kajian Yuridis Pembatalan Lelang Eksekusi Karena Nilai Limit

Rendah, Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum, 2017

R.Suharto, Dkk, Eksekusi Terhadap Hak Tanggungan, Fak. Hukum Undip, Laporan Penelitian, 2008

Salim H.S, Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta:

Sinar Grafika, 2010

Sidabariba, Burhan, Lelang Eksekusi Hak Tanggungan (Meniscayakan Perlindungan Hukum bagi Para Pihak), Papas Sinar Sinanti :Jakarta, 2019

Subekti, Hukum Acara Perdata, Bandung: Bandung, 1989 __________ Hukum Perjanjian, Jakarta: PT.Intermasa, 1988

Sugono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1991

Sutan, Remy Syahdeini, Hak Tanggungaan, Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan,Alumni: Bandung, 1999

__________, Persiapan Pelaksanaan Hak Tanggungan dilingkungan PerBankan (Hasil Seminar) Lembaga kajian Hukum Bisnis, FH-USU Medan, Bandung: PT Citra Aditya, 1996

Soemitro, Rochmat, Peraturan dan Instruksi Lelang, Eresco:Bandung, 1987 Sutedi, Adrian, Hukum Hak Tanggungan, Jakarta: Sinar Grafika, 2012

Sutardjo, F.X, Penjualan Secara Lelang: Perjalanannya Saat Ini, Tantangan dan Prospeknya ke Depan, Jakarta: Sinar Grafika, 2007

Syamsudin, Qirom, Pokok-pokok Hukum Perjanjian dan Perkembangannya, Liberty: Yogyakarta, 1985

Usman, Rachmadi, Aspek-aspek Hukum Perbankan di Indonesia. Jakarta :PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2001

Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria, Lembaran Negara Nomor 104 Tahun 1960, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Nomor 31 Tahun 1992, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3472

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Lembaran Negara Nomor 182 Tahun 1998, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah, Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1996, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3632

Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 93/PMK.06/2013 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang

Peraturan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Nomor: 2/KN/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang

Artikel, Jurnal

Abidin, Zainal, Keabsahan Lelang Eksekusi Hak Tanggungan Karena Adanya Gugatan Dari Debitur, Universitas Airlangga, 2018

Baskara, Arga, Alternatif Penyelesaian Hak Tanggungan Dengan Cara Lelang, Fakultas Hukum Universitas Surakarta, 2014

Nasution, Bismar, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, Makalah disampaikan pada dialog interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Penelitian Hukum pada Makalah Akreditasi Fakultas Hukum USU tanggal 18 Februari 2003

Offi Jayanti, Agung Darmawan, Pelaksanaan Lelang Tanah Jaminan yang Terikat Hak Tanggungan, Fakultas Hukum UNDIP, 2018

Sibarani,Bachtiar, Parate Eksekusi dan Paksaan Badan, Jurnal Hukum Bisnis Vol.15, 2001

WriteOff,http://www.jawapos.co.id/indonesia/jawapos/news/today/analysis/op18-1.html, diakses terakhir tanggal 4 Maret 2021

Melisa N Sihotang, Penyelesaian Kredit Macet Atas Pinjaman Nasabah Bank Pada PT. Bank Mandiri Cabang Balige, 2008, USU Repository.