• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

E. Kawasan Pariwisata

I. Pemanfaatan Lahan di Gugusan Pulau Tambelan

2.2.1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

2.2.1.1 Pertumbuhan PDRB

Indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB didefinisikan sebagai nilai tambah seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Nilai tambah barang dan jasa yang dihitung berdasarkan referensi harga yang berlaku pada tahun tertentu dikenal dengan PDRB atas dasar harga berlaku yang berguna untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi suatu daerah, sedangkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung berdasarkan harga pada satu tahun tertentu dikenal dengan PDRB atas dasar harga konstan, dimana harga pada tahun 2000 dijadikan sebagai dasar penghitungannya dan ini berguna untuk melihat besarnya laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah.

Perkembangan kondisi umum ekonomi Kabupaten Bintan yang merupakan gambaran kinerja makro dari penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan pada beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun pada kenyataannya perkembangan kondisi nasional tetap memberikan warna dalam menyertai dinamika perkembangan kondisi ekonomi pada daerah-daerah di seluruh Indonesia, termasuk Kabupaten Bintan. Perekonomian suatu daerah dikatakan mengalami pertumbuhan bila terdapat peningkatan nilai tambah dari hasil produksi barang dan jasa pada periode tertentu. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi daerah tercermin melalui pertumbuhan angka PDRB sebagaimana tabel berikut :

Tabel 2.17

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bintan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2005-2010

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008 2009 2010

1. Pertanian 114,36 124,85 139,41 150,22 162,55 175,37 2. Pertambangan & penggalian 254,22 266,89 277,44 292,80 307,06 325,84 3. Industri pengolahan 1.336,40 1.392,96 1.441,85 1.502,41 1.562,13 1.634,16 4. Listrik, gas dan air bersih 6,52 6,87 7,40 7,72 8,05 8,38 5. B a n g u n a n 66,44 72,00 78,92 84,96 90,69 96,90 6. Perdagangan, hotel dan restoran 435,04 467,20 506,33 540,08 576,17 615,25 7. Pengangkutan dan komunikasi 83,50 88,76 95,02 100,54 106,55 112,77 8. Keuangan, persewaan dan jasa 36,11 37,86 40,04 42,88 45,78 48,65 9. J a s a - j a s a 67,97 71,83 77,11 82,30 88,07 93,47

PDRB 2.400,56 2.529,22 2.663,52 2.803,91 2.947,05 3.110,79

LPE 5,28 5,36 5,31 5,27 5,11 5,56

Tabel 2.18

Laju Pertumbuhan Per Sektor Kabupaten Bintan Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2005-2010

Lapangan Usaha Laju Pertumbuhan Sektor (%)

2005 2006 2007 2008 2009 2010

1. Pertanian 7,37 9,17 11,67 7,75 8,2 7,89

2. Pertambangan & penggalian 4,52 4,99 3,95 5,54 4,87 6,11 3. Industri pengolahan 4,77 4,23 3,51 4,2 3,98 4,61 4. Listrik, gas dan air bersih 4,05 5,47 7,68 4,3 4,27 4,1

5. B a n g u n a n 5,61 8,37 9,61 7,65 6,75 6,85

6. Perdagangan, hotel dan restoran 7,79 7,39 8,37 6,67 6,68 6,78 7. Pengangkutan dan komunikasi 4,84 6,29 7,05 5,81 5,98 5,84 8. Keuangan, persewaan dan jasa 3,24 4,85 5,77 7,1 6,75 6,28 9. J a s a - j a s a 0,94 5,68 7,35 6,74 7,01 6,12

LPE 5,28 5,36 5,31 5,27 5,11 5,56

Sumber : BPS Kabupaten Bintan, Tahun 2011

Tabel 2.19

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bintan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2005-2010

Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2008 2009 2010

1. Pertanian 147,72 166,25 191,22 210,95 232,55 255,65 2. Pertambangan & penggalian 329,51 357,88 384,98 416,92 446,26 487,81 3. Industri pengolahan 1.591,60 1.713,63 1.842,53 196.804 2.077,06 2.255,84 4. Listrik, gas dan air bersih 9,20 10,08 11,30 12,25 13,11 14,10 5. B a n g u n a n 87,48 97,82 111,64 123,44 151,60 165,12 6. Perdagangan, hotel dan restoran 561,74 622,08 688,26 749,46 804,63 893,39 7. Pengangkutan dan komunikasi 109,62 118,52 129,23 140,85 152,60 166,11 8. Keuangan, persewaan dan jasa 41,91 45,31 49,78 54,51 59,19 64,73 9. J a s a - j a s a 82,40 87,72 94,30 102,99 112,99 122,12

PDRB 2.961,18 3.219,29 3.503,24 3.792,96 4.049,98 4.424,87

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB Kabupaten Bintan tahun 2005 atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 2,961 trilyun meningkat menjadi 4,002 trilyun pada tahun 2009 yang diukur dari sembilan sektor lapangan usaha yaitu Sektor Pertanian; Pertambangan dan Penggalian; Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih; Bangunan/Konstruksi; Perdagangan, Hotel dan Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dan Jasa-jasa.

