• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Makna Akibat Perubahan Lingkungan

MAKNA TULISAN YANG TERDAPAT PADA KACA ANGKUTAN UMUM

4.2.4 Perubahan Makna Akibat Perubahan Lingkungan

Lingkungan masyarakat dapat menyebabkan perubahan makna bahasa yang

digunakan pada lingkungan masyarakat tertentu, karena belum tentu sama maknanya

dengan makna kata yang digunakan dilingkungan masyarakat yang lain. Misalnya, kata

cetak bagi mereka yang bergerak dalam bidang persuratkabaran, kata cetak selalu

dihubungkan dengan kata tinta, huruf, kertas. Tetapi bagi pengrajin batu bata, kata

cetak biasanya dihubungkan dengan kegiatan membuat batu bata pada cetakannya.

Seperti halnya perubahan makna akibat perubahan lingkungan yang terdapat pada

tulisan di kaca angkutan umum, adalah:

(20) Sang Idola

Tampilan di atas tulisan tersebut yang merupakan perubahan makna akibat

lingkungan, makna perubahan lingkungan sang idola(20), kata sang mempunyai arti

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “sebutan untuk orang yang

dimuliakan, dan sesuatu yang hidup dan berwujud”, dan idola dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti “orang, gambar, patung, dan sebagainya yang

menjadi pujaan”. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna

sebenarnya.

Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang mengetahui situasi dan

kondisi objek penelitian maka, tulisan sang idola dimaksudkan sopir (komunikator)

adalah seorang yang menjadi pujaan, dimana kata seorang itu berasal dari kata sang.

Jadi, tulisan sang idola mempunyai arti sesuai dengan etimologi (asal usul kata) atau

kronologis munculnya kata-kata tersebut, sehingga pemilihan kata sang idola pada

tulisan di kaca angkutan umum tersebut dikarenakan sopir (komunikator) ingin

menyampaikan pesan kepada pengguna jalan yaitu agar angkutan umum yang

dimilikinya menjadi terkenal dan banyak menghasilkan rupiah, sehingga angkutan

umum tersebut diberi tulisan sang idola. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna

pragmatis yaitu makna yang sesuai dengan konteks.

Tulisan sang idola memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang ditafsirkan

bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan itu sama

4.2.5 Perubahan Makna Akibat Pertukaran Tanggapan Pemakai Bahasa

Tulisan yang terdapat pada kaca angkutan umum mempunyai makna atau arti

tertentu, yang ingin disampaikan oleh komunikator (sopir) dengan masyarakat

(pengguna jalan). Selain itu, makna atau arti dari tulisan yang terdapat di kaca angkutan

umum juga menimbulkan perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai

bahasa.

Perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa adalah gejala

yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya di kenal dan

digunakan dalam bidang tersebut.

Perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa dalam tulisan

yang terdapat pada kaca angkutan umum adalah:

(1)

(7) Mafia Onces

(21) Garang

Pada tampilan di atas tulisan-tulisan tersebut yang mengalami perubahan makna

akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa, perubahan makn

(1) tulisan marlumba yang artinya berlomba, kata tersebut mengalami perubahan

makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa, karena komunikator (sopir) dari

angkutan umum tersebut berasal dari Samosir (tanah batak) yang mayoritas

masyarakatnya bersuku batak. Tulisan marlumba itu sendiri, dimaksudkan oleh

komunikator (sopir) adalah “kejar-kejaran”, dan kata marlumba itu dituliskan atau

dan com biasa digunakan untuk pencarian situs di internet, pernyataan tersebut dapat

dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya. Tetapi setelah didapatkan

tuturan dari informan yang mengetahui situasi dan kondisi objek penelitian maka,

tulisan

bukanlah merupakan nama situs yang ada di internet, melainkan tulisan

tersebut yang dikemudikan oleh sopirnya dengan kecepatan tinggi dan mendahului

angkutan yang lainnya. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis yaitu

makna yang sesuai dengan konteks tuturan.

