SKRIPSI
BALIN JALAI DI KAMPUNG TANJUNG 1970-2018
SKRIPSI
Disusun untuk memenuhi persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Humaniora
Program Studi Sejarah
Oleh Agata Siskalia NIM 174314017
PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2021
vi
MOTTO
Proses kesuksesan orang-orang berbeda, jadi jangan selalu membandingkan kekuranganmu dengan kelebihan orang lain. Kuncinya hanya satu yaitu pada diri
kita sendiri. Kita mau menjadi orang atau hinaan orang-orang.
vii
PERSEMBAHAN
Skripsi yang berjudul “ Balin Jalai di Kampung Tanjung” ini saya persembahkan untuk almamater Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, saya persembahkan untuk generasi-generasi penerus milenial Dayak Jalai dan juga saya persembahkan untuk diri saya sendiri sebagai pencapaian yang
bisa saya raih dan saya selesaikan selama masa kuliah.
viii
ABSTRAK
Agata Siskalia . Balin Jalai di Kampung Tanjung 1970 – 2018. Skripsi.
Yogyakarta: Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2021.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga pokok permasalahan. Pertama mengapa orang Dayak Jalai menggunakan Balin dalam pengobatan. Kedua bagaimana perubahan yang terjadi pada Balin setelah agama memasuki suku Dayak Jalai. Ketiga apa saja perubahan yang terjadi pada pengukuhan Balin pada tahun 2000 hingga tahun 2018.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan, mengaitkan, membandingkan dan interpretasi terhadap data yang sudah dikumpulkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat suku Dayak Jalai masih mempercayai sebab akibat penyakit diakibatkan terganggunya keseimbangan alam yaitu antara penghuni alam dan manusia. Kedua pandangan masyarakat suku Dayak Jalai terhadap peran Balin mengalami perubahan setelah agama Katolik masuk. Ketiga kurangnya ketertarikan untuk menjadi seorang Balin mengakibatkan jumlah Balin semakin berkurang setiap tahunnya.
Kata kunci: Balin. Dayak Jalai, Upacara Berayah.
ix
ABSTRACT
Agata Siskalia, Balin Jalai In Tanjung Vilage In 1970-2018. Thesis. Yogyakarta:
Letter Study Program, Faculty of Letter, Sanata Dharma University, 2021.
The aim of this study is to address three main problems. First, why the Dayak Jalai people use Balin in treatment. Second, how the change occurs in Balin after the religion enters the Dayak Jalai custom. Three, what are the changes that take place in the Balin strengthening in 2000 until 2018.
This study used qualitative method and data collection method such as Interview and library study. The Analysis was done by grouping, linking, comparing and interpreting toward the data collected.
The result of this study showed that people of the Dayak Jalai custom still believed the cause-effect of the illness as the result of the disrupt of the balance from nature which was between the nature's inhabitants and the human being.
Second, the viewpoints of Dayak Jalai people toward the role of Balin experienced the changes after the entering of Catholic religion. Third, there was lack of interests for being a Balin caused the decrease number of Balins in every year.
Key words: Balin, Dayak Jalai, Berayah Ceremony
x
KATA PENGANTAR
Dalam penelitian ini, peneliti sempat ragu di beberapa pembahasan karena data yang didapatkan belum begitu cukup untuk dijadikan sumber yang akurat.
Akan tetapi dengan bantuan beberapa orang peneliti bisa mengatasi hal tersebut dan bisa mendapatkan informasi-informasi yang menarik sehingga yakin menulis topik yang berjudul "Balin Jalai di Kampung Tanjung 1970-2018”.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan, semangat, serta dukungan doa dari berbagai pihak yang mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu dengan rendah hati penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan penyertaan-Nya kepada saya dari awal sampai penulisan skripsi ini.
2. Kedua orang tua saya Umak dan Bapak yang selalu mendoakan agar kuliah saya cepat selesai dan sudah bersedia membiayai saya hingga selesai, yang sudah berkorban dengan penuh keringat untuk mencari uang agar anaknya tidak sampai kelaparan di tanah orang.
3. Nenek Kakek yang sudah merawat saya ketika ditinggalkan orang tua untuk bekerja pada masa itu, hidup dengan kakek nenek selama bertahun-tahun besar harapan mereka agar saya bisa menjadi orang yang berguna dan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, selalu menasehati serta mendukung kuliah saya.
4. Kedua adik saya yang manis yang selalu merindukan saya disaat jauh.
xi
5. Antonius Oko Pranoto yang selalu menasihati saya ketika saya sedang down terimakasih selalu memberikan dukungan serta perhatiannya. Selalu mengajarkan menghadapi berbagai masalah dengan bijak.
6. Sahabat saya yang tersayang Cornelia Melinda, terimakasih sudah hadir dihidupku menjadi sahabat, teman bahkan saudara di tanah rantau. Selalu berkeluh kesah berdua namun bangkit kembali. Terimakasih sudah menjadi teman yang baik yang pernah aku kenal.
7. Datuq Djamil selaku narasumber yang selalu saya repotkan untuk ditanyai mengenai beberapa hal.
8. Datuq Setiar yaitu kakek saya sendiri juga menjadi narasumber yang sangat senang menceritakan pengalaman hidupnya masa dulu yang sangat menyenangkan.
9. Balin Munying narasumber yang ramah yang menjadi bagian terpenting dalam penulisan skripsi saya.
10. Darmono selaku narasumber yang bersedia menjawab hal-hal yang belum saya ketahui.
11. Keluarga besar saya yang sudah meberikan dukungan doa maupun materi selama saya kuliah, mungkin saya tidak bisa membalas kebaikan kalian satu per satu biarkan kekuatan alam yang bekerja atas kebaikan yang kalian tanam.
12. Dosen saya yang tercinta yaitu Silverio R.L.Aji Sampurno yang sudah sanggup menghadapi mahasiswa seperti saya yang loadingnya lama, yang selalu takut kalau bertemu terimakasih semoga bapak sehat selalu.
xii
13. Dosen Sejarah Sanata Dharma Dr. Yerry Wirawan, Heri Priyatmoko, M.A.
Dr. Baskara T. Wardaya, S.J., Heri Setyawan, S.J., S.S., M.A.Terimakasih atas ilmu yang diberikan kepada kami serta pengalaman yang sudah di ajarkan kepada kami.
14. Mas Doni selaku staf sekretariat jurusan Sejarah. Terimakasih sudah begitu baik dalam membantu kami untuk mempermudah urusan kampus.
15. Teman baik saya di kampus yaitu Sondang Ezra dan Jelita Sianturi yang selalu siap diajak kemana-mana kalau lagi gabut. Terimakasih sudah menjadi teman yang blak-blakan tidak membicarakan di belakang saya lebih suka teman seperti kalian. Terimakasih juga sudah berjuang bersama semoga kita sukses ya.
16. Teman-teman Sejarah angkatan 2017 yang mau berteman dengan saya terimakasih banyak tidak sedikit dari kalian sudah banyak membantu saya ketika berkuliah dalam menghadapi kesulitan. Teman- teman kos Yona, oci terimakasih sudah mau direpotkan setiap saat saya akan merindukan kalian semua.
