• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Balin Djamil sebelum dan sesudah di

Dalam dokumen SKRIPSI BALIN JALAI DI KAMPUNG TANJUNG (Halaman 104-0)

BAB IV PENGUKUHAN BALIN DI KAMPUNG TANJUNG

B. Perubahan Balin Djamil sebelum dan sesudah di

B. Perubahan Balin Djamil sebelum dan sesudah dikukuhkan menjadi Balin

Balin Djamil memutuskan untuk menjadi seorang Balin, sehingga setelah lama tidak digelar pengukuhan Balin bisa digelar kembali pada tanggal 26 Juli 2018. Keputusannya tersebut memiliki pro dan kontra dari pihak keluarga, namun dengan segala keyakinan dan niat baik, pihak keluargapun memberikan dukungan atas keputusan yang Balin Djamil ambil.

Balin Djamil sebelum dikukuhkan menjadi Balin adalah tokoh adat yang memiliki peran penting dalam masyarakat, namun karena agama sudah lama masuk di Kampung Tanjung Balin Djamil juga menganut agama Katolik.

Kegiatannya dalam lingkungan adat tidak mengganggu ibadahnya kepada ajaran agama Katolik dan Balin Djamil bisa menempatkan diri. Kehidupan adat dan ajaran agama Katolik di Tanjung sangat berdekatan dimana sebelum melakukan acara besar gereja akan melakukan upacara adat terlebih dahulu dan itu sudah dilakukan secara turun-temurun karena kegiatan adat yang dilakukan Balin Djamil tidak melanggar ajaran agama Katolik.

Namun ketika sudah dilantik menjadi Balin, Balin Djamil dituntut untuk menerapkan serta menjalani kehidupanya sebagai seorang Balin, yang dimana sebelum menjadi Balin, Balin Djamil hidup seperti masyarakat yang lainnya bekerja sebagai petani, mengikuti berbagai kegiatan adat juga kegiatan gereja pada hari minggu biasa maupun hari-hari besar agama Katolik karena Balin Djamil termasuk orang yang aktif dikegiatan gereja, namun setelah menjadi Balin, Balin Djamil sudah tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan agama Katolik, sudah tidak pergi ke gereja dan kegiatan-kegiatan gereja lainnya. Balin djamil lebih sering pergi ke hutan untuk mencari tumbuh-tumbuhan atau urat-urat kayu yang dianggapnya berguna untuk keperluan pribadinya dalam menyembuhakan orang sakit, untuk menngisi waktu luang Balin Djamil sering menganyam kindai 66 dan keperluan lainnya.

66 Kindai adalah tempat yang biasa masyarakat Dayak Jalai gunakan ketika pergi ke ladang atau ke hutan sebagai tempat bekal atau keperluan saat diperjalanan yang berukuran besar jika berukuran kecil disebut Tengkalang.

Gambar 3.6 Kindai

Sumber: Dokumentasi Pribadi Alex Willis

Banyak orang menganggap kehidupan seorang Balin bertentangan dengan ajaran gereja maka dari itu kehidupan Balin Djamil berubah secara dratis dengan kesadarannya sendiri. Balin Djamil sudah memutuskan untuk menjadi seorang Balin, kehidupan bertapa dan memiliki keahlian khusus sebagai orang yang dianggap berilmu membuatnya segan untuk mengikuti kembali ajaran-ajaran agama Katolik. Pihak gereja memang tidak melarang siapapun itu untuk beribadah hal tersebut atas kesadaran Balin Djamil sendiri dan memfokuskan dirinya sebagai seorang Balin yang bisa berguna dimasyarakat yang masih mempercayai hal tersebut.

Pandangan masyarakat terhadap Balin juga mengalami perubahan dari tahun ke tahun, Balin yang dikukuhkan setelah tahun 2000-an ini dianggap kurang telaten dalam mengobati orang sakit dimana adanya perbedaan pandangan dari

beberapa tokoh adat atau tokoh masyarakat yang melihat dan juga merasakan kehidupan Balin dimasa lampau yang sudah berbeda dengan masa kini.

