BAB III
PEMBATALAN HIBAH DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
A. Tata Cara Peralihan Hak Tanah Dari Hibah
Praktik pelaksanaan di Indonesia, khususnya penghibahan atas barang-barang yang tidak bergerak, seperti penghibahan atas tanah dan rumah, selalu dipedomani ketentuan yang bermaktub dalam pasal 1682 dan 1687 KUH Perdata, yaitu adanya suatu formalitas dalam bentuk akta notaris. Maksudnya pernyataan penghibahan itu dilaksanakan dihadapan Notaris, hal ini kaitannya dengan pengurusan surat-surat balik nama atas benda yang dihibahkan tersebut berbentuk tanah yang sudah mempunyai sertifikat, maka penghibahan harus dilakukan di depan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) di daerah mana tanah tersebut berada.
Bila ada kehendak yang disengaja dan disepakati atas sebidang tanah milik, maka didalamnya ada pengalihan hak atas tanah tersebut. Bila pengalihan tersebut dipaksakan oleh kewenangan dan kekuasaan Negara maka disebut dicabut atau mungkin dinasionalisasi. Dan inipun harus dengan menempuh persyaratan, sebab terjadi pemutusan hubungan hukum kepemilikan didalamnya.94
Peralihan hak atas tanah menurut pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dapat dilakukan melalui perbuatan hukum seperti jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum lainnya yang dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang, sedang dalam Pasal
94Muhammad Yamin Lubis dan Abd Rahim Lubis,Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi,
2 Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1997 dan Pasal 95 Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997 ditentukan jenis akta yang dapat dibuat oleh PPAT antara lain perbuatan hukum mengenai jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan kedalam perusahaan (imbreng), pembagian hak bersama, pemberian Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai atas tanah Hak Milik, Pemberian Hak Tanggungan dan Pemberian Kuasa Membebankan Hak Tanggungan.
Peralihan hak atas tanah tersebut dalam kaitannya yang termasuk disini adalah perbuatan hukum yang berupa:
1. Jual Beli 2. Tukar Menukar 3. Hibah
4. Pemasukan dalam Perusahaan; dan 5. Pembagian Hak Bersama
6. Penggabungan atau Peleburan perseroan atau koperasi yang didahului dengan likuidasi (Pasal 43 ayat (2)).95
Sebagai ketentuan formalnya, PPAT membuat akta dari perbuatan hukum peralihan hak tersebut dengan bentuk, isi dan cara perbuatannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 jo Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 1 Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997.
Berkenaan dengan peralihan hak atas tanah, Boedi Harsono mengatakan : beralihnya adalah suatu peralihan hak yang dikarenakan yang mempunyai hak meninggal dunia, maka haknya dengan sendirinya menjadi beralih kepada ahli warisnya. Dialihkan adalah suatu peralihan hak yang dilakukan dengan sengaja oleh
seseorang kepada pihak lain dengan tujuan beralihnya hak tersebut kepada pihak lain yang menerima pengalihan hak tersebut.96
Pebuatan hukum peralihan hak atas tanah ini, diatur ketentuan perbuatan aktanya sebagaimana diatur dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 sebagi berikut :
(1)PPAT menolak membuat akta jika:
a. Mengenai sebidang tanah yang sudah terdaftar kepadanya tidak disampaikan sertifikat asli hak yang bersangkutan atau sertifikat yang diserahkan tidak sesuai dengan daftar-daftar yang ada di Kantor Pertanahan; atau
b. Mengenai bidang tanah yang belum terdaftar, kepadanya tidak disampaikan:
1. Surat bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) atau surat Keterangan Kepala Desa / Kelurahan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan menguasai bidang tanah tersebut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2); dan
2. Surat keterangan yang menyatakan bahwa bidang tanah yang bersangkutan belum bersertifikat dari kantor Pertanahanatau untuk tanah yang terletak didaerah yang jauh dari kedudukan Kantor Pertanahan dari pemegang hak yang bersangkutan dengan dikutkan oleh Kepala Desa/Kelurahan; atau
c. Salah satu atau para pihak yang akan melakukan perbuatan hukumyang bersangkutan atau salah satu saksi sebagai mana dimaksud dalam Pasal 38 tidak berhak atau tidak memenuhi syarat untuk bertindak demikian:atau
d. Salah satu pihak atau para pihak bertindak atas dasar suatu surat kuasa mutlak yang pada hakikatnya berisikan perbuatan hukum pemindahan hak;atau
e. Untuk perbuatan hukum yang akan dilakukan belum diperoleh izin pejabat atau instansi yang berwenang, apabila izin tersebut diperlukan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau
f. Obyek perbuatan hukum yang bersangkutan sedang dalam sengketa mengenai data fisik dan atau data yuridisnya; atau
g. Tidak dipenuhinya syarat lain atau dilanggar larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.
(2)Penolakan untuk membuat akta tersebut diberitahukan secara trtulis kepada pihak-pihak yang bersangkutan disertai alasannya.
Setelah tidak ada halangan untuk perbuatan akta dari perbuatan hukum sebagaimana diatur diatas, maka dilanjutkn dengan perbuatan akta peralihan haknya oleh PPAT, selanjutnya Pasal 40 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 diatur sebagai berikut:
berikut dokumen-dokumen yang besangkutan kepada Kantor Pertanahan untuk didaftar.
2. PPAT wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis mengenai telah disampaikannya akta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada para pihak yang bersangkutan.
Selanjutnya prosedur pendaftaran peralihan haknya setelah dibuatkan akta PPAT dan disampaikan ke Kantor Pertanahan, diatur dalam Pasal 105 Peraturan Menteri Negara Agraria, kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997, yakni pencatatan peralihan hak dalam buku tanah, sertifikat dan daftar lainnya dilakukan sebagai berikut:
a. Nama pemegang hak lama di dalam buku tanah dicoret dengan tinta hitam dan dibubuhi paraf Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk.
b. Nama atau nama-nama pemegang hak yang baru dituliskna pada ahalaman dan kolom yang ada dalam buku tanahnya dengan dibibuhi tanggal pencacatan, dan kemudian ditandatangani oleh Kepala Kantor Pertanahan atau pejabat yang ditunjuk dan dicap dinas Kantor Pertanahan;
c. Yang tersebut pada huruf a dan b juga dilakukan pada sertifikat hak yang bersangkutan dan daftar-daftar umum lain yang memuat nama pemegang hak lama.
Selanjutnya sertifikat hak yang dialihkan diserahkan kepada pemegang hak baru atau kuasanya.
a. Izin Peralihan / Pemindahan Hak
Berdasarkan ketentuan Pasal 98 Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997, maka dalam rangka pembuatan akta pemindahan atau pembebanan hak atas tanah dan mendaftarnya tidak diperlukan izin pemindahan hak, kecuali dalam hal sebagai berikut:
a. Pemindahan atau pembebanan hak atas tanah atau Hak Milik atas Satuan Rumah Susun yang didalam sertifikatnya dicantumkan tand yang menandakan bahwa hak tersebut hanya boleh dipindahtangankan apabila telah diperoleh izin dari instansi yang berwenang;
b. Pemindahan atau pembebanan hak pakai atas ranah Negara.
Mengenai hal izin pemindahan hak diperlukan, maka izin tersebut harus sudah diperoleh srbrlum akta pemindahan atau pembebanan hak-hak yang besangkutan dibuat. Izin pemindahan hak yang diperlukan tersebut dianggap sudah diperoleh untuk pemindahan hak yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan izin lokasi atau pemasaran hasil pengebangan bidang tanah Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai induk oleh perusahaan real estate, kawasa industry atau pengembangan lain yang sejenis.
Selanjutnya diatur bahwa sebelum dibuat akta mengenai pemindahan ha katas tanah, calon penerima hak harus membuat pernyataan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan:97
a. Dengan pemindahan hak tersebut tidak menjadi pemegang ha katas tanah yang melebihi ketenuan maksimum penguasaan tanah menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Dengan pemindahan hak tersebut tidak menjadi pemegang hak atas tanah absentee (guntai) menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Menyadari bahwa apabila pernyataan tidak benar maka tanah kelebihan atau tanah kelebihan atau tanah absentee tersebut menjadi obyek landreform;
d. Bersedia menanggung semua akibat hukumnya, apabila pernyataan sebagaimana dimaksud pada a dan b tidak benar.
