EkonomiKa
EkonomiKa
Jurnal Paradigma Islam di Bidang Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan VOL. 3, NO. 1 TAHUN 2015/ ISSN 2338-2384
FAROUK ABDULLAH ALWYNI Pemimpin Umum
Jurnal Paradigma Islam di Bidang Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan EkonomiKa VOL. 3, NO. 1 TAHUN 2015/ ISSN 2338-2384 E
Diterbitkan oleh
Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED)
Alamat Redaksi: Jl. Tanah Abang IV No. 21 Jakarta Pusat 10160 Telp. 021-3503142 Fax. 021-3811355
DAFTAR ISI
Pembangunan Nasional Dan Ekonomi Syariah Kesejahteraan Yang Diberkahi—5
Dr. Abdullah Hehamahua
Perpajakan Yang Adil Dan Kesejahteraan Masyarakat: Tantangan Reformasi Ke
Bonus Demografi Dan Sumber Daya Manusia
Indonesia—83
Dimensions Of Islamic Bank’s Corporate Governance Issues In Indonesia: Does Regulatory Framework Matter ?—113 Sigit Pramono
Interview Dengan Sapto Waluyo
Isu : Keamanan Dalam Negeri, Pembangunan
Ekonomi, Dan Masa Depan Islam—125
Interview Dengan Muzni Umar, Ph.D : Kemiskinan, Umat Islam Dan
Pembangunan—134
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kepada Allah SWT, salawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Selaku Pemimpin Redaksi, saya akan mengantarkan sajian Jurnal EkonomiKa edisi ini kepada pembaca semua.
Mengingat pesatnya perkembangan penerapan ekonomi syariah di Indonesia belakangan ini, sudah tentu perlu ditunjang dengan perkembangan pemikiran dan gagasan. Itu semua dalam rangka institusionalisasi ekonomi syariah berjalan seimbang dan makin kaya serta inovatif.
Seperti yang diketahui, perkembangan ekonomi syariah menunjukkan kemajuan yang
signifikan. Namun agaknya cenderung terbatas pada wilayah finance. Ke depan, tidak menutup
kemungkinan perkembangan ekonomi syariah akan merambah ke berbagai aspek. Itu karena ekonomi syariah tidak semata-mata option, tapi ia menawarkan satu paradigma alternatif dari ekonomi konvensional.
Jurnal EkonomiKa mempromosikan paradigma Islam dalam hal bagaimana isu keuangan dirumuskan dan dikembangkan secara islami, termasuk isu ekonomi dan pembangunan secara luas. Islam, selain memiliki khazanah ajaran yang kaya terhadap pengaturan ekonomi, juga tak bisa disangkal, pengalaman sejarahnya berabad-abad dalam mengatur peradaban umat manusia, menjadikannya tambang pemikiran peradaban, termasuk pemikiran ekonomi, yang tiada habis-habisnya.
Dengan demikian, kami berpikir, suatu saat kelak ekonomi syariah ataupun ekonomi Islam tidak hanya cekatan bicara keuangan, perbankan, asuransi, dsb, tapi juga handal bicara pembangunan dan ekonomi politik. Sebab, pada isu ekonomi politik itulah sebetulnya muara dari seluruh masalah perekonomian. Mengingat masalahnya seperti itu, kami mengisi hidangan jurnal EkonomiKa dengan isu-isu ekonomi politik dengan berbagai macam latar belakang pendidikan dan profesi para penulis.
Oleh: Dr. Abdullah Hehamahua
K
etika banyak negara di dunia dililit utang, kemiskinan, pengangguran, bahkan pemberontakan sampai terjadi di negara-negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat, para analis dan pengamat ekonomi, kebingungan. Akhirnya, sampailah mereka pada kesimpulan, ekonomi kapitalis, sosialis, ekonomi campuran, dan ekonomi sekuler lainnya, gagal mendatangkan kesejahteraan hakiki, kenyamanan, keamanan, dan kedamaian bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, analis dan pengamat ekonomi yang cerdas dan berhati nurani, mulai melirik ekonomi Islam yang biasa disebut ekonomi syariah. Ditemukan, ekonomi syariah dapat menyelesaikan persoalan kesejahteraan manusia di muka bumi ini tanpa intimidasi, perbudakan, eksploitasi manusia terhadap manusia lain, bahkan tanpa kerusuhan dan peperangan. Sebab, ekonomi kapitalis, sosialis, ekonomi campuran, dan ekonomi sekuler lainnya (termasuk ekonomi Pancasila) memiliki pelbagai kelemahan, baik secara ideologis, moral maupun teknis aplikasinya sebagaimana dibahas secara garis besar di bab ini.Pada waktu yang sama, tujuan kemerdekaan Indonesia sebagaimana tersurat dan tersirat
dalam Mukadimah UUD 1945: lahirnya bangsa yang cerdas, sejahtera, aman dan damai serta
turut mendorong terciptanya perdamaian dunia yang abadi, jauh dari harapan. Hal ini dibuktikan dengan kenyataandi lapangan, setelah 64 tahun merdeka, World Bank masih menemukan
angka-angka seperti berikut: 49 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan; 2/3 penduduk Indonesia mengkonsumsi makanan kurang dari 2.100 kalori per hari; 70 juta rakyat Indonesia setiap malam kegelapan tanpa listrik; 119 juta penduduk Indonesia belum memiliki
akses terhadap air bersih; dan Penyediaan air bersih saat ini baru menjangkau 9 persen dari total penduduk Indonesia.1
Kondisi seperti di atas merupakan konsekwensi logis dari sentralisasi pembangunan
selama 32 tahun, selain suburnya KKN. Oleh karena itu, salah satu tujuan reformasi adalah
diterapkannya desentralisasi pembangunan melalui otonomi daerah sebagaimana diatur dalam
UU No. 22/1999 yang diamandemen menjadi UU No. 32/2004 tentang otonomi daerah.
Setelah 10 tahun reformasi, desentralisasi pembangunan belum menunjukan hasil yang signifikan. Salah satu sebabnya, Pemda tidak memiliki cetak biru strategi pembangunan daerah
yang benar dan komprehensif. Baik menyangkut SDM maupun program eksplorasi sumber daya
alam yang ada di setiap kabupaten/kota.Wajar kalau sebagian besar daerah, baik kabupaten/
kota asal maupun daerah pemekaran boleh dianggap gagal melaksanakan desentralisasi pembangunan. Namun, hakikat dari semua kegagalan selama ini, baik sejak orde lama, orde baru, maupun orde reformasi karena ideologi Islam tidak disertakan dalam setiap perencanaan pembangunan nasional, khususnya sistem ekonomi, baik di Bappenas, Kementerian Keuangan, Istana, maupun di DPR. Mereka hanya terpukau, bahkan mendewakan ekonomi kapitalis, sosialis, ekonomi campuran yang di dalamnya termasukekonomi Pancasila. Oleh karena itu, di bab ini, dikomunikasikan, apa, bagaimana, dan hubungan di antara ekonomi kapitalis, sosialis, campuran, ekonomi Pancasila, dan ekonomi Islam.
A. EKONOMI KAPITALIS
Menurut Umar Chapra yang dikutip Abdul Manan,2 ekonomi kapitalis memiliki lima ciri,
yakni:
a. Ekspansi kekayaan yang dipercepat dan produksi yang maksimal serta ”keinginan” (want) menurut pereferensi individu sebagai sangat esensial bagi kesejahteraan manusia;
b. Kebebasan individu yang tidak terhambat dalam mengaktualisasi kepentingan diri sendiri dan kepemilikan atau pengelolaan kekayaan pribadi sebagai suatu hal yang sangat penting bagi inisiatif individu;
c. Inisiatif individu ditambah dengan pembuatan keputusan yang terdesentralisasi
dalam suatu pasar yang kompetitif sebagai syarat utama untuk mewujudkan efisiensi
optimum dalam alokasi sumber daya;
d. Tidak mengakui pentingnya peran pemerintah atau penilaian kolektif, baik dalam
efisiensi alokatif maupun pemerataan distribusi;
e. Mengklaim, melayani kepentingan diri sendiri oleh setiap individu secara otomatis melayani kepentingan sosial kolektif.
Berdasarkan ciri-ciri di atas, Abdul Manan berpendapat, ekonomi kapitalis merupakan sistem ekonomi yang bersandar atas kebebasan dalam melakukan kegiatan ekonomi yang meliputi kebebasan dalam melakukan kepemilikan, transaksi, produksi, penentuan upah dan harga, konsumsi serta kebebasan untuk menasarufkan income dan kekayaan. Semua kesepakatan yang ada berdasarkan mekanisme pasar bebas yang membentuknya, dengan tujuan meraih keuntungan materi bagi pihak yang terlibat dalam transaksi. Langkah yang menonjol ditempuh kapitalisme dalam menghadapi revolusi industri adalah menciptakan kondusivitas dalam perkembangan sektor industri, kawasan industri, dan kongsi dagang serta lembaga keuangan dan perbankan.
Berdasarkan ciri-ciri ekonomi kapitalis tersebut, hampir di seluruh dunia, dilakukan proses pembangunan dengan metode-metode sebagai berikut:
1. Pembangunan Ekonomi Karena Tuntutan Manusia
Pada abad ke-20, setelah begitu lama ekonomi kapitalis diterapkan, timbul pertanyaan,
mengapa tingkat perkembangan di banyak negara tidak sepertiyang diharapkan. Itulah sebabnya – menurut ekonom Barat - penyelidikan tentang pembangunan ekonomi menjadi penting. Selain itu, ada fakta lain yang memengaruhi mereka, antara lain:
1) Enampuluh tujuh persen penduduk dunia hanya menerima kurang dari tujuh belas persen pendapatan dunia.
2) Adanya perbedaan tingkat hidup antara negara yang satu dengan yang lain, dan perbedaan ini semakin besar.