Perbedaannya adalah Balin sekarang sering dianggap keahlian atau pengetahuan spiritualnya kurang kental dibandingkan para Balin tua dimasa lalu karena kehidupan para Balin dimasa lalu yang sangat dekat dengan alam yang selalu bertapa dan mencari ilmu digunung-gunung sehingga Balin yang memiliki ilmu yang kuat ini bisa menjadi guru dan bisa melantik para Balin muda lainnya, karena dimasa itu memang peran Balin sangat penting untuk mengobati orang sakit sehingga memang harus melakukan pertapaan untuk mendapatkan sebuah ilmu agar bisa menyembuhkan orang yang sakit. Namun dari tahun ke tahun ketika para Balin ini sudah meninggal murid-muridnyalah yang melanjutkan dan terus seperti itu hingga sekarang. Balin sekarang dianggap kurang telaten karena kehidupan spiritualnya tidak sekental para Balin tua di masa dulu dalam bahasa kasarnya ilmu mereka tidak sekuat para Balin pada masa dulu, dimasa sekarang peran Balin memang masih digunakan namun hanya beberapa kelompok yang masih percaya karena sudah ada sistem pengobatan yang lebih modern yang dianggap pengobatannya yang lebih jelas dan pasti67. Perubahan tersebut memang tidak bisa dihindari dimana perubahan zaman juga mengakibatkan semua pola yang ada di dalam masyarakat juga berubah mulai dari segi aspek kehidupan dan lain-lainnya.

Perbedaan pandangan ini juga menghasilkan kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Balin dimasa kini. Maka dari itulah banyak orang dimasa

67 Wawancara Datuq Setiar via telepon di kampung Tanjung Desa Teluk Runjai Kecamatan Jelai Hulu Tanggal 11 September 2021 pukul 19.00 WIB.

kini menyalahgunakan fungsi Balin yang sesungguhnya demi kepentingan pribadi. Hal seperti ini sudah biasa ditemukan pada suku Dayak Jalai. Maka dari pada itu masyarakat diharapkan menjaga tutur kata agar tidak menyakiti sesama dan bisa hidup rukun.

Banyak orang atau masyarakat memberikan tanggapan bahwa kehidupan Balin tidak sesuai dengan kehidupan gereja sedangkan dalam kehidupan adat masyarakat Dayak, Balin terlebih dulu ada dalam kehidupan mereka daripada agama. Hal ini terjadi dikarenakan adanya pengaruh atau pandangan dari luar yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap budaya adat terutama adat Balin.

Adanya oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan agama yang masih bersifat fanatik terhadap budaya rayah, perlu digaris bawahi adalah oknum-oknum tertentu bukan atas nama Gereja diseluruh Dunia. Kesimpulannya adalah walaupun Gereja tidak secara resmi tidak melarang upacara adat tapi ketika melakukan upacara tersebut mereka diam. Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa agama dan spiritual tidak harus dipertentangkan tapi juga tidak bisa dihilangkan.

Hingga saat ini tidak sedikit masyarakat Dayak Jalai yang ada di Kampung Tanjung tidak mempercayai fungsi Balin karena sudah dianggap kuno, ketinggalan zaman, pembohong, dan masih banyak hal lainnya. Inilah yang akan menyebabkan budaya adat Balin akan hilang secara perlahan dikarenakan tidak adalagi kepercayaan dari masyarakat Dayak Jalai sendiri.

Hilangnya kepercayaan masyarakat diikuti oleh budaya luar yang mereka terapkan yang dianggap sesuai dengan zamannya. Sehingga tidak sedikit

masyarakat Dayak Jalai di Kampung Tanjung meninggalkan atau melupakan adat Balin, jika adat Balin ini punah, punah juga identitas masyarakat Dayak karena tidak seimbangnya dengan pengaruh budaya luar yang masuk68. Tidak bisa dipungkiri sekarang budaya asli diganti dan budaya luar masuk, seharusnya berjalan dengan bersamaan, budaya luar masuk dan budaya asli masih digunakan sebagai identitas, jika identitas itu hilang tidak ada lagi yang bisa dikembangkan dari sebuah masyarakat adat Dayak khususnya Dayak Jalai di Kampung Tanjung.