PPAT wajib menjelaskan kepada calon penerima hak maksud dan isi pernyataan tersebut.
b. Kedudukan PPAT
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa dalam perolehan hak atas tanah, khususnya dalam peralihan hak, harus dibuktikan perbuatan hukumnya dengan akta otentik yang diperbuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Tentang kedudukan PPAT tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah dan peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI Nomor 1 Tahun 2006.
memberikan suatu hak baru atas tanah menggadaikan tanah atau meminjam uang dengan hak atas tanah sebagai tanggungan, sebagaimana yang dimaksud dalam PP No.10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.98
Berdasarkan Pasal 1 PP No.37 Tahun 1997 tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah. Dalam peraturan ini dimaksud dengan PPAT dapat dibagi menjadi:
a. Pejabat pembuat akta tanah, selanjutnya disebut PPAT, adalah pejabat umum yang diberikan kewenangan untuk membuat akta-akta otentik mengenaiperbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun.
b. PPAT sementara adalah pejabat pemerintah yang ditunjuk karena jabatannya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT di daerah yang belum cukup terdapat PPAT. PPAT sementara yang dimaksud adalah Camat dan Kepala Desa. Penunjukan PPAT sementara terhadap Kepala Desa dapat terjadi berdasarkan penelitian letak desa sangat terpencil dan juga banyaknya bidang tanah yang sudah terdaftar di wilayah desa tersebut.
c. PPAT khusus adalah pejabat Badan Pertanahan Nasional yang ditunjuk karena jabatannya khususnya untuk melaksanakan tugas PPAT dengan membuat akta PPAT tertentu khususnya dalam rangka pelaksanaan program atau tugas pemerintah. Penunjukan Kepala Kantor Pertanahan sebagai PPAT khusus
98 Effendi Parangin,Hukum Agraria Indonesia (Suatu Telaah dari Sudut Pandang Praktisi
dilakukan oleh menteri secara khusus demikian khusus seperti diatur dalam Pasal 8 Peraturan Menteri Agraria Kepala Badan Pertanahan Nasional No.4 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah N0.37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah. Penunjukan dapat dilakukan di dalam keputusan mengenai penetapan program khusunya pelayanan masyarakat yang memerlukan ditunjuknya Kepala Kantor Pertanahan sebagai PPAT Khusus Jabatan PPAT Sementara dan PPAT Khusus akan berhenti dengan sendirinya apabila tidak lagi memegang jabatan sebagai Camat, Kapala Desa, Kepala Kantor Pertanahan.
Terjadinya ketidak-konsistenan pelaksanaan peraturan tersebut, karena sekalipun disuatu kota besar, formasi para camat tetap diangkat sebagai PPAT-sementara, padahal sesuai ketentuan, kehadiran PPAT-sementara (Camat atau kepala Desa) hanya apabila di daerah tersebut belum cukup terdapat PPAT/Notaris.
Hal yang menarik lagi adalah terjadi polemik akhir-akhir ini dalam perbuatan akta otentik atas perbuatan hukum mengenai tanah sehubungan dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, yang dalam Pasal 15 ayat (2) huruf f disebutkan Notaris berweanang membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan.99
Dasarnya suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak terkandung maksud tertentu yaitu mengharapkan terjadinya suatu akibat hukum yang dikehendaki. Dahulu orang dalam melakukan perbuatan hukum cukup dengan adanya
kata sepakat dari kedua belah pihak secara lisan, dengan dilandasi atas saling percaya mempercayai berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana orang (pihak-pihak) biasanya lebih cenderung melakukan perbuatan hukum tersebut dengan merealisasikannya dalam bentuk perjanjian secara tertulis atau lebih dikenal dengan sebutan akta otentik.100 Jadi, Notaris merupakan pejabat publik yang mempunyai kewenangan untuk membuat akta, yang di dalamnya terkandung adanya perikatan di antara para pihak yang melakukan perikatan tersebut, demikian juga halnya bagi para pihak dalam melakukan penghibahan.
Proses peralihan hak atas tanah yang dihibahkan tidak ada perbedaannya dengan peralihan hak pada umumnya, karena peralihannya hak tersebut juga melalui PPAT setempat yang dimana kawasan letak wilayah tanah tersebut, dengan dibuatkan akta hibah tersebut oleh pihak PPAT maka peralihan hak tanah hibah tersebut sudah beralih ke penerima hibah tersebut. Proses peralihan hak yang harus dilakukan dengan pembuatan akta oleh PPAT yaitu akta hibah merupakan suatu syarat bagi si penerima hibah untuk melakukan pendaftaran tanah tersebut kepadan Badan Pertanahan Nasional, karena merupakan suatu syarat dalam pendaftaran tanah hibah tersebut.
Sebelum akta hibah dibuat oleh PPAT, terlebih dahulu calon penghibah diharuskan untuk mengisi formulir surat permohonan yang telah disediakan oleh
100Hartono Hadisoeprapto,Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan, Penerbit
PPAT, yang pada pokoknya berisikan tentang permintaan supaya dibuatkan akta hibah.
Setelah formulir permohonan tersebut diisi oleh calon penghibah sebagaimana mestinya, PPAT meminta kepada calon penghibah dan penerima hibah berserta saksi-saksi supaya pada hari yang ditentukan dating menghadap PPAT untuk dibuatkan akta hibah tanahnya.
Untuk keperluan pembuatan akta tersebut, PPAT meminta surat-surat bukti pemilikan tanah dan identitas pihak-pihak yang bersangkutan untuk diketahui kebenarannya, penyelidikan tersebut untuk mengetahui mengenai kemungkinan adanya hak-hak lain yang dibebankan di atas tanah itu, misalnya dengan hak tanggungan, gadai tanah, sewa dan lain-lain. Di samping itu, untuk mengetahui apakah pemberian hibah benar-benar merupakan pemilik dari tanah yang akan dihibahkan sehingga nantinya tidak merugikan pihak yang lainnya.
Sebelum akta hibah ditanda tangani oleh pemberi dan penerima hibah. PPAT harus terlebih dahulu membacakan isi akta dihadapannya hadir da memperhatikan para pihak dan saksi-saksi. Adapun tujuannya dibacakan akta tersebut untuk mencegah adanya kekeliruan dalam akta, setidaknya apakah para pihak dan saksi telah setuju dengan isi yang tertung dalam akta tersebut.
peraturan yang telah tercantum dalam Pasal 22 PP no 37 tahun 1998 tentang peraturan jabatan pejabat pembuat akta tanah.
Akta dibuat dalam rangkap 2 (dua) satu rangkap disimpan oleh PPAT yang bersangkutan dan satu rangkap lagi disampaikan kepada kantor pertanahan nasional untuk keperluan pendaftaran. Untuk pembuatan akta hibah tersbut kepada para pihak diwajibkan membayar biaya uang jasa PPAT, termasuk ung jasa saksi sebanyak 1 % dari harga taksiran tanah hibah tersebut.
Setelah selesainya pembuatan akta hibh oleh PPAT, maka berdasarkan pasal 40 PP No 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal ditanda tanganinya akta tersebut, PPAT harus menyampaikan akta yang dibuatnya beserta berkas-berkas lain pada kantor pertanahan untuk proses pendaftaran tersebut.
B. Proses Pendaftaran Tanah Yang di Hibahkan
Pemahaman masyarakat luas tentang pengertian “pendaftaran tanah banyak yang rancu. Jika atas sebidang tanah telah dilakukan pencacatannya secara administratif oleh instansi Pemerintah banyak yang beranggapan bahwa tanahnya sudah terdaftarkan. Sementara ketentuan hukum agraria tidak demikian.101
Kegiatan pendaftaran tanah seperti yang disebutkan dalam Pasal 19 UUPA hanya meliputi:102
a) Pengukuran, pemetaan, dan pembukuan tanah;
101Tampil Anshori Siregar,Undang-Undang Pokok Agraria Dalam Bagan, Medan, Kelompok
Studi Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum USU, 2011, hal 218
b) Pendaftaran ha katas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;dan
c) Pemberian surat tanda bukti yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Diterbitkannya ketentuan peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 sebagai Pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 telah terjadi satu langkah maju untuk mencapai kesempurnaan atas pelaksanaan pendaftaran tanah di Indonesia. Dan jika dikaitkan dengan tujuan pendaftaran tanah sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tersebut maka menurut AP. Parlindungan telah memperkaya ketentuan Pasal 19 UUPA tersebut, karena :
1. Dengan diterbitkannya sertifikat ha katas tanah maka kepada pemiliknya diberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum.
