PUTUSAN
NOMOR: xxx/Pdt.G/2011/MS-ACEH
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Mahkamah Syar’iyah Aceh yang mengadili perkara Cerai Gugat pada tingkat banding dalam persidangan Majelis Hakim telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara antara:
PEMBANDING, umur 30 tahun, Agama Islam, bertempat tinggal di Banda Aceh, dalam hal ini memberikan kuasa khusus kepada: AULIA RAHMAN, S.H., SAIFUDDIN, S.H., dan T. JUNI IRAWAN, S.H., berdasarkan Surat Kuasa Nomor:
15/SK/2011/MS-IDI tanggal 27 Juli 2011, dahulu Tergugat sekarang Pembanding;
M E L A W A N
TERBANDING, umur 28 tahun, agama Islam, pekerjaan Ibu rumah tangga, bertempat tinggal di Kabupaten Aceh Timur, dalam hal ini memberikan kuasa khusus kepada: HAFSAH, S.H., berdasarkan Surat Kuasa Nomor: 05/SK/2011/MS-IDI tanggal 28 Maret 2011, dahulu Penggugat sekarang Terbanding;
Mahkamah Syar’iyah Aceh;
Telah mempelajari berkas perkara dan semua surat yang berhubungan dengan perkara ini;
TENTANG DUDUKPERKARANYA
Mengutip, segala uraian tentang hal ini sebagaimana termuat dalam Putusan Sela Mahkamah Syar’iyah Aceh Nomor:
134/Pdt.G/2011/MS-Aceh tanggal 25 Januari 2012 Miladiyah bertepatan dengan tanggal 1 Rabiul Awal 1433 Hijriyah yang amarnya berbunyi sebagai berikut:
Menyatakan, menerima permohonan banding Pembanding;
Sebelum menjatuhkan putusan akhir;
1. Memerintahkan kepada Mahkamah Syar'iyah Idi untuk membuka kembali persidangan perkara ini, untuk melaksanakan pemeriksaan tambahan sebagaimana dimaksudkan putusan sela ini;
2. Memerintahkan Panitera Mahkamah Syar'iyah Aceh untuk keperluan tersebut, berkas perkara ini disampaikan kepada Mahkamah Syar’iyah Idi dengan perintah agar berkas perkara tersebut setelah selesai melaksanakan pemeriksaan tambahan dimaksud, berkas perkara yang bersangkutan segera dikirim kembali ke Mahkamah Syar'iyah Aceh;
3. Menangguhkan semua biaya yang timbul dalam perkara ini sampai putusan akhir;
Memperhatikan, hasil pemeriksaan tambahan yang dilaksanakan oleh Hakim tingkat pertama sebagaimana diperintahkan oleh Mahkamah Syar’iyah Aceh;
TENTANG HUKUMNYA
Menimbang, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan tambahan sebagaimana termuat dalam berita acara sidang yang oleh Mahkamah Syar’iyah Aceh dianggap tercantum dan dimuat dalam putusan perkara a quo, maka Mahkamah Syar’iyah Aceh mempertimbangkan sebagai berikut;
Menimbang, bahwa pembanding atau kuasanya tidak mengajukan memori banding atas putusan Nomor: 77/Pdt.G/2011/MS Idi, tanggal 03 Oktober 2011 Miladiyah bertepatan dengan tanggal 05 Dzulka’dah 1432 Hijriyah tersebut;
Menimbang, bahwa setelah membaca dan meneliti berkas perkara yang dimohonkan banding serta mempelajari putusan Mahkamah Syar’iyah Idi, Nomor: 77/Pdt.G/2011/MS Idi, tanggal 03 Oktober 2011 Miladiyah bertepatan dengan tanggal 05 Dzulka’dah 1432 Hijriyah, Majelis
Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh akan memberikan pertimbagan seperti dibawah ini;
Menimbang, bahwa disamping apa yang telah dipertimbangkan Mahkamah Syar’iyah tingkat pertama Mahkamah Syar’iyah Aceh telah menemukan fakta yang pada pokoknya sebagai berikut:
- Bahwa penggugat/terbanding dan tergugat/pembanding adalah suami isteri yang terikat dalam perkawinan sah;
- Bahwa telah terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus antara penggugat/terbanding dengan tergugat/pembanding yang tidak dapat dirukunkan lagi;
- Bahwa Majelis Hakim tingkat pertama telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak akan tetapi gagal dengan tidak hadirnya tergugat 2 (dua) kali berturut-turut sehingga proses mediasi sesuai ketentuan Pasal 82 Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo PERMA Nomor 1 Tahun 2008 tidak dapat dilaksanakan;
- Bahwa seorang anak yang bernama ANAK, berdasarkan bukti T. 1, sesuai pula dengan bukti tambahan (Kutipan Akta Kelahiran) berada dan tinggal bersama tergugat/pembanding dan telah sekolah di Taman Kanak-kanak di, Kota Banda Aceh;
- Bahwa penggugat/terbanding dengan tergugat/pembanding telah pisah rumah dan tempat tinggal hingga perkara tersebut diputus selama lebih kurang 10 (sepuluh bulan);
Menimbang, bahwa apa yang telah dipertimbangkan oleh Hakim tingkat pertama sebagaimana tercantum dalam putusannya Nomor:
77/Pdt.G/2011/MS Idi, tanggal 03 Oktober 2011 Miladiyah bertapatan dengan tanggal 05 Dzulka’dah 1432 Hijriyah, sepanjang hal yang sudah tepat dan benar, Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh menjadikan dan mengambil alih menjadi pertimbangan sendiri;
Menimbang, bahwa Mahkamah Syar’iyah Aceh memandang perlu menambah pertimbangan hukum Judex factie tingkat pertama tentang pembanding/tergugat sebagai anggota ---berdasarkan Berita Acara Sidang tambahan (putusan Sela) tidak melapor kepada atasannya, Majelis
Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh berpendapat bahwa pembanding/tergugat telah mengabaikan ketentuan Pasal 46 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975;
Menimbang, bahwa menambah pertimbangan hukum tentang perselisihan dan pertengkaran penggugat dengan tergugat sehingga mencapai klimaksnya terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana diakui atau sekurang-kurangnya tidak dibantah oleh tergugat bersesuaian pula dengan bukti P. 3 atau pelanggaran atas Pasal 5, 6, dan 7 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004 karenanya putusan perkara a quo dapat dikuatkan;
Menimbang, bahwa Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh tidak sependapat dengan putusan Judex factie mengenai hak asuh atas seorang anak bernama ANAK umur saat ini lebih kurang 6 tahun diserahkan kepada penggugat/terbanding sebagai ibunya atas dasar pertimbangan normatif dan assumsi tanpa mempertimbangkan demi kepentingan terbaik untuk anak itu sendiri, sebagaimana dimaksud Pasal 26 ayat (1) berbunyi: ”Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk: mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak ...” jo Pasal 14 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, berbunyi:
”Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir”. Karenanya tidak cukup alasan bagi penggugat ditetapkan sebagai pemegang hak asuh atas seorang anak tersebut;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka alasan atau dalil-dalil gugatan penggugat tentang hak asuh atas
seorang anak bernama ANAK adalah kabur atau tidak jelas (obscuur libel), karenanya tidak dapat diterima (Niet Onvankelijk Verklaard);
Menimbang, bahwa oleh karena hak asuh anak atas penggugat tidak dapat diterima maka tuntutan penggugat mengenai biaya pengasuhan anak tersebut harus ditolak;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas ternyata putusan Hakim tingkat pertama tidak dapat dipertahankan dan oleh karenanya harus dibatalkan dan Mahkamah Syar’iyah Aceh akan mengadili sendiri yang amarnya seperti tersebut di bawah ini;
Menimbang, bahwa oleh karena perkara ini mengenai sengketa di bidang perkawinan, sesuai dengan Pasal 89 ayat (1) Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989, sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan perubahan kedua dengan Undang Undang Nomor 50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama, maka biaya perkara dalam tingkat banding dibebankan kepada Pembanding;
Mengingat, pada pasal-pasal dari peraturan perundang-undangan serta ketentuan Hukum Islam yang berkaitan dengan perkara ini;
M E N G A D I L I:
Menerima permohonan banding pembanding;
Membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah Idi, Nomor:
77/Pdt.g/2011/MS-Idi, tanggal 03 Oktober 2011 Miladiyah bertepatan dengan tanggal 05 Dzulka’dah 1432 Hijriyah;
MENGADILI SENDIRI:
1. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian;
2. Menjatuhkan talak satu bain sughra tergugat (PEMBANDING) terhadap penggugat (TERBANDING);
3. Menyatakan, tidak dapat diterima gugatan penggugat selain dan selebihnya/N.O. (Niet Onvankelijk Verklaard);
4. Memerintahkan, Panitera Mahkamah Syar’iyah Idi untuk mengirimkan sehelai salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, dan Kecamatan Loeng Bata, Kota Banda Aceh, untuk dicatat dalam daftar yang disediakan untuk itu;
5. Membebankan kepada penggugat untuk membayar biaya perkara yang hingga kini dihitung sebanyak Rp. 391,000. (Tiga ratus sembilan puluh satu ribu rupiah);
Membebankan kepada pembanding untuk membayar biaya pada tingkat banding sebanyak Rp. 150,000. (Seratus lima puluh ribu rupiah);
Demikianlah, diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh pada hari Rabu tanggal 26 Juli 2012 Miladiyah bertepatan dengan tanggal 06 Ramadlan 1433 Hijriyah oleh
kami Dra. Masdarwiaty, M.A., Hakim Tinggi yang ditunjuk sebagai Ketua Majelis, Drs. A. Mu’thi, M.H., dan Drs. Asri Damsy, S.H., masing-masing sebagai Hakim Anggota, berdasarkan Surat Penetapan Wakil Ketua Mahkamah Syar’iyah Aceh Nomor: 134/Pdt.G/2011/MS-Aceh tanggal 11 Januari 2012 dan diucapkan pada hari itu juga dalam sidang terbuka untuk umum oleh Ketua Majelis yang didampingi para Hakim Anggota
tersebut, dan dibantu oleh Dra. Zakiah sebagai Panitera Pengganti tanpa dihadiri pihak-pihak yang berperkara;
Hakim Anggota Ketua Majelis
DTO DTO
Drs. A. MU’THI, M.H. Dra. MASDARWIATY, M.A.
DTO
Drs. ASRI DAMSY, S.H.
Panitera Pengganti
DTO Dra. ZAKIAH
Perincian Biaya Banding:
1. Materai ... Rp. 6,000.
2. Redaksi... Rp. 5,000.
3. Leges... Rp. 5,000.
4. Biaya Proses... Rp. 134,000.
J u m l a h ... Rp. 150,000.
---(Seratus lima puluh ribu rupiah) ---