Tulisan www.marlumba.com memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda

yang ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang

dihasilkan itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Selanjutnya perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa

mafia onces (7) tulisan mafia onces yang artinya “penjahat anak-anak muda”. Tulisan

tersebut mengalami perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa,

tulisan mafia dan onces itu sendiri diambil dari bahasa gaul. Di mana dalam bahasa

gaul, mafia diartikan sebagai gembong besar dan onces yang artinya anak muda yang

usianya beranjak dewasa. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu

makna yang sebenarnya. Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang

mengetahui situasi dan kondisi objek penelitian maka, tulisan mafia onces itu sendiri

dimaksudkan oleh komunikator (sopir) adalah karena angkutan umum yang dimilikinya

banyak diminati oleh anak-anak muda. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna

bukan diartikan dengan makna sebenarnya yaitu penjahat besar anak-anak muda, tetapi

diartikan secara etimologi (asal-usul kata).

Tulisan mafia onces memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang

ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan

itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Kemudian perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa

adalah garang (21) tulisan garang yang artinya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(KBBI) adalah “galak; bengis; ganas; atau garang dapat juga diartikan untuk anak

laki-laki yang berwajah tampan”. Pernyataan tersebut dapat dikatakan dengan makna

semantis yaitu makna yang sebenarnya. Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan

yang memahami situasi dan kondisi objek penelitian maka, tulisan tersebut mengalami

perubahan makna akibat pertukaran tanggapan pemakai bahasa, karena tulisan garang

dapat diartikan berbeda-beda seperti yang telah ditulis di atas, tulisan garang itu sendiri

dimaksudkan oleh komunikator (sopir) adalah “gara-gara rantang”, karena pemilik

kendaraan tersebut mendapatkan angkutan umumnya hasil dari pemberian rantang oleh

rekan kerjanya. Pernyataan tersebut dapat dikatakan dengan makna pragmatis yaitu

makna yang sesuai dengan konteks tuturan. Jadi, tulisan garang bukan diartikan dengan

makna sebenarnya, tetapi diartikan secara etimologi (asal-usul kata).

Tulisan garang memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang ditafsirkan

bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan itu sama

4.2.6 Perubahan Makna Akibat Asosiasi

Selametmuljana (1964:2) menyatakan bahwa “asosiasi adalah hubungan antara

makna asli, makna di dalam lingkungan tempat tumbuh semula kata yang bersangkutan

dengan makna yang baru, yaitu makna di dalam lingkungan tempat kata itu dipindahkan

ke dalam pemakai bahasa”.

Penggunaan perubahan makna akibat asosiasi pada tulisan di kaca angkutan

umum, karena tulisan yang terdapat pada angkutan umum memiliki arti yang

berbeda-beda bagi para penerima pesan, sesuai dengan asosiasi (pemikiran yang ada di dalam

pikiran setiap orang).

Perubahan makna akibat asosiasi dalam tulisan di kaca angkutan umum adalah:

(4) Tunggal Putra

(9) Anorda Level

(10) 635

(18) Marbun Group

Pada tampilan di atas tulisan-tulisan tersebut yang merupakan perubahan makna

akibat asosiasi, makna asosiasi tunggal putrra (4), tulisan tunggal mempunyai arti

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “bukan jamak (bukan majemuk);

hanya satu; satu-satunya”, dan putra mempunyai arti dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia (KBBI) adalah “anak laki-laki; untuk laki-laki; berputra; beranak”.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya.

Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang mengetahui situasi dan kondisi

objek penelitian maka, tulisan tunggal putra yang dimaksudkan sopir (komunikator)

berubah akibat asosiasi (gambaran yang ada di dalam pikiran setiap orang), sopir

(komunikator) memaknai tulisan tunggal putra yaitu anak laki-laki satu-satunya.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis yaitu makna yang sesuai dengan

konteks. Jadi, tulisan tersebut merupakan simbol dari sopir (komunikator), tulisan

tunggal putra yang mempunyai arti sesuai dengan etimologi (asal-usul kata) atau

kronologis munculnya kata-kata tersebut.

Sehingga pemilihan kata tunggal putra pada tulisan di kaca angkutan umum

dikarenakan sopir (komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna jalan.

