• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERUBAHAN NOL dan NILAI UANG DALAM MONETER ISLAM

Dalam dokumen Jurnal Ekonomika Tahaluf Siyasi dalam Ek (Halaman 100-113)

DAFTAR PUSTAKA

D. PERUBAHAN NOL dan NILAI UANG DALAM MONETER ISLAM

Kebijakan yang mirip dengan redenominasi pernah terjadi pada dinasti al-Ayyubiyah. Pencetakan fulus, mata uang terbuat dari tembaga yang dimulai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad al-Kamil Ibn al-‘Adil al-Ayyubi, yang dimaksud sebagai alat tukar terhadap

barang-barang yang tidak signifikan dengan rasio 48 fulus untuk setiap Dirhamnya.31 Pasca

pemerintahan Sultan al-Kamil, pencetakan uang tersebut terus berlanjut hingga pejabat di

propinsi terpengaruh dengan laba yang besar dari aktifitas ini. Kebijakan sepihak mulai diterapkan dengan meningkatkan volume pencetakan fulus dan menetapkan rasio 24 fulus

per Dirham yang mengakibatkan rakyat menderita kerugian besar karena barang-barang yang dahulu berharga setengah Dirham lalu menjadi satu Dirham.32

Dikenalkannya fulus sebagai mata uang juga memberi inspirasi beberapa pemerintahan Bani Mamluk untuk menambah jumlah uang. Berbeda dengan dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak, pencetakan fulus ini relatif lebih mudah dilakukan karena tembaga lebih mudah didapat. Sayangnya pemerintah terlena dengan kemudahan pencetakan uang baru. Keadaan semakin memburuk ketika Sultan Kitbagha dan Zahir Barquq mulai mencetak fulus dalam jumlah yang sangat besar dengan nilai nominal melampaui kandungan tembaganya. Fulus banyak dicetak, namun masyarakat lebih banyak menolak kehadiran fulus tersebut. Menyadari kekeliruannya, Sultan Kitbagha kemudian menyatakan bahwa fulus ditentukan nilainya dari beratnya dan bukan dari nominalnya.33

Keleluasaan pencetakan uang fulus yang dilakukan oleh kesultanan al-Ayyubiyyah dan Kitbagha didukung oleh alasan-alasan kemudahan memperoleh bahan yang digunakan untuk fals dibandingkan untuk memperoleh bahan dinar dan dirham serta pencetakannya tidak

30 Somoye dan Onakoya, “Macroeconomic Implication of Currency, 19

31 Al-Maqrizi, Ighatah al-Ummah bi Kashf al-Ummah (Kairo: Lajnah al-Ta’lif wa al-Tarjamah wa an-Nashr, 1940), 67 lihat juga Abdul Azim Islahi, Economics Concepts of Ibn Taymiyyah (London: the Islamic Foundation, 1988), 43.

32 Adiwarman Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008), 422, Is- lahi, Economics Concepts of Ibn Taymiyyah, 43

33 Nasution, Mustafa Edwin, dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. (Jakarta: Kencana, 2010), 255.

membutuhkan biaya yang banyak, di samping kepentingan politik di mana kesultanan mendapat keuntungan yang luar biasa dari hasil pencetakan uang fals dari hasil seignorage dibandingkan dengan mencetak Dinar dan Dirham yang tidak seberapa.

