II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.5. Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Gender di Pasar
Pakar ekonomi menggunakan banyak jenis data untuk mengukur kinerja perekonomian. Salah satu kinerja perekonomian yang penting adalah Produk Domestik Bruto (PDB). PDB merupakan indikator ekonomi yang mengukur jumlah barang dan jasa yang diproduksi suatu negara. Pertumbuhan PDB ini
Pengusaha Informal
Pekerja Informal
Operator dengan usaha sendiri
Pekerja musiman
Pekerja lepas/pekerja rumahan Penghasilan Tinggi
Penghasilan Rendah
Mayoritas Laki-laki
Mayoritas Perempuan Laki-laki dan Perempuan
disebut sebagai pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya Todaro dan Smith (2003), menyatakan bahwa pengejaran pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam perekonomian suatu negara, bahkan sering kali program-progam pembangunan di negara berkembang dinilai berdasarkan tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat dianggap sebagai cara terbaik untuk menciptakan lapangan kerja. Ketika pertumbuhan ekonomi tinggi maka semakin banyak barang dan jasa yang dihasilkan, selanjutnya semakin banyak juga tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang dan jasa tersebut. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi menjadi instrumen penting untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja disuatu negara.
a. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Gender di Pasar Tenaga Kerja
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dapat dijelaskan dengan Hukum Okun. Hukum Okun muncul dari pengamatan bahwa untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa dalam suatu perekonomian diperlukan tenaga kerja yang banyak pula. Oleh karena itu hukum ini mengindikasikan hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran, di mana semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi, semakin rendah tingkat pengangguran. Adapun formula Hukum Okun dalam Knotek (2007), adalah sebagai berikut:
Perubahan tingkat pengangguran = a + b (pertumbuhan output real)
Parameter b disebut "Koefisien Okun" yang diharapkan bernilai negatif, sehingga ketika pertumbuhan output meningkat maka tingkat pengangguran akan turun. Rasio "-a/b" merupakan tingkat pertumbuhan output untuk mempertahankan tingkat pengangguran tetap stabil.
Adapun hasil regresi Hukum Okun dengan data Amerika pada kuartal kedua tahun 1948 sampai dengan kuartal keempat tahun 1960, adalah sebagai berikut:
Perubahan tingkat pengangguran = 0,30-0,07(pertumbuhan output real)
Hasil regresi ini menunjukkan bahwa ketika pertumbuhan ekonomi yang terjadi sebesar 0% maka pengangguran akan meningkat sebesar 0,3 %. Sedangkan
laju pertumbuhan output yang mampu mempertahankan tingkat pengangguran stabil adalah sebesar 4,285714 % (- 0,3/0,07). Pertumbuhan ekonomi lebih besar dari 4,285714 % berarti terjadi pengurangan pengangguran, sedangkan pertumbuhan ekonomi yang kurang dari 4,285714 % berarti terjadi penambahan pengangguran.
Hukum Okun membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi berdampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja termasuk juga tenaga kerja perempuan. Tetapi peningkatan jumlah pekerja perempuan harus dicermati karena tidak bisa menggambarkan kesejahteraan perempuan karena secara umum mereka terserap pada pekerjaan kasar dan bergaji murah Abdullah (2001). Peningkatan tenaga kerja perempuan pada pekerjaan kasar mengindikasikan terjadinya ketimpangan gender khususnya di pasar tenaga kerja (Illich, 1983: Molo, 1993
dalam Abdullah, 2001). Penomena tersebut diperkuat oleh Wanjala dan Were (2010) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh investasi di Kenya menyebabkan perempuan lebih banyak terserap sebagai pekerja informal jika dibandingkan dengan laki-laki.
Hal senada diungkapkan dalam studi Seguino (2000). Studi tersebut menyatakan bahwa di negara semi industri yang berorientasi ekspor, perempuan merupakan sumber tenaga kerja murah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sumber: World Bank (2011a)
Gambar 7. Peningkatan Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Sepanjang Waktu pada Setiap Tingkatan GDP Per Kapita di 130 Negara
R at a- ra ta p ar ti si p as i TK per em pu an
Secara global, fakta yang sama ditunjukkan dalam laporan World Bank (2011a). Laporan tersebut berdasarkan data GDP per kapita dan partisipasi angkatan kerja perempuan tahun 1980 dan 2008 untuk 130 negara. Disimpulkan bahwa hubungan antara pertumbahan ekonomi dan partisipasi angkatan kerja perempuan di berbagai negara berbetuk U, baik pada tahun 1980 maupun 2008 (gambar 7). Kurva U tahun 2008 bergerak ke kanan atas, yang artinya pada setiap perubahan GDP perkapita di setiap titik kurva U tersebut terjadi peningkatan jumlah partisipasi angkatan kerja perempuan. Atau dengan kata lain jumlah partisipasi tenaga kerja perempuan tahun 2008 lebih tinggi dari pada tahun 1980 seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada rentang tahun tersebut.
Peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan tersebut menyebabkan menyempitnya gap partisipasi angkatan kerja perempuan dan laki-laki dari 32 persen di tahun 1980 menjadi 26 persen pada tahun 2008. Salah satu penyebab meningkatnya tingkat partisipasi perempuan dalam dunia kerja adalah karena membaiknya tingkat pendidikan perempuan.
Selanjutnya studi World Bank tersebut menyatakan bahwa peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan tersebut ternyata tidak bisa menggambarkan adanya perbaikan ketimpangan gender. Hal tersebut disebabkan karena perempuan lebih banyak terserap pada pekerjaan informal dan produktivitas rendah.
b. Penetapan Target Pertumbuhan Ekonomi dalam Perencanaan
Pembangunan
Pertumbuhan ekonomi mencerminkan peningkatan produksi barang dan jasa di suatu negara, sehingga menjadi indikator berjalannya suatu perekonomian. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan target pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka panjang, menengah, ataupun pendek.
Di Indonesia, target pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu komponen penting dalam perencanaan pembangunan. Target pertumbuhan ekonomi tersebut dituangkan dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) nasional, rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) nasional, dan rencana kerja pemerintah (RKP).
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Periode 20 Tahunan
RPJP nasional yang sedang berlangsung sekarang adalah RPJP nasional 2005-2025 yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dalam
Sebelumnya, RPJP nasional dikenal sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Pergantian ini disebabkan karena adanya perubahan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam pengelolaan pembangunan. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan perencanaan pembangunan jangka panjang baru sebagai arah dan prioritas pembangunan secara menyeluruh yang akan dilakukan secara bertahap.
RPJP Nasional tahun 2005–2025, memiliki delapan arah pembangunan, yaitu: (1) mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab; (2) mewujudkan bangsa yang berdaya-saing; (3) mewujudkan Indonesia yang demokratis berlandaskan hukum; (4) mewujudkan Indonesia yang aman, damai dan bersatu; (5) mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan; (6) mewujudkan Indonesia yang asri dan lestari; (7) mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional; (8) mewujudkan Indonesia yang berperan aktif dalam pergaulan internasional
Untuk mencapai sasaran pokok sebagaimana dimaksud di atas, pembangunan jangka panjang membutuhkan tahapan dan skala prioritas yang akan menjadi agenda dalam rencana pembangunan jangka menengah. Tahapan dan skala prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan, tanpa mengabaikan permasalahan lainnya. Oleh karena itu,
tekanan skala prioritas dalam setiap tahapan berbeda-beda, tetapi semua itu harus berkesinambungan dari periode ke periode
Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunan, yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005–2009, RPJM Nasional II Tahun 2010–2014, RPJM Nasional III Tahun 2015–2019, dan RPJM Nasional IV Tahun 2020–2024.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Periode Lima (5) Tahunan
Definisikan RPJM nasional, dituangkan dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Menurut UU Nomor 25 Tahun 2004, RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program presiden terpilih. Penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional, yang memuat strategi pembangunan Nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Adapun rangkaian RPJM nasional menurut RPJP nasional 2004-2020 adalah sebagai berikut:
a. RPJM ke-1 (2005 – 2009), fokus kepada penataan kembali negara kesatuan Republik Indonesia, membangun Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
b. RPJM ke-2 (2010 – 2014), fokus kepada memantapkan kembali negara kesatuan Republik Indonesia, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, membangun kemampuan IPTEK, memperkuat daya saing perekonomian. c. RPJM ke-3 (2015 – 2019), fokus kepada memantapkan pembangunan secara
menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis sumberdaya alam yang tersedia, sumberdaya manusia yang berkualitas, serta kemampuan IPTEK.
d. RPJM ke-4 (2020 – 2024), fokus kepada mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala bidang struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan konpetitif.
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Periode Satu (1) Tahunan
Menurut UU Nomor 25 Tahun 2004, RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. Berikutnya, RKP akan menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Rencana pembangunan memiliki kaitan erat dengan pembiayaan. Adapun alur RPJP nasional sampai dengan penyusunan APBD yang diatur oleh UU Nomor 25 Tahun 2004 dan UU Nomor 17 Tahun 2003 dapat dilihat pada Gambar 8.
Ketiga tahapan perencanaan pembangunan tersebut selalu memiliki target. Target tersebut akan dicapai melalui rincian rencana program. Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu target penting dalam setiap tahapan perencanaan pembangunan tersebut. Pertumbuhan ekonomi selalu ditargetkan baik pada RPJP nasional, RPJM nasional, dan RKP.