Alasan, mengapa negara maju memerhatikan pembangunan di negara sedang berkembang adalah:
a. Alasan politis, yaitu untuk mencegah masuknya pengaruh dari bloklain;
b. Alasan ekonomis, yaitu untuk memperluas perdagangan internasionalnya;
c. Alasan perikemanusiaan
Beberapa hal yang perlu diketahui berkaitan dengan masalah pembangunan ekonomi – masih menurut ekonom Barat -, antara lain:
a. Pembangunan ekonomi, tidak saja merupakan usaha negara-negara yang relatifsudahberkembang, tetapi juga usaha-usaha dari negara-negara yangsudah berkembang;
b. Pembangunan ekonomi adalah usaha-usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang ini seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita. Jadi tujuan pembangunan ekonomi yang diajarkan di bangku kuliah adalah selain meningkatkan pendapatan nasional riel, juga meningkatkan produktivitas. Sedangkan ekonomi pembangunan adalah ilmu yang memelajari pembangunan ekonomi, tidak saja menggambarkan jalannya perkembangan ekonomi, tetapi juga menganalisis hubungan sebab akibat dari faktor-faktor perkembangan tersebut.
Todaro misalnya, mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multi
dimensional yang mencakup perubahan struktural, sikap hidup dan kelembagaan, selain masalah peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidak-merataan distribusi dan pemberantasan kemiskinan;
c. Secara teoritis – sebagaimana diajarkan di univeritas - ada dua faktor yang memengaruhi perkembangan ekonomi suatu negeri: faktor ekonomi dan non-ekonomi (sistem hukum, pendidikan, kesehatan, agama, pemerintahan, dan sebagainya). Namun, selain masalah teori, perkembangan ekonomi juga perlu ditinjau dari segi sejarah, terutama mengenai tahapan-tahapan perkembangan tersebut. Selain itu, dibicarakan pula tentang masalah-masalah kebijakan di mana kebijakan bagi suatu negara tertentu belum tentu bisa diterapkan di negara lain;
d. Dalam pertumbuhan ekonomi, terdapat lebih banyak output, dan ada perkembangan atau pembangunan ekonomi. Bahkan, tidak hanya terdapat lebih banyak output, tetapi juga perubahan-perubahan dalam kelembagaan dan pengetahuan teknik dalam menghasilkan output yang lebih banyak itu. Pertumbuhan dapat meliputi penggunaan lebih banyak input dan lebih efisien, yaitu adanya kenaikan output per satuan input. Dengan perkataan lain, setiap kesatuan input dapat menghasilkan output yang lebih banyak;
e. Pembangunan/perkembangan ekonomi menunjukkan perubahan-perubahan dalam
struktur output dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian di samping kenaikan output. Jadi pada umumnya, ”pembangunan/perkembangan” selalu dibarengi dengan ”pertumbuhan”, tetapi ”pertumbuhan” belum tentu disertai
dengan ”pembangunan/perkembangan”. Tetapi di tingkat permulaan, mungkin
2. Ciri Negara Sedang Berkembang
Sistem ekonomi nonsyariah apa pun yang diterapkan, baik ekonomi kapitalis, sosialis, maupun ekonomi campuran, ciri-ciri negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, sama. Ciri-ciri tersebut antara lain:
a. Terdapat masyarakat miskin hampir di setiap daerah di suatu negara;
b. Banyak pengemis ditemukan di kota, baik ibu kota negara, provinsi, kabupaten, bahkan di tingkat kecamatan;
c. Orang-orang desa hidup di bawah standar minimal;
d. Jarang ada pabrik karena menyangkut kesediaan energi;
e. Jalan raya, kereta api dan pranata pemerintah terbatas;
f. Rumah sakit dan lembaga pendidikan terbatas;
g. Banyak penduduk yang masih buta huruf;
h. Hanya ada bebarapa orang yang kaya;
i. Kegiatan ekspor khusus produk pertanian dilakukan oleh agensi asing;
j. Sistem perbankan tidak maju. Sistem peminjaman uang melalui sistem riba dan lintah darat.
3. Aspek-aspek Kemiskinan
Ciri-ciri negara sedang berkembang yang disebutkan di atas, penyebab utamanya, kemiskinan. Kemiskinan di sini dalam artian manusia memiliki sedikit makanan dan pakaian. Oleh karena itu, Baldwin & Meier mengemukakan enam sifat ekonomis yang terdapat di negara-negara miskin atau sedang berkembang, yaitu:
1) Produsen Barang-barang Primer
Negara sedang berkembang pada umumnya mempunyai struktur produksi yang terdiri dari bahan dasar dan bahan makanan. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian, dan sebagian besar penghasilan nasional berasal dari sektor pertanian dan produksi primer non pertanian. Hanya sebagian kecil penduduk yang bekerja di sektor produksi sekunder dan produksi tersier.
Pada umumnya penduduk di negara sedang berkembang yang bekerja di sektor produksi primer meliputi lebih dari 60 persen. Di sektor produksi sekunder, kurang dari
20 persen, sedangkan di sektor produksi tersier kurang lebih 20 persen. 2) Masalah Tekanan Penduduk
a. Adanya pengangguran di desa-desa;
b. Kenaikan jumlah penduduk yang pesat;
c. Tingkat kelahiran yang tinggi tersebut menyebabkan makin besar jumlah anak-anak yang menjadi tanggungan orang tua, sehingga menurunkan tingkat konsumsi rata-rata. Hal ini dikarenakan tingkat produksi yang relatif tetap dan rendah.
3) Sumber Alam Belum Banyak Diolah
Di negara-negara sedang berkembang, sumber-sumber alam belum banyak dieksplorasi atau pun tidak optimal eksplorasinya, sehingga masih bersifat potensial. Sumber-sumber alam ini belum dapat menjadi sumber-sumber yang riil karena kekurangan kapital, tenaga ahli dan semangat wiraswasta.
4) Penduduk Masih Terbelakang
Secara ekonomi, penduduk di negara-negara sedang berkembang relative masih
terbelakang. Artinya, kualitas penduduknya sebagai faktor produksi yang kurang efisien,
kurang dinamisdalam pekerjaan, baik secara vertikal maupun horizontal.
5) Kekurangan Modal
Kekurangan modal disebabkan rendahnya tingkat investasi. Rendahnya tingkat investasi dikarenakan lemahnya kondisi tabungan sebagai akibat dari minimnya tingkat penghasilan. Terbatasnya penghasilan karena tingkat produktivitas yang rendah daripada tenaga kerja, sumber daya alam, tanah dan kapital.
6) Orientasi ke Perdagangan Luar Negeri
Perbedaan di antara negara-negara sedang berkembang dengan negara-negara yang sudah berkembang dalam hal perdagangan luar negeri adalah:
a. Barang-barang yang diperdagangkan negara-negara sedang berkembang adalah barang-barang produksi primer, bahkan hampir seluruhnya untuk diekspor. Ini antara lain disebabkan negara-negara tersebut tidak mampu mengolah hasil-hasil produksi primer tersebut menjadi komoditi yang lebih berguna;
b. Barang-barang yang diperdagangkan negara-negara berkembang adalah barang-barang produksi primer disebabkan surplus dalam negeri diikuti dengan perdaganganproduksi jasa, produksi sekunder dan tertier.
4. Manfaat Pembangunan Ekonomi
Menurut buku-buku teks Barat, dengan adanya pembangunan ekonomi, output atau kekayaan suatu masyarakat atau perekonomian akan bertambah. Di samping itu, kebahagiaan penduduk meningkat karena pembangunan ekonomi tersebut menambah kesempatan untuk mengadakan pilihan yang lebih luas.
adanya penambahan kekayaan, karena harus menghadapi masalah keterbatasan energi, problem lingkungan hidup, dan penghematan penggunaan sumber daya alam. Jadi, tidak ada bedanya di antara manusia dan kerbau dalam menikmati hasil pembangunan. Mungkin perbedaaannya, manusia memeroleh fasilitas untuk lebih adaptip atau progresif dalam mengantisipasi keadan dan lingkungannya. Khusus di Indonesia, Penyelenggaran Negara, baik pejabat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif yang ditahan lembaga penegak hukum adalah mereka yang memeroleh gaji di atas lima puluh juta rupiah sebulan. Mereka memiliki rumah dan mobil mewah lebih dari satu dan simpanan dan deposito di bank, bermilyar-milyar rupiah. Fakta ini membuktikan kegagalan ekonomi kapitalis yang mengajarkan, manusia bahagia dengan harta dan uang yang banyak.
Dalam kehidupan tradisonal, masyarakat hidup dalam budaya pertanian dan peternakan. Mereka bekerja hanya untuk memenuhi keperluan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, di negara-negara sedang berkembang, 60 persen rakyatnya adalah petani, sedangkan di AS, hanya
10 persen rakyatnya menjadi petani. Oleh karena itu, seorang petani Amerika dapat memberi makan 70 orang, sedangkan seorang petani Rusia hanya bisa memberi makan sepuluh orang. DiInggeris,seorang petani dapat memenuhi keperluan asupan makanan 62 orang warga negara, sedangkan di Jerman dan Perancis, angkanya menurun, yaitu sebanyak 37dan36 orang.
Jika di negara sedang berkembang, hasil produksi hanya cukup untuk keperluan dalam negeri, di negara maju, banyak kelebihan produksi yang digunakan untuk komoditi ekspor. Dengan demikian, rakyat memiliki kesempatan untuk memeroleh alat pemuas dan kenikmatan. Dampaknya:
a. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan lelaki dalam status soial dan pemilihan pekerjaan;
b. Kesempatan untuk membantu orang lain yang kekurangan.
5. Dampak Pembangunan Ekonomi Non-syariah
Apa yang dilakukan para pakar ekonomi kapitalis, baik secara teoritis maupun program dan kegiatan pembangunan nasional di masing-masing negara, menunjukkan pelbagai kelemahan dan dampak negatif. Hal ini, menurut Said Sa’ad Marthon dalam Abdul Manan, seiring dengan perubahan zaman dan pertumbuhan ekonomi sebagai dampak revolusi industri, sistem ekonomi kapitalis semakin dihadapkan pelbagai kelemahan dalam sistem operasional. Dengan demikian, ekonomi kapitalis tidak mampu menjawab semua tantangan ekonomi yang terjadi saat ini. Sistem ekonomi kapitalis tidak mampu menanggulangi ekses revolusi industri terhadap aspek ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan tanpa adanya intervensi pemerintah.
