• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pertumbuhan dan Konsumsi Ransum

Masa perlakuan tikus percobaan adalah 36 hari. Selama masa perlakuan, tikus diberi makan sesuai kelompoknya seperti yang tertera pada

28 Tabel 5. Gambar 9 menggambarkan pertumbuhan tikus yang terjadi selama masa perlakuan

Tabel 11. Kandungan Gizi Tepung Tempe Kacang Komak Zat Gizi Jumlah (%BB) Jumlah (%BK)

Protein 30,68 32,81 Air 6,49 6,94 Abu 2,67 2,86 Lemak 1,62 1,74 Karbohidrat 58,53 63,28 Serat kasar 7,50 8,03 .

Gambar 9. Kurva Pertumbuhan Berat Badan Tikus Selama Perlakuan.

Gambar 9 menunjukkan baik kelompok kontrol negatif maupun kontrol positif mengalami kenaikan berat badan. Artinya terjadi pertumbuhan yang positif pada kedua kelompok tersebut. Sebaliknya, kelompok tempe mengalami penurunan berat badan selama masa perlakuan. Besarnya kenaikan maupun penurunan berat badan tikus disajikan pada Tabel 12. Kontrol negatif mengalami pertambahan berat badan paling tinggi, yaitu 65 g. Kontrol positif mengalami kenaikan berat badan sebesar 30 g atau lebih kecil dari pada kontrol negatif. Tempe mengalami penurunan berat badan sebesar 11 g selama perlakuan.

Kenaikan dan penurunan berat badan tikus selaras dengan tingkat konsumsi ransum. Kontrol negatif yang mengalami pertambahan berat badan paling tinggi, mengonsumsi ransum paling banyak, yaitu 10,37 g. Sebaliknya,

0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 10 20 30 40 B e ra t B a d a n ( g )

Lama Perlakuan (hari)

29 tempe yang mengalami penurunan berat badan mengonsumsi ransum paling rendah, yaitu 5,79 g.

Tabel 12. Pertambahan Berat Badan dan Konsumsi Ransum Tikus Kelompok Pertambahan berat

badan (g) (A) Konsumsi ransum per hari (g) (B) Efisiensi ransum (B/A) Kontrol Negatif (ransum standar) 65 c 10,37c 0,16 Kontrol Positif (ransum standar + kolesterol + PTU) 30b 7,97b 0,26 Tempe (sumber protein kasein diganti tepung tempe kacang komak + kolesterol + PTU) -11a 5,79a -0,52

Keterangan: superscript yang berbeda, menunjukkan nilai yang berbeda nyata secara statistik pada α=0,1 (Lampiran 2 dan Lampiran 3).

Lebih rendahnya konsumsi kontrol positif dan tempe apabila dibandingkan kontrol negatif, kemungkinan disebabkan terdapatnya PTU (propiltiourasil) pada ransum kontrol positif dan tempe. PTU ditambahkan untuk meningkatkan kadar kolesterol tikus dengan cara menghambat sintesis hormon tiroid (Mahfouz dan Kummerow 2000). Rasa PTU yang pahit kemungkinan merupakan penyebab rendahnya konsumsi ransum.

Penurunan berat badan akibat pemberian PTU juga terjadi pada beberapa penelitian terdahulu. Hasil penelitian Joyce et al. (1993) menunjukkan tikus yang diberi PTU memiliki berat badan 57% lebih rendah daripada kontrol yang tidak diberi PTU. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Cooke dan Meisami (1991), terjadi penurunan berat badan tikus sebesar 15% pada tikus yang diberi PTU.

Alternatif selain penggunaan PTU untuk membuat tikus menjadi hiperkolesterolemik adalah dengan menambahkan 0,5% natrium tauroglikokolat pada ransum. Ramakrishna et al. (2007) menggunakan natrium tauroglikokolat pada ransum tikus. Setelah penambahan natrium tauroglikokolat selama delapan minggu, kadar kolesterol plasma tikus meningkat hingga 178,5 mg/dl tanpa terjadi penurunan berat badan.

30 Konsumsi ransum pada kelompok tempe lebih kecil dari pada kontrol positif diduga karena tepung tempe juga menyumbangkan rasa pahit pada ransum. Hal ini karena pengeringan tempe dengan suhu di atas 80oC dapat menimbulkan rasa pahit. Rasa pahit timbul akibat pembebasan asam amino dan interaksi antara asam amino dengan karbohidrat sederhana (Syarief et al.

1999).