2. Dengan informasi pertanahan yang tersedia dikantor pertanahan maka pemerintah akan mudah merencanakan pembangunan Negara yang menyangkut tanah, bahkan bagi rakyat sendiri lebih mengetahui kondisi peruntukan tanah kepemilikannya.
3. Dengan administrasi Pertanahan yang baik akan terpelihara masa depan pertanahan yang terencana.
Asas yang dianut untuk Pendaftaran tanah diatur berdasarkan Pasal 2 PP 24/1997 yakni sebagai berikut:
1. Sederhana
2. Aman
Keamanan disini berarti akan memberikan rasa aman bagi pemegang sertifikat apabila mereka telah melakukan prosedur pendaftaran tanah dengan teliti dan cermat.
3. Terjangkau
Berkaitan dengan kemampuan finansial seseorang untuk membayar biaya, khususnya harus memperhatikan agar tidak memberatkan pihak-pihak yang ekonominya lemah. Intinya agar jangan sampai pihak ekonomi lemah tidak melakukan pendaftaran tanah hanya karena masalah tidak mampu membayar.
4. Mutakhir
Setiap data yang berkaitan dengan pendaftaran tanah haruslah data yang terbaru, yang menunjukan keadaan riil pada saat yang sekarang. Setiap ada perubahan fisik atau benda-benda diatasnya atau hal yuridis atas tanah harus ada datanya (selalu ada pembaharuan data).
5. Terbuka
Dokumen-dokumen atau data-data baik fisik atau yuridis bersifat terbuka dan boleh diketahui oleh masyarakat. Asas ini bertujuan agar bila ada hal-hal yang menyimpang atau disembunyikan dapat diketahui.103
Beberapa ahli Agraria Indonesia menyebutkan bahwa system pendaftaran tanah yang berlaku ndi Indonesia menganut system Torrens. Sistem ini dapat di identifikasikan dari :
1. Orang yang behak atas tanahnya harus memohonkan dilakukannya pendaftaran tanah itu agar aNegara dapat memberikan bukti hak ats permohonn yang diajukan. Hal ini sejalan dengan ide dasar dari system Torrens dimaksud, bahwa manakala seseorang mengklaim sebagai pemilikfee simple baik karena undang-undang atau sebab lain harus mengajukan permohonan agar tanah yang bersangkutan diletakkan atas namanya.
2. Dilakukan penelitian atas alas hak dan obyek bidang tanah yang diajukan pemohon pendaftaran tanah untuk pertama kali yang bersifat sporadis. Penelitian ini dikenal sebagai examiner of title. System pendaftaran tanah di Indonesia mengenal lembaga ini dengan nama Panitia Pemeriksaan Tanah (panitia A untuk Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, dan Panitia B untuk Hak Guna Usaha), yang semula pembentukannya didasarkan pada Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12 Tahun 1992 saat ini disempurnakan dengan Peraturan Kepala Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2007. Khusus untuk kegiatan pendaftaran pertama kali bersifat sistematis, oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dikenal dengan nama Panitia Ajudikasi.104
Penerapan dari system ini berawal dari cita suatu ketentuan bahwa seseorang dapat mengklaim sebagai pemilik fee sample bail karena undang-undang atau sebab
lainnya harus mengajukan suatu permohonan agar lahan yang bersangkutan dapat diletakkan atas namanya.105
Tujuan ditelitinya alas hak ini ternyata akan memperkokoh keabsahan formalitas data yuridis dan data teknis, sehingga pada akhirnya panitia dapat berkesimpulan:
1. Tanah yang dimohon untuk didaftarkan tersebut baik dan jelas tanpa keraguan untuk memberikan haknya;
2. Permohonan tersebut tidak dijumpai ada sengketa kepemilikan;
3. Tanah yang dimohon diyakini sepenuhnya oleh tim ajudikasi atau Panitia Pemeriksaan Tanah untuk dapat diberikan haknya sesuai yang dimohonkan pemilik tanah;
4. Tanah tersebut diadministrasikan dengan pemberian bukti haknya tidak ada yang bersengketa lagi dan tidak ada yang keberatan terhadap kepemilikannya;106
Indikator ini berarti atau bermakna mendukung asas publisitas dan asas spesialitas dari pelaksanaan pendaftaran tanah yang dilakukan di Indonesia.
Pendaftaran tanah yang dianut oleh system Torrens ini tentu mempunyai beberapa kelebihan seperti dapat menentukan biaya yang dapat diduga sebelumnya dan meniadakan pemeriksaan yang berulang-ulang serta dapat secara tegas menyatakan dasar haknya.107
Keberadaan system pendaftaran tanah model Torrens ini, persis apa yang disebutkan atas permohonan seseorang untuk memperoleh hak milik sebagaimana disebutkan dalam Pasal 22 UUPA:
1. Terjadinya hak milik menurut hak adat diatur denga peraturan pemerintah. 2. Selain menurut cara sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini Hak
milik terjadi;
a. penetapan pemerintah, menurut cara dan syarat-syarat yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
b. Ketentuan Undang-Undang.
Dengan kata lain setiap terjadinya hak milik (diproses pendaftaran untuk hak miliknya) harus melalui penetapan pemerintah, agar permohonan dapat disetujui untuk dikeluarkan bukti haknya, setelah diajukan seseorang ke kantor pertanahan setempat.108
Dengan demikian terjadinya hak milik sebagaimana disebutkan dalam Pasal 584 KUH Perdata tidak serta merta berlaku dalam memperoleh hak milik atas tanah menurut ketentuan hukum agrarian.
Dengan demikian untuk memperoleh hak milik atas tanah, baik melalui konversi (pengakuan hak dan penegasan hak) maupun dengan permohonan baru atas tanah Negara tetap harus melalui suatu proses untuk didaftarkan menjadi hak milik seseorang tersebut. Inilah ketelitian yang disebutkan dalam sistem Torrens tersebut.
Pendaftaran tanah dalam hal tanah yang telah dihibahkan tidak berbeda tatacaranya seperti pendaftaran tanah pada umumnya. Seperti yang telah diketahui bahwa sebelum berlakunya undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agrarian (UUPA), setiap pemindahan hak atas tanah tetap yang ada di wilayah Indonesia dan untuk peraturan mengenai pendaftaran tanah, maka Pemerintah mengeluarkan peraturan Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Selanjutnya, dalam pendaftaran hak atas tanah Pasal 37 ayat 1 dikenal juga dengan tanah hibah, sedangkan penghibahan dalam sistem KUH Perdata adalah seperti halnya jual beli atau tukar menukar, dalam arti belum memindahkan hak milik, karena hak milik ini baru berpindah dengan dilakukannya penyerahan secara yiridis, yang cara-caranya seperti dalam melakukan jual beli, penghibahan disamping jual beli dan tukar menukar merupakan suatu titel bagi pemindahan hak milik.
Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuansatuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu.109
Negara hukum Republik Indonesia bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah dikuasai Negara dan dimanfaatkan untuk mencapai
109 Effendi Bachtiar, Kumpulan Tulisan tentang Hukum Tanah, Alumni Bandung, Bandung,
sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat indonesia. Negara mempunyai wewenang selaku organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat Indonesia pada tingkatan yang tertinggi untuk:
1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi.
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang dengan bumi dan lain-lainnya atau menentukan dan mengatur hal-hal yang dapat dipunyai atas bumi.