Dalam kondisi seperti inilah kapitalisme memerlukan peran pemerintah sebagai intermediasi roda perekonomian. Justeru hal ini merupakan faktor utama dari eksistensi kapitalisme sampai saat ini. Bahkan, perkembangan politik dan ekonomi yang terjadi di Eropa setelah Perang Dunia I dan II, menyebabkan ekonomi kapitalis kehilangan kendali dalam merealisasikan kesejateraan masyarakat.
Amerika Serikat selaku pelopor dari sistem ekonomi kapitalis telah menjadi korban dari
sistem yang dibuatnya sendiri. Separuh dari kekayaan dan keuntungan dari sebanyak 200.420 unit perusahaan industri telah dikuasai oleh hanya 102 unit perusahaan industri raksasa.
neraca pembayaran Amerika Serikat menjadi terganggu dan terpaksa melepaskan perdagangan bebasnya dengan cara mengadakan kuota dari tarif terhadap perdagangan luar negerinya.
Dari penomena dan kelemahan ekonomi kapitalis seperti disinggung di atas, menurut Prof. Halm yang dikutip Abdul Manan, ada empat indikator penting yang biasa digunakan untuk menyerang ekonomi kapitalis, yakni: Pertama, distribusi kekayaan dan pendapatan yang tidak merata di mana ketidakmerataan yang demikian menyebabkan ketidakmerataan dalam kekuasaan ekonomi dan politik. Kedua, sistem ini dianggap kurang produktif dibandingkan sistem kolektif yang dapat merencanakan pembangunan dengan cermat. Ketiga, sistem kapitalis tidak cukup kompetitif. Motif mencari laba dan perjuangan yang kompetitif bersama dengan
teknologi modern, menyebabkan kecenderungan monopoli yang tampaknya melanggar filsafat
ekonomi kapitalis sendiri. Keempat, sistem kapitalis tidak selalu mempertahankan tingkat kesempatan kerja yang tinggi.
Prinsip ekonomi kapitalis, dengan modal yang sedikit menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya, maka kondisi yang ditemukan dalam pembangunan ekonomi antara lain:
a. Harus bersifat efisien; b. Harus efektif;
c. Produktivitas meningkat
Dalam konteks ini, dampak negatif dari pembangunan ekonomi kapitalis dan sosialis antara lain:
a. Sifat individualistis subur dalam masyarakat;
b. Kehidupan hedonistis merajai pola budaya masyarakat;
c. Dekadensi moral melanda hampir seluruh komponen masyarakat, termasuk remaja;
d. Semangat gotong royong anggota masyarakat, menurun.
Dengan demikian, dapat disimpulkan, ekonomi kapitalis gagal mengsejahterakan masyarakat, bahkan sebaliknya, membuat negara-negara sekutunya dililit utang dan dekadensi moral, bahkan penuh kerusuhan dan pergolakan internal negara-negara tersebut. Tidak ada pilihan lain, menurut saya, pimpinan dunia, khususnya elit politik, legislator, eksekutif, dan cendekiawan di Indonesia, ikhlas menerapkan sistem ekonomi syariah, ekonomi Islam yang membawa keberkahan.
B. EKONOMI SOSIALIS
Seperti diketahui, ekonomi sosialis lahir sebagai reaksi terhadap ekonomi kapitalis. Sebab, ia dinilai, tidak mengsejahterakan masyarakat karena hanya mengutamakan kepentingan golongan kapital. Ide ini digagas oleh partai demokrat sosialis di Inggeris yang kemudian
memeroleh sambutan positif di negara-negara Eropa Timur seperti: Polandia, Yugoslafia, dan
Hongaria. Menurut para pakar yang pendapatnya dikutip Abdul Manan, ekonomi sosialis ini
yang memicu lahirnya ekonomi komunisme yang dipraktikkan setelah revolusi Rusia (1917).
ekonomi komunis ini diganti dengan ekonomi sosialis demokrat. Sebab, sistem ekonomi komunis dianggap tidak efektif dan sangat sulit dalam aplikasinya.
Menurut Ensyclopedia Britannica yang dikutip Abdul Manan, ekonomi sosialis adalah kebijakan atau teori yang bertujuan untuk memeroleh suatu distribusi yang lebih baik dengan tindakan otoritas demokratis pusat, kepadanya perolehan produksi kekayaan yang lebih baik daripada yang sekarang berlaku sebagaimana mestinya diarahkan.Sedangkan menurut Sa’ad Marthon, yang dimaksud ekonomi sosialis adalah kebijakan ekonomi yang lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat umum daripada kesejahteraan pribadi. Sistem ini berprinsip tentang urgensi pemerintah dalam perekonomian di mana tidak diakui adanya kepemilikan individu. Resources dan semua faktor produksi seperti tanah, industri, dan infrastruktur yang ada merupakan hak kepemilikan negara. Bahkan segala kebijakan dan perencanaan tentang stabilitas perekonomian ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah atau negara.
Sejalan dengan definisi tersebut, dengan sedikit penambahan, Joad yang dikutip Abdul
Manan mengatakan, inti ekonomi sosialis terletak dalam beberapa hal, yakni: Pertama, penghapusan milik pribadi atas alat produksi, dan hal ini akan diganti oleh pemerintah atau negara dalam hal pengawasan atas industri dan pelayanan utama. Kedua, sifat dan luasnya industri dan produksi mengabdi kepada kebutuhan sosial dan bukan kepada motif laba. Ketiga, dalam kapitalisme, daya penggerak adalah keuntungan pribadi sedangkan dalam sistem ekonomi sosialis, motif bukan di keuntungan pribadi tetapi lebih ditekankan kepada motif kepentingan pelayanan sosial.
Dalam konteks ini, Abdul Manan mengatakan, kebanyakan orang sosialis mengharapkan gaji yang berbeda-beda sesuai dengan produktivitas pekerja sehingga ada selisih gaji yang dapat mendorong masyarakat untuk mengembangkan keterampilannya dan berusaha untuk bekerja lebih tekun demi kepentingan bersama. Golongan sosialis yakin, dalam sistem ekonomi sosialis, terdapat semangat kerjasama dan pelayanan yang sangat baik untuk mencapai kemakmuran bersama. Sebab, di sini tidak ada lagi persaingan sebagaimana yang terdapat di ekonomi kapitalis. Justru yang ada adalah norma moralitas dan etika yang baru.
Menariknya, sistem ekonomi sosialis – masih menurut Abdul Manan - dibangun di atas tiga pilar utama: marxis, market, dan democratic sekalipun ada pula varian pecahan yang lain,
tetapi tidak signifikan. Selanjutnya dikatakan, hampir semua tokoh pendiri ekonomi sosialis
mempunyai kritik yang sama terhadap ekonomi kapitalis. Menurut mereka, pasar bebas yang diagung-agungkan ekonomi kapitalis, dalam pelaksanaannya, tidak dapat dikontrol dengan baik. Akibatnya, alokasi sumber daya selalu memihak orang-orang kaya dan memperpanjang ketidakadilan serta timbulya kesenjangan dalam pendapatan dan kekayaan.
Sistem ekonomi sosialis, menurut mimpi para pengagasnya, lahir suatu masa depan yang sebagian besar rakyat biasa mengambil kendali kekuasaan, baik secara paksa maupun demokratis dari tangan kaum kapitalis. Mereka ingin menciptakan suatu masyarakat yang
demokratis dan egaliter, bebas dari konflik kelas dan didasar atas perencanaan komprehensif
dan kontrol publik terhadap sarana-sarana produksi. Kritik terhadap agama merupakan fondasi dari semua yang dilakukannya di mana mereka membangun ideologi yang berbau sekuler dan anti agama, bahkan berperilaku ateis.
sosialis juga mengalami kendala bahkan kegagalan. Hal ini dibuktikan dengan adanya unjuk rasa atau mogok kerja yang dilakukan pekerja yang menuntut kenaikan gaji atau kebebasan dari tekanan penguasa (majikan) suatu perusahaan dan juga dari negara. Menurut Abdul Manan, persoalan yang selalu menghantui ekonomi sosialis adalah peningkatan produktivitas, neraca
pembayaran internasional serta nilai inflasi yang sampai sekarang belum terselesaikan. Sebab,
sistem ekonomi sosialis yang dibangun Marx beserta rekan-rekannya banyak terjadi kendala dalam pelaksanaannya, maka Lenin ketika berkuasa mengambil kebijaksanaan yang berbau kapitalis yang sering disebut dengan ”step backward in order to take two steps ahead.”
Kebijaksanaan kapitalis yang diambil Lenin, antaranya memperluas lembaga perbankan dan kebijaksanaan dalam bidang monoter sehingga modal asing dapat masuk. Bahkan, tenaga ahli dari negara kapitalis diminta bantuannya untuk menangani industri berat sehingga pasar yang terdesentralisasi dalam suatu pasar kompetitif sebagai suatu hal yang sangat penting bagi insentif individu. Impian golongan sosialis untuk menciptakan sebuah masyarakat egaliterian yang penuh persaudaraan tanpa ada upah, tanpa kelas sosial, dan akhirnya tanpa negara, tetap tidak terwujud. Kaum buruh masih saja tetap sebagai penerima upah dengan kebebasan bergerak
yang sempit. Kelas sosial juga masih tetap ada tanpa perubahan yang signifikan. Diktator proletar
tidak dapat diwujudkan dan lenyapnya negara juga belum dapat dilihat, malah kekuasaan negara semakin kuat dan penuh kuasa. Dengan kata lain, ekonomi sosialis yang dibangun atas dasar ketidakpuasan dengan praktik ekonomi kapitalis juga tidak dapat diharapkan sebagai sistem ekonomi yang baik masa kini. Hal ini disebabkan bekerjanya sistem ini tidak seirama dengan falsafah yang mendasarinya, dan sasaran yang ditetapkan saling bertentangan satu sama lain.
