• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan tinggi tanaman

Rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman disajikan pada Gambar 12, sedangkan data pertumbuhan tinggi tanaman lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 2. Perlakuan yang diberikan menunjukkan hasil yang berbeda terhadap pertumbuhan tinggi tanaman Koro Benguk (Mucuna pruprirens) pada disposal P pada umur 4, 6, dan 8 MST. Gambar 5 dapat dilihat bahwa perlakuan I : kompos dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha cenderung memberikan pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan III, IV, II, dan kontrol.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 Kontrol I II III IV Perlakuan R a ta -r a ta Tin gg i Ta na m a n ( c m ) 4MST 6MST 8MST

Gambar 12. Rata-rata Pertumbuhan Tinggi Tanaman pada umur 4, 6, dan 8 MST setelah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 12 baik pada umur 4, 6, dan 8 MST, pengukuran rata-rata tinggi tanaman paling tinggi terdapat pada perlakuan I (kompos dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha), kemudian diikuti oleh perlakuan III, IV, II, dan pengukuran paling rendah terdapat pada perlakuan kontrol. Hal ini disebabkan adanya penambahan pupuk NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha yang mempengaruhi ketersedian unsur P dalam tanah. Penambahan pupuk NPK dan TSP dapat meningkatkan ketersedian unsur hara P didalam tanah, sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Menurut Tisdale et. al. (1985), pupuk fosfat berperan terhadap pertumbuhan tanaman, terutama pada perkembangan akar tanaman. Semakin banyak perakaran tanaman, maka semakin luas akar tanaman dapat menyerap unsur hara, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. B. Kadar hara tanaman

B 1. Kadar Hara N, P, K

Kadar hara N P K rata-rata disajikan pada Gambar 13, sedangkan data lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 8. Persentase kadar hara N, P, K dipengaruhi oleh beberapa perlakuan. Perlakuan tersebut diantaranya adalah

0 1 2 3 4 5 Kontrol I II III IV Perlakuan N ila i K a d a r H a ra N P K ( % ) N P K

dengan pemberian kompos, pupuk kandang, dan kapur dengan penambahan pupuk NPK dan TSP sesuai dengan dosis tertentu.

Gambar 13. Perbandingan nilai kadar hara N P K (%) setelah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 13 di atas yang memberikan pengaruh yang lebih tinggi terhadap perbandingan persentase kadar hara N adalah perlakuan IV (kapur 150kg/ha dengan NPK 50kg/ha dan TSP 50kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan III, I, II, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah kontrol. Pada kadar hara P semua perlakuan mempunyai hasil yang sama. Sedangkan pada kadar hara K perlakuan II (pupuk kandang dengan NPK 50kg/ha dan TSP 50kg/ha) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan IV, I, III, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah kontrol.

Hal ini disebabkan adanya kation basa-basa yang dapat ditukarkan seperti K, Na, Ca, dan Mg kadarnya meningkat akibat perlakuan kapur. Dengan pemberian kapur berarti menambahkan sejumlah senyawa Ca dan Mg ke dalam tanah, sehingga kadar Ca dan Mg meningkat, selain itu kapur dapat juga meningkatkan KTK tanah dan persentase Kejenuhan Basa (KB). Hal ini juga disebabkan adanya penambahan pupuk NPK 50kg/ha dan TSP 50kg/ha yang mempengaruhi ketersedian unsur N, P, dan K dalam tanah. Penambahan pupuk

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 Kontrol I II III IV Perlakuan Ni la i Ka d a r H a ra Ca & M g ( % Ca Mg

NPK dan TSP dapat meningkatkan ketersedian unsur hara N, P, dan K di dalam tanah, sehingga menjadi tersedia bagi tanaman.

B 3. Kadar Hara Ca dan Mg (%)

Kadar hara Ca dan Mg rata-rata disajikan pada Gambar 14, sedangkan data lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 8. Persentase kadar hara Ca dan Mg dipengaruhi oleh beberapa perlakuan. Perlakuan tersebut diantaranya adalah dengan pemberian kompos, pupuk kandang, dan kapur dengan penambahan pupuk NPK dan TSP sesuai dengan dosis tertentu.