3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang dan perbuatan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Pendaftaran tanah diselenggarakan oleh Jawatan Pendaftaran Tanah menurut ketentuan-ketentuan dalam Peraturan pemerintah ini dan mulai pada tanggal yang ditetapkan oleh menteri Agraria untuk masing-masing daerah. Dalam Keppres nomor 34 Tahun 2003 sebagian kewenangan pemerintah dibidang pertanahan dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota, kewenangan yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Pemberian ijin.
b. Penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan bangunan. c. Penyelesaian sengketa tanah garapan.
d. Penyelesaian masalah gangti kerugian dan santunan tanah pembangunan. e. Penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah
f. Penetapan dan Penyelesaian tanah ulayat
g. Pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. h. Pemberian ijin membuka tanah.
i. Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota.
Kewenangan tersebut hanya bersifatr lintas Kabupaten dan Kota dalam satu Provinsi, yang akan dilaksanakan oleh pemerintahan Provinsi yang bersangkutan. Dalam Peraturan Kepala BPN RI nomor 3 Tahun 2006 ada organisasi dari bidang pertanahan nasional yang mengatur tentang pendaftaran tanah yang berupa deputi II (bidang hak tanah dan pendaftaran tanah) yang berfungsi sebagai :
a. perumusan kebijakan teknis di bidang hak tanah dan pendaftaran tanah. b. pelaksanaan pengaturan dan penetapan hak-hak atas tanah;
c. inventarisasi dan penyiapan administrasi atas tanah yang dikuasai dan/atau milik negara/daerah;
d. pelaksanaan pengadaan tanah untuk keperluan pemerintah, pemerintah daerah, organisasi sosial keagamaan dan kepentingan umum lainnya;
e. penetapan batas, pengukuran dan perpetaan dan bidang tanah serta pembukuan tanah (kadaster);
f. pembinaan teknis Pejabat Pembuat Akta Tanah, Surveyor Berlisensi dan Lembaga Penilai Tanah.
Direktorat Penetapan Batas Bidang Tanah dan Ruang, Direktorat Pendaftaran Hak Tanah dan Guna Ruang.
Tujuan pendaftaran tanah seperti yang tersebut dalam Pasal 3 PP nomor 24 tahun 1997 merupakan :
a. untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.
b. untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk Pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar, untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan
Kegiatan pendaftaran tanah merupakan kewajiban pemerintahan dalam melaksanakan amanat UUPA seperti yang disebutkan dalam Pasal 19 UUPA meliputi:
a. Pengukuran, pemetaan dan pembukuan tanah;
b. Pendaftaran ha katas tanah dan peralihan hak-hak tersebut;
tentang pendaftaran tanah. Dengan demikian bagi pemegang hak atas tanah wajib didaftarkan yang tersebut merupakan : hak milik (Pasal 23 UUPA), hak guna bangunan (Pasal 32 UUPA), hak guna usaha (Pasal 38 UUPA), dan hak pakai serta hak pengelolaan (Pasal 1 PMA no 1 tahun 1966 tentang pendaftaran hak pakai dan hak pengelolaan).
Tanah hibah haruslah dilalui dengan adanya akta hibah yang dibuat oleh PPAT dengan dihadiri oleh dua orang saksi. Selanjutnya berdasarkan pasal 40 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal ditandatanganinya akta yang bersangkutan, PPAT wajib menyampaikan akta yang dibuatnya berikut dokumen-dokumen yang bersangkutan kepada kantor pertanahan untuk didaftarkan dan PPAT wajib menyampaikan pembertahuan tertulis mengenai telah disampaikannya akta ke kantor Pertanahan kepada para pihak yang bersangkutan. Hibah tanah setelah lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, harus dilakukan dengan Akta PPAT, selain itu, dalam pembuatan akta hibah perlu diperhatiakan obyek yang akan dihibahkan, karena dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 ditentukan bahwa untuk obyek hibah tanah harus dibuat akta hibah oleh PPAT akan tetapi apabila obyek tersebut selain dari tanah (obyek hibah benda bergerak) maka ketentuan dalam KUH Perdata digunakan sebagai dasar pembuatan akta hibah, yaitu dibuat dan ditandatangani Notaris.
pendaftaran tanah pada umumnya, yang di mana setelah proses penyerahan tanah hibah dari pemilik hibah kepada penerima hibah, maka pihak PPAT langsung menyiapkan akta hibah dan pihak penerima mendaftarkan tanah tersebut ke BPN untuk dijadikan sertifikat.
Proses untuk dijadikan sebuah sertifat tersebut juga sama dengan proses pada umumnya karena tanah yang telah dihibahkan akan menjadi hak milik seutuhnya oleh penerima hibah itu sendiri dan dalam sertifikat yang dikeluarkan oleh pihak BPN pun adalah sertifikat hak milik sipenerima hibah dan sipemberi hibah menyerahkan semua berkas ataupun surat surat tanah tersebut kepada PPAT pada saat peralihan hak tanah tersebut.
Prosedur pelaksanaan hibah tanah hak milik baik tanah yang sudah bersertifikat maupun yang belum bersertifikat, haruslah dilakukan melalui dua tahap. Tahap yang pertama dengan pembuatan akta hibah dan tahap yang kedua pendaftaran hibah tanah pada Kantor Pertanahan untuk kemudia diberikan sertifikat kepada penerima hibah sebagai pemegang hak yang baru atas tanah tersebut. Dengan dilaksnakan pendaftaran, penerima hibah akan mendapatkan tanda bukti hak yang lebih kuat dan lebih luas daya pembuktiannya dari akta hibah yang dibuat oleh PPAT.
C. Pembatalan Hibah dalam Hukum Islam
bersaudara atau suami istri. Adapun hibah yang boleh ditarik kembali hanyalah hibah yang dilakukan atau diberikan orang tua kepada anaknya.110
Diterangkan oleh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya Al Fiqhul Islami waadillatuhu bahwa boleh mengambil kembali sesuatu hibah yang diberikan kepada seseorang sebagaimana dalam hadist dinyatakan, Orang yang menghibahkan itu lebih berhak baginya atas suatu barang yang dihibahkan itu sebelum sampai padanya ganti yang ditetapkan sebelumnya. Seorang itu dapat menarik kembali hibah yang telah diberikan kepada anaknya selama bapak si anak tadi masih hidup. Akan tetapi, bila bapak meninggal dunia, hibah tersebut tidak bisa ditarik karena hibah yang telah diberikan kepada si yatim itu tidak dapat ditarik kembali.111
Adapun yang menjadi dasar hukum ketentuan ini dapat ditemukan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasai’I, Ibnu Majah, dan At Tirdmidzi yang artinya berbunyi sebagai berikut :
“Dari Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang lelaki untuk memberikan pemberian atau menghibahkan suatu hibah, kemudian dia mengambil kembali pemberiannya, kecuali hibah itu hibah dari orang tua kepada anaknya. Perumpamaan bagi orang yang memberikan suatu pemberian kemudian dia rujuk di dalamnya (menarik kembali pemberiannya), maka dia itu bagaikan anjing yang makan, lalu setelah anjing itu kenyang ia muntah, kemudian ia memakan muntahnya kembali”.112
110Abdul manan,Op Cit, hal139
Imam Malik dan Jumhur ulama Madinah berpendapat bahwa ayah boleh mencabut kembali apa yang telah dihibahkan kepada anaknya, selama anak itu belum kawin atau belum membuat hutang atau belum terkait hak orang lain diatasnya.113
”Menurut Hadis Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda, bahwa orang yang meminta kembali hibahnya adalah laksana anjing yang muntah kemudian ia makan kembali muntahannya itu, hadist ini diriwayatkan oleh muttafaq’alaih (disepakati oleh semua ahli hadist).114
Didalam redaksi yang berbeda Al-Bukhari meriwayatkan bahwa tidak ada tamsil yang paling jelek baginya kecuali orang yang meminta kembali hibahnya yang telah ia berikan, seperti anjing yang muntah dan kembali memakan muntahannya itu”. Menurut para ulama Al Hadawiyah dan Abu Hanifah bahwa halal meminta kembali hibah selain sadaqah, kecuali hibah kepada orang yang ada hubungan darah atau keturunan. Kata mereka bahwa hadis tersebut hanya menyebutkan sangat makruhnya saja. Tidak sampai haram, tamsil hadis hanya penyucian diri dari perbuatan yang meyerupai anjing (Ash Shan’ani)
Sementara imam Ahmad dan fuqaha Zahiri berpendapat bahwa seseorang tidak boleh menuntut kembali apa yang telah di hibahkannya. Dalam pada itu Abu Hanifah berpendapat boleh saja mencabut kembali apa yang sudah dihibahkan
113 Abdul Manan,Aneka Masalah Hukum Materiel dalam praktek peradilan agama, pustaka
bangda, 2003, hal 187
kepada seseorang, kecuali apa yang telah dihibahkannya kepada perempuan yang mahram.115
Namun demikian kalaupun tertutup kemungkinan untuk menarik kembali sesuatu barang yang telah dihibahkan (menurut sebagian pendapat keculi hibah yang diberikan kepada anaknya), penarikan itu dapat juga dilakukan seandainya hibah yang diberikan tersebut guna mendapatkan imbalan dan balasan ata shibah yang diberikan tersebut guna mendapatkan imbalan dan balasan atas hibah yang diberikannya.