Ahmad dan Hassan menegaskan bahwa sebagai alat tukar, uang merupakan cara

mendefinisikan nilai dari suatu hal namun ia tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri, karena

itu tidak seharusnya menciptakan lebih banyak uang lagi melalui pembayaran bunga tetap

(fixed Interest payment). 34 Riba selain menimbulkan inflasi, spekulasi terhadap nilai uang akan

semakin tinggi yang mendorong lebih besarnya perdagangan uang dari pada barang, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara sektor keuangan dengan sektor riil dan antara pasar barang dan pasar uang. Ketidakseimbangan inilah yang menimbulkan krisis dalam perekonomian.35

Konsep makro ekonomi Al-Qur’an adalah keadilan sosial yang melahirkan apa yang disebut perbankan Islam bebas bunga.36

Status uang kertas sebagai riba akan lebih jelas dipahami dengan melihat uang kertas ansich, yang pada mulanya sebagai janji utang, atau promissory note dengan aset (umunya

emas) di baliknya. “dengan kata lain , pembayaran dengan uang kertas – dalam perspektif

muamalat – masih merupakan utang tidak kontan dan transaksi bersangkutan akan jadi sah sebagai jual beli ketika aset (emas) di belakangnya telah diserahkan. Kini uang kertas adalah

uang fiat yakni bernilai nominal karena keputusan politik negara, melalui hukum mata uang law

of legal tender yang bahkan tidak lagi berupa kertas melainkan sinyal elektronik. Pembayaran uang kertas adalah pembayaram tunda yang dalam perspektif Islam hanya dibenarkan untuk kontrak utang piutang, bukan jual beli; itu pun tetap dengan syarat kesetaraan nilai yang hanya dapat dipenuhi oleh mata uang yang terbuat dari aset. Salah satu yang mengakibatkan krisis moneter dan tidak stabilnya nilai mata uang adalah permainan spekulasi uang. oleh karena itu Islam menolak segala sesuatu yang yang berhubungan dengan spekulasi mata uang. 37 Sebagai contoh, akibat dari spekulasi yang mengakibatkan krisis moneter tahun 1998, maka bank sentral pada tahun 1999 harus mengeluarkan denominasi mata uang kertas dalam sejarah yaitu Rp. 100.000 pada tahun 1999 sebagai kompensasi inflasi dan tingkat nilai upah. Sampai saat ini mata uang Indonesia berada di kisaran 13.000 per Dollar AS dengan mata uang tertinggi adalah 100.000 tersebut.

Pembebanan bunga pada dasarnya merupakan seignorage dan sesuatu yang tidak adil dan menganiaya. Ketidakadilan alokasi sumber daya dalam sistem keuangan berbasis bunga konvensional saat ini secara luas telah diakui. Selanjutnya, margin bunga yang tinggi memiliki beberapa implikasi yang merugikan bagi perekonomian yaitu menghambat tabungan dan investasi.38 Suatu kewajaran jika alasan utama pendukung ekonomi dan keuangan Islam

34 Abu Umar Faruq Ahmad and M. Kabir Hassan, “Riba and Islamic Banking”, Journal of Islamic Economics, Banking and Finance, Volume 3, number 1 (January- July 2007), 16.

35 Amri Amir, “Redenominasi Rupiah dan Sistem Keuangan”, Jurnal Paradigma Ekonomika, Vol.1, No.4 Oktober (2011), 83

36 Frederick V. Perry, J.D., dan Scherazade S. Rehman, “Globalization of Islamic Finance: Myth or Reality?”, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 19; December (2011), 107. 37 Zaim Saidi, “Islam, Kapitalisme, dan Filantropi”, Galang: Jurnal Filantrofi dan Masyarakat Madani, Vol. 2 no. 2 April (2007), 54

38 Idrees Khawaja, “Interest Margins and Banks Asset Liability Composition”, The Lahore Journal of Economics, Vol 16: SE September (2011), 256.

bahwa bunga merupakan zulm – ketidakadilan dan eksploitasi. Islam menentang segala jenis eksploitasi dan memperjuangkan keadilan oleh karena itu argumen tradisional tentang bunga dalam segala bentuknya merupakan kekejian dan dilarang.39 Maka suatu keniscayaan jika Hifzur Rab mengatakan “interest is killer for the economy.” Ia menegaskan bahwa penipuan, korupsi

dan manipulasi adalah bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari sistem bunga.40

