BAB IV ANALISIS TERHADAP KASUS NOMOR 305K/Pdt.Sus-
B. Pertimbangan Majelis Hakim dan Putusan
Dalam pertimbangan hukum dan amar Putusan a quo pada bagian rekonvensi senyatanya telah keliru dalam menempatkan pihak yang menjadi Penggugat Rekonvensi. Sebagaimana berita acara dalam perkara a quo, yang bertindak sebagai Penggugat Rekonvensi hanyalah Tergugat I saja, sedangkan Tergugat II dan Tergugat III tidak bertindak sebagai Penggugat Rekonvensi.
Dengan demikian Judex Facti yang menempatkan Para Tergugat sebagai Para Penggugat Rekonvensi baik dalam pertimbangan hukum maupun dalam amar Putusan a quo nyata-nyata telah terdapat kekeliruan dalam penerapan hukum;
Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa keberatan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 3 April 2014 dan kontra memori kasasi tanggal 23 April 2014 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, dalam hal
ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ternyata Judex Facti telah salah menerapkan hukum pembuktian dan tidak mempertimbangkan sebagaimana mestinya atau tidak didasarkan pada pertimbangan yang cukup (onvoldoende gemotiveerd);
Bahwa hubungan hukum antara Penggugat dengan Para Tergugat bermula dari “Perjanjian Kerja Sama” tertanggal 17 Oktober 2011 antara Penggugat dengan Tergugat I dan II untuk memproduksi film layar lebar dengan judul “Bung Karno” yang kemudian dijadikan film dengan judul “Soekarno” oleh Para Tergugat, dan sebagai penulis skenario film Soekarno tersebut adalah saksi Bernard Parulian alias Ben Sihombing berdasarkan Surat Perjanjian Kerja Nomor 25/FILM/WRITER/X/12 tanggal 10 Januari 2012 antara saksi Ben Sihombing dengan Tergugat III selaku pemilik PT. Dapur Film yang disetujui oleh Penggugat, dan selanjutnya saksi Ben Sihombing menerangkan bahwa naskah cerita dalam pagelaran Dharmagita Maha Guru yang didalilkan Penggugat merupakan dasar pembuatan skenario film Soekarno, tidak dijadikan dasar atau inspirasi dalam pembuatan skenario film Soekarno dan tidak pernah dibahas dalam Forum Group Diskusi pembuatan film tersebut, sehingga dengan demikian sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta terbukti bahwa Penggugat tidak dapat digolongkan sebagai pencipta atas naskah film “Soekarno” tersebut sebagaimana pokok gugatan Penggugat, dan dengan demikian penguasaan skrip dan master film “Soekarno” oleh Penggugat tanpa alas hak yang sah, untuk itu memerintahkan kepada Penggugat untuk menyerahkan kembali skrip dan master film “Soekarno” tersebut kepada Para Tergugat;
Bahwa pertimbangan Judex Facti yang mengatakan bahwa produksi film Soekarno telah melanggar hak cipta Penggugat/Termohon Kasasi karena ternyata tidak mencantumkan nama Penggugat/Termohon Kasasi sebagai pemegang hak cipta merupakan pertimbangan yang salah. Soekarno adalah seorang tokoh nyata atau tokoh yang benar telah lahir, hidup dan meninggal dunia di Indonesia, sebagai salah seorang proklamator dan Presiden Republik Indonesia yang pertama. Oleh sebab itu, tokoh Soekarno dan kehidupannya bukanlah ciptaan seseorang. Seseorang hanya dapat menghasilkan karya tulis yang menjadi hak ciptanya tentang Soekarno dari sudut pandang atau interpretasinya. Fakta membuktikan terdapat sejumlah buku atau tulisan yang telah menjelaskan ketokohannya dan juga sisi kemanusiaannya. Karya-karya tulis itu menjadi hak cipta bagi masing-masing penulisnya. Dengan demikian penulis naskah, sutradara dan produser film tidak dapat dikatakan melawan hukum jika ia mengambil atau menggunakan pelbagai sumber tulisan atau informasi sebagai rujukan yang kemudian mengintegrasikannya menjadi sebuah skenario dalam pembuatan atau produksi film tentang kehidupan Soekarno yang kemudian menjadi hak ciptanya pula. Kalaupun sebelum pembuatan film a quo telah ada perjanjian antara Penggugat pada satu pihak dengan produser dan sutradara film pada pihak lain bahwa pembuatan film harus sesuai dengan naskah “Bung Karno: Indonesia Merdeka” karya tulis Penggugat, kemudian belakangan produser dan sutradara terbukti menghasilkan film yang tidak sesuai dengan naskah karya Penggugat tidak dapat serta merta disimpulkan telah terjadi pelanggaran hak cipta tetapi peristiwa hukum itu lebih tepat disebutkan wanprestasi yang merupakan