Seseorang yang usianya lebih lanjut memberikan hibah kepada seseorang tertentu, dengan harapan kiranya sipenerima hibah memeliharanya, namun kemudian setelah hibah dilaksanakan sipenerima hibah tidak memperhatikan keadaan si pemberi hibah. Maka dalam hal seperti ini si penerima hibah dapat mnarik kembali hibah yang telah diberikannya.116
Mengenai sebab-sebab suatu hibah dapat dibatalkan dalam Pasal 210 KHI menjelaskan bahwa penyebab suatu hibah dapat dibatalkan adalah sebagai berikut:
1. karena barang yang dihibahkan melebihi batas maximum pemberian hibah yaitu 1/3 dari harta kekayaan pemberi hibah
2. karena tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian hibah 3. penerima hibah menjadi tidak cakap hukum.
Penyebab pertama suatu hibah dapat dibatalkan pada dasarnya sama dengan ketentuan dalam hukum Islam, dimana seseorang dalam memberikan hibah
115Abdul Manan,Op.Cit, hal 187
banyaknya barang yang akan diberika dibatasi oleh hukum yaitu maksimal 1/3 dari harta kekayaan pemberi hibah. Oleh karena itu apabila terjadi pemberi hibah memberikan hibah kepada orang lain melebihi batas tersebut maka keluarga pemberi hibah dapat mengajukan pembatalan terhadap hibah tersebut.
Seperti halnya telah dijelaskan di atas bahwa hibah dapat dibatalkan apabila penerima menelantarkan barang hibah penyebab kedua suatu hibah dapat dibatalkan adalah karena tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dari pemberian hibah. Hal ini berarti pada dasarnya seseorang memberikan hibah kepada orang lain dengan maksud dan tujuan tertentu, misalnya seorang ayah memberikan sebidang tanah kepada anaknya yang telah menikah dengan maksud anaknya dapat memanfaatkan tanah itu, misalnya untuk bercocok tanam, sehingga si anak mendapatkan pendapatan dari tanah tersebut dengan usahanya sendiri.
Namun terkadang adakalanya si anak tidak mengetahui maksud dari orang tuanya memberikan hibah kepadanya sehingga si anak menelantarkan tanahnya sehingga tidak dapat digunakan kembali atau bahkan karena lama tidak diurus maka tanahnya kembali menjadi tanah negara. Sehingga pemberi hibah, dalam hal ini orang tuanya dapat menarik kembali atau melakukan pembatalan terhadap hibah yang diberikannya tersebut.
diadakan terobosan dengan hibah wasiat yaitu suatu hibah yang baru diberikan setelah pewaris/penghibah meninggal dunia atas dasar wasiat yang telah dibuatnya.117 Namun dalam hal ini pemberian hibah tersebut bukan setelah pemberi hibah wafat melainkan setelah penerima hibah atau si anak telah beranjak dewasa atau telah memenuhi syarat yang telah ditentukan pemberi hibah untuk menerima hibahnya tersebut.
Sistem terobosan tersebut hampir serupa dengan hibah gantung yaitu pemberian hibah dimana barangnya tidak langsung diberikan pada saat seseorang menyatakan memberikan hibah kepada orang lain. Sehingga selama belum memenuhi syarat yang disyaratkan penghibah maka hibah tersebut belum berlaku atau belum terjadi. Sedangkan barang hibahnya masih sah menjadi milik penghibah.
Hal ini dalam hukum adat Aceh tidak mengaturnya. Hukum adat yang mengatur ketentuan demikian adalah hukum adat matrilineal karena dalam hukum adat ini seorang anak, terutama anak laki-laki tidak menerima warisan dari mamaknya. Hal ini dikarenakan pewarisan dalam sistem ini dari orang tua perempuan kepada anaknya yang perempuan saja. Sehingga untuk memberikan hak waris kepada anak laki-lakinya perlu diadakan hibah wasiat tersebut.
Pembatalan hibah dapat juga dilakukan melihat dari syarat-syarat terpenuhinya hibah tersebut, apakah penghibahan tersebut telah dituangkan dalam suatu akta, maka jika tidak adanya syarat yang terpenuhi maka pihak ahli waris
berhak mengajukan keberatan dan meminta pengadilan untuk membatalkan hibah tersebut.
Penarikan kembali atau penghapusan hibah ini dilakukan dengan menyatakan kehendaknya kepada sipenerima hibah, diikuti dengan penuntutan kembali barang-barang yang telah dihibahkan. Pembatalan hibah ini dapat dilakukan dengan mengajukan gugatan kepada pengadilan Agama setempat atau di wilayah hukum orang yang memberi hibah itu bertempat tinggal.118
Praktasi hukum di lingkungan Peradilan Agama dituntut kearifan dan kebijaksannaan dalam menghadapinya, sebab pasal 229 Kompilasi Hukum Islam memberikan solusi yang terbaik agar dalam penyelesaian perkara-perkara yang diajukan kepada hakim, wajib memerhatikan dengan sungguh-sungguh nilai hukum yang hidup didalam masyarakat, sehingga putusannya sesuai dengan rasa keadilan.
Sedangkan dalam kompilasi Hukum Islam tidak adanya aturan khusus dalam pembatalan hibah tersebut, karena dalam kompilasi Hukum Islam hanya mengatur pembatalan hibah hanya dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya saja yang terdapat dalam pasal 212 Kompilasi Hukum Islam. Selain pembatalan hibah yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya dalam kompilasi Hukum Islam tidak adanya aturan mengenai pembatalan hibah yang lain.
Pembatalan hibah tersebut tidak dibenarkan dalam Hukum manapun kecuali pembatalan hibah orangtua terhadap anaknya, karena hibah merupakan pemberian cuma - cuma atau dikatakan pemberian secara ikhlas yang tidak ada paksaan, oleh
maka itu hibah yang telah diberikan tidak dibenarkan untuk ditarik kembali kecuali ada hal tertentu yang dapat membatalkan hibah itu sendirinya.
D. Akibat Hukum Dari Pembatalan Hibah
Kadang kala karena sesuatu hal seseorang itu membatalkan apa yang telah diberikan kepada orang lain yang dikarenakan tidak terpenuhinya prestasi. Begitu juga dengan hibah ini, meskipun hibah yang sudah diberikan kepada orang lain termasuk ataupun diberikan kepada anaknya sendiri dan telah dibuatkannya akta yang sah dihadapan Notaris tapi kadang kala ada yang mencabut atau menariknya kembali, dalam hal ini tidak lain adalah membatalkan hibah tersebut.
Didalam Hukum Islam maupun KHI hibah yang telah diberikan tidak dibenarkan untuk mencabutnya kembali Karena hibah merupakan pemberian secara cuma-cuma secara ikhlas dan tanpa adanya paksaan, meskipun hibah itu terjadi antara dua orang yang bersaudara maupun suami istri kecuali hibah orang tua terhadap anaknya.
Hibah yang boleh ditarik kembali sesuai Pasal 212 KHI adalah hibah orang tua terhadap anaknya, ketentuan ini juga merupakan garis Hukum Islam berdasarkan Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Ibnu Abbas yang pada intinya dapat dicabut secara sepihak, akan tetapi ketetntuan ini tidaklah mudah dilaksanakan apabila barang yang telah di hibahkan sudah berpindah tangan.
lain yang tidak dapat dicabut kembali. Undang-undang memberikan kemungkinan bagi si penghibah untuk dapat menarik kembali hibah yang telah diberikan kepada seseorang dengan alasan-alasan tetentu dan keadaan tertentu.