Bahkan, ia condong pada lahirnya dialektika kebencian, konflik, dan eliminasi yang mendorong
semua hasil produksi kepada segelintir orang. Sistem ekonomi sosialis sebenarnya tidak memiliki keteladan sejak awal berdirinya sebagaimana yang disebutkan kebanyakan orang.
C. EKONOMI CAMPURAN
Sebagian manusia, khususnya golongan Yahudi, Nasrani, dan Muslim sekuler, begitu alerginya terhadap Islam sehingga sekalipun mengetahui ekonomi kapitalis dan sosialis, sudah gagal, mereka tidak mau mengakui kelebihan sistem ekonomi Islam. Ada pula di antara mereka yang menyakini kebenaran Islam, tetapi malu mengakuinya sekalipun barangkali mereka melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mengapa di Indonesia ada Demokrasi Pancasila, Ekonomi Pancasila, Pendidikan Pancasila, Keluarga Pancasila, bahkan ada pula Pelacur Pancasila.3
Dalam konteks ini, diperkenalkan sistem ekonomi campuran yang oleh Abdul Manan disebutkan sebagai campuran di antara sebagian subsistem kapitalis, subsistem sosialis dengan subsistem negara setempat. Menurutnya, dalam pencampuran sistem ini, akan muncul berbagai kemungkinan, yakni akan timbul kelompok kepatalis birokrat atau pun sosialis birokrat. Atau pun muncul pula sosiokapitalis birokrat.
Dalam praktik, sistem ekonomi ini – sistem ekonomi campuran - bertambah tidak efisien
dan semakin merosotnya kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah. Pada
umumnya, yang menganut sistem ekonomi campuran adalah negara-negara berkembang yang tidak bersedia menganut secara total sistem ekonomi kapitalis, ekonomi sosialis atau ekonomi syariah.
Sesuai dengan ketentuan Allah swt, setiap kebatilan akan hancur, tanpa peduli, siapa pelakunya dan di mana pun kebatilan itu terjadi di belahan bumi ini. Oleh karena itu, sama dengan ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis, ekonomi campuran ini juga mengalami kegagalan. Sebab, sistem ini tidak dibangun di atas prinsip-prinsip ekonomi yang kuat karena
dalam praktiknya, ia selalu berubah-ubah, mengikuti fluktualisasi perkembangan sistem ekonomi yang lain. Inflasi yang berkepanjangan yang melanda negara-negara berkembang,
mengakibatkan biaya hidup menjadi tinggi dan mengakibatkan banyak timbul pergolakan dan pemogokan kaum buruh. Ternyata, belum ditemukan solusi terbaik oleh sistem ekonomi capuran untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas. Sistem ekonomi campuran ini
dalam kegiatannya cenderung ke arah sekuler dan mencari profit semata tanpa memerhatikan
nilai-nilai spiritual.
Disebabkan ekonomi campuran tidak dapat memberi jalan keluar terhadap kemelut ekonomi dunia dewasa ini, maka menurut Abdul Manan, beberapa negara telah mengambil jalan sendiri yang berbeda-beda dengan mengadakan kerjasama ekonomi regional. Misalnya negara Indochina yang meliputi Kamboja, Laos, dan Vietnam menjurus ke arah perilaku ”ekonomi ke-budhaan” yang lebih bersifat sederhana. Negara-negara Eropa telah menjurus ke satu kesatuan kebijaksanaan dan bahkan telah mengarah ke kesatuan mata uang. Jepang, Korea, dan Taiwan telah muncul sebagai negara industri baru di Asia Timur Jauh. Ketiga negara ini lebih mengandalkan tenaga kerja yang ahli dan terampil dalam membangun ekonominya. Iran, Pakistan, dan Malaysia lebih mengarah ke sistem ekonomi Islam untuk keluar dari segala masalah ekonomi yang dihadapinya.
Menurut Suroso Imam Zadjuli dalam Abdul Manan, penyebab kegagalan ketiga sistem ekonomi tersebut – kapitalis, sosialis, dan ekonomi campuran – antara lain: Pertama, terdapat perang tarif, proteksi maupun kuota antarnegara. Kedua, kebebasan penanaman modal tidak terdapat lagi karena mobilisasi dana antarnegara selalu terkait dengan sistem ekonomi maupun politik dari negara pemilik dana. Ketiga, cepatnya keausan teknologi maupun semakin pendeknya umur teknik dari suatu peralatan sebab telah out of date serta tersisih oleh teknologi yang lebih canggih. Keempat, pengangguran struktural yang sulit diatasi dengan segera. Kelima, ketidakmampuan pemerintah atau para teknorat ekonomi dalam menguasai ekonomi makro secara terintegritasi sehingga banyak sasaran yang tidak dapat dicapai yang hanya menimbulkan pemborosan. Keenam, perubahan nilai tukar antarnegara atau perbedaan kurs antarmata uang, menimbulkan permasalahan sendiri dalam hubungan ekonomi internasional. Ketujuh, banyak negara yang ingkar janji dalam membayar utangnya, terutama negara-negara di Amerika Latin seperti Meksiko, Argentina, dan Panama. Bahkan, Amerika Serikat dan Perancis membekukan assetIran, Irak, dan Libia tanpa alasan yang jelas. Kedelapan, semakin bergeser tata nilai untuk mengukur keberhasilan pembangunan dalam suatu negara yang meliputi Gross National Product (GNP), Measures of Economic Welfare (MEW), Net Natural Welfare (NNW), Physical Quality of Life Indicator (POLI), Basic Human Need (BHN), dan Zero Environmental Impact (ZAI).
sistem ekonomi yang mandiri, bukan diadopsi dari ekonomi liberal, kapitalis, komunis, dan sebagainya. Motif ekonomi Islam adalah mencari keberuntungan di dunia dan akhirat dengan jalan beribadah dalam arti yang luas.Sistem ekonomi Islam cukup berjaya dalam menyelesaikan segala masalah ekonomi dunia pada abad pertengahan. Kini, potensi yang hilang ini mulai dibangun kembali.
D. EKONOMI PANCASILA, EKONOMI CAMPURAN?
Jika diamati dengan cermat, pembangunan nasional di Indonesia, termasuk sistem ekonominya merupakan sistem ekonomi campuran. Hal itu dimulai pada masa orde baru dan dilanjutkan pada orde reformasi dengan beberapa penyempurnaan seperti dijelaskan berikut.
1. Sejarah Desentralisasi
Perdebatan di antara Bung Karno dan Bung Hatta mengenai skala prioritas pembangunan berakhir dengan mundurnya Bung Hatta sebagai Wakil Presiden. Hal ini disebabkan masalah prinsip di mana Bung Hatta menginginkan pendidikan sebagai panglima pembangunan. Sebaliknya, Bung Karno menginginkan politik sebagai panglima pembangunan nasional. Akhirnya Bung Karno dengan gagasan politik sebagai panglima membawa Indonesia ke tragedi Lubang Buaya.
Soeharto sebagai seorang jenderal, menganggap politik sebagai kejahatan (dengan
merujuk peristiwa G.30.S/PKI), sehingga ekonomi dijadikan sebagai panglima pembangunan.
Strateginya, memperbesar kueh nasional, barulah dilakukan pemerataan kekayaan bagi seluruh
rakyat Indonesia. Kenyataannya, selama 32 tahun orde baru, kekayaan nasional dikuasai hanya
oleh beberapa orang konglomerat yang berada di Jakarta. Pembangunan di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur tertinggal jauh dibanding di wilayah Indonesia Barat, khususnya di pulau Jawa. Tidak heran, ketika reformasi, kerusuhan terjadi di mana-mana, khususnya di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah dan Papua disebabkan ketidakadilan ekonomi di samping adanya korupsi oleh aparat Pemda setempat.4
Setelah musibah nasional 1997, anggota MPR dalam Sidang Umum Istimewa MPR 1998
berpendapat, tragedi tersebut disebabkan kekuasaan berada di satu tangan, yaitu Soeharto. Agar musibah tersebut tidak terulang lagi, sidang MPR memutuskan, kekuasaan tidak boleh lagi berada di satu tangan, tetapi harus diserahkan kepada seluruh komponen bangsa. Salah satu putusan strategis adalah pelaksanaan desentralisasi pembangunan dengan terbitnya UU No.
22/1999 tentang otonomi daerah. UU ini kemudian disusul dengan UU No. 25/1999 tentang
perimbangan keuangan pusat dan daerah sebagai upaya menyukseskan program desentralisasi tersebut.
Sayangnya, pemerintah pusat lamban dalam menerbitkan PP tentang pelaksanaan UU
No. 22/1999 sehingga aparat pelaksana di tingkat daerah, baik eksekutif maupun legislatif tidak
memiliki wawasan yang jelas tentang bagaimana pelaksanaan otonomi tersebut. Akibatnya,
pada tahun 2004, UU tersebut diamandemen menjadi UU No. 32/2004. Pada waktu yang sama,
UU No. 25/1999 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah juga diamandemen menjadi UU No. 33/2004 tentang desentralisasi fiskal. Disebabkan amandemen tersebut, khususnya UU No. 32/2004, lebih bersifat politis ketimbang pertimbangan ilmiah. Sebab, amandemen UU No. 22/1999 dilakukan tanpa penelitian yang serius. Akibatnya, UU yang baru ini pun (UU No. 32/2004) melahirkan banyak masalah, antara lain: Lahir raja-raja kecil di mana bupati/
walikota bisa langsung ke pusat atau berhubungan dengan pihak asing karena tidak merasa
sebagai bawahan gubernur; Lahirnya desentralisasi korupsi secara signifikan di daerah.
