• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pertumbuhan Ekonomi Wilayah

Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah peningkatan volume variabel ekonomi dari suatu sub sistem spasial suatu bangsa atau negara. Disini pertumbuhan

dimaksudkan sebagai peningkatan suatu keluaran wilayah. Peningkatan ini meliputi baik kapasitas produksi ataupun volume riil produksi. Menurut Tarigan (2004), pertumbuhan ekonomi wilayah juga dapat diartikan sebagai pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di wilayah tersebut yaitu kenaikan seluruh nilai tambah

(value added) yang terjadi di wilayah tersebut. Pertambahan pendapatan ini diukur

dalam nilai riil (dinayatakan dalam harga konstan).

Untuk menghitung besarnya pertumbuhan ekonomi suatu wilayah (region), menurut Widodo (2006) dapat dirumuskan dengan persamaan matematis berikut :

PDRB riil1 – PDRB riil g = x 100% ...(2.14) 0 PDRB riil dimana : 0

g = pertumbuhan ekonomi wilayah yang dinyatakan dalam

persen PDRB riil1

PDRB riil

= pendapatan regional riil untuk tahun dimana tingkat pertumbuhan ekonominya dihitung

0 = Pendapatan regional riil pada tahun sebelumnya

2.4.1. Teori pertumbuhan ekonomi wilayah

Pola pertumbuhan ekonomi regional tidaklah sama dengan apa yang lazim ditemukan pada pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini pada dasarnya disebabkan pada analisa pertumbuhan ekonomi regional. Namun demikian, kedua kelompok ilmu ini juga mempunyai ciri yang sama yaitu memberikan tekanan pada unsur waktu yang merupakan faktor penting dalam analisa pertumbuhan ekonomi. Karena teori

ekonomi regional memberikan juga pada unsur space, maka faktor-faktor yang menjadi perhatian juga berbeda dengan apa yang lazim dibahas pada pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi nasional faktor-faktor yang sangat diperhatikan adalah modal, lapangan pekerjaan dan kemajuan teknologi yang bisa muncul dalam berbagai bentuk. Sedangkan pada teori pertumbuhan ekonomi regional faktor-faktor yang mendapat perhatian utama adalah keuntungan lokasi, aglomerasi migrasi dan arus lalulintas modal antar wilayah. Lebih lanjut dikatakan oleh Glasson (1977), bahwa pertumbuhan regional ditentukan oleh faktor endogen ataupun exogen yaitu faktor-faktor yang terdapat di dalam daerah yang bersangkutan ataupun faktor- faktor di luar daerah atau kombinasi dari keduanya. Adisasmita (2008) mengatakan bahwa pertumbuhan dari dalam wilayah dilihat dari segi hubungan struktural (keterkaitan antar sektor) dan hubungan fungsional (interaksi antar sub sistem dalam suatu wilayah). Sedangkan pertumbuhan dari luar wilayah yaitu keterkaitan suatu wilayah dengan wilayah lain diluarnya.

Adapun beberapa teori pertumbuhan ekonomi regional yang lazim dikenal, antara lain (sirojuzilam, 2010) :

1. Export Base-Models yang dipelopori oleh North (1955) yang kemudian

dikembangkan oleh Tiebout (1956).

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah ditentukan oleh eksploitasi pemanfaatan alamiah dan pertumbuhan basis ekspor daerah yang bersangkutan yang juga dipengaruhi oleh tingkat permintaan eksternal dari daerah-daerah lain.

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan ekspor akan mengakibatkan berkembangnya kegiatan - kegiatan penduduk setempat, perpindahan modal dan tenaga kerja, keuntungan - keuntungan eksternal dan pertumbuhan ekonomi regional lebih lanjut. Ini berarti bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan suatu region, strategi pembangunannya harus disesuaikan dengan keuntungan lokasi yang dimilikinya dan tidak harus sama dengan strategi pembangunan pada tingkat nasional.

