ANALISIS PUTUSAN HAKIM MAHKAMAH SYARIAH PROVINSI ACEH NOMOR 28/PDT-G/2015/MS-ACEH
B. Pertimbangan majelis hakim keluar dari tuntutan Pemohon
Pertimbangan merupakan suatu tahapan dimana majelis hakim mempertimbangkan fakta yang terungkap selam persidangan berlangsung, mulai dari gugatan, jawaban, eksepsi dari tergugat yang di hubungkan dengan alat bukti yang ada untuk memenuhi syarat formil maupun syarat materil.
Setelah hakim dalam persidangan peradilan agama menganalisa peristiwa yang terjadi dan memutuskan apakah terbukti atau tidak terbukti dengan didukung peraturan hukum yang ada seperti Al-Qur’an, hadis, pendapat para jumhur ulama serta peraturan Hukum Islam yang dapat mendukung kearah dikabulkan atau ditolaknya sebuah gugatan atau permohonan.
Pertimbangan hukum dimulai dengan kata menimbang dan seterusnya. Khusus di pengadilan Agama biasanya mencantumkan dalil hukum yang bersifat Islami, dari Alqur’an dan hadist maupun pendapat para jumhur ulama dan peraturan Islam lainnya.
Berdasarkan salinan putusan Mahkamah Syariah Provinsi Aceh Nomor 28/Pdt.G/2010/MS-Aceh, tertanggal 13 Mei 2015, menyatakan bahwa adapun pertimbangan-pertimbangan hukum majelis hakim pada kasus tersebut, berdasarkan fakta-fakta yang ada didalam kasus ini, maka majelis hakim berpendapat:
Pada tanggal 25 April 2013 HJ.S menghibahkan tanah kepada anak kandungnya J yang dilakukan sendiri oleh HJ. S dihadapan PPAT setempat.
Suami H. S telah meninggal dunia dan mempunyai 5 (lima) orang anak, 2 (dua) orang anak perempuan dan 3 (tiga) orang anak laki-laki dan salah satunya telah meninggal dunia. Setelah suami HJ. S meninggal telah terjadinya pembagian warisan dan masing-masing telah mendapatkan harta bagian sepeninggalan suami HJ.S.
Tujuan HJ.S menghibahkan tanahnya kepada J bermaksud untuk menjadikan pengganti biaya hidup selama HJ. S dirawat oleh J. Setelah terjadinya penghibahan tersebut, HJ S tinggal bersama J di Banda Aceh, namun setelah tinggal bersama tersebut terjadilah percekcokan antara HJ S dengan J sehingga HJ S kembali ke kampong halamannya di meurudu.
HJ S merasa J terjadi ingkar janji sehingga menyebabkan pencabutan kembali tanah yang telah dihibahkannya tersebut, yang dimana J tidak merawat serta mengurus HJ S seperti perjanjian yang telah dilakukan sebelumnya.
Menimbang, bahwa atas dasar apa yang telah dipertimbangkan oleh majelis hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu dalam putusannya tersebut khususnya sepanjang mengnai pertimbangan hukum dalam eksepsi sudah tepat dan benar, oleh karenanya majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh mengambil alih menjadi pertimbangan dan pendapat sendiri dalam mengadili dan memutuskan perkara ini.
Putusan yang diberikan oleh Mahkamah Syariah Meureudu mengabulkan gugatan HJ S dan membatalkan hibah HJ S terjhadap J yang berupa sebidang tanah yang terletak di Blang Gapu Gampoeng Blang Glong serta menghukum J mengembalikan tanah yang dihibahkan HJ S kepadanya.
Namun dalam hal ini putusan dari Mahkamah Syariah meurudu tidak semata diterima oleh J sehingga J mengajukan banda pada Mahkamah Syariah Provinsi yang terletak di Banda Aceh.
Menimbang, bahwa majelis hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu tidak menuangkan kata eksepsi pada amar putusan, oleh karenanya majelis hakim tingkat banding perlu memperbaiki amar putusan tingakt pertama sebagaimana bunyi amar putusan ini. Dalam pokok perkara :
Menimbang bahwa majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh setelah mempelajari berkas didapati fakta bahwa sebidang tanah kebun kelapa di Blang Gapu Blang Glong Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya seluas 1.141,33 M, tanah kebun tersebut adalah tanah milik penggugat sendiri yang telah dihibahkan kepada anak kandungnya pada tanggal 25 April 2013 dengan akta hibah nomor : 594/107/IV/2013 tanggal 25 April 2013.