2. Fungsi, Peran dan Manfaat Desentralisasi
Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi daerah menurut UU No. 32/2004 tentang Pembangunan Daerah adalah “hak,
wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” Dari rumusan undang-undang tersebut, dapat disebutkan, kebijakan, program, dan anggaran pembangunan daerah yang sebelum ini ditentukan pemerintah pusat, dialihkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.
Tragisnya, implementasi otonomisasi di daerah telah membuat pemerintah daerah terjangkiti penyakit eforia dalam melaksanakan segala aktivitas ekonomi di daerahnya sehingga berdampak pada tidak terintegrasinya pengentasan pengangguran dan kemiskinan. Halini terutama disebabkan kebijakan pemerintah pusat dan program sektoral yang belum responsif terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.
Memerhatikan sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia, khususnya melalui otonomisasi daerah, saya menilai, sistem ini tergolong ekonomi campuran. Sebab, falsafah ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis ditemukan dalam pembangunan nasional, khususnya otonomisasi melalui desentralisasi pembangunan.
Jika pada masa orde baru, perencanaan pembangunan daerah ditentukan pemerintah pusat, dalam era reformasi, Pemda sendiri yang merancang pembangunan daerahnya. Dengan demikian, fungsi desentralisasi adalah penentuan kebijakan pembangunan daerah, dilaksanakan aparat penyelenggara pemerintahan daerah sendiri, yakni eksekutif dan legislatif di daerah bersangkutan. Tidak kalah penting, desentralisasi adalah kewenangan yang diberikan kepada Pemda untuk mengelola APBD-nya. Dengan demikian, desentralisasi berperan dalam mendorong putra daerah untuk secara serius dan profesional, mengeksplorasi potensi daerahnya sehingga bisa dinikmati sendiri oleh rakyat di daerah tersebut. Dengan fungsi dan peran seperti itu, desentralisasi memberi manfaat bagi rakyat di daerah dalam proses percepatan pembangunan daerah karena:
1. Putusan yang cepat bisa diambil;
2. Biaya operasional lebih kecil dibanding apa yang terjadi pada masa sentralisasi;
3. Perputaran uang dari perdagangan dan kegiatan produksi lokal akan beredar di daerah sendiri yang pada gilirannya memicu kemajuan pengusaha lokal sehingga tingkat kemakmuran rakyat di pedesaan lebih cepat dinikmati.
Desentralisasi pembangunan, secara yuridis memiliki payung hukum yang diatur dalam
UU No. 32/2004 tentang otonomi dan UU No. 33/2004 tentang desentralisasi fiskal dengan
1) Dana Perimbangan (DAU dan DAK)
Sistem pemerintahan terdesentralisasi sangat bergantung pada dana perimbangan untuk mengalihkan cadangan dari pusat kepada daerah-daerah. DAU (Dana Alokasi Umum) memberikan pendapatan dalam jumlah besar untuk sebagian besar pemerintah daerah. Jumlah aktual transfer DAU diatur sesuai dengan beberapa kriteria, antara lain masalah jumlah penduduk, luas wilayah, angka indeks pengembangan SDM, kapasitas
fiskal dan kebutuhan fiskal (dihitung terutama berdasarkan gaji pegawai negeri sipil).
Selain DAU, beberapa pemerintah daerah menerima pendapatan tambahan dari Dana Alokasi Khusus (DAK). DAK, tidak seperti DAU, merupakan hibah berdasarkan kebijaksanaan yang diberikan untuk proyek-proyek tertentu yang sesuai dengan prioritas pembangunan nasional.
Efek negatif dari sistem DAU dan DAK adalah penyalahgunaan oleh individu pejabat daerah, anggota legislatif atau oknum yang dikenal sebagai markus (makelar kasus?). Mereka inilah yang sering melobi anggota DPR di Jakarta agar memperjuangkan DAU atau DAK untuk daerah tertentu. Tentu dengan imbalan, sekian persen dari nominal DAU dan DAK tersebut menjadi fee bagi mereka. Bahkan terkadang, seorang bupati lebih banyak berada di Jakarta ketimbang di daerahnya dalam rangka melakukan lobi-lobi untuk maksud tersebut. Tidak heran kalau banyak anggota legislatif dan pejabat daerah yang ditahan oleh instansi penegak hukum karena ulah mereka seperti itu.
2) Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari sumber daya alam di
daerah tertentu dibagi di antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Alokasinya
berbeda-beda, bergantung pada jenis sumber daya alamnya. Pengecualian diberikan kepada Aceh, Papua, dan Papua Barat yang mana ketiganya memiliki bagian pendapatan dari minyak dan gas yang lebih besar dibanding provinsi-provinsi lain. Apalagi, status ketiga daerah tersebut sebagai provinsi otonomi khusus. Ironisnya, di Papua dan Papua Barat secara keseluruhan dan beberapa kabupaten di Aceh, belum kelihatan perubahan
signifikan dalam pembangunan daerah sebagai pemanfaatan alokasi pembagian yang
besar tersebut.
3) Penerimaan Pajak dari Pajak Kekayaan dan Pajak Penghasilan
Penerimaan pajak yang diperoleh Pemerintah Pusat juga dialihkan kepada provinsi, kabupaten, dan kota. Sumber utama penerimaan jenis ini adalah pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), serta pajak penghasilan. Sebagian besar penerimaan dikembalikan kepada daerah-daerah, kecuali pajak penghasilan yang
hanya dialihkan kepada daerah 20 persen dengan perincian: 12 % untuk kabupaten/kota dan 8 % untuk provinsi.
4) Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga menghasilkan pendapatan mereka
sendiri (PAD atau Pendapatan Asli Daerah). Sebagian besar kabupaten dan kota memiliki PAD yang kecil sehingga sangat bergantung pada transfer dari pemerintah pusat.
Secara teoritis, desentralisasi pembangunan dapat disebutkan sebagai Pembangunan Ekonomi Regional, yakni proses bagaimana meningkatkan kemakmuran atau kesejahteraan suatu wilayah. Dengan demikian, ia lebih dekat kepada suatu kebijakan yang didasarkan
kepada implementasi dari teori ekonomi, teori tata ruang, geografi, teori lokasi dan
teori-teori lainnya. Di sinilah keterlibatan ekonomi campuran yang menggabungkan konsep ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis. Sedangkan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Regional adalah keputusan atau tindakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah berwenang atau pengambil keputusan publik guna mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat suatu wilayah. Dengan demikian, sasaran Kebijakan Pembangunan Ekonomi Regional, meliputi 5:
a. Place Prosperity (Kemakmuran Wilayah yang meliputi: PDRB,pertumbuhan industri dan lapangan kerja meningkat, prasarana yang baik kondisinya, serta kegiatan investasi terus berkembang pesat.);
b. People Prosperity (Kemakmuran Penduduk wilayah, yang meliputi: PDRB perkapita relatip tinggi, sarana pendidikan, kesehatan serta pemukiman kondisinya sangat baik, dan penduduk mudah mengakses sarana-saranatersebut).
Agar kedua sasaran di atas tercapai, pihak terkait harus memerhatikan variabel- variabel yang ada dalam Pembangunan Ekonomi Regional, yakni :
?
? Variabel Transportation Cost (Meliputi biaya transportasi dari lokasi bahan baku ke lokasi pabrik dan juga ke lokasi pasar).
?
? Variabel Struktur, Kinerja dan Potensi Ekonomi Daerah
?
? Variabel InteraksiSosial-Ekonomi antar Wilayah
Sayangnya, setelah sepuluh tahun reformasi, kemiskinan masih ditemukan di mana-mana. Inilah salah satu dampak negatif dari penerapan ekonomiPancasila dan mengabaikan ekonomi syariah. Menurut suatu penelitian yang dilakukan di NTT6,
ditemukan fakta, wilayah yang memiliki risiko rawan pangan yang tinggi memiliki ciri:
?
? Daya dukung lahan pertanian untuk kebutuhan produksi pertanian relatif terbatas.
?
? Sumber daya manusia yang relatif berkualitas, terbatas.
?
? Sarana dan prasarana yang terbatas.
Selain itu, ditemukan juga, rumah tangga yang rawan pangan disebabkan karena:
?
? Pendidikan yang relatif rendah di mana terdapat anak-anak yang putus sekolah.
5 Pembangunan Regional, bahan kuliah oleh Dr. Suharto Rachman, M.Ec
?
? Penguasaan lahan pertanian dan peternakan yang terbatas.
?
? Rata-rata pendapatan di bawah garis kemiskinan.
?
? Pangsa pengeluaran pangan sangat dominan.
3. Kendala di Lapangan
Sudah menjadi sunatullah, setiap program, kegiatan, dan aktivitas – pribadi, masyarakat, bangsa, maupun negara – yang tidak mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, akan mengalami kegagalan. Bahkan, ia mendatangkan mudarat dan musibah bagi manusia, baik di dunia maupun akhirat. Itulah yang dialami bangsa Indonesia, khususnya umat Islam pada masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi sekarang.
Sebagaimana disebutkan sebelum ini, amandemen UU No. 22/1999 menjadi UU No. 32/2004, tidak berdasarkan hasil pengkajian dan penelitian ilmiah yang serius, maka otonomi daerah dengan desentralisasi pembangunan tetap mengalami pelbagai kendala yang signifikan.
Beberapa kendala utama yang ditemukan, antara lain:
1) Pemekaran dilakukan lebih didorong oleh ambisi politik kelompok tertentu agar bisa memeroleh jabatan eksekutif tanpa mempertimbangan sumber daya yang ada. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Akhirnya, pembiyaan daerah pemekaran ini menjadi beban daerah asal serta subsidi dari pemerintah pusat. Kasus tuntutan pembentukan provinsi Tapanuli yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut beberapa waktu lalu, merupakan contoh terakhir dari permainan politik sekelompok orang tertentu.