68 Wawancara Jhon Bamba via telepon Tanggal 24 Agustus 2021 pukul 18.00 WIB.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Masyarakat dayak Jalai masih menggunakan Balin dalam pengobatan dikarenakan suku dayak Jalai merupakan salah satu suku yang tinggal dipedalaman Kalimantan, karena letak lokasi mereka dipedalaman membuat mereka harus bertahan hidup dengan cara mereka sendiri. Mereka menggunakan Balin dikarenakan memang itu ciri khas adat dan budaya mereka, tidak ada rumah sakit, bidan maupun perawat yang bisa mengatasi penyakit mereka pada masa itu.

Maka dari itu mereka menggunakan Balin yang memang memiliki keahlian khusus untuk mengobati orang sakit dengan berbagai ramuan yang didapatkan dari hutan atau alam yang ada di sekitar mereka. Penyebab masyarakat Jalai masih menggunakan Balin hingga sekarang dikarenakan masih ada masyarakat Dayak Jalai yang mempercayai sebab akibat penyakit yang datang biasanya diakibatkan terganggunya keseimbangan alam yaitu antara penghuni alam dengan manusia sehingga yang bisa mengatasi hal tersebut hanyalah Balin, hingga sekarang walaupun masyarakat Dayak Jalai khususnya di Kampung Tanjung sudah mengalami berbagai kemajuan dari berbagai aspek kehidupan, dimana sudah ada rumah sakit,bidan dan perawat namun tidak bisa dipungkiri bahwa peran Balin masih dibutuhkan oleh masyarakat Dayak Jalai dikarenakan masih ada beberapa golongan masyarakat yang hidup di Kampung Tanjung yang masih mempercayai fungsi Balin.

Peran Balin mengalami perubahan setelah masuknya agama Katolik di Kampung Tanjung yang dibawa oleh para misionaris dimana mereka menyebarkan agama di Kampung Tanjung sekaligus melakukan pelayanan sosial lainnya seperti pendidikan dan kesehatan sehingga mereka mudah diterima oleh masyarakat karena melakukan pendekatan secara langsung, masuknya agama Katolik juga mengubah pola pikir masyarakat mengenai pandangan masyarakat terhadap seorang Balin, dengan masuknya agama Katolik banyak masyarakat yang menjadi Katolik dan mengikuti ajaran-ajarannya, hal ini membuat masyarakat dayak Jalai tidak percaya lagi dengan hal-hal yang dianggap bersifat mistis dan ketertarikan untuk menjadi seorang Balin sudah tidak ada, maka dari itulah adanya kekhawatiran dengan punahnya budaya Balin. Tidak ada yang berubah dari seorang Balin yang berubah adalah pandangan masyarakatnya dan tidak sedikit masyarakat menyalahgunakan fungsi Balin yang sesungguhnya.

Sebelum agama masuk masyarakat menganggap Balin sebagai dokter atau penyembuh dimana Balin dianggap sebagai orang yang sakti yang memiliki keahlian khusus yang tidak dimiliki oleh semua orang untuk menyembuhkan orang sakit namun ketika berbagai pengaruh masuk ke ruang lingkup suku Dayak Jalai di Kampung Tanjung termasuk agama Katolik pemikiran mereka mengenai seorang Balin sudah berubah dimana dianggap menyembah berhala, dianggap sudah kuno dan juga dianggap sebagai pembohong dikarenakan masyarakat merasa kesaktian Balin yang sekarang sudah tidak seperti Balin-Balin dimasa dulu yang di anggap kesaktian atau ilmunya kurang kental.

Tidak ada perubahan dari upacara pengukuhan Balin yang dilakukan pada tahun 2000-an hingga tahun 2018 bahkan ditahun-tahun sebelumnya. Upacara yang mereka lakukan masih sama, perlengkapan yang mereka gunakan juga masih sama, hanya saja memang jumlah Balin yang semakin tahun semakin berkurang diakibatkan beberapa Balin tua yang meninggal dan tidak ada pengganti.