Hasil penelitian Nugroho (2007) menunjukkan terjadi penurunan berat badan sebesar 39% pada tikus yang diberi fraksi protein kacang komak dan kenaikan berat badan sebesar 7% pada tikus yang diberi fraksi non protein kacang komak. Tingkat konsumsi kedua kelompok tersebut juga berbeda. Konsumsi ransum fraksi protein kacang komak lebih rendah dari pada fraksi non protein kacang komak. Fenomena ini menunjukkan bahwa protein pada kacang komak kemungkinan dapat menurunkan selera makan tikus. Hal ini dapat dijelaskan dari uraian Nishi et al. (2003) bahwa fraksi 7S globulin (β -conglicinin) dapat menekan konsumsi ransum dan pengosongan lambung dengan cara meningkatkan level plasma kolesistokinin (CCK) pada tikus. Kolesistokinin (CCK) adalah mediator fisiologis yang penting dalam mengatur kepuasan dan pengosongan lambung. Kacang komak mengandung fraksi globulin sebanyak 55,2%. Fraksi globulin tersebut terdiri atas sebagian besar 7S globulin (β-conglicinin) yaitu sebesar 20,5% (Subagio 2006).

Kemampuan protein kacang komak dalam mengatur kepuasan dan pengosongan lambung menjadi peluang bagi kacang ini sebagai pangan yang dikhususkan untuk orang yang sedang melakukan usaha penurunan berat badan. Kacang kedelai juga merupakan kacang yang kaya akan protein globulin. Namun kandungan fraksi globulin 7S lebih kecil dibandingkan kacang komak, yaitu berkisar 6,40-9,70% (Wijaya dan Rohman 2001). Hal ini mengakibatkan kacang kedelai tidak memiliki efek yang sama dengan kacang komak. Hasil penelitian Reza et al. (2008) mempertegas fenomena ini. Pada penelitian tersebut, tikus yang diberi ransum protein kacang kedelai memiliki berat badan yang tidak jauh berbeda dari tikus yang diberi ransum standar (sumber protein adalah kasein).

31 Tabel 12 juga memperlihatkan rasio konsumsi ransum terhadap kenaikan berat badan (B/A). Nilai ini menunjukkan efisiensi dari ransum tersebut. Tepung tempe kacang komak memiliki nilai B/A negatif. Hal ini menunjukkan bahwa tepung tempe kacang komak tidak efisien dalam mendukung pertumbuhan. Kemungkinan penyebabnya adalah karena kacang komak kekurangan asam amino esensial, yaitu metionin, dan masih terdapat zat anti nutrisi yang tidak hilang secara sempurna selama pengolahan. Menurut Murphy dan Colucci (1999), kacang komak memiliki anti nutrisi tanin, fitat, dan anti tripsin. Ory (1981) menambahkan, kacang komak juga memiliki hemaglutinin sebagai anti nutrisi.

Tanin telah diketahui dapat menghambat pertumbuhan tikus percobaan. Pengaruh tersebut disebabkan karena terjadinya penurunan availabilitas karbohidrat, protein, dan lipid akibat penghambatan aktivitas enzim tripsin, kimotripsin, amilase, dan lipase. Fitat dapat menurunkan availabilitas makanan karena dapat membentuk senyawa kompleks dengan protein sehingga protein sulit dicerna oleh enzim pencernaan. Selain itu fitat juga dapat mengikat mineral-mineral seperti kalsium, magnesium, besi, dan seng. Seperti halnya tanin dan fitat, anti tripsin juga dapat menurunkan bioavailabilitas protein. Anti tripsin mampu membentuk ikatan dengan enzim tripsin sehingga enzim ini tidak dapat memecah protein (Muchtadi 1989). Nafi et al. (2007) menduga kadar anti tripsin kacang komak lebih tinggi dibandingkan kacang kedelai. Hal ini berdasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan tidak terdeteksinya daya cerna tepung kaya protein kacang komak terhadap enzim tripsin.

Hemaglutinin tersebar pada berbagai tanaman, terutama kacang-kacangan. Telah dibuktikan bahwa hemaglutinin yang telah diisolasi dari bermacam-macam kacang-kacangan bersifat toksik bila diinjeksikan pada hewan percobaan. Bila dicampur dalam ransum, senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan hewan percobaan (Muchtadi 1989).

Proses pembuatan tempe yang melibatkan proses pemanasan, perendaman, dan fermentasi, kemungkinan telah menurunkan sebagian besar zat anti nutrisi maupun zat toksik pada kacang komak. Osman (2007)

32 mendapatkan hasil bahwa kacang komak Saudi Arabia yang direndam selama satu hari dapat menurunkan fitat sebesar 22,19%. Selama fermentasi, kapang tempe juga memproduksi fitase yang dapat mereduksi asam fitat (Pawiroharsono 2001). Pada contoh kacang hijau, proses perebusan selama 25 menit mampu menurunkan tanin sebesar 67,36% dan anti tripsin sebesar 85,62% (Estiasih 1993). Selain itu Koswara (1989) menyebutkan, perebusan pada suhu 100oC selama 15 menit pada kacang jogo dan tunggak dapat menghilangkan aktivitas hemaglutinin hingga tidak terdeteksi secara in vitro

dengan darah sapi.

Dokumen terkait