perselisihan dalam ranah hukum perdata umum dan bukan sengketa yang masuk dalam wilayah Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI);
Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata Penggugat tidak berhasil membuktikan kebenaran dalil gugatannya, sebaliknya Para Tergugat telah berhasil membuktikan dalil bantahannya. Untuk itu permohonan kasasi tersebut dapat dikabulkan, dengan membatalkan Putusan Judex Facti (Pengadilan Niaga), mengadili sendiri; menolak gugatan Penggugat dalam Konvensi dan mengabulkan gugatan Penggugat dalam Rekonvensi;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, Mahkamah Agung berpendapat, terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. PT. Tripar Multivision Plus, 2. Ram Jethmal Punjabi, dan 3. Hanung Bramantyo, tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 93/Pdt/Sus HAK-CIPTA/2013//PN.NIAGA JKT.PST., tanggal 10 Maret 2014, selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri dengan amar sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
Menimbang, bahwa oleh karena permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi dikabulkan, maka Termohon Kasasi harus dihukum untuk membayar biaya perkara pada semua tingkat peradilan;
Memperhatikan, UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, UU Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, UUNomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana yang telah diubah dengan UUNomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan UUNomor 3 Tahun 2009, serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;
M E N G A D I L I
Mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. PT.
TRIPAR MULTIVISION PLUS, 2. RAM JETHMAL PUNJABI, dan 3.
HANUNG BRAMANTYO tersebut;
Membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 93/Pdt/Sus HAK-CIPTA/2013//PN.NIAGA JKT.PST., tanggal 10 Maret 2014;
MENGADILI SENDIRI Dalam Eksepsi:
• Menolak eksepsi Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III untuk seluruhnya; Dalam Pokok Perkara:
• Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
DALAM REKONVENSI
• Memerintahkan Tergugat Rekonvensi untuk menyerahkan kembali skrip dan master film Soekarno sesuai Berita Acara Pelaksanaan Nomor 93/Pdt.Sus-Hak Cipta/2013/ PN.Niaga Jkt.Pst., tanggal 13 Desember 2013 kepada Penggugat Rekonvensi;
DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI
• Menghukum Termohon Kasasi/Penggugat Konvensi/Tergugat Rekonvensi untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan, yang dalam tingkat kasasi sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);
C. Analisi atas Pertimbangan Majelis dan Putusan
Dari permasalahan tentang film yang dibuat produser berdasarkan referensi naskah pihak ketiga yang telah penulis paparkan dalam pembahasan, yakni kasus pelanggaran hak cipta yang dilaporkan oleh HJ. RACHMAWATI SOEKARNOPUTRI, SH., melawan PT. TRIPAR MULTIVISION PLUS (tergugat 1), RAM JETHMAL PUNJABI (tegugat 2), HANUNG BRAMANTYO (tergugat 3) dalam pengadilan tingkat 1 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang sekarang telah memasuki babak akhir dalam persidangan pengadilan Mahkamah Agung dengan nomor register 305 K/Pdt.Sus-HKI/2014. Dimana dalam putusan Majelis Hakim di Pengadilan Mahkamah Agung telah memenangkan para pemohon kasasi. Majelis Hakim mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. PT. Tripar Multivision Plus, 2. Ram Jethmal Punjabi, dan 3.