E. PENUTUP

Sistem moneter saat ini sangat tidak adil dikarenakan adanya hegemoni negara tertentu terhadap mata uang dunia. Hegemoni tersebut memberikan keuntungan sepihak kepada mereka baik secara ekonomi maupun politis, sementara di sisi lain negara-negara berkembang yang menggunakan mata uang mereka merugi. Dari sisi ekonomi mereka memperoleh keuntungan seignorage yang luar biasa smentara dari sisi politik mereka bisa mengatur volume uang dan memaksakan keinginan politik mereka, sehingga dapat dikatakan hegemoni uang menjadi alat kebatilan yang dilakukan oleh suatu negara terhadap rakyatnya sendiri atau negara lain secara paksa.

Di sisi lain penggunaan uang kertas sebagai mata uang sarat dengan riba, karena di dalamnya terdapat bunga dalam distribusinya serta pengambilan hak orang lain secara tidak

langsung dikarenakan adanya seignorage dan juga inflasi. sistem tersebut merupakan suatu

ketidakadilan dan zalim sehingga perlu dilakukan revolusi sistem secara fundamental baik dari materi uangnya maupun struktur moneter dunia secara umum. Ketidakadilan dalam produksi dan distribusi uang dapat memicu redenominasi uang setiap saat akibat distabilitas mata uang itu sendiri, di samping ketergantungan yang luar biasa suatu negara kepada mata uang kunci dunia. Baik buruknya perekonomian negara pemilik mata uang kunci dunia sangat berpengaruh terhadap negara pengekor, sebagi contoh adalah apa yang terjadi saat ini, di mana semakin membaiknya perekonomian Amerika Serikat berpengaruh buruk terhadap ekonomi negara- negara pengekor seperti Indonesia sendiri yaitu rupiah menurut drastis terhadap Dollar AS. Ketika tiada gading yang tak Retak!!!

l l l l l l l l

39 Mohammad Omar Farooq, “Exploitation, Profit and the Riba Interest Reductionism”,

International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, Vol. 5 Iss: 4, (2012), 293. lihat juga Hifzur Rab and Syeda Anjum, ”Freedom, Justice and Peace Possible only with Correct Wealth Measurement with a Unit of Wealth as Currency”, Humanomics, Vol. 26 Iss: 1, (2010), 40 40 Hifzur Rab, “Interest, Monetary Manipulation and Misunderstanding are Stifling Emergence of Just and Efecient Islamic Alternatif”, Seventh International Conference – the Tawhidi Epistemology: Zakat and Waqf Economy, Bangi, India, (2010), 180

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Abu Umar Faruq and Hassan, M. Kabir “Riba and Islamic Banking”, Journal of Islamic Economics, Banking and Finance, Volume 3, number 1 (January- July 2007)

Alao, Rasheed Olajide, “Revisiting the Central Bank of Nigeria August 2007 Proposal on Redenomination of the Nigerian Naira”, Journal of African Macroeconomic Review, Vol. 1 No. 1 (2011)

Al-Maqrizi, Ighatah al-Ummah bi Kashf al-Ummah, Kairo: Lajnah al-Ta’lif wa al-

Tarjamah wa an-Nashr, 1940

Amin, A. Riawan, Satanic Finance, Jakarta: Senaya Abadi, 2009

Amir, Amri, “Redenominasi Rupiah dan Sistem Keuangan”, Jurnal Paradigma Ekonomika, Vol.1, No.4 Oktober (2011),

Baba, Insah and Kenneth, Ofori Boateng, “Seignorage Revenue and Inflation in the Ghanaian Economy”, African Journal of Social Sciences, Volume 3 Number 1 (2013)

Brawly, Mark R., Turning Points: Decisions Shaping the Evolution of the Internastional

Political Economy, Canada; Broadview Press, ltd, 1998

Chandler, Marc, Making Sense of the Dollar: Exsposing Dangerous Myths about Trade

and Foreign Exchange, New York: Bloomberg Press, 2009

Dorn, James A., “Alternatives to Government Fiat Money”, Cato Journal, Vol.9, No.2 (Fall 1989),

