• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan bentuk etika tepa selira pada masyarakat Wonokarto

B. Diskripsi Hasil Penelitian

2. Perubahan bentuk etika tepa selira pada masyarakat Wonokarto

Dimasukinya era informasi oleh peradaban manusia, berimbas pada kehidupan berbangsa, bernegara seluruh masyarakat dunia termasuk kehidupan

masyarakat di Indonesia. Terbukanya ruang dan arus informasi memberikan kesempatan bagi masuknya pengaruh idiologi dan Agama dalam kehidupan masyarakat. Agama Islam di masyarakat Wonokarto juga mengalami dampak dari arus informasi yang terjadi secara global ini. Besaran pengetahuan Agama dalam masyarakat melalui ragam informasi yang ada mempengaruhi akses terhadap sumber-sumber pengetahuan agama yang dulu tidak bisa diakses.

Perngetahuan Agama menjadi mudah diperoleh dan mudah ditemukan, melalui berita, selebaran, buku-buku, dan kajian-kajian yang berupa CD atau kaset-kaset rekaman serta dunia maya melalui internet. Pada saat bersamaan iklim demokrasi yang terjadi di Indoesia mengalami keterbukaan dengan reformasi sebagai pintu gerbangnya. Masyarakat menjadi tersosialisi akan arti demokrasi dan kebebasan menyampaikan pendapat dan berorganisasi. Mereka seakan ”berpesta”

memperoleh ilkim demokrasi yang memeicu kepada terbukanya kesempatan seseorang untuk menyatakan pendapat, termasuk pendapat untuk berbeda dan tidak setuju. Seseorang seakan punya jaminan untuk melakukan apapun yang mereka mau meskipun terkadang berbenturan dengan tradisi dan etika sosial yang telah ada.

Secara tidak langsung Kondisi ini mempengaruhi dan berdampak pada pelaksanaan etika tepa selira dalam masyarakat Wonokarto. Matriks di bawah ini memberikan informasi dan petunjuk tentang perubahan tepa selira berkaitan dengan tumbuh dan berkembangnya semangat berAgama Islam di lingkungan masyarakat Wonokarto. Pelaksanaan etika tepa selira sebelum Islam berkembang

di Kelurahan Wonokarto, kemudian setelah Islam berkembang di Wonokarto dan bagaimana peran lembaga sosial terhadap proses perubahan itu.

Tabel 15. Matriks Pelaksanaan tepa selira sebelum Islam berkembang di Kelurahan Wonokarto. Sumber: Data Primer diolah tanggal 10 Desember 2012

Tabel 16. Matriks Pelaksanaan tepa selira setelah Islam berkembang di Kelurahan Wonokarto. Sumber: Data Primer diolah tanggal 10 Desember 2012

Dari tabel 15. diatas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tepa selira di lingkungan masyarakat Wonokarto sebelum Islam berkembang masih bercorak tradisi. Masyarakat menyadari bahwa tilikan merupakan peristiwa sosial yang dijalin sedemikian rupa oleh tradisi dan diwariskan melalui lembaga-lembaga sosial, tentang bagaimana peran dan fungsi individu yang sangat mempengaruhi

keseimbangan bersama. Seseorang yang menjalankan aktifitas pribadinya sangat dipengaruhi juga oleh bagaimana mereka menjaga dan melaksanakan aktifitas bersamanya. Sebagai contoh, kalau seseorang ingin di hormati mereka harus menghormati kepentingan bersama, kalau orang mau di tiliki (ditengok ketika sedang sakit) maka dia harus mau niliki juga ketika ada orang lain dalam lingkungan masyarakat ada yang sakit. Karenanya bercorak individu dan sendiri-sendiri, belum terorganisir serta bersifat tertutup.