Hanung Bramantyo, tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 93/Pdt/Sus HAK-CIPTA/2013//PN.NIAGA JKT.PST., tanggal 10 Maret 2014.
Dari putusan Pengadilan Mahkamah Agung Nomor 305 K/Pdt.Sus-HKI/2014. Selanjutnya penulis akan memberikan analisa hukum yang menelaah apakah tepat putusan Pengadilan Mahkamah Agung tersebut memutuskan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. PT. Tripar Multivision Plus, 2. Ram Jethmal Punjabi, dan 3. Hanung Bramantyo, tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 93/Pdt/Sus HAK-CIPTA/2013//PN.NIAGA JKT.PST., tanggal 10 Maret 2014,.
Seperti yang kita ketahui bahwa Film Soekarno dibuat dengan menggunakan salah satu referensinya yaitu naskah “Bung Karno” : Indonesia Merdeka. Naskah ini diciptakan oleh Ibu Hj. Rachmawati Soekarno Putri yang dituangkan dalam Pagelaran Gita Dharma Maha Guru yang telah dipertunjukkan sebanyak tiga kali dan mendapat respon yang positif dari masyarakat. Namun tidak dikatakan bahwa Film Soekarno merupakan sebuah “Derivative Works”
atau karya cipta turunan dari naskah “Bung Karno : Indonesia Merdeka. Karena film ini dibuat juga berdasarkan skenario atau naskah yang dibuat oleh Ben Parulian Sihombing sebagai Penulis Skenario Masing-masing dari karya cipta ini memiliki pencipta yang berbeda. Film Soekarno diciptakan oleh Hanung Bramantyo. Sedangkan Naskah “Bung Karno : Indonesia Merdeka” diciptakan oleh Ibu Hj. Rachmawati Soekarno Putri. Lalu, dalam proses pembuatan film Soekarno, naskah Bung Karno : Indonesia Merdeka ini kemudian dikembangkan menjadi suatu skenario film yang ditulis oleh Ben Parulian Sihombing sebagai Penulis Skenario dan Hanung Bramantyo sebagai Sutradara. Sedangkan Ibu Hj.
Rachmawati disini berperan sebagai referensi utama dan telah mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian kerja sama. Hal ini dibuktikan kuat dengan adanya Perjanjian Kerja Sama Produksi Film Layar Lebar antara PT. Tripar Multivision Plus dengan Yayasan Pendidikan Soekarno. UU Hak Cipta Tahun 2014 Pasal 34 menjelaskan mengenai posisi dari orang yang merancang sekaligus ia memiliki rancangan tersebut dan dengan orang yang mengerjakan rancangan tersebut di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang. Dianalogikan, orang yang merancang sekaligus memiliki rancangan tersebut adalah seorang Sutradara.
Jadi disini Sutradara adalah orang yang memiliki rancangan dan merancang suatu
film. Seorang sutradara adalah orang yang memiliki tugas menentukan tema, lalu dilanjutkan dengan memilih naskah yang tepat untuk dijadikan skenario, kemudian memilih aktor atau pemain yang cocok dengan penafsiran naskah, melatih aktor atau pemain, mengatur jadwal shooting, dan sebagainya. Sutradara sebagai seseorang yang memimpin dan mengawasi jalannya proses pembuatan film. Dan ia juga dianggap sebagai perancang film dibawah pengawasan produser yang merupakan seorang sineas profesional yang bekerja membuat film. Jika diaplikasikan dalam pembuatan film “Soekarno”, maka disini yang menjadi perancang dan memiliki rancangan adalah sang sutradara, yaitu Hanung Bramantyo. Sehingga yang menjadi pencipta dari film “Soekarno” adalah Hanung Bramantyo.