2. Neo-Classic, yang dipelopori oleh Stein (1964) yang kemudian dikembangkan

oleh Roman (1965) dan Siebert (1969).

Teori ini mendasarkan analisanya pada komponen fungsi produksi. Unsur-unsur yang menentukan pertumbuhan ekonomi regional adalah modal, tenaga kerja, dan teknologi. Lebih khusus teori ini menganalis pengaruh perpindahan penduduk (migrasi) dan lalu lintas modal terhadap pertumbuhan regional. Dengan kata lain, untuk menciptakan sejumlah output tertentu, bisa digunakan jumlah modal yang berbeda dengan yang dibutuhkan. Jika lebih banyak modal yang digunakan, maka lebih banyak tenaga kerja yang digunakan.

3. Cummulative Causation Models, yang dipelopori oleh Myrdal (1975) yang

kemudian dikembangkan oleh Kaldor.

Teori ini berpendapat bahwa peningkatan pemerataan pembangunan antar daerah tidak hanya dapat diserahkan pada kekuatan pasar (market mechanism), tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah dalam bentuk program - program

pembangunan regional terutama untuk daerah – daerah yang relatif masih terbelakang. Lebih jauh teori ini menyatakan bahwa adanya suatu keadaan berdasarkan kekuatan relatif dari “Spread Effect” dan “Back Wash Effect”.

Spread Effect adalah kekuatan yang menuju konvergensi antar daerah-daerah

kaya dan daerah-daerah miskin. Dengan timbulnya daerah kaya, maka akan tumbuh pula permintaannya terhadap produk daerah-daerah miskin dengan demikian mendorong pertumbuhannya. Namun Myrdal yakin bahwa dampak

spread effect ini lebih kecil daripada back wash effect. Pertambahan permintaan

terhadap produk daerah miskin tersebut terutama barang-barang hasil pertanian oleh daerah kaya tentu saja mempunyai nilai permintaan yang rendah, sementara konsumsi daerah miskin terhadap produk daerah kaya akan lebih mungkin terjadi.

4. Core Periphery Models, yang dipelopori oleh Friedman (1966).

Teori ini menekankan analisa pada hubungan yang erat dan saling mempengaruhi antara pembangunan kota (core) dan desa (periphery). Menurut teori ini, gerak langkah pembangunan daerah perkotaan akan lebih banyak ditentukan oleh keadaan desa-desa disekitarnya. Sebaliknya corak pembangunan pedesaan tersebut juga sangat ditentukan oleh arah pembangunan perkotaan. 5. Teori Pusat Pertumbuhan (Growth Pole) dipelopori oleh Francois Perroux

Teori ini menyatakan bahwa pembangunan atau pertumbuhan tidak terjadi disegala tata-ruang, akan tetapi hanya terbatas pada beberapa tempat tertentu dengan variabel–variabel yang berbeda intensitasnya. “ Salah satu cara untuk menggalakkan kegiatan pembangunan dari suatu daerah tertentu melalui pemanfaatan “ Aglomeration economics “ sebagai faktor pendorong utama.

Konsep Dasar Ekonomi dari pada kutub pertumbuhan antara lain: a) Konsep Industri Utama dan industri pendorong

b) Konsep Polarisasi, pertumbuhan dari pada industri utama dan perusahaan pendorong akan menimbulkan polarisasi unit-unit ekonomi lain ke kutub pertumbuhan.

c) Terjadinya Aglomerasi yang ditandai : (1) Scale Economics (2) Localization

Economics (3) Urbanization Economics.

Bila dikaitkan dengan potensi ekonomi yang dimiliki oleh suatu daerah maka pembangunan industri yang akan diprioritaskan pada suatu wilayah pusat pengembangan, diperlukan dilakukan analisa terhadap :

a) Potensi lokasi dari masing-masing wilayah/daerah. b) Posisi keuntungan lokasi

c) Fasilitas industri yang dimiliki masing-masing pusat pengembangan.

Dokumen terkait