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ... v
LEMBAR MOTTO... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR PETA ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
GLOSARIUM ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Batasan Masalah ... 16
C. Rumusan Masalah ... 17
D. Tujuan Penelitian ... 18
E. Manfaat Penelitian ... 19
F. Landasan Teori ... 20
G. Tinjauan Pustaka ... 21
H. Metode Penelitian ... 29
I. Sistematika Penulisan ... 31
BAB II DESKRIPSI SUKU DAYAK JALAI A. Kecamatan Jalai Hulu ... 32
a. Asal usul kampung Tanjung ... 34
b. Adat istiadat pengobatan ... 37
c. Sarana dan peralatan Berayah ... 41 d. Proses Berayah atau menyembuhkan orang
xiv
Sakit ... 50
e. Mengapa orang Jalai menggunakan Balin dalam pengobatan ... 50
BAB III PANDANGAN ORANG JALAI TERHADAP BALIN PRA DAN PASCA KATOLIK MASUK KE TANJUNG A. Masuknya agama Katolik di Kalimantan... 56
a. Misi di Tanjung dan Serengkah ... 60
b. Kendala yang dihadapi para misionaris ... 62
c. Keterbukaan suku dayak dalam menerima agama Katolik ... 64
d. Perubahan yang terjadi pada Balin sebelum dan sesudah agama masuk ... 66
BAB IV PENGUKUHAN BALIN DI KAMPUNG TANJUNG A. Penyebab pengukuhan Balin tidak digelar selama 18 tahun... 75
B. Perubahan Balin Djamil sebelum dan sesudah di kukuhkan menjadi Balin ... 86
BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN ... 92
B. SARAN ... 94
DAFTAR PUSTAKA ... 96
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA ... 99
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Nama-nama Damung (Kepala Kampung) dan Kepala Bantan (Kepala Adat) dari zaman Manjing Tarah hingga
tahun 2018... 37 Tabel 2. Pandangan orang Jalai terhadap Balin Pra dan Pasca Katotik
masuk keTanjung ... 71 Tabel 3. Ritual Balin Pra dan pasca Katolik masuk ... 73
xvi TABEL PETA
Gambar 1.4 Peta Kecamatan Jalai Hulu ... 34
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.1 Tekuluq Kain ... 3
Lampiran 1.2 Tekuluq kulit kayu ... 3
Lampiran 1.3 Bembayung ... 14
Lampiran 1.5 Bagan ... 36
Lampiran 1.6 Lumpang ... 42
Lampiran 1.7 Seludang ... 43
Lampiran 1.8 Burai ... 43
Lampiran 1.9 Buluh ... 44
Lampiran 2.0 Tuak ... 45
Lampiran 2.1 Sigulang ... 46
Lampiran 2.2 Daun Sambung ... 46
Lampiran 2.3 Daun buah-buahan ... 47
Lampiran 2.4 Pialang ... 48
Lampiran 2.5 Proses Lalap/ kemasukan ... 48
Lampiran 2.6 Ketabung dan Kerincing ... 50
Lampiran 2.7 Tan A Hak beserta anaknya ... 60
Lampiran 2.8 Mgr. Pacificus Bos, O.F.M.Cap ... 61
Lampiran 2.9 Gereja Serengkah... 61
Lampiran 3.0 Sekolah Serengkah yang didirikan oleh para Misionaris ... 62
Lampiran 3.1 Gereja Tanjung ... 63
Lampiran 3.2 Balin sedang meraba pasien dengan minyak Bebatuannya ... 83
Lampiran 3.3 Para Balin Jalai di Kampung Tanjung tahun 1990-an ... 83
Lampiran 3.4 Upacara Belapas ... 84
Lampiran 3.5 Balin Belungai ... 87
Lampiran 3.6 Kindai... 89
Lampiran 3.7 Balin Djamil ... 100
Lampiran 3.8 Balin Munying ... 100
Lampiran 3.9 Datuq Setiar ... 101
xviii GLOSARIUM
Balin Orang yang memiliki keahlian khusus untuk mengobati orang sakit dan sudah dilantik.
Tekuluq Pengikat kepala laki-laki yang digunakan saat kegiatan adat.
Bembayungan Media berupa bambu yang dihiasi daun kelapa dan bunga pinang yang diletakan di tengah-tengah rumah.
Bagan Tempat peristiarahatan sementara.
Kepuhunan Malapetaka/kesialan.
Berayah upacara yang hanya bisa dilakukan oleh Balin.
Menyebayan Roh Balin yang sedang melakukan perjalanan spiritual kedunia lain.
Seludang Bunga pinang yang belum terlepas dari bungkusnya.
Burai Bunga pinang yang sudah terbuka dari bungkusnya.
Lalap Tidak sadarkan diri.
Lumpang Bambu kecil yang sudah dibentuk untuk penyimpanan Tuak.
Petalian Ayat-ayat atau syair yang dibacakan sepanjang upacara Berayah.
Tuak Minuman dari hasil permentasi beras ketan dan ragi.
Sigulang Nama jenis kayu yang digunakan dalam ritual Berayah.
Pialang nasi ketan yang dimasak dalam bambu kecil.
Kaatap Basi Menggigit ujung besi pisau atau parang.
Kindai Anyaman yang dibentuk bulat untuk tempat barang-barang yang bisa di kaitkan ke kepala.
Tekuluq Pengikat kepala yang dipakai oleh laki-laki dalam upacara adat.
Bepusak Memegang makanan yang ditawarkan oleh tuan rumah jika kita tidak ingin memakan makanan tersebut.
Tapung Tawar Beras yang ditumbuk bersama kunyit dan reramuan lainnya yang digunakan saat upacara adat dan dioleskan kepipi setiap orang yang ada di lokasi adat tersebut.
Bepimpin Pengobatan dengan meraba pasien dengan minyak bebatuan Beasilih Upacara pengobatan yang dilakukan dengan cara mengganti
si sakit dengan sesilih.
Sesilih Perlengkapan adat yang sudah dilengkapi Tentabus.
Tentabus Boneka berbentuk manusia yang terbuat dari tepung beras dan disembur dengan air sirih.
Ketabung Alat yang digunakan saat ritual Berayah dengan cara dipukul.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti hal yang sudah diketahui bahwa Kalimantan merupakan salah satu pulau yang terbesar di Indonesia dan memiliki keanekaragaman pada budayanya serta banyaknya suku-suku yang ada didalamnya. Mereka mendiami di sepanjang sungai-sungai yang ada di Kalimantan. Seperti sungai Kapuas, Mahakam, Rejang, Baram dan Barito.
Setelah itu datanglah para pendatang yaitu beberapa etnis dari luar Kalimantan seperti orang Melayu dari Sumatra. Hal ini membuat suku dayak asli terdesak dan mengakibatkan mereka pindah ke hulu sungai1. Selain orang Melayu suku lain juga datang dan menetap di daerah Kalimantan, mereka membuat penduduk asli terasingkan dan mengakibatkan mereka berpindah tempat2. Salah satu penyebab penyebaran suku-suku dayak yang ada di pulau Kalimantan dikarenakan arus migrasi dari para pendatang yang membuat mereka masuk ke pedalaman, oleh karena hal itulah suku dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadikan diri mereka sub-sub etnis tersendiri.
Tempat tinggal mereka berada di pedalaman dan mereka masih mempercayai kekuatan alam, dimana mereka suku dayak masih mempercayai dengan namanya dunia mimpi, suara burung tertentu dan masih banyak hal lain
1 J.U. Lontaan. Sejarah Hukum Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta:
Bumirestu, 1975. Hlm. 48.
2 Ibid., hlm. 48.
yang mereka percayai agar mereka mengetahui bahwa bahaya akan datang. Hal ini membuat mereka lebih berhati-hati dalam melakukan segala sesuatu.
Dalam setiap upacara yang dilakukan oleh suku dayak mereka selalu menggunakan berbagai media dalam melakukan upacara tersebut biasanya para tokoh adat menggunakan darah hewan dan biasanya adalah darah ayam, telur ayam kampung, beras ketan dan beberapa media yang memang dianggap sakral.
Dalam melaksanakan upacara adat mereka juga biasanya menggunakan pakaian adat yang terbuat dari katun dan dihiasi manik-manik warna-warni.
Ketika menjalankan sebuah upacara adat pasti akan banyak dari mereka menggunakan pakaian adatnya khususnya Tekuluq3.
Gambar 1.1 Tekuluq kain Gambar 1.2 Tekuluq kulit kayu
Sumber: koleksi pribadi Allex Wilis
Menurut J.U. Lontaan,1975 dalam bukunya Hukum adat Istiadat Kalimantan Barat terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil yang menyebar
3 Tekuluq ini merupakan ikat kepala bisa terbuat dari kulit kayu atau pun kain yang memang harus digunakan ketika mereka melakukan sebuah adat terkhusus untuk laki-laki dan tokoh-tokoh adat serta semua orang yang terlibat dalam adat tersebut.
diseluruh Kalimantan. Enam suku besar yakni : Ngaju, Apu Kayan, Iban.
Klemantan, Ot Danum dan Punan. 6 suku besar inilah kemudian masing-masing dari mereka memiliki sub-sub suku kecil yang terbagi berdasarkan daerah- daerahnya masing-masing yang memiliki ruang lingkup tertentu.
J.U. Lontaan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Hukum Adat Istiadat Kalimantan Barat juga menjelaskan
Rumpun-rumpun induk terbagi menjadi4:
• Rumpun Ngaju memiliki 4 anak suku dan 9 suku kekeluargaan
• Rumpun Apu Kayan memiliki anak suku dan 60 suku kekeluagaan
• Rumpun Iban memiliki 11 anak suku
• Rumpun Klemantan atau suku Darat memiliki 2 anak suku dan 87 suku kekeluargaan. Keterangan suku Klemantan memiliki 40 anak suku dan suku Ketungau memiliki40 anak suku
• Rumpun Murut memiliki 3 anak suku dan 40 suku kekeluargaan
• Rumpun Ot Danum terbagi menjadi 41 suku kekeluargaan
Masih banyak sub suku kecil yang tidak menjadi topik penelitian para peneliti yaitu yang akan saya bahas dalam proposal yaitu dayak Jalai. Sebuah sub suku yang kecil yang letaknya sangat terpencil. J.U.Lontaan dalam bukunya menjelaskan bahwa suku Dayak Jalai ini termasuk dalam ruang lingkup ‘’Dayak
4 Ibid., hlm. 48.
Ketungau’’ yang dimana dayak Ketungau sendiri merupakan bagian dari salah satu 6 suku induk yaitu Klemantan5.