Tulisan tunggal putra dimaksudkan oleh komunikator (sopir), karena sopir pemilik

angkutan umum tunggal putra merupakan anak satu-satunya dalam keluarga. Sehingga

angkutan umum tersebut diberi tulisan tunggal putra. Penafsiran makna tunggal putra

mungkin dapat berbeda-beda bagi para penerima pesan, sesuai asosiasi

(gambaran-gambaran yang ada dalam pikiran setiap orang tentang makna sesuatu).

Tulisan tunggal putra memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang

ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan

itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Selanjutnya perubahan makna akibat asosiasi pada tulisan di kaca angkutan

umum adalah anorda level (9) tulisan anorda merupakan kata dari sebuah nama

perusahaan, dan level dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna

“lapisan; tingkatan; taraf; untuk menyatakan besaran sebuah sinyal yang digunakan

untuk tegangan”. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna

yang sebenarnya. Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang memahami

merupakan makna yang berubah akibat asosiasi (gambaran yang ada di dalam pikiran

setiap orang), sopir (komunikator memaknai tulisan anorda level yaitu karena pemilik

dari angkutan umum tersebut bekerja disebuah perusahaan yaitu PT. Anorda, sebagai

meneger level marketing. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis yaitu

makna yang sesuai dengan konteks tuturan. Jadi, tulisan tersebut merupakan simbol dari

sopir (komunikator), tulisan anorda level mempunyai arti sesuai dengan etimologi

(asal-usul kata) atau kronologis dari kata-kata tersebut.

Sehingga pemilihan kata anorda level pada tulisan di kaca angkutan umum

dikarenakan sopir (komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna jalan.

Tulisan anorda level dimaksudkan oleh sopir (komunikator) karena pemilik dari

angkutan umum tersebut bekerja di sebuah perusahaan PT. Anorda sebagai meneger

level marketing, sehingga angkutan umum tersebut diberi tulisan anorda level.

Tulisan anorda level memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang

ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan

itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Kemudian perubahan makna asosiasi 635 (10), tulisan 635 merupakan lafal

singkatan huruf yang dapat dibaca kata yaitu enam ratus tiga puluh lima. Tulisan yang

terdiri dari ratusan, yaitu enam ratus, puluhan yaitu tiga puluh dan satuan yaitu lima.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya.

Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang memahami situasi dan kondisi

objek penelitian maka, tulisan 635 yang dimaksudkan oleh sopir (komunikator) tidak

sesuai dengan arti sebenarnya, karena tulisan 635 merupakan makna yang berubah

akibat asosiasi (gambaran-gambaran yang ada di dalam setiap pikiran orang), sopir

ketiga anak pemilik angkutan umum tersebut, dimana anak yang pertama lahir pada

bulan 6 (juni), anak ke dua lahir pada bulan 3 (maret), dan anak ketiga lahir pada bulan

5(mei). Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis yaitu makna yang sesuai

dengan konteks tuturan. Jadi, tulisan tersebut merupakan simbol dari sopir

(komunikator), tulisan 635 mempunyai arti sesuai dengan etimologi (asal-usul kata)

atau kronologis munculnya kata-kata tersebut.

Sehingga pemilihan kata 635 pada tulisan di kaca angkutan umum dikarenakan

sopir (komunikator) ingin menyampaikan kepada pengguna jalan. Tulisan 635

dimaksudkan oleh komunikator (sopir) karena merupakan singkatan dari bulan

kelahiran ketiga anak pemilik angkutan umum tersebut. Sehingga angkutan umum

tersebut dibberi tulisan 635.

Tulisan 635 memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang ditafsirkan bagi

para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan itu sama tetapi

makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Sedangkan perubahan makna asosiasi yang terakhir dalam tulisan yang terdapat

pada kaca angkutan umum adalah Marbun Group (18), tulisan marbun group

merupakan nama pemilik angkutan umum KPUB dan group dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti “kelompok; golongan; rombongan”.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya.

