Wacana perdebatan kasus Lippo E-‐Net nampaknya sudah hampir mencapai babak akhir, dimana terlihat “sepertinya” grup Lippo harus “mengakui” dan “mengalah” kepada tekanan-‐tekanan berbagai kalangan yang cenderung menyalahkannya. Ditinjau dari hukum formal pun terlihat adanya indikasi dan konotasi terjadinya sebuah pelanggaran peraturan oleh perusahaan asuransi jiwa tersebut. Namun ada satu hal yang luput menjadi perhatian selama kurang lebih satu bulan polemik terjadi, yaitu relevansi kasus Lippo E-‐Net dengan fenomena pergeseran paradigma bisnis yang terjadi di dunia akibat kemajuan teknologi informasi. Cermatilah kedua perumpamaan di bawah ini.
Katakanlah BCA sebagai sebuah bank retail terbesar di Indonesia ingin meningkatkan pelayanan pelanggannya -‐ agar dapat bersaing dengan Citibank misalnya – dengan cara menyediakan fasilitas internet banking yang memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan kapan saja dan dimana saja. Namun karena infrastruktur telekomunikasi dan teknologi informasi di Indonesia dinilai tidak memadai untuk mengimplementasikan teknologi multimedia, maka pemilik dan manajemen BCA memutuskan untuk membangun infrastruktur sendiri yang secara khusus hanya diperuntukkan bagi BCA dan cabang-‐cabangnya di seluruh kota besar dan menengah di Indonesia. Ternyata kehadiran teknologi internet banking berbasis multimedia tersebut dinilai berhasil, sehingga tidak saja sanggup meningkatkan pendapatan perusahaan tersebut secara signifikan, namun lebih jauh lagi dapat “merampingkan” perusahaan karena bangunan cabang bank BCA dapat digantikan oleh sebuah ATM, televisi interaktif, atau komputer personal. Keberhasilan BCA ini kemudian dilirik oleh para rekanan yang mengajak bekerja sama untuk menciptakan berbagai produk dan jasa yang dipadu dengan produk dan jasa perbankan. Dengan kata lain, jika nasabah datang ke ATM BCA atau login ke website BCA, segala hal dapat dilakukan mulai dengan membeli barang-‐barang kebutuhan sehari-‐hari dengan harga khusus, sampai dengan bermain saham di berbagai bursa ternama dunia. Semua dapat dilakukan oleh mereka yang merupakan nasabah BCA.
Karena semakin banyak transaksi yang dapat dilakukan di ATM BCA atau di situs internet BCA, maka lambat laun bangunan bank BCA mulai sepi pengunjung, sehingga hanya tinggalah kantor-‐ kantor cabang BCA yang besar-‐besar saja. Bahkan yang terjadi adalah semakin tingginya traffic di situs portal BCA dimana para nasabah yang berjumlah jutaan orang mulai melakukan transaksi bisnis ala e-‐commerce dengan para rekanan BCA. Tentu saja BCA memperoleh keuntungan tertentu dari setiap transaksi yang terjadi di situs mereka. Belum lagi terhitung perusahaan-‐ perusahaan besar lain yang tidak ada hubungannya dengan industri perbankan mulai melirik infrastruktur multimedia BCA yang canggih tersebut, sehingga mereka menawarkan untuk menyewanya. Walhasil, berdasarkan laporan keuangan tahunan, pendapatan terbesar BCA (lebih dari 75%) bukan berasal dari selisih antara kredit yang disalurkan ke industri dengan dana masyarakat yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari pembagian profit transaksi e-‐commerce dan penyewaan infrastruktur multimedia. Pertanyaannya adalah, apakah BCA masih dapat dipandang sebagai sebuah bank atau tidak?
Atau katakanlah Gramedia yang selama ini dikenal sebagai penerbit, percetakan, dan distributor buku-‐buku berkualitas di Indonesia berusaha membuat terobosan baru. Karena tidak setiap kota besar di Indonesia terdapat cabang toko buku Gramedia, maka manajemen memutuskan untuk bekerja sama dengan anak perusahaan PT Pos atau PT Telkom untuk memasarkan buku-‐buku Gramedia di seluruh penjuru tanah air. Alasan pemilihan kedua rekanan di atas adalah karena mereka memiliki jaringan distribusi nasional sampai tingkat kecamatan. Dengan kerja sama ini, Gramedia dapat melepaskan semua bangunan toko buku tradisionalnya sehingga menghemat biaya. Pada saat yang sama, Gramedia memutuskan untuk melakukan outsourcing percetakan buku-‐bukunya ke perusahaan lain, karena mereka telah terbukti memiliki teknologi percetakan terbaru yang dipadu dengan sistem manajemen inventori yang handal (seperti implementasi Just-‐In-‐Time Inventory System), sehingga Gramedia tidak harus menghamburkan biaya besar untuk urusan percetakan dan penyimpanan stok buku di gudang. Pada akhirnya, yang ada di
Gramedia hanyalah 20 orang yang terdiri dari 5 manajemen dan 15 staf, dengan tugas utama menerima dan menyeleksi naskah-‐naskah yang dikirimkan oleh masyarakat melalui internet. Jika naskah buku dinilai berkualitas, maka dengan fasilitas email attachment, naskah akan dikirimkan ke rekanan bisnis untuk melakukan editing dan layout setting, dan selanjutnya dicetak oleh perusahaan rekanan lain untuk kemudian didistribusikan oleh PT Pos atau PT Telkom. Bukankah dengan format baru ini Gramedia telah menjadi sebuah perusahaan “konsultan” pustaka berkualitas yang sama sekali tidak memerlukan aset dan infrastruktur yang besar dan tanpa harus takut pendapatannya berkurang?