2) Pemekaran yang dilakukan dengan pendekatan politis seperti disebutkan butir 1 di
atas mengakibatkan pejabat eksekutif dan legislatif di daerah tersebut tidak dapat mengeksplorasi potensi yang ada di daerahnya. Pemda dan DPRD hanya mampu menerbitkan Perda tentang retribusi sehingga rakyat jelata dan pengusaha kecil merasa terbebankan dengan pelbagai tagihan setiap hari. Antara lain berupa karcis peron kereta api, terminal bus, bandara dan pedagang kaki lima.
3) Disebabkan aparat Pemda kurang kredibel, kebijakan pembangunan daerah selalu berubah-ubah sesuai dengan selera pejabat baru. Pemda tidak memiliki suatu cetak biru pembangunan wilayah yang bersifat jangka panjang. Keadaan ini membuat para investor luar negeri tidak betah, lalu angkat kaki.
4) Pemilukada yang dilakukan di beberapa daerah menimbulkan konflik horizontal di antara pendukung calon gubernur/bupati/walikota disebabkan rendahnya kesadaran
politik anggota masyarakat. Selain itu, kebiasaan money politic dalam setiap Pemilu dan Pemilukada menjadikan rakyat bersifat pragmatis sehingga akan memilih siapa yang membayar lebih banyak. Akibatnya, jika menang, pendukungnya akan berpesta pora dan berhura-hura. Sebaliknya, jika kalah, para pendukung akan ngamuk-ngamuk dan unjuk rasa. Hal ini disebabkan parpol tidak melakukan kewajiban utamanya, yaitu memberi pendidikan politik bagi rakyat, khususnya para kostuennya sendiri.
ini, hasil penelitian menunjukkan, kerusuhan rasial yang terjadi di daerah (Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Papua dan Aceh) disebabkan korupsi oleh aparat Pemda.
6) Pejabat eksekutif dan legislatif daerah tidak memiliki kompetensi teknis yang memadai sehingga tidak mampu mengeksplorasi potensi daerah sebagai realisasi desentralisasi pembangunan.
4. Jalan Keluar
Jalan keluar terbaik dalam mengatasi kegagalam pembangunan nasional yang berdasarkan sistem ekonomi sekuler adalah penerapan syariah Islam di seluruh sektor kehidupan. Khusus di bidang ekonomi, perlu segera diterapkan ekonomi syariah. Namun, disebabkan hampir seluruh pejabat negara, politisi, legislator, bahkan ulama pun terperangkap dalam pembangunan dan ekonomi nonsyariah, maka sebelum syariah Islam diterapkan secara formal, saya menawarkan jalan keluar sementara. Dalam konteks ini, agar otonomi sebagai kebijakan desentralisasi pembangunan bisa berjalan lancar, perlu keseriusan dan kemauan politik semua pihak untuk melakukan beberapa langkah yang mendekati ekonomi syariah, antara lain:
1) Setiap daerah, sebelum ditetapkan sebagai provinsi/kabupaten/kota yang baru dalam
proses pemekaran, harus memiliki proposal berdasarkan penelitian yang akurat mengenai potensi alam dan sumber daya manusianya. Jika dalam waktu
selambat-lambatnya 10 tahun setelah pemekaran, daerah tersebut tidak bisa menunjukan
kemajuan dalam pengelolaan pembangunannya, ia harus dikembalikan ke daerah induknya.
2) Setiap daerah, baik daerah asal maupun daerah pemekaran harus memiliki cetak
biru pembangunan, minimal untuk 25 tahun. Pergantian pejabat (gubernur/bupati/
walikota) tidak boleh mengubah cetak biru tersebut kecuali hanya melakukan proses pengembangan, eksplorasi dan pembangunan yang berkelanjutan.
3) Strategi desentralisasi pembangunan harus disenerjikan di antara pendidikan dan pembangunan lokal berdasarkan potensi alamnya. Misalnya, untuk wilayah Papua (Indonesia Timur pada umumnya), seperti disinggung di bab sebelumnya, pendidikan dan industri dasar direncanakan sebagai berikut:
a. Di semua kota kecamatan daerah pesisir, dibuka sekolah menengah kelautan. Di kota kecamatan yang memiliki potensi kehutanan, dibuka sekolah menengah kehutanan. Begitu pula halnya di kota kecataman yang memiliki potensi pertambangan, dibuka sekolah menengah pertambangan;
b. Industri yang dibangun di daerah pesisir suatu kecamatan adalah industri dasar yang berkaitan dengan kelautan seperti perahu nelayan, pancing, kail, tali pancing, umpan, jaring dan pukat. Sedangkan di kecamatan yang potensi
hutannya signifikan, dibuka industri peralatan seperti: parang, kampak, gergaji, dan mesin pemotong/gergaji. Selain itu, dikembangkan pula industri
perabot rumah serta bahan bangunan yang berasal dari kayu dan rotan. Begitu pula di kecamatan pertanian, dibuka industri pemakanan, minuman, rempah, dan pupuk;
dasarnya adalah yang berkaitan dengan eksplorasi hasil laut. Dimulai dari kegiatan pembudidayaan, penangkapan sampai dengan pengalengan. Di daerah kehutanan, industri yang dikembangkan adalah industri perumahan rakyat. Sedangkan di daerah pertanian, industri yang dikembangkan adalah industri traktor, farmasi, dan transportasi darat;
d. Di kota provinsi, dibuka fakultas unggulan kelautan. Industri yang dibangun adalah industri transportasi laut. Kapal-kapal yang dibuat, selain untuk transportasi manusia, alat angkut hasil alam dan industri lokal, juga sebagai sarana transportasi pelancongan. Di daerah kehutanan, juga dikembangkan industri kapal, khususnya kapal pinisi yang seluruh bahan bakunya dari kayu. Sedangkan di daerah pertanian, yang dikembangkan adalah industri teknologi pertanian, seperti traktor, mesin pengering bijirin (padi, kopra, cengkeh, pala, lada), mesin pemrosesan hasil pertanian seperti: penggilingan, pembuatan pupuk, sabun, mentega, minyak goreng, obat-obatan, dan kosmetik.
4) Cetak Biru Desentralisasi
Agar otonomisasi daerah dapat mendatangkan kesejahteraan, keadilan, dan keamanan bagi penduduk setempat, cetak biru pembangunannya disusun secara tepat dan benar, berdasarkan potensi ekonomi daerah yang ada dengan pendekatan7:
a. Didasarkan kepada hasil analisis tabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB);
b. Location Quetient (LQ)
c. Material Requirements Planning (MRP)
Berdasarkan tiga pendekatan di atas, dapat ditetapkan sektor mana yang mempunyai
potensi yang signifikan untuk kemudian dikembangkan pada masa yang akan
datang.
5) Jika strategi pembangunan regional dilakukan seperti saran-saran di atas, apalagi kalau ekonomi syariah dilaksanakan seutuhnya, maka dampak positif yang diperoleh, antara lain:
a. Desentralisasi merupakan cara terbaik dalam pemerataan pembangunan bagi negara seperti Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar dalam wilayah yang begitu luas, dari Sabang sampai Merauke;
b. Biaya produksi menjadi murah karena bahan baku berasal dari daerah setempat;
c. Biaya pelatihan tenaga kerja, murah karena rakyat setempat sudah biasa mengerjakan pekerjaan tersebut, selain tenaga kerja muda berasal dari lepasan sekolah kejuruan setempat;
d. Tidak terjadi urbanisasi dari kecamatan ke kabupaten, kabupaten ke provinsi
atau dari provinsi ke Jakarta karena tersedianya lapangan kerja di masing-masing daerah;
e. Dengan tidak terjadinya urbanisasi,tingkat kriminalitas di kota-kota besar
akan menurun secara signifikan;
f. Perputaran keuangan dari industri lokal dan regional berada di daerah yang sama sehingga daya beli rakyat meningkat yang pada gilirannya kesejahteraan dan keadilan sosial dapat dicapai secara bertahap;
g. Perlu penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan otonomisasi daerah dan pembangunan regional, antara lain berupa:
?
? Peraturan Pemerintah (PP) yang menetapkan syarat yang ketat bagi proses pemekarasan daerah baru serta sanksi bagi daerah pemekaran yang tidak bisa melaksanakan program otonomi. Misalnya, dalam
waktu paling lambat 10 tahun, suatu daerah pemekaran tidak bisa
mandiri dalam proses pembangunannya, maka status daerah tersebut dikembalikan ke daearah induk
?
? Perlu amandemen UU Pendidikan Nasional, setidaknya perlu penerbitan PP yang mengatur dibukanya jenis pendidikan unggulan di setiap daerah yang sesuai dengan potensi daerah tersebut. Dengan demikian, tidak perlu setiap universitas memiliki semua fakultas yang sama, tetapi hanya fokus pada fakultas unggulan, sesuai dengan potensi daerah tersebut. Melalui cara ini, lembaga pendidikan mampu melahirkan SDM Indonesia yang berdaya guna dan berhasil guna, insya-Allah
Hal-hal tersebut di atas dapat dicapai jika pemerintah, sebelum menerapkan ekonomi syariah secara utuh, segera mengubah sistem pembangunan dengan prioritas-prioritas berikut:
a. Menjadikan pendidikan sebagai program utama, dengan strategi: lahirnya anak didik yang berilmu, berketerampilan, ramah lingkungan, anti korupsi dan berakhlak mulia. Untuk itu, selain jenis sekolah yang dikembangkan selama ini perlu ditinjau kembali, maka yang tidak kalah penting adalah perubahan kurikulum. Antara lain, pendidikan lingkungan hidup dan budaya anti korupsi harus diajarkan mulai dari SD sampai dengan universitas;
b. Strategi pembangunan ekonomi dialihkan dari pola membesarkan kue nasional kepada pola mensejahteraan rakyat dan melestarikan alam. Dengan demikian, otonomisasi daerah dikembangkan ke arahpengembangan industri dasar, sesuai potensi alam dan sinergik dengan jenis sekolah unggulan yang dikembangkan di daerah terkait. Konsep pembangunan seperti ini biasanya ramah lingkungan karena modal dan teknologi yang diterapkan adalah jenis menengah dan kondusif untuk peningkatan kesejahteraan rakyat
Dana pembangunan yang diselamatkan, dapat dialihkan untuk anggaran pendidikan,
khususnya untuk peningkatan kesejahteraan guru/dosen dan penggiat pendidikan.