Menimbang bahwa majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syariah Aceh sependapat dengan pertimbangan hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu yang menyatakan bahwa hibah orang tua terhadap anak dapat dibatalkan/ditarik kembali, hal ini sesuai dalil - dalil syar’i para ulama serta sesuai dengan Pasal 212 KHI.
Menimbang, bahwa majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh tidak sependapat dengan pertimbangan Majelis hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu terhadap tuntutan Penggugat/Terbanding agar menyatakan Akta Hibah Nomor 594/107/IV/2013, tanggal 25 April 2013 tidak berkekuatan hukum dan
tidak meningkat, karena dalam pertimbangan majelis hakimtingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu menyatakan bahwa terhadap tuntutan tersebut tidaklah menjadi kompetensi absolut dari Mahkamah Syari’ah melainkan menjadi kompetensi bsolut dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), sehingga terhadap tuntutan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.
Menimbang, bahwa tuntutan yang diajukan oleh penggugat/terbanding adalah mohon kepada ajelis hakim tingkat pertama untuk menyatakan Akta Hibah tidak mempunyai kekuatan hukum, bukan minta untuk dibatalkan akta hibah. Oleh karenanya majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh berpendapat bahwa Mahkamah Syari’ah Meurudu dapat menetapkan bahwa akta tersebut tidak berkekuatan hukum.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh perlu memperbaiki amar putusan Mahkamah Syari’ah Meurudu nomor 21/Pdt.G/2014/MS-Mrd tanggal 27 Oktober 2014 dengan amarnya sebagaimana tersebut dalam putusan ini.
Pertimbangan hakim dalam kasus pembatalan hibah 28/PDT.G/2015/MS- Aceh menerangkan bahwa membatalkan akta hibah yang telah dibuat sebelumnya serta menyerahkan kembali tanah yang dihibahkan tesebut kepada pemberi hibah yang merupakan orang tuanya sendiri.
pertimbangan majelis hakim dalam kasus tersebut tidak seperti yang menjadi alasan HJ S dalam penarikan kembali tanah hibah tersebut kepada J, adapun alasan HJ S menarik kembali tanah hibah tersebut karena dalam pemberian tanah hibah
tersebut HJ S memberikan suatu syarat yang dimana syarat tersebut harus dijalankan, syarat tersebut berupa menjaga serta merawat HJ S sampai akhir hayatnya, namun dalam hal ini HJ S merasa J tidak melaksanakan syarat yang telah diberikannya tersebut sehingga HJ S meinta kembali tanah hibah yang telah diberikannya kepada J.
Pertimbangan majelis tidak sesuai dengan apa alasan dari gugatan pemohon yang tercantum dalam kasus pembatalan hibah nomor 28/PDT.G/2015/MS-Aceh karena hakim melihat adanya gugatan yang dilakukan oleh seorang orang tua terhadap anaknya dalam pembatalan hibah, oleh maka itu hakim mempertimbangkan dari segi pembatalan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
Hibah bersyarat tidak ada aturannya dimana pun secara tertulis oleh karena itu majelis hakim tidak melihat adanya persyaratan yang diajukan pemberi hibah tersebut dijalankan atau tidak, majelis hakim melihat dari segi pembatalan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, jika sebuah gugatan pembatalan hibah tersebut bukan karena orang tua terhadap anaknya maka majelis hakim akan menolak gugatan tersebut karena hibah tidak bisa ditarik lagi apapun yang terjadi kecuali pemberian hibah tersebut tidak menuhi syarat sahnya suatu hibah.122
Pertimbangan hukum yang diambil oleh hakim telah sesuai dengan apa yang tercantumkan dalam KHI pasal 212 yang menyebutkan bahwa pembatalan hibah boleh dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya sehingga hakim mengambil pertimbangan hukum menurut KHI serta hakim tidak melihat adanya hibah bersyarat
122Hasil wawancara dengan Bapak Abd Manan Hasyim, Majelis Hakim Mahakamah Syariah
karena hibah bersyarat dalam gugatan tersebut, karena hibah bersyarat tidak diatur dalam hukum manapun, dan hanya terjadi karena kebiasaan masyarakat di Kota Bnada Aceh.
C. Analisis Putusan Hakim Mahkamah Syariah Provinsi Aceh Nomor 28/PDT-