J.U. Lontaan cukup banyak memaparkan kerajaan-kerajaan yang ada di Ketapang namun penjelasan dalam tulisannya hanya sampai di Tumbang Titi yaitu dayak Pesaguan sedangkan dayak Jalai atau orang Jelai yang hanya berjarak 30 km dari Tumbang Titi tidak terkena pengamatan Lontaan.
J.U. Lontaan 6 dalam bukunya yang berjudul Sejarah Hukum Adat Istiadat Kalimantan Barat menjelaskan bahwa dayak Jalai sebagai sub suku dayak Ketungau dimana dayak Ketungau itu sendiri masuk ke suku dayak Klemantan/
Darat. Dalam analisisnya mengenai dayak Jalai menyebut beberapa penulis sebagai dasar analisinya yaitu J.Malinckrodt, Bauman, Hose, Evans Among, Spam T.AG., Niuwenhuis,Von De Wel7.
Letak geografis dayak Jalai berdekatan dengan Kalimantan Tengah dan ada beberapa kampung memang dekat dengan Kalimantan Tengah dan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi suku dayak Jalai. Semakin dekat jaraknya semakin besar pengaruhnya baik segi bahasa serta adat istiadat dalam upacara tertentu.
Dayak Jalai merupakan sub suku yang kecil dan umurnya tidak seperti sub suku dayak yang lainnya, orang-orang Jalai jarang terekspose ke luar maka dari itu masih banyak orang yang belum mengenal dayak Jalai atau orang Jelai.
5 Ibid., hlm. 57.
6 Ibid., hlm. 55-58.
7 Jhon Bamba. ”Dayak Jalai di persimpangan Jalan”. Pontianak: Institut Dayakologi, 2003. Hlm 11.
Dayak Jalai adalah sekompok masyarakat yang mendiami sepanjang sungai Jalai yang ada di Kecamatan Jelai Hulu.
Jarang tereksposenya dayak Jalai ini diakibatkan lokasi mereka yang masih di pedalaman. Sehingga untuk sampai ke perkampungan suku dayak Jalai memerlukan akses perjalanan yang cukup lama. Lokasi mereka yang sangat terpencil juga mengakibatkan ketertinggalan pada masyarakatnya.
Dayak Jalai tidak mengenal strata sosial dan tidak terlibat dalam berbagai konflik. Dayak Jalai ini relatif kecil sehingga jarang menjadi objek penelitian.
Banyak orang-orang dari luar Kabupaten Ketapang tidak mengenal dayak Jalai.
Orang Jalai percaya dengan adanya dunia manusia, hantu dan sebayan tujuh (dunia surgawi). Sehingga berbagai kegiatan acara atau tradisi yang dilakukan menggunakan adat sebagai perantara menghormati roh-roh leluhur ataupun orang yang sudah meninggal supaya tidak mengganggu. Upacara dilakukan agar manusia dijauhkan dari marabahaya yang berisi doa dan permohonan melalui ritual adat.
Suku dayak Jalai yang tinggal di sepanjang sungai Jelai memiliki lebih dari 10 kampung-kampung kecil yang sangat berdekatan, namun budaya dan bahasa atau adat mereka memiliki perbedaan baik dari segi bahasa atau tata cara mereka melakukan upacara adat. Setiap kampung memiliki bahasanya sendiri dan bisa dibedakan dengan jelas dari logat bicaranya8.
8 Bahasa pada dayak Jalai sangatlah banyak dimana penggunaan kata masing- masing kampung memiliki ciri khas sendiri sehingga jika mereka berbicara bisa diketahui mereka dari kampung mana.
Dayak Jalai terletak di pedalaman Kalimantan Barat dari pusat Kota Ketapang memerlukan 5-6 jam untuk ke wilayah dayak Jalai. Dalam pembahasan ini akan membahas ”Balin Jalai di kampung Tanjung 1970-2018” yang dimana kampung Tanjung sendiri merupakan bagian wilayah dayak Jalai. Dimana seperti yang kita lihat pada suku dayak yang lainnya pada suku dayak Jalai juga memiliki beragam kebudayaan yang unik yang mereka lestarikan sejak dahulu dan selalu mereka jaga hingga sekarang.
Setiap suku dayak pasti memiliki orang-orang yang dituakan yang memiliki keahlian spiritual khusus yang biasa mereka gunakan dalam memimpin sebuah ritual adat, contohnya Damung Adat atau biasa disebut kepala adat. Orang- orang yang dituakan yang biasa memimpin upacara adat berbeda dengan Balin.
Kepala adat cenderung memiliki pengetahuan mengenai hukum-hukum serta aturan adat yang ada di kampung tersebut sedangkan Balin lebih cenderung ke bagian memiliki keahlian spiritual yang khusus, namun tidak menutup kemungkinan orang yang menjadi Balin juga harus mengetahui berbagai aturan serta hukum adat yang ada. Tugas Balin menyembuhkan orang sakit dengan melakukan ritual upacara Berayah. Upacara yang dilakukan Balin untuk menyembuhkan orang sakit banyak mengandung simbol-simbol dimana hanya mereka yang mengerti arti dan tujuan simbol-simbol tersebut mulai dari pakaian yang mereka gunakan, sesajian serta sarana dan peralatan yang digunakan saat melakukan upacara Berayah9.
9 Wahyu Damayanti. “Leksikon Adat Istiadat Pengobatan Masyarakat Dayak Jalai Kabupaten Ketapang”. Dalam Jurnal Kajian Etnolinguistik. 14, no. 2. Desember
Upacara Balin ini mengandung unsur kebudayaan yaitu nilai moral, nilai religius dan nilai keindahan serta nilai sosial yang mempengaruhi kehidupan masyarakat khususnya dalam masyarakat dayak Jalai di kampung Tanjung.
Suatu kebudayaan akan mencerminkan kehidupan suatu masyarakat atau suku. Terlebih dengan suku dayak yang memang sangat memegang teguh kebudayaan mereka dimana mereka hidup serta besar dengan kebudayaan yang sudah menjadi darah daging bagi mereka dimana kebudayaaan tersesebutlah yang menjadi sumber kehidupan bagi mereka yang berada di pedalaman terkhusus dayak Jalai.
Orang yang menjadi Balin harus melalui upacara pengukuhan Balin. Hal inipun tidak dilakukan dengan sembarangan terutama memerlukan biaya yang tidak sedikit dan kesiapan bagi calon Balin itu sendiri maka dari itu pengukuhan Balin yang ada di kampung Tanjung pada tahun 2018 adalah upacara pengukuhan Balin yang diselenggarakan setelah 18 tahun tidak digelar dimana setelah dilakukannya pada tahun 2000 dan tahun 2018 baru digelar kembali.
Hal ini menjadi salah satu poin yang ingin dibahas dalam upacara pengukuhan Balin yang ada di kampung Tanjung pada dimana terjadi jarak yang begitu jauh dalam pelaksanaan upacara pengukuhan Balin, apa yang menjadi penyebab jarak yang sangat jauh ini terjadi. Nama lain dari upacara Balin ini adalah Kaharingan dimana Kaharingan ini merupakan kepercayaan tradisional pada suku dayak yang dianut serta diyakini sebelum datangnya agama lain di
2020. Hlm 154.
https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/tuahtalino/article/download/27 84/1352. Diunduh 11 Februari 2021. Pukul 23.22 WIB.
Kalimantan namun sekarang Kaharingan sudah masuk dalam budaya Hindu yang dikategorikan dalam agama Hindu10.
Budaya Balin sudah lama diemban dengan baik di kampung Tanjung dan kampung lainnya pada suku dayak Jalai dan hingga sekarang masih mereka jaga dengan baik. Balin yang dikukuhkan pada tahun 2018 berusia lebih dari 50 tahun yang memang memiliki keahlian dalam bidang adat dan budaya dan juga orang yang dituakan dikampung Tanjung karena keterlibatannya dalam adat istiadat membuat ia dihormati serta disegani di kampung Tanjung.
Balin memiliki peran yang penting11. Disetiap daerah pada suku dayak Balin memiliki peran yang sama namun biasanya hanya penyebutan nama yang berbeda contohnya Balin, Balin, dukun kampung, Shaman dan orang pintar.
Keterlibatan Balin dalam menyembuhkan orang sakit dari dulu sampai sekarang masih dipertahankan untuk menjaga warisan nenek moyang.
