C. Metode Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pertumbuhan Koloni Isolat Pleurotus spp. pada Media Padat
Hasil sidik ragam menunjukkan faktor isolat dan interaksi anta ra faktor isolat dan faktor media berpengaruh nyata terhadap diameter koloni tiap isolat Pleurotus spp. pada tingkat kepercayaan 95% (Tabel Lampiran 6). Berdasarkan uji lanjut Duncan diketahui bahwa perlakuan inokulasi isolat Pleurotus sp.8 pada semua media memberikan respon yang paling tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Gambar Lampiran 11).
Pertumbuhan koloni Pleurotus spp. pada media padat tanpa penambahan sumber lignin alami dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 3.
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
PDA MEA MPA
Gambar 1. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.1 pada Media Padat Tanpa Penambahan Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
PDA MEA MPA
Gambar 2. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.6 pada Media Padat Tanpa Penambahan Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
PDA MEA MPA
Gambar 3. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.8 pada Media Padat Tanpa Penambahan Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
Pleurotus sp.1 tumbuh terbaik pada media PDA sebesar 3.25 cm, kemudian pada media MEA dan media MPA dengan diameter koloni berturut-turut sebesar 1.75 cm, dan 1.5 cm. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MPA sebesar 6.25 cm, kemudian pada media MEA dan media PDA sebesar 5.75 cm dan 5.4 cm. Pleurotus sp.8 memenuhi cawan Petri ukuran 9 cm yang berisi media MPA setelah diinkubasi selama tujuh hari, sedangkan yang ditumbuhkan pada media MEA dan media PDA berturut -turut memenuhi cawan Petri setelah diinkubasi selama delapan dan sepuluh hari.
2. Pertumbuhan Koloni Isolat Pleurot us spp. pada Media MEA yang Ditambah Sumber Lignin Alami
Hasil sidik ragam menunjukkan faktor isolat, faktor media maupun interaksi antara keduanya berpengaruh nyata terhadap diameter koloni tiap isolat Pleurotus spp. pada tingkat kepercayaan 95% (Tabel Lampiran 7). Berdasarkan uji lanjut Duncan diketahui bahwa pertumbuhan Pleurotus sp.8 pada media MEA yang ditambah serbuk kayu sengon adalah yang paling tinggi dan berbe da nyata dari perlakuan lainnya (Gambar Lampiran 12).
Diameter koloni Pleurotus spp. pada media MEA yang ditambah sumber lignin alami dapat dilihat pada Gambar 4, 5 dan 6.
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 4. Diameter Koloni Isola t Pleurotus sp.1 pada Media MEA yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 5. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.6 pada Media MEA yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 6. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.8 pada Media MEA yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
Pleurotus sp.1 tumbuh terbaik pada media MEA yang ditambah serbuk kayu sengon, yaitu diameternya sebesar 1.62 cm, sedangkan pada media MEA yang ditambah serbuk jerami padi diameternya sebesar 1.52 cm. Pleurotus sp.1 yang ditumbuhkan pada media MEA yang ditambah serbuk bambu apus sangat lambat karena setelah diinkubasi selama sepuluh hari belum menunjukkan adanya pertumbuhan. Pada media MEA yang ditambah serbuk bambu apus, miselia mulai tumbuh setelah diinkubasi selama 17 hari. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MEA yang ditambah serbuk jerami padi yaitu diameternya sebesar 5. 83 cm, sedangkan yang dikulturkan pada media MEA yang ditambah serbuk kayu sengon atau serbuk bambu apus berturut-turut diameternya sebesar 5.47 cm dan 4 cm. Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MEA yang ditambah serbuk kayu sengon sebe sar 8.17 cm, sedangkan yang dikulturkan pada media MEA yang ditambah serbuk jerami padi atau serbuk bambu apus masing-masing diameternya sebesar 7.02 cm dan 4.35 cm .
Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada Pleurotus sp.1 yaitu ditemukannya lingkaran zona lisis pada media. Zona lisis berupa lingkaran berwarna coklat kekuningan muncul pada ujung-ujung miselia yang pertumbuhannya searah dengan pertumbuhan koloni.
3. Pertumbuhan Koloni Isolat Pleurotus spp. pada Media Modifikasi Glenn dan Gold yang Ditambah Sumber Lignin Alami
Hasil sidik ragam menunjukkan faktor isolat, faktor media maupun interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap diameter koloni tiap isolat Pleurotus spp. pada tingkat kepercayaan 95% (Tabel Lampiran 8). Berdasarkan uji lanjut Duncan diketahui interaksi isolat Pleurotus sp.6 dengan media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk jerami padi memberikan respon yang paling tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Gambar Lampiran 13).