Pembatalan hibah menurut para jumhur ulama sebenarnya diharamkan untuk dilakukannya, karena sudah tidak menjadikan suatu pemberian yang ikhlas lagi ataupun sudah tidak pada konteks pemberian cuma-cuma, oleh maka itu para jumhur ulama mempertegas bahwa pembatalan hibah tersebut tidak lah boleh terjadi.
Karena pembatalan hibah tersebut dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan seperti terjadi perselisihan antara orang tua terhadap anaknya, sehingga keharmonisan antara keduanya dapat ternodai karena adanya hal pembatalan tersebut. Salah satu bentuk perpindahan hak milik dalam pandangan hukum Islam ialah dengan jalan hibah. Dengan menghibahkan suatu benda berarti keluarlah sesuatu itu dari milik wahib (yang menghibahkan) dan berpindah ke dalam milik mahwub lah (yang menerima hibah), sehingga terjadi hubungan hukum antara keduanya. Dikaitkan dengan perbuatan hukum, hibah adalah hubungan hukum yang sepihak. Pihak penghibah dengan sukarela memberikan hak miliknya kepada pihak penerima hibah tanpa ada kewajiban dari penerima itu untuk mengembalikan harta tersebut kepada pihak pemilik pertama.119
Hibah merupakan perbuatan hukum yang sepihak, dimana pada saat penghibahan terjadi pihak penerima hanya menerima apa yang dihibahkan kepadanya
119Satria Effendi M.Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, Analisis
yaitu hibah diberikan secara cuma-cuma. Akibat hukum hibah yang melebihi ketentuan dalam fiqih dan KHI yaitu tidak sah dan dapat dibatalkan oleh Pengadilan Agama apabila ada ahli waris yang menggugat, kecuali ahli waris menyetujui pemberian hibah tersebut, maka hibahnya dianggap sah.120
Kasus pembatalan hibah merupakan kasus yang sering terjadi dikarenakan pihak penerima hibah tidak memenuhi persyaratan dalam menjalankan hibah yang telah diberikan. Menurut hukum, hibah yang sudah diberikan tidak dapat ditarik kembali, akan tetapi terdapat beberapa pengecualian sehingga hibah dapat ditarik kembali.
Menyangkut para pihak yang dapat mengajukan suatu pembatalan hibah adalah pemberi hibah dan ahli waris penghibah. Hibah yang melebihi 1/3 (sepertiga) dapat dibatalkan kepemilikannya. Hibah yang melebihi dari 1/3 (sepertiga) bisa saja tidak dilakukan pembatalan, hal ini disesuaikan dengan apa yang telah di musyawarahkan sebelumnya oleh para pihak, jika hibah yang diberikan atas keseluruhan harta dan hibah tersebut mendapat persetujuan dari para ahli waris, maka hibahnya sah-sah saja, namun jika hibah atas keselurahan harta tersebut tidak dengan persetujuan ahli waris maka hibah tersebut menjadi tidak sah dengan demikian ahli waris dapat mengajukan pembatalan hibah atas haknya terhadap harta warisan yang berkurang karena adanya hibah.
120 Hasil Wawancara dengan Bapak Abd Manan Hasyim, Majelis Hakim Mahkamah Syariah
Mengenai penarikan kembali hibah dari orang tua terhadap anaknya, yang terdapat didalam Pasal 212 KHI “Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya.” Akan tetapi, seorang ayah tidak boleh menarik kembali hibahnya tanpa ada udzur. Jika si ayah menarik kembali hibahnya tanpa ada udzur, maka makruh hukumnya, sementara jika ada udzur maka tidak makruh, misalnya jika si anak durhaka atau hibah tersebut dipergunakan untuk maksiat
Akibat hukum atas harta hibah yang dimohonkan pembatalan di suatu Pengadilan dengan adanya putusan pembatalan hibah yang telah berkekuatan hukum tetap maka kepemilikan atas harta tersebut akan kembali kepada pemberi hibah. Dengan kata lain seluruh harta yang telah dihibahkannya pada waktu dulu akan menjadi hak miliknya sendiri. Pengembalian ini dilakukan dengan mengosongkan terlebih dahulu obyek hibah tersebut. Apabila obyek hibah tersebut telah dibalik nama atau telah disertifikatkan atas nama penerima hibah, maka sertifikat tersebut menjadi tidak berkekuatan hukum.
dirugikan yang pada akhirnya akan mengajukan gugatan kepada masing-masing pihak.
Proses penghibahan harus melalui akta Notaris yang aslinya disimpan oleh Notaris bersangkutan. Hibah barulah mengikat dan mempunyai akibat hukum bila pada hari penghibahan itu dengan kata-kata yang tegas telah dinyatakan diterima oleh penerima hibah, atau dengan suatu akta otentik telah diberi kuasa kepada orang lain. Penghibahan harus ada penyerahan benda yang dihibahkan.
Akibat hukum adalah akibat-akibat yang timbul karena adanya suatu perbuatan, sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Misalnya, kesepakatan dua belah pihak yang cakap, dapat mengakibatkan lahirnya perjanjian. Akibat hukum dapat terjadi pula karena terjadinya pembatalan suatu perbuatan hukum, misalnya adanya pembatalan hibah maka menimbulkan akibat hukum atas harta hibah. Akibat hukum atas harta hibah yang dimohonkan pembatalan di suatu pengadilan dengan adanya putusan pembatalan hibah yang telah berkekuatan hukum tetap maka kepemilikan atas harta tersebut akan kembali kepada pemberi hibah, dengan kata lain seluruh harta yang telah dihibahkannya pada waktu dulu akan menjadi hak miliknya sendiri.
berupa rumah maka penerima hibah yang telah menempati rumah tersebut harus meninggalkan rumah yang diterimanya tersebut sampai jangka waktu yang telah ditentukan berdasarkan putusan majelis hakim dalam pembatalan hibah. Sedangkan apabila obyek hibah berupa tanah maka apabila di atas tanah tersebut oleh penerima hibah telah didirikan sebuah bangunan yang permanen maka dalam jangka waktu tersebut bangunan tersebut dibongkar dan diratakan kembali dengan tanah. Apabila obyek hibah tersebut telah dibalik nama atau telah disertifikatkan atas nama penerima hibah, maka sertifikat tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi. Pemberi hibah dapat mengajukan permohonan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) agar sertifikat obyek sengketa tersebut tidak berlaku lagi dengan adanya putusan pembatalan hibah tersebut. Dengan demikian sertifikat obyek sengketa tersebut kembali juga diatas namakan pemberi hibah.
BAB IV
ANALISIS PUTUSAN HAKIM MAHKAMAH SYARIAH PROVINSI ACEH NOMOR 28/PDT-G/2015/MS-ACEH
A. Hibah bersyarat tidak dijadikan sebagai pertimbangan Majelis Hakim
Hibah bersyarat merupakan hibah yang tidak dikenal dalam Hukum Islam dan Hukum Perdata, namun masyarakat di Kota Banda Aceh masih menggunakan hibah bersyarat dalam pemberiannya terhadap harta tersebut, masyarakat masih menggunakan hibah bersyarat karena karena adanya kebiasaan yang sering terjadi sampai saat ini sehingga adanya hibah bersyarat untuk tujuan suatu hal tertentu seperti memberikan hibah tersebut untuk menjaga serta merawat pemberi hibah hingga akhir hayatnya, oleh karena itulah masyarakat di Kota Banda Aceh masih ada yang menggunakan hibah bersyarat tersebut.121
Hibah bersyarat memang tidak dikenal dalam aturan hukum manapun melainkan adanya kebiasaan dalam masyarakat, namun masyarakat masih menggunakan hibah bersyarat karena tidak tahunya sehingga masih ada yang menggunakan hibah bersyarat tersebut, seharusnya dalam hal ini pihak pemerintahan melakukan sosialisasi akan hibah bersyarat tersebut dengan dibantu oleh pihak mahkamah sendiri.