Gambar 14. Perbandingan nilai kadar hara Ca & Mg (%) setelah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 14 di atas yang memberikan pengaruh yang tinggi terhadap perbandingan persentase kadar hara Ca dan Mg pada disposal P adalah perlakuan III (kapur 100kg/ha dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan IV, II, I, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah kontrol. Sedangkan pada kadar hara Mg pengaruh yang tinggi terdapat pada perlakuan I (kompos dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan II, III, IV, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah perlakuan kontrol.

0 5 10 15 20 25 30 Kontrol I II III IV Perlakuan N ila i K a da r H a ra Fe & M n ( p p m Fe Mn

Kation basa-basa yang dapat ditukarkan seperti K, Na, Ca, dan Mg kadarnya meningkat akibat perlakuan kapur. Dengan pemberian kapur berarti menambahkan sejumlah senyawa Ca dan Mg ke dalam tanah, sehingga kadar Ca dan Mg meningkat, selain itu kapur dapat juga meningkatkan KTK tanah dan persentase Kejenuhan Basa (KB).

B 4. Kadar Hara Fe, Mn (ppm)

Kadar hara Fe dan Mn rata-rata disajikan pada Gambar 15, sedangkan data lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 8. Kadar hara Fe dan Mn (ppm) dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kondisi tanah bekas tambang yang banyak mengandung unsur Al3+, Fe3+, Mn2+, dan S atau disebut juga kondisi tanah masam, pH tanah yang rendah, untuk mengatasi ketersedian unsur-unsur tersebut dilakukan pemberian kapur dengan penambahan pupuk NPK dan TSP sesuai dengan dosis tertentu dan kondisi tanah.

Gambar 15. Perbandingan nilai kadar hara Fe dan Mn (ppm) setelah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 15 diatas perlakuan yang memberikan pengaruh yang tinggi terhadap Kadar hara Fe adalah perlakuan II (pupuk kandang dengan

NPK 50kg/ha dan TSP 50kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan I, III, IV, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah kontrol. Sedangkan pada kadar hara Mn pengaruh yang tinggi terhadap kadar hara Mn adalah perlakuan I (kompos dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan IV, II, III, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil adalah kontrol.

Hal ini diduga karena pupuk kandang mengandung kandungan hara dan bahan organik yang tinggi dan mempunyai C/N rasio rendah dan kelembaban yang rendah,sehingga mempercepat proses mineralisasi untuk bahan organik ke dalam tanah, sehingga meningkatkan ketersedian bahan organik di dalam tanah. Dekomposisi bahan organik telah lanjut sehingga asam-asam organik yang dihasilkan dari proses dekomposisi tersebut semakin berkurang dan kemampuan bahan organik untuk mengikat ion-ion logam pun berkurang, sehingga meningkatkan ketersediaan unsur hara Fe dan Mn di dalam larutan tanah dan menjadi tersedia bagi tanaman.

C. Sifat-Sifat Kimia Tanah (pH, KTK, C-Organik) C 1. Reaksi Tanah (pH)

Reaksi tanah (pH) rata-rata disajikan pada Gambar 16, sedangkan data analisis pH tanah sebelum dan sesudah perlakuan lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 4 dan 6. Perlakuan yang diteliti memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH tanah. Hal ini diduga karena adanya perbedaan kandungan bahan organik sebelum dan sesudah perlakuan relatif besar, dimana sebelum percobaan mengandung Organik sebesar 0.53 % dan sesudah perlakuan mengandung C-Organik sebesar 1.304 %. Perbedaan kandungan C-C-Organik hanya sebesar 0.774 % tersebut akhirnya memberikan pengaruh yang nyata kepada perbedaan jumlah ion OH- yang ditambahkannya ke dalam tanah akibat proses pelapukan bahan organik, sehingga pH tanah pada lahan reklamasi berbeda nyata.