Dari dana tersebut digunakan pula untuk peningkatan kesejahteraan PNS (termasuk polisi dan tentara nasional), serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
d. Pemerintah mesti menerapkan pola multi ways traffic communication dengan masyarakat awam sehingga lahir budaya peran serta masyarakatdalam berpartisipasi korektifterhadap setiap proses pembangunan, baik lokal maupun nasional sehingga lahir suatu mobilitas sosial masyarakat yang sangat berdaya guna dan berhasil guna yang pada gilirannya mendatangkan empat dampak positif, yaitu:
?
? Pemerintah mendapat dukungan dari masyarakat sehingga kestabilan politik yang dinamis dapat tercapai
?
? Kestabilan politik yang dinamis dapat mendorong Pemerintah, memfokuskan diri dalam membangun perekonomian nasional yang pada gilirannya mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat kecil
?
? Pemerintah dan bangsa Indonesia semakin memeroleh kepercayaanluar negeri, khususnya para investor. Dengan demikian, setiap investasi yang dilakukan di Indonesia mesti berdasarkan skenario pemerintah dan masyarakat, bukan atas arahan telunjuk dari investor sebagaimana dilakukan IMF dan badan keuangan dunia lainnya selama ini
?
? Akhirnya, konflik daerah, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal seperti
yang terjadi selama ini, apakah di Aceh, Papua, Maluku, Maluku Utara, atau pun Poso tidak akan terjadi lagi. Ini karena mereka yang merasa kecewa atau dikecewakan dapat berhubungan langsung dalam bentuk partisipasi korektif
dengan aparat pemerintah atau instansi/lembaga terkait.
E. Ekonomi Syariah
1. Pengertian Ekonomi Syariah
Untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya, di bagian ini akan disampaikan beberapa pendapat tentang apa itu ekonomi syariah. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah, legislator, pengusaha, akademisi, dan mahasiswa melakukan perenungan atas ”jihad” mereka melaksanakan ekonomi kapitalis dan sosialis di Indonesia selama ini. Salah satu rujukan yang disampaikan di sini adalah buku Hukum Ekonomi Syariah: Dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Agama, karya Abdul Manan.8 Beberapa pendapat yang dikutip Abdul Manan tentang
pengertian ekonomi syariah, antara lain:
?
? Muhammad Nejatullah Siddiqi mengatakan, ekonomi Islam adalah: respons pemikir Islam terhadap tantangan ekonomi pada masa tertentu. Dalam usaha keras ini mereka dibantu oleh al-Qur’an dan As-Sunnah, akal dan ijtihad serta pengalaman.
?
? M. Umar Chapra mendefinisikan ekonomi Islam sebagai sebuah pengetahuan yang
membantu upaya realisasi kebahagiaan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang berada dalam koridor yang mengacu pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu atau tanpa perilaku makroekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.
?
? Hazanus Zaman menekankan, ekonomi Islam adalah penetapan dan penerapan hukum syariah untuk mencegah terjadinya ketidakadilan atas pemanfaatan dan pengembangan sumber-sumber material dengan tujuan untuk memberikan kepuasan manusia dan melakukannya sebagai kewajiban kepada Allah swt dan masyarakat.
?
? Sayed Nawab Haedar Naqvi mengdefinisikan ekonomi Islam sebagai representasi
perilaku muslim dalam suatu masyarakat muslim tertentu.
?
? M. Akram Khan mengatakan, ekonomi Islam bertujuan untuk memelajari kewenangan manusia agar menjadi baik yang dapat dicapai melalui pengorganisasian sumber daya alam yang didasarkan kepada kerjasama dan partisipasi.
?
? Kursyid Ahmad mengatakan, ekonomi Islam adalah sebuah usaha sistematik untuk memahami masalah-masalah ekonomi dan tingkah laku manusia secara relasional dalam perspektif Islam.
?
? M.M. Metawally mengdefinisikan ekonomi Islam sebagai ilmu yang memelajari
perilaku muslim (yang beriman) dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti al-Qur’an, Al-Hadis, Ijma, dan Qiyas.
?
? Munawar Iqbal berpendapat, ekonomi Islam adalah sebuah disiplin ilmu yang mempunyai akar dalam syariat Islam. Islam memandang wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan yang paling utama. Prinsip-prinsip dasar yang dicantumkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis adalah batu ujian untuk menilai teori-teori baru berdasarkan doktrin-doktrin ekonomi Islam. Dalam hal ini, himpunan hadis merupakan sebuah buku sumber yang sangat berguna.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, Abdul Manan berpendapat, ilmu ekonomi Islam bukan hanya kajian tentang persoalan nilai, tetapi juga dalam bidang kajian keilmuan. Keterpaduan antara ilmu dan nilai menjadikan ekonomi Islam sebagai konsep yang integral dalam membangun keutuhan hidup bermasyarakat. Ekonomi Islam sebagai ilmu menjadikan ekonomi Islam dapat dicerna dengan metode-metode ilmu pengetahuan pada umumnya.
Sedangkan ekonomi Islam sebagai nilai, menjadikan ekonomi Islam relevan dengan fitrah
hidup manusia.
2. Struktur Ekonomi Islam
Disebabkan ekonomi Islam adalah ekonomi syariah, maka strukturnya tidak terlepas dari kaidah-kaidah yang ada di Al-Qur’an dan Al-Hadis. Misalnya Abdul Manan merangkumkan pendapat para pakar ekonomi Islam di mana ada lima nilai fundamental, yakni:
1) Nilai Ilahiah
baik yang bersifat ubudiah maupun muamalah hanyalah untuk mengharapkan ridha
Allah swt sebagai natijah ayat 162 surah Al-An’am. Oleh karena itu, segala kegiatan
perekonomian yang meliputi permodalan, proses produksi, distribusi, dan pemasaran harus dikaitkan dengan nilai-nilai keilahian sehingga mesti sesuai dengan tujuan yang ditetapkan Allah swt. Sebab, Allah adalah Pencipta, Pemilik, Penguasa, Pentadir, Pengawas, dan Pemutus segala urusan makhluk-Nya di jagat raya ini.
Dengan demikian, penggunaan sumber daya alam yang ada harus secara bertanggung jawab sehingga tidak menimbulkan kerusakan di darat dan di laut sebagaimana yang melanda Indonesia belakangan ini. Demikian pula halnya, dalam proses ekonomi Islam, teori Machiavelli – tujuan menghalalkan cara – tidak bisa digunakan sehingga tidak boleh ada penipuan, manipulasi, riba, mengcurangi timbangan, serta bersaing secara tidak sehat
dengan sesama pedagang atau pengusaha. Sebab, Allah berfirman:
“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).” (QS An Najm: 31).
Oleh karena itu, sebagai khalifah di bumi, justru sesama muslim, apalagi sebagai pedagang atau pengusaha, hendaknya saling bergotong royong dalam perbuatan ma’ruf, bukan kerjasama dalam kemungkaran.
2) Nilai Keadilan
Salah satu prinsip utama dalam ekonomi Islam adalah keadilan. Baik keadilan berdasarkan ayat al-Qur’an dan al-Hadis maupun yang ditemukan dalam ayat-ayat qauniyah di jagat raya. Secara operasional, keadilan tersebut ditampilkan dalam bentuk penentuan harga barang yang proporisional, kualitas produk, perlakuan terhadap pekerja dan pelanggan serta dampak dari setiap kebijakan ekonomi terhadap kesejahteraan umum dan kelestarian alam.
Penegakkan keadilan dan usaha mengeliminasi segala bentuk diskriminasi, termasuk
di sektor ekonomi, menjadi prioritas al-Qur’an sebagaimana difirmankan Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang senantiasa menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum,mendrong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Maidah: 5).
Di lain ayat, Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahal: 90).
segala aspek kehidupan, termasuk perekonomian. Jika tidak, akan terjadi pelbagai musibah disebabkan penindasan, kekerasan, dan eksploitasi, baik terhadap sesama manusia maupun alam sekitar. Bukankah hampir setiap waktu terjadi banjir, tanah longsor, bus masuk jurang, kereta api terbalik, pesawat terbang tergelincir dan pelbagai musibah lain karena manusia tidak berlaku adil. Sebab, adil menurut Islam, bukan sama rata, tetapi proporsional, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya (wud’u al-sya’i ’ala makanih). Dengan demikian, keadilan merupakan komponen penting dalam mengembangkan sendi-sendi ekonomi yang sesuai syariat Islam.
Dalam konteks ini, keadilan dapat menghasilkan keseimbangan dalam perekonomian dengan meniadakan kesenjangan antara pemilik modal dengan orang yang membutuhkan modal. Islam juga tidak menganjurkan kesamaan ekonomi sebagaimana dianut kaum sosialis. Islam mengakui adanya ketidaksamaan ekonomi orang per orang sebagaimana disebutkan ayat al-Qur’an:
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu.? Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajatagar sebagian mereka dapat menggunakan sebagian yang lain. dan rahmat Rabb-mu lebih hak dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Az-Zukhruf: 32).
3) Nilai Kenabian
Nilai kenabian merupakan salah satu nilai universal. Sebab, fungsi Nabi Muhammadadalah sebagai motor penggerak syariat Islam di dunia, termasuk aspek ekonomi. Dalam diri Nabi Muhammad, bersemayam sifat-sifat luhur yang layak menjadi panutan bagi setiap muslim, termasuk para pedagang dan pengusaha. Sedemikian rupa akhlaknya sehingga ketika menjawab pertanyaan sahabat, Aisyah, janda Rasulullah mengatakan, akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Artinya, Rasulullah adalah al-Qur’an
yang bergerak. Tidak heran, Allah sendiri yang memuji akhlak Rasulullah melalui
firman-Nya:
“Sesungguhnya dalam diri Rasulullah ada sebaik-baik teladan bagi mereka yang beriman kepada Allah, memercayai hari akhirat, dan selalu mengingat Allah.” (QS
Al Ahzab: 21).