Dzokoto, Vivian Afi Abui and Mensah, Edwin Clifford “Making Sense of a New Currency:

an Exploration of Ghanaian Adaptation to the New Ghana Cedi”, Journal of Applied Business

and Economics, Vol. 10 Issue 5 (2010)

Farooq, Mohammad Omar, “Exploitation, Profit and the Riba Interest Reductionism”,

International Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management, Vol. 5 Iss: 4,

(2012

Hasan, Asyari Penyederhanaan Mata uang dalam Axioma Ekonomi Islam, Batusangkar:

STAIN Batusangkar Press, 2014

Hosseini, Seyed Valiollah Mir, “Analysis of Lopping Zeros From National Currency of

Iran and Some Other Countries”, International Journal of Economics and Management Sciences,

Vol. 1, No. 4, (2011)

Ioana, Duca, “The National Currency Redenomination Experience in Several Countries-

Comparative Analysis”, International Multidisciplinary Symposium Universitaria Simpro,

(2005),

Islahi, Abdul Azim Economics Concepts of Ibn Taymiyyah, London: the Islamic

Karim, Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2008 Khawaja, Idrees “Interest Margins and Banks Asset Liability Composition”, The Lahore Journal of Economics, Vol 16: SE September (2011)

Kotler, Philip, Jatusripitak, Somkid dan Maesincee, Suvit, Pemasaran Keunggulan Bangsa: Pendekatan Starategis untuk Membangun Kekayaan Nasional. Diterjemahkan oleh

Aldi Jenie. Jakarta: Prenhallindo, 1998

Lane, Jan Erik dan Ersson, Svante, Ekonomi Politik Komparatif: Demokrasi dan Pertumbuhan Benarkah Kontradiktif. Diterjemahkan oleh Aris Munandar, Jakarta: PT

RadjaGrafindo Persada, 2002

Lianto, Johan and Suryaputra, Ronald “The Impact of Redenomination in Indonesia from

Indonesian Citizens’ Perspective”, Procedia - Social and Behavioral Sciences, Volume 40,

(2012)

Meera, Ahameed Kameel Mydin, Perampok Bangsa-bangsa: Mengapa Emas Harus Jadi Mata Uang Internasional. Diterjemahkan oleh Yulizar Djamaluddin Sanrego, Jakarta: Mizan

2010

Mehdi, Safdari and Reza, Motiee, “An Investigating Zeros Elimination of the National

Currency and its Effect on National Economy (Case study in Iran)”, European Journal of

Experimental Biology, 2 (4) (2012)

Mosley, Lyna, “Dropping Zeros, Gaining Credibility? Currency Redenomination in

Developing Nations”. Paper presented at the Annual Meetings of the American Political Science

Association, Washington, DC. (2005)

Muşetescu, Radu Cristian and Jora, Octavian-Dragomir, “The Theory of Political Monetary (Dis)Integration: a Minority Report from the Perspective of Austrian Economics”,

Romanian Journal of European Affairs, Vol. 12, No. 4, December (2012)

Nasution, Mustafa Edwin, dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Jakarta: Kencana,

2010

Ojameruaye, Emmanuel “A Qualitative Cost Benefit Assesment of the Redenomination of the Naira”, Tue August 24, (2010), 3, http://www.gamji.com/article6000/NEWS7367.htm

Perry, Frederick V., J.D, and Rehman, Scherazade S., “Globalization of Islamic Finance: Myth or Reality?”, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 19; December (2011)

Prawironegoro, Darsono, Ekonomi Politik Globalisasi: Kajian Kriris Kapitalisme dan

Perang Dunia Ketiga, Jakarta: Nusantara Consulting, 2010

Pujiyono, Arif, “Dinar dan Sistem Standar Tunggal Emas Ditinjau Menurut Sistem Moneter Islam”, Dinamika Pembangunan, Vol. 1 No. 2 / Desember (2004)