Pertumbuhan koloni Pleurotus spp. pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah sumber lignin alami dapat dilihat pada Gambar 7, 8 dan 9.
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 7. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.1 pada Media Modifikasi Glenn dan Gold yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 8. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.6 pada Media Modifikasi Glenn dan Gold yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Lama Inkubasi (Hari)
Diameter Koloni (cm)
Bambu Apus Jerami Padi Kayu Sengon
Gambar 9. Diameter Koloni Isolat Pleurotus sp.8 pada Media Modifikasi Glenn dan Gold yang Ditambah Sumber Lignin Alami Setelah Diinkubasi Selama 10 Hari
Pleurotus sp.1 tumbuh terbaik pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk bambu apus, yaitu sebesar 1.62 cm, sedangkan pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk kayu sengon atau serbuk jerami padi berturut-turut diameternya sebesar 1.42 cm dan 1.35 cm. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk jerami padi, yaitu sebesar 6.9 cm, sedangkan pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk bambu apus atau serbuk kayu sengon berturut-turut diameternya sebesar 6.23 cm dan 5 cm. Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk jerami padi, yaitu sebesar 7 cm,
sedangkan pada media modifikasi Glenn dan Gold yang ditambah serbuk bambu apus atau serbuk kayu sengon diameternya berturut-turut sebesar 6.97 cm dan 5.98 cm.
Zona lisis muncul pada media Glenn dan Gold yang ditambah sumber lignin alami. Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 yang dikulturkan pada media ini menunjukkan adanya zona lisis berbentuk lingkaran berwarna coklat kekuningan. 4. Bobot Kering Miselia
Hasil sidik ragam menunjukkan faktor isolat dan faktor perlakuan penggoyangan dan tanpa penggoyangan pada media malt ekstrak cair yang ditambah sumber lignin alami berpengaruh nyata terhadap bobot kering miselia Pleurotus spp. pada tingkat kepercayaan 95% (Tabel Lampiran 9 dan 10). Berdasarkan uji lanjut Duncan diketahui Pleurotus sp.8 yang dikulturkan pada media malt ekstrak cair yang ditambah sumber lignin alami dengan diberi perlakuan penggoyangan memiliki bobot kering miselia yang terbaik dibanding isolat lain dengan perlakuan yang sama (Gambar Lampiran 14 dan 15).
Bobot kering miselia masing-masing isolat Pleurotus spp. yang dikulturkan pada media malt ekstrak cair yang ditambah sumber lignin alami dengan atau tanpa penggoyangan dapat dilihat pada Gambar 10 dan 11.
Gambar 10. Bobot Kering Miselia pada Media Malt Ekstrak Cair yang Ditambah Serbuk Jerami Padi Setelah Diinkubasi Selama 7 Hari 0.00 0.02 0.04 0.06 0.08 0.10 0.12
Pleurotus sp.1 Pleurotus sp.6 Pleurotus sp.8
Isolat
Bobot Kering Miselia (gram)
Tanpa Penggoyangan Den gan Penggoyangan
Gambar 11. Bobot Kering Miselia pada Media Malt Ekstrak Cair yang Ditambah Serbuk Kayu Sengon Setelah Diinkubasi Selama 7 Hari
Bobot kering miselia Pleurotus spp. pada media yang diberi perlakuan penggoyangan lebih besar dibanding denga n bobot kering miselia pada media yang tidak diberi perlakuan penggoyangan. Pada kedua macam media, isolat Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik, diikuti Pleurotus sp.6 kemudian Pleurotus sp.1.
Pleurotus sp.1 yang ditumbuhkan pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi dengan diberi perlakuan penggoyangan memiliki bobot kering miselia sebesar 0.075 gram, sedangkan yang tanpa penggoyangan bobot kering miselianya sebesar 0.035 gram. Bobot kering miselia pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk kayu sengon dengan penggoyangan adalah sebesar 0.053 gram, sedangkan yang tidak diberi perlakuan penggoyangan sebesar 0.021 gram. Pleurotus sp.6 yang ditumbuhkan pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi dengan diberi penggoyangan memiliki bobot kering miselia sebesar 0.096 gram, sedangkan bobot kering miselia yang tidak diberi perlakuan penggoyangan sebesar 0.059 gram. Bobot kering miselia pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk kayu sengon dengan diberi perlakuan penggoyangan sebesar 0.082 gram, sedangkan bobot kering miselia pada media yang tidak diberi perlakuan penggoyangan sebesar 0.047 gram. Pleurotus sp.8 yang ditumbuhkan pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi dengan diberi penggoyangan memiliki bobot kering miselia sebesar 0.114 gram, sedangkan yang tidak diberi perlakuan penggoyangan sebesar
0.00 0.02 0.04 0.06 0.08 0.10 0.12
Pleurotus sp.1 Pleurotus sp.6 Pleurotus sp.8
Isolat
Bobot Kering Miselia (gram)
Tanpa Penggoyangan
Dengan Penggoyangan
0.078 gram. Bobot kering miselia pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk kayu sengon dengan diberi penggoyangan sebesar 0.101 gram, sedangkan yang tidak diberi penggoyangan sebesar 0.076 gram. Perhitungan bobot kering miselia dapat dilihat pada Lampiran 5.