Balin merupakan orang atau tokoh adat yang memiliki keahlian spiritual khusus dalam menyembuhkan orang sakit dimana seorang Balin bisa melihat dunia supranatural serta berkomunikasi dengan alam gaib untuk membantu menyelesaikan masalah dimasyarakat seperti penyakit dan ilmu hitam. Penelitian yang ingin dibahas adalah mengenai beberapa faktor penyebab mengapa
10 Harianto. ”Basir Belian”, Skripsi: Yogyakarta:Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2018. Hlm.785.
11 Pada masyarakat suku Dayak pedalaman sitem pengobatan dan kesehatan masyarakat hanya bisa mengandalkan Balin atau dukun kampung dikarenakan keterbatasan mereka yang berada di pedalaman yang jauh dari pusat kota serta pelayanan kesehatan. Sehingga seorang Balin memang dibutuhkan untuk membantu masyarakat yang sedang sakit.
pengukuhan Balin yang digelar pada tahun 2000 baru digelar kembali pada tahun2018 apakah penyebab yang memungkinkan tidak dilaksanakannya pengukuhan Balin di bawah tahun 2000 tersebut. Selain itu penelitian ini juga akan membahas mengenai peran Balin ketika sebelum agama masuk dan setelah agama masuk, yang sudah pasti akan mengalami perubahan yang cukup signifikan yang mempengaruhi peran Balin. Penelitian ini juga sedikit banyak akan membahas tata cara Balin dalam menyembuhkan orang sakit yaitu dengan upacara Berayah dari hari pertama hingga hari ke tujuh serta tata ara pengukuhan seorang Balin.
Dalam upacara pengukuhan Balin, malam pertama merupakan malam persiapan hingga hari ke tujuh merupakan malam terakhir pengukuhan secara resmi yang dilakukan Balin dari beberapa kampung terdekat. Dalam upacara adat baik pengukuhan Balin maupun upacara adat lainnya,masyarakat juga tidak bisa datang dan pergi sesuka hati mereka dimana ada suatu ketentuan yang membuat mereka harus bertahan di tempat upacara tersebut.
Biasanya masyarakat datang dan menunggu tapung tawar, tapung tawar adalah beras putih ditumbuk bersama kunyit dan beberapa urat kayu atau ramuan yang sudah disiapkan oleh ketua adat atau tuan rumah yang mengadakan acara lalu dioleskan ke leher atau pipi orang-orang yang berada di dalam upacara tersebut. Setelah mendapatkan tapung tawar masyarakat sudah bisa pulang atau meninggalkan tempat tersebut. Jika tidak demikian orang yang sudah memasuki
atau mengikuti upacara adat pulang tanpa bepusaq12 tapung tawar akan mengalami malapetaka biasa orang Jalai menyebutnya kepuhunan13.
Upacara pengukuhan Balin yang akan dilakukan seorang yang akan menjadi calon Balin beserta istri harus berpuasa. Mereka hanya makan ratik dan hanya minum air tuak14. Ratik inipun biasanya memiliki jumlah yang tertentu biasanya hanya 7 butir ratik yang harus dimakan oleh calon Balin dan meminum tuak, dan ada masanya mereka memakan lamang ketan15.
Hal ini yang menyebabkan pengukuhan Balin memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pengobatan yang dilakukan oleh Balin biasa disebut dengan Berayah16. Upacara Berayah inilah yang melibatkan masyarakat ramai, pengobatan orang sakit yang dilakukan oleh Balin bisa berhasil atau tidak tergantung dari penyakit dari orang tersebut. Jika Berayah pertama gagal ataupun
12 Bepusaq adalah menyentuh baik makanan ataupun segala sesuatu dalam upacara adat.
13 Kepuhunan ada beberapa jenis yaitu Kepuhunan Makanan dan Kepuhunan Bangkai/Mayat. Kepuhunan Makanan terjadi karena seseorang tidak menyentuh makanan yang sudah ditawarkan seseorang baik dirumah maupun pada acara adat. Pada upacara adat ada beberapa makanan atau perlengkapan upacara adat yang memang harus disentuh oleh pengunjung atau orang yang mengikuti adat tersebut. Sedangkan kepuhunan bangkai terjadi ketika seseorang yang datang melayat tidak menyentuh orang yang sudah meninggal tersebut. Sehingga bisa terjadi kemalangan pada seseorang yang tidak mengikuti aturan tersebut.
14 Ratik adalah beras ketan.
15 Lamang ketan adalah beras ketan yang dimasak dalam bambu muda hingga masak.
16 Berayah adalah upacara yang dilakukan oeh Balin dalam menyembuhkan orang sakit, orang kampung Tanjung menyembutnya “Berayah Belapas Belayang”
tidak berhasil bisa melakukan pengobatan yang berikunya atau Berayah yang kedua kalinya dilanjutkan jika ketika dalam berayah pertama kali sudah sembuh itu adalah hal yang lebih baik dan biasanya orang yang sakit memberikan imbalan berupa Tempayan atau Tajau.
Balin bukan hanya sekedar menjadi Balin setelah proses pengukuhan lalu bisa lepas tangan, orang yang akan dikukuhkan menjadi Balin memiliki mantra sebagai sumpah seorang Balin/Balin yang membuat tanggung jawab mereka semakin besar mantra sumpah Balin dalam bahasa dayak Jalai yaitu:
Tihang balit labat dapur besepucung tihang pambang atap anggai belambang tanah pagat urat alap urang pimpin balin silai ciduk ubat tambak tayur sambur penawar penawar againyak landas tambak agai bisaq kunyit talam parap17.
(Tentambaqnyak bisaq ubatnyaq mengasiq seburuq damung agiq dipakai urang setabar tentabaq Balin dicari urang)18.
Terjemahannya: Obat yang tepat bisa membuat pasiennya sembuh.
Seburuk Damung masih dipakai orang setawar-tawarnya pengobatan Balin masih dicari orang.
Itulah sumpah Balin ketika mereka melanggar sumpah tersebut mereka secara pribadi atau keluarga akan mendapatkan kesialan atau musibah.
17 Mantra yang digunakan ini merupakan bahasa asli masyarakat dayak Jalai yang ada di desa Tanjung, yang dimana mantra ini merupakan mantra yang digunakan untuk menggambarkan seorang Belian dalam mengobati orang sakit. Mantra ini memang susah dipahami sebagian orang. Mantra di atas memiliki arti bahwa dalam menangani pasiennya seorang Belian akan berusaha dengan keras mencari obat/ramuannya agar obatnya bisa manjur terhadap penyakit yang diderita pasiennya dengan bantuan roh nenek moyang, namun bukan berarti semua penyakit bisa disembuhkan, karena kematian merupakan takdir yang harus dihadapi.
18 Wawancara dengan Belian Djamil 27 Oktober 2020 di desa Tanjung Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang.
Upacara Berayah pengukuhan Balin dilakukan selama 7 hari 7 malam.
Selama itu pula masyarakat atau ibu-ibu menyiapkan makanan seperti babi, ayam dan juga tuak arak yang disediakan oleh tuan rumah dan juga sumbangan dari masyarakat. Tuak dan arak adalah minuman yang berperan dalam setiap upacara adat suku dayak Jalai.
Upacara pengukuhan Balin ini juga tidak terlepas dari berbagai media adat yang digunakan di dalamnya seperti tapung tawar, bunga pinang19. Media ini selalu digunakan dalam upacara adat yang dibuat oleh damung adat, tapung tawar ini kemudian dibagikan kepada seluruh tokoh adat serta masyarakat yang hadir yang dinamakan beselapus. Hal ini dilakukan agar para masyarakat yang sudah bergabung dalam ritual adat jika sudah kembali kerumah terhindar dari marabahaya atau kesialan baik dalam perjalanan ataupun sudah dirumah.
Upacara yang dilakukan baik Berayah 20 maupun upacara pengukuhan Balin ada satu media yang selalu digunakan yaitu Bembayungan21. Bembayungan berguna menjadi sebuah media untuk dikelilingi Balin dalam ritual Berayah menyembuhkan orang sakit maupun upacara pengukuhan Balin.
19 Tepung beras yang dicampur kunyit biasanya akan dioleskan dipipi setiap orang yang ada di upacara tersebut dan setiap orang harus memakai itu yang sudah disiapkan damung adatnya.
20 Menyembuhkan orang sakit.
21 Suatu media yang diletakkan ditengah-tengah rumah berupa tiang bambu.
Gambar 1.3 Gambar Bembayungan yang berada di depan Balin Patul
Sumber : Koleksi pribadi Alex Willis
Bembayungan ini merupakan tiang bambu yang berukuran cukup besar dengan ketinggian lebih dari kepala orang dewasa yang diberi janur yaitu daun kelapa muda serta bunga pinang. Janur yang dibentuk sedemikian rupa serta bunga pinang yang menjulang di atasnya. Media ini digunakan untuk meletakan sesaji seperti beras putih, beras kuning yang diletakan diatas piring putih, telur ayam serta lamang ketan serta media yang lainnya.