Rab, Hifzur “Interest, Monetary Manipulation and Misunderstanding are Stifling

Emergence of Just and Efecient Islamic Alternatif”, Seventh International Conference – the

________ and Anjum, Syeda ”Freedom, Justice and Peace Possible only with Correct

Wealth Measurement with a Unit of Wealth as Currency”, Humanomics, Vol. 26 Iss: 1, (2010) Saidi, Zaim, “Islam, Kapitalisme, dan Filantropi”, Galang: Jurnal Filantrofi dan Masyarakat Madani, Vol. 2 no. 2 April (2007)

Shopiaan, Ainur R., ed, Etika Ekonomi Politik: Elemen Strategis Pembangunan

Masyarakat Islam, Surabaya: Risalah Gusti, 1997

Somoye, Russell Olukayode Christopher and Onakoya, Adegbemi Babatunde,

“Macroeconomic Implication of Currency Management in Nigeria: a Synthesis of the Literature”, British Journal of Economics, Finance and Management Sciences Vol. 8 (1) (12 June 2013)

Oleh : Syahrul Efendi D

(Pemimpin Redaksi Jurnal EkonomiKa)

Dalil 1

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berbilang berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al A’raaf: 96).

Dalil 2

Diriwayatkan, beberapa bawahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepadanya. ”Sesungguhnya kota telah rusak. Jika Amirul Mukminin memberikan kepada kami sejumlah uang agar kami memperbaiki kota itu, maka kami akan melakukannya.”

Umar membalas surat itu, ”Jika kamu membaca surat ini, maka jagalah kota itu dengan cara kamu berlaku adil dan bersihkan jalan-jalannya dari kezaliman. Karena itulah sebenar-

benar perbaikan.” (Abdullah Hehamahua, 2015)

ULASAN

K

edua dalil di atas, sengaja dipilih untuk menunjukkan perspektif khas Islam tentang pengertian dan orientasi pembangunan (development). Yang pertama ialah dalil yang bersifat qath’iy dan prinsipil, sedangkan riwayat yang kedua merupakan bagaimana suatu perspektif Islam diterapkan secara historis. Bila pun kita mau lebih banyak mengumpulkan dalil tentang perspektif khas Islam tentang pembangunan, pastilah akan lebih banyak lagi yang terkumpul dengan nada yang sama dengan kedua dalil di atas.

Sebelum lebih jauh menguraikan kedua dalil di atas, ada baiknya kita terlebih dahulu bentangkan apa yang dimaksud dengan pembangunan (development) dalam pendapat umum. Mengapa dalam pendapat umum, sebab dalam suatu sistem demokrasi yang menjadi gejala umum bangsa-bangsa dewasa ini, pendapat umum selalu menjadi penentu ketimbang pendapat ilmiah sekalipun. Oleh karena itu, tampaknya lebih baik kita berurusan saja dengan pendapat umum ini.

Pembangunan dalam pendapat umum secara sederhana menyimpulkan ialah berdirinya secara besar-besaran infrastruktur di segala bidang dan bertambahnya kekayaan material suatu bangsa baik dalam indikator GNP atau pun GDP. Bahkan secara karikatural, pendapat umum menyimpulkan bahwa pembangunan ialah berdirinya jalan-jalan raya yang lebar dan pan- jang, jembatan-jembatan, instalasi listrik, gedung-gedung pencakar langit, pabrik-pabrik yang mengepulkan asap, gedung-gedung sekolah dan universitas yang megah, mobil-mobil mewah yang memadati jalanan kota, dan real estate-real estate yang menyulap lahan sawah menjadi

perumahan mewah dan seragam. Tentu saja pendapat umum yang mendefiniskan pembangu- nan seperti itu benar adanya. Sebab demikianlah faktanya. Tetapi adakah gambaran semacam itu yang dikehendaki oleh Islam tentang pembangunan?

