B. Diskripsi Hasil Penelitian
5. Solidaritas Sosial Durkheim
Membandingkan pendekatan struktur fungsional Parsons dalam penelitian ini dengan solidaritas Durkheim, mungkin akan memberikan tambahan pemahaman tentang seberapa mungkin masalah itu bisa didekati dari berbagai teori. Termasuk memperdalam keluasan pemahaman yang bisa dikaji. Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti
bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat „mekanis‟ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang „mekanis‟, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang 'organik', para pekerja memperoleh gaji dan harus
mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim menjelaskan, akan mengantar kepada perkembangan kesadaran individual dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif dan oleh karenanya seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
(http://id.wikipedia.org/wiki/%C3%89mile_Durkheim)
Pandangan Durkheim di atas, jika kita gunakan untuk mendekati penelitian ini bisa memberikan iformasi tentang bagaimana kondisi sosial masyarakat lokasi penelitian. Bahwa melihat karakternya kelurahan Wonokarto merupakan masyarakat yang bersifat tradisional. Hal ini bisa catat dengan masih banyak terdapat nilai sosial budaya yang juga merupakan norma dan kesadaran kolektif masyarakat. Beberapa contoh adalah masih terjaganya bentuk-bentuk tepa selira yang ada pada masyarakat Wonokarto seperti tilikan, membantu orang punya kerja, ronda dan kegitan sosial yang lain.
Akan tetapi jika dilihat sebagai sebuah masyarakat modern karena indikasi aktifitas sosial masyarakat yang mobilitasnya tinggi, masyarakat Wonokarto bukanlah tipikal masyarakat modrn dalam arti yang sesungguhnya.
Sebagian besar masyarakat yang bekerja dengan beragam disiplin ilmu dan perbedaan jenis pekerjaan memang menyebabkan sempitnya waktu berinteraksi secara komunal sebagai masyarakat Jawa yang sifatnya komunal. Namun demikian masalah perbedaan pekerjaan dan kurangnya waktu berinteraksi antar
warga dijembatani dengan adanya pertemuan-pertemuan bulanan di tingkat RT atau RW. Penggolongan Durkheim tetang solidaritas mekanis dan organis dalam sebuah masyarakat menurut hemat penulis sedang dalam masa transisi jika digunakan untuk melihat kelurahan Wonokarto.
Wonokarto bukanlah masyarakat Modern sebagaimana yang mendasari teori Durkheim tentang masyarakat “ organis “. Salah satunya indikasi yang paling dominan adalah belum terjadinya pembagian kerja yang rumit dalam masyarakat. Masyarakat Wonokarto merupakan masyarakat Perkotaan dengan kultur desa yang masih kuat. Penulis lebih melihat bahwa Wonokarto lebih kepada maysarakat patembayan yang lebih meju daripada masyarakat paguyuban. Tidak ditemukan pola interaksi yang benar-benar didasarkan oleh perbedaan peran dan spesifikasi pekerjaan seperti masyarakat modern dengan struktur sosial yang komplek. Meskipun ada banyak warga yang punya pekerjaan yang berbeda tetapi mereka masih terikat dalam pertalian budaya yang sama, Jawa. Paling tidak jika diukur dengan menggunakan pola interaksi langsung antar sesama anggota masyarakatnya, bahwa kehidupan sosial masyarakat dijalin berdasarkan hubungan komunalnya bersama; gotong-royong, saling membantu, toleran, bekerjasama, mementingkan kepentingan orang lain, peduli dsb. Dan hal ini jelas sangat berbeda dengan kondisi kehidupan masyarakat Prancis kala Durkheim memunculkan teorinya.
Menggunakan klasifikasi masyarakat menurut Durkheim, Barangkali masyarakat Wonokarto masih tergolong kedalam masyarakat tradisional
meskipun tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata banyak warga Wonokarto yang bekerja dengan bermacam profesi akan tetapi mereka masih terikat dengan kultur jawa yang masih mengikat. Seperti yang terjadi dalam peristiwa tilikan, berqurban, dan pengajian-pengajian di Kelurahan Wonokarto
Dalam The Division of Labor in Society (Durkheim, 1893/1964;
Gibbs,2003) yang disebut sebagai karya klasik pertama sosiologi. Di dalam karya tersebut, Durkheim mengamati perkembangan relasi modern di antara para individu dan masyarakat. Secara khusus, Durkheim ingin menggunakan ilmu sosiologinya yang baru untuk mengetahui pandangan masyarakat pada saat itu mengenai krisis moralitas modern.