Pengukuhan Balin yang dilakukan pada tahun 2018 adalah pengukuhan Balin yang sudah tidak digelar kurang lebih selama 18 tahun yaitu sebelumnya dilakukan pada tahun 2000-an yaitu pengukuhan Balin Patul. Upacara pengukuhan Balin tidak digelar cukup lama dikarenakan tidak ada orang yang ingin menjadi Balin dan berbagai pengaruh lainnya seperti Modernisasi, Ilmu pengetahuan (Sistem Pendidikan Formal, Ilmu Pengetahaun Medis Modern, Eksploitasi Sumber Daya Alam). Kurangnya ketertarikan anak-anak muda pada peran Balin juga dipengaruhi oleh zaman yang semakin maju dan berkembang

B. Saran

Melihat penurunan yang terus terjadi setiap tahunnya membuat adat-istiadat Berayah Belapas Belayang memudar jika dibiarkan maka akan hilang dengan sendirinya.

Saran yang dapat saya berikan:

1. Tokoh-tokoh adat serta guru-guru diharapkan bekerja sama memberikan pelajaran tambahan khusus kepada anak-anak baik lisan maupun tulisan bahkan melalui praktek di sekolah dasar khususnya, agar anak-anak muda mengetahui budaya mereka yang harus mereka jaga dan lestarikan bukan

hanya memperkenalkan budaya luar sehingga mereka tidak tau dengan budaya asli mereka.

2. Masyarakat harus berperan untuk menjaga serta mengelola dan mempertahankan adat yang ada pada suku Dayak Jalai.

3. Adat istiadat pada suku Dayak Jalai harus dilestarikan, jangan biarkan kebudayaan luar masuk dan menguasai budaya asli orang Jalai.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Abdul Latief, Obat Tradisional. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC, 2009.

Kuntowijoyo, Metodeologi Sejarah, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2003.

Hermansyah. Ilmu Gaib di Kalimantan Barat. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia,2010.

Lontaan, J.U.. Sejarah Hukum Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu,1975.

Lilis, Elisabeth. Dayak Jalai. Pontianak: Institut Dayakologi,2008.

Tjilik Riwut, Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. Kalimantan Tengah: NR PUBLISHING,2007.

Schadee,M.C.”Kepercayaan Suku Dayak di Tanah Landak dan Tayan”. Jakarta:

Yayasan Idayu, 1979.

Mallincrocdt, J. Gerakan Nyuli di Kalangan Suku Dayak Lawangan. Jakarta:

Bhratara,1974.

Bamba, Jhon. Dayak Jalai di persimpangan Jalan.Pontianak: Institut Dayakologi, 2003.

Florus,Paulus. et.al. Kebudayaan Dayak: Akulturasi dan Tranformasi. Jakarta: PT Gasindo, 1994.

Budiati, Atik Catur. Sosiologi kontekstual. Jakarta: Pusat Perbukuan Pendidikan Nasional, 2009.

Meinarno, Eko A. ., et al. Manusia Dalam Kebudayaan dan Masyarakat. Jakarta:

Salemba Humanika, 2011.

Suyono, Ariyono. dkk. Kamus Antropologi. Jakarta: Akademik Presindo, 1985.

Bagian Dokumentasi Penerangan Kantor Waligereja Indonesia Taman Cut mutiah 10 Jakarta. “Sejarah Gereja Katolik Indonesia”. Jakarta: Percetakan Ende-Flores, 1974.

SKRIPSI

Harianto, “Basir Balin”. Skripsi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2018.

Hamid Darmadi, “Dayak asal-usul Penyebarannya di Bumi Borneo”. Skripsi, IKIP PGRI Pontianak, 2016.

Fitriani,“Fenologi Pembungaan Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) di Kebun Raya Bogor”. Skripsi : Bogor : Institut Pertanian Bogor, 2013.

Hendrikus Kurniawan, “ Transpormasi Budaya:Upacara Adat Totokng Dalam Masyarakat Dayak Kanayant”. Skripsi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2010.

JURNAL

Wahyu Damayanti. “Leksikon Adat Istiadat Pengobatan Masyarakat Dayak Jalai Kabupaten Ketapang”. Dalam Jurnal Kajian Etnolinguistik. 14, no. 2. 4

Desember 2020.

https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/tuahtalino/artic le/download/2784/1352. Diunduh 11 Februari 2021. Pukul 23.22 WIB.