B. Pembahasan
1. Pertumbuhan Koloni Isolat Pleurotus spp. pada Media Padat Tanpa Penambahan Sumber Lignin Alami
Pleurotus sp.1 tumbuh terbaik pada media PDA, sedangkan Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MPA. Pertumbuhan terbaik isolat pada masing-masing media berbeda-beda karena masing-masing isolat selektif terhadap kandungan nutrisi. Oleh karena itu, tidak semua jenis media cocok sebagai media tumbuhnya. Beberapa elemen nutrisi dibutuhkan oleh semua jamur, beberapa elemen hanya dibutuhkan oleh spesies tertentu, dan beberapa elemen dibutuhkan oleh spesies tertentu yang akan tumbuh pada media yang memiliki kandungan nutrisi dalam jumlah yang spesifik (Chang dan Miles, 1997).
Ketiga media yang diuji merupakan media yang kaya akan nutrisi esensial yang dibutuhkan jamur untuk hidupnya. Media PDA memiliki kandungan nutrisi karbohidrat, air, dan protein yang berasal dari substrat kentang, glukosa , dan agar. Media MEA memiliki komposisi nitrogen, karbohidrat, sodium klorida , dan agar, sedangkan media MPA memiliki kandungan nutrisi nitrogen, karbohidrat, sodium klorida, agar , dan pepton (Cochrane, 1958).
Senyawa karbon memiliki dua fungsi, pertama yaitu untuk metabolisme jamur sebagaimana organisme heterotrof lainnya. Senyawa karbon menyediakan kebutuhan unsur C bagi proses sintesis senyawa-senyawa yang digunakan untuk pembentukan sel hidup seperti protein, asam nukleat, materi dinding sel, dan makanan. Fungsi kedua yaitu sebagai sumber energi utama yang berasal dari proses oksidasi senyawa karbon tersebut (Cochrane, 1958).
Kandungan nitrogen pada substrat mempengaruhi pertumbuhan miselium. Miselium jamur tidak dapat tumbuh pada me dia yang kekurangan unsur nitrogen, tetapi kelebihan nitrogen pada substrat dapat menyebabkan terakumulasinya amonia yang dapat meningkatkan pH sehingga menghambat pertumbuhan miselium dan pembentukan tubuh buah (Stamets dan Chilton, 1983). Cochrane 25
(1958) menambahkan bahwa tidak ada titik optimum nitrogen yang dibutuhkan oleh sebuah kultur karena kebutuhan nitrogen tergantung pada jumlah karbon. Meskipun demikian pada prinsipnya ada juga faktor lain yang mempengaruhinya.
Pertumbuhan koloni cenderung seperti garis yang melingkar pada media padat (Alexopoulos et al., 1996). Koloni biasanya terus-menerus tumbuh dalam radius rata -rata yang sama sampai bertemu dengan rintangan seperti ujung cawan Petri atau koloni lainya (Carlile et al., 2001). Pertumbuhan terjadi hanya pada sel yang berada di ujung koloni yang mempunyai akses terhadap nutrisi sehingga akan menghasilkan zona pertumbuhan pinggiran dan pertumbuhan akan bertambah sampai pertambahan jari-jari koloni tersebut melambat karena penipisan nutrisi.
Menurut Hofte (1998), pengukuran yang didapatkan pada fungi berfilamen pada media agar adalah fungsi linear dari waktu. Grafik yang ditunjukkan oleh ketiga isolat dalam penelitian ini menunjukkan fungsi linear dari waktu inkubasi selama sepuluh hari terhadap diameter koloni tiap isolat Pleurotus spp.
2. Pertumbuhan Koloni Isolat Pleurotus spp. pada Media MEA yang