Dari Tabel 16. dapat disimpulkan bahwa bentuk dan praktek pelaksanaan etika tepa selira dalam masyarakat Wonokarto mulai berinterksi dengan nilai ajaran Islam. Terutama di dalam peristiwa tilikan, menyembelih hewan qurban, dan pengajian punomosiden sebagai contoh kasus merupakan bukti berjalannya proses sinkretik tersebut. Pelaksanaan nilai dan ajaran Islam oleh masyarakat tidak mengambil jalan yang konfrontatif dangan etika tepa selira, akan tetapi mengambil jalan tengah yaitu menggabungkan dua nilai kemudian berjalan menjadi nilai etika tepa selira yang ditambahkan dengan nilai Islam. Hal ini tidak bisa dipisahkan karena semangat menjaga keharmonisan dalam budaya Jawa dan tuntutan seorang muslim untuk menjadi seseorang yang berada di tengah-tengah (ummatan wasathon)

Dari Tabel di atas bisa juga disimpulkan bahwa tingkat keberagamaan masyarakat Wonokarto menunjukkan kecenderungan yang positif. Kondisi ini juga berdampak pada terjadinya proses sinkretik antara nilai-nilai ajaran Islam, yang mulai banyak dilaksanakan dan disosialisasikan dalam kehidupan

masyarakat, dengan etika tepa selira. Kusus pada peristiwa tilikan yang menonjol kekuatan etika tepa seliranya, nilai ajaran Islam mempengaruhi terhadap tujuan dan nilai tepa selira yang dilaksanakan. Islam memberinya kekuatan tujuan dalam peristiwa tilikan pada niat yang dilaksanakan. Sebelum Islam berkembang tilikan diasosiasikan terhadap proses penjagaan keseimbangan tatanan kosmis semata sementara Islam memberinya pengharapan akan nilai pahala. Tilikan merupakan tindakan yang jika dikerjakan tidak semata memberi manfaat kepada sesama manusia tetapi sekaligus kepada kasih sayang Tuhan. Tilikan menjadi bernilai keagamaan (religius) dengan diakhiri do‟a bersama demi kesembuhan si sakit.

Di dalam peristiwa penyembelihan hewan qurban dan pengajian, unsur agama memang lebih dominan, akan tetapi sebelum reformasi terjadi di Indonesia tahun 1998, awal-awal pelaksanaan qurban dan pengajian sangat terbatas pelaksanaannya. Keterlibatan masyarakat Wonokarto masih belum banyak dan kelompok-kelompok pengajian hanya beberapa yang berjalan.

Kalaupun ada yang berjalan mereka merupakan orang-orang yang siap terintimidasi oleh pemerintah karena berbagai kepentingan politik. Sebelum reformasi masyarakat seperti hidup dalam ketertutupan; informasi, pengetahuan, komunikasi, termasuk mobilitas sosial, serta ketegangan.

Qurban hanya bagi orang-orang kaya dan tidak banyak. Sementara keterlibatan masyarakat di dalam proses penyebelihan hewan qurban hanya 7-10 orang rata-rata dalam setiap kelompok penyelenggaraan qurban. Setelah kurang

lebih 24 tahun setelah reformasi penulis mencatat peningkatan yang baik pada Jumlah qurban maupun keterlibatan masyarakat. Di Kelurahan Wonokarto qurban sapi pada tahun 2012 63 ekor sapi, dan keterlibatan masyarakat sudah berkembangan. Hampir di tiap tempat ibadah menyelenggarakan penyembelihan hewan Qurban.

Kelompok-kelompok pengajian juga mengalami hal yang relatif baik.

Munculnya kelompok-kelompok pengajian di wilayah Wonokarto yang berada di masjid maupun di rumah-rumah warga mengindikasikan proses perkembangan tingkat keagamaan masyarakat. Yang patut di catat adalah bawa lembaga sosial;

RT, RW atau tilikan, qurban, maupun pengajian-pengajian merupakan lembaga-lembaga sosial di Kelurahan Wonokarto yang berperan besar dalam proses sinkretisasi antara nilai ajaran Islam dan etika tepa selira. Sekali lagi penulis mencatat bahwa sejak dimasukinya reformasi bernergara di Indonesia tahun 1998 proses sinkretisasi di Wonokarto menunjukkan gejala yang lebih berkembang, sebagaimana tercatat dalam Matriks tentang perubahan etika tepa selira pada masyarakat Wonokarto.