Jika ada sosialisasi tentang hal pemakaian hibah bersyarat tersebut bisa mengurangi akan adanya pemakaian bersyarat tersebut karena hibah merupakan
121 Hasil wawancara dengan Bapak Abd Latif, Panitera Muda Hukum Mahkamah Syariah
pemberian Cuma-cuma dan secara ikhlas serta adanya paksaan apapun serta tanpa adanya hal – hal yang dijanjikan dalam pemberian tersebut.
Dilihat dari gugatan yang diajukan oleh HJ S terhadap anaknya J merupakan hibah bersyarat yang diberikan, dimana syarat tersebut merupakan menjaga serta merawat pemberi hibah sampai akhir hayatnya,namun dalam hal ini pemberi hibah merasa syarat yang diberikan olehnya tidak dilaksanakan oleh penerima hibah yang merupakan anak kandungnya sendiri, oleh karena itu pemberi hibah tersebut mengajukan gugatan pencabutan hibah yang telah diberikannya tersebut.
Majelis hakim mengabulkan gugatan HJ S terhadap pencabutan hibahnya terhadap J bukan karena syarat yang diberikan tidak dilaksanakan, akan tetapi hakim melihat adanya pencabutan kembali hibah terhadap anak oleh orang tuannya dan pencabutan hibah tersebut di atur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 212 tentang hibah.
Maka hal tersebutlah pertimbangan hakim tidak melihat adanya hibah bersyarat dalam gugatan tersebut melainkan karena pencabutan hibah yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya merupakan hal yang tidak dilarang, dalam putusan ini majelis hakim mengabulkan gugatan penerima hibah yang dimana membatalkan akta hibah tersebut serta mengembalikan tanah yang telah dihibahkan tersebut.
membatalkan suatu hibah karena dalam hukum islam dan KHI hibah bersyarat tidak diatur.
B. Pertimbangan majelis hakim keluar dari tuntutan Pemohon
Pertimbangan merupakan suatu tahapan dimana majelis hakim mempertimbangkan fakta yang terungkap selam persidangan berlangsung, mulai dari gugatan, jawaban, eksepsi dari tergugat yang di hubungkan dengan alat bukti yang ada untuk memenuhi syarat formil maupun syarat materil.
Setelah hakim dalam persidangan peradilan agama menganalisa peristiwa yang terjadi dan memutuskan apakah terbukti atau tidak terbukti dengan didukung peraturan hukum yang ada seperti Al-Qur’an, hadis, pendapat para jumhur ulama serta peraturan Hukum Islam yang dapat mendukung kearah dikabulkan atau ditolaknya sebuah gugatan atau permohonan.
Pertimbangan hukum dimulai dengan kata menimbang dan seterusnya. Khusus di pengadilan Agama biasanya mencantumkan dalil hukum yang bersifat Islami, dari Alqur’an dan hadist maupun pendapat para jumhur ulama dan peraturan Islam lainnya.
Berdasarkan salinan putusan Mahkamah Syariah Provinsi Aceh Nomor 28/Pdt.G/2010/MS-Aceh, tertanggal 13 Mei 2015, menyatakan bahwa adapun pertimbangan-pertimbangan hukum majelis hakim pada kasus tersebut, berdasarkan fakta-fakta yang ada didalam kasus ini, maka majelis hakim berpendapat:
Suami H. S telah meninggal dunia dan mempunyai 5 (lima) orang anak, 2 (dua) orang anak perempuan dan 3 (tiga) orang anak laki-laki dan salah satunya telah meninggal dunia. Setelah suami HJ. S meninggal telah terjadinya pembagian warisan dan masing-masing telah mendapatkan harta bagian sepeninggalan suami HJ.S.
Tujuan HJ.S menghibahkan tanahnya kepada J bermaksud untuk menjadikan pengganti biaya hidup selama HJ. S dirawat oleh J. Setelah terjadinya penghibahan tersebut, HJ S tinggal bersama J di Banda Aceh, namun setelah tinggal bersama tersebut terjadilah percekcokan antara HJ S dengan J sehingga HJ S kembali ke kampong halamannya di meurudu.
HJ S merasa J terjadi ingkar janji sehingga menyebabkan pencabutan kembali tanah yang telah dihibahkannya tersebut, yang dimana J tidak merawat serta mengurus HJ S seperti perjanjian yang telah dilakukan sebelumnya.
Menimbang, bahwa atas dasar apa yang telah dipertimbangkan oleh majelis hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu dalam putusannya tersebut khususnya sepanjang mengnai pertimbangan hukum dalam eksepsi sudah tepat dan benar, oleh karenanya majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh mengambil alih menjadi pertimbangan dan pendapat sendiri dalam mengadili dan memutuskan perkara ini.
Namun dalam hal ini putusan dari Mahkamah Syariah meurudu tidak semata diterima oleh J sehingga J mengajukan banda pada Mahkamah Syariah Provinsi yang terletak di Banda Aceh.
Menimbang, bahwa majelis hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu tidak menuangkan kata eksepsi pada amar putusan, oleh karenanya majelis hakim tingkat banding perlu memperbaiki amar putusan tingakt pertama sebagaimana bunyi amar putusan ini. Dalam pokok perkara :
Menimbang bahwa majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh setelah mempelajari berkas didapati fakta bahwa sebidang tanah kebun kelapa di Blang Gapu Blang Glong Kecamatan Bandar Baru Kabupaten Pidie Jaya seluas 1.141,33 M, tanah kebun tersebut adalah tanah milik penggugat sendiri yang telah dihibahkan kepada anak kandungnya pada tanggal 25 April 2013 dengan akta hibah nomor : 594/107/IV/2013 tanggal 25 April 2013.
Menimbang bahwa majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syariah Aceh sependapat dengan pertimbangan hakim tingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu yang menyatakan bahwa hibah orang tua terhadap anak dapat dibatalkan/ditarik kembali, hal ini sesuai dalil - dalil syar’i para ulama serta sesuai dengan Pasal 212 KHI.
tidak meningkat, karena dalam pertimbangan majelis hakimtingkat pertama Mahkamah Syari’ah Meurudu menyatakan bahwa terhadap tuntutan tersebut tidaklah menjadi kompetensi absolut dari Mahkamah Syari’ah melainkan menjadi kompetensi bsolut dari Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), sehingga terhadap tuntutan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.
Menimbang, bahwa tuntutan yang diajukan oleh penggugat/terbanding adalah mohon kepada ajelis hakim tingkat pertama untuk menyatakan Akta Hibah tidak mempunyai kekuatan hukum, bukan minta untuk dibatalkan akta hibah. Oleh karenanya majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh berpendapat bahwa Mahkamah Syari’ah Meurudu dapat menetapkan bahwa akta tersebut tidak berkekuatan hukum.
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas, maka majelis hakim tingkat banding Mahkamah Syari’ah Aceh perlu memperbaiki amar putusan Mahkamah Syari’ah Meurudu nomor 21/Pdt.G/2014/MS-Mrd tanggal 27 Oktober 2014 dengan amarnya sebagaimana tersebut dalam putusan ini.
Pertimbangan hakim dalam kasus pembatalan hibah 28/PDT.G/2015/MS-Aceh menerangkan bahwa membatalkan akta hibah yang telah dibuat sebelumnya serta menyerahkan kembali tanah yang dihibahkan tesebut kepada pemberi hibah yang merupakan orang tuanya sendiri.
tersebut HJ S memberikan suatu syarat yang dimana syarat tersebut harus dijalankan, syarat tersebut berupa menjaga serta merawat HJ S sampai akhir hayatnya, namun dalam hal ini HJ S merasa J tidak melaksanakan syarat yang telah diberikannya tersebut sehingga HJ S meinta kembali tanah hibah yang telah diberikannya kepada J.