Tetapi setelah didapatkan tuturan dari informan yang memahami situasi dan kondisi

objek penelitian maka, tulisan marbun group yang dimaksudkan oleh sopir

(komunikator)tidak sesuai dengan arti sebenarnya, karena tulisan marbun group

marbun group yaitu karena tulisan marbun group adalah pemilik angkutan umum

tersebut memiliki dua angkutan, sehingga kedua angkutan umum tersebut diberi nama

pemiliknya. Pernyataan tersebut dapat dikatakan maknapragmatis yaitu makna yang

sesuai dengan konteks tuturan. Jadi, tulisan tersebut merupakan simbol dari sopir

(komunikator), kata-kata marbun group mempunyai arti sesuai dengan etimologi

(asal-usul kata) atau kronologis munculnya kata-kata itu.

Sehingga pemilihan kata marbun group pada tulisan di kaca angkutan umum,

dikarenakan sopir (komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna jalan.

Tulisan marbun group dimaksudkan oleh sopir (komunikator) karena merupakan nama

dari pemilik angkutan umum tersebut. Sehingga angkutan umum miliknya diberi nama

marbun group.

Tulisan marbun group memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang

ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan

itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

4.2.7 Makna Harafiah

Makna harafiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “makna

atau arti secara huruf, kata demi kata (bukan defenisi)”. Seperti halnya tulisan di kaca

angkutan umum yang menggunakan makna harafiah, yaitu:

(14) Salsabila Bizlani Harahap

(15) Sheika Sarah Harahap

(16) Sakilla Aftar Harahap

Tampilan tulisan di atas tersebut yang merupakan kata makna harafiah, tulisan

artinya “bijaksana” (latin), sedangkan bizlani yang artinya “tercinta” (slavia), dan

Sheika Sarah Harahap (15) jika diartikan kata perkata adalah, sheika yang artinya

“peri yang beruntung” (latin) dan sarah yang artinya “putri raja” (ibrani), sedangkan

Sakilla Aftar Harahap (16) jika diartikan kata perkata adalah sakilla yang artinya

“tempat asal” (latin) dan aftar yang artinya (damai), dan kata Harahap dari ketiga

tulisan di atas merupakan nama marga. Penulisan kata Salsabila Bizlani Harahap (14),

Sheika Sarah Harahap (15) dan Sakilla Aftar Harahap (16) di atas sesuai dengan

etimologi (asal-usul kata) dan kronologis munculnya kata-kata tersebut, sehingga

pemilihan kata (14,15, 16) pada tulisan di kaca angkutan umum tersebut dikarenakan

pemilik dari angkutan umum KPUB tersebut bermarga Harahap, dan memiliki ketiga

angkutan umum. Sehingga ketiga angkutan umum yang dimilikinya diberi tulisan ketiga

nama anaknya, karena merupakan rezeki untuk ketiga orang anaknya, agar pemiliknya

selalu ingat kepada anaknya, dengan demikian angkutan umum tersebut diberi tulisan

Salsabila Bizlani Harahap (14), Sheika Sarah Harahap (15) dan Sakilla Aftar Harahap (16).

4.2.8 Makna Idiomatikal

Chaer (2002:74) menyatakan bahwa “idiom adalah satuan-satuan bahasa yang

maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna

gramatikal satuan-satuan tersebut, karena makna idiom tersebut tidak lagi berkaitan

dengan makna leksikal atau gramatikal unsur-unsurnya, maka bentuk-bentuk idiom juga

menyebutkan sebagai satuan-satuan leksikal tersendiri yang maknanya juga merupakan

Makna idiomatikal yang terdapat pada tulisan di kaca angkutan umum adalah:

(5) Bismillahirrahmanirrahim

(12) Tiang Aras

(13) Rahasia

(14) Aek Sibundong

Pada tampilan di atas tulisan-tulisan tersebut yang merupakan makna

idiomatikal, makna idiomatikal Bismillahirrahmanirrahim (6) tulisan

Bismillahirrahmanirrahim merupakan lafaz bagi umat islam yang memiliki arti “dengan

menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. Pernyataan tersebut

dapat dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya. Tetapi setelah

didapatkan tuturan dari informan yang memahami situasi dan kondisi objek penelitian

maka, tulisan Bismillahirrahmanirrahim yang dimaksudkan oleh sopir (komunikator)

pada tulisan di kaca angkutan umum adalah agar sipengemudi tersebut selalu ingat

kepada tuhan yang maha esa yang memberi kita kenikmatan, dan selalu ingat untuk

mengucap lafaz Bismillahirrahmanirrahim yang digunakan untuk doa sebelum dan

sesudah mengerjakan sesuatu hal. Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis

yaitu makna yang sesuai dengan konteks tuturan. Jadi, tulisan tersebut merupakan

simbol dari sopir (komunikator) untuk penyebutan nama angkutan umumnya.