0 2 4 6 8 10 12 14 Kontrol I II III IV Perlakuan pH t a n a h Awal Akhir

Gambar 16. Perubahan nilai pH tanah sebelum dan sesudah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 16 di atas perlakuan yang memberikan pengaruh yang tinggi terhadap perubahan nilai pH pada disposal P adalah perlakuan III (Kapur 100kg/ha dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha) dibandingkan dengan perlakuan I, IV, II, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil terhadap perubahan nilai pH tanah adalah kontrol. Hal ini diduga karena penambahan kapur yang dapat menetralisir Aldd yang bereaksi dengan P dan mengakibatkan Al mengendap dalam bentuk Aluminium Hidroksida, sehingga ketersedian P meningkat (Sanchez, 1992). Kation basa-basa yang dapat ditukarkan seperti K, Na, Ca, dan Mg kadarnya meningkat akibat perlakuan kapur. Dengan pemberian kapur berarti menambahkan sejumlah senyawa Ca dan Mg ke dalam tanah, sehingga kadar Ca dan Mg meningkat. Meningkatnya jumlah basa-basa dalam larutan tanah menyebabkan perubahan keseimbangan ion tanah. Ion OH- yang berada pada komplek jerapan mulai dilepaskan dan digantikan posisi oleh basa-basa tersebut. Akibatnya jumlah ion OH- pada komplek jerapan berkurang, digantikan dengan basa-basa. Perubahan ini mengakibatkan pH dari larutan tanah naik.

Dari Tabel Lampiran 4 dan 6 data hasil analisis tanah sebelum dan setelah perlakuan, dapat dilihat bahwa tanah setelah diberi perlakuan mengalami kenaikan

pH sebesar 2.82 dari pH tanah sebelum perlakuan. Peningkatan pH ini terjadi karena proses pelapukan bahan organik sudah berlangsung secara intensif. Dimana pelapukan bahan organik ini sudah banyak melepaskan basa-basa ke dalam larutan tanah disamping basa-basa yang dilepaskan oleh pelapukan mineral-mineral tanah. Meningkatnya jumlah basa-basa dalam larutan tanah menyebabkan perubahan keseimbangan ion tanah. Ion OH- yang berada pada komplek jerapan mulai dilepaskan dan digantikan posisi oleh basa-basa tersebut. Akibanya jumlah ion OH- pada komplek jerapan berkurang, digantikan dengan basa-basa. Perubahan ini mengakibatkan pH dari larutan tanah naik.

C 2. Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Kapasitas tukar kation (KTK) rata-rata disajikan pada Gambar 17, sedangkan data analisis KTK tanah sebelum dan sesudah perlakuan lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 4 dan 6. Perlakuan yang diteliti memberikan pengaruh yang nyata terhadap KTK tanah. KTK terutama dipengaruhi oleh jumlah dan macam bahan organik, serta jumlah dan jenis liat (Foth, 1998). Dalam penelitian ini ternyata perbedaan kandungan C-Organik yang dihasilkan sebelum dan sesudah perlakuan relatif besar (0.774%). Hal ini menunjang diperolehnya pengaruh yang nyata terhadap KTK dilahan reklamasi tersebut.

KTK dipengaruhi oleh bahan organik tanah. Akan tetapi selama proses dekomposisi bahan organik yang berasal dari serasah tanaman tidaklah mampu meningkatkan nilai KTK. Padahal KTK akan meningkat sesuai dengan humifikasi bahan organik (Foth, 1998). Hal tersebut karena penambahan bahan organik yang relatif kecil yaitu sekitar -0.06% sehingga nilai KTK tanah tidak terlalu berubah. Hal tersebut menunjang diperolehnya pengaruh yang tidak nyata terhadap KTK tanah pada lahan tersebut.

0 2 4 6 8 10 12 Kontrol I II III IV Perlakuan N ila i K T K ( m e /1 0 0 g ) Awal Akhir

Gambar 17. Perubahan nilai KTK (me/100g) tanah sebelum dan sesudah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 17 di atas perlakuan yang memberikan pengaruh yang tinggi terhadap perubahan nilai KTK tanah pada disposal P adalah perlakuan I (Kompos dengan NPK 50kg/ha dan TSP 25kg/ha) dibandingkan dengan kontrol, perlakuan III, II, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil terhadap perubahan nilai KTK tanah adalah perlakuan IV. Hal ini disebabkan kompos mengandung kandungan hara dan bahan organik yang tinggi dan mempunyai C/N rasio rendah dan kelembaban yang rendah, sehingga mempercepat proses mineralisasi untuk melepaskan basa ke dalam larutan tanah. Jumlah basa-basa yang dilepaskan ke dalam larutan tanah meningkatkan ketersedian basa-basa-basa-basa didalam larutan tanah, sehingga dapat meningkatkan KTK tanah dan persentase Kejenuhan Basa (KB).