Dari semua penjelasan diatas dengan demikian penulis menyatakan bahwa, Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat dengan Nomor Register 305K/Pdt.Sus-HKI/2014 Adalah sudah tepat karena semuanya sudah sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, terkecuali bisa dibuktikan bahwa Film Soekarno:Indonesia Merdeka adalah merupakan karya yang sepenuhnya turunan (derivative works) dari naskah “Bung Karno” : Indonesia Merdeka yang diciptakan oleh Ibu Hj. Rachmawati Soekarno Putri.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan yang penulis tuliskan sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari semua penjelasana yang telah penulis paparkan dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap pihak yang terlibat dalam suatu produksi film mempunyai peranannya masing-masing sesuai dengan Tugas dan Fungsinya, dengan seorang produser sebagai pimpinan dalam sebuah Produksi film, yang mempunyai tugas dan wewenang Memberikan panduan (arahan) kepada manajer produksi/pimpinan produksi, beserta seluruh staf produksi yang dipimpinnya serta wajib mendapatkan laporan dari semua departemen (progress report).
2. Di Indonesia Pengaturan Hukum untuk pihak-pihak yang terlibat dalam produksi sebuah film tidak ada diatur secara terperinci sesuai dengan peranan yang ada dalam produksi sebuah film, semua pihak-pihak yang terlibat dalam sebuah produksi film digolongkan menjadi insan perfilman, yang hak dan kewajibannya dilindungi diatur dalam Pasal 49 dan 50 UU Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman, yang isinya sebagai berikut:
Pasal 49 : Setiap pelaku kegiatan perfilman dan pelaku usaha perfilman berhak:
a. berkreasi, berinovasi, dan berkarya dalam bidang perfilman; b. mendapatkan kesempatan yang sama untuk menumbuhkan dan mengembangkan kegiatan perfilman dan usaha perfilman; c. mendapatkan perlindungan hukum;
d. membentuk organisasi dan/atau asosiasi kegiatan atau usaha yang memiliki kode etik; dan
e. mendapatkan dukungan dan fasilitas dari Pemerintah dan pemerintah daerah.
Pasal 50 :(1) Setiap pelaku kegiatan perfilman berkewajiban:
a. memiliki kompetensi kegiatan dalam bidang perfilman;
dan
b. menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etika, moral, kesusilaan, dan budaya bangsa dalam kegiatan perfilman.
3. Seorang pencipta naskah tidak memiliki kedudukan yang lebih dalam produksi sebuah film dari pada tugas-tugasnya sesuai dari pengertian yang tertuang dalam defenisi seorang pencipta naskah tersebut, terkecuali ada diperjanjikan oleh para pihak yang terlibat dalam produksi film tersebut.
4. Tidak terbukti bahwa Film Soekarno merupakan sebuah “Derivative Works” atau karya cipta turunan dari naskah “Bung Karno : Indonesia Merdeka. Karena film ini dibuat juga berdasarkan skenario atau naskah yang dibuat oleh Ben Parulian Sihombing sebagai Penulis Skenario Masing-masing dari karya cipta ini memiliki pencipta yang berbeda.
Film Soekarno diciptakan oleh Hanung Bramantyo sebagai sutradara
dibawah pengawasan Raam Punjabi sebagai produser. Sedangkan Naskah “Bung Karno : Indonesia Merdeka” diciptakan oleh Ibu Hj.
Rachmawati Soekarno Putri.
B. Saran
1. Penulis menyarankan agar instansi yang berwenang memperbaiki UU tentang Perfilman, agar diatur tentang kedudukan para pihak dalam produksi film sesuai dengan peranan mereka masing-masing, dan agar diatur juga tentang produksi film yang berasal dari referensi naskah pihak ketiga.
2. Penulis juga menyarankan agar dalam pembuatan perjanjian kerja antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu produksi film agar dilakukan secara tertulis sesuai dengan yang tertuang dalam Pasal 57 ayat (1) UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, dengan pemperhatikan syarat sah atau tidaknya suatu perjanjian tersebut yang dapat kita lihat dalam Pasal 1320 KUH Perdata, yaitu:
a) Sepakat mereka mengikat dirinya;
b) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c) Suatu hal tertentu;
d) Suatu sebab yang halal.