Pertimbangan majelis tidak sesuai dengan apa alasan dari gugatan pemohon yang tercantum dalam kasus pembatalan hibah nomor 28/PDT.G/2015/MS-Aceh karena hakim melihat adanya gugatan yang dilakukan oleh seorang orang tua terhadap anaknya dalam pembatalan hibah, oleh maka itu hakim mempertimbangkan dari segi pembatalan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
Hibah bersyarat tidak ada aturannya dimana pun secara tertulis oleh karena itu majelis hakim tidak melihat adanya persyaratan yang diajukan pemberi hibah tersebut dijalankan atau tidak, majelis hakim melihat dari segi pembatalan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya, jika sebuah gugatan pembatalan hibah tersebut bukan karena orang tua terhadap anaknya maka majelis hakim akan menolak gugatan tersebut karena hibah tidak bisa ditarik lagi apapun yang terjadi kecuali pemberian hibah tersebut tidak menuhi syarat sahnya suatu hibah.122
Pertimbangan hukum yang diambil oleh hakim telah sesuai dengan apa yang tercantumkan dalam KHI pasal 212 yang menyebutkan bahwa pembatalan hibah boleh dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya sehingga hakim mengambil pertimbangan hukum menurut KHI serta hakim tidak melihat adanya hibah bersyarat
122Hasil wawancara dengan Bapak Abd Manan Hasyim, Majelis Hakim Mahakamah Syariah
karena hibah bersyarat dalam gugatan tersebut, karena hibah bersyarat tidak diatur dalam hukum manapun, dan hanya terjadi karena kebiasaan masyarakat di Kota Bnada Aceh.
C. Analisis Putusan Hakim Mahkamah Syariah Provinsi Aceh Nomor
28/PDT-G/2015/MS-ACEH
Berdasarkan KHI Pasal 210 ayat (1), Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) harta bendanya kepada orang lain atau lembaga dihadapan dua orang saksi untuk dimiliki. Pada sengketa yang terjadi antara HJ S terhadap J, dimana hibah yang diberikan tidak melanggar ketentuan yang ada didalam KHI, dimana hibah yang diberikan tidak melebihi dari 1/3 (sepertiga) yaitu penghibahan atas keseluruhan harta.
Perkara tersebut majelis hakim Mahkamah Syari’ah mengabulkan permohonan pembatalan hibah. Majelis hakim juga berpedoman pada dasar bahwa anak tidak diperbolehkan menyakiti perasaan, fisik maupun menjatuhkan martabat orang tua. Dalam perkara ini penerima hibah melanggar apa yang telah diperjanjikan sebelumnya. Pelanggaran perjanjian yang dimaksudkan yaitu pemberi hibah merasa perjanjian yang telah disepakati sebelumnya tidak ditepati oleh penerima hibah, yang dimana pemberi hibah memberikan suatu persyaratan yang berupa merawat dan menjaga pemberi hibah sampai akhir hayatnya, namun penerima hibah dianggap telah mengingkari janjinya tesebut sehingga pemberi hibah yang merupakan orang tuanya penerima hibah menggugat dan mencabut pemberiannya tersebut dengan permohonan meminta kembali tanah yang telah dihibahkan serta membatalkan Akta Hibah yang telah dibuat.
Ada beberapa sebab yang tidak boleh dilupakan dalam permohonan pembatalan hibah, pembatalan tersebut dapat dikabulkan atau bahkan dapat ditolak oleh Majelis Hakim, karena pembatalan hibah tersebut memerlukan kehati-hatian dalam memutuskan suatu perkara dengan lebih mengedepankan kemaslahatan. Hati-hati dalam artian mempertimbangkan beberapa kaidah hukum terlebih dahulu, baik dari Al-Qur’an, as-Sunnah, maupun yurisprudensi.
dengan tidak memakai syarat, walaupun memang dibenarkan adanya syarat-syarat dalam penghibahan untuk beberapa permasalahan.
Yang terjadi dari kasus tersebut dapat diketahui bahwa pencabutan hibah tersebut terjadi karena tidak dilaksanakan syarat yang diberikan oleh pemberi hibah, namun dalam hal ini hakim memandang dari segi pencabutan hibah oleh orang tua terhadap anaknya, karena dalam ranah pengadilan agama tidak mengenal dengan adanya hibah bersyarat.
Kasus pembatalan hibah yang terjadi tersebut merupakan putusan yang telah tepat dilakukan oleh majelis hakim, karena majelis hakim tidak melihat dari apa yang telah dipenuhi atau tidak persyaratan yang diberikan, melainkan majelis hakim melihat dari sudut pandang KHI serta melihat belum adanya peralihan hak kepada pihak lain terhadap hibah yang diberikan tersebut, sehingga hibah yang diberikan oleh orang tua terhadap anaknya diperbolehkan dicabut kembali.
Majelis hakim dalam memutuskan suatu perkara harus secara adil, karena majelis hakim merupakan orang yang menetapkan hukum dengan benar karena adil merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh manusia dalam rangka menegakkan kebenaran kepada siapapun tanpa terkecuali, walaupun terkadang dapat merugikan diri sendiri.
Untuk membatalkan sebuah akta otentik bukanlah kewenangan Mahkamah Syariah, karena bidang hibah yang menjadi kewenangan absolut Mahkamah Syariah adalah menyangkut perbuatan hukum melakukan hibah bukan terhadap akta hibah yang merupakan produk PPAT sebagai bukti telah terjadinya perbuatan hibah, sehingga untuk melakukan pembatalan akta tersebut diajukan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) karena dalam pembatalan akta yang dibuat oleh PPAT merupakan wewenang dari PTUN.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Praktek hibah bersyarat yang dilaksanakan oleh masyarakat Kota Banda Aceh sampai sekarang ini merupakan kebiasaan masyarakat itu sendiri yang sampai saat ini telah terjadi, faktor penyebab memberikan hibah dengan memakai persyaratan tertentu untuk menjaga harta yang dihibahkannya dapat dipergunakan untuk suatu kemanfaatan pemberi hibah dan penerima hibah, tidak terjadi penyalahgunaan harta yang dihibahkan oleh penerima hibah serta sebagai pengganti biaya hidup selama merawat pemberi hibah oleh penerima hibah. Dalam Hukum Islam dan KHI tidak mengenal dengan adanya hibah bersyarat, karena hibah tersebut merupakan pemberian secara cuma – cuma dan ikhlas tanpa adanya paksaan dari pihak manapun serta tidak memiliki persyaratan yang harus dipenuhi oleh penerima hibah tersebut, sehingga tidak adanya aturan dalam Hukum Islam serta KHI yang mengenal dengan adanya hibah bersyarat tersebut. 2. Pembatalan hibah merupakan hal yang tidak dibolehkan, tidak ada hukum yang
dilakukan oleh masyarakat di Kota Banda Aceh, sehingga dalam pembatalan hibah tersebut majelis hakim tidak melihat dari sudut pandang adanya hibah bersyarat, bahkan sebuah riwayat hadis menerangkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu ‘Umar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang lelaki untuk memberikan pemberian atau menghibahkan suatu hibah, kemudian dia mengambil kembali pemberiannya, kecuali hibah itu hibah dari orang tua kepada anaknya. Setelah terjadinya peralihan hak atas tanah tersebut dan telah dijadikan sebuah akta hibah oleh PPAT serta didaftarkannya tanah hibah tersebut sehingga telah beralih kepemilikan tanah pemberi hibah kepada penerima hibah maka tidak diperkenankan hibah tersebut ditarik kembali atau dibatalkan kecuali orang tua terhadap anaknya.
dari pemberian hibah antara orang tua terhadap anaknya, maka permohonan tersebut akan ditolak oleh majelis hakim, sehingga putusan hakim dalam perkara ini merupakan putusan yang sudah benar dan tepat sehingga keadilan yang didapatkan oleh penggugat sudah didapatkan oleh adanya putusan hakim tersebut.
B. Saran
1. Seharusnya masyarakat Kota Banda Aceh melihat dari segi aturan Hukum Islam dan KHI yang tidak mengatur adanya tentang hibah bersyarat tersebut, hibah bersyarat tidak dibenarkan dalam aturan Hukum Islam, sehingga tidak perlu di laksanakan lagi, khususnya masyarakat Kota Banda Aceh yang telah menjadi kebiasaan sampai saat ini, seharusnya pemerintahan bekerja sama dengan pihak Mahkamah Syariah di Kota Bnada Aceh untuk mensosialisasikan tentang hibah yang berlaku dalam Hukum Islam serta dalam KHI sehingga masyarakat Kota Banda Aceh tidak keliru dalam pemahaman hukum yang tertulis, sehingga tidak terjadinya penggunaan hibah bersyarat kedepannya.