Guna sesajian adalah sebagai media persembahan mereka untuk roh leluhur juga sarana agar bisa membantu Balin masuk dalam perjalanan orang yang sudah mati. Semua sesaji diletakkan di Bembayungan, Bembayungan merupakan media yang sangat penting dimana tempat menaruh sesaji juga tempat atau media
turunnya kekuatan gaib untuk membantu Balin dalam pertolongan dan berkomunikasi dengan mereka yang sudah meninggal.
Sudah kita ketahui bahwa suku dayak dari dulu hingga sekarang masih mempercayai ilmu gaib yang datang dari roh leluhur serta yang datang dari kekuatan alam, tidak bisa dipungkiri adat istiadat mereka suku dayak tidak terlepas dengan media yang ada dialam mereka itu sendiri yang mereka turunkan kepada anak cucu mereka hingga sekarang .
Seperti kita ketahui bahwa suku dayak asli yang menikah dengan orang Melayu. Mereka menyebut diri mereka dayak Melayu walaupun berbeda etnis dan agama tidak bisa melupakan bahwa asal-usul dari mana. Dayak Melayu memang mengklaim diri mereka sebagai orang dayak namun mereka sedikit berbeda dengan yang asli orang dayak22.
Hal ini terjadi karena orang dayak yang mempercayai berbagai ilmu dan adat istiadat yang melibatkan berbagai media yang digunakan untuk upacara adat, serta mempercayai Balin dan sebagainya. Separuh dari mereka tidak mengikuti hal-hal yang seperti itu karena mereka hanya melibatkan diri mereka sebagai orang dayak namun tidak dengan adat- istiadatnya karena dalam ajaran mereka yang dilarang akan hal yang seperti itu.
Namun dengan demikian karena mereka hidup diruang lingkup orang beradat mereka menghargai apa yang dilakukan saudara mereka yang merupakan suku dayak asli untuk melakukan berbagai kegiatan serta ritual adat karena
22 Hamid Darmadi,“ Dayak asal-usul Penyebarannya di Bumi Borneo”, Skripsi : Pontianak:IKIP PGRI Pontianak,2016 . Hlm 327.
memang itu budaya mereka yang sudah ada sejak dulu. Menurut orang dayak orang beradat sudah pasti beragama namun orang beragama belum tentu beradat.
Berbagai kebudayaan yang ada di suku dayak khususnya Berayah yang dilakukan oleh Balin terlihat aneh ketika orang dari luar Kalimantan melihatnya.
Tidak sedikit orang luar pulau Kalimantan takut dengan orang-orang Kalimantan dimana mereka menyebut suku dayak pemakan manusia, pemotong kepala dan mereka mempercayai jika orang luar masuk ke Kalimantan tidak bisa keluar lagi dari pulau Kalimantan.
Upacara Balin yang diadakan di kampung Tanjung tahun 2018 didukung oleh pakar budaya yaitu Jhon Bamba yang memang ketertarikannya dengan budaya dayak dimana juga seorang dayak yang berasal dari kampung Tanjung.
Ketertarikannya itulah yang membuat terjadinya upacara adat pengukuhan Balin pada tahun 2018 yang sudah tidak digelar setelah 18 tahun lamanya.
Hal inilah yang akan dibahas mengenai upacara Berayah untuk menyembuhkan orang sakit yang dilakukan oleh Balin serta perubahan-perubahan yang dialami oleh Balin dari sebelum hingga setelah masuknya agama yang sangat memberi pengaruh pada adat upacara pengukuhan Balin tersebut.
Setiap tahun pasti akan mengalami perubahan dikarenakan perkembangan zaman, perubahan ini pula juga merubah pola pikir masyarakat suatu daerah terutama budaya adat istiadat. Seperti pengukuhan Balin yang dilakukan pada tahun 2018 di Kampung Tanjung yang tidak dilakukan selama 18 tahun yang berarti sebelum itu dilakukan pada tahun 2000 apa yang menyebabkan jaraknya yang begitu jauh.
B. Pembatasan Masalah
Dalam proposal yang akan diajukan ini dimana sebagai syarat untuk melanjutkan skripsi. Pembahasan yang akan diambil secara umum adalah Upacara Berayah yang dilakukan Balin serta proses pengobatan yang dilakukan Balin dengan ritual Berayah yang ada di Kalimantan dan terfokus dengan Upacara Balin yang ada pada suku Dayak Jalai yang ada di kampung Tanjung. Dimana suku inipun belum begitu dikenal banyak orang sehingga membuat ketertarikan tersendiri untuk mengambil tema ini.
Hal pertama ingin mengungkapkan sedikit bagaimana upacara pengukuhan seorang Balin pada suku dayak Jalai yang dimana seperti sudah dibahas di atas jika melakukan pengukuhan Balin memerlukan biaya yang tidak sedikit dimana memerlukan uang serta tenaga yang tidak sedikit oleh karena itulah sebagai wakil anak daerah khususnya pada suku dayak Jalai ingin mengembangkan budaya pada upacara Balin agar bisa dikenal orang.
Kedua adalah sebagai suku asli dayak Jalai merasa sedih karena tidak banyak orang yang mengenal dayak Jalai oleh karena itu dengan menggunakan skripsi ini bisa menceritakan upacara pengukuhan Balin serta sistem kemasyarakatan yang ada pada dayak Jalai yang memang belum terlalu dikenal oleh orang. Dengan membahas upacara Balin dan ritual Berayah yang dilakukan Balin untuk menyembuhkan orang sakit otomatis juga membahas suku yang ada diruang lingkup tersebut yaitu dayak Jalai23.
23 Elisabet Lilis. Dayak Jalai. Pontianak: Institut Dayakologi, 2008. Hlm 12.
Selain membahas upacara pengukuhannya yang dilakukan selama 7 hari 7 malam juga akan banyak membahas keadaan dayak Jalai yang belum terungkap dimana masyarakat serta sejarah pada dayak Jalai akan dibahas dahulu agar bisa memberikan gambaran kepada dosen ataupun teman-teman sebelum memasuki ke poin intinya yaitu pengukuhan Balin dan ritual Berayah dan perubahan yang terjadi sebelum dan setelah agama masuk.
Periode yang diambil pada tahun 1970 sampai tahun 2018 dikarenakan upacara pengukuhan Balin yang dilakukan pada tahun 2018 yang lalu merupakan upacara Balin yang 18 tahun lamanya tidak digelar. Apa yang menyebabkan 18 tahun tidak digelar dengan hal ini juga ingin melihat bagaimana perubahan yang terjadi atau apa perubahan yang nampak pada upacara tahun 2000 hingga 2018 karena jarak yang lumayan lama pasti akan ada perubahan dalam upacara tersebut dimana perbedaan tahun 2000 dengan tahun 2018 dan menganalisa sistem kemasyarakatan dari tahun 1970 pada suku dayak Jalai.
C. Rumusan masalah
a. Mengapa orang Dayak Jalai mempergunakan Balin dalam pengobatan?
b. Bagaimana perubahan yang terjadi pada Balin setelah agama memasuki suku Dayak Jalai?
c. Apa saja perubahan yang terjadi pada pengukuhan Balin pada tahun 2000 hingga tahun 2018?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk memperjelas mengenai pandangan terhadap suku dayak khususnya mengenai suku dayak Jalai agar mereka tidak hanya menerawang tanpa tau kebenarannya seperti apa. Seperti pada umumnya suatu penelitian bertujuan membentuk tulisan yang akan dibahas untuk menemukan titik terang . Tujuan membuat atau melakukan penelitian ini agar bisa memperkenalkan suku dayak Jalai didepan khalayak ramai.
Tujuan utamanya adalah sebuah penelitian pasti akan menghasilkan suatu tulisan baru yang menjelaskan mengenai suatu suku dengan hal ini pula tujuan penelitian ini agar mencari sebuah wawasan baru atau pngetahuan untuk sendiri maupun orang yang akan membacanya mengenai berbagai hal tentang kebudayaan khususnya adalah mengenai suku dayak Jalai dengan upacara pengukuhan Balin dimana pengetahuan baru adat istiadat di daerah pedalaman kabupaten Ketapang. Dimana penelitian ini juga akan menjadi data bagi suku dayak Jalai sendiri.
Perubahan zaman dan tumbuhnya generasi-genarsi baru menghasilkan banyak perubahan karena majunya teknologi yang menyesuaikan dengan zaman sehingga banyak anak muda tidak begitu memperhatikan budayanya sendiri.
Penelitian ini bisa menjadi sumber tertulis bagi suku dayak Jalai dimana suku dayak Jalai sendiri dalam melestarikan budayanya hanya secara lisan bukan dengan tulisan.