WEBSITE

=MjAyMS0wNC0yMyAxODoxMDo0Mg%3D%3D diunduh 23 April 2021 pukul 13.56 WIB.

https://petatematikindo.wordpress.com/2014/09/10/administrasi-kabupaten ketapang/ di unduh 12 April 2021 pukul 19.52 WIB.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang, Kecamatan Jalai Hulu dalam 2015 https://www.scribd.com/document/328607678/Jalai-Hulu-Dalam-Angka-2015 Di

unduh 22 April 2021 pukul 23.18 WIB.

Fitriani,“Fenologi Pembungaan Pinang Yaki (Areca vestiaria Giseke) di Kebun Raya Bogor”. Skripsi : Bogor : Institut Pertanian Bogor, 2013.

https://dokumen.tech/document/fenologi-pembungaan-pinang-yaki-areca-vestiaria-pembungaan-suatu-jenis-tumbuhan.html di unduh Tanggal 22 Februari 2021 pukul 12.13 WIB

RUAITV Upacara Berayah Belapas Belayang Dayak Jalai

https://www.youtube.com/watch?v=Wh6FSPhZd4Y di unduh 20 mei 2021 pukul 11.30 WIB.

DAFTAR NARASUMBER

No Nama Pekerjaan

Dulu

Pekerjaan

sekarang Usia Alamat sekarang

1 Balin Djamil Damung

Munying Petani Petani dan

Balin 76 Tahun

Daftar Pertanyaan Wawancara 1. Apa yang menjadi alasan datuq menjadi seorang Balin?

2. Apa perbedaan Berayah pengukuhan Balin dengan Berayah orang sakit?

3. Apa respon keluarga datuq setelah datuq memutuskan untuk menjadi seorang Balin?

4. Bagaimana respon masyarakat terhadap upacara pengukuhan Balin yang datuq lakukan pada tahun 2018?

5. Adakah kesulitan datuq setelah menjadi Balin?

6. Menurut datuq adakah perubahan upacara berayah dari tahun ke tahun?

7. Menurut datuq apakah penyebab upacara pengukuhan Balin lama tidak digelar di kampung Tanjung?

8. Apakah ada perubahan pada Balin sebelum dan sesudah agama Katolik masuk ke kampung Tanjung?

9. Tahun berapa datuq disahkan menjadi seorang Balin?

10. Apakah ada perubahan peran pada Balin dari tahun ke tahun?

11. Apakah benar datuq mempunyai keahlian khusus dalam menyembuhkan orang sakit sebelum dikukuhkan menjadi Balin?

12. Bagaimana cara misionaris melakukan pendekatan sehingga bisa diterima dengan baik oleh masyarakat?

13. Apakah ada penolakan-penolakan dari masyarakat terhadap kedatangan agama Katolik?

14. Apakah gereja melarang seorang Balin untuk pergi ke gereja?

15. Menurut romo bagaimana pandangan gereja terhadap adat istiadat dikampung Tanjung terutama adat Balin yang sering menjadi pertentangan dalam masyarakat dikarenakan kegiatan yang dilakukan Balin dianggap tidak sesuai dengan ajaran Katolik?

16. Apa penyebab utama pengukuhan Balin lama tidak digelar menurut bapak?

17. Menurut bapak apakah memang masih diperlukan upacara berayah dilakukan dimasa sekarang ini?

18. Apakah benar bapak sangat berperan dalam proses pengukuhan Balin Djamil?

19. Bagaimana kehidupan Balin di zaman dulu dengan zaman sekarang?

20. Apakah datuq mengalami masa transisi dimana agama Katolik masuk?

21. Sebagai seorang pakar budaya menurut bapak bagaimana cara melestarikan adat Balin yang sudah hampir hilang ?

Gambar 3.7 Balin Djamil

Sumber : Koleksi Pribadi Peneliti Gambar 3.8 Balin Munying

Sumber : Koleksi Pribadi Peneliti

Gambar 3.9 Datuq Setiar

Sumber : Koleksi Pribadi Peneliti

Dalam dokumen SKRIPSI BALIN JALAI DI KAMPUNG TANJUNG (Halaman 104-0)

Dokumen terkait