Yang ditawarkan oleh E-‐conomy dengan E-‐business dan E-‐commerce-‐nya bukanlah sekedar bisnis di internet, melainkan lebih jauh dari itu, yaitu transformasi bisnis (Indrajit, 2000). Bebagai pergeseran paradigma di beragam aspek bisnis telah membuat teori-‐teori bisnis semacam market segmentation, product classification, industry focus, competitive advantage, dan lain sebagainya menjadi sulit untuk diterapkan secara efektif sebagai bahan pegangan. Semangat “collaborative to compete” yang diperkenalkan oleh para pakar manajemen telah menjadi “rule of the game” bagi perusahaan yang ingin sukses di era ekonomi baru sehingga banyak perusahaan-‐perusahaan yang sudah sulit diidentifikasikan bisnis inti-‐nya (core business). Belum lagi fenomena perubahan lingkungan bisnis yang dinamis dan cepat mengharuskan perusahaan untuk dapat fleksibel dalam melakukan respon dan adaptasi.
Peraturan-‐peraturan pemerintah dan pihak-‐pihak terkait sudah harus mengalami peremajaan kalau tidak boleh dikatakan pembaharuan, karena tidak sesuai lagi dengan filosofi bisnis dunia moderen. Dengan tidak membuat peraturan baru dan berkeras dengan kebijakan lama tidak saja akan mengakibatkan terjadinya kasus-‐kasus yang kontra produktif, namun merupakan sebuah “usaha” bunuh diri dunia bisnis di Indonesia. Jumlah kasus semacam Lippo E-‐Net akan dapat meningkat secara eksponensial bukan karena adanya pihak-‐pihak yang ingin melawan hukum, tetapi sebagai dampak logis dari gelombang paradigma berbisnis baru di seluruh dunia. Bukankah Charles Darwin mengatakan bahwa bangsa yang akan bertahan adalah bangsa yang dapat secara cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi?
Aplikasi Searching Engine dan Permasalahannya
Beberapa tahun yang lalu ketika sebuah konferensi internasional berjudul “Bridging the Gap between Information Technology and Business” diselenggarakan oleh Harvard Business School di San Fransisco, Yahoo! memperkenalkan konsep searching engine-‐nya kepada para peserta. Tujuannya cukup sederhana, yaitu mencari investor yang mau menanamkan uangnya di perusahaan tersebut karena kebanyakan peserta konferensi adalah para investor kelas kakap. Yang terjadi adalah bahwa setelah konferensi yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari usai, tidak seorang investor-‐pun mengerti mengenai konsep bisnis yang ditawarkan oleh Yahoo!, walaupun secara intensif telah diterangkan pada setiap kesempatan yang ada. Lain dahulu lain sekarang. Saat ini terlihat bagaimana orang-‐orang di seluruh dunia berlomba-‐lomba memburu saham perusahaan yang mengklaim dirinya telah memiliki lebih dari 50 juta pelanggan ini.
Internet merupakan suatu tempat dimana berjuta-‐juta situs dapat diakses oleh berjuta-‐juta orang setiap harinya, tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Situs yang dikembangkan oleh berbagai orang dan perusahaan sangat beragam sifatnya, mulai dari yang hanya berisi data dan informasi ringkas mengenai profil sebuah organisasi sampai dengan yang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk melaksanakan transaksi electronic commerce. Permasalahan yang timbul adalah bahwa perkembangan internet yang sangat cepat (beberapa pakar mengatakan bahwa pertumbuhan jumlah situs di internet bergerak secara eksponensial) telah mengakibatkan terjadinya banjir data dan informasi (information overloaded) sehingga sangat menyulitkan pengguna (user) dalam mencari data dan informasi yang diinginkan. Analogikan dengan sebuah jaringan televisi kabel yang memiliki satu juta channel yang berbeda. Bagaimana seseorang dapat mengetahui apakah ada channel yang menayangkan film favoritnya lengkap dengan jadwal dan lokasinya? Atau bayangkan sebuah perpustakaan negara yang memiliki koleksi satu milyar buku. Bagaimana seseorang dapat tahu buku-‐buku mana saja yang membahas subjek-‐subjek tertentu yang diinginkan?
Fenomena inilah yang kemudian berkembang menjadi ide untuk membuat suatu program yang dapat membantu para user internet dalam usahanya untuk mencari data maupun informasi spesifik dalam waktu yang relatif sangat singkat (dalam hitungan detik). Mulailah perusahaan-‐ perusahaan semacam Altavista.com, Excite.com, Yahoo.com, AskJeeves.com, dan lain sebagainya berlomba-‐lomba untuk membuat mesin pencari (searching engine) yang terbaik. Secara prinsip,
tujuan dari sebuah program searching engine adalah menemukan dokumen atau arsip
elektronis di internet yang sesuai dengan kebutuhan atau permintaan pengguna dalam waktu yang sesingkat-‐singkatnya. Kedua hal inilah, yaitu kualitas hasil temuan dan waktu pencarian, yang kemudian menjadi pengukur baik tidaknya kinerja sebuah searching engine. Gambar di bawah ini memperlihatkan 5 (lima) komponen utama dari arsitektur sebuah program searching engine (Indrajit, 2000).
Sumber: Eko Indrajit, 2000