Selain perubahan zaman dan teknologi budaya pada suku dayak Jalai juga sedikit banyak dipengaruhi oleh masuknya agama. Dengan mengikuti perjalanan
budaya pada suku dayak Jalai agamapun diterima pada kalangan masyarakat dan setiap kegiatan kebudayaan ataupun kegiatan penyambutan adat dan agama selalu dilibatkan dimana rasa saling menghormati. Dalam setiap acara adat akan didahulukan sebagai pembuka acara setelah itu dilanjutkan keagamaan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dibuat agar suku dayak Jalai sendiri bisa mengetahui bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi pada suku dayak Jalai pada tahun- tahun yang lalu yang memang tidak ada data yang bisa diungkap karena keterbatasan suku dayak Jalai sendiri yang masih tertinggal sehingga dengan penelitian ini bisa mengetahui perubahan-perubahannya.
Penelitian ini dibuat agar mengetahui mengapa suku dayak Jalai melakukan Berayah dalam menyembuhkan orang sakit dari zaman dahulu hingga masih dilakukan hingga sekarang sedangkan sekarang sudah zaman modern dan rumah sakit dimana-mana mengapa masyarakat masih melakukan hal tersebut.
Penelitian ini diharapkan memberikan informasi yang cukup kepada pembaca dalam menelaah perkembangan suku dayak Jalai dari zaman ke zaman dari kebudayaan yang mereka pertahankan hingga sekarang yaitu menjadi seorang Balin.
Tulisan-tulisan yang berkaitan dengan dayak Jalai diharapkan bisa dijadikan sumber tertulis. Hal ini juga dilakukan agar melestarikan budaya, biasanya budaya pada dayak Jalai diajarkan secara lisan atau keikutsertaan generasi muda sehingga bisa melihat langsung.
Pada dasarnya yang utama adalah keikutsertaan dan didukung dengan sumber tulisan agar budaya tidak hilang disuatu generasi karena ketidaktauan dalam adat istiadat karena tidak pernah mengikuti kegiatan orang beradat yang sering dilakukan dalam lingkungan dayak Jalai sendiri. Maka dari itulah begitu pentingnya peran masyarakat dan generasi muda dalam melestarikan budaya agar budaya tidak punah ditelan zaman.
F. Landasan Teori
Dalam penelitian ini saya menggunakan teori kesehatan dan konsep pengobatan tradisional yang dimana dalam topik penelitian ini adalah proses penyembuhan orang sakit secara tradisional yang merupakan warisan turun temurun dikarenakan kurangnya fasilitas seperti rumah sakit dan sistem perawatan yang sangat kurang memadai. Dalam topik penelitian yang diambil adalah suku dayak Jalai dimana suku inipun sangat terpencil yang berada di pedalaman Kalimantan Barat yaitu di Kabupaten Ketapang. Oleh karena keterbatasan itulah masyarakat melakukan pengobatan secara tradisonal dengan menggunakan ramuan dan kayu-kayuan yang mereka dapatkan dari alam.
Balin adalah seorang yang memiliki pengetahuan khusus menyembuhkan orang sakit dan sudah dikukuhkan sebagai Balin yang sah yang biasa menyembuhkan orang sakit dengan menggunakan ramuan alam yang Balin cari.
Balin akan mengetahui penyakit seseorang dengan ritual Berayah. Ritual Berayah ini dilakukan jika pasien atau orang yang sedang sakit, sakitnya sudah parah dan Berayah juga dilakukan dengan persetujuan dua belah pihak. Karena ritual Berayah ini harus memerlukan berbagai persiapan yang tidak sedikit seperti
mengumpulkan beberapa Balin. Seorang Balin memiliki hukumnya sendiri dimana tidak boleh memberitahu penyakit pasiennya sebelum mendapatkan obatnya dalam kata lain tidak ingin membuat pasiennya ketakutan.
G. Tinjauan Pustaka
Berapa kajian yang membahas mengenai Balin baik skripsi maupun yang sudah dibukukan. Buku karya J.U.Lontaan yang berjudul “Sejarah Hukum Adat dan adat Istiadat Kalimantan Barat”. Di dalam buku ini membahas mengenai berbagai etnis yang ada di Kalimantan Barat dimana yang di awal dalam buku ini menjelaskan tentang penjelasan mengenai pulau Kalimantan dan asal-usul penduduk asli yang tinggal di sepanjang aliran sungai Kapuas dan kemudian pindah ke hulu sungai karena berbagai desakan dari suku pendatang.
J.U.Lontaan dalam bukunya menjelaskan adanya 6 suku besar yang tersebar dan memiliki sub serta anak sukunya masing-masing di mana dalam buku ini bisa mengetahui bahwa suku dayak Jalai merupakan bagian dari salah satu suku besar yaitu Klemantan dan Klemantan sendiri memiliki beberapa anak suku salah satunya suku dayak “Ketungau”.
Dayak Ketungau ini memiliki beberapa anak suku lagi salah satunya adalah suku dayak Jalai yang merupakan sub suku yang kecil yang luput dari penelian J.U.Lontaan karena penelitiannya hanya sampai di Tumbang Titi yaitu dayak Pesaguan. Tulisannya yang membahas dayak Jalai yang menjadi bagian dari dayak Ketungau merupakan hasil analisis dari beberapa peneliti. Dalam hal ini tulisan J.U.Lontaan merupakan buku yang sangat penting dimana mengungkap
suku dayak tertentu karena seperti kita ketahui bahwa suku dayak yang ada di Kalimantan Barat sangat banyak.
Buku karya Elisabet yang berjudul “Dayak Jalai”. Dalam buku ini membahas bagaimana kehidupan pada suku dayak Jalai yang ada di Kabupaten Ketapang. Buku yang diterbitkan dari hasil turun langsung ke daerah-daerah suku dayak Jalai yang masih di pedalaman buku ini dibuat agar bisa mengembangkan eksistensi dari masyarakat dayak Jalai sendiri dalam setiap kegiatan mereka yang selalu melakukan kegiatan dengan berbagai adat istiadat yang ada pada dayak Jalai.
Dalam buku dayak Jalai ini menjelaskan bagaimana berbagai aspek kehidupan masyarakat pada dayak Jalai, ada satu buku yang ditulis oleh Jhon Bamba yang memang memiliki kelengkapan yang lebih detail mengenai suku dayak Jalai namun buku tersebut sudah tidak diperjual belikan sehingga harus melakukan penelitian ke pontianak di Institut Dayaklogi24.
Skripsi dari Hamid Darmadi yang berjudul ”Dayak dan Asal-usul Penyebarannya di Bumi Borneo”. Dalam skripsi ini juga membahas penyebaran suku-suku yang ada di Kalimantan. Dalam skripsi ini juga menjelaskan dimana dayak yang beragama Islam walaupun mereka Islam mereka tetap mengakui etnis mereka sebagai orang Dayak. Pada skripsi ini membahas agama kaharingan
24 Tulisan dari seorang pakar budaya yaitu Jhon Bamba yang kebetulan sempat hidup lama di kampung Tanjung dayak Jalai oleh karena itulah ia membuat buku mengenai dayak Jalai yang didalamnya berisi berbagai aspek kehidupan dayak Jalai dalam mempertahan adat serta budaya juga mempertahankan hidup mereka.
Kalimantan Tengah yag memang sudah terlahir sebelum mereka mengenal agama.
Dayak yang beragama Islam tersebut menyebut dirinya sebagai Dayak Muslim.
Dalam skripsinya juga membahas berbagai kepercayaan di Kalimantan akan tempat – tempat tertentu seperti batu, pepohonan atau tempat-tempat yang mereka percaya memiliki kekuatan gaib yang bisa membantu mereka melindungi mereka dari marabahaya dan masih memiliki penguasa tertinggi selain Tuhan seperti penguasa tanah, air dan daratan.
Skripsi dari Harianto yang berjudul “Basir Balin” Dalam skripsi tersebut juga membahas upacara Berayah yang dilakukan Balin untuk mengobati berbagai orang sakit yang ada di dayak Jalai yang letaknya sudah berbatasan dengan Kalimantan Tengah. Skripsi yang ditulis adalah Basir Balin di mana arti Basir itu sendiri adalah laki-laki jadi basir Balin memiliki arti yaitu Balin lakik-laki di mana ada juga Balin perempuan. Balian ini sendiri ketika melakukan upacara Berayah ada saat dimana melakukan tarian yang menjadi ciri khas mereka ketika Berayah di mana hanya dilakukan ketika Berayah.
Dalam skripsi Harianto inilah ia membahas mengenai tarian yang dilakukan oleh Balin tersebut dimana ketika roh leluhur masuk melalui Bembayungan25. Balinpun mulai menari sesuai dengan irama alunan ketabung yang dibunyikan oleh Balin lainnya atau tokoh masyarakat yang ikut serta dalam ritual Berayah tersebut.