Ayat dan riwayat tentang kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz di atas menunjukkan bahwa pembangunan atau perbaikan dalam perspektif Islam bukanlah terletak pada aspek material. Untuk hal itu, marilah kita ulas satu per satu, dan kita mulai dari Q.S. Al-A’raaf: 96 di atas. Ayat ini sangat unik. Padat dan berisi makna yang dalam sekali. Ayat ini pun dapat merupakan fondasi atas teori pembangunan dari sudut perspektif khas Islam.

Baiklah kita urai satu per satu makna kata-kata ayat yang luar biasa ini, sebelum mengaitkannya dengan teori pembangunan dalam perspektif Islam.

Uraian Kata dan Arti dari Q.S. Al-A’raaf: 96

1 Lau (sekiranya) 10 Minassama’ (Dari langit)

2 Anna (Bahwa sesungguhnya) 11 Wal ardl (dan bumi)

3 Ahlal qura (Penduduk suatu negeri) 12 Lakin (akan tetapi)

4 Amanu (Beriman) 13 Kadzzabu (Mereka mendustakan)

5 Ittaqaw (Bertaqwa) 14 Fa (maka)

6 La (niscaya) 15 Akhaznahum (kami ambil/kami siksa)

7 Fatahna (Kami bukakan) 16 Bima (dengan apa)

8 Alaihim (Atas mereka) 17 Yaksibun (yang mereka usahakan)

9 Barakaat (Barakah-barakah)

Pertama, menilik susunan kalimat pada ayat di atas, kandungan ayat adalah pernyataan suatu dalil yang berlaku umum. Dalil itu berbunyi, jika suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa, maka keberkahan dibukakan kepada mereka dari atas langit dan dari bumi. Uniknya, ayat itu ditutup oleh suatu keterangan atas suatu kenyataan akan kecenderungan umum umat manusia: mendustakan Tuhan. Closing ayat ini mengisyaratkan bahwa mewujudkan dalil atau rumus mencapai keberkahan itu tidaklah gampang. Tetapi bukan berarti tidak dapat dicapai.

Jika kita urai ayat ini, maka muncullah dua unsur kalimat, yaitu kalimat syarat dan jawab.

Unsur kalimat syaratnya ialah “jika suatu penduduk negeri beriman dan bertaqwa”, sedangkan

kalimat jawabnya adalah “Kami akan limpahkan kepada mereka berbilang berkah dari langit dan bumi”.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ayat ini adalah sebuah rumus kehidupan yang pasti, karena sangat logis di samping memang berasal dari Yang Maha Memiliki Hidup. Ayat ini pun dapat digunakan sebagai rumus pembangunan.

Dan yang perlu dicatat ialah terdapat dua kalimat ta’kid (penguatan) pada rangkaian kalimat, yaitu anna (bahwa sesungguhnya) dan la (niscaya). Hal ini menunjukkan bahwa ayat ini pasti dan tegas. Sudah barang tentu tidak ada keraguan padanya. Walhasil, ayat ini mengandung makna, bahwa suatu penduduk negeri akan dibukakan limpahan berkah dari langit dan bumi, apabila mereka beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Jadi syarat adanya berkah dari langit dan bumi, yaitu penduduk negeri beriman dan bertaqwa.

Logis sekali, beriman dan bertaqwanya penduduk negeri adalah prakondisi munculnya ketenteraman, keamanan, kesejahteraan dan kemakmuran, karena setiap orang akan gemar berbuat kebaikan dan keadilan secara suka rela. Individualisme, antagonisme, kezaliman dan

konflik perebutan material akan tereliminasi dengan sendirinya.

Menariknya, ayat ini menggunakan ahlal quraa (penduduk negeri), yaitu suatu subjek yang bersifat kolektif dan banyak. Jadi, rumus terbukanya keberkahan dari langit dan bumi, baru berlaku jika iman dan taqwa dilaksanakan oleh penduduk, jadi tidak saja pemimpinnya atau orang seorang dari penduduknya.