Selaras dengan indikator kinerja PDRB, indikator kinerja makro ini merepresentasikan keberhasilan ataupun kegagalan menyeluruh dari Pemerintah Kabupaten Bintan di dalam menjalankan misinya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bintan. PDRB Kabupaten Bintan yang dihitung menurut harga kini(current price)menunjukkan kontribusi atau pangsa masing-masing sektor dalam struktur perekonomian daerah berdasarkan harga yang berlaku dalam tahun yang bersangkutan yang di dalamnya telah tercakup unsur tingkat inflasi makro Kabupaten Bintan.

Mengingat PDRB harga berlaku mengandung unsur inflasi makro nampaknya tinggi rendahnya %tase tersebut lebih diakibatkan tingginya tingkat inflasi dalam periode yang bersangkutan. Dengan demikian, PDRB harga berlaku belum secara riil menggambarkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bintan. Untuk memperlihatkan pertumbuhan PDRB secara riil Pemerintah Kabupaten Bintan menggunakan PDRB harga konstan. PDRB harga konstan ini merepresentasikan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bintan tanpa dipengaruhi oleh masalah perubahan harga atau inflasi yang terjadi atas barang dan jasa yang diproduksi karena menggunakan harga dasar yang konstan, yakni harga dasar

Tabel 2.20

Distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bintan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2000 Menurut Lapangan Usaha, Tahun 2005-2010

Lapangan Usaha Distribusi PDRB (%)

2005 2006 2007 2008 2009 2010

1. Pertanian 4,99 5,16 5,46 5,56 5,74 5,78

2. Pertambangan & penggalian 11,13 11,12 10,99 10,99 11,02 11,02 3. Industri pengolahan 53,75 53,23 52,6 51,89 51,29 50,98 4. Listrik, gas dan air bersih 0,31 0,31 0,32 0,32 0,32 0,32

5. B a n g u n a n 2,95 3,04 3,19 3,27 3,74 3,73

6. Perdagangan, hotel dan restoran 18,97 19,32 19,65 19,76 19,87 20,19 7. Pengangkutan dan komunikasi 3,7 3,68 3,69 3,7 3,77 3,75 8. Keuangan, persewaan dan jasa 1,42 1,41 1,42 1,44 1,46 1,46 9. J a s a - j a s a 2,78 2,72 2,69 2,72 2,79 2,76

PDRB 100 100 100 100 100 100

tahun tertentu yang dipilih. Berdasarkan data sementara yang diperoleh dari BPS Kabupaten Bintan bahwa pada tahun 2009 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 Kabupaten Bintan mencapai Rp 2,935 Trilyun. Perkembangan kondisi makro ekonomi Kabupaten Bintan selama periode 2005–2009 cenderung fluktuatif. Kondisi perekonomian Kabupaten Bintan pada tahun 2009 masih mengalami tekanan yang berat dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2009, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bintan melambat 4,68% dari tahun 2005 sebesar 5,28%. Tingkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bintan selama tahun 2009 relatif lebih didorong oleh sektor tersier dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5,72%. Selanjutnya, pertumbuhan sektor primer dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,93% dan pertumbuhan sektor sekunder sebesar 4,11%.

Jika dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi untuk masing-masing sektor sangatlah bervariasi. Beberapa sektor ada yang mengalami pertumbuhan yang berarti seperti sektor pertanian, petenakan, kehutanan, perikanan tumbuh sebesar 7,37% pada tahun 2005 menjadi 8,20% pada tahun 2009. Sektor kelistrikan, pada tahun 2005 tumbuh sebesar 4,05% meningkat menjadi 4,27% pada tahun 2009. Sektor bangunan dan konstruksi termasuk sektor ekonomi yang relatif tinggi pertumbuhannya, yaitu dari 5,61% pada tahun 2005 menjadi 6,75% pada tahun 2009. Begitu juga dengan sektor pengangkutan dan telekomunikasi yang tumbuh sebesar 4,84% pada tahun 2005 menjadi 5,98% pada tahun 2009. Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh sebesar 3,24% pada tahun 2005 meningkat menjadi 6,75% pada tahun 2009. Sektor jasa merupakan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja ketiga terbesar selain dari sektor pertanian dan perdagangan pertumbuhannya meningkat tajam dari 0,94% pad tahun 2005 menjadi 7,01% pada tahun 2009.

Sektor perdagangan, hotel dan restoran adalah sektor yang mempunyai peranan penting bagi perekonomian daerah karena menjadi penyedia lapangan kerja yang cukup besar. Meskipun demikian, pada akhir periode yang lalu pertumbuhan sektor ini mengalami perlambatan dari 7,79% pada tahun 2005 menjadi 5,39% pada tahun 2009. Selain itu, laju pertumbuhan sektor industri yang biasanya cukup tinggi juga mengalami penurunan dari 4,77% pada tahun 2005 menjadi 3,96% pada tahun 2009. Melambatnya pertumbuhan kedua sektor ini terutama disebabkan oleh menguatnya isu penyakit global seperti flu babi dan

Dokumen terkait