25 Media berbahan dasar bambu yang ditengah-tengahnya dihiasi nyiur muda atau daun kelapa muda.
Tarian khusus untuk pemujaan leluhur dan mengelilingi Bembayungan dengan membunyikan kerincing dan giring yang dipakai. Hal tersebut supaya membuat atau memancing roh lelulur masuk dan memberikan petunjuk atau jalan dalam menemukan obat untuk orang sakit trsebut
Skripsi Harianto membahas mengenai upacara Berayah dimana memusatkan penelitian kepada tarian yang dilakukan oleh Balin sedangkan yang akan ditulis dalam penelitian ini akan mencakup semuanya yaitu upacara pengukuhan Balin serta upacara Berayah yang dilakukan oleh Balin.
Buku Tjilik Riwut yang berjudul “Membangun alam dan kebudayaan”.
Dimana dalam buku ini menjelaskan adanya kepercayaan kaharingan yang sering suku dayak lakukan dimana kepercayaan kaharingan merupakan kepercayaan yang memang sudah lama ada sebelum mereka hadir atau lahir yang merupakan kepercayaan tradisional suku dayak yang mereka anut atau yakini oleh suku dayak ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.
Dalam tulisan ini akan ada perbandingan upacara Berayah dan sistem kemasyarakatan yang dilakukan oleh suku dayak Jalai sekitar tahun 1975-an dengan zaman sekarang dimana agama sendiri sudah masuk dan sangat berpengaruh pada mereka dimana pada zaman dulu mereka yang belum memeluk agama sekarang sudah memeluk agama pasti akan ada perbedaan yang sangat menonjol pada sisi ini.
Buku M.C.Schadee yang berjudul “Kepercayaan suku dayak di Tanah Landak dan Tayan’’. Dalam buku ini membahas kepercayaan suku Kalimantan yang mempunyai agama tertentu yang dirasakan ketika roh-roh tertentu dipanggil
oleh Balin dimana dalam buku ini membahas peran Balin dalam memanggil roh leluhur dengan cara melontarkan beras tujuh kali ke arah angin sambil mengucapkan mantra.
Dalam buku ini menjelaskan bahwa pada tahun 1887 menjelaskan penyebarannya shamanisme. Dalam buku inilah membahas hal yang sangat penting dimana diketahuinya bahwa mulai tahun 1887 shamanisme mulai menyebar yang pertama di daerah Kapuas yang kedua Sambas ketiga Nanga Tebidah dan yang ke empat adalah wilayah Jelai26.
Dalam buku ini tidak membahas satu permasalahan dimana hanya membahas kepercayaan yang di anut oleh masyarakat dayak Kayan dan Landak dari berbagai segi dari menjelaskan shamanisme juga membahas Berlenggang yang sering dilakukan oleh orang Melayu dan nama lain orang dayak adalah Balin.
Pembahasan dalam buku ini mencakup keseluruhan adat dalam suku dayak di tanah Kayan dan Landak dari ilmu penyakit hingga cara penyembuhannya mulai dari sesajian untuk roh-roh jahat serta media buatan dari medium seperti tokoh adat dan lainnya dan berbagai kepercayaan yang biasa mereka lakukan secara turun temurun.
Penelitian yang akan dibahas dengan tulisan ini memiliki pembahasan ruang lingkup yang berbeda tulisan ini yang membahas di daerah Tayan dan Landak sedangkan saya di Jelai atau Jalai dimana pembahasannyapun hanya
26 Dijelaskan dalam buku kepercayaan suku dayak di tanah Landak dan Tayan pada halaman 6.
ruang lingkup upacara pengukuhan Balin dan upacara Berayah yang dilakukan oleh Balin yang menjadi media yang sangat penting dalam menyembuhkan orang sakit. Kesamaan tulisan ini peran shamanisme dalam suku dayak di Tanah Tayan dan Landak dimana dengan ini menjelaskan eratnya tali peradatan dengan segala macam upacara adat, kehidupan keluarga27.
Buku dari Hermansyah yang berjudul “Ilmu Gaib di Kalimantan Barat”.
Dalam buku ini membahas dimana pandangan seseorang mengenai Kalimantan yang berupa hutan belantara,masyarakat yang tinggal masih dengan binatang- binatang dan selalu menggunakan ilmu hitam atau ilmu gaib. Sebenarnya terkadang orang salah perspektif mengenai Kalimantan. Memang Kalimantan masih banyak hutan belantara tapi bisa digarisbawahi bahwa masyarakat Kalimantan tidak tinggal dengan segala binatang buas dan penggunaan berbagai ilmu tidak semua orang memiliki ilmu gaib.
Ilmu gaib inilah biasa dipandang oleh orang ilmu yang bisa mematikan sebenarnya suku di Kalimantan menggunakan ilmu gaib jika ada pendatang yang kurang menghargai mereka sebagai penduduk asli. Namun biasanya ilmu-ilmu yang penduduk Kalimantan gunakan merupakan sebagai pegangan untuk menjaga diri dari musuh biasanya ilmu yang mereka miliki hanya untuk membantu sesama seperti yang sedang sakit atau kehilangan sesuatu. Tidak semata-mata untuk menyerang seseorang yang tidak bersalah buku ini merubah
27 Shamanisme atau shaman biasa di kenal dengan kesurupan pada suku dayak shamanisme orang yang menjadi media antara roh dan manusia yang pertama dan yang kedua tidak dimasuki roh namun roh media atau kita sebut belianlah yang jiwanya keluar dari tubuhnya dan menjelajah alam roh dunia lain.
cara pandang seseorang terhadap Kalimantan yang sesungguhnya berbeda dengan apa yang ada didalam buku ini.
Buku Mallingkrodt yang berjudul “Gerakan Nyuli di Kalangan Suku Dayak Lawangan”. Dalam buku ini bukan membahas upacara Berayah yang biasa dilakukan oleh Balin namun dalam buku ini Balin yang mempunyai peran yang penting dalam kehidupan masyarakat mereka dan beberapa ritual di ubah oleh Balin karena beberapa faktor yang disebabkan oleh masuknya pengaruh keagamaan di suku dayak tersebut sehingga Balin di daerah tersebut berkurang karena masuknya agama dan segala perkembangan yang terjadi pada suku dayak tersebut dan dua suku dayak yang berdekataan.
Dimana dalam buku ini mereka suku dayak Lawangan yang masih mempercayai ajaran kebangkitan dari kematian yang dimana dari kepercayaan ini balinlah yang berperan penting dalam upacara tersebut. Dalam buku ini membahas suku Lawangan yang mungkin sedikit tertinggal dari dua suku yang berdekatan ini dimana dua suku lain yang berdekatan sudah tidak melakukan upacara atau kepercayaan yang mereka lakukan atau Gerakan Nyuli karena sudah mengalami kemajuan namun masih menggunakan jasa Balin dalam adat mereka.
Inilah pengaruh-pengaruh yang datang bisa mengubah struktur kemasyarakatan dalam kepercayaan mereka.
Dalam buku Balin sangat berperan penting bagi suku Lawangan dimana Balinlah yang mengantar roh-roh orang yang sudah meninggal dimana Balin menggunakan raganya untuk mengantar mereka , disuku Maayan walaupun tidak melakukan gerakan nyuli mereka masih membutuhkan Balin atas permintaan
dikirim utusan dari dewa untuk mnegiringi Balin perempuan untuk mengantar orang yang baru meninggal di suku Ngaju mengurus orang meninggal oleh sangiang atas bantuan dari Balin.
Bisa kita lihat bahwa peran Balin dalam tidak suku ini sangat penting walaupun ketika masuknya agama Balin sudah berkurang. Dalam buku ini juga ingin mengatakan bahwa Balin dimana seorang yang memiliki keahlian khusus untuk menjelajah kealam atau dimensi yang lain yang membantu kegiatan upacara adat di tiga suku ini suku Lawangan, Maanyan dan Ngaju. Dalam suku dayak Jalai Balin juga memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial di masyarakat.
Perbedaan tulisan-tulisan di atas dengan penelitian ini bisa di lihat dari beberapa faktor yang sudah ada. Pada penelitian ini lokasi yang menjadi tempat penelitian sudah jelas berbeda dengan beberapa tulisan yang ada di atas, dimana penelitian ini dikhususkan membahas suku dayak Jalai yang ada di kampung Tanjung dan beberapa desa yang ada di sekitarnya. Faktor yang kedua adalah topik pembahasannya yang berbeda dengan tulisan-tulisan yang ada di atas, dimana dalam penelitian ini fokus untuk membahas beberapa bagian yaitu bagaimana seseorang menjadi Balin, proses penyembuhan seseorang dengan upacara Berayah, mencari perubahan-perubahan pada Balin sebelum dan setelah agama masuk dan yang terakhir di dalam tulisan ini akan sedikit menjelaskan mengapa alasan pengukuhan Balin tidak digelar selama 18 tahun dan baru dilakukan kembali pada tahun 2018.
H. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan susunan memilih topik, heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi sumber dan historiografi atau penulisan sejarah. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana hasil penelitian data berdasarkan hasil dari penelitian lapangan yang sudah di survey sebelumnya dan beberapa studi pustaka dan jurnal yang mendukung sebagai data yang searah untuk melancarkan tulisan atau penelian ini dimana terjadinya perubahan sosial dan budaya yang di dasari sumber-sumber yang sudah ada.
Penelitian ini juga demi mendapatkan sumber yang akurat, peneliti langsung mencari sumber yang sesuai dengan topik yang akan dibahas seperti halnya yang akan saya bahas adalah ”Balin Jalai di Kampung Tanjung”. Dimana dalam mencari sumber ini peneliti harus mencari sumber dengan topik yang sama misalnya Balin yang ada di Kalimantan karena Balin yang ada di Kalimantan perannya sangat berhubungan dan juga mencari sumber yang terpengaruh oleh upacara Balin ini seperti kehidupan masyarakatya serta kehidupan sosial dalam masyarakatnya serta sumber-sumber yang mendukung dengan adanya pembahasan perubahan-perubahan yang terjadi dan di bandingkan pula dengan wilayah yang ada di wilayah dayak Jalai.
Untuk sumber sementara baru ditemukan beberapa buku yang pembahasan yang sejenis dengan topik penelitian yang didapatkan di perpustakaan kampus dan beberapa jurnal dan skripsi. Untuk sumber selanjutnya sudah direncanakan dimana melakukan penelitian atau pencarian sumber yang ada
di Institut Dayaklogi yang ada di Pontianak karena disitulah banyak sumber- sumber mengenai suku dayak terutama terfokus kepada upacara yang dilakukan Balin.
Untuk sumber lisan baru akan direncanakan penelitian atau pencarian sumber lisan yang akan dilakukan di Pontianak dan mewawancarai seorang pakar budaya yaitu Jhon Bamba yang merupakan seorang pakar budaya yang berasal dari kampung Tanjung sehingga ia juga banyak mengetahui sistem kehidupan sosial dalam dayak Jalai dalam mempertahankan kebudayaan khususnya pengukuhan Balin masa itu juga akan dilakukan wawancara ke beberapa tokoh Balin yang ada di kampung Tanjung juga beberapa tokoh adat serta tokoh masyarakat biasa dimana menanggapi adat berayah belayang belapas ini.
Dalam metode ini menggunakan tema sejarah kebudayaan sosial yang menyelusuri perubahan sosial yang terjadi dari tahun 1975 dimana mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi pada adat istiadat yang dilakukan orang Jalai serta perubahan dalam adat serta budaya itu sendiri dan sistem kemasyarakatannya terhadap perkembangan zaman yang semakin tahun semakin maju28.
I. Sistematika Penulisan
Penulisan hasil penelitian ini dijabarkan dalam sistematika penulisan sebagai berikut :
28 Kuntowijoyo, Metodeologi Sejarah, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2003, Hlm 57.
Bab I yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II mendeskripsikan suku Dayak Jalai dan membahas sistem pengobatan orang sakit melaui ritual Berayah.
Bab III berisi pandangan masyarakat dayak Jalai terhadap Balin Pra dan Pasca Katolik masuk ke Tanjung.
Bab IV berisi pengukuhan Balin di kampung Tanjung serta perubahan yang terjadi pada Balin
Bab V akan menguraikan kesimpulan dari pembahasan pada bab – bab sebelumnya.
BAB II
DESKRIPSI SUKU DAYAK JALAI
A. Kecamatan Jalai Hulu
Secara administratif Kecamatan Jalai Hulu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ketapang dengan letak geografis 10 46’ 00’ LS - 20 08” 24” LS dan 1100 36’ 12” BT - 1110 01’ 36” BT29. Kecamatan Jalai Hulu terletak sekitar 147 km dari ibukota Kabupaten Ketapang dan dapat ditempuh dengan transportasi darat. Batas-batas wilayah Kecamatan Jalai Hulu adalah sebagai berikut30:
• Sebelah utara : Kecamatan Tumbang Titi.
• Sebelah Selatan : Kecamatan Manis Mata.
• Sebelah Barat : Kecamatan Marau.
• Sebelah Timur : Berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah.
29 BPS Kecamatan Jelai hulu dalam angka 2015
30https://ketapangkab.bps.go.id/publication/download.html?nrbvfeve=OTM4Ym Y4MDc2NTIyZGZlYWY2YjBlZDYz&xzmn=aHR0cHM6Ly9rZXRhcGFuZ2thYi5icH MuZ28uaWQvcHVibGljYXRpb24vMjAxNi8wMi8yMy85MzhiZjgwNzY1MjJkZmVhZj ZiMGVkNjMvamVsYWktaHVsdS1kYWxhbS1hbmdrYS0yMDE1Lmh0bWw%3D&two adfnoarfeauf=MjAyMS0wNC0yMyAxODoxMDo0Mg%3D%3D diunduh 23 April 2021 pukul 13.56 WIB.
Gambar 1.4 Peta Kecamatan Jalai Hulu
Sumber :https://petatematikindo.wordpress.com/2014/09/10/administrasi-kabupaten ketapang/ di unduh 12 April 2021 pukul 19.52 WIB dan
https://www.scribd.com/document/328607678/Jalai-Hulu-Dalam-Angka-2015 Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang, Kecamatan Jalai Hulu dalam angka 2015. Di unduh
22 April 2021 pukul 23.18 WIB.
Kampung Tanjung merupakan bagian dari Kecamatan Jalai Hulu.
Kampung Tanjung ini terbagi menjadi dua desa yaitu Desa Tanggerang dan Desa Teluk Runjai dimana kedua desa ini hanya dibatasi oleh aliran sungai Jalai oleh karena itu mereka menyebut diri mereka “Urang Jalai”. Penduduk kampung Tanjung mayoritas adalah suku Dayak dan masih banyak masyarakat yang menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme.
a. Asal Usul Kampung Tanjung
Sampai saat penelitian ini dilakukan, orang masih mempercayai bahwa Kampung Tanjung dibuka oleh Manjing Tarah yang berasal dari kampung Patai Patah Delang-Lamandau Kalimantan Tengah. Manjing Tarah mendirikan rumah di seberang sungai Kiriq/Kiri sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di situ. Masyarakat Tanjung mengenal daerah itu dengan nama Sitarah yang tak berpenghuni.
Setelah Manjing Tarah meninggal, keluarganya berpindah tempat ke seberang sungai yang memang sudah terdapat Bagan. Bagan adalah tempat peristirahatan sementara orang-orang ketika melewati sungai Jalai, dimana pada masa itu satu-satunya transportasi melalui jalur sungai.
Bagan biasanya berbentuk pondok kecil untuk tempat peristirahatan sementara untuk berteduh, yang dibuat dari kayu biasanya dalam jangka panjang adapula yang hanya dibuat menggunakan tenda yang diikatkan pada kayu yang ada di sekitar lokasi tersebut biasanya digunakan dalam jangka waktu pendek.
Sekarang masyarakat Jalai membuat Bagan hanya ketika mereka sedang berburu atau menjaga buah pada musim durian.
Gambar 1.5 Contoh gambar Bagan 31.
Sumber: Koleksi pribadi Swa dan Koleksi pribadi Palentinus Kintong Setelah penduduk yang ada di seberang sungai itu bertambah, mereka mendirikan rumah-rumah yang menjorok ke ujung kampung, dari situlah nama Tanjung mulai digunakan hingga sekarang. Sejak itupun mulai ada tokoh-tokoh adat yang dituakan yang gunanya menjadi pemimpin dalam masyarakat dan menetapkan hukum-hukum adat.
31 Bagan nomor 1 adalah bagan dalam jangka waktu panjang bisa dihuni selama beberapa tahun tergantung kondisi bagannya sendiri masih bisa dihuni atau tidak.
Biasanya bagan ini sengaja dibangun sebagai tempat beristirahat saat di ladang. Bagan nomor 2 adalah bagan dalam jangka beberapa bulan yang digunakan sebagai tempat berteduh biasanya saat musim pembukaan lahan ladang sampai penanaman padi, setelah penanaman padi selesai barulah mereka membuat bagan yang lebih kokoh seperti bagan nomor 1. Bagan nomor 3 adalah bagan dalam jangka pendek yaitu beberapa hari atau beberapa minggu saja biasanya dibuat ketika musim buah yaitu buah durian.
1