Agar tidak terjadi lagi salah satu pihak keluar dari perjanjian kerja dan menyebabkan sengketa seperti dalam kasus film Soekarno: Indonesia Merdeka.
Buku
B. Dinwoodie, Graeme, O. Hennessey, William, dan Perlmutter, Shira, 2001, International Intellectual Property Law and Policy, NSW: LexisNexis.
Damian, 2002, Hukum Hak Cipta, Bandung: PT. Alumni.
Dermawan Rahmansyah dan Saraswati, Desi, 2009, Cari Duit dari Freelance, Jakarta: Penerbit Plus.
Djumhana, Muhammad dan Djubaedillah, R, 1997, Hak Milik Intelektual: Sejarah Teori dan Prakteknya di Indonesia, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti.
DPR RI, 1995, Proses Pembahasan Rancangan Undang-undang Republik Indonesia Tentang Perfilman Jilid II, Jakarta: Sekretariat Jenderal DPR RI.
Effendy, Heru, 2009 Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser, Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Firmansyah, Hery, 2013, Perlindungan Hukum Terhadap Merek, Yogyakarta:
Medpress Digital.
G. Dennis, Fitryan, 2008, Bekerja Sebagai Sutradara, Jakarta: Erlangga.
G. Dennis, Fitryan, 2010, Bekerja Sebagai Produser, Jakarta: Erlangga.
Hughes, Dewi, 2011, Public Speaking For Kids, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Jakarta: CV. Sebelas Print.
Karsito, Eddie, 2008, Menjadi Bintang, Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film, dan Televisi, Jakarta: PT. Cahaya Insan Suci.
Keith, Jenkins, (Ed.) , 1997. Postmodern History Reader. London & New York:
Routledg.
Lutters, Elisabeth, 2018, Kunci Sukses Menjadi Aktor, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
M. Hadjon, Philipus, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Surabaya: PT.Bina Ilmu.
Mabruki KN, Anton, 2018, Produksi Program TV Drama, Jakarta: PT. Gramedia.
Mabruri KN, Anton, 2013, Manajemen Produksi Program Acara TV, Jakarta:
PT.Grasindo.
Marseli, Sumarn, 1996, Dasar-dasar Apresiasi Film, Jakarta : PT.Grasindo.
Marzuki, Peter Mahmud, 2010, Penelitian Hukum, Cet.XI, Jakarta: Kencana.
Miyarso, Estu, 2009, Pengembangan Multimedia dan pengantar Sinematografi, Yogyakarta : Bina Citra.
Mohamad, Goenawan, 1981, “Film Indonesia: Catatan Tahun 1974”, Seks, Sastra, Kita Jakarta: Sinar Harapan.
Nurfebiaraning, Sylvie, 2017, Manajemen Periklanan, Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Poerdarminta,W.J.S, 1999, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Pounds Roscoe dalam Bernad L. Tanya, 2006, Teory Hukum : Strategi Lintas Ruang dan Generasi, Surabaya: CV.Kita.
Pratista, Hinawab, 2008, Memahami Film, Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Ramdion, Naning, 1997, Perihal Hak Cipta Indonesia, Tinjauan Terhadap Auteursrecht 1912 Dan Undang-undang Hak Cipta, Yogyakarta: Liberty.
Rosidi, Alip, 1984, Undang-Undang Hak Cipta 1982, Pandangan Seorang Awam, Jakarta: Djambatan.
Santoso, Ensadi J, 2013, Bikin Video Dengan Kamera DSLR, Ciganjur:
Mediakita.
Set, Sony dan Sodharta, Sita, 2006, Menjadi Penulis Skenario Profesional, Jakarta: Grasindo.
Siregar, Tampil Anshari, 2007, Metodologi Penelitian Hukum, Medan: Multi Grafik Medan.