Rasulullah ketika muda adalah seorang pedagang yang sukses, bukan hanya memeroleh keuntungan materi, tetapi juga mendapat kepercayaan masyarakat Makkah dan sekitarnya. Oleh karena itu, wajar kalau pedagang dan pengusaha menjadikan beliau sebagai teladan. Sebab, selama berhubungan dengan Nabi Muhammad dalam setiap jual beli, tidak ada pembeli atau pelanggan yang merasa dirugikan, dicurangi, dibohongi, atau ditindas. Akhlak dan perilaku Rasulullah seperti demikian karena dalam diri beliau, menyatu sifat-sifat kenabian, antara lain:
Pertama, shiddiq (kebenaran) di mana seorang Nabi dan Rasul senantiasa mengimplementasikan sifat kebenaran dan keikhlasan serta menghindarkan diri dari
perilaku dusta dan kemunafikan. Kedua, amanah (terpercaya) di mana sifat ini senantiasa
seorang Nabi dan Rasul dengan sendirinya senantiasa memaksimalkan fungsi akal dan intelektualitas, terutama dalam menjalankan fungsi-fungsi manajerial. Pendekatan rasional objektifdan sistematik akan muncul dari sifat ini sehingga dalam melakukan penataan dan pengembangan kehidupan yang lebih baik, terus meningkat. Keempat, tabligh (komunikatif) di mana sifat ini diperlukan terutama dalam menumbuhkan profesionalisme dalam menjalankan tugas amanah yang diemban.
Tidak kalah penting, selain empat sifat-sifat kenabian di atas, Nabi Muhammad adalah seorang yang berani dan mampu mengambil putusan yang tepat, pandai dalam menganalisis situasi, dan cepat tanggap terhadap segala perubahan yang terjadi di sektor ekonomi.
4) Nilai Pemerintahan
Berbeda dengan prinsip-prinsip yang diajarkan dalam teori ilmu negara di universitas, dalam khilafah Islam, manusia adalah khalifah yang dilantik Allah untuk mengeksplorasi bumi dengan isinya. Oleh karena itu, setiap tindakan manusia, apalagi mereka yang bertugas di sektor eksekutif, legislatif, dan yudikatif, selain bertanggung jawab kepada rakyat, mereka harus bertanggung jawab kepada Zat yang melantiknya sebagai khalifah. Atas dasar ini, lahir pengertian tentang perwalian, moral, politik, ekonomi, dan prinsip organisasi sosial lainnya.
Dalam menjalankan tugas sebagai khalifah, manusia memerlukan wadah, berupa negara dan pemerintahan. Melalui pemerintahan, manusia saling berkomunikasi dalam interaksi yang harmonis guna membangun suatu peradaban sebagai media pengabdiannya kepada Pencipta. Masyarakat yang harmonis dan beradab menurut kriteria Sang Pencipta itulah yang disebut sebagai Masyarakat Madani di mana salah satu pilarnya adalah ekonomi syariah. Di sinilah tanggung jawab pemerintah dalam menyiapkan sistem perundang-undangan agar kegiatan perdagangan, industri, impor dan ekspor, tidak bertentangan dengan syariah Islam. Misalnya, tidak ada perjudian, pelacuran, calo, penimbunan barang-barang kebutuhan pokok, rentenir, dan perdagangan gelap. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab dalam menyiapkan infra struktur, termasuk pelayanan publik yang baik sehingga kegiatan bisnis atau perekonomian antar individu atau perusahaan berjalan dengan baik, lancar, dan sesuai dengan syariah Islam.
Dalam konteks ini, tugas negara menurut Yusuf Al-Qardhawi yang dikutip Abdul Manan, mengubah pemikiran menjadi amal perbuatan, memindahkan moralitas kepada praktik-praktik konkrit, mendirikan pelbagai lembaga dan instansi yang dapat melaksanakan tugas penjagaan dan pengembangan semua hal tersebut. Tugas negara juga harus memonitoring, sejauh mana pelaksanaan dan ketidakdisiplinan terhadap kewajiban yang diminta dan menghukum orang yang melanggar atau melalaikan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
5) Nilai Hasil atau Keuntungan
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu buat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS Al-Qashasas: 77).
Ayat Qur’an ini menegaskan dua prinsip hidup manusia, khususnya umat Islam. Pertama, tujuan utama perjalanan hidup manusia adalah akhirat karena di sana kehidupan bersifat abadi. Oleh karena itu, kebahagiaan akhirat harus mendapat prioritas utama dalam seluruh aktivitas di dunia, termasuk aspek ekonomi. Dengan demikian, dalam menjalankan aktivitas bisnis, seorang pedagang atau pengusaha muslim harus mengerti halal haram dalam berbisnis. Misalnya, tidak boleh memakan riba, tidak mencurangi timbangan, tidak menipu dan menindas pembeli. Biarlah keuntungan yang diperoleh dalam bisnis, kecil, tetapi halal karena akhir perjalanan adalah akhirat di mana surga menjadi idaman setiap orang.
Kedua, seorang muslim tidak boleh melupakan dunianya. Sebab, menurut Rasulullah saw, tangan di atas lebih terhormat daripada tangan di bawah. Sementara pada lain kesempatan Rasulullah mengatakan, dari sepuluh pintu rejeki, sembilan berada di sektor perdagangan. Maknanya, umat Islam digalakkan untuk berdagang agar memajukan perekonomian umat Islam sebagai media mencapai surga di akhirat kelak. Itulah hakikat doa sapujagat umat Islam: rabbana aatina fi dunya khasanah wa fil akhirati khasanah wa qina ajabbannar.
F. KELEBIHAN EKONOMI ISLAM
Memerhatikan hal-hal dan penomena di atas, Abdul Halim menyimpulkan ada enam butir yang merupakan kelebihan ekonomi Islam dibanding ekonomi kapitalis, sosialis, dan ekonomi campuran, yakni:
1. Ekonomi Islam adalah ilmu dan sistem yang bersumber dari imperatif wahyu Allah swt untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Paradigma, asumsi, dan teori-teorinya sangat kondusif bagi kelangsungan hidup pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, secara potensial, sistem ekonomi Islam memiliki peluang yang besar untuk menjadi alternatif sebagai solusi atas kegagalan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis pada masa datang. Meskipun demikian, dalam pelaksanaan ekonomi Islam, banyak tantangan yang dihadapi. Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan tersebut, semua lembaga yang bertanggung jawab atas pemberlakuan ekonomi Islam, harus terus menerus melakukan kajian-kajian penelitian, publikasi, dan sosialisasi kepada pihak-pihak yang dianggap perlu.
dimaksudkan bahwa seluruh kebijakan dan kegiatan ekonomi harus dilandasi asas keadilan dan keseimbangan. Kebebasan mengandung pengertian, manusia bebas melakukan aktivitas ekonomi secara keseluruhan sepanjang tidak melanggar ketentuan Allah swt dan Sunah Rasulullah saw. Sedangkan pertanggungjawaban, berarti, manusia sebagai pemegang amanah, memilikul tanggung jawab atas segala putusan yang ditetapkannya.
3. Dalam perkembangannya, ekonomi Islam banyak memberi kontribusi kepada perkembangan ekonomi dunia. Banyak konsep ekonomi Islam ditiru oleh ekonomi Barat, di antaranya: syirkah (lost profit sharing), suftaja (bills of exchange), hiwalah (letters of credit), funduq (specialized large scale commercial institutions and market which developed in to virtual stock exchange) (yakni lembaga bisnis khusus yang memiliki skala yang besar dan pasar yang dikembangkan dalam pertukaran stok yang nyata). Demikian juga tentang harga pasar yang menurut sistem ekonomi kapitalis tidak boleh ditetapkan pemeritah atau dicampuri pihak-pihak tertentu. Sebenarnya, ketentuan ini sudah ditentukan Rasulullah saw beberapa abad yang lalu di mana harga pasar tidak boleh ditetapkan pemerintah atau pihak-pihak tertentu. Sebab, ia harus berlaku sesuai sunatullah yang istilahnya dalam ekonomi konvensional adalah supplay and demand;
4. Sumber-sumber ekonomi Islam telah ditetapkan Allah swt dalam berbagai ayat Al-Qur’an yakni berupa sumber daya alam yang melimpah ruah. Selain itu, sumber daya manusia yang diharapkan selalu profesional dan tidak boleh berpangku tangan menanti kurnia Allah. Sebab, Allah swt telah menunjuukan tata cara bisnis dan wirausaha yang benar dan halal serta tidak merugikan orang lain. Allahmenunjukkan pula tata cara pengelolaan ekonomi Islam dengan cara manajemen yang baik serta pandai-pandailah memanfaatkan lahirnya teknologi dengan prinsip takwa kepada Allah swt;
5. Ekonomi Islam masih terus berproses dalam membentuk diri secara mandiri sebagai disiplin ilmu. Meskipun demikian, ia telah berhasil melahirkan sistem operasi lembaga ekonomi modern seperti bank dan asuransi. Dalam praktik, sistem operasional bank dan asuransi Islam dapat bersaing dengan lembaga yang serupa menurut sistem konvensional. Hal ini dapat dilihat dari gagasan ekonomi Islam yang dikembangkan saat ini mempunyai dampak langsung kepada masyarakat, terutama masyarakat muslim. Tidak heran, pelaku ekonomi dapat meningkatkan taraf hidupnya dalam menghilangkan persoalan keterbelakangan yang terjadi di masyarakat. Ekonomi Islam diharapkan dapat menciptakan tata dunia baru yang adil dan tidak bersifat hegemonistik. Juga dapat membuat sistem distribusi kekayaan dan pendapatan yang adil dan merata pada setiap tingkatan.
6. Perlu direnungkan peringatan Allah swt dalam surah Ibrahim ayat 7: