4.2 Kondisi Mangrove Belitung Timur Berdasarkan Pengolahan Citra 1 RGB Komposit Maksimum
4.2.5 Perubahan Luas Penutupan Vegetasi Mangrove
Analisis perubahan luas penutupan mangrove dilakukan dengan Modul Land Change Modeler yang terdapat pada Software Idrisi Andes 15. Perubahan yang terjadi dibagi menjadi tiga kategori yaitu penambahan, pengurangan, dan
persisten. Analisis perubahan ini melibatkan data hasil klasifikasi penutupan lahan sebagai data masukan. Pada modul ini, data dianalisis dengan teknik
geoprocessingyaitu pemrosesan citra dengan teknik pemotongan, penggabungan, dan substraksi dari dua citra atau lebih. Penambahan luas secara spasial dapat dilihat pada Gambar 27 yang digambarkan dengan warna hijau. Pengurangan luas digambarkan dengan warna merah dan persisten digambarkan dengan warna kuning. Penambahan diduga merupakan akibat peningkatan kesuburan hutan mangrove hutan mangrove.
(tanpa skala)
Gambar 27. Perubahan penutupan vegetasi mangrove di Kec. Kelapa Kampit antara tahun 1989 dan 2010 dengan metode ISOCLUST
Gambar 28. Diagram lingkaran perubahan luas hutan mangrove di Kec. Kelapa Kampit
25%
63% 12%
Losses Persistence Gains
1.50% 6.00% 17.50% Mangrove to Badan air Mangrove to Non- mangrove Mangrove to Lahan terbuka
Gambar 28 menunjukkan perubahan luasan hutan mangrove secara spasial pada wilayah Kelapa Kampit. Secara kuantitatif perubahan tersebut dapat dilihat pada diagram lingkaran pada Gambar 31. Pengurangan luas hutan mangrove di Kelapa Kampit sebesar 25% (155.25 ha) yang terdiri dari, 1,50% (9.27 ha) mangrove yang berubah menjadi badan air, 6% (37.8 ha) mangrove yang berubah menjadi non-mangrove, dan 17,50% (108.18 ha) mangrove yang menjadi lahan terbuka. Luas hutan mangrove di Kelapa Kampit yang tidak mengalami perubahan sebesar 63% (389.16 ha) dari total perubahan luas hutan mangrove wilayah
Kelapa Kampit.
(tanpa skala)
Gambar 29 menunjukkan perubahan penututpan vegetasi mangrove di Kecamatan manggar dalam kurun waktu 1994 -2010. Perubahan hutan mangrove wilayah Manggar menjadi kategori penutupan lainnya dapat dilihat pada Gambar Gambar 29. Perubahan penutupan vegetasi mangrove di Kec. Manggar antara
30. Terjadi penambahan luas hutan mangrove sebesar 41% (288.45 ha) dari keseluruhan perubahan luas hutan mangrove wilayah Manggar.
Gambar 30. Diagram lingkaran perubahan luas hutan mangrove di Kec. Manggar Degradasi atau pengurangan luas hutan mangrovedi Kecamatan Manggar sebesar 15% (103.86 ha) yang terdiri dari 3% (20.34 ha) mangrove yang
mengalami transisi menjadi badan air, 10,5 % (73.26 ha) menjadi non-mangrove, dan 1.05% (10.26 ha) menjadi lahan terbuka. Wilayah mangrove yang persisten atau tidak berubah sebesar 44% (312.39 ha) dari total perubahan luas hutan mangrove di wilayah Manggar.
(tanpa skala)
15%
44% 41%
Losses Persistence Gains
3%
10.5 %
1.05% Mangrove to Badan air
Mangrove to Non- mangrove Mangrove to Lahan terbuka
Gambar 31. Perubahan penutupan vegetasi mangrove di Kec. Gantung antara tahun 1994 dan 2010 dengan metode ISOCLUST
Pada Gambar 31 dapat dilihat perubahan penutupan vegetasi mangrove di wilayah Gantung dari tahun 1994 ke tahun 2010. Pengurangan luas hutan
mangrove lebih banyak terjadi pada bagian selatan dari gambar sedangkan penambahan luas tampak lebih terkonsentrasi di tengah gambar. Secara kuantitatif, perubahan yang terjadi pada hutan mangrove di wilayah Gantung dapat dilihat pada Gambar 32. Mangrove pada daerah ini bertambah sebesar 33% (90.81 ha) dan berkurang sebesar 23% (62.37 ha) .Pengurangan luas hutan
mangrove terdiri dari, 1,38 % (3.69 ha) berubah menjadi badan air, 14,26% (38.43 ha) menjadi non-mangrove, dan 7,36% (20.25 ha) menjadi lahan terbuka. Selain itu juga terdapat luasan mangrove yang tidak berubah sebesar 44% (121.95 ha) dari total perubahan luas hutan mangrove di wilayah Gantung.
Gambar 32. Diagram lingkaran perubahan luas hutan mangrove di Kec. Gantung Secara umum, penambahan luas hutan mangrove di wilayah Manggar merupakan yang terbesar dari ketiga wilayah kajian dalam penelitian yaitu 44%. Penambahan ini dapat terjadi karena adanya penyuburan tanah tempat tumbuh mangrove dan perluasan hutan mangrove ke arah perairan. Pengurangan luas hutan mangrove terbesar terjadi pada wilayah Kelapa Kampit yaitu sebesar 25%. Pengurangan yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh aktivitas pembangunan lahan perkebunan dan pelabuhan di wilayah tersebut. Aktivitas penambangan
23%
44% 33%
Losses Persistence Gains
1.38% 14.26% 7.36% Mangrove to Badan air Mangrove to Non- mangrove Mangrove to Lahan terbuka
timah dan pembukaan lahan pemukiman juga memberikannya banyak pengaruh terhadap pengurangan luas hutan mangrove yang mengalami transisi menjadi lahan terbuka di ketiga wilayah penelitian. Dari hasil survei ditemukan bagian dari hutan mangrove di wilayah Manggar sudah dikonversi menjadi tempat
penambangan timah dan batu besi. Beberapa wilayah lainnya juga ditebang untuk kayu bakar dan diambil daunnya untuk keperluan pembangunan oleh masyarakat sekitar. Perubahan luas mangrove untuk tiga kecamatan dapat dilihat pada Tabel 21 dan hasil rekapitulasi perubahan secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 21. Perubahan luas mangrove (ha) di Kec. Manggar (1994-2010), Kec. Kelapa Kampit (1989-2010) dan Kec.Gantung (1994-2010).
Lokasi Berkurang (ha) Tetap (ha) Bertambah (ha)
Manggar 103.86 312.39 288.45
Kelapa Kampit 155.25 389.16 71.37
Gantung 62.37 121.95 90.81
Tabel 22. Rekapitulasi perubahan luas (ha) penutupan mangrove di Kabupaten Belitung Timur
Kecamatan Citra Landsat TM rata ±rata per
tahun (ha) Tahun 1989 Tahun 1994 Tahun 2010
Kelapa Kampit 544.41 - 460.53 -3.40
Manggar - 416.25 600.84 11.53
Gantung - 184.32 212.76 1.78
Hasil analisis penutupan lahan ini tidak terlepas dari akumulasi kesalahan dalam proses pengolahan data. Perubahan- perubahan yang terjadi pada luas tiap kategori penutupan lahan seringkali tidak sesuai dengan keaadaan sebenarnya di lapangan. Hal ini muncul dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh perangkat lunak pengolahan data dan kesalahan dari pengolah data. Pada setiap tahap dalam proses pengolahan citra masukan menjadi citra keluaran, sering terjadi kesalahan yang diawali dengan proses pada registrasi citra. Pada proses ini citra yang
diregistrasi memiliki kesalahan posisi yang dinyatakan dalam nilai Root Mean Square (RMS). Selanjutnya, kesalahan dapat terjadi pada proses klasifikasi dimana pengelompokan piksel tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ada beberapa piksel kategori tertentu yang masuk dalam kategori lainnya yang
dinyatakan dalam error matrix analysis. Kelemahan perangkat lunak Idrisi adalah waktu pemrosesan data yang lebih lama dan sering terjadi error jika pengolahan data dilakukan berulang kali pada tools atau modul yang sama. Kelebihan dari perangkat lunak ini adalah, memiliki tools dan modul yang lengkap untuk analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan remote sensing. Selain itu, perangkat lunak ini berbasis koordinat sehingga lebih mudah dalam melakukan analisis perubahan lahan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.
Dalam teknik deteksi perubahan dalam penelitian ini digunakan metode
change detection after classification (metode deteksi perubahan setelah klasifikasi). Pada metode ini, deteksi dan analisis perubahan lahan dilakukan setelah dilakukan klasifikasi pada citra yang digunakan. Menurut Shaoqing dan Lu (2008), keuntungan dari metode ini adalah tidak hanya kepastian pada jarak perubahan tetapi juga menyediakan informasi tentang perubahan karakter, seperti suatu kategori lahan yang berubah menjadi kategori lainnya dan sebagainya. Kerugian dari penggunaan metode ini adalah kesalahan dalam proses klasifikasi sangat rentan pada metode ini yang meningkatkan resiko kesalahan dalam
interpretasi data. Metode ini tidak cocok digunakan untuk deteksi perubahan pada wilayah pemukiman atau perkotaan karena memiliki resolusi yang rendah pada citra multispektral dan karakteristik spektral yang kompleks dari wilayah perkotaan.
74 5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
x Ada 14 jenis mangrove, yakni 8 mangrove sejati didominasi oleh Sonneratia alba dan sedikitnya 6 jenis vegetasi yang berasosiasi dengan mangrove. x Dari pengolahan citra satelit Landsat diperoleh peta perubahan lahan di 3
kecamatan dimana kecepatan perubahan luas mangrove yaitu, kelapa kampit 3,40 ha/tahun (-), manggar 11,53 ha/tahun, (+) dan gantung 1,78 ha/tahun(+) x Dari 3 (tiga) lokasi kajian, mangrove bertambah luas di Kecamatan Manggar
dan Gantung disebabkan adanya penanaman mangrove dan adanya
pertumbuhan alami mangrove, sedangkan menurun luasnya di Kelapa Kampit akibat adanya konversi mangrove menjadi lahan perkebunan dan kawasan pelabuhan.
x Dari analisis NDVI, mangrove dengan kategori lebat dan sangat lebat
meningkat di Kecamatan Manggar dan Gantung, namun untuk kedua kategori tersebut menurun di Kelapa Kampit akibat adanya konversi mangrove. 5.2 Saran
Data yang digunakan pada penelitian ini masih kurang mewakili keadaan mangrove di Kabupaten Belitung Timur dikarenakan terbatasnya waktu serta sebaran lokasi survei yang kurang merata. Selain itu, data citra yang digunakan masih terbatas dan memiliki ukuran piksel yang besar sehingga kurang akurat dalam
penelitian selanjutnya perlu pengambilan data lapang yang lebih banyak dan merata pada lokasi survei. Penggunaan data citra yang lebih beresolusi tinggi sangat disarankan pada penelitian selanjutnya karena akan sangat membantu dalam
menghasilkan data yang lebih baik dalam analisis perubahan suatu lahan. Selain itu, perlu dibangun area perlindungan laut di Kabupaten Belitung Timur sebagai wilayah