Soekanto, Soerjono, 2014, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press.
Soemitro, Ronny Hanitijo, 1983, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Ghalia Indonesia.
Soeroso, R, 1992, Penghantar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafika.
Sulastianto, Harry Dkk, 2006, Seni Budaya, Bandung: Grafindo Media Pratama.
Susanti, Dyah Octorina dan Efendi, A‟an, 2014, Penelitian Hukum (Legal Research), Sinar Grafika: Jakarta.
Susanto, Edi, 2011, Unlimited Success, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Usman, Rahmadi, 2003, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, Bandung:
PT.Alumni.
Wiyanto, Asul, 2012, Kitab Bahasa Indonesia, Jogja: Jogja Bangkit Publisher.
Yusanto, Freddy, 2016, Produksi Program Televisi, Yogyakarta: Penerbit Deepublish.
Yustinah dan Iskak, Ahmad, 2018, Bahasa Indonesia, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Peraturan Perundang-Undangan
Kep. No. 71 Th. 1971 oleh Menteri Penerangan Budiharjo
SK Menteri RI No. 216/Kep/Men/1983 mengenai Dewan Film Nasional
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1992 Tentang Perfilman
Artikel Ilmiah/ Jurnal, Skripsi, dan Tersis Melalui Media Cetak Maupun Elektronik ataupun Putusan Pengadilan
Agus Setiawan, “Pengertian Studi Kepustakaan”,
http://www.transiskom.com/2016/03/pengertian-studi-kepustakaan.html, diakses pada tanggal 23 Juli 2018 pada pukul 15.05 WIB.
Budpar, “Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman” Budpar, http://www.budpar.go.id/userfiles/file/5168_1434-UU33Tahun2009Perfilman.pdf diakses pada tanggal 18 september 2019, pada pukul 01.01 WIB.
Deborah Hornblow, “J.Lo‟s „Maid‟ Proves Cinderella Never Dies”, <http://
articles.courant.com/2002-12-16/features/0212160678_1_cinderella-fairy-tale-marisa-ventura-jennifer-lopez>, diakses pada tanggal 16 Juli 2019 pada pukul 19.00 WIB.
J.B. Kristanto. Film Indonesia dan Akal sehat. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0109/07/dikbud/film38.htm diakses pada tanggal 18 september 2019, pada pukul 00.15 WIB.
Film Soekarno”, <http://www.mvpindonesia.com/news-and-
update/2012/12/19/hanung-bramantyo-wujudkan-impian-lewat-film-soekarno/>, diakses pada tanggal 16 Juli 2019 pada pukul 22.00 WIB.
Kariodimedjo, Perlindingan Hak Cipta, Hak Terkait, dan Desain Industri.
https://jurnal.ugm.ac.id/jmh/article/download/16222/10768 diakses pada tanggal 20 september 2019, pada pukul 10.15 WIB
Mokhammad Zakky, “Tugas dan Job Description Crew Produksi Film”,
http://namafilm.blogspot.com/2014/07/job-description-produksi-film.html?m=1 diakses pada tanggal 29 agustus 2019, pada pukul 12.39 WIB.
Rebecca Bulnes, “Pretty Woman at 25: Hollywood‟s Cinderella Complex”,
<https:// consequenceofsound.net/2015/03/pretty-woman-at-25-hollywoods-cinderella-complex/>, diakses pada tanggal 16 Juli 2019 pada pukul 18.30 WIB
Sukardi, “Penelitian adalah Cara Pengamatan”, http://penalaran-unm.org/apakah-penelitian-itu/, diakses pada tanggal 17 Juli 2019 pada pukul. 23.00 WIB.
Willy Prasetyonoh, “Susunan Lengkap Kru Dalam Film Pendek”, https://concreation.co.id/2018/01/29/susunan-lengkap-kru-dalam-film-pendek/ diakses pada tanggal 29 agustus 2019, pada pukul 12.03 WIB.