Sumber: Riyadi, 2011
Gambar 8. Alur Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Nasional
UU 25/2004 ttg SPPN
UU 17/2003 ttg KN
Tabel 5. Target Pertumbuhan Ekonomi 2010 – 2014 Menurut Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahap II
Target Pertumbuhan Ekonomi (%)
Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 Rata-rata Total 5.5-5.6 6.0-6.3 6.4-6.9 6.7-7.4 7.0-7.7 6.3-6.8 Sisi Pengeluaran a. Konsumsi Masyarakat 5.2-5.2 5.2-5.3 5.3-5.4 5.3-5.4 5.3-5.4 5.3-5.4 b. Konsumsi Pemerintah 10.8-10.9 10.9-11.2 12.9-13.2 10.2-13.5 8.1-9.8 10.6-11.7 c. Investasi 7.2-7.3 7.9-10.9 8.4-11.5 10.2-12.0 11.7-12.1 9.1-10.8
d. Ekspor Barang dan Jasa 6.4-6.5 9.7-10.6 11.4-12.0 12.3-13.4 13.5-15.6 10.7-11.6
e. Impor Barang dan Jasa 9.2-9.3 12.7-15.2 14.3-15.9 15.0-16.5 16.0-17.4 13.4-14.9
Sisi Produksi
a. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan
Perikanan 3.3-3.4 3.4-3.5 3.5-3.7 3.6-3.8 3.7-3.9 3.6-3.7
b. Pertambangan dan penggalian 2.0-2.1 2.1-2.3 2.3-2.4 2.4-2.5 2.5-2.6 2.2-2.4
a. Industri Pengolahan 4.2-4.3 5.0-5.4 5.7-6.5 6.2-6.8 6.5-7.3 5.5-6.0
b. Industri Bukan Migas 4.8-4.9 5.6-6.1 6.3-7.0 6.8-7.5 7.1-7.8 6.1-6.7
c. Listrik, Gas dan Air 13.4-13.5 13.7-13.8 13.8-13.9 13.9-14.0 14.1-14.2 13.8-13.9
d. Konstruksi 7.1-7.2 8.4-8.5 8.8-9.3 8.9-10.1 9.1-11.1 8.4-9.2
e. Perdagangan, Hotel, dan restoran 4.0-4.1 4.2-4.8 4.4-5.2 4.5-6.4 4.6-6.6 4.3-5.4
f. Pengangkutan dan telekomunikasi 14.3-14.8 14.5-15.2 14.7-15.4 14.9-15.6 15.1-16.1 14.7-15.4 g. Keuangan, Real Estat, dan jasa perusahaan 6.5-6.6 6.6-6.7 6.8-7.0 6.9-7.0 7.2-7.3 6.8-6.9
h. Jasa-jasa 6.7-6.9 6.9-7.0 7.0-7.1 7.1-7.2 7.2-7.4 6.9-7.1
Indonesia saat ini telah memasuki RPJM Tahap 2. Adapun target pertumbuhan ekonomi RPJM nasional Tahap 2 Tahun 2010-2014 ditunjukkan pada Tabel 5. Tampak bahwa total pertumbuhan ekonomi ditargetkan meningkat setiap tahunnya. Pada Tahun 2010 pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 5.5- 5.6 persen. sedangkan pada tahun 2014 di targetkan sebesar 7.0-7.7 persen. Target pertumbuhan dalam RPJM dibuat fleksibel pada rentang tertentu agar dapat mengakomodasi berbagai perubahan variabel yang mempengaruhi perekonomian. Pertumbuhan ekonomi yang lebih akurat akan ditentukan pada RKP yang merupakan rencana pembangunan periode satu tahun yang diacu dari RPJM nasional dan perkembangan perekonomian nasional maupun internasional. Tabel 6 menunjukkan rincian target pertumbuhan ekonomi tahun 2003. Tampak bahwa pertumbuhan ekonomi 2013 berdasarkan RKP sebesar 7 persen. Pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran lebih banyak didorong oleh sektor jasa yaitu sebesar 8.1 persen, diikuti oleh sektor industri dan pertanian masing-masing sebesar 4.9 persen dan 3.9 persen. Target pertumbuhan ekonomi 2013 berdasarkan RKP ini digunakan dalam simulasi penelitian.
Tabel 6. Target Pertumbuhan Ekonomi 2013 menurut Rencana Kerja Pemerintah
Keterangan Target (%) Pertumbuhan Ekonomi 7 1. Sisi Pengeluaran a. Konsumsi Masyarakat 5 b. Konsumsi Pemerintah 7.1 c. Investasi 11.1
d. Ekspor Barang dan Jasa 12.3
e. Impor Barang dan Jasa 13.1
2. Sisi Produksi
a. Pertanian, Perkebunan, Peternakan,
Kehutanan, dan Perikanan 3.9
b. Pertambangan dan penggalian 3
c. Industri Pengolahan 6.7
d. Listrik, Gas dan Air 6.8
e. Konstruksi 7.5
f. Perdagangan, Hotel, dan restoran 9.1
g. Pengangkutan dan telekomunikasi 12.4
h. Keuangan, Real Estat, dan jasa
i. perusahaan 6.3
j. Jasa-jasa 6.3
2.1.6. Pengeluaran Pemerintah dan Ketimpangan Gender di Pasar Tenaga