Dari Tabel Lampiran 4 dan 6 data hasil analisis tanah sebelum dan setelah perlakuan, dapat dilihat bahwa tanah setelah diberi perlakuan mengalami kenaikan KTK sebesar 1.72 me/100g dari KTK tanah sebelum perlakuan. Bahwa hasil dekomposisi tanaman yang mengandung lignin tinggi menyebabkan lignin sebagian dioksidasi dan golangan yang dapat melepaskan ion yang menyebabkan pertukaran kation meningkat jumlahnya (Buckman dan Brady, 1982).

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 Kontrol I II III IV Perlakuan N ila i C -O rg a n ik ( % ) Awal Akhir C 3. C-Organik

C-Organik rata-rata disajikan pada Gambar 18, sedangkan data analisis KTK tanah sebelum dan sesudah perlakuan lengkapnya disajikan pada Tabel Lampiran 4 dan 6. Perlakuan yang diteliti memberikan pengaruh yang nyata terhadap C-Organik. Perbedaan serasah dan proses dekomposisi yang dihasilkan sehingga berpengaruh terhadap ketersedian Organik tanah, dimana sumber C-Organik berasal dari serasah yang jatuh dari tegakan pohon (Maftu’ah, 2000).

Gambar 18. Perubahan nilai C-Organik (%) tanah sebelum dan sesudah perlakuan pada disposal P.

Berdasarkan Gambar 18 di atas perlakuan yang memberikan pengaruh yang tinggi terhadap perubahan nilai C-Organik tanah pada Disposal C1 adalah perlakuan II (pupuk kandang dengan NPK 50kg/ha dan TSP 50kg/ha) dibandingkan dengan kontrol, perlakuan III, IV, V, dan perlakuan yang memberikan pengaruh yang kecil terhadap perubahan nilai KTK tanah adalah perlakuan I. Hal ini diduga karena pupuk kandang mengandung kandungan hara dan bahan organik yang tinggi dan mempunyai C/N rasio rendah dan kelembaban yang rendah,sehingga mempercepat proses mineralisasi untuk bahan organik ke dalam tanah, sehingga meningkatkan ketersedian bahan organik di dalam tanah.

Dari Tabel Lampiran 4 dan 6 data hasil analisis tanah sebelum dan setelah perlakuan, dapat dilihat bahwa tanah setelah diberi perlakuan mengalami kenaikan Organik sebesar 0.774 % dari Organik tanah sebelum perlakuan. Nilai C-Oganik tanah sebelum percobaan sebesar 0.53% yang mengalami kenaikan setelah dilakukan percobaan sebesar 1.304%. Hal ini terjadi karena pengaruh dekomposisi serasah sebelum percobaan yang lebih cepat menyebabkan keberadaan bahan organik akan terakumulasi dan jumlahnya menjadi lebih sedikit, sedangkan dekomposisi setelah dilakukan percobaan berlangsung lebih lambat sehingga bahan organik yang terakumulasi lebih banyak jumlahnya. Dekomposisi cepat pada serasah sebelum percobaan disebabkan oleh C/N ratio yang rendah dibandingkan dengan serasah sesudah dilakukan percobaan (Munawar, 1997 dan Maftu’ah, 2000) serta kandungan lignin nya yang kecil. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Praktikno (2002) bahwa peningkatan rasio C/N akan meningkatkan C-Organik tanah, dimana rasio C/N yang tinggi menunjukkan banyaknya fraksi tanah lapuk dapat menghambat dekomposisi sehingga bahan organik tanah meningkat, sedangkan rasio C/N yang rendah dalam bahan oganik mengakibatkan bahan organik tersebut mudah terdekomposisi dan sedikit membentuk humus.

Perbandingan Hasil pada Disposal C1 dengan Disposal P

Dokumen terkait