Tulisan Bismillahirrahmanirrahim mempunyai arti sesuai dengan etimologi

(asa-usul kata) atau kronologis munculnya kata-kata tersebut. Sehingga pemilihan kata

Bismillahirrahmanirrahim pada tulisan di kaca angkutan umum dikarenakan sopir

(komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna jalan. Tulisan

selalu ingat kepada tuhan yang maha esa, sehingga angkutan umum tersebut diberi

tulisan Bismillahirrahmanirrahim.

Tulisan Bismillahirrahmanirrahim memiliki arti atau maksud yang

berbeda-beda yang ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang

dihasilkan itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

Selanjutnya makna idiom Tiang Aras (12) tulisan tiang aras pada kaca

angkutan umum memiliki arti “tiang langit”, pada tulisan tiang langit (12) memiliki

kesinambungan (idiomatikal) pada kata rahasia (13) dimana kata rahasia memiliki arti

sesuatu yang beng belum dapat diketahui. Tetapi setelah didapatkan tuturan dari

informan yang memahami situasi dan kondisi objek penelitian maka, tulisan tiang aras

dan rahasia jika disatukan memiliki arti rahasia tiang langit, dimana sopir

(komunikator) memberi tulisan tersebut pada angkutan umumnya karena dalam

kehidupan ini penuh dengan rahasia yang tidak diketahui orang. Pernyataan tersebut

dapat dikatakan makna pragmatis yaitu makna yang sesuai dengan konteks tuturan.

Tulisan tiang aras (12) dan rahasia (13) merupakan simbol dari sopir

(komunikator) untuk penyebutan nama angkutan umumnya, tulisan tiang aras dan

rahasia dikarenakan sopir (komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna

jalan, seperti yang dituliskan di atas yaitu hidup ini penuh dengan rahasia, sehingga

angkutan umumnya tersebut diberi tulisan rahasia tiang aras.

Tulisan tiang aras dan rahasia memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda

yang ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang

dihasilkan itu sama tetapi makna serta maksud dapat berubah bagi para penerima pesan.

bahasa batak yang artinya “air”, sedangkan sibundong adalah nama suatu tempat.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna semantis yaitu makna yang sebenarnya,

karena tulisan tersebut merupakan simbol dari sopir (komunikator) untuk penyebutan

nama angkutannya, tulisan aek sibundong yang mempunyai arti sesuai dengan

etimologi (asal-usul kata) atau kronologis munculnya kata-kata tersebut, tetapi setelah

didapatkan tuturan dari informan yang memahami situasi dan kondisi objek penelitian

maka, tulisan aek sibundong diartikan oleh sopir (komunikator) adalah air yang tidak

pernah kering.

Sehingga pemilihan kata aek sibundong pada tulisan di kaca angkutan umum

tersebut dikarenakan sopir (komunikator) ingin menyampaikan pesan kepada pengguna

jalan terhadap tulisan aek sibundong yang memiliki arti lain yang disampaikan sopir

yaitu, “rezeki tidak pernah putus-putus kalau kita mau bekerja dan berusaha”.

Pernyataan tersebut dapat dikatakan makna pragmatis yaitu makna yang sesuai dengan

konteks tuturan. Jadi, tulisan aek sibundong merupakan ungkapan dari sopir

(komunikator) sehingga angkutan umumnya diberi tulisan aek sibundong.

Tulisan aek sibundong memiliki arti atau maksud yang berbeda-beda yang

ditafsirkan bagi para penerima pesan, karena tidak selamanya informasi yang dihasilkan

BAB V

Dokumen terkait