Di Prancis pada masa Durkheim, tersebar luasnya perasaan krisis moral.
Revolusi Prancis telah mencerminkan fokus pada hak-hak individu yang sering mengungkapkan diri sebagai suatu serangan kepada otoritas tradisional dan kepercayaan-kepercayaan agamis. Tren itu berlanjut bahkan setelah jatuhnya pemerintahan revolusioner. Pada pertengahan abad kesembilan belas, banyak orang merasa bahwa tatanan sosial terancam karena masyarakat cenderung individualistis dan egois. Dalam waktu kurang dari 100 tahun antara Revolusi Prancis dan masa dewasa Durkheim, Prancis mengalami tiga monarki, dua kekaisaran, dan tiga republik. Rezim-rezim itu menghasilkan empat belas konstitusi. Perasaan mengenai krisis moral dipengaruhi juga oleh kekalahan Prancis, yang mencakup pencaplokan yang dilakukan Prancis pada tempat
kelahiran Durkheim. Hal itu di ikuti oleh revolusi yang berlangsung singkat dan keras yang dikenal sebagai Komune Paris. Baik kekalahan maupun revolusi berikutnya di anggap sebagai akibat individualisme yang merajalela.
Menurut Aguste Comte, banyak dari peristiwa di atas dapat di jelaskan melalui pembagian kerja yang semakin bertambah. Di dalam masyarakat sederhana memiliki mata pencaharian yang homogen yaitu bertani. Mereka mempunyai pengalaman yang sama sehingga memiliki nilai-nilai bersama.
Sebaliknya, di dalam masyarakat modern setiap orang mempunyai pekerjaan yang berbeda. Setiap individu memiliki tugas yang berbeda dan terspesialisai.
Sehingga mereka tidak memiliki pengalaman bersama. Keberagaman itu menghancurkan kepercayaan moral yang seharusnya dimiliki oleh suatu masyarakat. Akibatnya, individu tidak akan berkorban secara sosial pada saat-saat dibutuhkan atau egoisme. Comte menginginkan agar sosiologi menciptakan suatu pseudo-agama yang akan mengembalikan lagi kohesi sosial. Dalam derajat yang besar, The Division of Labor in Society dapat di lihat sebagai suatu penyangkalan atas analisis Comte (Gouldner,1962). Durkheim berpendapat bahwa pembagian kerja tidak melambangkan lenyapnya moralitas sosial, tetapi lebih melambangkan jenis moralitas sosial yang baru.
Tesis The Division of Labor ialah bahwa masyarakat modern tidak di satukan oleh masyarakat yang homogen tetapi sudah heterogen. Wonokarto sedang berproses kearah dua hal yaitu menjadi modern dan menjadikan budaya lama sebagai sumber pijakan budaya baru . Karena tidak bisa dipungkiri bahwa
pembagian kerja itulah yang menarik setiap individu untuk saling bergantung satu sama lain. Telah tampak bahwa pembagian kerja adalah suatu kebutuhan ekonomis yang merusak perasaan solidaritas, tetapi menurut Durkheim layanan ekonomis tidak begitu penting di bandingkan dengan efek moral yang di hasilkan dan fungsi sebenarnya ialah untuk menciptakan perasaan solidaritas antara dua orang atau lebih. (Julia Putri, 2013)
Yang lebih kelihatan berbeda dari kondisi sosial Durkheim adalah besarnya peran organisasi sosial dalam masyarakat terhadap proses sinkretisasi antara etika tepa selira dengan nilai ajaran Islam. Sehingga nilai keterikatan warga menjadi sesuatu yang berdasar nilai tradisi di satu sisi dan dan nilai Agama sisi yang lain. Perkembangan masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi belum merubah pola interaksi dan kesadaran sosial masyarakat sebagai ikatan yang berdasar kepada keharmonisan sosial dan ketentraman.