Kedua, ayat ini menggunakan kata barakat, yang artinya berbilang berkah. Apakah itu barakat atau barkah dalam kalimat mufrod (tunggal)? Dalam bukunya, Membedah Keberagamaan Umat Islam di Indonesia, Menuju Masyarakat Madani, Abdullah Hehamahua menguraikan secara luas makna barkah sebagai berikut:

“Perkataan barkah, seperti dijelaskan sebelumnya, mengandung tiga makna: mengalir; sedikit mencukupi, banyak menyenangkan; dan bertambah.

Misalnya, seorang anggota PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang hanya pesuruh di kantor, karena dia beriman dan bertaqwa, selalu bersyukur ketika menerima gaji sebesar Rp.500,000 per bulan. Kesyukurannya secara horisontal, yang pertama dilakukan adalah, mengeluarkan

2,5% dari gajinya untuk memenuhi hak fakir miskin. Berarti, hak dia dan keluarganya hanyalah Rp.487.500 karena dia telah menyerahkan Rp.12,500,- kepada fakir miskin yang berhak

menerimanya. Kesyukuran yang kedua dilakukan dalam bentuk shalat yang rajin karena dia akan menyampaikan terima kasih khusus kepada Allah SWT karena hari ini, dia telah diberi

kesempatan menabung di bank-Nya sebesar Rp. 8.750.000. Dari mana angka itu? Hal ini

diketahuinya dari Al-Qur’an, bahwa jika seorang muttaqin beramal dengan ikhlas, pahala

yang diperoleh sampai 700 kali lipat. Kesyukuran itu membuat dia merasa nikmat ketika

mengkonsumsi nasi dari beras lokal yang murah dengan lauk ikan teri dan daun singkong rebus.

Dengan manajemen kesyukuran seperti itu, uang sebesar Rp.487.500 tadi dapat digunakan

untuk keperluan hidup dirinya, isteri dan seorang anak kecil selama sebulan, tanpa berhutang, apalagi menipu dan mencuri peralatan di kantor.

Tanpa disadari, bulan berlalu dan tahun berganti, doa anak yatim dan fakir miskin yang selalu memperoleh zakat dari tukang sapu mendapat jawaban langsung dari Allah SWT. Dari status tukang sapu, hanya karena berpendidikan sekolah rendah, meningkat menjadi pengawas tukang sapu, lalu kepala seksi, kepala bagian dan pensiun sebagai kepala biro umum di departemen tempat dia bekerja. Tetapi yang membuat dia lebih bahagia, anaknya sekarang sudah menjadi pejabat di daerahnya hanya dengan modal, simpanan Rp.50.000 sebulan dan janji Allah atas zakat yang dikeluarkan setiap bulan, anaknya memperoleh bea siswa sampai mencapai gelar S3.

Jika penduduk suatu kampung beriman dan bertaqwa seperti tukang sapu di atas, Allah akan menurunkan barkah dari langit dan bumi. Bagaimana bentuknya? Dari langit, barkah Allah turun dalam bentuk hujan yang menyirami tanah, mengisi sungai, danau, laut dan sumur di dalam tanah. Tanpa air hujan, tidak ada sungai, sumur tanah, danau dan lautan. Hal ini

dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, --sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun--,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun- kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Q.S. Nuh: 10 – 12).

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). (Q.S Al Jin: 16).

Barkah dari bumi, manusia memperoleh air minum yang segar, sehat dan gratis pula. Barkah dari bumi berupa sayur-sayuran, padi dan buah akan tumbuh subur dan mendatangkan

panen yang berhasil, sebagaimana firman-Nya:

Dalam dokumen Jurnal Ekonomika Tahaluf Siyasi dalam Ek (Halaman 100-113)